Tukang ojek yang nga tau jalan arah pulangnya kemana

www.lorongka.com - Di era yang semakin modern hampir semuanya bisa di akses dengan menggunakan teknologi yang semakin hari semakin canggih. Contoh saja misalnya, ketika ingin bepergian dan membutuhkan alat transportasi, maka semuanya bisa didapatkan hanya bermodalkan gadget dan jaringan internet.

Namun apa jadinya jika tempat tinggal kita berada sangat jauh dari perkotaan dan tidak ada akses internet didaerah tersebut, maka bisa dipastikan semuanya dikerjakan secara manual dan alami tanpa bantuan alat teknologi modern.

Disalahsatu desa yang jauh dari perkotaan dan minim bahkan hampir tidak ada jaringan internet membuat pekerjaan kita sedikit terhambat. Didesa tersebut terdapat suatu cerita unik dan menarik yang sedikit menggelitik telinga kita.

Sebuah cerita antara tukang ojek dengan seorang penumpangnya. Saat itu malam sedang tiba dan datang seorang nenek tua yang meminta tolong untuk diantarkannya pulang kerumahnya karena jaraknya agak lebih jauh, jadi salah satu dari tukang ojek itu mengantarkannya pulang.

Penumpang: nak, boleh saya minta tolong diantarkan pulang. (Menatap tukang ojek yang saat itu duduk di pangkalan)

Tukang ojek: iya boleh ibu. Ibu mau diantar kemana ? (Tanya salahsatu tukang ojek kepada calon penumpangnya)

Penumpang: tolong antarkan saya pulang nak (balas si penunpang kepada tukang ojek)

Tukang ojek: rumah ibu ada dimana ? (Tanya lagi si tukang ojek pada penumpangnya)

Penumpang: sudah kamu ikut saja sama ibu.
Tidak lama kemudian tukang ojek itupun mengantar penumpang itu pulang denga arahan jalan si penumpang.

Penumpang: mas belok kanan di depan yah mas. (Tanya sipenumpang kepada tukang ojek)

Tukang ojek: baik ibu.

Penumpang: didepan setelah pendakian belok kiri lagi yah mas.

Tukang ojek: baik bu'. (Dengan nada pelan)

Penumpang: setelah belok kiri nanti ada pertigaan belok kiri lagi yah mas. (Tanya lagi sipenumpang kepada si tukang ojek)

Tukang ojek: iya baik bu' (dalam hatinya bertanya kapan nyampe'nya nih dari tadi kiri kanan mulu)

Penunpang: setelah jembatan ada lorong belok kanan yah mas.

Tukang ojek: iya baik bu' ( dengan nada yang sedikit kerasa)

Penunpang: diujung lorong belok kanan yah mas.

Tukang ojek: iya baik bu (dengan nada yang mulai ketakutan)

Penumpang: setelah itu belok kiri lagi yah mas, pas depan kuburan berhenti, nah disitu rumah saya.

Tukang ojek: iya bu' (dengan nada yang semakin ketakutan)

Tidak lama berselang sampailah dia di depan kuburan. Turunlah sipenumpang dan memberikannya uang sebanyak Rp 20.000,- namun situkang ojek itu malah menangis sambil menatap wajah si penumpang.

Penumpang: mas kamu kenapa, ? Kurang yah ? Baik ini saya tambahkan Rp 20.000,- lagi.

Tukang ojek: (diam dan hanya menangis sambil menatap wajah si penumpangnya)

Penumpang: kenapa masih nangis mas, masih kurang yah nih saya tambahkan lagi Rp 10.000,- jadi cukup Rp 50.000,-.

Tukang ojek: ibu bukan uangnya yang kurang tapi ini didepan kuburan mana saya nga tau jalan pulang lagi. Saya baru pertama kalinya ngojek bu dan itupun ibu yang jadi penumpang pertama malah nyasar disini lagi. (Sahut si tukang ojek dengan nada tersedu-sedu).