Opini: Janji Politik Hingga Mendadak Pikun

Menggandeng nama Tuhan dalam upaya mendapatkan kekuasaan untuk melegalkan akumulasi kekayaan adalah merupakan hal yang paling mengerikan. Kenapa tidak, bila banyak diantaranya menghalalkan segala cara demi menuai apa yang semula diimpikannya walau bertentangan dengan logika umum terlebih manfaat publik.

Uang dan kehausan kekuasaan telah membutakan sebagian insan untuk berlaku adil, apalagi dalam tatanan negeri yang terbilang ganjil tentunya akan berpengaruh besar dalam sistem perpolitikan, hingga tingkat paling bawah dalam kehidupan masyarakat. Sebut saja pemilihan desa, bahkan ada yang terdengar saling membunuh demi menjaga dukungannya agar tetap langgeng dalam kekuasaan atau lancar pula perjalanannya.

Kini menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2018, berbagai fenomena sosial kembali bermunculan dari segala sisi, mulai dari penampakan moral yang beringas hingga etika yang kehilangan keseimbangan. Yang dulunya pendiam, tiba-tiba menjelma jadi ramah, yang dulunya arogan pun langsung berubah drastis tampil bijaksana. Entah inikah yang mereka maksud politik.
Publik seolah tersihir dan mendadak khilaf, bukan karena kurangnya ilmu pengetahuan lantaran lupa diri. Tetapi kadang karena alasan perut atau arogansi selalu mereka jadikan alasan untuk memilih polotik praktis dengan prinsip pragmatis. Oh, inikah buah demokrasi kontemporer?.

Seorang penyair terkenal asal Jerman pada abad ke-20 pernah berkata, “Buta terburuk bagi manusia adalah buta politik” demikianlah kutipan Bertolth Bretch. Banyak orang membenci politik, tapi secara tak sadar, mereka juga adalah korban politik. Menurutnya, banyak yang anti politik, tapi lupa kalau harga-harga kebutuhan pun diputuskan atas dasar keputusan politik.

Terlepas dari itu, saya hanya ingin mengingatkan bahwa politik akal sehat sejatinya adalah untuk mencapai kesejahteraan rakyat, di luar dari itu, berarti politik akal buruk. Politik yang tidak bertujuan untuk mensejahterakan rakyat adalah politik zaman now, politik yang kehilangan akal, atau politik yang berlomba hanya untuk akumulasi kekayaan.

Kembali ke Pilkada 2018, dimana para tokoh bermunculan di media, mengacungkan jemari mereka sesuai dengan nomor urut dukungannya. Para pemikir yang semula diagung-agungkan oleh banyak orang tak mau alpa mendaftarkan diri, serta berambisi tuk jadi pemimpin. Tampil gagah, terkesan berani dan belagak bijak dan berlomba-lomba seolah paling merakyat. Pertanyaannya, beranikah mereka berkorban untuk rakyat? Pastinya tak ada yang membantah, namun faktanya ada pada prakteknya kelak.

Pesta demokrasi, menurut beberapa masyarakat awam yang saya temui beberapa pekan lalu di pelosok negeri. Demokrasi yang hanya dimaknai sebagai penyaluran suara saat pemilihan umum. Padahal demokrasi adalah kebebasan memilih dan dipilih, serta keterlibatan dalam penentuan kebijakan.

Hari ini tak bisa kita nafikkan soal akumulasi kekayaan dengan mengatas namakan politik, atau lebih anarkisnya bila melibatkan Tuhan. Sebab tokoh masyarakaat tak mungkin mau maju sebagai kepala daerah, misalnya. Tanpa berfikir tentang strategi manajemen keuangan yang berkepanjangan.

Padahal politik yang baik adalah yang berani bertaruh gagasan demi kemaslahatan umat, bukan pertarungan saham demi kemenangan. Sebagai generasi muda, saya menantang calon para pemimpin. Beranikah berkorban untuk rakyat dengan membuktikan lewat kerja nyata, minimal bermalam sepekan di gubuk si miskin guna merasakan penderitaannya. Lalu memperbaiki infrastruktur desa terpencil demi kelancaran ekonominya. Sebab bila berjanji saya rasa semua bisa, apalagi usai terpilih langsung lupa diri seolah pikun. Kenyataan ini seperti ini menggambarkan, bahwa banyak pemimpin yang tidak sadar, dan ada juga yang memang tidak mau tahu akan dirinya yang lahir dari rakyat.

Selanjutnya saya akan mengulas sedikit implikasi dari arogansi kekuasaan akibat politik akal buruk berdasarkan pengalaman pribadi. Jujur saja, bila mendengar soal Pilkada atau pemilihan legislatif, hal pertama yang secara spontan muncul pada ingatan saya adalah janji. Janji politik istilah kerennya.

Sudah banyak tempat yang saya kunjungi, selalu saya pertanyakan kindisinya, mulai dari infrastruktur maupun pembangunan sumber daya manusianya. Masyarakat pun senantiasa mencurahkan kegelisahannya, tetapi yang paling akrab terdengar adalah “seandainya semua janji pemerintah semasa mencalonkan mau dipenuhi, maka sejak dulu kesejateraan dirasakan.” Jawaban itu sudah melekat dan melebur, berubah dalam benak saya menjadi kehilangan kepercayaan.

Karena saya sudah tidak terlalu percaya lagi pada mereka yang banyak janji, maka saya putuskan bahwa hal terbaik dilakukan pemuda hari ini adalah senantiasa belajar tentang politik akal sehat, sebagaimana politik yang memikirkan kesejahteraan masa depan. Mementingkan urusan publik serta mengesampingkan persoalan pribadi. Mengutamakan rakyat, serta rela miskin demi pengorbanan pada pengabdian terhadap masyarakatnya. Demikianlah politik yang saya tunggu-tunggu.
terima kasih

Penulis: Burhan