Puisi: Demokrasi Yang Tersakiti "Sembilu Daun Kering"

Daun Kering, www.lorongka.com
 Sembilu Daun Kering

Ketika waktu asyik tuk berputar, musimpun senang tuk berganti, hembusan angin sejuk menerpa pepohonan, membuat bencana di setiap sudut jalan.

Aku hanya daun kering yang diterpa angin, menyusuri jalan menuju tuhan, namun sayang harap tak terwujudkan, kini kuhanya menerima takdir, karena nasib tak jua kau peduli.

Aku daun kering yang berjumlah tak sedikit, tumpah ruah dikolom statistik, yang kalian data siapa yang layak dapat raskin rasa aking, pelayanan kesehatan gratis penuh dengan ilusi, namun ku masih tetap daun kering yang berceceran dijalanan.

Ingatkah kau waktu itu.

Sebuah rayuan maut yang kau lontarkan, memanjakan harapku sekejap, lalu kau hadiahi kami dengan luka, luka yang kau sendiripun tak mampu kau pikul.

Nasibku kini sangat menyedihkan, terkapar, tersungkur di hamparan tanah gersang bebatuan, menatap wajahmu di atas tahta, berdiri dengan bangga dipucuk kekuasaan.

Lihatlah.

Yah di sebelah sana, langit mulai senja semburat tapi nasibku tetap sama, aku daun kering bermimpi meraih kemakmuran, bandit-bandit, pembunuh, maling, penipu memasang wajah polos setelan jas hitam mengkilap, mereka bersekongkol tuk meraih tahta untuk membakar kami daun kering.

Oh tuhan.

Salahkah aku daun kering yang penuh harap, harapan tuk menuju tuhan, harapan tuk negeriku yang lebih baik, harapan agar penjahat dan penipu tak lagi mendekat.

Rasa-rasanya kuingin menyatap para bandit, melumat mereka satu persatu, membakar semua lafal yang telah kalian ucap, hingga aku tertawa, menatap wajah kalian berenang di lautan semangkuk santan gula.

Hahaha nikmat santapanku malam ini.

Semangkuk sup bandit, sepiring maling, secawan penipu, hingga makanan penutup berlabel penjahat kelas kakap.

Malam ini izinkan aku mengatakan, tidurlah para bandit, lelaplah para maling, bermimpilah kalian para penipu esok kami daun kering menjelma jeruji besi siap menyantap sisa hidupmu.