March 2018 | LORONG KATA
Tweet Share Share Share Share Share

Rindu dan Harapan
(sutramanis)
Disini kelam dan sendu
Membosankan dililit  oleh dingin.
Adakah rindu yang bisa kau kirim?
Agar aku tidak bimbang.

Rindu, semakin tak terarah saja.
Mustahil rasanya
Rindu, selalu ingin kusematkan
Namun apalah daya
Bayang dan matamu masih melayang diatas kepala yang tak kunjung melupakanmu

Kata dilan rindu itu berat
Tapi bagiku rindu itu menyiksa
Antara ada dan tiada
Harapan ini seolah menggantung dimatamu

Aku seperti orang munafik saja
ketika merindukanmu, tak bisa aku mengucap bahwa aku rindu, karna sedari dulu aku tau bahwa kau tak ada niat untuk membalasnya, hanya saja harapan tak jelas yang mengantung dimata hitammu

Jika suatu saat aku sudah tak sanggup
Akan kulemparkan semua rindu ini kepadamu
Aku meminta balas
Juga jawaban darimu.


Penulis: Sutramanis
Gowa, 27 Maret 2018
Tweet Share Share Share Share Share

Andika Putra, Founder Lorong Kata
Petani Atau Gedung-gedung Kaca

Subuh dan mentari sebagai tanda bekerja,
Senja bertabur lelah menjadi batas pulangnya,
Walau keringat terus membasahi dada,
Namun asa tak pernah reda,

Menyemai benih dengan cinta,
Walau harus kusirami dengan air mata,
Hingga senja datang memberi tanda,
Agar kupetik buah mutiara,
Tuk menyapu lelah mewujudkan asa,

Hidup tanahku yang kaya,
Penuh sejarah berisi doa,
Untuk kita dari yang kuasa,
Tuk merubah mimpi agar jadi nyata,

Sayang.....
Sawahku telah di sulap jadi gedung-gedung kaca,
Berdiri kokoh penuh air mata,
Lumbung padi jadi neraka,
Karena beras diimport oleh penguasa,

Dengarlah....
Aku petani tak akan menyerah,
Kutanam padi di gedung kaca,
Digedung-gedung tua,
Dijalan raya,
Atau harus di istana penguasa,
Agar mimpiku berbuah surga.

Sinjai, 27, Maret, 2018

Tweet Share Share Share Share Share

Irsan, Penulis Opini
Opini, Lorong Kata --- Ketika menjadi seorang pemimpin seolah-olah kewajiban, mungkin hal itulah yg menjadikan sebagian orang berlomba-lomba menjadi pemimpin, dan mayoritas mereka gemar memimpin suatu Negara, yah mungkin sudah sangat jelas di mata kita bahwa hasrat yang sangat buas mendorong mereka untuk berada di posisi itu.

Tentu realita tidak mampu berbohong bahwa semua itu hanyalah keharusan tanpa di sertai tanggung jawab dan bahkan mereka lalai dari tanggung jawab.

ketika dalam pidato mereka berteriak dengan merdu dan lantang tentang keadilan, kesejahteraan, kemakmuran akan tetapi lihatlah rakyat semakin melarat dan berlarut larut dalam kemiskinan.

Apakah suara merdu itu bisa dipegang teguh?

Tanyakan pada hati nurani kita masing-masing.

Kita hanya bisa melihat mereka mendebat menyembunyikan kebohongan di balik peci hitam dan baju batiknya yg sungguh mahal harganya lalu mereka seolah-seolah mengajarkan kesederhanaan, merekalah yang memegang kendali sepenuhnya atas hak-hak kita.

Mari buka mata dan nalar kritis kita kemudian lihatlah KKN di mana mana pada hal orang-orang selalu mengatakan bahwa Negara Kita Negara kaya tapi kok kita melarat dalam kemiskinan.

Kita seolah menjadi pengemis di Negeri sendiri ataukah kekayaan kita memang di peruntukan kepada mereka yang katanya bersuara merdu nan elok.

Maka dari itu waspadalah dgn calon-calon pemimpin baru di Negeri tercinta kita ini, jangan sampai kita kecewa kesekian kalinya dan jangan berikan kepercayaan penuh itu terhadap mereka sekali lagi mereka picik kawan.

Berat dan sudah memang tinggal di Negeri yang katanya jelas ideologinya. Dan katanya berdemokrasi tapi nyatanya kebijakan hanya dibalik tirai untuk rakyat.

Bagaimana kelanjutan hidup kita, anak kita, cucu kita, yah biarlah waktu yang menjawab yang jelas hidup kita harus terus berlanjut  dengan melakukan perubahan bukan justru mengikut pada suara-suara teriakan yang katanya merdu nan elok.

Penulis : Irsan
Tweet Share Share Share Share Share

"POLITIK BUNYI JANGKRIK"
(Fajar CT)

Politik bunyi jangkrik....
Berbisik tapi berisik....
Berintonasi tapi berhalusi nasi....
Lompat sana sini, ngapain sih???

Politik bunyi jangkrik...
Kritik tak ada titik....
Bawa peti tak berempati.....
Teoritis tak kenal etnis....
Tunjuk sana sini
Ngapain sih???

Politik bunyi jangkrik....
Bunyi berapi-api tapi tak sampai...
Janji sana sini, naik tak melirik....
Mending goyang itik sambil makan keripik....
 daripada tak ada titik hanya merdu seperti bunyi jangkrik...

Kami krtikik saudara mencekik....
Saudara memang menggelitik dan picik....
Tweet Share Share Share Share Share

"Sinjai 16 Maret serasa Getah Karet"
Fajar CT

Subur serasa kubur...
Benar tak membesar...
Menyuapi tapi tak melengkapi...
Sinjai 16 maret serasa getah karet...

Aku seperti pembusuk pada hal bukan penyusup....

Lalu yang lain dibiarkan....

Membebaskan yang kebablasan...
Tak disuarakan tak pula diberatkan...
Tak dilembarkan tak pula disudutkan...
Kau pandai mengontrol tapi kau sendiri tak terkontrol....

Aku dilambaikan tangan seperti saingan....
Pada hal aku kawan tak mencari lawan...
Aku kira kau pandai tapi ternyata hanya berandai....
Aku mencoba bertumbuh seperti tumbuhan bertangkai tapi aku dikira bangkai...

Lalu yang lain kok dibiarkan....

Mungkin terlalu indah sehingga tak dijeda...
Mungkin dinikmati jadi tak perlu di nasehati....
Mungkin banyak yang minati jadi tak perlu dikhianati..
Atau mungkin pembesar jadi urgen untuk disebar....

Pantas di biarkan...


Sinjai 16 maret serasa getah karet...
Tweet Share Share Share Share Share

"Saudara serasa penjara"
(Fajar CT)

Berbaris lalu menvonis....
Menyadarkan lalu menyalahkan....
Mengarahkan lalu memberatkan....
Kau menghantam...

Aku kok di kira ninja pantas dijaga..
Pada hal aku bukan lawan tapi kawan...
Yang modern dikatakan keren...
Pantas aku dikusutkan...
Dan dilembarkan disudut lapangan....

Saudara serasa penjara...

Allamak kita bukan tuhan tapi sama-sama hamba tuhan....
Ksatria tapi tak berfitrah...
Anti terhadap orang yang tak berhijab lalu kenapa kau menjadi linta dan menghisab....
Kasur serasa batu karang, lalu lalang dan menyudutkan....


Yang lain kok dibiarkan.....
Tweet Share Share Share Share Share

Menggandeng nama Tuhan dalam upaya mendapatkan kekuasaan untuk melegalkan akumulasi kekayaan adalah merupakan hal yang paling mengerikan. Kenapa tidak, bila banyak diantaranya menghalalkan segala cara demi menuai apa yang semula diimpikannya walau bertentangan dengan logika umum terlebih manfaat publik.

Uang dan kehausan kekuasaan telah membutakan sebagian insan untuk berlaku adil, apalagi dalam tatanan negeri yang terbilang ganjil tentunya akan berpengaruh besar dalam sistem perpolitikan, hingga tingkat paling bawah dalam kehidupan masyarakat. Sebut saja pemilihan desa, bahkan ada yang terdengar saling membunuh demi menjaga dukungannya agar tetap langgeng dalam kekuasaan atau lancar pula perjalanannya.

Kini menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2018, berbagai fenomena sosial kembali bermunculan dari segala sisi, mulai dari penampakan moral yang beringas hingga etika yang kehilangan keseimbangan. Yang dulunya pendiam, tiba-tiba menjelma jadi ramah, yang dulunya arogan pun langsung berubah drastis tampil bijaksana. Entah inikah yang mereka maksud politik.
Publik seolah tersihir dan mendadak khilaf, bukan karena kurangnya ilmu pengetahuan lantaran lupa diri. Tetapi kadang karena alasan perut atau arogansi selalu mereka jadikan alasan untuk memilih polotik praktis dengan prinsip pragmatis. Oh, inikah buah demokrasi kontemporer?.

Seorang penyair terkenal asal Jerman pada abad ke-20 pernah berkata, “Buta terburuk bagi manusia adalah buta politik” demikianlah kutipan Bertolth Bretch. Banyak orang membenci politik, tapi secara tak sadar, mereka juga adalah korban politik. Menurutnya, banyak yang anti politik, tapi lupa kalau harga-harga kebutuhan pun diputuskan atas dasar keputusan politik.

Terlepas dari itu, saya hanya ingin mengingatkan bahwa politik akal sehat sejatinya adalah untuk mencapai kesejahteraan rakyat, di luar dari itu, berarti politik akal buruk. Politik yang tidak bertujuan untuk mensejahterakan rakyat adalah politik zaman now, politik yang kehilangan akal, atau politik yang berlomba hanya untuk akumulasi kekayaan.

Kembali ke Pilkada 2018, dimana para tokoh bermunculan di media, mengacungkan jemari mereka sesuai dengan nomor urut dukungannya. Para pemikir yang semula diagung-agungkan oleh banyak orang tak mau alpa mendaftarkan diri, serta berambisi tuk jadi pemimpin. Tampil gagah, terkesan berani dan belagak bijak dan berlomba-lomba seolah paling merakyat. Pertanyaannya, beranikah mereka berkorban untuk rakyat? Pastinya tak ada yang membantah, namun faktanya ada pada prakteknya kelak.

Pesta demokrasi, menurut beberapa masyarakat awam yang saya temui beberapa pekan lalu di pelosok negeri. Demokrasi yang hanya dimaknai sebagai penyaluran suara saat pemilihan umum. Padahal demokrasi adalah kebebasan memilih dan dipilih, serta keterlibatan dalam penentuan kebijakan.

Hari ini tak bisa kita nafikkan soal akumulasi kekayaan dengan mengatas namakan politik, atau lebih anarkisnya bila melibatkan Tuhan. Sebab tokoh masyarakaat tak mungkin mau maju sebagai kepala daerah, misalnya. Tanpa berfikir tentang strategi manajemen keuangan yang berkepanjangan.

Padahal politik yang baik adalah yang berani bertaruh gagasan demi kemaslahatan umat, bukan pertarungan saham demi kemenangan. Sebagai generasi muda, saya menantang calon para pemimpin. Beranikah berkorban untuk rakyat dengan membuktikan lewat kerja nyata, minimal bermalam sepekan di gubuk si miskin guna merasakan penderitaannya. Lalu memperbaiki infrastruktur desa terpencil demi kelancaran ekonominya. Sebab bila berjanji saya rasa semua bisa, apalagi usai terpilih langsung lupa diri seolah pikun. Kenyataan ini seperti ini menggambarkan, bahwa banyak pemimpin yang tidak sadar, dan ada juga yang memang tidak mau tahu akan dirinya yang lahir dari rakyat.

Selanjutnya saya akan mengulas sedikit implikasi dari arogansi kekuasaan akibat politik akal buruk berdasarkan pengalaman pribadi. Jujur saja, bila mendengar soal Pilkada atau pemilihan legislatif, hal pertama yang secara spontan muncul pada ingatan saya adalah janji. Janji politik istilah kerennya.

Sudah banyak tempat yang saya kunjungi, selalu saya pertanyakan kindisinya, mulai dari infrastruktur maupun pembangunan sumber daya manusianya. Masyarakat pun senantiasa mencurahkan kegelisahannya, tetapi yang paling akrab terdengar adalah “seandainya semua janji pemerintah semasa mencalonkan mau dipenuhi, maka sejak dulu kesejateraan dirasakan.” Jawaban itu sudah melekat dan melebur, berubah dalam benak saya menjadi kehilangan kepercayaan.

Karena saya sudah tidak terlalu percaya lagi pada mereka yang banyak janji, maka saya putuskan bahwa hal terbaik dilakukan pemuda hari ini adalah senantiasa belajar tentang politik akal sehat, sebagaimana politik yang memikirkan kesejahteraan masa depan. Mementingkan urusan publik serta mengesampingkan persoalan pribadi. Mengutamakan rakyat, serta rela miskin demi pengorbanan pada pengabdian terhadap masyarakatnya. Demikianlah politik yang saya tunggu-tunggu.
terima kasih

Penulis: Burhan
Powered by Blogger.