October 2018 | LORONG KATA
Tweet Share Share Share Share Share

TANGISAN NONA
"KARENA SSU SAYANG"

Beranjak dari tatapan, seakan termanipulasi oleh ketampanan.

Disertai senyuman hasrat yang terus mengikat,menjadi awal cerita dari kehancuran para nona.

Komunikasi kian berjalan lancar dengan bermodalkan kata yang mengatasnamakan suka, hubungan pun berjalan begitu singkat tanpa adanya negosiasi asmara. Itukah yang namanya cinta ?hhh

Seketika ketidaksadaran mulai terbelenggu oleh bisikan setan yang mengatasnamakan cinta, seketika itu pula nafsu durjana hadir dalam kiat-kiat ketelanjangan dan akhirnya termakan rayuan, yang mengatasnamakan kenikmatan.

Jeritan-jeritan kenikmatan-pun tercipta layaknya melody yang terdengar asyik disertai alunan ketergesa-gesahan bermandikan keringat membasahi tubuh seakan melululantahkan kehormatan yang bertanda akhir dari kehancuran nona.

Yang dulunya suci terpatri, kini tinggal hujatan dusta yang menjalar bagaikan akar.

Setelah dahaga kenikmatan berlalu dan meninggalkan luka,barulah penyesalan itu datang dengan mengatakan "khilaf" sebagai ungkapan pembelaan.

Kini cinta klasik itu hanya membuai tetesan demi tetesan air mata yang mengalir tak terhenti, membasahi wajah seraya imaji menjadi liar tak karuan dan hati terus bertanya-tanya.akankah waktu menyembuhkan luka yang terlanjur menjelma dalam batin ini!!!

Penulis: Ahmad Emank
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Bernostalgia dengan peristiwa 28 oktober 1928 dimana pemuda indonesia  berkumpul dalam kongres ke-ll yang diselenggarakan dibatavia( jakarta) selama dua hari dan putusan kongres tersebut melahirkan 3 poin sebagai ikrar satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, yang hingga kini menjadi ajang tradisi tahunan dan sebentar lagi akan diperingati sebagai hari lahirnya SUMPAH PEMUDA.

Semangat yang menggelora,menjujung tinggi nilai nasionalisme adalah bentuk perjuangan dan perlawanan pemuda kontemporer untuk sampai pada khittah indonesia merdeka dari jajahan imperialism yang telah memperbudak dan merampas apa yang menjadi hak para pendahulu kita.

Perjuangan inilah yang seharusnya menjadi acuan revolusi untuk para pemuda-pemudi indonesia yang hidup diera milenial dalam menghadapi berbagai krisis yang telah terjadi dinegara ini sebagai mana yang pemuda kontemporer lakukan. Ini mestinya menjadi bahan kajian para pemuda baik diforum seminar kepemudaan, kebangsaan maupun diskusi lepas untuk mengetahui sejarah secara luas dengan cara bertukar pikiran satu dengan yang lain agar terciptanya ideologi perubahan.

kurangnya intropeksi dan buta akan sejarah telah menjelma menjadi penyakit dalam paradigma berfikir pemuda saaat ini, yang mengakibatkan tidak adanya rasa kepedulian terhapadap krisis yang menimpah bumi nusantara ini.

Dan lupa bahwasanya Negara ini bukan sebagai warisan nenek moyang terdahulu melainkan pinjaman anak cucu yang harus dijagaa dan dilestarikan untuk regenerasi selanjutnya sebagai penyambung tongkat estafet perjuangan dimasa yang akan datang.

Mungkin angan-angan pemuda-pemudi saat ini terkait akan timbulnya rasa kekhawatiran dan ketidakpastiaan dimasa mendatang yang menjadi tanda tanya pada diri pemuda terkait keadaan indonesia yang sedang diambang kehancuran ulah rezim otoriter yang seolah telah lupa akan tanggung jawab dan hanya menjadikan ikrar sumpah jabatan sebagai formalitas yang digaungkannya untuk menjadi payung pelindung kebusukannya.

Seperti yang kita lihat belakangan ini, negara kita terasa tengah terselimuti mendung tebal yang akan melahirkan badai krisis berkepanjangan,seolah nyaris tiada bertepi. Krisis yang menimpah pemuda saat ini bukan lagi sebatas dimensi politik ataupun ekonomi, melainkan moralitas kebangsaan pemuda-pemudi indonesia yang telah hilang akibat globalisme yang semakin ekstrim untuk menjawab tantangan zaman.

permasalahan inilah yang menjadi PR generasi muda diera milenial untuk mejawab tantangan zaman dan menegakkan keseimbangan proporsionalitas pemerintah dalam mengambil suatu kesimpulan terkait permasalahan kelembagaan negaraan yang menyangkut hidup matinya bangsa.

Maka dari itu harus adanya eksistensi pemuda-pemudi indonesia untuk melawan rezim yang telah mengkambing hitamkan nama bangsa, agama, suku dan khilaf akan nilai Bhineka Tunggal Ika yang telah menjadi simbol kesatuaan kita sebai ummat berbangsa. serta pemuda-pemudi indonesia sebagai "agent off change" harus melawan dan menegakkan hukum yang seolah bisu akan keadilan demi terwujudnya negara yang adil,makmur dan sejahtera.

Bahkan telah dijelaskan dalam UU KEPEMUDAAN No.40 thn.2019 pasal 16. bahwasanya pemuda harus lebih pro aktif berperan sebagai kekuatan moral,kontrol sosial,dan agen perubahan dalam aspek pembangunan nasional.

Mengutip suatu perkataan The founding father of indonesia: dia hanya membutuhkan 10 pemuda untuk mengguncangkan dunia. Kata itulah seharusnya menjadi motivasi untuk membangkitkan semangat revolusi kita sebagai pemuda yang hidup diera milenial untuk menegakkan keadilan yang tidak pro terhadap rakyat proletar.

Apabila semangat pemuda-pemudi indonesia saat ini telah hilang untuk menegakkan keadilan serta menyuarakan suara-suara kebenaran, maka bangsa ini akan mudah diperkosa oleh pihak oligarki kapitalisme dan sulit untuk menjadikan negara ini sebagai negara "Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

Penulis: Ahmad Sulaiman, Mahasiswa UIN Alauddin
Tweet Share Share Share Share Share

BICARALAH!
Sutratenriawaru

Berbicaralah! katakan kepadaku bahwa kita bukan lagi anak anak yang harus bercerita kepedihan,bukankah kita telah dewasa?

Bukankah kita cukup bisa menangani segala sesuatu dengan dewasa? Lalu jika benar mengapa kau masih saja bersembunyi diantara kepingan katamu?


Jangan pura pura goblok,bicaralah aku akan selalu mendengarmu,memberontaklah,berontakanmu akan selalu kuterima,asalkan kau tak lagi menyembunyikan kata di bawa kepingan bibirmu..


Nyamanka kau dengan hidup yang terus bersembunyi? Seperti kau sangat nyaman dengan hidup sebagai seorang pecundang,bahkan kau tak punya gairah untuk bergaul dengan kawanmu,kau hanya suka bermain di antara pusar pusarmu yang membusuk..

Ayolah,jangan sok lugu seperti itu,katakanlah katakanlah katakanlah bahwa kau mencintaiku,diafragma suaramu masih baikkan? Tolonglah aku katakan hal itu,aku tau kau mencintaiku,tapi kau takut untuk mengungkapkannya,katakanlah kepadaku,ayoo katakan!

Sekali lagi kukatakan BERBICARALAH!
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Apakah karena dia telah menginjakkan kakinya dititik tertinggi di atas Gunung atau karena dia punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhannya untuk melakukan olahraga alam bebas?

Apakah karena dia punya keanggotaan dalam suatu Organisasi yang berjudul PA? apakah karena dia lulus Diksar?karena dia bisa menghapal semua materi Survival,Bivak, dan PPAT? atau karena dia punya kenalan anak Mapala atau dari Forum Pelestarian Lingkungan?

Dari cukup lama aku mencari, aku punya sedikit pembuktian tentang kesimpulan yang berbunyi seperti ini;

"Pecinta Alam adalah sifat dalam dirinya sedikit keberanian, sedikit kenekatan, sedikit romantisme dan puitis, sedikit rasa suka tantangan, sedikit kebiasaan dalam kesendirian sedikit nasionalisme, sedikit cara pandang yang “khas” dan cukup banyak kepedulian..”

Apakah sebenarnya yang kita bicarakan ini?

Apakah suatu julukan, suatu gelar, klasifikasi, idealisme, Organisasi, atau malah gaya hidup?

Beberapa orang yang punya keanggotaan dalam Pecinta Alam yang mengetahui jawaban dari pertanyaan ini? atau bahkan tidak ada yang peduli?apa yang diajarkan dalam Diklatsar di Organisasi kita masing masing? lalu apa nilai dari Pecinta Alam kalau ternyata materi itu bersifat umum?

Kemarin aku bertemu sekumpulan anak Seni yang ternyata punya jadwal terprogram untuk melakukan Baksos Pelestarian Lingkungan, saya juga bertemu orang yang saat ngobrol , dia mengatakan bahwa dia mantan anggota Pecinta Alam di daerahnya.

Apakah Pecinta Alam bisa Pensiun / Dipecat/ mengundurkan diri sebagai Pecinta Alam? Apakah lalu dia bisa mendaftar atau menjabat jadi seorang Perusak Alam daripada menganggur? Yang ada di Diklatsar kita apakah membentuk seorang Pecinta Alam atau penerus estafet Dewan Kepemimpinan ?Mana yang tujuan mana yang ekses mana yang proses?

Kapan lagi saya bisa ketemu orang orang yang “gila” yang bikin saya yang dulu pengen jadi PA? yang ngobrol santai sambil duduk melingkar di samping api unggun dan tenda? Yang punya nilai kebebasan dan kemandirian? yang tidak pernah takut liat gunung, hujan, panas,dan jurang? Yang ngamuk ngamuk ga jelas kalo ada Hutan gundul, Gunung dipenuhi sampah pendaki? Yang lebih peduli sama perasaan saudaranya ketimbang kesenangan pribadi. yang badannya penuh tanah nggendong carrier sambil ngobrol akrab dengan saudara seangkatannya. Yang tergeletak ditanah mandi keringat sehabis melakukan pendakian terjal.

Lalu setelah kelas kajian malam itu beberapa orang sudah tidur dalam tenda, hangat dengan sleeping bag nya masing masing setelah lewat pukul 12 malam karena mereka sudah merasa kedinginan dan ngantuk. Di sisi lain halaman stadion mini ini yang makin banyak cuma mereka mereka yang tumbang lalu ada juga yang rebutan tempat tidur sama temannya yang brengsek peribut dihalaman, juga ada si bangsat yang buang air di samping tembok stadion karena males bikin lobang dan kemudian dia maki- maki temen-temannya dalam hati karena pembagian minuman nya tidak adil , jangan lupa sama si pecundang berstyle adventure dan pengecut sok PA yang masih dalam lingkaran ngomongin rasis pembedaan suku dan bahasa daerah. Bukan cuma mereka tim saat itu masih ada 3 orang hebat di samping sisa bakaran api unggun yang menikmati indahnya bintang sambil ngomongin isi dari kelas kajian beberapa waktu lalu. tapi bagaimanapun juga mereka anak baik karena ga ribut gak mengganggu orang lain, mereka itu anak baik karena penurut dia nurut aja pada semua perintah yang datang ke mereka dan pengertian yang di berikan orang ke mereka karena mereka percaya pada semua orang dan sifat yang baik seperti itulah yang menjadikan mereka nantinya akan menjadi orang yang hidup tenang saat tua saat hutan digundulin perusahaan asing karena pemerintah bilang itu untuk rakyat. saat permukaan tanah turun akibat air tanah dikuras dan resapan air tidak ada karena katanya untuk pembangunan pemukiman demi kesejahteraan masyarakat mereka akan terus hidup tenang hingga mati karena memang pintu pikiran mereka sudah mati sejak dulu. Mati dari kebebasan berpikir. Mati dari pertanyaan karena mereka hanya bisa menjadi penurut, karena mereka anak baik mereka mati dari pertanyaan tentang makna hidup karena terbuai rutinitas,Mati dari idealisme dan mati karena mereka hanya hidup untuk menunggu mati. Bukankah begitu yang disebut baik? Kalo bukan begitu lalu buat apa? Apa tindakan mereka salah ? Ada yang bilang ini-itu,banyak yang berteori, banyak yang berusaha, banyak yang terjadi tapi tidak ada yang berubah di samping itu semua mana yang benar? Untuk lebih membedakan antara syle adventure, pecinta olahraga alam bebas, orang ga berpendirian dan PECINTA ALAM, coba kita renungkan apakah arti dari Pecinta Alam? Buatku, Kau dan Mereka,..

Untuk saudaraku dan calon saudaraku, Kau adalah apa yang isi kepalamu pikirkan dan apa yang kau renungkan. Untuk Organisasiku yang memberi banyak pelajaran untuk seniorku yang membimbingku langsung dan tak langsung kita bangun suasana seperti ini saat dilain kesempatan kita berjumpa lagi ..


Stadion Mini Sinjai; Minggu, 29 Juli 2018
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Pada hari Rabu, 17 April 2019 pesta demokrasi akan berlangsung.

Seluruh masyarakat Indonesia mulai dari kota besar hingga pelosok kampung, akan ramai-ramai mendatangi bilik-bilik suara untuk melakukan pemilihan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat mulai dari tingkat daerah, provinsi, dan pusat serta pemilihan Calon Presiden dan Wakil Presiden Indonesia.

Tentu saja dalam upaya untuk mendapatkan posisi dan kursi "empuk" tersebut, para caleg yang "katanya" akan mewakili suara-suara rakyat dan kaum minoritas, melakukan segala cara untuk meraih tujuan-tujuan politiknya.

Rakyat didekati dan diminta untuk menggunakan hak politiknya. Hanya dalam hitungan detik rakyat bermetamorfosis, tapi bukan bermetamorfosis menjadi Power Rangers pembela kebenaran yang biasa kita tonton pada waktu kecil dulu.

Akan tetapi, rakyat telah berubah menjadi "TUAN", kewajiban sebagai rakyat diperlonggar dan hak dasar dipenuhi.

Tapi usai pemilihan umum mereka kembali menjalani kehidupan sebagaimana hari-hari sebelumnya, para petani kembali ke sawahnya, pedagang ke pasar, pengamen berdiri di lampu merah, pemulung mencari lembaran rupiah di tong sampah. Kenikmatan hanya sesaat mereka rasakan. Sungguh kasihan bukan !

Sudahlah, mari kita kembali kepada yang jalan yang benar saja yakni tentang bagaimana para caleg berupaya menarik simpati dari masyarakat.

Ada beberapa cara yang dilakukan seperti dengan uang, jabatan, fasilitas, dan menabur janji-janji manis kepada para rakyat ataupun melakukan pendekatan secara masif kepada orang-orang yang dianggap memiliki pengaruh besar dalam sebuah lingkungan misalnya kepala desa.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang Kepala Desa merupakan birokrat yang mempunyai kekuatan, kekuasaan tertinggi di tingkat desa.

Kepala Desa juga merupakan sosok elit lokal, dimana sebagai pemimpin masyarakat, dia juga mempunyai kedudukan dan status sosial yang tinggi di kalangan masyarakat.

Besarnya pengaruh kedudukan Kepala Desa terhadap masyarakat sering menjadikannya sebagai panutan.

Keadaan tersebut sangat mendukung bagi terlaksananya mobilisasi politik yang dilakukan oleh kepala desa. Nah, atas dasar pertimbangan inilah, para caleg beserta tim suksesnya berbondong-bondong terjun langsung melakukan pendekatan kepada Kepala Desa.

Dengan melakukan lobi-lobi "malaikat", menjanjikan ini itu, para caleg berupaya agar seorang Kepala Desa menjadi penggerak politik atau bahasa kasarnya tim sukses untuk memobilisasi massa agar memilih dirinya.

Dalam budaya Bugis, khususnya para masyarakat pedesaan masih sangat besar rasa penghormatannya kepada pejabat desa, budaya-budaya feodal masih berlangsung dikalangan masyarakat.

Sehingga tidak sedikit partisipasi politik masyarakat menjadikan seorang Kepala Desa sebagai panutan dan sebagai bentuk loyalitasnya terhadap sang "raja kecil".

Mereka memegang prinsip "Sami'na Waata'na" (Kami dengar, kami taat).

Seorang Kepala Desa yang menjadi penggerak politik, biasanya melakukan berbagai upaya guna menarik simpati masyarakat untuk memilih calon kandidat tertentu misalnya program pembangunan dijadikan alat politik untuk memobilisasi massa.

Mobilisasi politik tidak hanya dilakukan melalui pembangunan, melainkan Kepala Desa juga terjun langsung kepada masyarakat dengan memberikan janji-janji politik pada forum-forum kemasyarakatan.

Seperti pada kegiatan pengajian dengan mengatakan bahwa jikalau berhasil memenangkan caleg tersebut, maka akan dilakukan pengaspalan jalan, air bersih akan masuk ke rumah-rumah warga, memberikan bantuan peralatan desa dan lain sebagainya.

Jadi, bisa dikatakan bahwa pembangunan sering digunakan sebagai alat oleh birokrat untuk mencari dukungan politik dari masyarakat.

Apa yang dilakukan oleh seorang Kepala Desa jika bertindak sebagai penggerak politik memunculkan pro dan kontra.

Ada masyarakat yang mendukung dan setuju-setuju saja akan hal tersebut dengan dalih bahwa keterlibatan kepala desa sebagai penggerak politik masyarakat untuk memilih salah satu partai atau kandidat tertentu dapat memperlancar pembangunan di desa.

Masyarakat yang berkata demikian adalah masyarakat dengan status sosial kelas rendah dan berpendidikan sekolah dasar.

Di lain pihak, warga masyarakat dengan status sosial kelas menengah keatas dan berpendidikan tinggi memandang bahwa keterlibatan kepala desa sebagai penggerak politik merupakan suatu hal yang tidak etis karena dia (baca Kepala desa) dipilih secara langsung oleh masyarakat bukan diangkat dari Parpol.

Menurut hemat penulis sendiri, Kepala Desa yang menjadi "Penggerak Politik" merupakan hal negatif, hina, dan tidak etis serta tidak memberikan contoh yang baik bagi berlangsungnya demokrasi.

Mengapa seperti itu? Jawabannya cukup sederhana, karena kebebasan untuk memilih, berbicara, berteriak, memaki, hingga menghujat adalah bagian dari gaya demokrasi bangsa ini.

Akhir kata, semoga kita dijauhkan dari sosok kepala desa yang bertindak sebagai penggerak politik yang mencederai demokrasi itu sendiri dan hendaknya sebagai masyarakat.

Kita dapat menjalankan partisipasi politik dengan bersih, guna terwujudnya nilai dari demokrasi demi menjadi negeri "Baldatun Toyyibatun Warabbun Ghafur" (Negeri yang baik, adil, makmur, sejahtera dan amanah).

Penulis : Akbar G, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISIP) Muhammadiyah Sinjai
Tweet Share Share Share Share Share

Mulutmu Harimaumu
GadisManis

Sungguh biada mulut mulut yang hanya tau mencaci orang

Sungguh jahanam mulut mulut yang hanya tau menghina orang, sungguh miris!

Seolah olah dialah yang paling benar dalam bertindak, seolah olah dialah yang paling suci, namun sayang seribu kali sayang ternyata dia lebih munafik dari perkiraan semesta, sungguh menjijikkan ketika dia mengaku di telantarkan, namun sejatinya dia adalah makhluk yang paling munafik di antara ribuan orang yang dihina dan dicacinya!
Sungguh kasihan!

Bibirnyapun berubah menjadi hitam akibat rengekan, matanya sembab akibat tangisan buayanya, namun Alhasil diapun terjebak dengan sikap sok polosnya, dan pada akhirnya iya jatuh kelubang yang menutup mulutnya untuk tidak terus Menfitnah manusia...

Sungguh, Mulutmu harimaumu
Tweet Share Share Share Share Share

Entah Zaman Apa Sekarang Ini
sutratenriawaru

Entah zaman apa sekarang ini, negara identik dengan kebungkaman..

Entah zaman apa sekarang ini, negara penuh dengan tikus tikus berdasi..

Entah zaman apa sekarang ini, negara tidak lagi memerhatikan keadilan..

Entah zaman apa sekarang ini,semuanya hanya berceritakan tentang uang dan uang, mereka yang tak memiliki harta yang cukup hanya menganga dan semakin tertindas..

Entah zaman apa sekarang ini,dimana pemegang jabatan merasa memiliki hak untuk semuanya, bekerjapun tak akan lulus jika bukan orang dalam yang mengurus..

Entah zaman apa sekarang ini,semua orang berkuasa menghalalkan segala cara untuk tetap menjabat..

Haaa...pusing, pusing, pusing..
Tweet Share Share Share Share Share

LEPAS
sutratenriawaru

Sesuatu yang lepas tak mungkin kembali utuh seperti dulu..

Sesuatu yang lepas tak mungkin bisa kembali lagi..

Sesuatu yang lepas akan terus lenyap, akan terus hilang sampai lepas tak tau arah untuk kembali utuh..

Tapi, tapi orang yang ditinggalkan akan lepas, masih merasa bahwa lepas masih bersama dan tak akan pernah pergi..

Sulit yah, mengembalikan sesuatu yang lepas, bahkan ketika kukejarpun, lepas tak akan menunjukkan wujudnya karna lepas telah pergi dan mustahil untuk bisa kembali lagi dengan utuh..
Powered by Blogger.