May 2018 | LORONG KATA
Tweet Share Share Share Share Share

KISAH, Lorong Kata --- Sore itu kau datang menyapa dengan senyuman. Meski tanpa suara, gerakmu mampu menjadi senjata bahwa ada rindu yang sedang kau kacaukan.

Senyummu kala itu hampir membuat pikirku tak mampu kukendalikan. Beruntungnya aku sedang berpuasa dan tak ingin kubatalkan hanya karena rindu yang semakin tajam.

Waktu semakin sore, senyummu pun menjelma layaknya malaikat yang membuat rinduku menjadi semakin tajam. Seketika gombalanku rasanya akan kulontarkan namun lagi-lagi aku sadar. "Aku ini bukan Dilan" yang mampu romantis walau hanya lewat kata.

Rasanya, ingin aku tamatkan rinduku dengan membisikkan kalimat di kupingmu "Pikiranku Menampung Rindu Tentangmu". Tapi apa daya, aku bukan Dilan yang romantis, aku takut jika kalimatku itu hanya menjadi beban buatku.

Di ujung senja sore itu, aku ingin menyerah menjadi perindu, sebab aku takut mendekapmu lalu mengutarakan rindu yang selama ini menggumpal dipikirku agar kisahku mampu kutamatkan dengan kata bahagia.

Tak apa. Aku takkan menyerah hingga waktu menundukkan ajalku dan walau tak mampu kusampaikan, rindu masih tetap padamu. Hingga nanti kau akan mengerti bahwa rindu abadi denganku.

Ketahuilah, bahwa Kisahku ini belum mampu aku lengkapi hingga suatu hari nanti aku memiliki waktu berbincang denganmu dikala senja hingga pagi datang menjelma.

Penulis: AP
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI, Lorong Kata --- Mengapa Dia dilahirkan kalau bukan untukku?

Sesosok bayangan yang telah lama menjelma menjadi kenangan, kini tiba-tiba menghampiriku. Kedatangannya hampir membuatku marah, tapi aku kembali sadar bahwa hari ini aku sedang menjalankan ibadah puasa sehingga aku mencoba untuk tidak marah agar puasaku tidak makruh. Maka kubiarkan dia mendekat tapi kularang untuk menyentuhku sebab dia bukan muhrim. Dia pun tersenyum manis semanis rinduku dahulu yang pernah ada.

Saat kutatap bayangannya, Aku teringat potongan-potongan tulisan yang bercerita tentang kisah "Laila dan Majnun" (Qais dijuluki Majnun karena gila telah dipisahkan dari kekasihnya Laila). Sebuah kisah percintaan yang sangat mengharukan, mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai lalu mereka dipisahkan. Itulah sebab mengapa hati Qais hancur yang kemudian menjadi gila dan orang-orang menjulukinya "Majnun" atau gila.

Dalam sejenak hati pun bertanya-tanya, apakah dia adalah Laila dan aku ada Majnun ???..... tapi sepertinya tidak mirip dengan kisahku. Aku yakin bayangan yang datang ini bukanlah Laila seperti yang diceritakan dalam kisah cinta "Laila Majnun" karena Laila ada dirumahnya dikurung oleh ayahnya sendiri sehingga hal itu membuat Majnun sulit menemuinya. Sementara bayangan yang kuceritakan ini adalah seorang wanita cuma mampu untuk kukagumi setelah itu dia kembali pergi entah dimana sekarang, mungkin sudah menjadi milik orang lain dan Aku pun ini bukanlah Si Majnun, Dia orangnya gila gara-gara terluka karena cinta, Aku adalah Husnin yang tidak menjadi gila hanya persoalan kesedihan. Justru karena kisahku itu, membuat diriku tegar dan menjadi pribadi yang tangguh.Aku kembali tegaskan bahwa aku adalah Husni bukan Majnun.

Disini aku ingin mengatakan sesungguhnya Perempuan ialah karya Tuhan paling egois. Mengapa tidak. Bayangan yang kembali hadir menyapaku ini ditakdirkan bertemu denganku namun tidak dilahirku untukku. Dia datang hanya untuk pergi. Menitipkan rindu yang tak sanggup kupikul, aku menunggu kabar terakhirnya waktu itu namun tak kunjung tiba, lalu aku kebingungan dari kisahku itu sebab tak kutemukan kata-kata terakhir kalinya. Andaikan saja kata terakhir itu sudah lama ada,mungkin saja kisahku ini telah lama kutulis.

Hari ini aku bergembira dari kedatangannya walau pun berupa bayangan namu bisa kujadikan kabar terakhir darinya. Aku pun sudah bisa menyusun dan melengkapi kisahku sebab kehadirannya saat ini telah melengkapi cerita atas kenanganku,walau hari ini dia hanya sebatas bayang-bayang semua untukku, setidaknya aku pernah dia pernah menjadi bagian dari perjalananku..terima kasih

Penulis: Husnin Mubaraq
Tweet Share Share Share Share Share

KISAH, Lorong Kata --- Aku sebagai insan biasa sudah pasti tak lepas dari sebuah keikhlafan didalam mengarungi kehidupan. Ku punyai dosa dimasa lalu sebagai catatan hitam atas kesalahan yang pernah kuperbuat waktu itu yakni Aku pernah mencintai sosok anak manusia didunia ini, dia bernama "Perempuan" bahkan ada banyak orang juga pernah mengalami hal yang serupa denganku.

Iya..masih teringat jelas Sang "Perempuan" itu, begitu tersusun rapi keanggunannya dalam ingatanku, pernah ada dan melekat namanya diruang hatiku yang paling dalam walau pada akhirnya waktu kemudian merebut dariku dan dia menghilang laksana asap rokok dia udara menghilang tak meninggalkan bekas. ketahuilah bahwa hatiku begitu terluka, kurasakan sakit begitu dahsyat tapi aku tidak melihat bekas luka, mungkin inilah yang disebut dosa sosial.

Sang Perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang dihadirkan untuk mendampingi kita tetapi mungkin perempuan itu bukan untukku dan bukan tulang rusukku.

Rinduku yang begitu hebat padanya membuatku berimanjinasi sampai dilangit ketujuh. Itu dulu,sudah lama sekali.waktu telah merebutnya bahkan dalam ingatan pun diambilnya dariku sehingga menyulitkan diriku menyusunnya kembali menjadi bayangan. Lewat catatan singkat ini,ingin kusapa kembali perempuan itu sebelum menghilang untuk selamanya.

Maafkanlah diriku karena pernah mencintaimu tanpa pernah engkau tahu sebelum dirimu menghilang. Tak henti-hentinya kulafalkan doa kepada Tuhan berharap dosaku karena pernah jatuh cinta dapat terampuni agar diri ini lepas dari beban dimasa lalu dan terima kasih telah mengajariku jatuh cinta yang ujungnya aku jatuh taddampasa dilantai romantika.

Penulis: Husnin Mubaraq
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI, Lorong Kata --- Kapitalis atau kapitalisme adalah suatu paham yang menunjuk kepada siapa yang memiliki usaha atau modal terbanyak maka itu adalah yang berkuasa. Yang dimana sistem ekonomi kapitalis atau kapitalisme adalah suatu sistem yang memberikan kebebasan yang seluas-luasya kepada setiap individu untuk melakukan kegiatan perekonomian.

Kapitalis pada dunia pendidikan terkadang memang dikaitkan dengan dunia pendidikan karena disana banyak peluang-peluang usahanya seperti halnya adanya pungutan liar mahasiswa biasanya pungutan liar dari pembayaran-pembayaran yang telah dibayar tetapi pembayaran tersebut tidak masuk langsung di keuangan kampus tapi dengan kata lain dipergunakan untuk kepentingan pribadi dari pihak penyelenggara.

Adanya kapitalisasi pada dunia pendidikan tentu akan memberikan dampak yang tidak baik di dunia pendidikan khususnya bagi mereka yang kurang mampu dimana akan banyak anak usia dini yang putus sekolah karena peran negara yang semakin kurang dalam dunia pendidikan sehingga masyarakat resah dan gelisah, ini terjadi karena kurang mampunya membayar dana pendidikan anaknya yang semakin mahal dan mengakibatkan banyak anak yang putus sekolah.

Peran negara akan berkurang atau bahka menghilang dengan kata lain tidak aktif lagi sebagaimana mestinya karena adanya kapitalisasi pada dunia pendidikan maka peran negara hanya sebagai pendukung saja. Dan yang aktif dalam pengelolaan ialah lembaga swasta dan negara tidak bisa ikut campur dalam pengelolaan pendidikan yang ada, sehingga untuk tetap bertahan lembaga sekolah tentu akan menaikkan biaya pendidikan dan hal tersebutlah yang akan meresahkan masyarakat yang kurang mampu sehingga tidak bisa bersekolah lagi. Serta terlupakannya tujuan dari sekolah bahkan perguruan tinggi dimana tujuannya tidak lain untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak yang membutuhkan pengetahuan tetapi dengan adanya kapitalisasi pada dunia pendidikan jalannya pendidikan bukan lagi yang menjadi tujuan utamanya melainkan yang menjadi tujuan utamanya adalah fokus pada biaya yang diberikan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kapitalisasi didunia pendidikan untung bagi mereka yang menjadi pelaku kapitalisasi pendidikan tetapi akan buntung bagi negara dan masyarakat yang merasakannya sehingga meresahkan anak-anak yang tidak sekolah dan menambah kemiskinan.

Penulis: Nur syarinah (Mahasiswa iain bone, Fakultas Syariah Prodi Ekonomi Islam)
Tweet Share Share Share Share Share

Cinta Bukan Sebatas Kata
(Dikha)

Cinta... cinta... dan lagi-lagi cinta
Mengapa cinta hanya sekedar ucap saja ?
Yang dirasa melalui kasat mata
Lalu dilontarkan melalui kata-kata.

Apakah cinta sebatas itu saja ?
Ataukah cinta sebagai pemuas dahaga ?
Ataukah untuk hasrat nafsu belaka ?
Ataukah sarana curhatan perasaan saja ?

Cinta harusnya tak sebejat itu
Cinta adalah luapan perasaan
Yang ditunjukan lewat kasih sayang
Tuk menerima segala kekurangan.

Cinta adalah pengorbanan
Tanpa harus meminta balasan.

Cinta adalah ketulusan
Yang diwujudkan tanpa imbalan.

Cinta adalah wujud masa depan
Yang dirangkai bukan dengan khayalan
Atau dengan kebohongan
Apalagi dengan kepalsuan.

Cinta yang sesungguhnya
Adalah dia yang datang
Mengutarakan perasaan
Bukan dengan tatap mata
Melainkan dengan saksi mata
Di depan orang tua
Dan juga petugas KUA.
Tweet Share Share Share Share Share

Adalah Kau Hingga Suatu Hari Nanti
(Dikha)

Aku ingin kau menjadi puisiku
Hingga suatu hari nanti
Jasadku tak ada lagi
Tapi melalui larik-larik sajakku
Kau tak akan kubiarkan sendiri.

Aku ingin kau menjadi puisiku
Hingga suatu hari nanti
Jasadku tak ada lagi
Tapi melalui bait-bait sajakku
Namamu tetap akan kucari-cari.

Aku ingin kau menjadi puisiku
Hingga suatu hari nanti
Jasadku tak ada lagi
Tapi melalui larik dan bait sajakku
Namamu akan tetap kusapa.

Aku ingin kau menjadi puisiku
Hingga suatu hari nanti
Jasadku tak ada lagi
Tapi disela-sela bait-bait sajakku
Namamu akan tetap ku kumandangkan.

Aku ingin kau menjadi puisiku
Hingga suatu hari nanti
Jasadku tak ada lagi
Tapi melalui bait puisiku
Kau akan tetap yang abadi.
Tweet Share Share Share Share Share

Untuk Tuan Berwajah Sepi. Dari, Penyayang Tak Menyukai Hampa
(Sutra Tenri Awaru)

Kembalilah kepadaku jika hujan tak lagi mendinginkanmu

Pulanglah kepangkuanku jika matahari tak lagi menyinari tiap gelapmu

Mendekaplah jika pelangi tak lagi mampu mewarnai hidupmu

Jangan membuat sunyi menjadi tuhanmu, jangan menjadi hamba kepada hampamu, bangkitlah!...

Paling tidak kembali kepadaku untuk mendekapku lagi

Rebahkan semua keluhmu kepadaku, aku tidak menyukai kau mengtuhankan sepi, sebab terang lebih baik daripada sepi!...

Usap air matamu jangan melakukan penghambaan lagi kepada hampa.

Aku ada satu, sebab aku manusia yang akan ditakdirkan bersamamu!...
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI, Lorong Kata --- Rangkulan harapan dan masa depan menjadi pembuka hentakan kaki dalam membuka gerbang ideal yang bernama Perguruan Tinggi (kampus). Di tempat inilah banyak harapan yang digantungkan oleh para aset-aset bangsa di masa depan, dan para aset-aset itu biasa dikenal dengan sebutan Mahasiswa. Sosok terpelajar yang menyandang gelar Maha yang mengemban tanggung jawab besar di pundaknya untuk kemajuan negeri ini. Mahasiswa merupakan kumpulan-kumpulan orang terpelajar yang telah melewati beberapa fase kehidupan dalam dunia pendidikan yang diidentikkan dengan wadah pengembangan intelektualitas dan pengolahan diri untuk menjadi sosok pembaharu bagi bangsa dan negara. Itu merupakan sebuah tujuan dasar dari pada mahasiswa atau pendidikan itu sendiri. Negara ini bisa berdiri dengan gagah perkasa tidak terlepas daripada peran para mahasiswa di masa lalu, sebut saja Bung Karno, Hatta, Syahrir dll. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa gemilang di jamannya, Bung Karno merupakan seorang mahasiswa Teknik yang terkenal dengan jiwa oratornya sedangkan Bung Hatta adalah mahasiswa Ekonomi yang identik dengan Administratornya yang mampu membuat gagasan ideal dalam dunia pendidikan. Mereka kemudian dengan gagasan-gagasan yang sangat luar biasa mampu menggagas kemerdekaan Indonesia, bersatu dan berpadu demi kemerdekaan Indonesia. Indonesia bisa dikatakan lahir dari buah perjuangan mahasiswa di masa lalu. Segala hal yang menghalangi kehendak mereka untuk membangun negeri ini mereka selesaikan dengan daya intelektualitasnya.

Nampaknya kondisi mahasiswa di masa lalu di jamannya Bung Karno dan Hatta agak berbeda atau bahkan sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Mahasiswa hari ini layaknya jiwa-jiwa yang dilanda ketakutan, takut akan sebuah resiko menjadi mahasiswa seperti yang dilakukan oleh para Founding Fathers negeri ini yang dulunya seorang mahasiswa. Mahasiswa hari ini lebih mengarahkan identitasnya yang Maha ke arah kepatuhan dan ketundukan karena mereka berpikir bahwa mahasiswa yang sebenarnya adalah mereka yang mengaktualisasikan intelektualitasnya dalam bentuk mematuhi aturan yang ditetapkan oleh kampus. Aturan pada dasarnya bukan sesuatu yang paten yang harus diikuti melainkan harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana mekanisme penetapan aturan tersebut. Aturan yang berlaku di kampus hari ini justru merupakan aturan yang menciutkan harapan dan mimpi-mimpi mahasiswa untuk perubahan atas negerinya, aturan yang menciderai esensi atau hakikat dari gelar Maha itu sendiri. Mahasiswa lebih dihadapkan dengan aturan yang mendukungnya untuk menjadi calon tenaga kerja di masa depan bukan sebagai aktor perubahan dan penggerak kehidupan bangsa dan negara ini demi memperoleh kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Sebagai calon tenaga kerja di masa depan, mahasiswa diasah kemampuannya untuk menjadi buruh. Taat pada jadwal, patuh terhadap aturan dan sanksi tegas bagi mereka yang melanggar sehingga kerapkali korban DO berjatuhan dengan berbagai alasan, ada yang karena menentang aturan kampus yang tidak masuk akal dan menyalahi falsafah pendidikan, ada yang karena nilai yang buruk sehingga jalan satu-satunya adalah dikeluarkan, dan adapula yang terlalu lama tinggal di kampus. Hari ini iklim kampus tidak terlalu bersahabat dengan mahasiswa yang terlalu lama tinggal di kampus. Satu hal yang menyebabkan semua itu terjadi adalah sistem yang dinamai Akreditasi. Akreditasi merupakan senjata ampuh untuk menjaring mahasiswa sebagai bahan promosi dan juga akreditasi sebagai syarat pemenuhan pundi-pundi bantuan dari pemerintah yang sampai hari ini jumlah bantuan dari pemerintah yang masuk ke kampus setiap tahunnya tidak terdeteksi oleh siapapun kecuali yang berada digaris mereka.

Kondisi mahasiswa hari ini mirip dengan kawanan domba yang digiring sesuai keinginan aparat kampus. Kerapkali mereka terdiri dari kawanan massa yang digiring untuk memeriahkan acara yang dibuat oleh pihak kampus, seperti seminar di jurusan yang menjadikan mahasiswa sebagai peserta bayaran dengan metode pengabsenan di tempat seminar sebagai bayarannya, yang tidak hadir berarti alfa di mata kuliah yang dialihkan ke seminar meskipun mahasiswa pada umumnya tidak mengetahui jenis seminar apa yang mereka hadiri tapi mereka lebih memilih diam demi 1 absen karena katanya itu akan mempengaruhi nilai mereka, yang jelasnya seminar yang dilakukan baik oleh pihak jurusan, fakultas maupun kampus adalah merupakan ceremony pelepasan program kerja mereka demi tuntutan LPJ sesuai dana yang cair entah berapa!

Melirik lagi apa yang pernah dialami oleh para mahasiswa di masa lalu seperti Bung Karno, Hatta dan Eko yang sudah menganggap ruangan kampus seperti kamar pribadi mereka, kelas jadi tempat uji gagasan. Tiap dosen ceramah mereka sela dengan pertanyaan. Parkiran fakultas menjadi tempat romantis, bercumbu mesra dengan ketidak-adilan yang menjadi landasan protes, perkara kemanusiaan dihidangkan dan gugatan atas ketimpangan disuarakan. Namun berbeda dengan aroma kampus hari ini, ruang kelas sebagai tempat memproduksi robot-robot industry, menceritakan dongeng yang meninabobokan mahasiswa, menyajikan mata kuliah yang pasti dan tidak bisa lagi dipertanyakan oleh mahasiswa dan secara tidak langsung menganggap bahwa bumi ini diciptakan dalam kondisi jadi tak ada lagi manusia yang menghuninya, siapa yang bertanya ataupun mengkritik dicap pembangkang semuanya terlewati hingga sampai pada tahap pemberian tugas sebagai bekal yang harus dibawa pulang oleh robot-robotnya dan dikumpulkan keesokan harinya, anehnya si robot-robot itu memanfaatkan robot pula untuk menjawab setiap pertanyaan yang berupa tugas itu tanpa harus mempergunakan akalnya untuk berpikir, hampir lupa mereka kan robot jadi otomatis tidak punya akal. Selanjutnya, parkiran fakultas hari ini hanya dipenuhi kendaraan-kendaraan mewah karyawan, dosen dan mahasiswa tak ada ruang kosong membuat lingkaran untuk saling mengadu argument hingga berakhir pemberontakan terhadap kezaliman kampus, itupun kalau ada tapi melihat kondisi mahasiswa yang tak lagi mengedepankan budaya diskusi seputaran kampus dan problematika yang tengah dihadapi rakyat melainkan lebih asyik berkumpul dengan teman-temannya sambil memperbincangkan persoalan fashion ataupun bisnis online yang tengah mewabahi kampus hari ini dan ada juga mahasiswa yang tak mau lagi berinteraksi ataupun ngobrol dengan temannya dengan alasan bukan muhrim dan kebanyakan mahasiswa yang seperti itu memilih-milih teman, mereka hanya ingin bergaul dengan mahasiswa yang memakai busana yang sama dan tempat diskusi mereka hanya di sekitar pelataran masjid. Tak ada lagi ruang kelas yang padat dengan debat, kuliah dilalui dengan cara sederhana: datang, dengarkan lalu pulang. Melalui bisnis online, mahasiswa sudah pintar cari uang sendiri yang didukung dengan training wirausaha yang membuat banyak mahasiswa menjadi pebisnis dan pengusaha. Muda lalu kaya terus berkeluarga, sungguh potret hidup normal dan wajar padahal kondisi sekelilingmu sedang berjalan tidak normal jika diperhatikan secara mendalam banyak kejadian-kejadian yang membuat rakyat harus bermandikan air mata seperti perampasan tanah, sawah yang hendak disulap menjadi bandara ataupun bangunan-bangunan lainnya, PHK di mana-mana, harga bahan pokok melambung tinggi, tarif listrik naik dll. Wajarkah hal itu terjadi? Siapakah yang harus membela rakyat yang menderita? Jawabannya adalah mahasiswa, perlu diketahui bahwa dari 100% biaya kuliah mahasiswa, 90% dibiayai oleh pemerintah yang notabenenya berasal dari uang rakyat dan 10% dari orang tua, apakah orang tua mahasiswa rakyat atau bukan? Yah rakyat, jadi mahasiswa 100% biaya kuliahnya dijamin oleh rakyat. Mahasiswa adalah orang yang dimandatir oleh rakyat untuk mengubah nasib mereka, lantas ketika rakyat menderita, apakah mahasiswa harus diam melihat orang yang membiayai kuliah mereka menderita? Rakyat adalah orang tua mahasiswa.

Kampus hari ini telah menjelma menjadi pusat pelatihan calon tenaga kerja di masa depan. Mendapatkan IPK tinggi, sarjana dan bekerja telah menjadi tujuan utama hadirnya kampus hari ini. Pada dasarnya, hal demikian boleh saja namun harus juga ditunaikan ‘Tujuan Regang’ dalam diri setiap manusia dalam hal ini Mahasiswa seperti yang dibahasakan Bung Eko dalam bukunya Bergeraklah Mahasiswa, ‘Tujuan Regang’ merupakan suatu peristiwa yang menyentak dan mengganggu rasa puas diri dan mendorong cara-cara berpikir baru. Rasa puas diri dengan capaian IPK tinggi dan menjadi sarjana adalah pemikiran yang statis, jikalau pun demikian, apa yang akan dilakukan ketika telah sarjana dengan nilai yang memuaskan? Apakah keseharianmu nantinya akan diwarnai dengan pemujaan dan kepuasan terhadap gelar yang telah diperoleh? Tentu tidak pasti kamu mau bekerja, lantas mau kerja di mana dengan hanya membawa selembar kertas capaianmu selama kuliah? Pastinya pihak perusahaan yang kamu tempati melamar pekerjaan membutuhkan pertanggung jawaban atas capaianmu dalam selembar kertas itu. Sementara dunia kampus yang pernah kamu huni selama beberapa tahun dalam memperoleh IPK tinggi kamu hanya cukup rajin masuk kuliah, mendengarkan cerita dosen, jangan membuat keributan dengan mempertanyakan mata kuliah cukup diam saja, jangan membuat dosen tersinggung dengan kritikanmu, rajin kumpul tugas, ikut Mid dan Final Test dan pada akhirnya kamu akan mendapatkan nilai yang tinggi. Kesimpulannya patuh dan tunduk terhadap dosen adalah kunci memperoleh nilai tinggi. Patuh dan tunduk terhadap dosen merupakan hal yang seharusnya dilakukan seperti yang selalu orang tua dulu katakan bahwa mengejek atap rumah gurumu saja, kamu tidak akan memperoleh keberhasilan namun hal demikian perlu direnungkan, tunduk dan patuh terhadap dosen boleh saja asal bukan karena takut melainkan karena memang mereka mengajarkan sesuatu yang berguna bagi dirimu dan orang lain tapi yang terjadi hari ini hanya mendorong mahasiswa menjadi pemuda-pemudi industri yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa mengajarkan wujud kepedulian terhadap sesama dan anehnya lagi banyak mahasiswa yang pergi kuliah hanya karena tuntutan kewajiban bukan karena keinginan dalam diri untuk menerima pengetahuan yang diberikan oleh dosen. Menyoal persoalan tentang ketundukan dan kepatuhan dalam kacamata Islam, secara generik Islam adalah sikap tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Ketundukan dan kepatuhan hanya kepada Sang Pencipta bukan kepada selain dari-Nya.

Sebenarnya asumsi dasar dalam filsafat pendidikan atau dengan kata lain asumsi diadakannya pendidikan dalam diri manusia dalam hal ini Mahasiswa dalam buku Bung Agus Nuryatno yang berjudul Mazhab Pendidikan Kritis, antara lain: (a) manusia diyakini punya kapasitas untuk berkembang dan berubah karna punya potensi dalam belajar, dan dibekali dengan kapasitas berpikir dan self-reflection; (b) manusia, sebagai makhluk yang tidak sempurna, punya panggilan ontologis dan historis untuk menjadi manusia yang lebih sempurna; (c) manusia, dalam Bahasa Colin Lankshear (1993) adalah “makhluk praksis yang hidup secara otentik hanya ketika terlibat dalam transformasi dunia”. Rasa puas diri terhadap nilai tinggi merupakan langkah yang telah keluar daripada falsafah pendidikan. Manusia selalu memiliki potensi untuk berkembang begitupula Mahasiswa, hal demikian yang seharusnya diindahkan oleh para tenaga pendidik. Menjadikan atau menganggap mahasiswa sebagai makhluk yang statis berarti secara tidak langsung menyamakan mereka dengan pola hidup hewan yang setiap harinya mencari makan, tidur dll. Mahasiswa setiap harinya harus rajin masuk kuliah, mendapatkan nilai tinggi, sarjana dan bekerja tanpa memahami potensi yang dimiliki oleh setiap mahasiswa. Mendidik mahasiswa dengan metode seperti itu sama halnya menggiring kumpulan domba-domba ke arah sesuai kehendak si penggiring tanpa menyadari bahwa mahasiswa adalah manusia yang tidak sempurna yang memiliki potensi untuk menuju ke kesempurnaan melalui panggilan ontologisnya. Panggilan ontologis yang dimaksud adalah panggilan alamiah dari dalam diri manusia untuk merealisasikan potensinya sebagai manusia secara penuh. Dalam proses “menjadi”, manusia diajak untuk secara terus-menerus memanusiakan diri mereka lewat menamakan dunia dalam aksi-refleksi dengan manusia yang lain. Hal-hal tersebutlah yang harus dilakukan oleh dosen terhadap mahasiswanya bukan hanya memenjarakan pikiran mereka. Mahasiswa juga harus menumbuhkan kesadaran kritis dalam dirinya yakni bentuk pemikiran yang mencoba menyingkap fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya dan mengubahnya bukan hanya menyaksikan semuanya terjadi seolah-olah semuanya berjalan normal. Mahasiswa harus senantiasa berpihak kepada rakyat, harus memberdayakan kaum tertindas dan mentransformasikan ketidak-adilan sosial yang terjadi di masyarakat. Kuliah memiliki tugas yang mulai bukan hanya sekedar rajin kuliah untuk nilai tinggi dan bekerja melainkan membudayakan tradisi berpikir kritis dan melatih diri untuk berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan seperti yang tertera di Tri Darma Perguruan Tinggi.

Selanjutnya, Mahasiswa hari ini seharusnya menganggap setiap aturan dalam bentuk larangan yang dikeluarkan oleh pihak kampus menjadi ajakan bagi mereka untuk bergerak dan ketidakpatuhan terhadap aturan merupakan kreativitas bagi Mahasiswa. Alangkah indahnya jika hal demikian terjadi di dunia kampus hari ini, setiap harinya akan ada pameran gagasan penolakan yang dilakukan oleh Mahasiswa, setiap sudut dipenuhi mahasiswa yang tengah mendiskusikan kondisi rakyat di berbagai penjuru dan setiap ruangan menjadi panggung argument bagi mahasiswa terkait mata kuliah. Jika hal-hal tersebut diterapkan dalam dunia kampus maka yakin dan percaya, kampus akan berubah menjadi tempat lahirnya ide-ide segar dan mahasiswa akan tampil sebagai Pemuda-pemudi Pembaharu bukan Penguasa yang terus-terusan mengebiri kehidupan rakyat kecil.

“Kepriyayian bukan duniaku. Peduli apa iblis diangkat jadi mantra cacar atau diberhentikan tanpa hormat karena kecurangan? Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya”. Pramoedya Ananta Toer (Minke, Tetralogi Buruh)

Penulis: Askar Nur (Mahasiswa UIN Alauddin Makassar Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris)
Tweet Share Share Share Share Share

DABI
Aruki N.

Malam itu aku lantas bertanya:
Sayang, mengapa pula setiap dosa mesti ditimpakan pada jiwa-jiwa yang lain?

Perihal Dabi ini, mungkinkah semua mampu menerima?

Iya, dengan bisu yang dibuat-buat dan tangisan yang perlahan berubah munafik.

Sayang, mengapa Dabi berlagak sebagai pengungkit masa lalu yang sejati tak perlu diangkat di masaku?

Apakah perihal kesalahan dan dosa ini tak pernah dibukakan pemaafan?

Padahal kita dulunya pernah sepakat, bahwa setiap jiwa tak semua darinya sempurna.

Tetapi sebagiannya selalu dibukakan pemaafan atas luka, lantas menutup lubangnya.
Pun, dosa, dihapuskan dengan banyak penyesalan, serta permohonan ampun.

Sedangkan bagiannya yang lain, kutemukan tersudut, bertekuk lutut oleh rayuan setan, pun tepukan tangan penghuni neraka.

Sayang, perihal Dabi ini, sungguh aku tak mampu menebak.
Selain ia yang berkoar soal teori perbandingan, hingga berani menentang hukum Tuhan.

Tidak, sayang. Bukan kepada jiwa resah dilampiaskan.
Tweet Share Share Share Share Share

PENA
Aruki N

Kala itu purnama ditampakkan sebagai bulatan yang berdarah-darah

Selaksa cermin, di rupanya derita dan tangis lantas dilukis.

Maka sejak itu, bukit, pepohonan dan lautan saling berteriak: "Dunia telah hancur!"

Air mata tumpah sebagai sungai berdarah, bersama racun yang ditelan ikan di dalamnya.

Ketika itu, dari sebuah pena, cahaya berpendar bebas.

Melewati kisi jendela, dan sudut kota paling gelap hingga mengikis darah dari permukaan rembulan.

Begitupun air mata, dihapuskannya lewat goresan tinta paling emas.

Maka sejak itu, daun-daun, jangkrik dan apapun yang datang di malam hari, mulai bersorak: "Kita selamat! Tuhan masih sayang!"

Dari tinta emas, goresan lain dihadirkan.

Dunia telah kembali di masanya ditata.

Oleh cendekia, Sajak-sajak ditulis. Lalu beranjak memuisikan perubahan.

Di akhir cerita, pena itu dijelmakan sebagai pelajar dan karyanya.
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI, Lorong Kata --- Isu radikalisme dan terorisme menjadi topik utama dalam dalam setiap pengkajian keilmuan. Bukan tanpa alasan isu ini berkembang pesat tapi landasan peristiwa-peristiwa menggelitik yang mewarnai dunia keberagaman dinegara ini. Pengkajian yang berkembang mengalami multitafsir, sehingga kekokohan pendirian sangat dibutuhkan dalam memahami isu yang berkembang.

Perang kepercayaan menjadi sasaran utama perkembangan isu. banyak pihak yang menyayangkan justifikasi islam sebagai dalang dari pengeboman disurabaya, mungkin terkesan diskriminatif tapi itulah yang terjadi. Ketika kepentingan berjalan diatas kekuasaan maka tidak ada lagi pertimbangan dalam mewujudkan keegoan.

Skenario coba dijalankan dengan tujuan adu domba kepercayaan sehingga membuat kaum awam leluasa membuat kesimpulan. Bagi orang yang dalam proses menghadirkan kesadaran akan menilai ini adalah sebuah jebakan.

Sangat tidak adil ketika kita langsung membuat kesimpulan dengan menyatakan dan mengikutsertakan islam sebagai dalang. Namun, hanya akan menimpulkan perpecahan diantara 1 kepercayaan. Pada dasarnya semua agama tidak ada yang menghendaki terjadinya pembunuhan bahkan manusia tidak beragama pun (atheis) memiliki pandangan demikian.

Yang lebih ironis lagi ketika pakaian (syar’i) disangkut pautkan dengan terorisme. Sungguh suatu pembatasan yang tidak masuk akal. Menutup aurat adalah sebuah kewajiban dan pakaian syar’I adalah pilihan.

Sebagai kaum intelektual sungguh sangat lucu ketika kita mudah terjebak tanpa mempelajari terlebih dahulu. Mereka menyusun skenario bukan tanpa alasan dan tujuan, bisa jadi peristiwa-peristiwa terjadi hanya untuk menjatuhkan pihak yang tidak sepaham.

Penulis: Faisal
Tweet Share Share Share Share Share

Di Luar Nalar
(SastraRwa)

Rasa yang kau berikan di awal munculnya mentari,
rasa hampar meninggalkan bekas dibibir senyum manismu,

kau kokoh bagaikan air yang tak pernah tergoda degan api,
kau sekeras batu tak mau berucap, sayang,,,,,
Kau cuman tanah yang jinak

tetesan air hujan yang terus menggodamu untuk menumbuhkan benih" pada dirimu,,,

kau begitu pasrah tak berkutik atas kehendak perintah yang memegang kelembutan dirimu.

Suara merdumu terasa nikmat saat angin mengusik kemesraan lemah lembutku,,,

sesaat setelah senja menghampiri kuputuskan untuk menghentikan sesuatu indah yang tak direstui keberadaanya


Cilallang,19-05-2018
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI, Lorong Kata --- “Dan Kami (Tuhan) telah tunjukkan kepadanya (manusia) dua jalan (kebaikan dan keburukan). Namun manusia tidak bersedia menempuh jalan (kebaikan) penuh halangan. Tahukah engkau, apa itu jalan penuh halangan? Yaitu perjuangan membebaskan manusia yang terbelenggu (raqabah) perbudakan. Atau memberi makan di waktu wabah kelaparan. Kepada anak yatim yang ada ikatan kekeluargaan, dan kepada orang miskin yang dirundung debu (matrabah) kepapaan. Kemudian dia (yang berjuang) itu termasuk mereka yang beriman, dan saling berpesan kepada sesamanya tentang sabar, ketabahan, serta saling berpesan kepada sesamanya tentang marhamah, rasa cinta kasih-sayang. Mereka itulah golongan manusia yang berkebahagiaan” (Qs. Al-Balad/90: 10-18)

Dalam suatu sistem yang terkenal dengan kebuasannya selalu terdapat orang-orang yang berusaha memperbaikinya dengan cara menawarkan konsep-konsep yang ideal bagi mereka yang menganutnya, adanya pengklaiman bahwa aliran yang mereka bawa adalah yang memiliki daya tinggi dalam proses perbaikan namun pada kenyataannya dalam proses mencapai konsep ideal tersebut kerapkali menemukan jalan buntu dikarenakan ada beberapa persoalan dan hal yang biasanya terjadi adalah konsep ideal menurut mereka yang mereka tawarkan tidak mampu dipertanggungjawabkan dan itu merupakan sebuah penyakit jika mereka yang menawarkan tidak mampu menjalankan dengan baik.

Sang pemilik sistem biasanya mengakui konsep ideal tersebut namun sang pengagas konsep tidak terlalu memahami apa yang mereka susun sehingga terjadilah penyalahgunaan konsep ideal. Salah satu contohnya yang terjadi di pedesaan pada umumnya, desa dibentuk untuk mengorganisir, melindungi dan mengayomi masyarakat, dan itu merupakan hal yang dicita-citakan namun yang terjadi dalam dunia nyata justru di luar daripada hal-hal tersebut.

Selanjutnya di dunia pendidikan, utamanya dalam pendidikan tinggi kerapkali terjadi hal-hal yang mana di luar daripada poin yang termaktub dalam konstitusi, seperti yang diketahui bersama bahwa pendidikan tinggi memiliki dua landasan yang kuat yakni UU tentang pendidikan tinggi dan UU tentang sistem pendidikan nasional dan keduanya tidak terlepas daripada pilar kebangsaan yakni Pancasila dan Undang-undang Dasar.

Melirik kondisi pendidikan hari ini yang nampaknya sudah mengalami pergeseran definisi seperti yang diamanahkan dalan UU No. 12 Tahun 2012 Bab 1 Pasal 1 ayat 1 “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”,

Dari pemaparan di atas maka bisa ditarik kesimpulan bahwa kondisi pendidikan hari ini menyalahi beberapa poin di atas, sementara jika ditarik dari sejarah kapan pertama kali kondisi pendidikan mengalami degradasi esensi ataupun berjalan tidak sesuai dengan koridor yang ada yakni pada saat negeri ini memutuskan bergabung di WTO (World Trade Organization) yang ditandai dengan munculnya UU No 7 thn 1994 tentang pengesahan persetujuan pembentukan organisasi perdagangan dunia. Pasca PD II, negeri ini mengalami krisis ekonomi sehingga memutuskan ikut serta dalam WTO dan sebelum bergabung, ada perjanjian yang harus disepakati yakni perjanjian GATS yang isinya bahwa ada 12 sektor jasa yang akan diliberalisasi, salah satunya sektor jasa pendidikan.

Melalui kesepakatan itu, pemerintah melahirkan beberapa aturan dalam dunia pendidikan mulai UU Sisdiknas No 20 thn 2003 yang merupakan legitimasi kapitalisasi pendidikan dan dilanjut dengan dikeluarkannya UU PT No 12 thn 2012 yang menjurus ke komersialisasi pendidikan. Hal ini berimbas pada masalah pengelolaan keuangan lembaga pendidikan atau universitas yang mana negara atau pemerintah mencoba lepas daripada biaya pendidikan yang mana pengelolaan biaya pendidikan diserahkan kepada universitas untuk mencari sumber dananya dan perguruan tinggi bebas menaikkan biaya pendidikan setinggi-tingginya untuk keuntungan semata demi akumulasi modal yang melimpah, seperti yang terjadi pada Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan beberapa universitas lainnya di luar Sulawesi yang sudah diberlakukan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum atau PTNBH yang merupakan perguruan tinggi negeri yang didirikan oleh pemerintah yang berstatus sebagai badan hukum public yang otonom penuh dalam mengelola anggaran rumah tangga dan keuangan lalu dikenal sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN) dan Badan Hukum Pendidikan (BHP) kemudian lahirlah UU No 9 thn 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan.

Selanjutnya, berakar pada Undang - Undang No 12 Tahun 2012. UU ini adalah regulasi pengganti UU BHP yang pada tahun 2010 dibatalkan atau dicabut karena dinilai memberikan ruang bagi terlaksananya liberalisasi pendidikan (Baca privatisasi pendidikan). Di tahun yang sama, melalui PP No 66 tahun 2010, SBY berkomitmen secepatnya akan menggantikan UU BHP. Tidak lama, RUU PT masuk dalam prolegnas yang selanjutnya disahkan menjadi UU pada tahun 2012 walaupun banyak menuai protes dan demonstrasi mahasiswa diberbagai daerah menolak kebijakan tersebut.

Di dalam UUD 1945 sudah ditegaskan semua warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan Negara wajib membiayainya. Namun konstitusi ini bak lembaran kebijakan di negeri dongeng. Dengan semangat ekonomi neoliberalisme yang mensyaratkan semua lini kehidupan mesti diprivatisasi, dunia pendidikan pun tidak ketinggalan menjadi salah satu target privatisasi. Pendidikan adalah salah satu syarat memajukan tenaga produktif manusia.

Indonesia adalah Negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Tentu dengan kekayaan alam ini, harusnya tidak ada potensi bahwa rakyat negeri ini menjadi tenaga kerja murah karena pendidikannya rendah; menjadi TKW dan PRT karena hanya bisa mengakses pendidikan sebatas SD; atau pasrah karena menjadi pengangguran disebabkan putus sekolah/tidak sekolah sama sekali. Namun inilah kenyataan negeri kaya raya ini. Anak putus sekolah menjadi gelandangan, mahasiswa yang drop out karena tidak mampu lagi membayar biaya kuliah menjadi sebuah fenomena sehari-hari.

Kekayaan negeri ini memang tidak dipergunakan untuk kepentingan rakyat. Tambang Freeport adalah milik asing, yang tentunya keuntungan dari eksploitasi emas di pulau Papua ini hanya untuk perusahaan milik Amerika Serikat ini. Tidak hanya itu, tambang migas, nikel, hasil laut, hutan, hampir di seluruh daerah 90% dikelola oleh asing/swasta. Tidak cukup disitu saja, BUMN dijual mengikuti kepentingan sistem ekonomi neoliberalisme. Paska Orde Baru, privatisasi BUMN gencar dilakukan. Akhirnya, pendidikan pun masuk dalam bisnis, bukan sebagai institusi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Melalui UU PT No 12 thn 2012 dikeluarkan PERMENDIKBUD tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal No 55 Tahun 2013 dan PMA No 96 thn 2013 menuai protes dan polemik panjang dari berbagai kalangan (terutama gerakan mahasiswa dan civitas akademika) tentang kebijakan baru penerapan pembayaran biaya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Dalam lampiran Permendikbud diuraikan besarnya Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal dari masing-masing PTN di Indonesia. Uang Kuliah Tunggal merupakan bagian dari Biaya Kuliah Tunggal. Mahasiswa hanya membayar Uang Kuliah Tunggal per semester, sementara selisih Biaya Kuliah Tunggal yang dikurangi Uang Kuliah Tunggal menjadi beban pemerintah. Ini adalah Sistem baru pembayaran uang kuliah yang merupakan kalkulasi dari seluruh pembayaran uang kuliah (SPP, Wisuda, Yudisium, KKN, Sampai Almamater) dimana sistem ini memang sudah sejak awal diperkirakan akan menimbulkan masalah yang berkelanjutan.

Kemudian dilanjutkan dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 97/E/KU/2013 tertanggal 5 Februari 2013, maka pihak Dikti meminta agar perguruan Tinggi melaksanakan dua hal, yaitu:
  1. Menghapus uang pangkal bagi seluruh mahasiswa baru program S1 Reguler mulai tahun akademik 2013/2014
  2. Menetapkan dan melaksanakan tarif Uang Kuliah Tunggal bagi mahasiswa baru S1 Reguler mulai tahun akademik 2013/2014
Seperti penjelasan diatas, Uang Kuliah Tunggal (UKT) adalah sistem pembayaran akademik di mana mahasiswa program S1 reguler membayar biaya satuan pendidikan yang sudah ditetapkan jurusannya masing-masing. UKT dinilai sebagai terobosan baru dalam pembayaran akademik.

Harapan Mendikbud dan Dirjen Dikti menginstruksikan UKT akan diberlakukan mulai tahun ajaran 2013/2014. Dengan UKT, mahasiswa baru tak perlu membayar berbagai macam biaya, tetapi hanya membayar UKT yang jumlahnya akan tetap dan berlaku sama pada tiap semester selama masa kuliah. Mendikbud menjanjikan, tidak akan ada lagi biaya tinggi masuk PTN. Pemerintah akan memberikan dana bantuan operasional pendidikan tinggi negeri (BOPTN).

Selanjutnya, apakah betul 3 tujuan pokok diterapkannya sistem UKT “yakni : Pertama,UKT ditujukan untuk mereduksi kesenjangan dalam dunia pendidikan sekaligus sarana  pemerataan akses terhadap Pendidikan Tinggi, kedua, bahwa UKT sebagai langkah afirmasi untuk memberikan kesempatan bagi si Miskin untuk bisa berpendidikan tinggi, dan ketiga, UKT untuk meringankan biaya kuliah di perguruan tinggi yang berstatus negeri” sudah berjalan sebagaimana mestinya?

Harapan besar, pendidikan sebagai salah satu langkah mencerdaskan kehidupan bangsa yang tertuang dalam UUD 1945 secara nyata dapat diwujudkan di dalam praktik yang konkret. Biaya, perbedaan suku, budaya, agama dsb tak menghalangi anak bangsa untuk dapat mengaksesnya. Karena pendidikan haruslah merepresentasikan watak kerakyatannya. Yaitu tidak memandang golongan ekonomi, agama, suku bahkan budayanya tapi menyediakan ruang bagi seluruh anak bangsa untuk dapat terlibat aktif di dalam pendidikan. Selain itu, pendidikan harus bersifat demokratis yaitu bisa memberikan dampak yang nyata bagi pertumbuhan anak bangsa untuk membangun negerinya. Karena esensi pendidikan adalah bagaimana hasil pendidikan dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, khususnya persoalan di setiap masing-masing daerah sesuai dengan sosio-kulturnya.

Tetap nyalakan tanda bahaya Bung dan Nona!
Kalian adalah MAHASISWA bukan HAMASISWA

Penulis: Laskar Nur (DEMA-U UINAM)
Tweet Share Share Share Share Share

Ilmu dan Amal
(Falesul Akbar)

Gelap merdu lantunan dari surau
Menerangkan jiwa seraya menghampirinya
Itu bukan nyanyian
Sadarlah, itu adalah panggilan
Panggilan untuk kita persiapkan diri

Mencari rindhomu adalah tujuan
Sebab iya menerangkan dan mengubah semuanya

Harus ada kemauan untuk mendapatkannya
Harus ada keikhlasan dalam mengamalkannya
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI, Lorong Kata --- Situasi dan kondisi dunia kampus mengalami perubahan yang signifikan setiap tahunnya, khususnya masa-masa proses transisi tahun ajaran yang pastinya akan dijumpai banyak wajah-wajah baru yang sibuk dengan berkas dan map di tangannya, wajah polos tanpa larutan zat kimia di pipinya bagi dan tatanan rambut yang rapi disertai dengan minyak rambut yang membuat sisir bergerak tanpa hambatan di atas kulit kepalanya serta pakaian yang masih sangat sopan bak salah satu pengawai di perusahaan yang memprioritaskan penampilan.

Segala sesuatunya dihadapi dengan kepatuhan, perintah dijalankan tanpa harus mempertanyakannya dan tak kenal lelah untuk mengantri di depan tempat pendaftaran, rasa lapar seringkali ditahan demi mengantri agar bisa menyelesaikan tahap pendaftaran. Teguran dengan nada tinggi kerap terdengar di telinga mereka dari penjaga loket dengan tatapan yang sangat tajam, entah karena marah atau hanya hendak ditakuti oleh manusia-manusia lugu di depannya tetapi mereka tidak memperdulikan itu, bagi mereka adalah yang terpenting bisa diterima di kampus dan kuliah di jurusan yang mereka inginkan.

Tahun 2018 merupakan tahun yang kesekian kalinya yang mana beberapa bulannya dipadati dengan calon-calon mahasiswa yang baru saja merayakan kemenangan kecilnya di tingkat sekolah menengah dengan tradisi coret-mencoret di pakaian seragamnya yang kerap dipertontonkan kemudian konvoi atau parade dengan mengendarai sepeda motor yang biasanya dengan suara knalpot yang menggoyangkan kotoran telinga. Sesekali cibiran terlontar dari pengendara lain yang bukan termasuk dalam rombongan, menganggu lajur lalu lintas yang membuat para petinggi instansi atau perusahaan terlambat sampai kantor sehingga penandatanganan MOU dan serah terima saham dibatalkan atau bahkan gagal jika partner bisnis memiliki jiwa disiplin yang tinggi.

Pertunjukan yang merugikan bukan?

Namun di sisi lain ada hal yang tersirat dari tindakan mereka, mungkin perihal sistem di sekolahnya yang terlalu mengekang kebebasan berekspresi mereka dan tidak pernah diperkenalkan dengan realitas sehingga pada hari pengumuman kelulusan mereka memutuskan untuk berekspresi di jalanan dan meluapkan rasanya di setiap coretan di pakaian seragamnya atau mungkin juga mereka muak memakai pakaian seragam setiap harinya selama sekolah dan juga para tenaga pendidik di sekolahnya hendak menyeragamkan pula pemikiran mereka tanpa melihat karakter setiap individu sehingga mereka memutuskan untuk mewarnai pakaian seragamnya sedemikian rupa tergantung kehendak dari dalam dirinya. Entahlah, yang terpenting setiap individu memiliki kemerdekaan untuk melakukan segala sesuatunya sesuai jalan yang ditentukan oleh sang pemilik kehidupan.

Saat tiba masa tahun ajaran baru, biasanya seluruh kampus atau perguruan tinggi baik swasta maupun negeri di Indonesia serentak membuka jalur pendaftaran untuk mahasiswa baru, ada jalur pendaftaran nasional dan adapula jalur pendaftaran sesuai kebijakan petinggi masing-masing perguruan tinggi. Khusus salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di Makassar, setiap tahunnya membuka beberapa jalur pendaftaran kurang lebih 6 jalur pendaftaran, 2 jalur pendaftaran taraf nasional yang tentunya tidak butuh biaya pendaftaran alias gratis sedang 4 jalur lainnya harus ditempuh dengan mekanisme pembayaran uang pendaftaran yang biasanya beraneka ragam. Idealnya, untuk jalur nasional seharusnya semua jurusan tercantum dalam list jurusan yang tersedia agar para calon pendaftar bisa memilih jurusan yang mereka inginkan tanpa harus membayar uang pendaftaran. Tahun ini, ada beberapa keganjilan yang terjadi pada wilayah jalur pendaftaran yang sifatnya undangan di kampus yang terletak dekat pusat kabupaten Gowa tepatnya di Samata, jalur undangan dalam hal ini merupakan jalur yang diperuntukkan agar calon mahasiswa baru memilih dengan bebas jurusan yang diinginkan di kampus ini dan tentunya juga biaya kuliah persemester seharusnya agak murah, kan jalur undangan.

Yang namannya undangan dalam sebuah resepsi pernikahan tentunya memprioritaskan kebutuhan si tamu, menyediakan berbagai jenis hidangan, tidak mengharapkan kado dari si tamu namun tergantung keikhlasan dari si tamu ataupun kemampuan si tamu. Persoalan biaya kuliah di jalur undangan seharusnya melihat kemampuan calon mahasiswa baru dalam membayar biaya kuliah walaupun mekanisme pembayaran biaya kuliah sekarang di PTN bukan lagi namannya SPP melainkan UKT-BKT namun perlu diketahui bahwa kehadiran UKT-BKT tidak terlepas dari pada neraca kemampuan ekonomi orang tua mahasiswa. Permasalahan yang kemudian muncul adalah meskipun mekanisme pembayaran biaya kuliah tergantung kemampuan ekonomi orang tua mahasiswa yang sering dijadikan buah bibir para petinggi namun realisasi dari hal itu tidak nampak. Berbicara UKT-BKT berarti berbicara perihal kategori UKT dan tahun 2018, di kampus yang memiliki jargon Kampus Peradaban telah menerapkan kategori UKT sampai 7 kategori sesuai amanah KMA No. 211 Tahun 2018. Kategori UKT 1 dan 2 diperuntukkan untuk mahasiswa yang memiliki ekonomi menengah ke bawah dengan porsi yang berbeda, kategori 1 memiliki porsi paling sedikit 5% dari jumlah mahasiswa yang diterima.

Pemaparan itu yang tertera dalam PMA No. 96 Tahun 2013, PMA No. 30 Tahun 2014, KMA No. 124 Tahun 2015, KMA No. 289 Tahun 2016, KMA No. 157 Tahun 2017 dan KMA No. 211 Tahun 2018, coba perhatikan yang tulis tebal yang digarisbawahi di atas “paling sedikit” dan “jumlah mahasiswa yang diterima”. Bebicara tentang “paling sedikit” berarti masih bisa bertambah dan itu bukan ukuran maksimal artinya tergantung jumlah mahasiswa yang memiliki ekonomi menengah ke bawah sedangkan “jumlah mahasiswa yang diterima”, di sini kita tidak berbicara mengenai jumlah mahasiswa baru yang masuk setiap tahunnya atau yang diterima di kampus melainkan jumlah mahasiswa yang diterima di setiap prodi atau jurusan karena berbicara mengenai UKT tidak bisa terlepas daripada definisinya yang diatur dalam peraturan menteri.

Definisi UKT sesuai peraturan menteri adalah sebagian biaya kuliah tunggal (BKT) yang ditanggung oleh mahasiswa per prodi/jurusan untuk setiap semesternya. Misalnya jurusan X angkatan 2017 memiliki jumlah mahasiswa sebanyak 90 mahasiswa maka secara otomatis dari 90 mahasiswa memiliki tingkat kemampuan ekonomi yang berbeda-beda namun bisa ditarik kesimpulan berdasarkan hasil kuesioner mengenai pekerjaan orang tua mahasiswa yang kuliah di kampus peradaban mayoritas pekerjaan mereka adalah buruh tani, petani dan nelayan. Dari 90 mahasiswa seharusnya ada sekitar 15 mahasiswa yang harus dapat kategori 1.

Kembali lagi ke perihal jalur undangan untuk calon mahasiswa baru, dalam mekanisme penentuan kategori UKT bagi mahasiswa yang lulus jalur ini sudah bergeser daripada apa yang diatur dalam konstitusi selain permasalahan sistem UKT bagi kategori 1 yang hanya memiliki porsi paling sedikit 5% yang melanggar konstitusi negara ini yakni UUD 1945 pada bagian pembukaan yang menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, serta pasal 28C ayat 1 UUD 1945, pasal 31 ayat 1 UUD 1945 dan masih banyak lagi pasal yang mengatur perihal pendidikan dalam UUD 1945. Porsi paling sedikit 5% telah menciderai pasal 31 UUD 1945 dengan memberikan batasan.

Selanjutnya, perihal jalur undangan yang penentuan kategori UKTnya tahun ini ditentukan berdasarkan wawancara UKT namun yang terjadi di lapangan berdasarkan diskusi dari beberapa calon mahasiswa baru (CAMABA) tidak sesuai dengan wawancara yang seharusnya. Beberapa camaba mengutarakan bahwa mereka tidak diwawancarai perihal ekonomi mereka di bawah rata-rata, kenapa hal demikian bisa terjadi? Bukankah pendidikan tinggi memiliki prinsip yang tidak diskriminatif? Selanjutnya pengutaraan dari salah seorang mahasiswa angkatan sebelumnya yang sempat berdiskusi dengan salah seorang tim yang mewawancarai camaba katanya dia menentukan kategori UKT camaba yang dia wawancarai dengan melihat sepatu yang digunakan camaba, artinya jika memakai sepatu yang brandnya mahal maka kategori UKT yang didapatkan juga mahal dan begitu pula sebaliknya, masih adakah prinsip ilmiah yang identik dengan dunia kampus?

Lain cerita dari salah satu camaba yang berinisial R yang lulus jalur undangan pada jurusan X di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang telah mengisi biodata dan penghasilan orang tua secara online serta telah melewati tahap wawancara namun kategori yang didapatkan tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi orang tua dan data yang diinput secara online. Kategori yang diperoleh yakni kategori 3 senilai Rp 2.500.000,-padahal penghasilan orang tua si R setiap bulannya tidak menentu sebagai buruh tani, kadang-kadang Rp. 500.000,- /bulan dan juga memiliki tanggungan lain. Saat dimintai keterangan melalui via WhatsApp dan secara langsung, R mengatakan bahwa setelah dia memberitahu orang tuanya perihal kategori UKT yang diperoleh beserta jumlahnya, orang tuanya kemudian mengatakan ketidaksanggupannya mengirimkan uang pembayaran UKT yang terlalu mahal dan si R putus asa hingga akhirnya mengurungkan niatnya untuk mencicipi yang namannya bangku perkuliahan. Bisa dipastikan bahwa bukan hanya si R yang bernasib seperti itu tahun ini namun masih banyak lagi R yang lain, lantas bagaimana sikap pemimpin universitas dalam hal ini?

Dari rentetan peristiwa yang terjadi dalam sistem pendidikan tinggi hari ini maka bisa disimpulkan bahwa sistem pendidikan tinggi tidak ramah terhadap masyarakat yang kurang mampu dari segi ekonomi serta dari beberapa jalur penerimaan mahasiswa baru nampaknya telah mengalami pergeseran esensi dari penerimaan berdasarkan kecerdasan intelektual calon mahasiswa menjadi penerimaan mahasiswa melalui barometer kemampuan ekonomi orang tua mahasiswa artinya bukan karena kecerdasan intelektual yang menjadi barometer diterima atau tidaknya menjadi seorang mahasiswa di perguruan tinggi baik swasta maupun negeri tapi seberapa banyak budget yang dimiliki. Itu berdasarkan kondisi objektif yang terjadi di lapangan dan dari beberapa tulisan dan artikel yang membahasakan hal yang sama. Hal ini menjadi bahan evaluasi bagi para pemangku kebijakan di sektor pendidikan untuk memperbaiki tatanan yang tidak sesuai dengan cita-cita bersama sehingga mampu mewujudkan idealistis pendidikan yang pro untuk semua kalangan dan menjalankan amanah UUD 1945 tentang pendidikan sebagai hak seluruh warga negara Indonesia.

Penulis: Askar Nur (Dema-U UINAM)
Tweet Share Share Share Share Share

Dulu, Hari Ini, Esok dan Sampai Kapanpun
(andi)

Untukmu, sang peramu rindu.
Kemarin aku merindumu.
Hari ini masih merindumu.
Hingga besokpun akan tetap merindumu.

Kau adalah kau.
Yang kurindu sejak dulu.

Aku ingin menjadi pelukmu.
Menjadi tawa dikala sedihmu.
Menjadi teman dikala sepimu.

Aku ingin menyatukan rasa denganmu.
Agar rindu menyapa selalu.
Hingga perbedaan tak lagi jadi pengacau.

Wahai kau sang peramu rindu.
Jangan meminta permata untuk mengikatmu.
Karena kuingin mengikatmu dengan cinta dan rindu.
Permata memang indah namun cinta dan rinduku jauh lebih sempurna untukmu.
Tweet Share Share Share Share Share

(KASIH AMATILAH AKU)
(Syamsul Risal)

Kasih.
Kau tau harapanku sekarang kutujukan padamu.
Kau tau rasaku kulabukan di hatimu.
Dan kau tau inginku memilikimu bukan sekedar kata yang kini kau bisukan.
Akankah kau balas dengan hal yang sama

Kasih.
Aku terlalu kagum hingga tubuhku kaku terbelenggu asmara yang kejam, Tapi itu dulu.

Kasih.
Kini kau hadir dengan suasana baru yang terlukis di wajah mungilmu itu.

Akankah indah kisah kita ini? mungkin seindah wajahmu , Entah!Kita lihat saja nanti.
Kuharap kau mampu mengatasinya.

Kasih.
Amati langkahku, menuju cahaya dimana tepat kau berada dalam bekaman rindu.
Akan terobati semua mengalir bersama pedih yang kau rasa selama ini.

Aku selalu hadir dalam sadar maupun lelapmu karna aku adalah pikiranmu dan aku adalah duniamu.

Kemarilah dan Ikut denganku menuju tempat yang kelak akan kita rindukan lalu kembali lagi dan lagi.
Tweet Share Share Share Share Share

Terjebak Dalam Eksistensi Angka
(Faisal)

Dunia intelektual menawarkan beragam pilihan
Pelaku intelektual terkadang dilanda kebimbangan
Ketika dihantui tuntutan keseimbangan
Antara proses pendidikan dan kesenangan

Seakan menjadi pilihan yang tidak ada teman
Eksistensi angka terus berada dipermukaan
Mahasiswa sebagai kaum intelektual tertinggi terkadang harus merelakan segalanya untuk sebuah angka yang diidamkan

Bukan sebuah jebakan tapi merupakan sebuah tuntutan
Seolah-olah angka memberikan jaminan sukses dimasa depan

Bukan pula suatu kesalahan tapi merupakan jalan untuk mencapai tujuan
Berjuang terus melawan kenikmatan
Memaksakan mata terbuka walau kantuk terus menjanjikan nikmat

Tweet Share Share Share Share Share

Andika Putra
Hujan dan Sebuah Harapan
(Dikha)

Kepadamu yang kusebut Inna,
Aku ingin bercerita,
Perihal hujan dan sebuah penantian.

Kau tau kenapa ku ingin bercerita ?

Sebab rindu yang menggebu,
Telah berlalu menjadi kenangan,
Karena penantianku tak pernah kau hiraukan.

Ketahuilah...
Ada genangan airmata yang terus mengalir,
Yang tumpah pada secawan rindu,
Karena keresahanku telah larut dalam dunia rasa.

Aku memang pria yang kurang ajar,
Tapi....

Aku tak pernah berniat menyebutmu kejam,
Hanya karena penantian tak menemui kata temu.

Akupun tak berniat menganggapmu PHP,
Lantaran harapanku berujung kekecewaan.

Ini hanya ungkapan sang penyair,
Karena kopi dan rindu telah bersekutu,
Merenggut harapan,
Merubah asa menjadi kehancuran.

Sudah waktunya kuseduh kopiku lagi,
Kuracik dengan sebuah mimpi,
Agar kuhirup aroma rindu,
Yang dulu sempat kau kacaukan.
Tweet Share Share Share Share Share

Doa-doa Orang Miskin
(Burhan SJ)

Ketika senja mendadak tertelan bumi, apakah kemiskinan akan lenyap seketika? Tak mungkin.

Lapar dan haus bukan fenomena alam, ia adalah bencana mengerikan akibat ulah para penguasa kejam.

Kusaksikan anak terlantar, pengangguran dan kemiskinan itu menjelma wujud tampak beringas.

Mereka mencari bangkai, meminum darah dan keringat lelahnya sendiri.

Mereka tak lagi kenal kemanusiaan, yang ditau hanya tinggal cari makan dan minum untuk anak generasinya.

Kaum miskin itu, dan kini ia telah lupa makna kemerdekaan. Ia bahkan tak mengingat arti pemerintahan.

Sementara banji dan tanah longsor adalah doa-doanya yang terkabulkan.

Hanyalah kematian yang paling mereka ingat, di benaknya tak ada lagi harap, sebab dusta dan kemunafikan telah mencengkeram segala mimpinya.

Oh, Tuhan...
Sesekali mereka berteriak, apakah aku juga manusia? Lantaran binatang peliharaan dari majikan bijaksana lebih berharga.

Oh, para tokoh bangsa...
Teriakan-teriakannya bergumam, mengumandang, memanggil-manggil para leluhurnya yang gugur di medan perang.

Dan, kita semua akan mati oleh sistem kekuasaan yang tumpul dan buta.
Tweet Share Share Share Share Share

Andika Putra, Founder Lorong Kata
Inna, Wanita Kejam Dalam Penantian
(Dika)

Ketika sang waktu telah berlalu,
Rindupun mulai menggoda,
Menanggapi rasa gelisah,
Akan kah hadirmu menjadi candu,
Dari penantian yang berujung bertemu.

Bersama dinginnya embun pagi,
Dan fajar yang mulai menampakkan diri,
Kukirimkan doa lewat sepucuk surat kerinduan.

Ku panggil namamu Inna,
Wanita pemberi harapan,
Wanita yang begitu kejam,
Wanita dengan sejuta alasan.

Ketahuilah....
Pelangi dilangit senja,
Adalah puisi yang kurangkai indah,
Bertabur sejuta harapan,
Walau tak pernah menemui asa.

Hari ini aku teringat lagi,
Tentang hujan dan sebuah penantian,
Mengajarkanku arti sebuah pengorbanan,
Karena rindu tak selamanya harus berduaan.

Sudah saatnya kupahami,
Tak ada arti sebuah penantian,
Kini rindu tak lagi bersemayam,
Karena benci lalu kusebut kau wanita kejam.
Tweet Share Share Share Share Share

Inna, Wanita Pemberi Harapan
(Andika Putra)

Kutunggu sesuatu yang tak pasti,
Berharap hal itu dapat kau pahami,
Walau sejak awal telah kumengerti,
Kau tak akan pernah kemari.

Sabarku hingga berjam-jam,
Menunggumu yang begitu kejam,
Walau kuhanya bisa berdiam,
Ditertawai oleh gelapnya malam.

Aku hanya ingin kau tau,
Menunggu adalah perihal rindu,
Hingga penantian berujung bertemu,
Agar harapan tak menuai kata beku.

Malam kian getas,
Debit hujan kian deras,
Cahaya petir layaknya pentas,
Hingga menunggu tak lagi pantas.

Inna..... Itulah namamu,
Wanita pemberi harapan,
Yang membuatku menunggu dalam kegelapan,
Hanya kopi yang menjadi teman,
Ditengah hujan dan sebuah harapan.

Ketahuilah.....
Kopiku ini tak ingin kumenunggu lagi,
Duduk termenung seorang diri,
Batinku berkata kau tak perlu menunggu lagi,
Karena harapan telah merubah rindu menjadi kata benci.
Tweet Share Share Share Share Share

Buanglah ampas kopi yang masih terselip diantara lidahmu
(Sutra Tenri Awaru)

Kau tau tidak? Aku sangat ingin menjadi puntung puntung rokokmu, kau mau tau alasannya? Sebab puntung rokokmu jauh lebih dekat kepadamu dibandingkan aku.

Kau tau tidak? Mengapa aku ingin menjadi ampas kopimu? Sebab ampas kopi yang selalu menemanimu setiap harinya, objekmu yang selalu kau jadikan aspirasi. Jangan buang aku seperti ini, pentingkan aku, hargai keberadaanku.

Kau tau bedanya rindu dengan rokok? Rindu selalu saja menjadi candu ketika tak ada temu, lalu rokok akan selalu menyakitkan rahangmu, karena rokok tidak menyayangimu seperti aku yang selalu saja setia menyayangimu.

Kau tau bedanya kopi dengan cinta? Cinta selalu hadir di pelupuk sukmaku, cinta selalu menjadi tamengku untuk berkuat lalu bagaimana dengan kopi?

Kopi hanya mampu membuat lidahmu keruh dengan ampasnya, kopi hanya mampu memberimu inspirasi dengan sekejap lalu bagaimana pilih aku atau rokokmu atau kopi pekatmu?

Tweet Share Share Share Share Share

Kita pun bertanya pada kebingungan yang pergi meninggalkan kesepian.

Hampir seluruh manusia merayakan perkawinan mata dengan gadget ataupun kesenangan lainnya setiap hari. Ini bukan hal baru dalam sebuah garis sejarah kehidupan manusia hanya saja meningkatnya kebutuhan indrawi dari sebuah realitas kesepian menuju realitas kebingungan atau sering disebut sebagai manipulasi realitas (maya). Bingung karena kesendirian secara harfiah bukan lagi termasuk kesepian melainkan dipaksa dengan arti sebuah keramaian. Sering duduk bersama namun asik sendiri-sendiri.

Terkait dengan alam dan manusia dalam konteks biologis demikian tidak terlepas dari makan, minum dan seks (kenikmatan). Namun ada yang perlu digarisbawahi dari relasi manusia dengan sesuatu yang ada di luar dirinya yaitu adanya gerak elastis yang kian berputar seiring perkembangan zaman. Dengan demikian rotasi paradigma terjerumus dalam budaya konsumtif dan semakin mengekang keakuan manusia dengan budaya lokal. Takut dibilang tidak keren, ketinggalan zaman, kampungan atau semacamnya.

Menelisik perihal generasi di masa sekarang yang statusnya semakin melangit atau akrab disebut dengan Istilah generasi millennial. Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Millennial generation juga akrab disebut generation me atau echo boomers yang tergolong lahir pada 1980 - 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya. Generasi yang semakin hari menikmati hidangan teknologi dengan berbagai macam situs media dan tumpukan aplikasi di dalamnya.

Belum lagi di kalangan masyarakat luas belakangan ini yang telah digandrungi dengan aplikasi sejenis Tik Tok, Mobile Legend, Rules of Survival dan sebagiannya. Hegemoni ini tak mengenal identitas, bahkan para konsumer lebih besar dan lebih aktif dikalangan mereka yang bergelut dalam dunia pendidikan. Pendidikan yang kita kenal sebagai dunia para kaum intelektual muda, tempat untuk menumbuhkan kualitas kemanusiaan dan melawan segala bentuk eksploitasi kemanusiaan.

Budaya baru dan terbilang aneh ini semakin marak diperbincangkan oleh para pemikir, tapi tidak bagi mereka yang malas berpikir. Karena menganggap dunia digital adalah dunia serba instant, ataupun menjadikannya sebagi landasan berpikir. Dari hal demikian budaya konsumtif dalam dunia pendidikan pun tergolong generasi plagiatisme ataupun kapitalisme akademik. Bencana ini juga tampak dalam konteks politik "ideologi pasar" dengan proses produksi pengetahuan. Sebagaimana dalam sajak W.S. Rendra yang berjudul Sajak Sebatang Lisong. "Delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan. Papan tulis-papan tulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan. Dan di langit teknokrat berkata : Bahwa bangsa kita adalah malas bahwa bangsa mesti di-up-grade disesuaikan dengan teknologi yang diimpor."

Hampir seluruh metode belajar mengajar termaktub dalam dunia teknologi. Seperti halnya dunia literatur, buku-buku pun kini larut dalam bentuk soft file (PDF), ringkasnya adalah diskusi lewat media sosial, menulis dalam media online dan membaca hanya di up load dalam bentuk foto-foto. Bukankah pendidikan menurut Paulo Freire pendidikan adalah untuk membebaskan manusia dari kebodohan, dengan menawarkan tiga jenis kesadaran (naif, majid dan kritis) dengan metode dialogis.

Sekiranya penggunaan mata, hati dan akal semestinya tidak menafikan realitas. Sebagaimana Tuhan juga memerintahkan manusia untuk membaca realitas. Apalagi dalam dunia pendidikan mestinya lebih banyak membaca untuk melihat realitas dan menelanjangi dunia. Samuel Langhorne Clemens, lebih dikenal dengan nama pena-nya Mark Twain, adalah seorang novelis, penulis, dan pengajar berkebangsaan Amerika Serikat mengatakan "Orang yang tahu membaca namun tidak mau membaca tidak lebih dari orang yang tidak tau membaca."

Buruknya lagi jika masyarakat luas memandang kaum terdidik laksana sampah visual tanpa pemahaman luas tanpa aktualisasi kemanusiaan. Sampah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI adalah barang yang tidak terpakai "tidak berguna". Adapun bagi Merriam-Webster Dictionary, "Sesuatu diakatan sampah ketika miskin kualitas (poor quality) dan tidak begitu berarti (litle meaning)". Membaca dan melihat realitas adalah mengawinkan mata dengan kesepian dan menolak kebingungan. Maka dari itu menggunakan mata dengan banyak membaca adalah salahsatu cara memenjarakan bahasa. Sebab bahasa dan pikiran adalah satu kesatuan yang bergerak seirama perbuatan. Jangan terjebak dengan hegemoni media, bukalah mata dan mari melihat dunia yang lebih nyata.

Penulis : Iwan Mazkrib
Tweet Share Share Share Share Share

Ada Lima Balonku
(Fajar CT)

Ada lima balonku
Tak lolos satu tingggal empat
Ada empat calonku
Semua berebutan tempat

Ada empat pilihanku persaingannya ketat
Janjinya kupegang erat-erat
Eh ada satu dicari aparat
Ternyata menyogok itu berat
Akhirnya terjerat
Door.

Calonku tinggal tiga
Rupa-rupa janjinya
Ada membangun jalannya
Ada pula sumber daya alamnya
Tinggal butuh buktinya
Semua untuk Indonesia raya.

Sinjai 09/05/18
Tweet Share Share Share Share Share

Dok Priadi, Faisal
Manusia Dan Kebutuhannya
(faisal)

Diciptakan dengan sebuah tanggung jawab
Manusia menginjakkan kakinya dibumi dengan Penuh kesempurnaan
Seolah merupakan sebuah pendiskriminasian
Makhluk lain merasa terkucilkan

Kesempurnaan yang dimiliki manusia Membuatnya mampu mencipta Mengembangkan dan merubah
Kemampuan berfikir dititipkan agar manusia Mampu menjadi pemimpin bumi
Dari awal rasa iri sudah mengintip, makhluk lain mencoba menggoda tuhan dengan retorika menggelitik
Namun Tuhan maha tahu dan penuh yakin

Mungkin merupakan sebuah skenario
Manusia menjadi anarkis
Ketika perlahan tanggung jawab pemimpin diwarnai dengan sebuah keserakahan
Membuat yang merasa terdzalimi juga melakukan tindakan brutal

Dunia sudah semakin tua
Tampungannya pun sudah semakin banyak
Sesak, semua punya kebutuhan yang berbeda
membuat semua makhluk juga memiliki kuasa untuk melakukan seleksi

Kebutuhan menyeret manusia kepada sebuah kebrutalan
Semua berlomba, bersaing dan berfikir untuk berada dibarisan depan
Tidak memandang garis keturunan untuk tak menjatuhkan
Semua dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
Tweet Share Share Share Share Share

Azhar Hidayat, Mahasiswa UINAM Jurusan Hukum Pidana dan Ketata Negaraan.
OPINI, Lorong Kata --- Semua orang pasti tahu betapa ambruknya negeri ini terutama yang paling miris adalah pendidikan, di mana masih banyak masyarakat yang tidak mengenyam bangku sekolah  padahal telah jelas tertera dalam UUD sebagai hirarki tertinggi dalam perundang-undangan negeri ini, dimana dalam pasal 31 ayat 1 sangatlah jelas berbunyi "setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan" tetapi sayang beribu duka pendidikan di negriku yang tercinta ini jauh dari kata layak. Pemerintahannya malah apatis terhadap pendidikan rakyatnya padalah pendidikan sebagai ujung tombak perubahan malah menjadi barisan terbelakan dari perubahan.

Sementara, guru kita kihajar dewantara telah mendeklarasikan tentang pendidikan yang layak bagi rakyat indonesia pada tanggal 2 mei 1889 namun seiring berjalannya waktu negeri ibu pertiwi ini makin tua dan tampak kusam pada wajah pendidikan anak-anak bangsanya.

Pernahkah kita sadari sebagai pelanjut estafet kepemimpinan negeri ini mau di kemanakan ibu pertiwi ini ketika kita tuna pendidikan, krisis moral, rendahnya akhlak dalam diri generasi bangsa ini yang nampak adalah pemberontakan tampa dasar yang kuat. Kita sibuk memperdebatkan perbedaan saling menjatuhkan menghina dan menghujat satu sama lain. Masalah sepele diperbesarkan sedangkan karir dan perestasi belajar kita malah di kesampinkan, hidup di zaman modern ini semua serba mudah dan efisien dalam mengerjakan berbagai hal. Tapi malah miris karna kita hanyalah penikamat dan pengguna bukan menjadi pencipta.

Sementara data yang telah tercatat di perserikatan bangsa-bangsa untuk anak (UNICEF) dalam kurung waktu 2016 telah tercatat sebanyak 2,5 juta anak indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjut yakni 600 ribu anak indonesia yang mengeyam pendidikan sampai bangku Sekolah Dasar (SD), dan 1,9 juta anak indonesia yang cuma mampu mengeyam pendidikan sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Data inilah sudah sangat jelas menunjukkan bahwa pendidikan di negeri kita ini jauh dari kata maju, padalah anggaran APBN dan APBD telah menetapkan bahwa 20% di berikan untuk membiayai pendidikan namun ini belum mampu membuktikan secara realitas bahwa pendidikan kita dikatakan layak dan kesejahteraan rakyat jauh dari harapan.

Anggaran yang cukup besar dari negara ini malah menjadi ladang bagi para kuruptor untuk meraih keuntungan yang sangat besar dalam dunia pendidikan dan bahkan kerja sama antara pihak birokrasi dan parlamen sehingga menciptakan regulasi dengan pengusaha untuk  kapitalisme pendidikan di mana mereka menekankan pendidikan mahal sebagai acuan untuk menipu para rakyat sehingga rakyat yang berada digaris kemiskinan mampu tercekik dengan biaya pendidikan yang begitu mahal.

Pendidikan hari ini seperti sapi perah kata eko perasetyo di mana kaum kapitalisme telah nyata menindas rakyat yang menderita karna taraf hidup yang jauh dari kata sejahtera, padahal telah cukup jelas dibacakan setiap hari perayaan ke merdekaan bahwa. "mencerdaskan kehidupan bangsa", itu sebagai amnah dasar dari UUD 1945, apakah itu cuma selogan biasa yang kemudian di ucakapkan setelah itu tanpa ada implimentasi dari ucapan itu.

Apakah memang benar puisi W.S Rendra yang mengatakan "kita buta dan tuli di dalam hati seakan menipu diri sendiri" jutaan anak ibu pertiwi yang tidak mengenyam bangku pendikan karna persoalan biaya.di mana tanggun jawab pemerintah sebagai pemimpin bangsa apakah mereka sudah benar-benar buta terhadap rakyatnya yang miskin dan melarat bahkan turun kejalan meminta belaskasihan para penguasa yang lewat di lampu merah, mereka yang cuma menghabiskan ratusan juta uang negara untuk membiayai fasilitasnya befoya-foya tanpa rasa bersalah tidak melaksanakan amanah rakyat dengan bijaksana sungguh miris nasib ibu pertiwi.

Penulis: Azhar Hidayat
Tweet Share Share Share Share Share

Malam Yang Damai
(Risal Pratama)

Suasana yang indah, hamparan bumi dengan sinar rembulan.
Adakah kau disana menyaksikannya, cobalah.

Indah bukan? Yah memang demikian, nikmatilah sajian panorama malam ini dan tersenyumlah.

Hendaklah engkau menutup matamu yang indah,dan tidurlah.
Berdoalah sebelumnya, abdikanlah dirimu sebelum tidurmu yakinlah malaikat menjagamu.

Adakah celah untuk ku menjelma kedalam mimpimu, dan izinkanlah.
Kuingin ada kisah denganmu walau hanya sekedar mimpi.

Oh mimpi.
Kapankah engkau beranjak nyata.
Kuingin melihat senyunya lebih lama lagi.

Jemari ini meraih huruf merangkai kata menenun bait demi bait, terciptalah kisah untuk hari ini,SELAMAT MALAM.
Tweet Share Share Share Share Share

Dok Pribadi, Ketua PEMBEBASAN Kol-Kot Sinjai
Lorong Kata, www.LorongKa.com --- 01 mei,  merupakan momentum gerakan buruh untuk memperjuangkan hak-hak nya dibelahan bumi manapun saat ini, momentum yang selalu menjadi ajang kebangkitan gerakan buruh. Momentum ini pula disebut dengan istilah May Day Tapi hal ini adalah hal yang tabu atau biasa di kabupaten Sinjai. Hal yang tidak pernah dipandang sebagai suatu hari kebangkitan kelas pekerja. Atau hari dimana buruh menuntut hak-hak nya yang selama ini jauh dari kata terpenuhi sekali pun menggunakan kacamata UU ketenagakerjaan.

Satu kenyataan yang harus disadari saat ini di Sinjai, mayoritas buruh masih diupah jauh dibawah UMP (upah minimum provinsi)  dengan jam kerja 6-8 jam perhari. Tentunya hal ini tidak sesuai dengan UU ketenagakerjaan saat ini.

Yang mayoritas tenaga kerja itu pula terserap kedalam perusahaan-perusahaan pemerintah serta proyek-proyek pemerintah. Baik itu proyek pembangunan yang ada di desa-desa atau di kota-kota.

Sebenarnya pemerintah tau hal ini dan memahami betul bagaimana regulasi itu bekerja sebagai sesuatu keharusan yang wajib dilaksanakan. Namun pada kenyataannya bertahun bahkan berpuluh tahun hal ini di biarkan terjadi.

Kondisi demikian terjadi mungkin karena di Sinjai tidak ada gerakan buruh yang turun ke jalan menuntut hak-hak, seperti demonstrasi, Long March, mimbar bebas, atau dengan cara-cara yang lain untuk menyampaikan pendapatnya di muka publik. Seperti yang terjadi setiap tanggal 01 mei di Jawa, di Makassar,  atau di daerah-daerah yang lain. Atau kah? sampai saat ini tidak serikat pekerja/buruh yang hadir didepan memperjuangkan hak-hak nya.

Tapi ini bukan alasan yang tepat untuk pemerintah tidak melakukan pengawasan terhadap tempat-tempat yang banyak menyerap tenaga kerja atau proyek-proyek daerah yang banyak mempekerjakan rakyat.

Terlepas dari dia buruh kontrak, buruh tetap, atau mungkin buruh lepas. Tapi satu hal yang paling yang jelas bahwa dia ada kategori tenaga kerja dan warga negara yang dimana pemerintah khususnya daerah bertanggung jawab terhadap pemenuhan hak-hak nya. Seperti upah yang layak, jaminan keselamatan kerja, jam kerja yang tidak melebihi batas yang diatur oleh UU ketenagakerjaan dan hak-hak lainnya.

Belum lagi saat kita lebih seksama melihat terhadap perusahaan-perusahaan yang saat ini dibawah kontrol pemerintah secara langsung seperti Bulog, Pelabuhan, dan yang lainnya.  Apakah buruh yang ada disana sudah diupah yang layak ataukah hak-haknya yang lain terpenuhi.  Itu semua masih menjadi tanda tanya besar pada sistem tata kelola pemerintahan kita saat ini di Sinjai.

Disisi lain ditahun 2018 ini Sinjai, akan akan menghadapi Pilkada. Itu artinya akan ada program pemerintahan yang baru kedepannya. Tapi sampai saat ini saya juga belum melihat ada komitmen yang kuat oleh para calon pemimpin kedepannya terhadap komitmen pemenuhan hak-hak buruh atau upaya peningkatan kesejahteraan tenaga kerja.

Justru yang aneh sekarang kita terjebak pada wacana dan perdebatan soal tenaga kerja asing yang masuk di Indonesia dan lupa pada jalan untuk pencapaian terhadap keadilan dan kesejahteraan tenaga kerja kita.

Terlepas daripada tanggung jawab pemerintah sebagai kewajiban dan keharusan yang mutlak melindungi hak-hak kelas pekerja serta memastikan terpenuhinya. Juga gerakan sosial bertanggung jawab terhadap penyadaran dan transformasi informasi serta ilmu pengetahuan terhadap kelas pekerja yang sampai saat ini juga mayoritas diantara mereka belum memahami bagaimana pentingnya memperjuangkan hak-hak nya dengan jalan membangun Serikat atau cara yang lainnya.

Satu harapan yang besar di hari buruh (May Day) ini di Sinjai agar kedepannya buruh sebagai salah satu tonggak kemajuan bangsa dapat terpenuhi haknya dan tentunya juga membutuhkan pemimpin kedepannya yang bisa komitmen terhadap perjuangan kesejahteraan dan keadilan tersebut.

Penulis: Soleh Solihin
Powered by Blogger.