December 2017 | LORONG KATA
Tweet Share Share Share Share Share

PANGERAN PENDUSTA DAN AHLI SANDIWARA
Penulis: Faisal

Jika kau adalah ahli sandiwara.
Aku adalah pangeran pendusta.
Kau bertanya apakah kau masih mampu hidup.
Dengan predikatku aku akan menjawab dengan tidak ragu-ragu "MASIH".

Aku masih kokoh berdiri teguh.
Tulang kakiku masih kuat menahan berat badanku.
Inderaku masih mampu paham dan merasakan.
Tapi dengan predikatku hatiku tidak dapat berbohong.

Aku adalah pendusta.
Mendustakan semua pertanyaan kasihan padaku.
Aku berkali-kali meminta biarkan aku berjalan sendiri.
Aku tidak akan tersesat, dengan mulut dan suaraku aku akan bertanya.

Aku merasa hebat sebagai pangeran pendusta.
Tapi aku tidak lebih hebat dari kau.
Kau adalah ahli sandiwara.

Aku melihat kau sudah tidak muda.
Tubuhmu mulai rentah.
Tarikan nafasmu sudah mulai tersengal-sengal.
Tapi kau adalah ahli sandiwara.

Dengan predikatmu kau menjadi penipu dan pembohong besar.
Kau menipu dengan mempertontonkan kesehatan tubuhmu.
Kau berbohong dengan retorika halusmu yang meluluhkan.
Kau menampilkan babak demi babak sandiwara kehidupan.
Hanya karena kau selalu rindu senyuman.

Persembahanmu membuat semuanya terlena.
Terbuai dengan lakonan yang luar biasa.
Hingga semua tidak sadar kau telah tiada.
Meninggalkan drama yang tak selesai kau lakonan

Kau dimana ?
Mengapa kau pergi ?
Aku belum siap menjadi penanggung rasa penasaran.
Aku belum siap menjadi penanggung rasa kerinduan.

Kau sudah tak lagi menoleh. Bergerak bahkan mengedipkan matamu sekali saja.
Tidak ada pertanda aku akan melanjutkan sandiwaranya.

Aku sebagai penggemar fanatiknya.
Hanya akan berusaha membuat naskah baru.
Melanjutkan sandiwaramu.
Menyelesaikan dramamu.
Tweet Share Share Share Share Share

Kala Rindu Menyapa
(Fadillah Febriyanti)

Dikala malam tiba
Sepi pun hadir menyapa
Dingin mencekam kesunyian jiwa
Semesta kelam tanpa lentera

Dibalik keheningan malam
Menyelimuti hati yang terasa masam
Hembusan sang bayu merasuk dasar sukma
Ku terhanyut dalam fatamorgana

Serpihan geliat membuncah kalbu
Rasa yang tergores kian semakin merekah
Batin menjerit kala jarak menciptakan rindu
Seolah benteng pertahananku seketika runtuh


Mengapa rasa ini terus mengalir???
Bagaikan terjebak dalam sebuah labirin
Membelenggu dalam pikiran dan emosi
Membawa alunan rindu dalam setiap hembusan nafas

Tentang Penulis
Fadillah Febriyanti, saat ini menimbah ilmu di STKIP-PGRI Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Jurusan Ilmu Pendidikan Program Studi PGSD semester III. Hobi membaca dan menulis fiksi baik puisi maupun cerpen. Motto"Joyfull Of Life"
Sosial Media :
Wattsapp      : +62 81273970241
E-mail            :  fadillahfebriya@yahoo.com
Facebook      : Fadillah Febriyanti
Tumblr           : Dillah Febria
Line                : @fadillah_ebi
Tweet Share Share Share Share Share

Ambivalen
(Ani Kurniasih)

Saat ini aku ditemani sepi
Sudahkah mentari menyapa?
Bahkan aku tak tahu rasanya!
Mengapa kau pergi?

Hanya pemiliknya saja yang tahu!
Sungguh, perasaan ini bercabang.
Cinta, benci, ditampung sepenuhnya oleh hati.
Sang ksatria yang mengelabui.
Allah mengirimnya dengan sengaja, kah?

Seharusnya mentari itu cepat tenggelam
Agar tak bisa dilihat lagi rupa ksatria itu
Dia menyiksa, namun kadang sifatnya meluluhkan.

Apa daya diri ini yang hanya berharap Ridho-Mu Ya Rabb...
Sang Raja Kelembutan yang abadi.

@Zheevani ania
Ciamis, 2017
Tweet Share Share Share Share Share

Ibu
Dian Aprilia A

Engkaulah pelita dalam gelapku
Engkaulah malaikat di dunia ini
Kasihmu cinta mu pelukmu
Dekappanmu bahkan kemarahanmu
Itu semua untuk kebaikanku

Engkaulah pahlawanku
Setiapku kesusahaan
Engkau selalu ada untuk membantuku
Bekerja keras tuk menafkahiku

Terimakasih tuk pengorbanaanmu
Yang kau berikan kepadaku
Kau begitu ceria dan rajin dari pada guru yang lain
Andai aku bersalah maafkan aku

Dia tak letih menasehatiku
Sosok  yang sealalu menjagaku
Tanpanya aku bukan apa apa
Aku hanya manusia lemah
Yang membutuhkan kekuatan
Cinta kasih dari seorang ibu

Walau engkau selalu memarahiku
Aku tau...
Itu bentuk perhatianmu
Itu menandakan kau peduli padaku

Ya allah
Berikanlah kesehataan pada ibuku
Panjangkanlah umurnya
Aku ingin membahagiakannya
Sebelum engkau tiada

Terimakasih ibu
Atas apa yang kau berikan kepadaku
Dalam senyummu kau sembunykan letihmu
Derita siang malam menyapamu
Tak sedetik menghentikan langkahmu

Ibu...
Aku selalu mengingat nasehatmu
Bukan setumpuk emas yang kau harapkan
Dalam kesuksesanku
Bukan gulungan uang yang kau minta
Dalam keberhasilanku
Bukan pula sebatang perunggu dalam
Kemenanganku...
Jasamu takan terbatas
Jasamu takan terbeli
Jasamu tiada akhir
Jasamu terlukis indah di dalam surga

Ibu...
Telah kau hujamkan matamu
Tuk menetang surya
Telah kau hentakan kakimu
Tuk menindas bumi
Telah kau mantapkan hatimu
Tuk taklukan sang waktu

Ibu...
Remuk hati ini melihatmu menangis
Hancur raga ini melihatmu terluka
Mati raga ini apabila kau tiada
Cuma doa yang ku persembahkan untuk mu
Cuma tangisanku sebagai saksi
Atas rasa cintaku padamu

Nama : Dian Aprilia Arditianika
Umur :22 Tahun
Tempat lahir : Magelang
Tanggal lahir : 17 April 1995, Selengkapnya
Tweet Share Share Share Share Share

Air mata menetes di pipi
Dian Aprilia A

Air mata kuselalu menetes di pipi
Perlahan demi perlahan
Aku ingat kau barada di samping ku
Akan ku buktikan padamu

Tetesan air mata
Seperti kertas yang terkena air
Yang bisa rusak maupun utuh
Air matayang mengalir di pipi
Sangatlah berharga

Tanpamu aku masih dapat untuk hidup
air mata yang mengalir terus menerus
membuatku teringat dirimu
tanpa ku sadar aku masih sayang
walau air mata ku mengalir terus menerus di kedua pipi

Nama : Dian Aprilia Arditianika
Umur :22 Tahun
Tempat lahir : Magelang
Tanggal lahir : 17 April 1995, Selengkapnya
Tweet Share Share Share Share Share

Mereka Mendamba Merdeka
Oleh : PenikmatSepi

Kemerdekaan menjadi damba
bagi mereka bangsa Palestina
Prahara sengketa tanah
terus memamah jiwa-jiwa
Darah terburai menggenangi Negeri
Tubuh berserakan tanpa bentuk, dan
gedung-gedung menciumi tanah, tak beraturan.
sedang ratap papa hanya sebagai nyanyia sendu,
yang terus bersenandung sepanjang putaran waktu.
Tanpa relai, meski sungguh hati murka pada kebinatangan kaum zionis.
Wadah perdamaian dunia lumpuh dan membisu
tanpa tindakan dan juga kata-kata.

Kemerdekaan menjadi damba
bagi mereka bangsa Palestina
Sudah kering air mata mereka
Sudah jenjang derita mereka
Sudah lelah letih hidup dalam kubangan ketakutan pada leletusan yang membunuh.

Mereka mendamba merdeka
Menikmati hidup penuh damai pun tentram tenang
Tanpa suara tembakan timah panas dan letusan granat-granat yang mengaung diikuti tangis dan teriakan Allahu Akbar
Mereka mendamba merdeka
Akankah kita akan tetap diam dengan pedih dan serapah
melihat para zionis laknat merata tanahkan bumi Palestina?

Pulau messah, 2017
Tweet Share Share Share Share Share

Aku Mencintaimu
(Ani Kurniasih)

Sesimpul senyum dari bibirmu,
Mengingatkanku akan kenangan terdahulu.
Ketulusan itu jelas tergambar dalam sikapmu.

Lembut sekali kau menyentuh hatiku,
Meraba, tanpa melukainya sedikit pun.
Sungguh kau memang tahu caranya menjaga mutiara.

Sekarang, aku berani mengakui perasaanku.
Rasanya sangat berbunga-bunga,
Terasa sedang berada di tengah-tengah hamparan sakura.

Soal aku mencintaimu,
Cukup Allah saja yang tahu...
Tweet Share Share Share Share Share

Hijrahku
 (Yuni Kusnawati)

Tak mudah memang
Meninggal sesuatu yang sudah amat kusayang
Meninggalkan semua angan-angan
Yang sejak lama aku impikan

Pernah berada dititik kebimbangan
Antara menyudahi atau melanjutkan
Mengikuti kata hati yang bertentangan
Atau mengikuti logika demi kesenangan

Jika ku ikuti, urusan akhirat ku genggam
Duniapun turut melenggang
Namun bila kutinggal, dunia ada didekapan
Namun akhirat melambaikan tangan

Jalan yang kutempuh tidak semudah yang kubayangkan
Banyak rintangan yang senantiasa menghadang
Berusaha merobohkan benteng keteguhan
Yang sudah susah payah aku lambungkan

Awalnya sangat berat
Tapi harus kulakukan demi kehidupan orangtuaku diakhirat
Kurasa kiamat sudah semakin mendekat
Karena banyak ikhwan dan akhwat yang senang melakukan khalwat

Hijrahku, bukan sebuah trend semata
Bukan ingin mendapat pujian saja
Bukan ingin dibilang "taat agama"
Namun kulakukan demi kehidupanku dimasa depan
Dan untuk meringankan beban
Kedua orangtuaku saat masa penghisaban

Hijrahku
Semoga mendapat ridho dari-Mu
Permudah jalanku menyiapkan tempat untuk kedua orangtuaku
Tempat terindah disisi-Mu
Ya Allah ya Tuhanku

Nama: Yuni Kusnawati
Tempat, Tanggal Lahir: Way Kanan, 02 Juni 1999
Domisili: Banjit, Way Kanan, Lampung
Status: Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lampung
Telepon (HP): 085384976502
Email: yunikusnawati02@gmail.com
Tweet Share Share Share Share Share

Kisah Yang Telah Usai
(Yuni Kusnawati)

Untuk diriku yang jauh dari inginmu
Yang kehadirannya hanya mengusik ketenangmu
Pergi, ya aku ingin pergi darimu
Namun kaki tak mampu untuk melangkah maju

Aku ingin selalu berjalan berdampingan
Berdua denganmu seiring sejalan
Bercanda tawa mengingat semua kenangan
Yang telah lama terabaikan

Luka hati yang tak lagi terawat
Kini menjadi lebih menyakitkan
Bukan mudah untuk mengingat
Namun sulit untuk melupakan

Aku ingin menyapamu
Sangat-sangat ingin
Namun kuurungkan kembali niatku
Karena aku tau tanpaku kau lebih tenang

Dulu aku dan kamu selalu bersama
Saling membutuhkan satu dengan yang lainnya
Kini waktu merubah segalanya
Jangankan untuk tertawa berdua
Menyapa saja tak lagi bisa

Aku tak begitu kuat untuk menggenggam jemarimu
Mempertahankan hati yang pernah bersatu
Melawan hati yang semakin membeku
Yang menjadikan segalanya tak lagi menyatu

Aku berusaha mengejarmu
Mencegah langkah kepergianmu
Berupaya mengurungkan niatmu
Untuk meninggalkan jejak yang telah lalu
Melupakan kisah indah dimasa itu
Sungguh aku ingin kau tetap disampingku

Semua terkenang kembali
Dulu dekat sedekat nadi
Kini jauh sejauh matahari
Dan baru aku sadari kisah kita benar-benar telah usai
Semua berakhir dan selesai

Nama: Yuni Kusnawati
Tempat, Tanggal Lahir: Way Kanan, 02 Juni 1999
Domisili: Banjit, Way Kanan, Lampung
Status: Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lampung
Telepon (HP): 085384976502
Email: yunikusnawati02@gmail.com
Tweet Share Share Share Share Share

Salam Pengagum Rahasia (SPR)
(Yuni Kusnawati)

Berteriak di sunyi nya malam
Menangis diderasnya hujan
Caraku menumpahkan seluruh amarah
Lara batin yang terlalu lama terpendam

Menyendiri di keramaian
Termenung di keheningan
Saat hati tak mampu lagi menahan
Setitik rindu yang semakin membelenggu

Secercah cahaya menutup kalbu
Rasa hati teriris bagai sembilu
Hanya satu yang ku mampu
Memberi senyum termanis diwajahku

aku adalah orang yang tak kau kenal
Namaku saja mungkin kau tak tau
Walau disini aku selalu memperhatikanmu
Menahan semua syahwat cintaku

Aku selalu tersenyum melihatmu
Mengagumi setiap inci raut wajahmu
Tanpa sadar seiring berjalannya waktu
Dalam diam, aku jatuh hati padamu

Bermunajat disepertiga malam-Nya
Adalah cara terbaik yang ku bisa
Ketika semua angan tak dapat terlaksana
Hanya dapat tersampai lewat sebuah doa
Salam cinta dari sang pengagum rahasia

Nama: Yuni Kusnawati
Tempat, Tanggal Lahir: Way Kanan, 02 Juni 1999
Domisili: Banjit, Way Kanan, Lampung
Status: Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lampung
Telepon (HP): 085384976502
Email: yunikusnawati02@gmail.com

Tweet Share Share Share Share Share

Kekasihku Merengek Tuk Dinikahi

Aku datang tanpa daya,
Membawa cinta dan sejuta rasa,
Dari hati yang dihasut cinta,
Lewat melodi getarkan asa.

Sepucuk rindu di ujung senja,
Kutitip luka di atas mega,
Karena cinta tak menemui asa,
Merobohkan rasa yang dulu ada.

Ini luka yang kutuai lewat senja,
Tentang rasa yang menikam dada,
Saya datang tuk menagih bahagia,
Lalu mengapa kau beri aku dengan luka,

Inikah kisah diujung senja ?
Datang menebar pesona,
Lalu pergi meninggalkan air mata,

Bukan saya tak menginginkan bahagia,
Bukan saya tak menginginkan cinta,
Bukan pula saya tak menginginkan tawa,
Lalu mengapa engkau menghadiahiku dengan luka ?.

Aku merenung di ujung senja,
Seraya berpikir agar kau menuai bahagia,
Entah bahagia menikah dengan saya,
Atau terluka karena orang lain merenggut cinta dari saya.

Ini sulit kuputuskan,
Bahagia denganmu di pelaminan,
Atau teluka lantaran cinta menjadi kenangan.

Sudahlah, aku bosan dengan luka,
Aku lelah dengan perasaan dilema,
Aku muak tersakiti karena cinta.

Pergilah, menikahlah dengannya,
Dengan mereka yang mengharap cinta,
Lantaran aku tak mampu melamarmu dengan permata.
Powered by Blogger.