Inna, Wanita Yang Tak Pantas Disebut Kejam

Andika Putra
Hujan dan Sebuah Harapan
(Dikha)

Kepadamu yang kusebut Inna,
Aku ingin bercerita,
Perihal hujan dan sebuah penantian.

Kau tau kenapa ku ingin bercerita ?

Sebab rindu yang menggebu,
Telah berlalu menjadi kenangan,
Karena penantianku tak pernah kau hiraukan.

Ketahuilah...
Ada genangan airmata yang terus mengalir,
Yang tumpah pada secawan rindu,
Karena keresahanku telah larut dalam dunia rasa.

Aku memang pria yang kurang ajar,
Tapi....

Aku tak pernah berniat menyebutmu kejam,
Hanya karena penantian tak menemui kata temu.

Akupun tak berniat menganggapmu PHP,
Lantaran harapanku berujung kekecewaan.

Ini hanya ungkapan sang penyair,
Karena kopi dan rindu telah bersekutu,
Merenggut harapan,
Merubah asa menjadi kehancuran.

Sudah waktunya kuseduh kopiku lagi,
Kuracik dengan sebuah mimpi,
Agar kuhirup aroma rindu,
Yang dulu sempat kau kacaukan.