2018 | LORONG KATA
Tweet Share Share Share Share Share

Terhitung hari ini aku membencimu, terhitung hari ini aku akan melupakan semua kenanganmu, semua kebaikanmu. Akan aku lupa semuanya akan aku lupa tenang saja..

Tapi......
Tapi.....
Tapi......
Aku tidak bisa tanpa memikirkanmu dalam semalam, tak bisa tanpa ocehan lucumu, tak bisa tanpa suara falesmu yang menganggu telingaku, tak bisa tanpa bullyanmu, aku tidak bisa..

Wee.. pergilah dari hidupku enyahlah dari setiap pandang kamarku...

Tolongla pergilah, jangan membuatku semakin mencintaimu, jangan mwmbuatku takut kehilanganmu, ayolah pergilah dariku...

Tapi
Tapi
Tapi
Tapi
Aku baru sadar aku tak bisa tanpamu..
Hati ku mohon jangan membuatku semakin munafik, aku mencintainya dan takut kehilangannya, tapi mulutku masih saja pandai berbohong dalam hal memainkan rasa!

sutratenriawaru
Tweet Share Share Share Share Share

Dulu ada siapa dihidupku,semuanya setiap saat menanyakan kabarku..

Dulu ada siapa yang selalu mengocar acir fikiranku saat tak mendengar kabarnya membuatku kesal jika tak mendengar suara bisingnya dalam sehari..

Dulu ada siapa yang selalu membuatku gelisah ketika mulai mengenal wanita baru selain aku..

Dulu ada siapa yang selalu ku kirimi vn suara sumbangku saat menyanyi,kupukuli ketika aku kesal,kumaki ketika aku emosi..

Tapi siapa itu kini pupus,dia bukan lagi siapa yang kukenal dahulu,dia kini hanyalah siapa yang asing!

Siapa pun kau kini aku masih menunggu siapa kamu yang dulu,karna kau tak akan lengkap tanpa ada kata kita kata"siapa hanya membuatmu usang"tapi kata kita akan membuat kau tak akan dipanggil siapa lagi!
Kau adalah siapaku dan aku adalah siapamu,kau adalah dia dan aku adalah orang asingmu..
Tetapi KAU adalah SIAPAKU!

Penulis: Sutratenriawaru
Tweet Share Share Share Share Share

ADA APA
sutratenriawaru

Burung tak lagi bernyanyi dengan merdu..

Ada apa?

Suara tangisan kian menerka nerka,semuanya enggan menampakkan diri..

Ada apa?

Serdipiti yang biasanya muncul di kaca jendelaku kini tak lagi menunjukkan wujudnya..

Ada apa?

Kudengar dari sahabatku katanya bau mayat bertebaran dimana mana,sungguh ada apa dengan bumi pertiwiku,semuanya tampak berserakah..

Ada apa?

Anak bayi yang tak tau menau tentang dosa,mati sia sia ditangan ibunya..

Ada apa?

Rumah rumah roboh,gedung yang berlantai jatuh tampa meninggalkan sepotong dinding yang ada hanya rata ...

Ada apa dengan negriku ini? Ada apa? Apakah alam tak merestui sesuatu?
Mungkin saja,benar alam murka dengan setan setan berwujud manusia!
Mungkin alam berprotes,tetapi manusia tak menyadari protes malah menyalahkan akan hadirnya murka alam!
Tweet Share Share Share Share Share

TANGISAN NONA
"KARENA SSU SAYANG"

Beranjak dari tatapan, seakan termanipulasi oleh ketampanan.

Disertai senyuman hasrat yang terus mengikat,menjadi awal cerita dari kehancuran para nona.

Komunikasi kian berjalan lancar dengan bermodalkan kata yang mengatasnamakan suka, hubungan pun berjalan begitu singkat tanpa adanya negosiasi asmara. Itukah yang namanya cinta ?hhh

Seketika ketidaksadaran mulai terbelenggu oleh bisikan setan yang mengatasnamakan cinta, seketika itu pula nafsu durjana hadir dalam kiat-kiat ketelanjangan dan akhirnya termakan rayuan, yang mengatasnamakan kenikmatan.

Jeritan-jeritan kenikmatan-pun tercipta layaknya melody yang terdengar asyik disertai alunan ketergesa-gesahan bermandikan keringat membasahi tubuh seakan melululantahkan kehormatan yang bertanda akhir dari kehancuran nona.

Yang dulunya suci terpatri, kini tinggal hujatan dusta yang menjalar bagaikan akar.

Setelah dahaga kenikmatan berlalu dan meninggalkan luka,barulah penyesalan itu datang dengan mengatakan "khilaf" sebagai ungkapan pembelaan.

Kini cinta klasik itu hanya membuai tetesan demi tetesan air mata yang mengalir tak terhenti, membasahi wajah seraya imaji menjadi liar tak karuan dan hati terus bertanya-tanya.akankah waktu menyembuhkan luka yang terlanjur menjelma dalam batin ini!!!

Penulis: Ahmad Emank
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Bernostalgia dengan peristiwa 28 oktober 1928 dimana pemuda indonesia  berkumpul dalam kongres ke-ll yang diselenggarakan dibatavia( jakarta) selama dua hari dan putusan kongres tersebut melahirkan 3 poin sebagai ikrar satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, yang hingga kini menjadi ajang tradisi tahunan dan sebentar lagi akan diperingati sebagai hari lahirnya SUMPAH PEMUDA.

Semangat yang menggelora,menjujung tinggi nilai nasionalisme adalah bentuk perjuangan dan perlawanan pemuda kontemporer untuk sampai pada khittah indonesia merdeka dari jajahan imperialism yang telah memperbudak dan merampas apa yang menjadi hak para pendahulu kita.

Perjuangan inilah yang seharusnya menjadi acuan revolusi untuk para pemuda-pemudi indonesia yang hidup diera milenial dalam menghadapi berbagai krisis yang telah terjadi dinegara ini sebagai mana yang pemuda kontemporer lakukan. Ini mestinya menjadi bahan kajian para pemuda baik diforum seminar kepemudaan, kebangsaan maupun diskusi lepas untuk mengetahui sejarah secara luas dengan cara bertukar pikiran satu dengan yang lain agar terciptanya ideologi perubahan.

kurangnya intropeksi dan buta akan sejarah telah menjelma menjadi penyakit dalam paradigma berfikir pemuda saaat ini, yang mengakibatkan tidak adanya rasa kepedulian terhapadap krisis yang menimpah bumi nusantara ini.

Dan lupa bahwasanya Negara ini bukan sebagai warisan nenek moyang terdahulu melainkan pinjaman anak cucu yang harus dijagaa dan dilestarikan untuk regenerasi selanjutnya sebagai penyambung tongkat estafet perjuangan dimasa yang akan datang.

Mungkin angan-angan pemuda-pemudi saat ini terkait akan timbulnya rasa kekhawatiran dan ketidakpastiaan dimasa mendatang yang menjadi tanda tanya pada diri pemuda terkait keadaan indonesia yang sedang diambang kehancuran ulah rezim otoriter yang seolah telah lupa akan tanggung jawab dan hanya menjadikan ikrar sumpah jabatan sebagai formalitas yang digaungkannya untuk menjadi payung pelindung kebusukannya.

Seperti yang kita lihat belakangan ini, negara kita terasa tengah terselimuti mendung tebal yang akan melahirkan badai krisis berkepanjangan,seolah nyaris tiada bertepi. Krisis yang menimpah pemuda saat ini bukan lagi sebatas dimensi politik ataupun ekonomi, melainkan moralitas kebangsaan pemuda-pemudi indonesia yang telah hilang akibat globalisme yang semakin ekstrim untuk menjawab tantangan zaman.

permasalahan inilah yang menjadi PR generasi muda diera milenial untuk mejawab tantangan zaman dan menegakkan keseimbangan proporsionalitas pemerintah dalam mengambil suatu kesimpulan terkait permasalahan kelembagaan negaraan yang menyangkut hidup matinya bangsa.

Maka dari itu harus adanya eksistensi pemuda-pemudi indonesia untuk melawan rezim yang telah mengkambing hitamkan nama bangsa, agama, suku dan khilaf akan nilai Bhineka Tunggal Ika yang telah menjadi simbol kesatuaan kita sebai ummat berbangsa. serta pemuda-pemudi indonesia sebagai "agent off change" harus melawan dan menegakkan hukum yang seolah bisu akan keadilan demi terwujudnya negara yang adil,makmur dan sejahtera.

Bahkan telah dijelaskan dalam UU KEPEMUDAAN No.40 thn.2019 pasal 16. bahwasanya pemuda harus lebih pro aktif berperan sebagai kekuatan moral,kontrol sosial,dan agen perubahan dalam aspek pembangunan nasional.

Mengutip suatu perkataan The founding father of indonesia: dia hanya membutuhkan 10 pemuda untuk mengguncangkan dunia. Kata itulah seharusnya menjadi motivasi untuk membangkitkan semangat revolusi kita sebagai pemuda yang hidup diera milenial untuk menegakkan keadilan yang tidak pro terhadap rakyat proletar.

Apabila semangat pemuda-pemudi indonesia saat ini telah hilang untuk menegakkan keadilan serta menyuarakan suara-suara kebenaran, maka bangsa ini akan mudah diperkosa oleh pihak oligarki kapitalisme dan sulit untuk menjadikan negara ini sebagai negara "Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

Penulis: Ahmad Sulaiman, Mahasiswa UIN Alauddin
Tweet Share Share Share Share Share

BICARALAH!
Sutratenriawaru

Berbicaralah! katakan kepadaku bahwa kita bukan lagi anak anak yang harus bercerita kepedihan,bukankah kita telah dewasa?

Bukankah kita cukup bisa menangani segala sesuatu dengan dewasa? Lalu jika benar mengapa kau masih saja bersembunyi diantara kepingan katamu?


Jangan pura pura goblok,bicaralah aku akan selalu mendengarmu,memberontaklah,berontakanmu akan selalu kuterima,asalkan kau tak lagi menyembunyikan kata di bawa kepingan bibirmu..


Nyamanka kau dengan hidup yang terus bersembunyi? Seperti kau sangat nyaman dengan hidup sebagai seorang pecundang,bahkan kau tak punya gairah untuk bergaul dengan kawanmu,kau hanya suka bermain di antara pusar pusarmu yang membusuk..

Ayolah,jangan sok lugu seperti itu,katakanlah katakanlah katakanlah bahwa kau mencintaiku,diafragma suaramu masih baikkan? Tolonglah aku katakan hal itu,aku tau kau mencintaiku,tapi kau takut untuk mengungkapkannya,katakanlah kepadaku,ayoo katakan!

Sekali lagi kukatakan BERBICARALAH!
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Apakah karena dia telah menginjakkan kakinya dititik tertinggi di atas Gunung atau karena dia punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhannya untuk melakukan olahraga alam bebas?

Apakah karena dia punya keanggotaan dalam suatu Organisasi yang berjudul PA? apakah karena dia lulus Diksar?karena dia bisa menghapal semua materi Survival,Bivak, dan PPAT? atau karena dia punya kenalan anak Mapala atau dari Forum Pelestarian Lingkungan?

Dari cukup lama aku mencari, aku punya sedikit pembuktian tentang kesimpulan yang berbunyi seperti ini;

"Pecinta Alam adalah sifat dalam dirinya sedikit keberanian, sedikit kenekatan, sedikit romantisme dan puitis, sedikit rasa suka tantangan, sedikit kebiasaan dalam kesendirian sedikit nasionalisme, sedikit cara pandang yang “khas” dan cukup banyak kepedulian..”

Apakah sebenarnya yang kita bicarakan ini?

Apakah suatu julukan, suatu gelar, klasifikasi, idealisme, Organisasi, atau malah gaya hidup?

Beberapa orang yang punya keanggotaan dalam Pecinta Alam yang mengetahui jawaban dari pertanyaan ini? atau bahkan tidak ada yang peduli?apa yang diajarkan dalam Diklatsar di Organisasi kita masing masing? lalu apa nilai dari Pecinta Alam kalau ternyata materi itu bersifat umum?

Kemarin aku bertemu sekumpulan anak Seni yang ternyata punya jadwal terprogram untuk melakukan Baksos Pelestarian Lingkungan, saya juga bertemu orang yang saat ngobrol , dia mengatakan bahwa dia mantan anggota Pecinta Alam di daerahnya.

Apakah Pecinta Alam bisa Pensiun / Dipecat/ mengundurkan diri sebagai Pecinta Alam? Apakah lalu dia bisa mendaftar atau menjabat jadi seorang Perusak Alam daripada menganggur? Yang ada di Diklatsar kita apakah membentuk seorang Pecinta Alam atau penerus estafet Dewan Kepemimpinan ?Mana yang tujuan mana yang ekses mana yang proses?

Kapan lagi saya bisa ketemu orang orang yang “gila” yang bikin saya yang dulu pengen jadi PA? yang ngobrol santai sambil duduk melingkar di samping api unggun dan tenda? Yang punya nilai kebebasan dan kemandirian? yang tidak pernah takut liat gunung, hujan, panas,dan jurang? Yang ngamuk ngamuk ga jelas kalo ada Hutan gundul, Gunung dipenuhi sampah pendaki? Yang lebih peduli sama perasaan saudaranya ketimbang kesenangan pribadi. yang badannya penuh tanah nggendong carrier sambil ngobrol akrab dengan saudara seangkatannya. Yang tergeletak ditanah mandi keringat sehabis melakukan pendakian terjal.

Lalu setelah kelas kajian malam itu beberapa orang sudah tidur dalam tenda, hangat dengan sleeping bag nya masing masing setelah lewat pukul 12 malam karena mereka sudah merasa kedinginan dan ngantuk. Di sisi lain halaman stadion mini ini yang makin banyak cuma mereka mereka yang tumbang lalu ada juga yang rebutan tempat tidur sama temannya yang brengsek peribut dihalaman, juga ada si bangsat yang buang air di samping tembok stadion karena males bikin lobang dan kemudian dia maki- maki temen-temannya dalam hati karena pembagian minuman nya tidak adil , jangan lupa sama si pecundang berstyle adventure dan pengecut sok PA yang masih dalam lingkaran ngomongin rasis pembedaan suku dan bahasa daerah. Bukan cuma mereka tim saat itu masih ada 3 orang hebat di samping sisa bakaran api unggun yang menikmati indahnya bintang sambil ngomongin isi dari kelas kajian beberapa waktu lalu. tapi bagaimanapun juga mereka anak baik karena ga ribut gak mengganggu orang lain, mereka itu anak baik karena penurut dia nurut aja pada semua perintah yang datang ke mereka dan pengertian yang di berikan orang ke mereka karena mereka percaya pada semua orang dan sifat yang baik seperti itulah yang menjadikan mereka nantinya akan menjadi orang yang hidup tenang saat tua saat hutan digundulin perusahaan asing karena pemerintah bilang itu untuk rakyat. saat permukaan tanah turun akibat air tanah dikuras dan resapan air tidak ada karena katanya untuk pembangunan pemukiman demi kesejahteraan masyarakat mereka akan terus hidup tenang hingga mati karena memang pintu pikiran mereka sudah mati sejak dulu. Mati dari kebebasan berpikir. Mati dari pertanyaan karena mereka hanya bisa menjadi penurut, karena mereka anak baik mereka mati dari pertanyaan tentang makna hidup karena terbuai rutinitas,Mati dari idealisme dan mati karena mereka hanya hidup untuk menunggu mati. Bukankah begitu yang disebut baik? Kalo bukan begitu lalu buat apa? Apa tindakan mereka salah ? Ada yang bilang ini-itu,banyak yang berteori, banyak yang berusaha, banyak yang terjadi tapi tidak ada yang berubah di samping itu semua mana yang benar? Untuk lebih membedakan antara syle adventure, pecinta olahraga alam bebas, orang ga berpendirian dan PECINTA ALAM, coba kita renungkan apakah arti dari Pecinta Alam? Buatku, Kau dan Mereka,..

Untuk saudaraku dan calon saudaraku, Kau adalah apa yang isi kepalamu pikirkan dan apa yang kau renungkan. Untuk Organisasiku yang memberi banyak pelajaran untuk seniorku yang membimbingku langsung dan tak langsung kita bangun suasana seperti ini saat dilain kesempatan kita berjumpa lagi ..


Stadion Mini Sinjai; Minggu, 29 Juli 2018
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Pada hari Rabu, 17 April 2019 pesta demokrasi akan berlangsung.

Seluruh masyarakat Indonesia mulai dari kota besar hingga pelosok kampung, akan ramai-ramai mendatangi bilik-bilik suara untuk melakukan pemilihan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat mulai dari tingkat daerah, provinsi, dan pusat serta pemilihan Calon Presiden dan Wakil Presiden Indonesia.

Tentu saja dalam upaya untuk mendapatkan posisi dan kursi "empuk" tersebut, para caleg yang "katanya" akan mewakili suara-suara rakyat dan kaum minoritas, melakukan segala cara untuk meraih tujuan-tujuan politiknya.

Rakyat didekati dan diminta untuk menggunakan hak politiknya. Hanya dalam hitungan detik rakyat bermetamorfosis, tapi bukan bermetamorfosis menjadi Power Rangers pembela kebenaran yang biasa kita tonton pada waktu kecil dulu.

Akan tetapi, rakyat telah berubah menjadi "TUAN", kewajiban sebagai rakyat diperlonggar dan hak dasar dipenuhi.

Tapi usai pemilihan umum mereka kembali menjalani kehidupan sebagaimana hari-hari sebelumnya, para petani kembali ke sawahnya, pedagang ke pasar, pengamen berdiri di lampu merah, pemulung mencari lembaran rupiah di tong sampah. Kenikmatan hanya sesaat mereka rasakan. Sungguh kasihan bukan !

Sudahlah, mari kita kembali kepada yang jalan yang benar saja yakni tentang bagaimana para caleg berupaya menarik simpati dari masyarakat.

Ada beberapa cara yang dilakukan seperti dengan uang, jabatan, fasilitas, dan menabur janji-janji manis kepada para rakyat ataupun melakukan pendekatan secara masif kepada orang-orang yang dianggap memiliki pengaruh besar dalam sebuah lingkungan misalnya kepala desa.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang Kepala Desa merupakan birokrat yang mempunyai kekuatan, kekuasaan tertinggi di tingkat desa.

Kepala Desa juga merupakan sosok elit lokal, dimana sebagai pemimpin masyarakat, dia juga mempunyai kedudukan dan status sosial yang tinggi di kalangan masyarakat.

Besarnya pengaruh kedudukan Kepala Desa terhadap masyarakat sering menjadikannya sebagai panutan.

Keadaan tersebut sangat mendukung bagi terlaksananya mobilisasi politik yang dilakukan oleh kepala desa. Nah, atas dasar pertimbangan inilah, para caleg beserta tim suksesnya berbondong-bondong terjun langsung melakukan pendekatan kepada Kepala Desa.

Dengan melakukan lobi-lobi "malaikat", menjanjikan ini itu, para caleg berupaya agar seorang Kepala Desa menjadi penggerak politik atau bahasa kasarnya tim sukses untuk memobilisasi massa agar memilih dirinya.

Dalam budaya Bugis, khususnya para masyarakat pedesaan masih sangat besar rasa penghormatannya kepada pejabat desa, budaya-budaya feodal masih berlangsung dikalangan masyarakat.

Sehingga tidak sedikit partisipasi politik masyarakat menjadikan seorang Kepala Desa sebagai panutan dan sebagai bentuk loyalitasnya terhadap sang "raja kecil".

Mereka memegang prinsip "Sami'na Waata'na" (Kami dengar, kami taat).

Seorang Kepala Desa yang menjadi penggerak politik, biasanya melakukan berbagai upaya guna menarik simpati masyarakat untuk memilih calon kandidat tertentu misalnya program pembangunan dijadikan alat politik untuk memobilisasi massa.

Mobilisasi politik tidak hanya dilakukan melalui pembangunan, melainkan Kepala Desa juga terjun langsung kepada masyarakat dengan memberikan janji-janji politik pada forum-forum kemasyarakatan.

Seperti pada kegiatan pengajian dengan mengatakan bahwa jikalau berhasil memenangkan caleg tersebut, maka akan dilakukan pengaspalan jalan, air bersih akan masuk ke rumah-rumah warga, memberikan bantuan peralatan desa dan lain sebagainya.

Jadi, bisa dikatakan bahwa pembangunan sering digunakan sebagai alat oleh birokrat untuk mencari dukungan politik dari masyarakat.

Apa yang dilakukan oleh seorang Kepala Desa jika bertindak sebagai penggerak politik memunculkan pro dan kontra.

Ada masyarakat yang mendukung dan setuju-setuju saja akan hal tersebut dengan dalih bahwa keterlibatan kepala desa sebagai penggerak politik masyarakat untuk memilih salah satu partai atau kandidat tertentu dapat memperlancar pembangunan di desa.

Masyarakat yang berkata demikian adalah masyarakat dengan status sosial kelas rendah dan berpendidikan sekolah dasar.

Di lain pihak, warga masyarakat dengan status sosial kelas menengah keatas dan berpendidikan tinggi memandang bahwa keterlibatan kepala desa sebagai penggerak politik merupakan suatu hal yang tidak etis karena dia (baca Kepala desa) dipilih secara langsung oleh masyarakat bukan diangkat dari Parpol.

Menurut hemat penulis sendiri, Kepala Desa yang menjadi "Penggerak Politik" merupakan hal negatif, hina, dan tidak etis serta tidak memberikan contoh yang baik bagi berlangsungnya demokrasi.

Mengapa seperti itu? Jawabannya cukup sederhana, karena kebebasan untuk memilih, berbicara, berteriak, memaki, hingga menghujat adalah bagian dari gaya demokrasi bangsa ini.

Akhir kata, semoga kita dijauhkan dari sosok kepala desa yang bertindak sebagai penggerak politik yang mencederai demokrasi itu sendiri dan hendaknya sebagai masyarakat.

Kita dapat menjalankan partisipasi politik dengan bersih, guna terwujudnya nilai dari demokrasi demi menjadi negeri "Baldatun Toyyibatun Warabbun Ghafur" (Negeri yang baik, adil, makmur, sejahtera dan amanah).

Penulis : Akbar G, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISIP) Muhammadiyah Sinjai
Tweet Share Share Share Share Share

Mulutmu Harimaumu
GadisManis

Sungguh biada mulut mulut yang hanya tau mencaci orang

Sungguh jahanam mulut mulut yang hanya tau menghina orang, sungguh miris!

Seolah olah dialah yang paling benar dalam bertindak, seolah olah dialah yang paling suci, namun sayang seribu kali sayang ternyata dia lebih munafik dari perkiraan semesta, sungguh menjijikkan ketika dia mengaku di telantarkan, namun sejatinya dia adalah makhluk yang paling munafik di antara ribuan orang yang dihina dan dicacinya!
Sungguh kasihan!

Bibirnyapun berubah menjadi hitam akibat rengekan, matanya sembab akibat tangisan buayanya, namun Alhasil diapun terjebak dengan sikap sok polosnya, dan pada akhirnya iya jatuh kelubang yang menutup mulutnya untuk tidak terus Menfitnah manusia...

Sungguh, Mulutmu harimaumu
Tweet Share Share Share Share Share

Entah Zaman Apa Sekarang Ini
sutratenriawaru

Entah zaman apa sekarang ini, negara identik dengan kebungkaman..

Entah zaman apa sekarang ini, negara penuh dengan tikus tikus berdasi..

Entah zaman apa sekarang ini, negara tidak lagi memerhatikan keadilan..

Entah zaman apa sekarang ini,semuanya hanya berceritakan tentang uang dan uang, mereka yang tak memiliki harta yang cukup hanya menganga dan semakin tertindas..

Entah zaman apa sekarang ini,dimana pemegang jabatan merasa memiliki hak untuk semuanya, bekerjapun tak akan lulus jika bukan orang dalam yang mengurus..

Entah zaman apa sekarang ini,semua orang berkuasa menghalalkan segala cara untuk tetap menjabat..

Haaa...pusing, pusing, pusing..
Tweet Share Share Share Share Share

LEPAS
sutratenriawaru

Sesuatu yang lepas tak mungkin kembali utuh seperti dulu..

Sesuatu yang lepas tak mungkin bisa kembali lagi..

Sesuatu yang lepas akan terus lenyap, akan terus hilang sampai lepas tak tau arah untuk kembali utuh..

Tapi, tapi orang yang ditinggalkan akan lepas, masih merasa bahwa lepas masih bersama dan tak akan pernah pergi..

Sulit yah, mengembalikan sesuatu yang lepas, bahkan ketika kukejarpun, lepas tak akan menunjukkan wujudnya karna lepas telah pergi dan mustahil untuk bisa kembali lagi dengan utuh..
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Mahasiswa merupakan kaum intelektual dan sebagai tulang punggung bangsa ini. Di era milineal ini sebagian besar mahasiswa apatis terhadap sumpahnya sendiri.

Fakta di lapangan mahasiswa lebih memilih diam tak berorganisasi walaupun ikut berorganisasi tetapi hanya ikut ikutan namun tak berpartisipasi dalam perubahan bangsa ini.

Dalam sumpah mahasiswa poin pertama mengatakan kami mahasiswa Indonesia bersumpah bertanah air satu tanah air tanpa penindasan. Dengan melihat realitas saat ini,masih banyak terjadi penindasan di bangsa yang tercinta ini,Namun sebagian besar mahasiswa lebih memilih diam dan mengikuti arus kaum Borjuis yang monopoli SDA dengan menerapkan sistem kapitalisme nya.

Poin kedua sumpah mahasiswa yaitu bersumpah berbangsa satu bangsa yang takluk terhadap keadilan,Namun fakta di lapangan masih banyak ketidak Adilan di negeri ini,kita bisa melihat hukum tumpul keatas tetapi tajam kebawah. Fakta nya para koruptor di potong masa tahanannya bahkan bisa mengikuti calon legislatif padahal mereka sudah menipu jutaan rakyat,entah apa yang dipermainkan sehingga melakukan itu.

Mari berpikir logis seorang nenek mencuri makanan demi kebutuhan nya tetap saja dihukum. Tetapi perlu kita ketahui historis pencurian makanan tersebut, karena disini ketidakadilan nya para penguasa sehingga masih banyak rakyat miskin kota yang kelaparan. Dimana peran mahasiswa dalam melihat kondisi ini?

Poin ketiga mahasiswa bersumpah bahasa tanpa kebohongan. Mari melihat sebagian mahasiswa tidak berani menyuarakan kebenaran, entah apa alasannya. Namun itu merupakan penghianatan terhadap pendahulu kita yang rela mati demi kebenaran.

Wahai mahasiswa ayo bangkit dari tidurmu jangan biarkan kaum intelektual terlena dengan kondisi sekarang bahkan jangan bersikap apatis atau hipokrit.

"Manusia yang paling mulia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya"

Penulis : Sudirman
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Pentingnya membangun partisipasi masyarakat dalam membangun kampung/ Mungkinkah pemuda kembali ke Kampung.

Secara sederhana konsep partisipasi terkait
Dengan keterlibatan suatu pihak dalam suatu kegiatan. Selama ini tingkat partisipasi masyarakat tetap dipertahankan Sampai saat ini, misal sifat gotong royong (aseddi sedding)
Saya selaku pemuda desa tompobulu mengapresiasi kepada Tokoh masyarakat, toko pemuda, tokoh adat dan tokoh wanita Atas kontribusinya dalam meningkatkan persatuan Dan kesatuan dikampung kami. 
Sehingga sampai saat ini masih dapat dipertahankan. Jadi sedikit harapan saya kepada pera pemuda yang sudah kuliah diluar (kota) dan Dari ilmu yg didapatkan di bangku kuliah dapat berguna dan bermanfaat bagi masyarakat.
Walaupun euforia terhadap kota memang tak dapat dihindari. Namun bagi saya tempat yang terbaik bagi mereka itu adalah kembali ke Desa, kenapa! Karena di Desa banyak peluang usaha yang belum diketahui masyarakat adapun peluang dibidang yang lain yang belum sama sekali tersentuh. Jadi harapan satu satunya adalah ada pada pemuda untuk menciptakan suasana baru.

Penulis: Rustan Ansar
Tweet Share Share Share Share Share

Perubahan
Sutra tenri awaru

Hidup adalah serangkaian kata yang mempunyai arti.
Kata yang disusun sehingga menjadi kalimat, begitu juga kehidupan.

Terkadang terjatuh adalah hal yang paling ditakuti kenapa tidak? Terjatuh adalah masalah bagi mereka yang tak tau definisi dari bangkit dan lemah akan kondisi. Namun terjatuh juga bisa menjadi sebuah alasan untuk kembali ke kehidupan.

Aku tak punya alasan untuk menyerah, karna hidup tak butuh orang orang yang cengeng, tak peduli dengan rengekan rengekan palsu. Manusia bisa dikatakan dewasa jika telah memiliki masalah, dan diuji dengan kesabaran yang dimilikinya, terkadang air mata adalah hal terpenting yang menemani masa lalu yang begitu kelam. Tetapi air mata tidak akan membuat kita menemukan jalan yang kita cari.

Bangkitlah!
Lalu berjalan kedepan namun jangan melupakan masa lalu.
Angkatlah kepalamu namun jangan lupa untuk tunduk kepada sang Pemberi Hidup.
Tertawalah tetapi jangan sampai air matamu habis.
Tweet Share Share Share Share Share

Pengabdian Yang Tiada Arti
(Andika Putra)

Semangat membara di pagi hari, sepercik asa dan sesuap nasi, sedekah tenaga sepanjang hari, berharap pengorbanan tak berbuah mimpi.

Tapi sungguh malang hati, yang dinanti tak lagi berarti, rupanya mimpi sudah basi, yang ditunggu tak kunjung menghampiri.

Ijinkan kami bertanya lagi, kapan penguasa memperhatikan kami ?, sungguh nelangsa hati, berpuluh-puluh tahun kami mengabdi lalu mengapa engkau tak mengakui.

Jangankan mengangkat kami, melirik pun kau tak peduli, apakah kau pikir kami bukan warga negeri ini, atau memang tidak ada guna bagi pengabdian kami.

Jangan paksa kami berteriak GANTI, jangan paksa kami memberontak lagi, berikan ruang untuk kami, hargai pengorbanan kami, beri pengakuan akan pengabdian kami.

Hey.... apakah mungkin matamu buta dan telingamu tuli, kami marah pun kau tak peduli, lagi-lagi hanya janji agar dipilih lagi, kelak suara bukan untukmu lagi sebab kau tak pernah memihak kami.
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Mahasiswa tidak boleh gondrong, atau mahasiswa gondrong tidak boleh masuk ruangan mengukuti proses pembelajaran. Menurut saya, hal tersebut adalah merupakan pembungkaman demokrasi dalam hal ini pembatasan berekspresi secara tidak langsung. Sebab kampus merupakan lalulintas argumen, pengkajian dan pertarungan gagasan-gagasan ilmiah, bukan memprioritaskan pada pengatur berpenampilan.

Tapi oleh berbagai isu aturan kampus yang beredar. Maka kini beberapa kampus telah berubah menjadi pengatur berekspresi, menjelma wujud seperti kantor pelayanan jasa.

Secara pribadi saya merasa larangan gondrong itu hal yang wajar, kalau saja apa yang diberikan Perguruan Tinggi kepada mahasiswa betul-betul seperti yang diharapkan yaitu, kecerdasan yang mumpuni. Lalu siapa yang bisa menjamin?

Saya harap tidak akan ada jaminan akan hal itu, jadi membatasi mahasiswa berpenampilan dalam hal ini melarang gondrong pun juga merupakan pembatasan berekspresi. Dimana tidak ada kaitannya dengan intelektual, sementara yang paling penting dalam kampus adalah kualitas mahasiswanya yang bermutu.

Saya kuliah di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, lantaran rambut gondrong pun juga dinilai sebagai salah satu penampilan yang tidak mencerminkan diri sebagai mahasiswa yang santun. Dan penilaian itu, sangat keliru menurut saya.

Tuhan pun yang nyatanya sebagai pemilik alam semesta beserta isinya, hanya menilai hamba-hambanya dari tingkat keimanan. Keimanan adalah parameter kualitas manusia di hadapan Tuhan, sementara penampilan adalah mutlak bukan cerminan dari otak apalagi hati.

Hal itulah yang membuat saya penasaran, kenapa gondrong ini, dan bagaimana implikasinya? Toh menurut ustadz yang pernah saya dengar, Rasul saja memiliki rambut panjang di atas ukuran rata-rata rambut zaman sekarang. Apalagi saya kuliahnya di kampus yang meneladani Rasul yakni Muhammadiyah.

Tentu kita akan kaget, kalau tiba-tiba ada pernyataan yang keluar dari kampus bahwa mahasiswa yang berambut gondrong tidak boleh lagi masuk kampus. Maka spontan kita akan bertanya-tanya pada diri sendiri dan akan menganggap bahwa rambut adalah bagian dari kecerdasan, atau rambut mempengaruhi pola pikir manusia.

Dalam dunia akademis (mahasiswa) tentu saja tidak akan membenarkan tindakan yang hanya menilai sempul sebagai esensi dari segala sesuatu.

Menurut saya, sejatinya Kampus adalah sarana transformasi ilmu pengetahuan. Mengalir seperti air jernih untuk menyuburkan tanaman-tanaman yang kelak akan menghidupi manusia, bukan tempat menampilkan gaya kantoran yang serba mengkilap dengan rambut tersisir rapi lantaran kosong tak bermakna.

Di beberapa kampus mungkin sudah diterapkan aturan itu, dimana mahasiswa tidak boleh gondrong. Entah karena jelek atau mengganggu pemandangan, yang pasti hal tersebut bukan pula jaminan akan kecerdasan hingga selesai di suatu kampus.

Saya sendiri kuliah di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah, di sebuah kabupaten di pelosok negeri Indonesia ini. Dan beberapa pekan sebelumnya telah beredar isu kalau akan diterapkan pula aturan, yakni mahasiswa tidak lagi boleh gondrong di kampus tempat saya menimba ilmu.

Paling miris adalah informasi bahwa salah satu mahasiswa di kampusku tidak diizinkan lagi mengikuti salah satu mata kuliah karena berambut gondrong.

Sungguh ironi tindakan tersebut, bila benar diterapkan. Sebab, tempat yang dinobatkan sebagai pencerdasan kehidupan bangsa telah nampak menjadi, ibarat tempat seleksi artis atau model yang dimana (style) harus ditata dengan sangat rapi.

Padahal kalau kita menyelisik sedikit, dalam sejarah kehidupan saya. Belum pernah saya temui orang gondrong yang selepas kuliah dan tetap semrawut lantaran korupsi, yang ada adalah justru orang-orang tampil rapilah yang cenderung melakukan korupsi.

Jadi, kuncinya. Rambut bukan cerminam dari hati, bukan parameter intelektual, tapi lebih kepada seni (fashion) kesederhanaan. Sebab itulah inti dari beragam jawaban teman tentang rambut gondrong saat saya luangkan pertanyaan.

Sekali lagi saya tekankan, bahwa rambut tidak ada sangkut-pautnya dengan kemampuan berpikir secara akal sehat. Mari berambut panjang bagi yang mau, asal rapi. Toh, kita tidak menindas terlebih merampas hak orang lain.

Author: Burhan SJ
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Tidak terasa penerimaan CPNS sebentar lagi akan dilaksanakan baik tingkat daerah maupun tingkat pusat, meski belum jelas kapan jadwal pasti akan diselenggarakan namun saat ini sudah banyak info yang beredar terkait jutaan peserta yang akan mengikuti tes menjadi abdi negara.

Menjadi abdi negara adalah hal yang luar biasa dan diimpikan banyak orang. Maka tidak heran ketika info pendaftaran cpns mulai dibuka menjadi trending pencarian pertama di mesin pencari google.

Tidak hanya di internet, info cpns menjadi topik utama pembicaraan disetiap sudut kota maupun pelosok baik kaum ibu maupun bapak-bapak.

Menjelang pendaftaran cpns, banyak putra putri yang berada di luar daerahnya yang mendaftarkan diri sebagai cpns di tanah kelahirannya. Katanya sih, kalau diterima sekalian pulang kampung.

Menurut saya sih itu sah-sah saja, pasalnya menjadi abdi negara adalah pekerjaan mulia yaitu mengabdikan diri pada negara dan bangsa. Maka tidak heran ketika menjelang pendaftaran banyak orang yang rela meninggalkan pekerjaannya saat ini demi menjadi CPNS.

Namun ada beberapa hal yang kadang tidak diketahui oleh calon pelamar CPNS bahwa apa yang dipikirkan terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Salah satunya adalah tugas seorang PNS yang terkadang mengharuskannya lembur bahkan meskipun hari libur mereka terkadang harus bekerja.

Selain itu, belum lagi ketika harus terpisah dengan keluarga karena ditempatkan di daerah yang terpencil bahkan akses teknologi dan transportasi yang sangat terbatas.

Banyak yang kemudian berpikiran "terangkat jadi PNS aja dulu, urusan penempatan kan nantinya bisa minta pindah" namun perlu diketahui bahwa permohonan untuk pindah bisa saja baru akan terkabul setelah mengabdi puluhan tahun.

Salah satu cara mengatasi masalah penempatan maka setiap pelamar harus pandai memilih instansi yang tepat dan tidak beresiko pada penempatan. Mendaftar di kampung halaman sendiri adalah cara yang tepat untuk menghindari masalah penempatan.

Sebab akan sangat disayangkan ketika berhasil menyandang status PNS namun akhirnya mengundurkan diri hanya karena persoalan sedemikian itu, mengingat betapa susahnya menjadi PNS karena harus bersaing dengan jutaan pendaftar pada posisi yang sama ditawarkan.
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Pertambahan permukiman dan perubahan pola konsumsi masyarakat Sinjai menimbulkan bertambahnya volume, jenis, dan karakteristik sampah yang semakin beragam.

Sampah telah menjadi permasalahan sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir, agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat.

Komponen biaya terbesar dalam pengelolaan sampah adalah penyediaan dan pengoperasian alat-alat berat dan alat-alat angkut persampahan, mulai dari biaya pembelian, pengoperasian termasuk gaji operator, bahan bakar, daln lain-lain, perlu diperhatikan.

Dari sisi lain, kesehatan perlu diperhatikan kepada petugas yang mengambil sampah dari tempat-tempat umum maupun dari masyarakat.

Petugas kebersihan adalah pekerja yang mulia dan perlu diperhatikan dari segi upah dan kesehatan.

Author : Muhlis Hajar Adiputra S. Sos., M.Si
Dosen STISIP Muhammadiyah Sinjai, Alummni Pasca UNHAS Makassar, jurusan Administrasi Pembangunan.
Tweet Share Share Share Share Share

Aku Malu Dengan Hijabku
Veni Asyifa Tunnisa

Langit hitam bertarung keras diperaduannya, memekakan telinga, memaksa diri untuk siuman dari mati malam

Membuat langkah menuju pintu yang teranggap terang

Air sengaja jernih untuk mengalir
Ku ambil dengan berjatuhannya air mata

Ku wudhukan dengan rasa maluku
Ku bersihkan dengan rasa takut Ku

Aku hanyalah wanita pendosa yang sedang berjalan menghapus dosa

Aku hanyalah wanita yang selalu ingkar dengan janji

Aku hanyalah wanita yang cantik namun hati yang terlampau picik

Aku hanyalah wanita bertopeng yang sedang membersihkan hati

Aku malu dengan hijabku yang panjang
Aku malu dengan pakaianku yang syar'i
Aku malu dengan shalatku disepanjang waktu
Yang selalu kau salahkan

Ku mohon mengertilah, aku bukan malaikat yang tiada dosa
Aku hanya wanita yang sekarang sedang berusaha memperbaiki diri
Jika ada sifatku yang buruk
Maka jangan salahkan hijabku
Salahkan diriku dan tegurlah aku dengan kelembutan.
Tweet Share Share Share Share Share

KHIANAT
sutratenriawaru

Kau berkhianat lagi ke dua kalinya..
Kau pergi dengan janji yang bergantung di bibir tipismu..
Kau pergi dengan ketamakan hatimu..

Oh elegi...inginku menikam sepi,inginku teriak,aku papah dengan keluhku..Aku menjerit kesakitan predator Cinta merajamku,menikamku berpuluh puluh kali..

Aku seperti orang yang sempoyongan,seperti makhluk yang kehilangan arah..

Kau begitu brengsek tuan,bahkan aku rela menunggu dengan setia,bahkan aku rela bertemankan sepi hanya untuk menunggu cinta sucimu tuan..

Tapi kau brengsek kau membuatku nelangsa setengah mati,kau menghidupkan cintaku kau menumbuhkan harapku dan kau juga yang membuatku tak percaya tentang bangunan mistis yang kesebut CINTA.
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Menganalisa sejarah dan fakta yang ada, dari tahun 1945 hingga sekarang, bangsa ini yang katanya merdeka namun realitasnya masih terjajah, bangsa ini tetap menjadi budak di tanahnya sendiri, menjadi boneka dari kekuasaan modal dan sistem sosial dan politik pemerintahan yang tidak adil.

Sistem modern yang tidak memerdekaan bangsanya, sistem ekonomi politik yang menghamba pada kekuasaan modal global dari imperialis modern yang melestarikan sistem oligarki kekuasaan yang menguntungkan segelintir orang.

Merdeka yang sejati ialah mereka 100%, dimana terbangunnya sistem sosial, ekonomi dan politik yang memastikan keadilan bersama dalam kehidupan bersama baik di komunitas dan sistem masyarakat dalam organisasi negara dicapai.

Merdeka ketika setiap individu tidak berpikir dan bertindak untuk dirinya sendiri, tapi mau berbagi dan berkontribusi untuk orang lain, komunitas dan masyarakat luas tanpa paksaan dan tekanan siapapun, sehingga terbangun sistem dan tatanan kehidupan bersama yang adil dan makmur dalam berbagai skala kehidupan.

Namun, Kemerdekaan 100% yang impikan oleh rakyat Indonesia saat ini hanya sampai didepan pintu gerbang nusantara. Sama halnya yang dirasakan oleh kaum petani saat ini, terkhusus di kabupaten Sinjai, provinsi Sulawesi Selatan.

Disisi lain, jumlah petani yang kian hari menyusut drastis, lalu pengurangan itu pun sejalan dengan berkurangnya lahan, karena lahan pertanian dirampas oleh mereka para kaum rakus yang mengatasnamakan dirinya pelindung, dari kestabilan ekonomi rakyat.

Kaum rakus ini akrabnya disebut petani berdasi yang tak pernah kenal lumpur, cangkul dan kerbau sejarah menamainya feodalisme, namun kini petani inilah yang kini menjadi penguasa lahan, mereka juga menguasai tenaga orang lain untuk dijadikan buruh lahan milik mereka yang dirampasnya.

Sadar tidak, kalau petani berdasi inilah yang kemudian akan mencuri tanah-tanah orang kecil secara terus-menerus tanpa kenal bahasa kasihan. Sadar tidak, kini artinya masalah petani bukan cuma sekedar kemarau, modal dan hama, namun juga ada petani berdasi yang hidup karena ditopang oleh rakyat kecil.


Apakah kalian masih sadar, kalau hari esok petani-petani ini akan jadi buruh dilahan mereka sendiri, jadi budak tuan feodal. Karena itu, abaikanlah debat soal pilkada, pilcaleg, pilgub dan pil-pil lainnya, serta segala macam yang tak berguna, sebab kelak hanya dapat membuat kesengsaraan besar bagi petani.

Lupakanlah dan berusahalah merdeka diatas kaki kalian sendiri para buruh dan tani, sebab pemimpin-pemimpin besar hari ini dengan mulut busuknya yang hanya pandai menebar wacana pembodohan, dan menanam kebusukan, itulah iblis musuh para manusia yang sadar akan kehidupan, yang senantiasa mengimingi dunia yang berwujud taman-taman surga

Abaikan pulalah soal sekelompok mahasiswa yang isi kepalanya hanya berisi krikil-krikil dangkal, ricuh tak bernuangsa perjuangan.

Mari ngopi ke petani, sadarkan mereka kalau tanah-tanah itu akan dirampas para kaum bejat berdasi, dan sadarkan juga kalau persatuan adalah awal tumbuhnya benih-benih subur kemerdekaan.

Author: Syukri
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Karena gagal paham, saya ingin tahu, untuk itu, belajar adalah solusinya. Guna mengelabui kebodohan, maka ilmu pengetahuan itu diharuskan. Bahkan sejarah dunia adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan. Dipelajari di setiap ruang dan segala waktu. Hingga akhirnya ilmu pengetahuan menjadi begitu penting, bahkan terasa mutlak tuk digapai.

Pengetahuan dapat diraih lewat berbagai cara terutama pendidikan formal, walau pengetahuan yang diraih dari bangku formal tak menjamin kedamaian dan ketenangan. Tapi pengetahuan telah menjadi keharusan pada tiap-tiap insan. Meski ilmu pengetahuan di negeri ini kurang lebih sisa-sisa peninggalan Eropa seperti digambarkan Pram dalam berbagai karyanya, namun itu tetap mesti kita pelajari.

Lingkungan menciptakan isu bahwa orang tak boleh bodoh, atau semua manusia harus pandai. Oleh karena itu, dibuatkan sekolah atau pendidikan formal. Seolah pendidikan formal adalah parameter kesejahteraan rakyat.

Dari berbagai inspirasi tersebut akhirnya memicu para generasi tuk masuk ke dalam satu sistem kapital yang belakangan disebut pendidikan gratis. Beragam warna terlibat dengan tujuan yang bermacam-macam, namun didominasi watak pekerja, tentunya.

Kerja adalah upaya manusia tuk menghasilkan, agar dapat makan dan bertahan hidup. Tapi bagaimana dunia kerja dalam persepsi kaum muda hari ini?. Tentu tak lepas dari negara, sebab kita hidup dalam negara yang secara administratif disebut Indonesia.

Kalau Pramoedya Ananta Toer menilai, pekerjaan yang paling baik adalah tanpa bertentangan dengan nurani, atau pekerjaan yang di dalamnya kemerdekaan tetap dinikmati, “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri” katanya dengan jelas dalam tetralogi Bumi Manusia.

Bagi Pram, kerja merupakan salah satu keharusan yang mesti dilakukan manusia, tapi ia juga mencela kerja-kerja yang bertentangan dengan kemanusiaan. “Mendapat upah kerena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu dalam seni namanya pelacuran?” jelasnya.

Tentunya pandangan tersebut menuai kontroversi bagi mereka yang tersinggung, atau mereka yang larut dalam jebakan sistem dan tak mampu bangkit menentang penindasan dalam bentuk yang paling tak kasat mata serta tak langsung berefek.

Negeri ini nyaris didominasi orang-orang pintar, tapi tak punya nyali. Pintar karena mengetahui hampir semua hal, tapi ciut mengungkap fakta-fakta yang ditemuinya bila bertentangan dengan penguasa. Dan itu merupakan kegagalan ilmu pengetahuan, sebab terbungkam oleh intervensi lingkungan.

Seharusnya, orang-orang yang pandai, cerdas, genius atau dengan sebutan lain harus punya keberanian. Seharusnya kita punya prinsip, berani tahu, berani berbuat dan siap bertanggung jawab. Namun sejauh ini, konsep demikian masih sebatas ilusi. Hal itu terjadi, bukan tanpa alasan. Tetapi justru tak pernah kehabisan alasan, mulai dari ekonomi, sosial dan budaya hingga alasan yang paling terpaksa harus dirasionalkan.

Meskipun sangat dijamin oleh negara dalam konstitusi Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 31 ayat (3) dan (4), menegaskan bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk mengusahakan penyelenggaraan pengajaran nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memprioritaskan anggaran sekurang-kurangnya 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Negara benar telah menjamin, tetapi apakah faktanya juga nyata adanya?. Di kampus misalnya, yang semula diharapkan menjadi mesin pencetak Intelligence Quotient (IQ). Tapi faktanya berbagai kebijakan mendiskriminasi rakyat kecil, kemiskinan meningkat, koruptor dan sebagainya terjadi begitu saja, kampus diam saja. Atau karena sudah banyak tenaga pengajar yang melepas esensinya dan berubah jadi politisi?. Mungkin jawbnya ada di atas sana, seperti lagu Ebiet G Ade.

Jika kampus tak lagi menjamin kecerdasan, terlebih peka pada kondisi sosial. Disebabkan karena tenaga pengajarnya tak lagi netral, gagasan-gagasannya sudah dirasuki watak politikus, atau pemikirannya sudah terhegemoni uang, maka hancurlah negeri ini dalam jangka waktu yang tak ditentukan.

Belum lagi, jutaan mahasiswa yang selesai setiap saat. tak ada pekerjaan yang disiapkan pemerintah. mau kemana mereka?. Silahkan jawab pemirsa.

Bila itu dibiarkan maka wajar saja, para aktivis yang dulunya tak kenal senior atau kerabat, asal bersalah diteriaki. Kini menjelma wujud dan justru mendukung perlakuan-perlakuan elit yang memiskinkan itu, bahkan justru mereka pun kadang menjadi pelaku, dengan mengatas namakan perut. BULL—SHITT!!!

Sejauh yang saya amati dan bisa dimengerti, nilai manusia bukanlah pada siapa yang cerdas, tapi siapa yang bisa mempertahankan kejujurannya, selebihnya adalah mereka yang punya setumpuk uang kertas.

Lalu, apa yang bisa dibanggakan kecuali dua hal, pertama senyum termanis desain Tuhan dari sosok misterius di kedai kopi beberapa malam lalu, kedua aroma kopi yang senantiasa mengajak betah duduk lama-lama bersama pekatnya ampas.

Author: Burhan SJ
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa dan Desa Adat yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota dan digunakan  untuk membiayai penyelenggaran pemerintahan, pembangunan, serta pemberdayaan masyarakat, dan kemasyarakatan.

Fokus penting dari penyaluran dana ini lebih terkait pada implementasi pengalokasian Dana Desa agar bisa sesempurna gagasan para inisiatornya.

Skenario awal Dana Desa ini diberikan dengan mengganti program pemerintah yang dulunya disebut PNPM, namun dengan berlakunya Dana Desa ini, dapat menutup kesempatan beberapa pihak asing untuk menyalurkan dana ke daerah di  Indonesia dengan program-program yang  sebenarnya juga dapat menjadi  pemicu pembangunan daerah.

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Pemerintah mengalokasikan Dana Desa, melalui mekanisme transfer kepada Kabupaten/Kota.

Berdasarkan alokasi dana tersebut, maka tiap Kabupaten/kota mengalokasikannya kepada setiap desa berdasarkan jumlah desa dengan  memperhatikan jumlah penduduk (30%), luas  wilayah (20%), dan angka kemiskinan (50%).

Hasil perhitungan tersebut disesuaikan juga dengan tingkat kesulitan geografis masing-masing desa. Alokasi anggaran sebagaimana dimaksud diatas, bersumber dari Belanja Pusat dengan mengefektifkan program yang berbasis desa secara merata dan berkeadilan.

Besaran alokasi anggaran yang peruntukannya  langsung ke desa ditentukan 10% (sepuluh perseratus) dari dan di luar dana Transfer Daerah (on top) secara bertahap.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa Yang Bersumber dari APBN, dengan luasnya lingkup kewenangan Desa dan dalam rangka mengoptimalkan penggunaan  Dana  Desa, maka penggunaan Dana Desa  diprioritaskan untuk membiayai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. Penetapan prioritas penggunaan dana tersebut tetap sejalan  dengan kewenangan yang menjadi tanggungjawab desa.

Segelintir orang berasumsi bahwa mungkin masih terjadi ketimpangan dan penyalahgunaan dalam alokasi dana desa. Guna meminimalisasi penyeleweangan ditingkat desa, diperlukan mekanisme kontrol dari masyarakat untuk mengawasi penggunaan dana desa ini, agar dana tersebut sesuai dengan peruntukannya meningkatkan pembangunan di desa.

Pemerintahan desa dituntut agar lebih akuntabel, yang didukung dengan sistem pengawasan dan keseimbangan antara pemerintah desa dan lembaga desa, terutama Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dalam kedudukannya mempunyai fungsi penting dalam menyiapkan kebijakan pemerintahan desa bersama kepala desa.

Adanya kewenangan tambahan bagi BPD untuk melakukan pengawasan terhadap kinerja kepala desa, harus dijalankan sungguh-sungguh sebagai representasi dari masyarakat desa, khususnya dalam hal penggunaan keuangan desa. Dalam pengalokasian dana desa tersebut diperlukan fungsi BPD sebagai pengawas agar dana tersebut tersalurkan untuk kepentingan pembangunan di desa dan pemberdayaan di Desa.

Pengawasan yang dijalankan oleh BPD terhadap pemakaian anggaran desa dilakukan dengan melihat rencana awal program dengan realisasi pelaksanaannya. Kesesuaian antara rencana program dengan realisasi program dan pelaksanaannya serta besarnya dana yang digunakan dalam pembiayaannya adalah ukuran yang dijadikan patokan BPD dalam melakukan pengawasan. Selama pelaksanaan program pemerintah dan pemakaian dana desa sesuai dengan rencana, maka BPD mengangapnya tidak menjadi masalah.

Di sisi lain, transparansi penggunaan dana desa harus benar-benar dijalankan. Dengan adanya UU No. 14 tahun 2008, tentang Keterbukaan Informasi Publik, setiap orang berhak untuk meminta informasi terkait penggunaan anggaran, salah satunya penggunaan dana desa.

Dengan demikian, penggunaan dana desa bisa diawasi oleh masyarakat, agar dana desa tersebut benar-benar digunakan untuk meningkatkan pelayanan publik di desa. Dan bila memungkinkan perlu juga dibuat posko-posko pengaduan di setiap desa.

Dengan adanya posko pengaduan tersebut, masyarakat bisa ikut mengawasi dana desa. Jika ada penyimpangan bisa langsung melaporkannya melalui posko tersebut.

Pemerintah juga perlu melakukan pembinaan serta pengawasan jalannya pemerintahan di desa melalui pendelegasian pembinaan dan pengawasannya kepada pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota.

Pembinaan dan pengawasan tersebut bisa dilakukan dengan cara melakukan pengawasan dalam penetapan anggaran, evaluasi anggaran dan pertanggungjawaban anggaran, melakukan pendampingan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan pembangunan desa, melakukan peningkatan kapasitas kepala desa, perangkat desa, dan BPD serta memberikan sanksi atas penyimpangan yang dilakukan oleh kepala desa.

Karena dana yang dikelola begitu besar, maka penting bagi kepala desa untuk membekali diri dengan keterampilan mengelola keuangan, membuat pembukuan yang baik, akuntabel dan transparan.

Meskipun penggunaan anggaran dana desa mendapat kontrol yang ketat dari masyarakat, tidak semestinya kepala desa dan perangkat desa merasa takut menggunakan dana desa. Sebab, aparat penegak hukum (Kepolisian dan Kejaksaan) tidak akan melakukan kriminalisasi terhadap kepala desa yang memakai dana desa bila dana desa itu dipakai dan disalurkan dengan benar.

Oleh karena itu, kepala desa, perangkat desa, lembaga yang ada di desa, serta masyakat desa harus menyadari bahwa saatnya desa membangun, bukan lagi membangun desa.

Akhirnya, kita semua berharap, kucuran dana desa ini mampu dimanfaatkan sebaik-baiknya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa di seluruh tanah air, khususnya masyarakat pedesaan di Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan.

Seperti lirik lagu Iwan Fals, “Desa harus jadi kekuatan ekonomi agar warganya tak hijrah ke kota. Sepinya desa adalah modal utama untuk bekerja dan mengembangkan diri. Walau lahan sudah menjadi milik kota, bukan berarti desa lemah tak berdaya. Desa adalah kekuatan sejati. Negara harus berpihak pada para petani”.

Penulis : Syukri
Tweet Share Share Share Share Share

Demokrasi Melankolis
(Andika Putra)

Disaat aku belajar kritis menghilangkan sifat emosionalis mengkritik dengan rasionalis agar hidup tenang dan harmonis.

Tumbuhkan semangat dengan intelektualis membedah masalah dengan logis menangkap perampok berwatak bengis agar hidup tak jadi pengemis.

Bebaskan Aku dari tipu gerombolan misionaris yang hilang rasa malu dan moralis, tampil di TV layaknya selebritis berpidato dan berceramah layaknya manusia islamis.

Aku memang bukan kaum agamis, atau kumpulan para akademis, atau golongan para intelektualis, aku rakyat biasa yang belajar kritis, yang sering lapar haus namun tak ingin mengemis.

Aku mohon jangan lagi membuat demokrasi menangis, lantaran merubahnya jadi melankolis, waktunya derita diberantas habis, agar kemiskinan semakin menipis.

Di ujung sana perampok rakyat melirik dengan sinis, tersenyum dengan wajah bengis, Aku menangis tak pernah digubris walau teriris harus tetap optimis, berharap tak lagi ada sok pancasilais dan nasionalis.

Aku bukan manusia yang hedonis, karenanya aku tak pernah mengemis, akupun bukan manusia sekularis, karenanya tak ingin di pecah karena isu agamis.

Aku sudah bosan suasana dramatis, visi misi sekedar simbolis tanpa realisasi yang manis, jangan buat tangis demokrasi semakin kronis, jangan memintaku menjadi anarkis, sebab hidupku cukup humanis, hapuskan saja kemiskinan hingga habis, agar kulukis sejarah hidup yang lebih manis.
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Salah satu visi misi Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla adalah mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Kebijakan impor beras sendiri bertolak belakang dengan upaya janji Jokowi-JK akan mewujudkan kedaulatan pangan melalui kebijakan perbaikan irigasi rusak dan jaringan irigasi di 3 juta hektar sawah, 1 juta hektar lahan sawah baru di luar jawa, pendirian bank petani dan UMKM, gudang dengan fasilitas pengolahan pasca panen ditiap sentra produksi.

Ataukah definisi dari upaya tersebut diartikan sebagai Impor? Jika kiranya Pemerintah telah menjalankan program cetak sawah untuk mendukung peningkatan produksi pangan, kenapa hingga hari ini masih melakukan Impor? sedangkan data lahan sawah pada tahun 2013 secara spasial terdapat 7.750 juta Ha. Apakah lahan sebesar ini sudah tergerus Habis dalam program nawacita sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan? Justru Yang terjadi dilapangan saat ini, lahan sawah yang semakin berkurang dengan adanya alih fungsi lahan pertanian terhadap pembangunan.

Rata-rata alih fungsi lahan pertahun mencapai 150 ribu hingga 200 ribu Ha. Dimana keberpihakan pemerintah terhadap kedaulatan pangan?

Dalam UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, di Pasal 19 dapat diartikan LP2B merupakan bagian dari penetapan Rencana Detil Tata Ruang (RDTR).

RDTR ini menjadi dasar penetapan lahan prioritas untuk membuka sawah-sawah baru dan sentra komoditas pertanian baru. Apakah kebijakan ini tidak dijalankan oleh pemerintah ataukah kebijakan ini sudah kotak-katik? Kebijakan Impor beras mungkin saja bagian dari proyek janji-janji dari kepentingan politik. Kenapa? Karena hingga hari ini penjelasan mengenai teknis impor beras belum juga ada penjelasan dari Kemendag terhadap Bulog. Beras diambil darimana dan berapa per-Kgnya. Ini kan tidak ada transparansi. Hal ini kan meyakinkan kita bahwa ada Mafia dibalik kebijakan Impor Beras.

Penulis : Saiful Hasan
Tweet Share Share Share Share Share

Bedamu dan bedaku sulit untuk ditafsirkan
sutratenriawaru

Malam menjadi bisu
Begitupun dirimu
Aku tidak masalah
Karena itu kamu.


Menitipkan sedikit senyumku pada diam kita. Kau tetap terfokus pada bisu.

Kau selalu saja menjadi orang yang bisu,ketika ku tengahdahkan mataku kepadamu. Kau begitu jauh ketika aku ingin memprovokasimu untuk bersua dan menyukai keramaian.
Aku ingin membuatmu tak lagi membisu,aku ingin kau memperlihatkanku senyum manis itu. Tapi tak masalah juga kalau kau tak bisa,Sebab itu kau!


Aku adalah kau yang kutemukan ditengah keramaian yang tidak menghargai arti keberadaan dan kemudian kau dan aku menjadi kita yang menciptakan kebaradaan diantara ketiadaan dalam bisu.

Akhirnya kau dan akupun,menjadi makhluk aneh yang tak saling mengenal,bahkan merindukan aku saja kau enggan.itulah kamu yang selalu ingin berbeda,dan bedamu itulah yang tak bisa ku tafsirkan !
Tweet Share Share Share Share Share

Penikmat Kopi Ketiga
Jaboel

Setiap hentakan nafas ku hanya bertasbih
mengingat jiwa juga rupa mu
menghirup setiap nafas kopi terseduh dari jemari lentikmu
duduk menatap bintang berserakan
menyeruput kopi dalam ingatan
Jiwa ku kurajut kembali
sambil mendangar curahan isi kepala juga hatimu

Inginku bersamamu di setiap hari-hari
Membuat kenangan lalu menertawai

Tapi...!

Semua angan itu bercerai lalu pergi seketika
Bagai angin membawa luka
Mungkin sebab orang ketiga
yang tak tau kasih cinta
Tweet Share Share Share Share Share

Ikhlasku Menjadi Doa Tulus Untukmu
Sabrina Bachtiar

Diriku kembali duduk bersimpuh di hadapanmu, Mengingat sakit yang pernah ku alami, Mengingat luka yang masih perih akibat goresan darimu, Diriku lemah ketika mengingatnya. Rapuh ketika terbayang. Seakan hanya dirimu orang yang terbaik.

Hari hari dirimu selalu bersamaku Namun tidak dengan sekarang. Semuanya terasa berbeda. Tawamu yang masih hangat terdengar menjadi sepi terbawa oleh angin. Teguranmu yang amat santun masih teringat ketika diriku salah.

Jujur, perpisahan ini sudah dua tahun silam, Namun bayangan dan senyuman manismu masih tersave rapi di benak dan khayalku, Semuanya masih sama. Diriku masih menyayangimu. Diriku masih gadis mungil yang sering kamu tegur dengan sentuhan kata yang lembut. Diriku rindu akan hal kecil itu

Yahh. Dia bukan kekasihku melaikan saudara ayah yang ku anggap seperti kakak kandung sendiri. Seorang pria titipan tuhan yang sangat ku rindukan.

Namun, tak bisa ku pungkiri. Semuanya sudah hilang. Jiwa yang perih ketika mengingatnya sangatlah rumit untuk beranjak pada langkah yang berbeda. Tak ingin mundurr melainkan kembali bersama.

Hanya kata ikhlas yang bisa mengubahnya. Hanya kata ikhlas yang mampu menggerakkan hidupku untuk melangkah..

Perlu kau ketahui.
Aku sangat menyayangimu
Tweet Share Share Share Share Share

Sebuah Titipan Rindu Dan Ucapan Maaf
Nur Wahidah

Aku mencoba untuk selalu menaikkan senyumku.
Terkadang tawa kecilmu selalu terbayang di fikiranku.
Kadang kala aku berfikir aku rindu.
Kadang kala aku ingin beranjak dari tempatku.

Caraku merindu berbeda.
Tidak seperti mereka yg mempamerkan rindunya.
Rinduku kusimpan hingga tak ku tau sudah seberapa besar.

Aku tau kau lebih rindu.
Egoku tak kau pedulikan.
Nakalku tak menjadi alasanmu untuk marah.
Tangisku menjadi hal yang kau ingin dengar setiap malam,sama seperti masa kecilku.

Maafkan aku yang selalu mengucap rindu namun tak mampu untuk bertemu.
Aku sangat sadar bahwa senyummu takkan selamanya kulihat.
Bahwa tatapanmu takkan selamanya menatapku.

Waktu akan memisahkan kita .
Aku yakin itu.
Tapi, untuk saat ini ,biarkan aku menabung rinduku dulu.
Tapi yakinlah aku akan pulang memelukmu dan menciummu.

maafkan aku ibuku sayang.
Dan terima kasih untuk semua yang rela kau berikan.
Apa yang kau berikan.
Selalu ku ambil semuanya. tapi,kau tak pernah marah.

Apa yang kuminta engkau selalu berikan .
Inilah alasanku merasa bersalah padamu ibuku.
Terkadang kau hanya menyuruhku pulang untuk sekedar tidur di kamar kecil kita.
Tapi alasan kesibukan selalu menjadi boom andalanku untuk tak pulang.

Tapi lagi-lagi kau hanya tersenyum dan mengucapkan doa.
Ibuku sayang.
Satu hal yang harus kau tau.
Aku masih tetap sama.
Aku masih putri kecilmu yang selalu rindu kau elus rambutnya.

ini janjiku ibu.
Aku akan pulang. Baik itu kau minta atau tidak,aku pasti akan pulang.
Dan besar harapanku kau akan selalu sehat hingga nanti masa tuamu akan hidup bersamaku.

Love You Mom
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Sebagaimana biasanya ILC yg di pimpin oleh bang Karni Ilyas selalu mengusung tema yang lagi hot sedikit kontroversial dan menjadi trending topik, bang Karni dengan gaya khasnya membawakan acara dengan santai tapi tegas serta memiliki kharisma tersendiri mengantarkan ILC ini menjadi salahsatu acara televisi yang paling diminati di seantero Republik ini.

Tema diskusi semalam membahas tentang pemilihan cawapres yg diwarnai dg aroma mahar politik & PHP menjadi magnet yang begitu luarbiasa apa lagi dihadiri langsung dengan sosok yang di persepsikan sebagai pihak pelaku pada tema diatas yakni Sandiaga Uno dan prof Mahfud MD, dari diskusi panjang semalam penulis menyimpulkan beberapa catatan kecil yang menjadi intisari penjelasan Prof Mahfud, antara lain sebagai berikut:

Pertama, bahwa benar Presiden tersandra permainan politik yang didalangi aktor-aktor partai koalisi yang mengusungnya. Presiden Jokowi tak cukup berani keluar dan melawan tekanan-tekanan itu. Pemilihan cawapres kemarin, misalnya, terbukti hanya merupakan hasil negosiasi politik dan kompromi saham elektoral belaka—tidak berpijak pada prinsip yang lebih punya visi kebangsaan dan mengedepankan kepentingan rakyat.

Kedua, rumor yang mengatakan bahwa ada ‘super-mentor’ di belakang presiden yang begitu kuat bisa menentukan dan mem-plot banyak hal rupanya benar. Aneka jabatan stretegis yang ditawarkan kepada banyak orang, termasuk jabatan menteri dan komisaris, bisa diatur-atur dan dirancang-rancang sedemikian rupa oleh sang ‘supervisor’ presiden ini. Ini sama sekali tidak bagus untuk bangunan negara dan pemerintahan kita, di mana presiden seharusnya merupakan orang dengan kekuasaan tertinggi—bukan petugas belaka.

Ketiga, kita harus bersedih mengetahui fakta bahwa ‘orang-orang politik’ dan ‘orang-orang partai’ di sekeliling presiden adalah orang-orang yang diragukan integritasnya—yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, partai atau golongannya belaka. Apalagi jika orang-orang ini kerap menunjukkan standar ganda bahkan hipokrisi dalam hal-hal yang paling prinsip sekalipun, termasuk kejujuran dan kesalehan.

Keempat, kesaksian Prof Mahfud memberi tahu kita bahwa yang sering menuduh orang lain melakukan politisasi agama sejatinya adalah mereka yang benar-benar melakukan politik agama. Pak Mahfud menampar secara keras orang-orang itu, membuka tirai penutup aibnya menjadi terang benderang di hadapan publik. Kita malu dan sakit mendengarnya.

Kelima, Pak Mahfud selalu menolak ketika dikatakan bahwa ia sakit hati, kecewa, bahkan sedih karena telah menjadi korban PHP. Persis seperti ketika ia memotong pernyataan Effendi Gazali sambil tersenyum dan mengatakan, “Saya tidak merasa di-PHP, Pak. Saya legowo aja, biasa.” Katanya. Benar, Pak Mahfud, Bapak memang tidak di-PHP, Bapak hanya kena prank Youtuber Istana!

Keenam, penunjukan kiyai ma'ruf sebagai cawapres membangun politik persepsi seolah-olah murni pilihan pak Jokowi yang nir intervensi dengan skenario pak Ma'ruf Amin tidak hadir pada acara deklarasi dan beberapa saat kemudian pak kiyai ma'ruf amin di wawancarai oleh wartawan di tempat lain dengan mimik yang kaget dan mengatakan sungguh saya tidak menyangka akan di pilih pak Jokowi sebagai calon wakilnya, namun seluruh skenario drama ini terbantahkan oleh penjelasan Prof Mahfud yang di urai secara sistematis dan terang benderang.

Mari kita nantikan drama panjang perhelatan Akbar demokrasi yg masih menyisakan berepisode episode akting yang akan tersaji dihadapan kita yang bakal di pertontonkan kedua pasang calon kontestan dan pada akhirnya kita belum tau siapa yang bakal tereliminasi dan siapa yang keluar sebagai jawara, tentu siapapun pemenangnya adalah presiden kita semua olehnya itu masyarakat harus cerdas menilai siapa diantara keduanya yang layak mengantarkan Republik ini menjadi bangsa yang bermartabat di hormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Author: Muh.ikbal majid
Forum masyarakat hukum pidana& kriminal Indonesia (MAHUPIKI)
Tweet Share Share Share Share Share

UNTUKMU INDONESIAKU
(Arsyi Wahab)

Indonesiaku...
Kini umurmu genap 73 tahun
Aku harap diumurmu yang kesekian kalinya, Membawa berita gembira tentang perubahan yang baik,
tentang apa yang dititipkan pada pundak cita" bangsa, kepada diriku, dirimu dan dia

Aku bersyukur terlahir didunia ini
Terlahir dirahim seorang ibu yag lahir di bangsa yang besar
Bangsa yang subur, bangsa yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.
Begitu pula degan para leluhurku yang ditakdirkan memperjuangkan bangsa, Yang kini dititpkan kepadaku dan mereka,
melanjutkan cita-cita yang dititipkan ditanah surgaku INDONESIA

Aku sadar... hadirku masih jadi beban di tanah surga,
DiUmurku yang beranjak 19 tahun Hadirku hanya menumpang nyawa,
Sampai detik ini tak ada perjuangan yang berarti yang kuperjuagkan untukmu indonesiaku
Cuman tagihan lagu Indonesia raya yang akan kuperjuangkan, akan kunyanyikan di hari lahirmu
yang ke 73 tahun

Jayalah Indonesiaku
Kepakkan sayap garudamu setinggi mungkin
Agar kau dapat melihat betapa indah Indonesia
ahaha kuharap gunung bawa karaeng tersyum kepada mu dan butta panrita lopi selalu menantimu.
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Kemerdekaan bukanlah sebuah mantera yang berkekuatan magis untuk mewujudkan sebuah cita-cita, tanpa gelimang darah, tanpa denyutan jantung yang terhenti tanpa menelan korban.

Kemerdekaan adalah keteguhan komitmen, cita-cita dan harapan serta perjuangan bagi hadirnya suatu tatanan masyarakat baru.

Tahun ini Indonesia menapaki moment 73 tahun kemerdekaan. Ditinjau dari umur seorang manusia sudah memasuki fase matang, namun dari realita yang ada sekarang benarkah Indonesia telah matang baik secara sosial, ekonomi, dan politik?
Atau istilah Founding Fathers negeri ini sudah bisa disebut negeri yang berdaulat?

Sebelum menuntaskan sebuah persoalan negeri, mari meninjau romantisme masa lalu Indonesia..

Refleks sejarah Indonesia, katanya "Bangsa yang besar, adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah negerinya" mendayu indah ditelinga, tercatat jelas dilembaran sejarah.

Tepat jam 10 Pagi di Jl. Penggagasan Timur (Sekarang Jl. Proklamasi) Presiden pertama Ir. Soekarno dengan lantang meneriakkan kemerdekaan dengan sound yang terdengar seantereo nusantara yang merupakan sebuah kebahagiaan, kebebasan bangsa yang muak terjajah lebih dari 3 abad lamanya.

Jauh, sangat jauh dari kemerdekaan, tahun 1928 sejarah Indonesia hanya sebagian yang mencatat dan mengabadikan tulisan-tulisan yang muak akan penjajahan, yang mencintai negerinya hingga hanya mencicipi sedikit saja tentang indahnya romansa asmara.

Siapa yang tidak mengenal pemuda Minangkabau yang tulisannya sangat berpengaruh dizamannya, yang rela melepas gelar kebangaannya hanya untuk menimbah ilmu di negeri yang dibenci para tetuah adatnya yang dengan liarnya menjajah Indonesia taitu Nederland, tekad dan alasan yang sederhana namun tersirat makna yaitu hanya untuk pergerakan dan perubahan bangsa, sebut saja namanya Ibrahim biasa dipanggil Tan Malaka.

Dikutip dalam bukunya, Tan Malaka, "Merdeka 100 Persen" karya Robertus Robert, kelima tokoh kiasan itu membahas seputar tentang kondisi politik, rencana perekonomian berjuang, hingga soal muslihat.

Dalam pembicaraan politik dibahas tentang makna dan kemerdekaan dan sebagainya. Inti dari bagian itu adalah, kemerdekaan harus 100% tanpa harus ditawar-tawar, sebuah negara harus mandiri menguasai kekayaan alamnya, dan mengelola negerinya tanpa ada intervensi asing.

Sedangkan dalam putaran bahasan ekonomi, yang dibahas rencana perekonomian negara kapitalis terhadap negara lainnya termaksud Indonesia, diatur merasa bahwa yang paling mengetahui perencanaan ekonomi yang tepat bagi Indonesia.

Dalam bahasan muslihat dibahas soal iklim perjuangan, diplomasi hingga syarat serta taktik dalam berjuang.

Pemikiran buku "Merdeka 100%" puncaknya disampaikannya untuk menyinggung kesepakatan antara Bung Karno dan Pihak Jepang yang hanya sebagian orang yang memahami.

Terekam indah dalam sejarah memorial Perdebatan antara Tan Malaka dan Ir.Soekarno di bayah. Tempat bersejarah bagi ia yang merupakan tempat pertemuan pertamanya dengan Ir.Soekarno. Dalam Biografinya "Dari Penjara Ke Penjara"  membuat Tan Malaka mengagumi Ir.Soekarno.

Suatu kehormatan baginya saat itu ia ditugasi, untuk melayani Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Namun sayangnya Ir. Soekarno tak mengenal bahwa ia adalah Tan Malaka Seorang pemuda yang penuh inspiratif. Sebab saat itu Tan Malaka menyamar dengan nama Ilyas Hussein.

Setelah sampai diruang pertemuan, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta memulai pidatonya yang ternyata tak memuaskan hati Tan Malaka.

"Pidato itu tak beda dengan berlusin-lusin yang diucapkan dalam rapat raksasa, atau penyampaian di radio-radio. Sari isinya adalah cocok dengan kehendak Penjajah Jepang.

"Kita harus berbakti dulu pada Jepang saudara tua yang mati-matian melawan sekutu jahanam itu. Setelah sekutu itu kalah, maka kita dan saudara tua akan merdeka" pidato Bung Karno.

Dari posisi paling belakang Tan mengajukan sebuah pertanyaaan.

"Kalau saya tidak salah, bahwa kemenangan terakhir akan menjamin kemerdekaan kita, itu artinya kita harus mendahulukan kemenangan mereka dulu baru kita akan merdeka. Apakah tiada lebih cepat kalau kemerdekaan lalu akan diberi kemenangan, mengapa kemerdekaan tergantung kemenangan mereka?" Tanya Tan Malaka.

Namun tak ditanggapi secara serius oleh Ir. Soekarno. Melihat ini, Tan Malaka begitu jengkel hingga beberapa kali mengejek.

"Bukankah jasa kita terlebih dahulu? Setelah melihat jasa kita maka Dai Nippon akan memberi kita kemerdekaan" demikian jawaban Ir.Soekarno.

Merasa tak sehaluan dengan Ir. Soekarno tentang kemerdekaan membuat Tan Malaka kembali angkat bicara. Tan sadar perlunya perjuangan meski misalnya pada saat itu Indonesia sudah merdeka.

Semangat kemerdekaan akan lebih bermakna apabila kemerdekaan itu didapat atas usaha sendiri, bukan atas kesepakatan pihak lain," Tegas Tan Malaka saat Itu.

Setelah mendengar pertanyaan Tan, Ir. Soekarno berdiri merapikan pakaiannya seakan menegaskan siapa dirinya.

"Kalaupun Dai Nippon memberikan kemerdekaan kepada saya saat ini, maka saya tidak akan menerima," Kata Ir. Soekarno

Mendengar jawaban itu, Tan Malaka kembali bereaksi tak terima, tapi tidak diperkenankan oleh pengawas untuk berbicara lagi.

Perbedaan pemikiran antara Ir. Soekarno dan Tan Malaka bergelut hingga pada saat Proklamasi.

Pada saat itu, Tan Malaka sudah membuka identitasnya pada Ir. Soekarno, namun Bung Karno tetap pada pendiriannya untuk melakukan perundingan pada Belanda, namun Tan Malaka tetap tidak setuju. Tan Malaka berpendapat bahwa kemerdekaan harus diraih 100% tanpa kesepakatan dari beberapa pihak.

Dari sedikit penggalan sejarah tentang perjuangan RI, membuat kita sadar bahwasanya berbagai polemik yang terjadi sekarang karena ketidaksiapan dan ketergantungan kemerdekaan.

Perjalanan sejarah yang begitu rumit, tragis serta dramatis.

Kembali pada realita sekarang, dilematika melahirkan banyaknya problematika yang menjadi tantangan besar para politisi elit kotor yang mengatasnamakan rakyat. Semua di negeri ini mendadak mahal, yang murah adalah nyawa manusia!

HAM dan rasa Nasionalisme hanyalah kiasan indah surga telinga.

Lantas siapa yang tersalahkan dalam hal ini? Para pendahulu yang meninggalkan serumit persoalan? Atau para generasi yang tak mampu berbuat apa-apa.

Tetapi, tetap saja ada pelipur lara, setidaknya ada sebagian mereka yang mencoba mengharumkan nama bangsa, dan segelintir keindahan alam yang masih menyembunyikan keperawanan indahnya.
Bersyukurlah, sebab kita masih punya harapan.

Kalaupun bisa jujur, sangat dirindukan untuk merdeka sekali lagi, agar dirasakannya kemerdekaan yang benar-benar merdeka.

Jangan tanyakan apa yang Indonesia berikan padamu, tapi tanyakan apa yang kau berikan untuk Indonesia.

Selamat Ulang Tahun Ibu Pertiwi

Penulis : Hariani Arifuddin
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Kebaikan memang hal yang harus di miliki setiap manusia. tetapi, seorang caleg kecerdasan yang harus ia miliki..

Bagaimana tidak, para anggota rakyat saat ini bungkam terhadap pembangunan daerah!

Tetapi mengapa dan mengapa tautan yang dibagikan seakan menegaskan bahwa caleg tersebut orang yang begitu pandai, orang yang begitu arif. Namun kenyataanya seperti apa?

Ketika rapat, ada saja alasan yang begitu tidak masuk di akal. Mengapa mereka seperti itu? Karna mereka tidak tau menau berbicara dihadapan orang banyak, lalu apa penyebabnya?

Penyebabnya ialah mereka berpolitik instan tanpa tau menau politik itu seperti apa.

Rakyat saat ini sudah cerdas, sudah mampu memilih pemimpin yang bijak

Author: Sutra Tenri Awaru
Tweet Share Share Share Share Share


OPINI --- Hujan senantiasa membasahi bumi, rerumputan mulai tumbuh kembali, secara perlahan hukum alam tetap pada tupoksinya, perlahan tanaman menghijaukan tanah yang mulai gersang. Hal itu terjadi di bumi Sulawesi, khususnya. Kakek dan nenek manusia mati, di waktu yang sama kelahiran bayi terus-menerus membentuk kalimat 'regenerasi' tetap bertahan.

Perubahan iklim dan peningkatan suhu panas bumi, seperti data yang dilansir oleh Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) Amerika Serikat (AS), tahun 2017 adalah tahun terpanas ketiga setelah 2016 dan 2015. Semua itu, tak lepas dari ekonomi, politik dan sosial manusia. Dinamika kehidupan adalah kemutlakan yang tak terbantahkan oleh teknologi.

Lingkungan berubah, hidup manusia semakin instan akibat kemajuan teknologi canggih buatan negera-negara tetangga. Entah mengapa, kondisi sosial ekonomi Indonesia masih sama seperti yang disisakan Eropa. Yang berubah hanyalah utang, semakin hari kian melonjak, hingga sudah mencapai kurang lebih 4.000 trilyun.

Semua berubah, namun ada yang aneh beberapa minggu terakhir. Kadang tiba-tiba banyak orang-orang yang mengaku tokoh dan petinggi pilitik berdatangan ke kampung-kampung. Kampung saya yang paling jauh juga jadi sasaran kunjungan mereka. "mereka mau mencalonkan diri maju di DPRD" ujar tetangga rumah saya yang gagah itu. Saya hanya tersenyum pulas menanggapi.

Berbicara mengenai pemilihan, tentu akan ada banyak objek yang dituju. Namun, satu dua orang lainnya adalah perempuan, guna memenuhi quota 30 persen perempuan di parlemen. Soal memenuhi quota, mutlak. Tentang memenuhi kapasitas intelektua? Mungkin jawabnya ada di atas sana.

Bila dibayangkan, apakah orang memilih betul-betul sesuai nurani atas dirinya, atau hanya buat orang lain, atau justru memilih karena terpaksa harus memilih?. Dan soal pilih-memilih ini sudah seperti hal yang lumrah untuk kepemimpinan bangsa dan negara, tak terkecuali yang latar belakang tokohnya dipertanyakan.

Jelang Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 mendatang. Beragam foto, tegline dengan gaya paling memikat pun telah dipromosikan terlebih dahulu di berbagai media. Berbagai kutipan yang datangnya entah darimana dan oleh siapa, dipajang dengan sangat rapi serta sistematis di ruang-ruang yang mudah diakses publik.

Gaya dan penampilan para politisi yang mengaku bijak atau mengklaim dirinya suci, nampak paling megah sesekali menonjolkan rekayasa estetik bila kita mengakses internet untuk baca arikel terlebih mengikuti berita.

Padahal kalau menurut saya, seharusnya orang berpikir tiga kali lipat untuk maju. Sebab Legislatif atau Wakil Rakyat itu bukan hanya sekedar nama, tapi ia adalah tanggung jawab besar yang mesti diemban dan dijalankan dengan baik sesuai harapan rakyat.

Tapi faktanya tetap saja sama, tidak ada bedanya. Dari zaman batu para calon pemimpin sudah pandai bersilat lidah, hingga era Millenial yang mengerikan saat ini kondisi itu masih ada dan justru merajalela.

Seorang politikus yang pernah memimpin Uni Soviet pada masa-masa awal Perang Dingin,

Nikita Krushchev, perah berkata "Politisi itu semuanya sama. Mereka berjanji membangun jembatan meskipun sebenarnya tidak ada sungainya di sana". Seharusnya telah menjadi renungan bagi siapapu yang ingin maju atau terlibat dalam politisi, sebab sejak dulu politisi sudah dianggap pandai memikat lewat janji.

Faktanya sekarang justru mereka berlomba-lomba ingin maju, membusungkan dada dan menganggap dirinya paling bijak, mencari empati, entah untuk upeti. Tapi kursi empuk tujuannya, itu sudah pasti.

Sebagai pemuda biasa dari pelosok negeri, saya hanya bingung dan khawatir. Bingung akan meilih siapa atau tidak memilih siapa, serta khawatir mereka yang mau maju itu hanya untuk kepentingan pribadi dan golongannya saja.

Kebingungan dan kekhawatiran itu terus tumbuh dievaluasi waktu, hingga saya menyadari. Kalau para Calon Legislatif (Caleg) mau membangun, pelosok-pelisok pasti sudah tentram. Saat ditanya alasannya, "berikan saya kesempatan sekali saja, maka saya akan berbuat baik" pun kalimat ini lahir dan tumbuh sejak Indonesia merdeka, kalimat itu sudah akut, sayangnya masih bertahan.

Sekalipun demikian, anggota DPRD dari tingkat paling bawah hingga tingkat DPR-RI saat menjabat hanya nol koma sekian persen visi-misinya yang terealisasi, namun kini tampil lagi dengan gaya retorika yang sama dengan harapan sama juga ditularka pada rakyat.

Bahkan tak jarang dari aktivis yang dulunya teriak lantang anti korupsi, anti pelanggar HAM, juga ternyata terjebak dalam kekangan politik praktis, mereka pun kini terlibat dalam sistem yang semula ditolaknya secara tegas. Sialnya akademis pun sudah banyak dijumpai terjun dalam politik elit yang mengenaskan. Padahal akademislah salah satunya landasan kemurnian ilmu pengetahuan. Akibatnya adalah, pelopor yang kita andalkan, sudah banyak yang bungkam oleh berbagai kepentingan.

Miris melihat fenomena nyaleg ini. Rakyat kecil jadi korban janji manis, serta sebagian dari mereka juga tentu hanya korban kelengkapan administrasi partai. Tentu bukan salah rakyat, sebab ia tak tahu akan sistematika perpolitikan, rakyat hanya berharap hidup aman, tenang dan damai.

Seyogianya para Caleg paham, tapi tak mungkin juga memberikan pemahaman kepada rakyat, sebab bila rakyat paham akan kondisi menyedihkan dari sistem pilotik praktis, maka rakyat akan minder untuk memilih.

Sebagai pemuda biasa yang tak bisa berbuat apa-apa, saya hanya berharap para politisi terutama yang maju menuju DPRD 2019 mendatang, agar betul-betul maju bukan hanya karena fiansial tapi intelektual yang memadai. Dan rakyat hanya butuh bantuan kompleks, bukan janji apalagi hanya sekedar pidato.

Author: Burhan SJ
Powered by Blogger.