Opini: Mirisnya Wajah Pendidikan di Negeriku

Azhar Hidayat, Mahasiswa UINAM Jurusan Hukum Pidana dan Ketata Negaraan.
OPINI, Lorong Kata --- Semua orang pasti tahu betapa ambruknya negeri ini terutama yang paling miris adalah pendidikan, di mana masih banyak masyarakat yang tidak mengenyam bangku sekolah  padahal telah jelas tertera dalam UUD sebagai hirarki tertinggi dalam perundang-undangan negeri ini, dimana dalam pasal 31 ayat 1 sangatlah jelas berbunyi "setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan" tetapi sayang beribu duka pendidikan di negriku yang tercinta ini jauh dari kata layak. Pemerintahannya malah apatis terhadap pendidikan rakyatnya padalah pendidikan sebagai ujung tombak perubahan malah menjadi barisan terbelakan dari perubahan.

Sementara, guru kita kihajar dewantara telah mendeklarasikan tentang pendidikan yang layak bagi rakyat indonesia pada tanggal 2 mei 1889 namun seiring berjalannya waktu negeri ibu pertiwi ini makin tua dan tampak kusam pada wajah pendidikan anak-anak bangsanya.

Pernahkah kita sadari sebagai pelanjut estafet kepemimpinan negeri ini mau di kemanakan ibu pertiwi ini ketika kita tuna pendidikan, krisis moral, rendahnya akhlak dalam diri generasi bangsa ini yang nampak adalah pemberontakan tampa dasar yang kuat. Kita sibuk memperdebatkan perbedaan saling menjatuhkan menghina dan menghujat satu sama lain. Masalah sepele diperbesarkan sedangkan karir dan perestasi belajar kita malah di kesampinkan, hidup di zaman modern ini semua serba mudah dan efisien dalam mengerjakan berbagai hal. Tapi malah miris karna kita hanyalah penikamat dan pengguna bukan menjadi pencipta.

Sementara data yang telah tercatat di perserikatan bangsa-bangsa untuk anak (UNICEF) dalam kurung waktu 2016 telah tercatat sebanyak 2,5 juta anak indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjut yakni 600 ribu anak indonesia yang mengeyam pendidikan sampai bangku Sekolah Dasar (SD), dan 1,9 juta anak indonesia yang cuma mampu mengeyam pendidikan sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Data inilah sudah sangat jelas menunjukkan bahwa pendidikan di negeri kita ini jauh dari kata maju, padalah anggaran APBN dan APBD telah menetapkan bahwa 20% di berikan untuk membiayai pendidikan namun ini belum mampu membuktikan secara realitas bahwa pendidikan kita dikatakan layak dan kesejahteraan rakyat jauh dari harapan.

Anggaran yang cukup besar dari negara ini malah menjadi ladang bagi para kuruptor untuk meraih keuntungan yang sangat besar dalam dunia pendidikan dan bahkan kerja sama antara pihak birokrasi dan parlamen sehingga menciptakan regulasi dengan pengusaha untuk  kapitalisme pendidikan di mana mereka menekankan pendidikan mahal sebagai acuan untuk menipu para rakyat sehingga rakyat yang berada digaris kemiskinan mampu tercekik dengan biaya pendidikan yang begitu mahal.

Pendidikan hari ini seperti sapi perah kata eko perasetyo di mana kaum kapitalisme telah nyata menindas rakyat yang menderita karna taraf hidup yang jauh dari kata sejahtera, padahal telah cukup jelas dibacakan setiap hari perayaan ke merdekaan bahwa. "mencerdaskan kehidupan bangsa", itu sebagai amnah dasar dari UUD 1945, apakah itu cuma selogan biasa yang kemudian di ucakapkan setelah itu tanpa ada implimentasi dari ucapan itu.

Apakah memang benar puisi W.S Rendra yang mengatakan "kita buta dan tuli di dalam hati seakan menipu diri sendiri" jutaan anak ibu pertiwi yang tidak mengenyam bangku pendikan karna persoalan biaya.di mana tanggun jawab pemerintah sebagai pemimpin bangsa apakah mereka sudah benar-benar buta terhadap rakyatnya yang miskin dan melarat bahkan turun kejalan meminta belaskasihan para penguasa yang lewat di lampu merah, mereka yang cuma menghabiskan ratusan juta uang negara untuk membiayai fasilitasnya befoya-foya tanpa rasa bersalah tidak melaksanakan amanah rakyat dengan bijaksana sungguh miris nasib ibu pertiwi.

Penulis: Azhar Hidayat