August 2018 | LORONG KATA
Tweet Share Share Share Share Share

Demokrasi Melankolis
(Andika Putra)

Disaat aku belajar kritis menghilangkan sifat emosionalis mengkritik dengan rasionalis agar hidup tenang dan harmonis.

Tumbuhkan semangat dengan intelektualis membedah masalah dengan logis menangkap perampok berwatak bengis agar hidup tak jadi pengemis.

Bebaskan Aku dari tipu gerombolan misionaris yang hilang rasa malu dan moralis, tampil di TV layaknya selebritis berpidato dan berceramah layaknya manusia islamis.

Aku memang bukan kaum agamis, atau kumpulan para akademis, atau golongan para intelektualis, aku rakyat biasa yang belajar kritis, yang sering lapar haus namun tak ingin mengemis.

Aku mohon jangan lagi membuat demokrasi menangis, lantaran merubahnya jadi melankolis, waktunya derita diberantas habis, agar kemiskinan semakin menipis.

Di ujung sana perampok rakyat melirik dengan sinis, tersenyum dengan wajah bengis, Aku menangis tak pernah digubris walau teriris harus tetap optimis, berharap tak lagi ada sok pancasilais dan nasionalis.

Aku bukan manusia yang hedonis, karenanya aku tak pernah mengemis, akupun bukan manusia sekularis, karenanya tak ingin di pecah karena isu agamis.

Aku sudah bosan suasana dramatis, visi misi sekedar simbolis tanpa realisasi yang manis, jangan buat tangis demokrasi semakin kronis, jangan memintaku menjadi anarkis, sebab hidupku cukup humanis, hapuskan saja kemiskinan hingga habis, agar kulukis sejarah hidup yang lebih manis.
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Salah satu visi misi Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla adalah mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Kebijakan impor beras sendiri bertolak belakang dengan upaya janji Jokowi-JK akan mewujudkan kedaulatan pangan melalui kebijakan perbaikan irigasi rusak dan jaringan irigasi di 3 juta hektar sawah, 1 juta hektar lahan sawah baru di luar jawa, pendirian bank petani dan UMKM, gudang dengan fasilitas pengolahan pasca panen ditiap sentra produksi.

Ataukah definisi dari upaya tersebut diartikan sebagai Impor? Jika kiranya Pemerintah telah menjalankan program cetak sawah untuk mendukung peningkatan produksi pangan, kenapa hingga hari ini masih melakukan Impor? sedangkan data lahan sawah pada tahun 2013 secara spasial terdapat 7.750 juta Ha. Apakah lahan sebesar ini sudah tergerus Habis dalam program nawacita sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan? Justru Yang terjadi dilapangan saat ini, lahan sawah yang semakin berkurang dengan adanya alih fungsi lahan pertanian terhadap pembangunan.

Rata-rata alih fungsi lahan pertahun mencapai 150 ribu hingga 200 ribu Ha. Dimana keberpihakan pemerintah terhadap kedaulatan pangan?

Dalam UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, di Pasal 19 dapat diartikan LP2B merupakan bagian dari penetapan Rencana Detil Tata Ruang (RDTR).

RDTR ini menjadi dasar penetapan lahan prioritas untuk membuka sawah-sawah baru dan sentra komoditas pertanian baru. Apakah kebijakan ini tidak dijalankan oleh pemerintah ataukah kebijakan ini sudah kotak-katik? Kebijakan Impor beras mungkin saja bagian dari proyek janji-janji dari kepentingan politik. Kenapa? Karena hingga hari ini penjelasan mengenai teknis impor beras belum juga ada penjelasan dari Kemendag terhadap Bulog. Beras diambil darimana dan berapa per-Kgnya. Ini kan tidak ada transparansi. Hal ini kan meyakinkan kita bahwa ada Mafia dibalik kebijakan Impor Beras.

Penulis : Saiful Hasan
Tweet Share Share Share Share Share

Bedamu dan bedaku sulit untuk ditafsirkan
sutratenriawaru

Malam menjadi bisu
Begitupun dirimu
Aku tidak masalah
Karena itu kamu.


Menitipkan sedikit senyumku pada diam kita. Kau tetap terfokus pada bisu.

Kau selalu saja menjadi orang yang bisu,ketika ku tengahdahkan mataku kepadamu. Kau begitu jauh ketika aku ingin memprovokasimu untuk bersua dan menyukai keramaian.
Aku ingin membuatmu tak lagi membisu,aku ingin kau memperlihatkanku senyum manis itu. Tapi tak masalah juga kalau kau tak bisa,Sebab itu kau!


Aku adalah kau yang kutemukan ditengah keramaian yang tidak menghargai arti keberadaan dan kemudian kau dan aku menjadi kita yang menciptakan kebaradaan diantara ketiadaan dalam bisu.

Akhirnya kau dan akupun,menjadi makhluk aneh yang tak saling mengenal,bahkan merindukan aku saja kau enggan.itulah kamu yang selalu ingin berbeda,dan bedamu itulah yang tak bisa ku tafsirkan !
Tweet Share Share Share Share Share

Penikmat Kopi Ketiga
Jaboel

Setiap hentakan nafas ku hanya bertasbih
mengingat jiwa juga rupa mu
menghirup setiap nafas kopi terseduh dari jemari lentikmu
duduk menatap bintang berserakan
menyeruput kopi dalam ingatan
Jiwa ku kurajut kembali
sambil mendangar curahan isi kepala juga hatimu

Inginku bersamamu di setiap hari-hari
Membuat kenangan lalu menertawai

Tapi...!

Semua angan itu bercerai lalu pergi seketika
Bagai angin membawa luka
Mungkin sebab orang ketiga
yang tak tau kasih cinta
Tweet Share Share Share Share Share

Ikhlasku Menjadi Doa Tulus Untukmu
Sabrina Bachtiar

Diriku kembali duduk bersimpuh di hadapanmu, Mengingat sakit yang pernah ku alami, Mengingat luka yang masih perih akibat goresan darimu, Diriku lemah ketika mengingatnya. Rapuh ketika terbayang. Seakan hanya dirimu orang yang terbaik.

Hari hari dirimu selalu bersamaku Namun tidak dengan sekarang. Semuanya terasa berbeda. Tawamu yang masih hangat terdengar menjadi sepi terbawa oleh angin. Teguranmu yang amat santun masih teringat ketika diriku salah.

Jujur, perpisahan ini sudah dua tahun silam, Namun bayangan dan senyuman manismu masih tersave rapi di benak dan khayalku, Semuanya masih sama. Diriku masih menyayangimu. Diriku masih gadis mungil yang sering kamu tegur dengan sentuhan kata yang lembut. Diriku rindu akan hal kecil itu

Yahh. Dia bukan kekasihku melaikan saudara ayah yang ku anggap seperti kakak kandung sendiri. Seorang pria titipan tuhan yang sangat ku rindukan.

Namun, tak bisa ku pungkiri. Semuanya sudah hilang. Jiwa yang perih ketika mengingatnya sangatlah rumit untuk beranjak pada langkah yang berbeda. Tak ingin mundurr melainkan kembali bersama.

Hanya kata ikhlas yang bisa mengubahnya. Hanya kata ikhlas yang mampu menggerakkan hidupku untuk melangkah..

Perlu kau ketahui.
Aku sangat menyayangimu
Tweet Share Share Share Share Share

Sebuah Titipan Rindu Dan Ucapan Maaf
Nur Wahidah

Aku mencoba untuk selalu menaikkan senyumku.
Terkadang tawa kecilmu selalu terbayang di fikiranku.
Kadang kala aku berfikir aku rindu.
Kadang kala aku ingin beranjak dari tempatku.

Caraku merindu berbeda.
Tidak seperti mereka yg mempamerkan rindunya.
Rinduku kusimpan hingga tak ku tau sudah seberapa besar.

Aku tau kau lebih rindu.
Egoku tak kau pedulikan.
Nakalku tak menjadi alasanmu untuk marah.
Tangisku menjadi hal yang kau ingin dengar setiap malam,sama seperti masa kecilku.

Maafkan aku yang selalu mengucap rindu namun tak mampu untuk bertemu.
Aku sangat sadar bahwa senyummu takkan selamanya kulihat.
Bahwa tatapanmu takkan selamanya menatapku.

Waktu akan memisahkan kita .
Aku yakin itu.
Tapi, untuk saat ini ,biarkan aku menabung rinduku dulu.
Tapi yakinlah aku akan pulang memelukmu dan menciummu.

maafkan aku ibuku sayang.
Dan terima kasih untuk semua yang rela kau berikan.
Apa yang kau berikan.
Selalu ku ambil semuanya. tapi,kau tak pernah marah.

Apa yang kuminta engkau selalu berikan .
Inilah alasanku merasa bersalah padamu ibuku.
Terkadang kau hanya menyuruhku pulang untuk sekedar tidur di kamar kecil kita.
Tapi alasan kesibukan selalu menjadi boom andalanku untuk tak pulang.

Tapi lagi-lagi kau hanya tersenyum dan mengucapkan doa.
Ibuku sayang.
Satu hal yang harus kau tau.
Aku masih tetap sama.
Aku masih putri kecilmu yang selalu rindu kau elus rambutnya.

ini janjiku ibu.
Aku akan pulang. Baik itu kau minta atau tidak,aku pasti akan pulang.
Dan besar harapanku kau akan selalu sehat hingga nanti masa tuamu akan hidup bersamaku.

Love You Mom
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Sebagaimana biasanya ILC yg di pimpin oleh bang Karni Ilyas selalu mengusung tema yang lagi hot sedikit kontroversial dan menjadi trending topik, bang Karni dengan gaya khasnya membawakan acara dengan santai tapi tegas serta memiliki kharisma tersendiri mengantarkan ILC ini menjadi salahsatu acara televisi yang paling diminati di seantero Republik ini.

Tema diskusi semalam membahas tentang pemilihan cawapres yg diwarnai dg aroma mahar politik & PHP menjadi magnet yang begitu luarbiasa apa lagi dihadiri langsung dengan sosok yang di persepsikan sebagai pihak pelaku pada tema diatas yakni Sandiaga Uno dan prof Mahfud MD, dari diskusi panjang semalam penulis menyimpulkan beberapa catatan kecil yang menjadi intisari penjelasan Prof Mahfud, antara lain sebagai berikut:

Pertama, bahwa benar Presiden tersandra permainan politik yang didalangi aktor-aktor partai koalisi yang mengusungnya. Presiden Jokowi tak cukup berani keluar dan melawan tekanan-tekanan itu. Pemilihan cawapres kemarin, misalnya, terbukti hanya merupakan hasil negosiasi politik dan kompromi saham elektoral belaka—tidak berpijak pada prinsip yang lebih punya visi kebangsaan dan mengedepankan kepentingan rakyat.

Kedua, rumor yang mengatakan bahwa ada ‘super-mentor’ di belakang presiden yang begitu kuat bisa menentukan dan mem-plot banyak hal rupanya benar. Aneka jabatan stretegis yang ditawarkan kepada banyak orang, termasuk jabatan menteri dan komisaris, bisa diatur-atur dan dirancang-rancang sedemikian rupa oleh sang ‘supervisor’ presiden ini. Ini sama sekali tidak bagus untuk bangunan negara dan pemerintahan kita, di mana presiden seharusnya merupakan orang dengan kekuasaan tertinggi—bukan petugas belaka.

Ketiga, kita harus bersedih mengetahui fakta bahwa ‘orang-orang politik’ dan ‘orang-orang partai’ di sekeliling presiden adalah orang-orang yang diragukan integritasnya—yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, partai atau golongannya belaka. Apalagi jika orang-orang ini kerap menunjukkan standar ganda bahkan hipokrisi dalam hal-hal yang paling prinsip sekalipun, termasuk kejujuran dan kesalehan.

Keempat, kesaksian Prof Mahfud memberi tahu kita bahwa yang sering menuduh orang lain melakukan politisasi agama sejatinya adalah mereka yang benar-benar melakukan politik agama. Pak Mahfud menampar secara keras orang-orang itu, membuka tirai penutup aibnya menjadi terang benderang di hadapan publik. Kita malu dan sakit mendengarnya.

Kelima, Pak Mahfud selalu menolak ketika dikatakan bahwa ia sakit hati, kecewa, bahkan sedih karena telah menjadi korban PHP. Persis seperti ketika ia memotong pernyataan Effendi Gazali sambil tersenyum dan mengatakan, “Saya tidak merasa di-PHP, Pak. Saya legowo aja, biasa.” Katanya. Benar, Pak Mahfud, Bapak memang tidak di-PHP, Bapak hanya kena prank Youtuber Istana!

Keenam, penunjukan kiyai ma'ruf sebagai cawapres membangun politik persepsi seolah-olah murni pilihan pak Jokowi yang nir intervensi dengan skenario pak Ma'ruf Amin tidak hadir pada acara deklarasi dan beberapa saat kemudian pak kiyai ma'ruf amin di wawancarai oleh wartawan di tempat lain dengan mimik yang kaget dan mengatakan sungguh saya tidak menyangka akan di pilih pak Jokowi sebagai calon wakilnya, namun seluruh skenario drama ini terbantahkan oleh penjelasan Prof Mahfud yang di urai secara sistematis dan terang benderang.

Mari kita nantikan drama panjang perhelatan Akbar demokrasi yg masih menyisakan berepisode episode akting yang akan tersaji dihadapan kita yang bakal di pertontonkan kedua pasang calon kontestan dan pada akhirnya kita belum tau siapa yang bakal tereliminasi dan siapa yang keluar sebagai jawara, tentu siapapun pemenangnya adalah presiden kita semua olehnya itu masyarakat harus cerdas menilai siapa diantara keduanya yang layak mengantarkan Republik ini menjadi bangsa yang bermartabat di hormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Author: Muh.ikbal majid
Forum masyarakat hukum pidana& kriminal Indonesia (MAHUPIKI)
Tweet Share Share Share Share Share

UNTUKMU INDONESIAKU
(Arsyi Wahab)

Indonesiaku...
Kini umurmu genap 73 tahun
Aku harap diumurmu yang kesekian kalinya, Membawa berita gembira tentang perubahan yang baik,
tentang apa yang dititipkan pada pundak cita" bangsa, kepada diriku, dirimu dan dia

Aku bersyukur terlahir didunia ini
Terlahir dirahim seorang ibu yag lahir di bangsa yang besar
Bangsa yang subur, bangsa yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.
Begitu pula degan para leluhurku yang ditakdirkan memperjuangkan bangsa, Yang kini dititpkan kepadaku dan mereka,
melanjutkan cita-cita yang dititipkan ditanah surgaku INDONESIA

Aku sadar... hadirku masih jadi beban di tanah surga,
DiUmurku yang beranjak 19 tahun Hadirku hanya menumpang nyawa,
Sampai detik ini tak ada perjuangan yang berarti yang kuperjuagkan untukmu indonesiaku
Cuman tagihan lagu Indonesia raya yang akan kuperjuangkan, akan kunyanyikan di hari lahirmu
yang ke 73 tahun

Jayalah Indonesiaku
Kepakkan sayap garudamu setinggi mungkin
Agar kau dapat melihat betapa indah Indonesia
ahaha kuharap gunung bawa karaeng tersyum kepada mu dan butta panrita lopi selalu menantimu.
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Kemerdekaan bukanlah sebuah mantera yang berkekuatan magis untuk mewujudkan sebuah cita-cita, tanpa gelimang darah, tanpa denyutan jantung yang terhenti tanpa menelan korban.

Kemerdekaan adalah keteguhan komitmen, cita-cita dan harapan serta perjuangan bagi hadirnya suatu tatanan masyarakat baru.

Tahun ini Indonesia menapaki moment 73 tahun kemerdekaan. Ditinjau dari umur seorang manusia sudah memasuki fase matang, namun dari realita yang ada sekarang benarkah Indonesia telah matang baik secara sosial, ekonomi, dan politik?
Atau istilah Founding Fathers negeri ini sudah bisa disebut negeri yang berdaulat?

Sebelum menuntaskan sebuah persoalan negeri, mari meninjau romantisme masa lalu Indonesia..

Refleks sejarah Indonesia, katanya "Bangsa yang besar, adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah negerinya" mendayu indah ditelinga, tercatat jelas dilembaran sejarah.

Tepat jam 10 Pagi di Jl. Penggagasan Timur (Sekarang Jl. Proklamasi) Presiden pertama Ir. Soekarno dengan lantang meneriakkan kemerdekaan dengan sound yang terdengar seantereo nusantara yang merupakan sebuah kebahagiaan, kebebasan bangsa yang muak terjajah lebih dari 3 abad lamanya.

Jauh, sangat jauh dari kemerdekaan, tahun 1928 sejarah Indonesia hanya sebagian yang mencatat dan mengabadikan tulisan-tulisan yang muak akan penjajahan, yang mencintai negerinya hingga hanya mencicipi sedikit saja tentang indahnya romansa asmara.

Siapa yang tidak mengenal pemuda Minangkabau yang tulisannya sangat berpengaruh dizamannya, yang rela melepas gelar kebangaannya hanya untuk menimbah ilmu di negeri yang dibenci para tetuah adatnya yang dengan liarnya menjajah Indonesia taitu Nederland, tekad dan alasan yang sederhana namun tersirat makna yaitu hanya untuk pergerakan dan perubahan bangsa, sebut saja namanya Ibrahim biasa dipanggil Tan Malaka.

Dikutip dalam bukunya, Tan Malaka, "Merdeka 100 Persen" karya Robertus Robert, kelima tokoh kiasan itu membahas seputar tentang kondisi politik, rencana perekonomian berjuang, hingga soal muslihat.

Dalam pembicaraan politik dibahas tentang makna dan kemerdekaan dan sebagainya. Inti dari bagian itu adalah, kemerdekaan harus 100% tanpa harus ditawar-tawar, sebuah negara harus mandiri menguasai kekayaan alamnya, dan mengelola negerinya tanpa ada intervensi asing.

Sedangkan dalam putaran bahasan ekonomi, yang dibahas rencana perekonomian negara kapitalis terhadap negara lainnya termaksud Indonesia, diatur merasa bahwa yang paling mengetahui perencanaan ekonomi yang tepat bagi Indonesia.

Dalam bahasan muslihat dibahas soal iklim perjuangan, diplomasi hingga syarat serta taktik dalam berjuang.

Pemikiran buku "Merdeka 100%" puncaknya disampaikannya untuk menyinggung kesepakatan antara Bung Karno dan Pihak Jepang yang hanya sebagian orang yang memahami.

Terekam indah dalam sejarah memorial Perdebatan antara Tan Malaka dan Ir.Soekarno di bayah. Tempat bersejarah bagi ia yang merupakan tempat pertemuan pertamanya dengan Ir.Soekarno. Dalam Biografinya "Dari Penjara Ke Penjara"  membuat Tan Malaka mengagumi Ir.Soekarno.

Suatu kehormatan baginya saat itu ia ditugasi, untuk melayani Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Namun sayangnya Ir. Soekarno tak mengenal bahwa ia adalah Tan Malaka Seorang pemuda yang penuh inspiratif. Sebab saat itu Tan Malaka menyamar dengan nama Ilyas Hussein.

Setelah sampai diruang pertemuan, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta memulai pidatonya yang ternyata tak memuaskan hati Tan Malaka.

"Pidato itu tak beda dengan berlusin-lusin yang diucapkan dalam rapat raksasa, atau penyampaian di radio-radio. Sari isinya adalah cocok dengan kehendak Penjajah Jepang.

"Kita harus berbakti dulu pada Jepang saudara tua yang mati-matian melawan sekutu jahanam itu. Setelah sekutu itu kalah, maka kita dan saudara tua akan merdeka" pidato Bung Karno.

Dari posisi paling belakang Tan mengajukan sebuah pertanyaaan.

"Kalau saya tidak salah, bahwa kemenangan terakhir akan menjamin kemerdekaan kita, itu artinya kita harus mendahulukan kemenangan mereka dulu baru kita akan merdeka. Apakah tiada lebih cepat kalau kemerdekaan lalu akan diberi kemenangan, mengapa kemerdekaan tergantung kemenangan mereka?" Tanya Tan Malaka.

Namun tak ditanggapi secara serius oleh Ir. Soekarno. Melihat ini, Tan Malaka begitu jengkel hingga beberapa kali mengejek.

"Bukankah jasa kita terlebih dahulu? Setelah melihat jasa kita maka Dai Nippon akan memberi kita kemerdekaan" demikian jawaban Ir.Soekarno.

Merasa tak sehaluan dengan Ir. Soekarno tentang kemerdekaan membuat Tan Malaka kembali angkat bicara. Tan sadar perlunya perjuangan meski misalnya pada saat itu Indonesia sudah merdeka.

Semangat kemerdekaan akan lebih bermakna apabila kemerdekaan itu didapat atas usaha sendiri, bukan atas kesepakatan pihak lain," Tegas Tan Malaka saat Itu.

Setelah mendengar pertanyaan Tan, Ir. Soekarno berdiri merapikan pakaiannya seakan menegaskan siapa dirinya.

"Kalaupun Dai Nippon memberikan kemerdekaan kepada saya saat ini, maka saya tidak akan menerima," Kata Ir. Soekarno

Mendengar jawaban itu, Tan Malaka kembali bereaksi tak terima, tapi tidak diperkenankan oleh pengawas untuk berbicara lagi.

Perbedaan pemikiran antara Ir. Soekarno dan Tan Malaka bergelut hingga pada saat Proklamasi.

Pada saat itu, Tan Malaka sudah membuka identitasnya pada Ir. Soekarno, namun Bung Karno tetap pada pendiriannya untuk melakukan perundingan pada Belanda, namun Tan Malaka tetap tidak setuju. Tan Malaka berpendapat bahwa kemerdekaan harus diraih 100% tanpa kesepakatan dari beberapa pihak.

Dari sedikit penggalan sejarah tentang perjuangan RI, membuat kita sadar bahwasanya berbagai polemik yang terjadi sekarang karena ketidaksiapan dan ketergantungan kemerdekaan.

Perjalanan sejarah yang begitu rumit, tragis serta dramatis.

Kembali pada realita sekarang, dilematika melahirkan banyaknya problematika yang menjadi tantangan besar para politisi elit kotor yang mengatasnamakan rakyat. Semua di negeri ini mendadak mahal, yang murah adalah nyawa manusia!

HAM dan rasa Nasionalisme hanyalah kiasan indah surga telinga.

Lantas siapa yang tersalahkan dalam hal ini? Para pendahulu yang meninggalkan serumit persoalan? Atau para generasi yang tak mampu berbuat apa-apa.

Tetapi, tetap saja ada pelipur lara, setidaknya ada sebagian mereka yang mencoba mengharumkan nama bangsa, dan segelintir keindahan alam yang masih menyembunyikan keperawanan indahnya.
Bersyukurlah, sebab kita masih punya harapan.

Kalaupun bisa jujur, sangat dirindukan untuk merdeka sekali lagi, agar dirasakannya kemerdekaan yang benar-benar merdeka.

Jangan tanyakan apa yang Indonesia berikan padamu, tapi tanyakan apa yang kau berikan untuk Indonesia.

Selamat Ulang Tahun Ibu Pertiwi

Penulis : Hariani Arifuddin
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Kebaikan memang hal yang harus di miliki setiap manusia. tetapi, seorang caleg kecerdasan yang harus ia miliki..

Bagaimana tidak, para anggota rakyat saat ini bungkam terhadap pembangunan daerah!

Tetapi mengapa dan mengapa tautan yang dibagikan seakan menegaskan bahwa caleg tersebut orang yang begitu pandai, orang yang begitu arif. Namun kenyataanya seperti apa?

Ketika rapat, ada saja alasan yang begitu tidak masuk di akal. Mengapa mereka seperti itu? Karna mereka tidak tau menau berbicara dihadapan orang banyak, lalu apa penyebabnya?

Penyebabnya ialah mereka berpolitik instan tanpa tau menau politik itu seperti apa.

Rakyat saat ini sudah cerdas, sudah mampu memilih pemimpin yang bijak

Author: Sutra Tenri Awaru
Tweet Share Share Share Share Share


OPINI --- Hujan senantiasa membasahi bumi, rerumputan mulai tumbuh kembali, secara perlahan hukum alam tetap pada tupoksinya, perlahan tanaman menghijaukan tanah yang mulai gersang. Hal itu terjadi di bumi Sulawesi, khususnya. Kakek dan nenek manusia mati, di waktu yang sama kelahiran bayi terus-menerus membentuk kalimat 'regenerasi' tetap bertahan.

Perubahan iklim dan peningkatan suhu panas bumi, seperti data yang dilansir oleh Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) Amerika Serikat (AS), tahun 2017 adalah tahun terpanas ketiga setelah 2016 dan 2015. Semua itu, tak lepas dari ekonomi, politik dan sosial manusia. Dinamika kehidupan adalah kemutlakan yang tak terbantahkan oleh teknologi.

Lingkungan berubah, hidup manusia semakin instan akibat kemajuan teknologi canggih buatan negera-negara tetangga. Entah mengapa, kondisi sosial ekonomi Indonesia masih sama seperti yang disisakan Eropa. Yang berubah hanyalah utang, semakin hari kian melonjak, hingga sudah mencapai kurang lebih 4.000 trilyun.

Semua berubah, namun ada yang aneh beberapa minggu terakhir. Kadang tiba-tiba banyak orang-orang yang mengaku tokoh dan petinggi pilitik berdatangan ke kampung-kampung. Kampung saya yang paling jauh juga jadi sasaran kunjungan mereka. "mereka mau mencalonkan diri maju di DPRD" ujar tetangga rumah saya yang gagah itu. Saya hanya tersenyum pulas menanggapi.

Berbicara mengenai pemilihan, tentu akan ada banyak objek yang dituju. Namun, satu dua orang lainnya adalah perempuan, guna memenuhi quota 30 persen perempuan di parlemen. Soal memenuhi quota, mutlak. Tentang memenuhi kapasitas intelektua? Mungkin jawabnya ada di atas sana.

Bila dibayangkan, apakah orang memilih betul-betul sesuai nurani atas dirinya, atau hanya buat orang lain, atau justru memilih karena terpaksa harus memilih?. Dan soal pilih-memilih ini sudah seperti hal yang lumrah untuk kepemimpinan bangsa dan negara, tak terkecuali yang latar belakang tokohnya dipertanyakan.

Jelang Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 mendatang. Beragam foto, tegline dengan gaya paling memikat pun telah dipromosikan terlebih dahulu di berbagai media. Berbagai kutipan yang datangnya entah darimana dan oleh siapa, dipajang dengan sangat rapi serta sistematis di ruang-ruang yang mudah diakses publik.

Gaya dan penampilan para politisi yang mengaku bijak atau mengklaim dirinya suci, nampak paling megah sesekali menonjolkan rekayasa estetik bila kita mengakses internet untuk baca arikel terlebih mengikuti berita.

Padahal kalau menurut saya, seharusnya orang berpikir tiga kali lipat untuk maju. Sebab Legislatif atau Wakil Rakyat itu bukan hanya sekedar nama, tapi ia adalah tanggung jawab besar yang mesti diemban dan dijalankan dengan baik sesuai harapan rakyat.

Tapi faktanya tetap saja sama, tidak ada bedanya. Dari zaman batu para calon pemimpin sudah pandai bersilat lidah, hingga era Millenial yang mengerikan saat ini kondisi itu masih ada dan justru merajalela.

Seorang politikus yang pernah memimpin Uni Soviet pada masa-masa awal Perang Dingin,

Nikita Krushchev, perah berkata "Politisi itu semuanya sama. Mereka berjanji membangun jembatan meskipun sebenarnya tidak ada sungainya di sana". Seharusnya telah menjadi renungan bagi siapapu yang ingin maju atau terlibat dalam politisi, sebab sejak dulu politisi sudah dianggap pandai memikat lewat janji.

Faktanya sekarang justru mereka berlomba-lomba ingin maju, membusungkan dada dan menganggap dirinya paling bijak, mencari empati, entah untuk upeti. Tapi kursi empuk tujuannya, itu sudah pasti.

Sebagai pemuda biasa dari pelosok negeri, saya hanya bingung dan khawatir. Bingung akan meilih siapa atau tidak memilih siapa, serta khawatir mereka yang mau maju itu hanya untuk kepentingan pribadi dan golongannya saja.

Kebingungan dan kekhawatiran itu terus tumbuh dievaluasi waktu, hingga saya menyadari. Kalau para Calon Legislatif (Caleg) mau membangun, pelosok-pelisok pasti sudah tentram. Saat ditanya alasannya, "berikan saya kesempatan sekali saja, maka saya akan berbuat baik" pun kalimat ini lahir dan tumbuh sejak Indonesia merdeka, kalimat itu sudah akut, sayangnya masih bertahan.

Sekalipun demikian, anggota DPRD dari tingkat paling bawah hingga tingkat DPR-RI saat menjabat hanya nol koma sekian persen visi-misinya yang terealisasi, namun kini tampil lagi dengan gaya retorika yang sama dengan harapan sama juga ditularka pada rakyat.

Bahkan tak jarang dari aktivis yang dulunya teriak lantang anti korupsi, anti pelanggar HAM, juga ternyata terjebak dalam kekangan politik praktis, mereka pun kini terlibat dalam sistem yang semula ditolaknya secara tegas. Sialnya akademis pun sudah banyak dijumpai terjun dalam politik elit yang mengenaskan. Padahal akademislah salah satunya landasan kemurnian ilmu pengetahuan. Akibatnya adalah, pelopor yang kita andalkan, sudah banyak yang bungkam oleh berbagai kepentingan.

Miris melihat fenomena nyaleg ini. Rakyat kecil jadi korban janji manis, serta sebagian dari mereka juga tentu hanya korban kelengkapan administrasi partai. Tentu bukan salah rakyat, sebab ia tak tahu akan sistematika perpolitikan, rakyat hanya berharap hidup aman, tenang dan damai.

Seyogianya para Caleg paham, tapi tak mungkin juga memberikan pemahaman kepada rakyat, sebab bila rakyat paham akan kondisi menyedihkan dari sistem pilotik praktis, maka rakyat akan minder untuk memilih.

Sebagai pemuda biasa yang tak bisa berbuat apa-apa, saya hanya berharap para politisi terutama yang maju menuju DPRD 2019 mendatang, agar betul-betul maju bukan hanya karena fiansial tapi intelektual yang memadai. Dan rakyat hanya butuh bantuan kompleks, bukan janji apalagi hanya sekedar pidato.

Author: Burhan SJ
Powered by Blogger.