Desember 2018 | LORONG KATA

Bangkit
sutratenriawaru

Apa yang membuatmu tidak sehebat dulu ?
Apa yang membuatmu menjadi lemah seperti ini?

Kukira kau manusia kuat?
Kukira kau manusia penuh semangat?

Lantas apa yang terjadi padamu saat ini?
Ada apa dengan dirimu?

Kau lupa jika kehidupan tanpa di bumbui dengan cobaan dan kemalangan tak akan sedap rasanya..

Aku tau sulit bagimu,
Tapi mari melakukannya dengan sama sama,
aku tau kau bukan seorang lemah..

Ayolah bangkit bangkit dunia kejam sedang menantimu,
Jangan lengah dan cepat menyerah,aku tau kau pemenang!
Aku tau kau adalah petarung ayo bangkit,sekali lagi bangkitlah

OPINI --- Pesta Demokrasi dalam beberapa bulan kedepan akan dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019. Dalam hal ini pemilihan umum terdiri dari pemilihan presiden dan wakil presiden, Dewan perwakilan rakyat, Dewan perwakilan daerah,dan Dewan perwakilan rakyat daerah.

Namun sebagian masyarakat menilai pemilihan umum itu gagal mewujudkan pemimpin yang berintegritas.mengapa ? Karena jika dilihat dari realitanya bahwa masih banyak praktek KKN (Kolusi, Korupsi,dan Nepotisme) yang marak terjadi di berbagai pelosok Indonesia. Hal ini mengakibatkan partisipasi rakyat dalam pemilihan umum menurun.

Dalam menciptakan pemilihan umum yang berkualitas,aktor pemilu harus mempunyai kesadaran yang tinggi dan memahami betul tentang politik yang sebenarnya demi mewujudkan cita-cita bangsa ini yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Masa kampanye telah tiba,di harapkan masyarakat harus cerdas dan cermat menilai apa yang disampaikan para calon presiden dan wakil presiden,para calon legislatif,serta calon dewan perwakilan daerah. Jangan tertipu dengan retorikanya yang luar biasa ataupun janji janji manisnya yang mereka lontarkan, apalagi jika menerima uang nya dengan catatan harus memilihnya sebagai di bilik pencoblosan, jangan sekali mencoba menerima politik uang. Karena jelas itu sudah merupakan pelanggaran pemilu,hal tersebut sudah diatur dalam UU NO 7 TAHUN 2017 ( PASAL 454 )

Untuk menciptakan pemerintah dan wakil rakyat yang progresif, rakyat harus cerdas memilih seorang pemimpin demi terwujudnya pemerintah dan legislatif yang revolusioner.

Penulis: Sudirman

Ia Adalah Bahtiar Bin Sabang
(Pachul)

Tiada waktu bagi Bahtiar Bin Sabang tanpa mendayu cangkul di pundaknya.

Merenung, keningnya mengerut
tapi...
Gerak cangkul yang seakan membelah bumi,
hempasan parangnya yang lihai
Berkata "Anakku Harus Sekolah!"

Dengan tenang Si anak menginjakkan kaki di sekolah

Bu guru langsung menagih Uang padanya,

Diejek, malu itu sarapan paginya
Ayahnya tak tau atau pura-pura tak tau.

Anaknya tak tau, yang penting masih banyak yang belum kau tau

Tentang anak seorang petani
tak perlu kau tau.

Sebab kau tak lirik petani di pematang sawah.

Manaruh harapan kepada mereka, kaum intelektual,

Dimana seorang petani di Sinjai merintih di balik jeruji besi.

Buat apalagi kau bicara dan atau teriak di jalan,

Sementara ia masih dalam penindasan.

Pagi itu diteras rumah ditemani secangir kopi hasil seduhan Ibu ku sejam yang lalu.

Aku hanya memandang kearah mentari yang baru saja keluar dari persembunyiannya perlahan merangkak menjauh semakin tinggi. Embun yang awalnya menggumpal di ranting dan dedaunan mulai mencair menetes membasahi bumi.

Aku hanya merasa itu bukan wujud embun melainkan wujud kesedihan karena cerita yang berakhir kesedihan.

Tidak hanya itu, kopiku yang nikmat seketika berubah jauh lebih pekat dari sebelumnya. Entah kopiku sedang ngambek karena terlalu lama kudiamkan atau kopiku pun sedang larut dalam kisahku yang usai dengan kesedihan.

Bukan aku sengaja membiarkan kenangan itu tinggal dan merajai pikiranku. Aku selalu berusaha mengusirnya, beberapa cara telah aku lakukan agar menjauh. Aku pernah berpikir mengakhiri hidup tapi aku tidak segila itu. Akalku masih sehat untuk melanjutkan hidup dengan harapan-harapan yang mungkin saja tidak lagi mampu terjamah.

Anehnya, pagi ini tidak seperti biasanya, secangkir kopi pagi ditemani sang mentari yang baru keluar dari persembunyiannya mampu melahirkan puluhan puisi pagi.

Pagi ini hanya beberapa bait yang mampu aku tulis, itupun tidak seindah harapan banyak orang hanya gambaran kesedihan yang merajai pikiranku pagi ini.

Ada cerita disetiap seduhan kopi, kenangannya melekat di bibir cangkir
Perihnya pun mengendap di dasar tak mau pergi.

Masalahnya,
Akankah kopi dapat mengulang cerita itu lagi menjadi satu dalam cangkir yang sama ?

Akankah kopi kembali dapat menyatukan warna dan rasa agar candu dapat kita nikmati bersama ?

Hari Demonstrasi Literasi

Sekitar beberapa jam yang lalu sebut saja di pagi hari, saya lagi sibuk memandangi wajah teman-teman yang masih terkapar dirayu mimpi dalam tidurnya. Saya sempat bertanya tanya,

"Ah.. ini mungkin saja kebetulan, biasanya matahari saya sambut dengan memulai tidur dengan pagi"

Yah.. kata pepatah mereka yang gemar begadang
"kami tertidur saat matahari terbit"

Haha.. tapi biasalah bagi anak muda yang senang di dunia begadang.

Roma juga pernah bilang "begadang jangan begadang, begadang boleh saja... kalau ada perlunya".

Tapi pemuda sih perlu gak perlu, begadang itu banginya perlu.

Huh.. terserah itu kata siapa, yang jelas pagi saya penuh dengan tanya, bertanya itu baik, karena tidak bertanya kadang tersesat dan tidak tau harus bagimana. Kemudian pertanyaanku berhenti akibat waktu semakin mendekati siang. Ternyata hari ini hari literasi, saya sedikit panik. Kenapa? Karena hari ini ada kegiatan di warkop 52, saya harus ke sana sekarang juga. Saya baru ingat ternyata saya punya tugas terkait kegiatan hari literasi tersebut.

Dan bagiku "ini adalah tugas yang menyenagkan".

Al Qadri terbangun dari tidurnya tiba-tiba sontak bertanya

"Mazkrib, mau kemana?"

Saya jawab dengan senang hati "ayo ke warkop ngopi literasi, di sana ada kegiatan literasi, mentas puis nge-rocki dan lain-lain"

"Oh iya kah? Boleh saya ikut" sedikit menunjukkan ekspresi muka gembira

"Bolehlah,saya duluan yah, saya tunggu dilokasi", jawabku dengan semangat.

Sehabis menikmati bakwan bersama teman-teman di sekret. Junior saya Brazak pun siap mengantar saya menuju lokasi.

Tiba-tiba Brazak berkata "senior saya mau turun aksi demonstrasi memperingati hari anti korupsi, setelah itu saya menyusul".

"Okelah.. selamat berdemonstrasi dengan senang hati" jawab manisku kepada sang demonstran.

Tak lama tiba di lokasi diskusi pun dimulai dengan rasa senang dan resah heran berbaur, rasanya ibarat mencicipi kopi susu, ada pahit dan ada pula manisnya. Wajarlah mungkin kegiatan literasi menarik bagi mereka yang menikmati dan kurang menarik bagi mereka yang sedikit menikmati atau mungkin saja ada yang lupa betapa pentingnya literasi.

Cukup saja jawaban sederhana lewat puisi, 

"Berdemonstrasi atau Berliterasi."

Satu persatu kepala beramai ramai tak tahu mau kemana
Ada adalah yang resah tanpa cercah tanpa pecah
Kalau saja besok tulisan mulai pergi
Apakah manusia akan manuai kasih lagi
Ahh...
Panas rasanya kepala tak menumpahkan kata-kata
Yang tumpah hanya sesal
Jatuh dan rintik di atap hati
Sesal membanjiri kenyataan
Jadi?
Saya harus berdemonstrasi atau harus berliterasi?
Keduanya baik baik saja.
Hah..
Sudahlah.. literasi juga punya cara
Kita pergi dan pulang lewat jembatan kata-kata
Iya..

Kata saya lewat puisi

Iwan Mazkrib
Gowa, Desember 2018

Rindu Dan Sebait Kata
sutratenriawaru

Aku selalu merindukan akan kehadiranmu..
Aku selalu merindukan tiap bait puisi puisi indahmu..

Kau pergi tinggalkan dunia fana..
Kau pergi tinggalkan seorang puan yang menaruh harap padamu..
Kau meninggalkan rindu yang berkecamuk di dadaku..

Rindu terus menyiksaku tuan kelana,rindu terus merasuk kedalam tubuhku,aku mengingkanmu kembali..


Hanya ada euforia yang menemaniku saat ini..

Tuan kelanaku...
Kembalilah..
Tuan pemahat rinduku kembalilah lagi kehati yang dulu mencintaimu..

Rindu itu ada tuan,rindu memang benar benar ada jika cinta tak didasari rindu maka bukan cinta namanya,namun hanya kekaguman semata,tapi tidak denganku aku merindukanmu dan cintamu

TuanKu..
Kembalilah,ayoo kembalilah....
Aku rindu kau dan sebait katamu..

Pulanglahh..aku selalu menantimu..
Diberdayakan oleh Blogger.