2017 | LORONG KATA
Tweet Share Share Share Share Share

PANGERAN PENDUSTA DAN AHLI SANDIWARA
Penulis: Faisal

Jika kau adalah ahli sandiwara.
Aku adalah pangeran pendusta.
Kau bertanya apakah kau masih mampu hidup.
Dengan predikatku aku akan menjawab dengan tidak ragu-ragu "MASIH".

Aku masih kokoh berdiri teguh.
Tulang kakiku masih kuat menahan berat badanku.
Inderaku masih mampu paham dan merasakan.
Tapi dengan predikatku hatiku tidak dapat berbohong.

Aku adalah pendusta.
Mendustakan semua pertanyaan kasihan padaku.
Aku berkali-kali meminta biarkan aku berjalan sendiri.
Aku tidak akan tersesat, dengan mulut dan suaraku aku akan bertanya.

Aku merasa hebat sebagai pangeran pendusta.
Tapi aku tidak lebih hebat dari kau.
Kau adalah ahli sandiwara.

Aku melihat kau sudah tidak muda.
Tubuhmu mulai rentah.
Tarikan nafasmu sudah mulai tersengal-sengal.
Tapi kau adalah ahli sandiwara.

Dengan predikatmu kau menjadi penipu dan pembohong besar.
Kau menipu dengan mempertontonkan kesehatan tubuhmu.
Kau berbohong dengan retorika halusmu yang meluluhkan.
Kau menampilkan babak demi babak sandiwara kehidupan.
Hanya karena kau selalu rindu senyuman.

Persembahanmu membuat semuanya terlena.
Terbuai dengan lakonan yang luar biasa.
Hingga semua tidak sadar kau telah tiada.
Meninggalkan drama yang tak selesai kau lakonan

Kau dimana ?
Mengapa kau pergi ?
Aku belum siap menjadi penanggung rasa penasaran.
Aku belum siap menjadi penanggung rasa kerinduan.

Kau sudah tak lagi menoleh. Bergerak bahkan mengedipkan matamu sekali saja.
Tidak ada pertanda aku akan melanjutkan sandiwaranya.

Aku sebagai penggemar fanatiknya.
Hanya akan berusaha membuat naskah baru.
Melanjutkan sandiwaramu.
Menyelesaikan dramamu.
Tweet Share Share Share Share Share

Kala Rindu Menyapa
(Fadillah Febriyanti)

Dikala malam tiba
Sepi pun hadir menyapa
Dingin mencekam kesunyian jiwa
Semesta kelam tanpa lentera

Dibalik keheningan malam
Menyelimuti hati yang terasa masam
Hembusan sang bayu merasuk dasar sukma
Ku terhanyut dalam fatamorgana

Serpihan geliat membuncah kalbu
Rasa yang tergores kian semakin merekah
Batin menjerit kala jarak menciptakan rindu
Seolah benteng pertahananku seketika runtuh


Mengapa rasa ini terus mengalir???
Bagaikan terjebak dalam sebuah labirin
Membelenggu dalam pikiran dan emosi
Membawa alunan rindu dalam setiap hembusan nafas

Tentang Penulis
Fadillah Febriyanti, saat ini menimbah ilmu di STKIP-PGRI Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Jurusan Ilmu Pendidikan Program Studi PGSD semester III. Hobi membaca dan menulis fiksi baik puisi maupun cerpen. Motto"Joyfull Of Life"
Sosial Media :
Wattsapp      : +62 81273970241
E-mail            :  fadillahfebriya@yahoo.com
Facebook      : Fadillah Febriyanti
Tumblr           : Dillah Febria
Line                : @fadillah_ebi
Tweet Share Share Share Share Share

Ambivalen
(Ani Kurniasih)

Saat ini aku ditemani sepi
Sudahkah mentari menyapa?
Bahkan aku tak tahu rasanya!
Mengapa kau pergi?

Hanya pemiliknya saja yang tahu!
Sungguh, perasaan ini bercabang.
Cinta, benci, ditampung sepenuhnya oleh hati.
Sang ksatria yang mengelabui.
Allah mengirimnya dengan sengaja, kah?

Seharusnya mentari itu cepat tenggelam
Agar tak bisa dilihat lagi rupa ksatria itu
Dia menyiksa, namun kadang sifatnya meluluhkan.

Apa daya diri ini yang hanya berharap Ridho-Mu Ya Rabb...
Sang Raja Kelembutan yang abadi.

@Zheevani ania
Ciamis, 2017
Tweet Share Share Share Share Share

Ibu
Dian Aprilia A

Engkaulah pelita dalam gelapku
Engkaulah malaikat di dunia ini
Kasihmu cinta mu pelukmu
Dekappanmu bahkan kemarahanmu
Itu semua untuk kebaikanku

Engkaulah pahlawanku
Setiapku kesusahaan
Engkau selalu ada untuk membantuku
Bekerja keras tuk menafkahiku

Terimakasih tuk pengorbanaanmu
Yang kau berikan kepadaku
Kau begitu ceria dan rajin dari pada guru yang lain
Andai aku bersalah maafkan aku

Dia tak letih menasehatiku
Sosok  yang sealalu menjagaku
Tanpanya aku bukan apa apa
Aku hanya manusia lemah
Yang membutuhkan kekuatan
Cinta kasih dari seorang ibu

Walau engkau selalu memarahiku
Aku tau...
Itu bentuk perhatianmu
Itu menandakan kau peduli padaku

Ya allah
Berikanlah kesehataan pada ibuku
Panjangkanlah umurnya
Aku ingin membahagiakannya
Sebelum engkau tiada

Terimakasih ibu
Atas apa yang kau berikan kepadaku
Dalam senyummu kau sembunykan letihmu
Derita siang malam menyapamu
Tak sedetik menghentikan langkahmu

Ibu...
Aku selalu mengingat nasehatmu
Bukan setumpuk emas yang kau harapkan
Dalam kesuksesanku
Bukan gulungan uang yang kau minta
Dalam keberhasilanku
Bukan pula sebatang perunggu dalam
Kemenanganku...
Jasamu takan terbatas
Jasamu takan terbeli
Jasamu tiada akhir
Jasamu terlukis indah di dalam surga

Ibu...
Telah kau hujamkan matamu
Tuk menetang surya
Telah kau hentakan kakimu
Tuk menindas bumi
Telah kau mantapkan hatimu
Tuk taklukan sang waktu

Ibu...
Remuk hati ini melihatmu menangis
Hancur raga ini melihatmu terluka
Mati raga ini apabila kau tiada
Cuma doa yang ku persembahkan untuk mu
Cuma tangisanku sebagai saksi
Atas rasa cintaku padamu

Nama : Dian Aprilia Arditianika
Umur :22 Tahun
Tempat lahir : Magelang
Tanggal lahir : 17 April 1995, Selengkapnya
Tweet Share Share Share Share Share

Air mata menetes di pipi
Dian Aprilia A

Air mata kuselalu menetes di pipi
Perlahan demi perlahan
Aku ingat kau barada di samping ku
Akan ku buktikan padamu

Tetesan air mata
Seperti kertas yang terkena air
Yang bisa rusak maupun utuh
Air matayang mengalir di pipi
Sangatlah berharga

Tanpamu aku masih dapat untuk hidup
air mata yang mengalir terus menerus
membuatku teringat dirimu
tanpa ku sadar aku masih sayang
walau air mata ku mengalir terus menerus di kedua pipi

Nama : Dian Aprilia Arditianika
Umur :22 Tahun
Tempat lahir : Magelang
Tanggal lahir : 17 April 1995, Selengkapnya
Tweet Share Share Share Share Share

Mereka Mendamba Merdeka
Oleh : PenikmatSepi

Kemerdekaan menjadi damba
bagi mereka bangsa Palestina
Prahara sengketa tanah
terus memamah jiwa-jiwa
Darah terburai menggenangi Negeri
Tubuh berserakan tanpa bentuk, dan
gedung-gedung menciumi tanah, tak beraturan.
sedang ratap papa hanya sebagai nyanyia sendu,
yang terus bersenandung sepanjang putaran waktu.
Tanpa relai, meski sungguh hati murka pada kebinatangan kaum zionis.
Wadah perdamaian dunia lumpuh dan membisu
tanpa tindakan dan juga kata-kata.

Kemerdekaan menjadi damba
bagi mereka bangsa Palestina
Sudah kering air mata mereka
Sudah jenjang derita mereka
Sudah lelah letih hidup dalam kubangan ketakutan pada leletusan yang membunuh.

Mereka mendamba merdeka
Menikmati hidup penuh damai pun tentram tenang
Tanpa suara tembakan timah panas dan letusan granat-granat yang mengaung diikuti tangis dan teriakan Allahu Akbar
Mereka mendamba merdeka
Akankah kita akan tetap diam dengan pedih dan serapah
melihat para zionis laknat merata tanahkan bumi Palestina?

Pulau messah, 2017
Tweet Share Share Share Share Share

Aku Mencintaimu
(Ani Kurniasih)

Sesimpul senyum dari bibirmu,
Mengingatkanku akan kenangan terdahulu.
Ketulusan itu jelas tergambar dalam sikapmu.

Lembut sekali kau menyentuh hatiku,
Meraba, tanpa melukainya sedikit pun.
Sungguh kau memang tahu caranya menjaga mutiara.

Sekarang, aku berani mengakui perasaanku.
Rasanya sangat berbunga-bunga,
Terasa sedang berada di tengah-tengah hamparan sakura.

Soal aku mencintaimu,
Cukup Allah saja yang tahu...
Tweet Share Share Share Share Share

Hijrahku
 (Yuni Kusnawati)

Tak mudah memang
Meninggal sesuatu yang sudah amat kusayang
Meninggalkan semua angan-angan
Yang sejak lama aku impikan

Pernah berada dititik kebimbangan
Antara menyudahi atau melanjutkan
Mengikuti kata hati yang bertentangan
Atau mengikuti logika demi kesenangan

Jika ku ikuti, urusan akhirat ku genggam
Duniapun turut melenggang
Namun bila kutinggal, dunia ada didekapan
Namun akhirat melambaikan tangan

Jalan yang kutempuh tidak semudah yang kubayangkan
Banyak rintangan yang senantiasa menghadang
Berusaha merobohkan benteng keteguhan
Yang sudah susah payah aku lambungkan

Awalnya sangat berat
Tapi harus kulakukan demi kehidupan orangtuaku diakhirat
Kurasa kiamat sudah semakin mendekat
Karena banyak ikhwan dan akhwat yang senang melakukan khalwat

Hijrahku, bukan sebuah trend semata
Bukan ingin mendapat pujian saja
Bukan ingin dibilang "taat agama"
Namun kulakukan demi kehidupanku dimasa depan
Dan untuk meringankan beban
Kedua orangtuaku saat masa penghisaban

Hijrahku
Semoga mendapat ridho dari-Mu
Permudah jalanku menyiapkan tempat untuk kedua orangtuaku
Tempat terindah disisi-Mu
Ya Allah ya Tuhanku

Nama: Yuni Kusnawati
Tempat, Tanggal Lahir: Way Kanan, 02 Juni 1999
Domisili: Banjit, Way Kanan, Lampung
Status: Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lampung
Telepon (HP): 085384976502
Email: yunikusnawati02@gmail.com
Tweet Share Share Share Share Share

Kisah Yang Telah Usai
(Yuni Kusnawati)

Untuk diriku yang jauh dari inginmu
Yang kehadirannya hanya mengusik ketenangmu
Pergi, ya aku ingin pergi darimu
Namun kaki tak mampu untuk melangkah maju

Aku ingin selalu berjalan berdampingan
Berdua denganmu seiring sejalan
Bercanda tawa mengingat semua kenangan
Yang telah lama terabaikan

Luka hati yang tak lagi terawat
Kini menjadi lebih menyakitkan
Bukan mudah untuk mengingat
Namun sulit untuk melupakan

Aku ingin menyapamu
Sangat-sangat ingin
Namun kuurungkan kembali niatku
Karena aku tau tanpaku kau lebih tenang

Dulu aku dan kamu selalu bersama
Saling membutuhkan satu dengan yang lainnya
Kini waktu merubah segalanya
Jangankan untuk tertawa berdua
Menyapa saja tak lagi bisa

Aku tak begitu kuat untuk menggenggam jemarimu
Mempertahankan hati yang pernah bersatu
Melawan hati yang semakin membeku
Yang menjadikan segalanya tak lagi menyatu

Aku berusaha mengejarmu
Mencegah langkah kepergianmu
Berupaya mengurungkan niatmu
Untuk meninggalkan jejak yang telah lalu
Melupakan kisah indah dimasa itu
Sungguh aku ingin kau tetap disampingku

Semua terkenang kembali
Dulu dekat sedekat nadi
Kini jauh sejauh matahari
Dan baru aku sadari kisah kita benar-benar telah usai
Semua berakhir dan selesai

Nama: Yuni Kusnawati
Tempat, Tanggal Lahir: Way Kanan, 02 Juni 1999
Domisili: Banjit, Way Kanan, Lampung
Status: Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lampung
Telepon (HP): 085384976502
Email: yunikusnawati02@gmail.com
Tweet Share Share Share Share Share

Salam Pengagum Rahasia (SPR)
(Yuni Kusnawati)

Berteriak di sunyi nya malam
Menangis diderasnya hujan
Caraku menumpahkan seluruh amarah
Lara batin yang terlalu lama terpendam

Menyendiri di keramaian
Termenung di keheningan
Saat hati tak mampu lagi menahan
Setitik rindu yang semakin membelenggu

Secercah cahaya menutup kalbu
Rasa hati teriris bagai sembilu
Hanya satu yang ku mampu
Memberi senyum termanis diwajahku

aku adalah orang yang tak kau kenal
Namaku saja mungkin kau tak tau
Walau disini aku selalu memperhatikanmu
Menahan semua syahwat cintaku

Aku selalu tersenyum melihatmu
Mengagumi setiap inci raut wajahmu
Tanpa sadar seiring berjalannya waktu
Dalam diam, aku jatuh hati padamu

Bermunajat disepertiga malam-Nya
Adalah cara terbaik yang ku bisa
Ketika semua angan tak dapat terlaksana
Hanya dapat tersampai lewat sebuah doa
Salam cinta dari sang pengagum rahasia

Nama: Yuni Kusnawati
Tempat, Tanggal Lahir: Way Kanan, 02 Juni 1999
Domisili: Banjit, Way Kanan, Lampung
Status: Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lampung
Telepon (HP): 085384976502
Email: yunikusnawati02@gmail.com

Tweet Share Share Share Share Share

Kekasihku Merengek Tuk Dinikahi

Aku datang tanpa daya,
Membawa cinta dan sejuta rasa,
Dari hati yang dihasut cinta,
Lewat melodi getarkan asa.

Sepucuk rindu di ujung senja,
Kutitip luka di atas mega,
Karena cinta tak menemui asa,
Merobohkan rasa yang dulu ada.

Ini luka yang kutuai lewat senja,
Tentang rasa yang menikam dada,
Saya datang tuk menagih bahagia,
Lalu mengapa kau beri aku dengan luka,

Inikah kisah diujung senja ?
Datang menebar pesona,
Lalu pergi meninggalkan air mata,

Bukan saya tak menginginkan bahagia,
Bukan saya tak menginginkan cinta,
Bukan pula saya tak menginginkan tawa,
Lalu mengapa engkau menghadiahiku dengan luka ?.

Aku merenung di ujung senja,
Seraya berpikir agar kau menuai bahagia,
Entah bahagia menikah dengan saya,
Atau terluka karena orang lain merenggut cinta dari saya.

Ini sulit kuputuskan,
Bahagia denganmu di pelaminan,
Atau teluka lantaran cinta menjadi kenangan.

Sudahlah, aku bosan dengan luka,
Aku lelah dengan perasaan dilema,
Aku muak tersakiti karena cinta.

Pergilah, menikahlah dengannya,
Dengan mereka yang mengharap cinta,
Lantaran aku tak mampu melamarmu dengan permata.
Tweet Share Share Share Share Share

Andika Putra
Korupsi Kebiasaan Masa Kini
(Andika Putra)

Ingin rasanya kutebas binatang jalang,
Yang pulas tidur terlentang,
Diantara tumpukan-tumpukan uang,
Dari harta rakyat yang kurus kerontang.

Rakyat jelata hidup terkapar,
Menangis merintih di atas trotoar,
Kadang perut selalu lapar,
Karena harta telah dijarah para koruptor,

Rakyat jelata hidup dalam kelaparan,
Para koruptor hidup dalam kemewahan,
Rakyat jelata hidup di jalanan,
Para koruptor hidup di tempat nyaman.

Penampilan selalu menawan,
Wajahnya pun terlihat tampan,
Lengkap dengan perhiasan berlian,
Namun sayang prilaku tak lebih dari hewan,

Pesonanya begitu manis,
Janjinya selalu menghipnotis,
Ujung-ujungnya membuat tangis,
Karena mereka berwatak bengis.

Hidupnya selalu berduit,
Karena korupsi caranya yang elit,
Di depan hakim selalu berkelit,
Meski kondisinya sudah terjepit.

Mereka adalah kelompok para pendusta,
Yang bangga dengan harta dunia,
Tak mau tau derita rakyat jelata,
Asal hidup mereka selalu sejahtera.

Rasanya....
Ingin kukuras darahmu hingga mengering,
Agar kau tau rakyat hidupnya kurus kering,
Karena ulahmu yang membuat pening.

Rasanya....
Ingin ku lumat seluruh tubuhmu,
Untuk membalas derita saudaraku,
Yang sudah lama tak pernah minum susu,
Walau Indonesianya memiliki kolam susu,

Korupsi ulah yang berdasi,
Dan itu kebiasaan masa kini,
Oleh pemimpin yang tidak tepati janji,
Lagi pula mereka tidak takut jeruji,
Mungkin itulah korupsi zaman now.
Tweet Share Share Share Share Share

Seseorang Menggali Luka Lama

Malam kian getas,
Dinginnya menusuk hingga ketulang,
Namun air mata tak juga surut,
Tentang luka setahun yang lalu.

Rindu kini telah menggali luka lama,
Luka yang sempat ku sembunyikan,
Lewat getirnya senyum yang kupaksa,
Karena cinta tak menuai asa.

Ini memang luka yang mengerikan,
Luka menganga tak mudah beranjak pergi,
Cinta kini terlanjur mati,
Meninggalkan luka yang susah kuobati.

Inikan yang ingin kau pahami ?,
Tentang hatiku yang menjadi mati,
Lewat tanyamu yang menyakiti,
Karena mengulik luka lama.

Sudahlah.
Usah kau bertanya lagi.
Siapa yang membidik hati ?,
Mengapa dan kenapa hatiku mati ?.

Sudah banyak orang mencoba mengobati,
Menyapu luka yang hinggap di dalam hati,
Tapi,
Hati ini sudah terlanjur mati.

Ini luka Tuan,
Luka yang ditinggal pergi,
Luka yang bentuknya menganga,
Luka yang membuatku menderita.

Usahlah kau bertanya lagi,
Karena tanyamu telah mencabik luka lama,
Luka yang sempat ku sembunyi,
Meski rasanya tak mampu ku bohongi.

Hey Tuan.
Kini rindu telah termenung di ujung senja,
Menanti pelangi datang menghampiri,
Merubah luka menjadi bahagia,
Hadirkan tawa yang dulu sempat pergi,
Dari cinta yang kini dibawa pergi,
Oleh mereka yang tak paham kasih.
Tweet Share Share Share Share Share

Kids Zaman Now
(andi)

Kids zaman now,
Tingkahmu membuat kami melongo,
Bukan karena hebatmu,
Hanya saja karena sikapmu yang aneh.

Kids zaman now,
Usiamu memang belia,
Tapi tingkahmu melampaui dewasa.

Kids zaman now,
Lipstik dan bedak tak pernah tipis,
Coretan melengkung menutupi alis,
Untuk menarik hati yang berkumis.

Kids zaman now,
Selalu eksis di hadapan kamera,
Gaya yang tak ada dua,
Namun prestasi yang masih tanda tanya.

Kids zaman now,
Peka teknologi masa kini,
Bukan untuk mengembangkan potensi,
Sayang untuk menutupi gengsi.

Kids Zaman now,
Gaya boleh numero uno,
Kelakuan yang masih kuno,
karena labil tingkahnya jadi sembrono.

Kids zaman now,
Usahlah kau meniru yang disana,
Yang pantaslah dalam berbusana,
karena aurat bukan untuk pemuas dahaga.

Kids zaman now,
Tak ada salah jika ingin tampil beda,
Itu hak setiap bangsa,
Yang sopan dalam bergaya,
Agar tak ada buaya yang membuat noda.
Tweet Share Share Share Share Share

 Negeri PHP
(Riani)

Anak-anak menangis
meronta-ronta
Kelaparan melanda
merongrong asa
Sedang orang tua menatap kosong
Menggantungkan makna menyisir ruang hampa

Bual janji para penguasa
Seonggok harapan menuai pedih
Jikalau saya jadi pemimpin
Kesejahteraan ekonomi tujuan utama, katanya!

Kesejahteraan yang mana?
Ketika dirumah-rumah itu
Orang tua masih menanak batu

Bersendu.......
Berharap hening tangis sang anak
Menjerit pilu perut kosong
haru
Sesampai benar benar mati
se umbar aksaramu yang dulu harum laksana bunga mawar

Nyanyian kelaparan tak kunjung berlalu
Menunggu di sebalik pintu pengandaian yang palsu
Tweet Share Share Share Share Share

Image From Google
Demokrasi Yang Pincang

Langit semakin menua namun tak ada yang berubah dariku, korupsi semakin merajalela, moral bangsa semakin hancur, penipuan layaknya menjadi hal yang biasa, para penguasa tetap egois memikirkan kantong sendiri.

Nasib bangsaku menjadi taruhan di meja para pemimpinku, terombang ambing di tengah samudera bak perahu tanpa nahkoda, berjalan tanpa arah di hempas gelombang di lautan politik kekuasaan.

Tak ada yang salah dalam politik namun bijaklah dalam memutuskan, jadikan rakyat sebagai tujuan, bukan untuk kehancuran tapi demi kesejahteraan, agar mereka dapat hidup nyaman.

Wahai para penguasa.

Rakyatmu menjerit kesakitan karena negaramu diambang kehancuran, janji-janji tak ubahnya seperti biduan yang kenikmatannya hanya sesaat, kebebasan politik bukan lagi karena rakyat melainkan hanya kesenangan.

Kepekaan di wajahmu tak lagi kutemukan, karena dipikirmu hanyalah pencitraan, bagimu kemenangan adalah menjatuhkan lawan, nasib bangsa kini tak lagi dihiraukan, karena janjimu telah berselingkuh, berubah menjadi lawan.

Kehancurah tak lagi diindahkan, Dekadensi moral semakin meningkat, Mental perjuangan menjelma mental uang, permata, kekuasaan, kepentingan pribadi, lagi-lagi rakyatlah yang dikorbankan.

tuan-tuan, aku tidak sedang membual, kini yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin melarat, janji-janji tinggal kenangan, pesta demokrasi jalan untuk kekuasaan, bagi para pembual yang ingin berkuasa.

Para penguasa tidur dengan perut kenyang, rakyat jelata tidur dengan perut keroncongan, para penguasa berpesta di restoran, rakyat jelata berjalan menangis di pinggir jalan.

Tuan-tuan !!!

Jika boleh, ijinkan aku berkata, berkata sesuatu yang nyata, bahwa ini demokrasi yang pincang.
Tweet Share Share Share Share Share

Dia Gadis Bercadar Bak Bidadari

Wajah indah dibalik selubung kain hitam, begitu indah meski tak nampak dipelupuk mata, bersinar bak pelangi diujung seja, meski berbalut kain hitam indahnya tetap menembus pesona zaman.

Meski senyum tak dapat kupandang, namun tatapnya selalu menjadi jawaban, menenangkan setiap pasang mata, bagi mereka yang menatapnya.

Dia, gadis bercadar bak bidadari, tinggi semampai berjalan melambai-lambai bak putri di atas pelangi, ibarat pagi dipinggir telaga dihibur merdu suara burung kalah akan indahmu.

wahai bidadari dibalik cadar, siapakah gerangan akan dirimu ?, hidungmu memang tak dapat kupandang namun harummu selalu menjadi alasan, alasan bahwa telah lahir seorang bidadari dibalik cadar.

Aku paham, Aku bukan jaka tarub, yang mencoba mencuri cadar dari wajahmu agar bisa memandang indahmu, aku hanya seorang gembala yang punya rasa tentang cinta dan air mata.

Kelak malam akan menyapa dan aku akan berdoa kepada rembulan, kepada bintang, agar mereka bersekongkol mencuri wajah indahmu, membawanya kepangkuanku, biar aku bisa melihat lengkungan pelangi di alismu itu.

Dikala pagi telah bertandang, kutatap langkahmu telah jauh, namun indah tubuhmu berbalut busana muslim tetap bersinar di ujung jalan, aroma harummu sedikitpun tak berkurang, mungkin ini karena akhlak dan lisanmu yang masih terjaga.

Sesekali tataplah aku, aku yang terpuruk karena indahmu, aku yang lemah karena pesonamu, beri isyarat untuk aku, untuk memiliki senyummu, dan merasakan aroma akhlak dan lisanmu yang masih terjaga.

Kini kuhanya bergumam dalam heningnya malam, mungkinkah dia gadis bercadar bak bidadari dapat kujadikan halal untuk kupandangi di setiap malam.
Tweet Share Share Share Share Share

Aku Ingin Jadi Penyamun
(BSJ)

Malam tak pernah putus asa menentang kekeringan pembakaran mentari. Wajah semrawut meronta, merengek memanja.

Hening suasana menikam sukma, hilang sadar bungkam di jalanan. Seirama senyap membunuh kalbu.

Aku ingin jadi pecandu, penikmat kopi dan pemberontak paling mengerikan. Aku ingin menggenggam suara sumbang di ujung senapan.

Melepas gumam pada harapan anak negeri yang semula kehilangan harap, terbelenggu mimpi yang sia sia.

Oh, Tuhan!!! Aku ingin bebas, seumpama kopi yang entah pada siapapun boleh melumatnya dengan perasaan.

Sesekali menatap rembulan, mencibir dan bintang ikut menertawakan. Dan kau, sialan. Masih saja mempedayaku dengan keseksian tubuhmu.

Aku ingin merdeka, semacam anak panah memilih menancap dan menembus tepat sasaran. Merdeka, gumamku seusai perang melawan amarah.

Jika pembenaran telah jadi kebenaran mutlak bagi hamba hamba Ilahi yang mengklaim dirinya beriman. Maka, kopi pun tak lagi akan nikmat terasa.
Tweet Share Share Share Share Share

Sayang, Aku Ingin Kita Putus Saja

Rupanya senja tak lagi menampakkan senyum.
Bukan karena malam yang melahap pesonanya.
Merubahnya menjadi gelap dalam hening.
Tapi karena awan mendung telah mencumbuinya dan gerimis sedari pagi.

Pelangi yang dulunya indah bak bidadari.
Kini semuanya tak ada lagi.
Karena mendung telah menggerogoti.
Tentang sayang yang sudah mati.

Kemarin kita tertawa dalam suasana bahagia.
Hari ini kita terpisah dan tak lagi ada tawa.
Cinta dan sayang berubah putus asa.
Meninggalkan sejuta cerita dan luka.

Hari ini yang tinggal hanyalah mimpi.
Berteman dengan sunyi.
Karena pelangi tak lagi seindah bidadari.

Ini bukan karena pesonamu yang memudar.
Tentang indahmu yang tak lagi bersinar.
Atau tentang gincumu yang pasi dan memudar.
Tapi... ini tetang bahagia yang tak lagi kutemukan karena perhatian telah memudar.

Kau harus tau tetang rasaku.
Rasa yang selalu menunggu perhatianmu.
Rasa sayang yang dulu kau berikan padaku.
Tentang cinta yang tumbuh setiap waktu.

Ingatkah kau waktu itu ?
Saat pertama kali kau katakan I Love You.
Kau berjanji untuk aku.
Melelehkan hatiku yang dulu membatu.

Lihatlah di balik awan itu.
Segumpal air mata yang pilu.
Akan mimpiku yang dulu.
Menjadi beku ditelan waktu.

Sayang... hatiku sudah lelah.

Tertatih tanpa kata.
Berjalan di ruang-ruang hampa.
Bersia-sia tanpa bahagia.

Menunggu hanya akan meninggalkan luka.
Tentang rindu dan kata yang tak lagi ada.
Karena cinta hanya akan menderita.

Harapan akan cinta.
Lenyap menyelinap diantara gumparan derita.
Perlahan kan menghilang dibalik dusta.
Merubah sayang menjadi luka.

Sayang....
Ijinkan malam ini aku katakan.
Tentang rasa yang aku rasakan.
Cinta tak dan sayang tak lagi kudapatkan.

Sayang....
Aku ingin kita putus saja.
Tweet Share Share Share Share Share

Rupanya Dewasa Tidak Menyenangkan

Berjalan tanpa arah bak dedaunan terhempas angin, mengikuti arah kemana nasib kan membawaku, sesekali duka dan derita datang menggoda, mengundang tangis melarungkan air mata.

Inilah aku bocah dewasa yang haus kasih sayang, diantara pelukan tangis dan tawa, tentang pelukan yang dulu pernah ada.

Dulu aku masih tak mengerti, tentang pahala dan dosa dunia, hanyut dalam lautan kebahagiaan, dalam pelukan dan tawa.

Dulu aku masih tak mengerti apa itu cinta, apa itu sayang, karena yang ku tau adalah kau selalu ada dalam setiap situasi, dalam pelukan, dalam tawa maupun sedihku.

Dulu aku tak mengerti tentang luka, tentang air mata yang membasahi tubuh, karena pelukan selalu hadir mengusir sepi, membasuh luka, menghapus air mata.

Aku bosan menjadi dewasa.

Di sini aku merasakan luka, merasakan sedih, merasakan getirnya hidup, hidup yang penuh permainan, hidup yang penuh ambisi, hidup yang penuh dengan kebongan.

Dewasa telah membuatku sepi, hidup dalam kesendirian, mengundang pilu dan air mata, berdiri dalam kegelapan berharap tak pernah dewasa.

Ibu !!!

Aku rindu masaku dulu, masa bahagiaku, tawaku, senyumku yang dulu, pelukanku yang dulu, hingga sedihku yang dulu, tentang pelukmu yang menyapu air mataku.

Mungkinkan esok aku masih bisa memegang tanganmu, merasakan pelukmu tuk menghalau sedihku, menatap senyummu.

Dewasa melelahkanku ibu !!!

Jalan yang kutapaki penuh duri, menyesatkanku ke dalam hutan yang penuh misteri, membuat luka yang begitu dalam, akan hidup yang tak dapat kupahami.

Mungkinkah duniaku yang dulu dapat ku ulangi ?, mengulang kisah bahagiaku, tetang seseorang yang selalu menopang bebanku,

Rupanya dewasa melelahkanku.

Ibu !!! dapatkah aku kembali menjadi bocah kecilmu, sebab dewasa tidaklah menyenangkan seperti pikirku dulu.
Tweet Share Share Share Share Share

Picture Illustration
Mahasiswa Pecinta Literasi Bukan Penggiat Demonstrasi

Bertahun-tahun yang lalu
Aku masih belum lupa
Ketika mereka berlomba berebut mati
Berdiri paling depan melawan penindasan
Yah itulah mereka para pahlawan.

Hari ini pun seperti itu
Kau berlomba berdiri di garis paling depan
Bukan untuk berebut mati
Melainkan untuk mengejar eksistensi.

Ingatkah kau tempo itu,
Seorang bocah ingusan bergulat dengan waktu
Berlari di ruas trotoar menuju kampus
Agar tepat waktu acara ospek hari pertama.

Bermodal pengeras suara
Berambut gondrong
Dengan tampang segaja disangarkan
Kau berdiri tegak di atas podium
Mengoceh layaknya orang paling pandai

Berjam-jam kucoba menelaah kegelisahanmu
Dalam diam aku berkata
"Benar saja ini kaderisasi demonstran"

Hey, bung.
Yah... kau yang bergelar maha
Apakah kau datang hanya untuk menjadi demonstran
Apakah jiwamu hanya untuk demonstran
Ataukah jiwamu hanya untuk mengajak kami menjadi demonstran

Pantas saja nilaimu tak pernah baik,
Karena pikirmu hanya untuk demonstran,
Ini bukan soal nilai
Ini tentang harapan bangsa yang di pundakmu

Ini bukan jamannya berjubel di tengah jalan,
Membakar apa yang dapat kau bakar,
Melempar apa yang di depanmu,
Dan menghancurkan semua fasilitas negaramu.

Katanya kau berjuang untuk rakyat,
Berdiri, berjubel, bergerombol di tegah jalan,
Namun sadarkah betapa banyak kau merugikan
Tidak hanya untu orang tuamu tapi pada negaramu.

Dulu saja,
Kau mengagumi tokoh lembut dalam tegasnya
Lalu kenapa kini kau membenci,
Mencaci dalam segala julukan,
Layaknya kau sesok pahlawan tanpa tanding.

Apakah mungkin
Demo kini telah kau jadikan hobi
Atau hanya sekedar life style diera reformasi
Ataukah hanya sekedar efek dari kaderisasi demonstrasi.

Sudah lah.
Aku muak dengan ini,
Dengan pemuda berwatak bengis,

Rakyat hanya akan muak dengan ini
Pemuda pecinta anarkis
Yang hanya paham demonstrasi
Dalam era reformasi.

Hey saudaraku yang bergelar maha,
Saatnya tuk memutar haluan,
Bukan tuk jadi demonstrasi
Terlebih jika jadi anarkis.

Mengubah dunia bukan lagi dengan demonstrasi
Melainkan dengan literasi dan teknologi
Bukan lagi dengan anarkis
Karena anarkis tidak mencerminkan jiwa kritis
Pahami bahwa masih banyak cara mengkritik yang lebih anggun.
Karena mahasiswa pecinta literasi bukan penggiat demonstrasi
Tweet Share Share Share Share Share

Teman melamun
Wanita Manis Penyeduh Kopi

Senikmat aroma seduhan kopi, tentang hitam yang menyapu sepi, karena rasa tak pernah mati, walau kau mencoba tuk pergi.

Ini hanya tentang kopi, tentang rembulan yang tak pernah bersedih, walau seduhan sudah tak lagi di hati, namun aroma dan rasa akan tetap abadi.

Hey kau.
Yah, kau wanita manis penyeduh kopi, apakah kau paham perihal kopi ?, tentang ampas yang selalu mengambang di bibir cangkir, itu lebih nyata daripada cinta.

Cinta hanya perihal rasa yang tak pernah abadi, ketika rembulan bertolak keperistrahatannya, cinta yang terkandung dalam ampas kopi kian lama akan tenggelam, kopi yang dingin akan ditinggal pergi, cintapun akan kandas dalam secangkir kopi yang hanya berteman sepi.

Kau harus paham, ini bukan perihal cinta secangkir kopi yang ditinggal pergi, ini perihal rasa yang yang tak pernah mati, walau udara mencoba mendinginkan seduhan ini, namun rasa tetap sama dan akan abadi.

Ingatkah kau waktu itu.
Yah... saat mereka berusaha meramu kopi, aku lebih memilih menggodamu yang myeduh dengan hati, bukan karena senyum yang kau aduk bersama kopi, ini perihal sayang yang melekat pada aroma kopi.

Aku ingin mengajakmu menikmati kopi, tanpa peduli mereka yang meramu kopi, aku hanya ingin menyelami rasa yang kau aduk bersama secangkir kopi, rasa nikmat yang bercampur sayang.

Aku ingin menikmati segelas kopi berdua denganmu, meski tanpa puisi yang merayumu.

Aku ingin menikmati kopi berdua denganmu, di bawa sinar rembulan kita bepadu, bagai kopi dan sesendok gula berpadu menciptakan rasa dan aroma yang abadi.

Hey kau.
Yah... kau wanita manis penyeduh kopi, aku hanya ingin menikmati kopi seduhanmu saja, mengecap sayang yang kau titip pada bibir cangkir, karena aku sadar telah mengagumimu lewat seduhan kopi.

Tweet Share Share Share Share Share

Founder Lorong Kata
Mengagumimu Lewat Cahaya Bulan
(Andika Putra)

Untukmu yang sering ku sapa Nur,
Adalah nama yang membuat perahu rinduku menggelora, bagai ombak ditengah lautan, bergemuruh, berlomba keujung pantai tempatmu berdiam.

Nur.
Perempuan yang menghidupkan cinta, dari ruang yang dulu hampa, tentang sayang yang tak pernah ada.

Nur.
Namamu kini seakan abadi, diantara hembusan napas yang ku hela, menghidupkan harap akan hidup hanya denganmu.

Hari ini, izinkan aku menikmati senyummu, menatap bola matamu, membelai rambutmu, lalu kubawa kau berayun di pinggir telaga biru, tuk menyapu segala rindu.

Nur.
Pemilik senyum manis bak purnama sempurna, berwajah ayu, bermata indah bak permata di ujung senja, hidung anggun melengkung bak pelangi dibalik bukit.

Kau cahaya purnama yang berlayar dalam gelap, telah kutitip sejuta bait cinta dan rindu pada awan, sebagai istana yang dapat kau singgahi, agar kau paham sebuah cinta yang hakiki, dari rindu dan ketulusanku ini.

Nur.
Izinkan aku mabuk malam ini, Mabuk dengan arak cintamu, cinta yang memenjarakan hatiku, cinta yang membangkitkan rinduku.

Nur.
Telah kutulis sejuta puisi tentangmu, tentang cantikmu, tentang senyummu yang manis, tentang tatapmu yang anggun, tuk menghalau rindu yang membunuh malam-malamku, namum tak satupun puisi yang mampu menghalau sepi tanpamu.

Hari ini, rindu kulampiaskan pada rembulan, tentang cahaya yang berlayar di balik awan, karena di balik bintang terdapat senyum yang memantulkan cahaya bulan.

Nur.
Hari ini hujan turun, mengguyur rindu yang semakin membara, menghantar sepi ke ujung penantian, karena di teras ini aku masih setia menunggu jawabmu, jawab untuk hidup berdua denganku.

Nur !!! Aku hanya ingin kau paham perihal rindu yang mengangguku, rindu yang tak pernah padam.

Nur.
Kau harus tau, perihal ketulusan hatiku, ketulusan cintaku, bahwa aku mengagumimu lewat cahaya bulan.
Tweet Share Share Share Share Share

Andika Putra
Pencuri Berdasi Negeriku

Untukmu yang kuhormati,
Taukah kau tujuan dari sholatmu ?
Untuk menghancurkan sifat angkuhmu.

Taukah kau tujuan dari puasamu ?
Untuk mengusir nafsu jahat dalam pikirmu,
Agar tak pernah terlintas tuk jadi iblis dibalik bangku.

Taukah kau tujuan dari zakatmu ?
Untuk menghalau sifat serakahmu
Agar kau tau cara berbagi dengan sesamamu.

Taukah kau tujuan dari hajimu,
Untuk menumbuhkan sifat solidaritasmu
Agar kau tau wujud dari pengorbanan sesunguhnya pada sesamamu.

Namun sayang.
Mungkin kau paham akan perkara itu.

Sholat kau wujudkan,
Namun untuk menumbuhkan sifat angkuhmu,
Puasa kau wujudkan,
Namun untuk untuk memupuk nafsu jahatmu,
Zakat kau wujudkan,
Namun untuk menintkatkan serakahmu,
Haji kau wujudkan,
Agar kau tau cara tepat menghancurkan sesamamu.

Dulu kau janjikan keadilan,
Sekarang kau tabur kehancuran,
Dulu kau menebar senyuman,
Sekarang kau menebar kesedihan.

Wahai tuan !!!
Dimana letak keadilan,
Bagi kami yang diambang kehancuran.

Uang telah merusak pola pikirmu,
Uang telah menghancurkan moralmu,
Uang telah meracuni hatimu,
Karena korupsi sudah mengalir di darahmu.

Kasihani negeriku,
Jangan kau siksa rakyatmu,
Karena mereka butuh pedulimu.

Untukmu yang kuhormati,
Para pencuri yang berdasi,
Mereka senang makan nasi,
Sementara rakyat hanya makan hati.

Lihatlah di atas sana,
Langit sudah semakin menua,
Mentaripun telah melukis jingga,
Namun kesejahteraan belum juga merata.

Pencuri berdasi duduk di kursi,
Korupsi kian menjadi-jadi,
Menghancurkan negeri sendiri,
Membuat rakyat semakin miskin.

Ingatlah wahai para pencuri,
Esok engkau akan bersaksi,
Dibangku pngadilan Tuhan,
Akan dosa yang telah kau lakukan
Tweet Share Share Share Share Share

From MERDEKA
Jomblo Juga Punya Hati
(Andika putra)

Aku ingat di malam minggu kemarin,
Saat cahaya rembulan dan kilau bintang tak lagi muncul,
Rupanya langit sedang mendung nyaris hujan.

Aku duduk dibahu jalan berteman sepi,
Menunggu dirimu yang ingin menjadi kekasih,
Namun sepi tetap tak mau pergi,
Karena yang lewat adalah mereka yang punya kekasih.

Petir mulai menggelegar,
Tetes pertama mulai membasahi pipi,
Rupanya hujan mulai menyapa,
Membasahi seluruh tubuh tanpa sadar,
Sebab hujan hendak menyembunyikan sedih.

Saat itu petir mulai nakal,
Berdansa bertebaran diangkasa,
Seolah mencari perhatian untuk disaksikan,
Namun sayang,
Malam itu semua mata tertuju pada kekasih,
Yang sibuk saling menghangatkan,
Namun diriku masih tetap sendiri,
Diterpa hujan, kedinginan,
Menunggu kekasih datang menghangatkan.

Oh Tuhan !!!
Aku tau perkara itu,
Nenek moyangku dulu juga menjomblo,
Namun dalam lelap Kau mengambil rusuknya,
Lalu kau ubah menjadi hawa.

Tuhan !!!
Aku lupa sudah berapa banyak malam telah kulalui,
Namun mengapa tak jua Kau mengambil rusukku,
Lalu kau ubah menjadi kekasihku,
Yang akan menghilangkan sedih dan sepiku.

Apakah mungkin Kau telah mengambil rusukku,
Lalu kau sembunyikan ditempat yang jauh,
Agar aku tetap menjomblo ?.

Bukankah Kau telah berkata manusia dicipta berpasangan,
Agar mereka tak menjomblo, tumbuh dan berkembang ?.

Tuhan !!!
Bukan aku bosan menjomblo,
Hanya saja aku takut,
Takut pasanganku dinoda orang,
Takut pasanganku dirangkul orang,
Takut pasanganku dicubit orang,
Sebelum aku temukan dirinya dalam persembunyian.

Tuhan !!!
Jauhkan rasa iri di malam minggu,
Agar sedih tak lagi mengundang air mata,
Mereka harus tau, bahwa jomblo juga punya hati.
Tweet Share Share Share Share Share

Andika Putra, www.lorongka.com
Ironi Demokrasi Antah Berantah

Lihatlah.
Dulu segumpal harapan bangsa,
Kini tinggal hanya secuil,
Sebab janji manis yang kau lafalkan telah kau lumat.

Nasib rakyat terombang ambing,
Bandit-bandit telah besekongkol,
Menipu dan mencuri hal yang biasa.

Lihatlah! Yah di ujung sana,
Mereka bernafsu meraih kursi,
Agar berkuasa diera reformasi,
Dengan modal janji lalu pergi.

Kemana aturan itu ?
Mengapa rakyat jadi korbanya,
Mengapa rakyat yang menderita,
Sementara penguasa hidup bahagia.

Lihatlah! Yah disebelah sana,
Para penjahat politik,
Mereka tertawa dengan uang rakyat,
Lalu lupa akan nasib rakyat.

Ini gawat tuan !
Negara kita sedang dijarah,
Masa depan negara kini jadi taruhan,
Oleh penguasa yang berlagak bersih,
Akan dosa dan janji yang hanya ilusi.

Ah !!! jujur aku muak dengan ini.
Penguasa berbahagia,
Sementara rakyat menjerit menderita.

Ini bukan negeri antah-berantah Tuan,
Negeri yang penuh dengan ilusi,
Tuan !!! Ini negeri sunguhan,
Negeri yang butuh orng bersih,
Negeri yang butuh pejuang rakyat.

Namun lihatlah !!! Yah tatap, dan perhatikan.
Penjahat yang mengenakan setelan jas mewah,
Mereka saling menggurui lalu kemudian saling menuding,
Memprovokasi pemuda polos di kampus-kampus.
Lalu turun kejalanan melempar batu.

Inikah wajah demokrasi kita ?
Ah !!! Ini bukan demokrasi,
Ini provokasi yang berbuntut demonstrasi,
Pantas saja setiap demo berakhir anarki,
Karena mereka hanya dprovokasi.

Aku muak dengan ini,
Buat saya paham akan demokrasi,
Kenapa banyak penguasa yang korupsi,
Lalu rakyat tak lagi dipeduli,

Hey Tuan.
Kami tak butuh uang yang melimpah,
Kami hanya butuh keadilan,
Wujudkan demokrasi tidak hanya teori,
Sebelum demokrasi dilumat habis oleh hantu negeri ini.

Tweet Share Share Share Share Share

www.lorongka.com --- lagi dan lagi, kali ini adalah puisi indah nan romantis untuk mereka yang sedang jatuh cinta atau mereka yang sedang berbunga-bunga hatinya.

Puisi ini bercerita tentang alasan seseorang menjadi pelangi diantara sedihnya pasangannya agar dia bisa menjadi penyebab bahagianya lagi, penyebab tawanya, dan alasan pengusir sedih dalam hati pasangannya.

Pelangi Diantara Hujan

Taukah kau mengapa pelangi datang setelah hujan,
Karena selalu ada keindahan diantara sedih,
Selalu ada tawa diantara air mata.

Aku hanya ingin menjadi pelangi bagimu,
Diantara sedih yang kau rasakan,
Dan diantara air mata yang kau teteskan.

Menjadi alasan sedihmu hilang,
Menjadi alasan airmatamu reda,
Dan menjadi alasan bahagiamu datang.

Ingin kuukir senyum di wajahmu,
Seperti pelangi diantara mega,
Hingga sedih tak lagi menghampiri.

Itulah mengapa aku memilih menjadi pelangi,
Disaat sedih menghampiri
Sebab hanya pelangi yang mampu meredakan hujan
Diantara bola mata indahmu.
Tweet Share Share Share Share Share

Daun Kering, www.lorongka.com
 Sembilu Daun Kering

Ketika waktu asyik tuk berputar, musimpun senang tuk berganti, hembusan angin sejuk menerpa pepohonan, membuat bencana di setiap sudut jalan.

Aku hanya daun kering yang diterpa angin, menyusuri jalan menuju tuhan, namun sayang harap tak terwujudkan, kini kuhanya menerima takdir, karena nasib tak jua kau peduli.

Aku daun kering yang berjumlah tak sedikit, tumpah ruah dikolom statistik, yang kalian data siapa yang layak dapat raskin rasa aking, pelayanan kesehatan gratis penuh dengan ilusi, namun ku masih tetap daun kering yang berceceran dijalanan.

Ingatkah kau waktu itu.

Sebuah rayuan maut yang kau lontarkan, memanjakan harapku sekejap, lalu kau hadiahi kami dengan luka, luka yang kau sendiripun tak mampu kau pikul.

Nasibku kini sangat menyedihkan, terkapar, tersungkur di hamparan tanah gersang bebatuan, menatap wajahmu di atas tahta, berdiri dengan bangga dipucuk kekuasaan.

Lihatlah.

Yah di sebelah sana, langit mulai senja semburat tapi nasibku tetap sama, aku daun kering bermimpi meraih kemakmuran, bandit-bandit, pembunuh, maling, penipu memasang wajah polos setelan jas hitam mengkilap, mereka bersekongkol tuk meraih tahta untuk membakar kami daun kering.

Oh tuhan.

Salahkah aku daun kering yang penuh harap, harapan tuk menuju tuhan, harapan tuk negeriku yang lebih baik, harapan agar penjahat dan penipu tak lagi mendekat.

Rasa-rasanya kuingin menyatap para bandit, melumat mereka satu persatu, membakar semua lafal yang telah kalian ucap, hingga aku tertawa, menatap wajah kalian berenang di lautan semangkuk santan gula.

Hahaha nikmat santapanku malam ini.

Semangkuk sup bandit, sepiring maling, secawan penipu, hingga makanan penutup berlabel penjahat kelas kakap.

Malam ini izinkan aku mengatakan, tidurlah para bandit, lelaplah para maling, bermimpilah kalian para penipu esok kami daun kering menjelma jeruji besi siap menyantap sisa hidupmu.
Tweet Share Share Share Share Share

Demokrasi Yang Galau
BSJ

Ini luka Sialan, dari demokrasi yang kau telan bulat-bulat. Dan hukum pun kau sedomi lewat angka.

Mata rantai sosial yang semula kau agungkan telah cerai berai, bak air mata duka yang menganga.

Negeri para penyamun. Menebar dusta beriklan janji dan berakhir dalam jeruji, nikmatilah!!!

Pendidikan kau dzolimi, anak miskin kau telantarkan. Lalu memaksaku percaya, aku muak denganmu sayang.

"Maafkan aku yang dulu" katamu, demi berulah lagi. Segalanya kau halalkan kasihku.

Aku mencintaimu lebih dari kalimat. Sementara membencimu adalah perihal setumpuk langit.

Senja beranjak, dan tiba-tiba menuruni bukit lalu menghilang. Dan kau masih saja menebar dusta.

Waktu terus berlalu, aku duduk diam di tepi rindu, dan membiarkan mata melototi bibirmu yang ranum.

Di negeri ini keadilan sudah mati Tuan Putri. Mari kita kabur saja ke luar angkasa.

Menapaki langit, dan menemui kesejahteraan yang abadi. Hingga bercumbu pada kekekalan. BSJ

Tweet Share Share Share Share Share

LORONG KATA, www.lorongka.com
Jarak Yang Jauh, Rindu Tak Lagi Waras

Aku tau aku tak mampu menjagamu disetiap waktu, sebab jarak tak mampu aku sapu, namun percayalah cintaku melebihi harapmu.

Cintaku adalah sepasang doa yang kukirim dalam sujudku, karena pertemuan dan pelukan tak mampu menyapu rindu.

Percayalah.

Esok aku pasti akan menjemputmu, diremang cahaya bulan, kau akan kupeluk lebih erat, agar mentari tak lagi menjarahkan rindu, dingin tak lagi mengundang sepi, agar bibirmu tetap memerah dan tak lagi kesi.

Esok pasti aku akan datang, kukatakan padamu cintaku tak pernah redam, rindu masih setia memilih namamu, bagai rembulan yang setia menunggu malam.

Ahh jarak ini.

Memaksa pikirku menjadi tak waras, napas rindu tak lagi beraturan, langkahku tak lagi sekuat kemarin, tatapku kini hanya tertuju pada bayangmu.

Wahai angin malam.

Katakan padaku, mampukah aku menepikan rindu, rindu yang membuatku tak waras, rindu yang melumpuhkan akalku, rindu yang menggali luka, luka yang tak mampu kurawat lagi.
Tweet Share Share Share Share Share

Lorong Kata, LorongKa.com
Cinta Pada Peramu Rindu

Rasanya ada getaran yang berbeda di dadaku, Sejak pertama kali bola mataku mencumbui bola matamu, ada rindu yang muncul dari sisi terdalam hatiku, apakah ini tanda kujatuh cinta padamu ?.

Kau harus tau, sejak saat itu kuingin mengenalmu lebih jauh, memahamimu jengkal demi jengkal, karena rasanya kuingin kekalkan waktu denganmu tuk menumpas sepi.

Di dadaku kini terdapat nama yang membakar rindu, rindu yang menggebu begitu hebat, rindu yang mematikan akalku, dan rasanya di hatimu aku ingin tinggal.

Aku ingin kau paham akan rasa ini, tolong selami hatiku lebih dalam, kelak kau akan menemukan dirimu disisi terdalam hatiku, agar kau paham ada rindu yang menyiksa, rindu yang tak juga menepi.

Rasanya malam ini aku ingin menemanimu di remang cahaya bulan, mengurai rambut panjangmu dengan jari-jariku, menepikan sepi yang menyiksaku bertahun-tahun sebelum itu.

Ingin rasanya kubersamamu, memperpanjang senja agar tetap bisa berdua denganmu, kekalkan waktu tuk menikmati luruh rindu yang melanda.

Waktu telah berlalu namun diriku masih tak mengerti, kenapa rindu memilih namamu, yang aku tau bahwa rindu yang menggebu begitu hebat karena ada sihir cinta yang telah mendarat di hati.
Tweet Share Share Share Share Share

Ini Rindu Tuan Putri, Bukan Kopi
(BSJ)

Apa yang salah pada kemarau, layaknya rundu yang menjerit, merongrong belenggu malam.

Sesekali menikam dada, merasuk jantung hingga mendekap jadi kata, doa dan dosa.

Siapa aku ini, kekasihmu? Tak mungkin. Atau sahabatmu? Bisa jadi. Sebab teman baik, luka atau duka hanya soal rasa.

Semntara kau bukan hanya rasa, melainkan jiwa yang menggait jadi ganas mencipta rindu.

Aku ingin bersemayam di pelukmu, menjadi satu dibelaian dada, hati dan ragamu.

Aku mengimpikan kasih sayang dalam mendiami insan, juga menciummu lebih lama.

Dekaplah aku. Dan benar, akan kucium keningmu. Biar di telaga bening matamu kulepas dahaga yang semula terjebak kekeringan.

Ini rindu Tuan Putri, bukan kopi. Soal sajak dan jarak bukan alasan melepas kata.

"Ya, Kan kusongsong malam, demi maraih senyummu. Lalu mecubit pipimu yang imut" pikirku.

Aku lancang malam ini. Pengaruh cuaca melumat habis sadarku, hingga hilang pedih nan perih yang semula kurawat di tepi sunyi.

Terakhir, bunuh aku, silahkan. Sialan aku ini, terlalu nekat mengupas rindu.

Sangat kasar aku padamu, yang terkasihku sang pujaan mulia. Maaf, izinkan pangkuanmu jadi pembaringan pertamaku.
Tweet Share Share Share Share Share

Riani
Luka Tak Seindah Senja Pun Tak Semanis Pelangi
(Riani)

Ternyata rindu berada di sini
Di ruang di mana aku masih merindukanmu
Meski sejenak, biarkan aku bersandar di bahu malam

Ada yang ingin ku sampaikan
Kau masih menjadi orang yang paling ku sayang
Meski kau telah menghilang

Ahhh terlalu sibuk jemariku menulis tentangmu
Memeluk harap
Dan membayangkan semburat senyuman yang selalu ku kagumi

Dulu..
Kau bercerita padaku
Tentang indahnya senja di ufuk barat
Dan pelangi yang melengkung indah menghiasi langit

Aku berharap menjadi orang pertama yang berada di sisimu
Ketika kau melihat itu semua
Kau seakan mengajakku menikmati apa yang kau nikmati

Aku kagum padamu
Pada kebijaksanaanmu
Pada kepandaianmu
Pada keberanianmu
Dan bahkan pada caramu melukaiku

Ahhh luka..
Aku masih di sini
Berjalan tertatih bersama dengan luka yang kau toreh di dinding hati
Dan berjalan sendiri dalam keterasingan
Ahhh biarlah ku semai luka
Menjadi luka abadi
Tweet Share Share Share Share Share

Nur Wahyuni A
 Cuaca Yang Lancang Mengusik
(Al-Mu'minun)

Senja di pelupuk bumi telah menghantarkan cerita, lantaran bintang tak lagi berpihak padaku...

Aku bukan apa apa. Sementara kau adalah kesempurnaan dari keagungan Tuhan...

Uni...
Abjad dalam huruf ketiga, aku tersentak dengan tanda baca. Kau mimpiku yang malang...

Nama singkat telah melekat, merekat dan mendekap jauh dalam rasa melampaui akal sehat...

Uni...
Kau selalu kusebut, lantarana bening mataku meleleh, mulutku bahkan kehabisan liur memujimu...

Fajar tiba tiba menyembul, mengusik imajinasi. Pagi pun berlalu, waktu terlalu cepat berubah. Dan masih saja kau abadi di hati...

Hina insan ini, dan lancang mengusikmu. Perihal rasa, siapa mampu menahannya?

Seumpama kopi menaung menggantung, memohon seduhan  kasih sayang agar gula tak menyingkir sia sia...

Aku rindu, bukan pada siapa. Secuwil senyummu pun kugenggam erat. Sampai akhirnya jadi penyamun tiba tiba nyinyir...

Uni...
Aku merindukanmu di setiap kata, walau aku buka apa dan siapa, hanya pengembara sajak tak beraturan...

Tweet Share Share Share Share Share

ST. Aisyah Mutmainnah
SYAH, INGATANKU PADA NABI
BSJ

Syah, aku selalu terbagun di tengah malam buta. Dan selalu meraih huruf...

Berharap jemari menyentuh layar dengan kalimat nyenyak di tidurmu, dibuai hening dihibur mimpi...

Syah...
Betul, kini namamu sangat kuhafal. Yang semula kulekatkan erat di benak sebagai penjanggal logika...

Malam semakin membisik untuk bungkam, sementara kata-kata masih bergejolak ingin diletak dengan rapi...

Bintang bernyanyi memberi tanda, rembulan tersipu, kau agak malu. Dan masih terdiam berpejam mata dalam tidur...

Syah...
Aku kira kau sudah terbangun, disapa sajak tak beraturan ini, tanda baca yang semula kubisikkan telah sampai...

Bangunlah, kelopak bunga sudah terbuka, walau kau masih candu pada bantal empuk ditindih rambutmu yang ikal...

Syah...
Bangunlah, dan aku telah tiada. Aku pergi menjauh, membuang diri pada sia sia, dalam ramuan lamunan konyol malam lalu...

Syah...
Aku pergi, mencari sepotong sajak kisah nabi. Dan Aisyah bersamaku, bersemayam di labirin hati yang jauh dari luka.
Tweet Share Share Share Share Share

Andika Putra
LorongKa.COM --- Puisi ini mungkin akan mewakili perasaan kalian yang saat ini lagi galau karena mengabaikan orang yang telah berjuang memberi cinta dalam hidupmu.

Jika mendapatkan orang yang mencintaimu maka balaslah cintanya karena akan terasa lebih indah jika di cintai daripada anda harus mengharap cinta yang tak pasti.

Dirimu Yang Telah Pergi

Ini tentang pemilik nama yang dulu hinggap di mimpiku,
Diantara kegelisahan yang mengguncang jiwaku,
Dia hadir membawa sejuta warna untuk jiwaku yang beku.

Kehadirannya membawa sejumlah bait-bait indah untuk hariku,
Memberi cerita-cerita baru untuk mengindahkan waktuku,
Yang ku lalui berdua denganmu.

Walau kadang kehadirannya masih kuabaikan,
Kebaikannya yang dia lakukan kadang terabaikan,
Kadang pula cintanya sengaja ku lalaikan.

Usahanya yang mecoba memberi arti,
Namun egoku menganggapnya tiada arti,
Akan kebaikan yang dia beri.

Kini penyesalan tak dapat ku atasi,
Rindu pun tak lagi dapat ku batasi,
Namun itu semua tidak lagi berarti,
Karena dirinya kini telah pergi.
Tweet Share Share Share Share Share

Andika putra
LorongKa.com --- Satu lagi puisi romantika cinta yang telah admin publish, puisi ini bercerita tentang kisah cinta yang amat cinta kepada kekasihnya hingga dia tak ingin jauh dari kekasihnya.

Dia ingin menjadi alasan untuk bahagianya pasangannya hingga tidak ada sedikutpun rasa sedih ataupun galau yang mencoba untuk menghampiri kekasihnya sampai pada waktunya yang timbul hanyalah bahagia.

Aku Alasan Bahagiamu

Aku ingin selalu menyayangimu,
Memeluk dalam sedihmu,
Mengukir tawa dikala sepimu.

Aku ingin selalu memahamimu,
Memberi cinta dalam tawamu,
Mengukir bahagia dalam harimu.

Aku ingin selalu mencintaimu,
Dalam bahagia pun sedihmu,
Hingga diujung usia senjamu.

Aku ingin selalu ada di dekatmu,
Membuat hal-hal baru dalam hidupmu,
Hingga hilang sudah jenuh di hatimu.

Aku ingin menjadi alasan sedihmu hilang,
Aku ingin menjadi alasan bahagiamu datang,
Dan kau akan menjadi alasan untukku berjuang.
Tweet Share Share Share Share Share

Andika putra
LorongKa.com --- Ini adalah puisi yang bercerita tentang kegalauan seseorang yang pernah merasakan cinta lalu kini dia yang terluka karena cinta yang pernah dirasakannya.

Cinta yang selama ini mengajarinya akan bahagia dan bermimpi namun cinta pulalah yang membuat mimpinya hancur dan membuatnya terpuruk dalam sakit yang begitu sakit.

Cinta Menikam Dada

Kadang kubertanya kepada kepalaku sendiri,
Mengapa bayangnya tak jua menepi,
Mengapa Ia betah menetap disini.

Tau kah kau bahwa dia yang telah menorehkan luka,
Luka yang penuh dengan bara,
Luka yang menghilangkan tawa.

Ia yang telah melukis senja pada senyum,
Lalu pergi dengan menghadiahi malam,
Malam yang bertabur sepi dalam kelam.

Ia yang telah mengajariku jatuh cinta,
Ia yang telah mengajariku tetang bahagia,
Ialu pergi meninggalkan luka.

Kini ku tatap ujung langit sana,
Terlihat tak lagi sama,
Yang ada hanya bintang bertabur air mata.

Kini bukan lagi bahagia,
Karena cinta telah berubah duka,
Lalu cinta pula yang telah menikam dada.
Tweet Share Share Share Share Share

www.lorongka.com --- lagi dan lagi, kali ini adalah puisi indah nan romantis untuk mereka yang sedang jatuh cinta atau mereka yang sedang berbunga-bunga hatinya.

Puisi ini bercerita tentang alasan seseorang menjadi pelangi diantara sedihnya pasangannya agar dia bisa menjadi penyebab bahagianya lagi, penyebab tawanya, dan alasan pengusir sedih dalam hati pasangannya.

Pelangi Diantara Hujan

Taukah kau mengapa pelangi datang setelah hujan,
Karena selalu ada keindahan diantara sedih,
Selalu ada tawa diantara air mata.

Aku hanya ingin menjadi pelangi bagimu,
Diantara sedih yang kau rasakan,
Dan diantara air mata yang kau teteskan.

Menjadi alasan sedihmu hilang,
Menjadi alasan airmatamu reda,
Dan menjadi alasan bahagiamu datang.

Ingin kuukir senyum di wajahmu,
Seperti pelangi diantara mega,
Hingga sedih tak lagi menghampiri.

Itulah mengapa aku memilih menjadi pelangi,
Disaat sedih menghampiri
Sebab hanya pelangi yang mampu meredakan hujan
Diantara bola mata indahmu.
Tweet Share Share Share Share Share

Puisi Malam
www.lorongka.com --- Puisi kali ini bercerita tentang doaku malam ini. Sebuah doa untuk kekasih agar lelapnya dapat terjaga hingga pagi membangunkannya.

Nggak usah terlalu lama berbasa-basi lebih baik jika membaca puisi ini lalu membacakannya kepada pasanganmu atau mengirimkannya kepasanganmu.

Doaku Malam Ini

Andai kubisa menjadi bantalmu malam ini,
Yang selalu siap menjaga tidurmu,
Hingga esok ketika pagi membangunkanmu.

Menjagamu dalam gelap,
Menjadi peluk dalam lelap,
Agar kau terjaga sepanjang tidurmu.

Memberi hangat pada malammu yang dingin,
Menghilangkan lelah dalam lelapmu,
Agar pagimu dapat kau nikmati.

Malam ini ku hanya berdoa,
Agar tidurmu dapat terjaga.

Malam ini ku hanya berdoa,
Agar lelapmu dapat menghalau lelah.

Lelaplah kekasihku
Esok kuakan datang padamu
Mengukir senyum di wajahmu.
Tweet Share Share Share Share Share

Sepucuk surat untukmu
www.lorongka.com --- Puisi ini sangat romantis berkisah saat pagi datang dan tiba-tiba teringat dengan wajah sang kekasih, lalu menuliskan sepucuk surat akan kerinduannya.

Berusaha mendatangi rumahnya yang kosong berharap kekasihnya pulang dan akan memberikannya surat akan rindunya yang selama ini bersarang di pikirnya.

Aku Dan Sepucuk Surat Untukmu

Saat itu fajar telah tiba,
Embun pun mulai meyebarkan kesejukan,
Angin behembus kencang
Membawa ingatan akan dirimu.

Ku gapai selembar kertas
Lalu kutulis bait-bait rindu,
Hingga kutulis dengan tebal
Terlihat jelas dipojok kanan kertas
Untukmu sayang.

Ku ambil ontel tua,
Lalu ku kayuh menjauhi istanaku yang reot,
Ku telusuri jalan-jalan setapak,
Hingga di depaku terlihat jelas
Pagar rumahmu yang masih kau gembok.

Ku ketuk pintu rumahmu,
Namun kau tak berada di dalam,
Kutunggu dirimu sambil kupegang suratmu,
Berharap kau cepat kembali.

Hingga sore kau tak jua muncul,
Malam masih ku menunggu di pintumu,
Namun dirimu juga masih belum terlihat.

Aku hanya berpikir
Kau juga pasti akan merinduku.

Dimanakah dirimu,
Hingga hatiku merasa cemas menunggumu.
Tweet Share Share Share Share Share

Ilustrasi kegalauan
www.lorongka.com --- Ini adalah puisi yang kesekian kalinya yang kami dipublish dan ini juga merupakan puisi romantis dari sekian banyak puisi romantis sebelumnya kami telah publish.

Puisi ini bercerita tentang hati yang rindu namun hanya menuai sepi dan belum menemukan tempat hatinya yang akan disandarkan, hingga dia hanya menuai sepi dalam pencariannya.

Rindu Yang Belum Terjawab

Mungkin suatu saat akan kubiarkan diriku
Menjelma menjadi angan-anganmu
Yang melayang-layang terbawa angin,
Hilang dan lenyap diantara rintik hujan malam.

Atau akan kubiarkan diriku menjadi daun
Yang gugur terbawa angin,
Terhempas dibatu karang
Dan hanyut lalu hilang di luasnya samudera.

Karena sepi yang kurasakan mendera begitu hebat,
Sebab cintamu tak lagi disini,
Membangunkan sepi dimalam-malamku,
Hingga tak lagi kusadari rindu kutujukan pada siapa.

Aku hanya berdoa agar angin
Membawa rinduku pada hati yang kunanti,
Hingga rindu tak lagi menuai sepi.

Dalam doa ku ingin menjadi rusuk untukmu,
Yang akan selalu hadir menjaga hatimu,
Hingga tak ada lagi hati lain yang menyelinap masuk.
Tweet Share Share Share Share Share

Tidurlah kekasihku
www.lorongka.com --- Ini adalah syair indah tentang malam yang bercerita tetang kesetiaan seorang kekasih yang meski raganya tak selalu bersama namun rindu tetap mempersatukan mereka dalam mimpi.

Puisi ini juga berkisah tetang komitmen seorang kekasih yang suatu saat akan datang membawa kekasihnya kedalam hubungan yang serius dalam ikatan cinta yang abadi.

Tidurlah Kekasihku

Malam ini begitu dingin,
Rebahkan tubuhmu tuk mengusir lelah,
Biarkan bintang menjaga malammu,
Agar pilu tak menghampiri pikirmu.

Lelapkanlah mata coklat indahmu itu,
Dan akan ku kirimkam bait-bait cinta dalam mimpimu,
Agar esok bibir merah mu dapat berkisah,
Tentang diriku yang selalu setia menunggu malammu,
Karena aku adalah kekasihmu yang setia.

Malam ini kumohon bersabarlah sayang,
Meski tubuhku tak berada di sampingmu,
Namun rasaku selalu hadir dalam senyummu.

Esok akan tiba waktunya,
Ketika mimpi kan kuwujudkan
Saat itu kan kubawa dirimu dalam dekapan yang abadi.

Ku minta malam ini lelaplah kekasihku,
Di bawa rembulan yang bersinar terang,
Karena malam ini dan seterusnya
Kau kan tetap menjadi rinduku yang abadi.
Tweet Share Share Share Share Share

Puisi Paling Romantis
www.lorongka.com --- Puisi ini berjudul tentang "peluklah aku hinggq usia kan menua". Puisi ini bercerita mengenai cinta yang tak akan lapuk dimakan usia, walau umur tak lagi muda namun cinta tetap muda.

Puisi ini mengajarkan kita tetang cara mencintai yang sesungguhnya, cinta yang tanpa syarat, cinta yang tak harus dilandasi dengan materi, atau dengan kata lain mencintai karena menginginkan sesuatu tapi cinta adalah sesuatu yang tulus.

Peluklah Aku Hingga Usiaku Kan Menua

Aku masih setia,
Setia untuk menjaga cintamu,
Hingga langit akan menua,
Sebab itu tetaplah dipikirku,
Karena hidup akan bahagia jika denganmu.

Setialah denganku,
Walau hidup tak seindah pelangi.
 
Jangan pernah bosan untuk cintaku,
Karena mimpiku adalah memilikimu.

Usiaku kan kupenuhi rindu untukmu,
Karena sayangku hanya tertuju padamu.

Tetaplah memeluk tubuhku,
Hingga usia semakin menua,
Walau ingatan tak lagi muda,
Namun cinta akan tetap muda,
Bagai lautan yang tak pernah kering
Meski mentari mencoba mengeringkannya.
Tweet Share Share Share Share Share

Image from google
www.lorongka.com --- Ini merupakan puisi yang bercerita tetang cinta yang tak seperti terminal, mereka berkunjung hanya sesaat lalu pergi meninggalkan kesedihan dan air mata melainkan cinta adalah kebahagiaan yang penuh tawa.

CINTA TAK SEPERTI TERMINAL

Cinta itu tak seperti terminal,
Engkau datang seenaknya,
Lalu engkau bisa pergi sesuka hatimu.

Cinta itu tak seperti terminal,
Tempat persinggahan sementara,
Lalu kau pergi tanpa jejak.

Cinta itu tak seperti terminal,
Tempat terakhirmu berkunjung,
Lalu kau pergi meninggalian luka.

Cinta itu tak seperti terminal,
Penuh kepalsuan,
Pun dengan air mata sesaat.

Cinta tak seperti terminal,
Tempatmu menunggu dan menanti,
Karena cinta bukanlah penantian tapi pembuktian.

Cinta itu tak seperti terminal,
Tempatmu sejenak menyandarkan lelah,
Karena cinta adalah tempat merumahkan hati selamanya.

Cinta itu tak seperti terminal,
Penuh dengan pelukan perpisahan,
Karena cinta adalah pelukan keabadian.

Cinta itu tak seperti terminal,
Tempat yang penuh dengan tatap kesedihan,
Karena cinta adalah tatap kebahagiaan.
Powered by Blogger.