Header Ads

Sajak Segumpal Darah di Negeri Anarkis

SAJAK SEGUMPAL DARAH DI NEGERI ANARKIS
(BSJ)

Hujan turun lagi, seolah penghapus duka lara yang kian berkarat di depan mata. 

Ini negeri, negerinya para penyamun anggaran. Meringis memanja meminta sumbangan kekenyangan. 

Tak ada lagi sisa sisa harapan. Sudahlah kawan, sudahi impian kita untuk belajar keliling Jawa. 

Hidup mulai lusuh, kusam ditelan masa. Berkeping berlumur darah dan hilang kendali terabaikan penguasa. 

Tiada lagi yang bisa diandalkan, maut di depan mata. Kiri kanan jalanan berserekan mayat tak berdosa dan tak terurus. 

Mereka, para penguasa! 
Tak lagi bisa berbuat apa apa, tanpa rupiah menjanggal kantongnya yang rakus.

Apalah arti keamanan. Hanya menghabiskan anggaran, lantaran perut kosong anak miskin, nyawa pejuang melayang tiba tiba. Semua tak ada yang melirik. 

Semua berlalu, begitu cepat tak ada yang peduli. 

Negeri dongeng. Berebut kursi, hingga hilang akal dan lupa rakyat. Menjadikan pleno, bahkan paripurna sebagai tempat ngawur dan ngamuk-ngamuk. 

Aku tak punya kuasa, apalagi penguasa. Aku hanya seorang diri yang di titip Tuhan untuk menghamba pada kebenaran. 

Bukan kau, bukan dia, terlebih mereka. Tapi ini adalah perlawanan anak bangsa yang kecewa pada penegakan hukum di negerinya yang malang. 

Suap saja mereka, beli saja hukumnya. Maka kau akan selamat, aman sentosa di dunia. 

Ini untuk kau yang lupa diri dan dia sang penyamun, juga mereka para pmbual, sialan!!! 
Sajak Segumpal Darah di Negeri Anarkis Sajak Segumpal Darah di Negeri Anarkis Reviewed by lorong kata on January 23, 2018 Rating: 5

Recent Posts

Humor