Puisi: Ironi Demokrasi Antah Berantah

Andika Putra, www.lorongka.com
Ironi Demokrasi Antah Berantah

Lihatlah.
Dulu segumpal harapan bangsa,
Kini tinggal hanya secuil,
Sebab janji manis yang kau lafalkan telah kau lumat.

Nasib rakyat terombang ambing,
Bandit-bandit telah besekongkol,
Menipu dan mencuri hal yang biasa.

Lihatlah! Yah di ujung sana,
Mereka bernafsu meraih kursi,
Agar berkuasa diera reformasi,
Dengan modal janji lalu pergi.

Kemana aturan itu ?
Mengapa rakyat jadi korbanya,
Mengapa rakyat yang menderita,
Sementara penguasa hidup bahagia.

Lihatlah! Yah disebelah sana,
Para penjahat politik,
Mereka tertawa dengan uang rakyat,
Lalu lupa akan nasib rakyat.

Ini gawat tuan !
Negara kita sedang dijarah,
Masa depan negara kini jadi taruhan,
Oleh penguasa yang berlagak bersih,
Akan dosa dan janji yang hanya ilusi.

Ah !!! jujur aku muak dengan ini.
Penguasa berbahagia,
Sementara rakyat menjerit menderita.

Ini bukan negeri antah-berantah Tuan,
Negeri yang penuh dengan ilusi,
Tuan !!! Ini negeri sunguhan,
Negeri yang butuh orng bersih,
Negeri yang butuh pejuang rakyat.

Namun lihatlah !!! Yah tatap, dan perhatikan.
Penjahat yang mengenakan setelan jas mewah,
Mereka saling menggurui lalu kemudian saling menuding,
Memprovokasi pemuda polos di kampus-kampus.
Lalu turun kejalanan melempar batu.

Inikah wajah demokrasi kita ?
Ah !!! Ini bukan demokrasi,
Ini provokasi yang berbuntut demonstrasi,
Pantas saja setiap demo berakhir anarki,
Karena mereka hanya dprovokasi.

Aku muak dengan ini,
Buat saya paham akan demokrasi,
Kenapa banyak penguasa yang korupsi,
Lalu rakyat tak lagi dipeduli,

Hey Tuan.
Kami tak butuh uang yang melimpah,
Kami hanya butuh keadilan,
Wujudkan demokrasi tidak hanya teori,
Sebelum demokrasi dilumat habis oleh hantu negeri ini.