Puisi - Pangeran Pendusta Dan Ahli Sandiwara

PANGERAN PENDUSTA DAN AHLI SANDIWARA
Penulis: Faisal

Jika kau adalah ahli sandiwara.
Aku adalah pangeran pendusta.
Kau bertanya apakah kau masih mampu hidup.
Dengan predikatku aku akan menjawab dengan tidak ragu-ragu "MASIH".

Aku masih kokoh berdiri teguh.
Tulang kakiku masih kuat menahan berat badanku.
Inderaku masih mampu paham dan merasakan.
Tapi dengan predikatku hatiku tidak dapat berbohong.

Aku adalah pendusta.
Mendustakan semua pertanyaan kasihan padaku.
Aku berkali-kali meminta biarkan aku berjalan sendiri.
Aku tidak akan tersesat, dengan mulut dan suaraku aku akan bertanya.

Aku merasa hebat sebagai pangeran pendusta.
Tapi aku tidak lebih hebat dari kau.
Kau adalah ahli sandiwara.

Aku melihat kau sudah tidak muda.
Tubuhmu mulai rentah.
Tarikan nafasmu sudah mulai tersengal-sengal.
Tapi kau adalah ahli sandiwara.

Dengan predikatmu kau menjadi penipu dan pembohong besar.
Kau menipu dengan mempertontonkan kesehatan tubuhmu.
Kau berbohong dengan retorika halusmu yang meluluhkan.
Kau menampilkan babak demi babak sandiwara kehidupan.
Hanya karena kau selalu rindu senyuman.

Persembahanmu membuat semuanya terlena.
Terbuai dengan lakonan yang luar biasa.
Hingga semua tidak sadar kau telah tiada.
Meninggalkan drama yang tak selesai kau lakonan

Kau dimana ?
Mengapa kau pergi ?
Aku belum siap menjadi penanggung rasa penasaran.
Aku belum siap menjadi penanggung rasa kerinduan.

Kau sudah tak lagi menoleh. Bergerak bahkan mengedipkan matamu sekali saja.
Tidak ada pertanda aku akan melanjutkan sandiwaranya.

Aku sebagai penggemar fanatiknya.
Hanya akan berusaha membuat naskah baru.
Melanjutkan sandiwaramu.
Menyelesaikan dramamu.