Puisi Untuk Muslim Rohingya "Darah Dan Air Mata"

Darah Dan Air Mata
(andika putra)

Seperti malam tanpa cahaya, gelap berselimut duka. Seperti duri dalam nadi, perih tanpa henti. Seperti sinar menyengat kulit, perih merintih menjerit.

Nyanyian-nyanyian merdu berganti dengan tangisan, tawa para penduduk berganti dengan kesedihan, teriakan dan kegembiraan anak-anak berganti dengan jeritan.

Mereka bagai perahu tanpa nahkoda, terombang-ambing ditengah lautan tak tau mau kemana, berjalan tanpa arah, tak ada lagi tawa yang ada hanya gelisah.

Mereka diburu bagai hewan pemuas nafsu, tetesan air mata terus mengalir setiap waktu, peluru-peluru bagai hantu melesat tak menentu, percikan darah terus mengalir membentuk danau.

Tak ada lagi rumah tuk bersembunyi, tak ada lagi ruang tuk berlari, tak ada lagi keberanian tuk membela diri, tak ada lagi tawa dalam hati karena semua telah mati, bagai luka dalam air garam perih menyayat hati.

Kami ingin berbuat tapi kami tak bisa apa-apa, kami hanya berdoa agar kamu dijauhkan dari dosa, kami hanya berdoa agar tak ada lagi duka dan nestapa, dan kami hanya berdoa agar kelak tagismu berubah menjadi tawa.