February 2018 | LORONG KATA
Tweet Share Share Share Share Share

Image From Google. Lorong Kata
Hanya Mampu Mencumbumu Lewat Mimpi
(Citizen Lorong Kata) 

Lagi, untuk yang kesekian kalinya aku menanti,
Menunggu dan berkawan sepi,
Entah berapa tahun lagi aku menanti,
Sunyi tanpamu sang pujaan hati.

Kini kau telah banyak menyakiti hati,
Lewat rindu yang kau tebar dalam hati,
Yang tak mampu tuk kau obati.

Rindu tak lagi mampu tuk di obati,
Hanya lewat jumpa pujaan hati,
Karena rindu teramat liar tuk dibungkam lagi,
Keculi lewat pelukan yang abadi.

Sudahlah….. aku rindu sekali,
Aku bosan bertemu lewat mimpi,
Kau goda lewat puisi,
Yang kau tebar di dinding FB.

Kemarin aku bertanya lagi,
Kapan kau akan kembali,
Katamu, nanti,
Setelah hidupmu menuai sepi.

Ah… aku lelah dibuat begini,
Menangis dalam sepi,
Termenung didalam sunyi,
Karena rindu mengguncang hati.

Sudahlah…. Malam ini teramat sepi,
Mungkin nasibku hanya mampu mencumbumu lewat mimpi,
Karena sepi telah lama menyiksa hati.
Tweet Share Share Share Share Share

Image From Google.
Mengenalmu Lewat Udara

Lama aku telah mengenalmu,
Meski sekalipun tak pernah bertemu,
Berbicara lewat udara,
Sesekali bercinta lewat udara.

Lewat udara, sapaan mulai kau lontarkan,
Lewat udara, rayuan mulai kau agungkan,
Lewat udara, bisikan mulai kau perdengarkan,
Lewat udara, rindu mulai kau titipkan.

Tak ada pertemuan untuk kita bersalaman,
Namun cinta telah bersemayam,
Lewat status sosial mediamu yang membukam,
Jiwa-jiwa yang haus akan cinta dan kasih sayang.

Kau memang pandai dalam hal merayu,
Meski tak pernah bertemu,
Syair-syairmu membuatku layu,
Dan tak lagi mampu menjauh darimu.

Cinta telah merasuk di pikiranku,
Cinta telah mengurung hatiku,
Rindu telah mebelenggu nadiku,
Rindu pula yang menginginkan dirimu.

Aku ingin pertemuan ini tak hanya di media sosial,
Aku ingin perbincangan ini hanya melalui udara,
Aku ingin rindu ini tak hanya kupendam,
Karena pelukku menanti wujudmu yang sesungguhnya.

Datanglah di hadapanku,
Dan akan kusuguhkan padamu segelas kopi,
Kopi yang telah kuseduh dengan hati,
Yang kuaduk dalam secawan rindu.

www.lorongka.com
citizen Lorong Kata
11 februari 2018 
Tweet Share Share Share Share Share

Image From Google. www.lorongka.com
Gadis Kecil di Sudut Jalan
(Andika Putra) 

Engkau gadis kecil berkaleng kecil,
Senyummu terlalu manis tuk mengenal duka,
Tatapmu teramat indah tuk menatap luka,
Tubuhmu terlalu mungil tuk mengenal derita.

Waktumu tertawa berganti airmata,
Bekerja dan meminta pada mereka,
Agar tetap hidup ditengah kota,
Sebab mimpi telah direnggut sang penguasa.

Walau tanpa alas, kakimu tetap menapak,
Demi perutmu yang terus berteriak,

Rasanya, aku ingin ikut denganmu berbagi harapan,
Menikmati teduh di kolom jembatan,
Dalam riuh gemerlap angan-angan,
Agar semua tau derita yang tengah kau rasakan.

Gadis kecil berkaleng kecil,
Aku ingin, kau tak perlu lagi menangis,
Kau tak perlu lagi mengemis.
Sudah waktunya untuk tertawa dan duduk manis.

Lihatlah…… kota ini milikmu,
Kalian bebas melakukan apapun yang kalian mau,
Lampu merkuri taman yang terus mengkilau,
Menantimu kembali tuk bersenda gurau.
Tweet Share Share Share Share Share

www.lorongka.com - image from google
 Malam DinginTanpa Kata
(Citizen Lorong Kata)

Malam ini…
Sengaja aku tak bersuara,
Bukan karena tak mampu bicara,
Atau kehabisan kata.

Aku ingin kau yang memulai,
Tersenyum dan berkata,
Mengusir sepi yang menghinggapi,
Agar rindu segera terobati.

Lihatlah di ujung sana….
Sepasang merpati di atas pohon,
Mereka bercengkrama dan menari,
Ibarat kau dan aku yang lagi terbuai,
Oleh rindu yang tak juga menepi.

Aku selalu teringat,
Dengan senyum manis dan tutur katamu,
Bagaikan mawar mekar ditaman,
Indahnya memberikan kesejukan dan ketenangan.

Langkahku mulai terasa kaku,
Rasanya ingin kuberlama-lama denganmu,
Disaksikan sejuta bintang,
Dan ditemani remang cahaya bulan.

Lihatlah bibir gelas itu,
Terpancar jelas manis senyummu,
Yang kau tumpahkan pada segelas kopi,
Menambah aroma dan nikmat seduhanmu.

Ingin kutahan rembulan,
Agar tak bertandang keperistrahatnnya,
Karena rasanya ingin kuberlama denganmu,
Menikmati segelas seduhan hanya berdua denganmu.
Tweet Share Share Share Share Share

www.lorongka.com. Image From Google
Nasib Demokrasi di Negeri Sejuta Mimpi
(Andika Putra)
Di Negeri ini, jiwa-jiwa telah mati,
Dedaunan kering, tak lagi berarti,
Sebab pembesar Negeri berpesta tiada henti,
Menyisahkan luka perih di dalam hati.

Di Negeri ini, banyak sukma yang terbelenggu,
Tersesat dalam labirin-labirin hantu,
Yang dibentuk sekelompok penjahat di Negeriku.

Mereka teramat pandai bercerita,
Menebar benih-benih derita,
Dari deretan janji-janji belaka,
Yang mereka kemas nyata namun dusta.

Di Negeri ini, mimpi-mimpi telah hilang,
Menjadi debu, hancur terbang melayang.

Penjahat menebar janji berkedok aspirasi,
Merayu dan mengumbar sumpah suci,
Hanya demi kekuasaan dan sebuah kursi,
Bahkan demokrasi pun mereka hianati.

Di Negeriku ini, banyak penguasa yang tidak peka,
Melihat dunia yang semakin tua,
Walau dihuni kaum dialektika,
Namun mereka hanya pandai bicara tanpa bekerja

Namun, bagiku yang hanya kaum jelata,
Hanya mampu mengkritik dan berdoa,
Agar penguasa membuka mata,
Bahwa di Negeriku telah banyak dosa dan airmata.
Powered by Blogger.