2019 | LORONG KATA

Lorong Kata --- "Kuliah yang bener ngger, biar kelak dapat kerjaan yang bener." Begitulah kira-kira ungkapan nenek saya dulu semasa hidupnya menaruh harapan besar pada status sarjana yang mampu membawa pada dunia kerja.

Tapi, apakah yakin setelah gelar sarjana didapatkan bisa langsung kerja?

Belum tentu Ferguso. Gelar sarjana bukan menjadi penentu seseorang mendapatkan pekerjaan. Buktinya, masih banyak tuh yang sarjana tapi statusnya masih pengangguran. Makan Tidur Nonton (MTN).

Loh? Loh? Kok bisa gitu!!! Nggak pernah nonton tv yah... makanya nonton. Setiap tahun berjubel orang yang menyandang gelar sarjana yang pada akhirnya kembali ke kampung halaman stay at home alias nganggur.

Apakah itu artinya pendidikan tidak lagi berguna?

Pendidikan sangat berguna dan sudah seharusnya setiap orang mengenyam pendidikan. Sederhananya, tujuan dari pendidikan adalah mengubah pola pikir menjadi lebih baik tapi, jangan dibalik bahwa pendidikan mengubah status pengangguran menjadi pekerja.

Setiap universitas baik swasta maupun negeri memberikan gelar sarjana kepada setiap alumninya dan setiap tahun universitas melakukan hal ini, dan bahkan ada beberapa universitas yang melakukan acara wisuda tiga kali dalam setahun.

Bisa dibayangkan betapa banyak calon generasi pengangguran yang dilepaskan oleh universitas setiap tahunnya. Menenteng map mondar-mandir di sudut jalan dengan pakaian yang sudah mulai lusuh karena keringat akibat terik matahari.

Apakah ini salah kampus yang tidak mampu menjamin alumninya mendapatkan pekerjaan? #Krikrik, bukan salah kampus. Kampus tidak salah sebab tugas utama kampus adalah mencerdaskan mahasiswanya dan bukan agen pencari kerja apalagi pencetak lapangan pekerjaan. Kampus adalah pencetak 'Akal Sehat' (kata Rocky Gerung).

Jadi, sudah seharusnya dengan gelar sarjana itulah menjadi bukti bahwa dia adalah seorang pemikir yang berpikir menciptakan lapangan pekerjaan untuk dirinya dan untuk orang lain. Ah, sok pintar nih penulisnya. Nyatanya anda juga nganggur.

Tidak bisa dipungkiri saat ini ada orang berkuliah hanya sekedar ingin terlihat keren dengan status sebagai mahasiswa sehingga hanya larut dalam urusan penampilan. Pun dalam urusan menggunakan toga di hari akhir statusnya sebagai mahasiswa hanya untuk selfie semata namun lupa bahwa sebentar lagi dia akan berstatus pengangguran.

Datang ke kampus dengan gaya sosialita dan pulang setelah ber-selfie dengan berbagai bentuk gaya bibir yang sengaja dibuat monyong dan kepala dimiringkan. Setelah pulang pun dilanjut dengan live di media sosial. Belum lagi saat ujian dilalui hanya dengan modal pendekatan persuasif.

Namun, saat ditanya tetang ilmu jurusan yang digelutinya hanya mengetahui nama-nama youtuber terkenal. Setelah lulus baru merasakan sulitnya dunia yang sesungguhnya sebab tantangan yang sebenarnya telah menanti di luar kampus.

Jadi ngger, kuliah itu bukan untuk mencari pekerjaan tapi untuk mengasah pola pikir biar lebih tajam sebab, jika kuliah hanya untuk mengikuti tren maka jangan salahkan jika saya mengatakan bahwa ijazah anda sebagai tanda anda pernah berkuliah dan saatnya anda berstatus pengangguran.

Lorong Kata --- Ada empat perkara yang menyebalkan di dunia ini: ditolak gebetan, ditikung teman, diselingkuhi pacar, dan didatangi teman untuk minjem uang alias ngutang.

Perkara yang terakhir ini lah yang paling sering terjadi dalam kehidupan kita (kita???, kehidupan penulis sendiri maksudnya), sekaligus paling menyebalkan. Ayo sini, mana tuh orang yang suka ngutang, ta ulek ulek jidatmu.

Biasanya, mereka yang datang meminjam uang, jauh hari sebelumnya seminggu mereka telah mempersiapkan segala macam alasan yang paling sensitif dan urgen agar si-pemilik uang berkenan meminjamkannya.

Namun, jika alasan itu ternyata belum cukup ampuh untuk membuat si-empunya uang merelakan uangnya dipinjam, maka si calon peminjam biasanya tidak akan segan-segan bertransformasi menjadi tokoh melankolis, akhirnya sejumlah airmata bercucuran membasahi bumi (eh, pipi atau bumi yah?).

Berbekal alasan yang sudah dipersiapkan dan setetes air mata buaya serta ekspresi memelas itulah membuat pertahanan kita menjadi layu yang berujung pada sejumlah uang yang berpindah tuan.

Awalnya, hati senang karena membantu teman dalam menyelesaikan masalah finansial. Bukankah kita selalu diajarkan untuk saling tolong menolong, terlebih teman telah berjanji mengembalikan dalam waktu yang dijanjikan.

Pertanyaannya, apakah benar seperti itu kisanak?

Nyatanya, tidak semua orang mampu tepat janji. Bagaimana jika ternyata belum memiliki uang? Jika itu masalahnya, maka si-peminjam akan berusaha memahaminya. Tetapi bagaimana kalau ternyata teman hanya berpura-pura pikun atau bahkan berusaha melupakan? Menagih utang tidak seindah meminjamkan segepok uang Ferguso.

Perkara utang adalah perkara yang teramat sensitif. Terlebih lagi jika yang meminjam adalah teman sendiri. Kaki terasa dipasung dan mulut terasa dijahit. Begitu berat melangkahkan kaki dan menagihnya.

Menagih utang ke teman setelah melampaui batas waktu yang telah dijanjikan, nyatanya memang sangat berat. Harus berpikir bagaimana cara menagih yang baik agar tidak menyakiti hati teman dan tetap berteman meskipun telah menagihnya.

Bukankah dalam agama islam diajarkan bahwa, setiap orang yang telah mengutang maka wajib baginya melunasi hutang-hutangnya itu. Jadi, nggak perlu lagi kan harus saya yang menagih.
Nggak malu!!! apa kalian jika harus ditagih juga.

Ustadz saya pernah berpesan bahwa, utang merupakan kewajiban yang harus dibayar, bahkan Allah SWT tidak mengampuni dosa seseorang yang masih memiliki tanggungan utang yang belum dibayarkan atau diikhlaskan oleh yang memberi utang.

Lagipula, apakah kalian mau ta tagih nanti di akhirat? nggak mau kan? makanya bayar utang kamu kisanak. Malu tau kalau harus tagih sendiri. Bayar yah, yah, yah...

Aku Tak Lagi Sama
(Sutratenriawaru)

Aku tak lagi sama kasih
Dulu mungkin aku mendambakanmu
Mungkin dulu aku mencintaimu
Mungkin dulu setiap detiknya hanya namamu yang teriang di kepalaku.

Aku tak lagi sama kasih
Mungkin dulu hariku tak lengkap tanpa sapaan hangatmu
Mungkin dulu hariku tak lengkap tanpa satu lagu darimu
Mungkin dulu hariku tak lengkap tanpa merindukanmu.

Aku tak lagi sama kasih.
Dulu disetiap diksiku aku menulis namamu
Aku mengambarkan sosok laki-laki luar biasa dan pejuang sepertimu..

Aku tak lagi sama kasih.
Dulu tak lengkap rasanya jika tak melihat senyum manis dari bibirmu
Yang dihiasi dengan sedikit kumis tipis
Terlihat gagah dengan lesung pipi yang kau miliki.

Aku tak lagi sama kasih.
Kini setiap kenangan perlahan ku-kubur
Aku memulai semuanya
Bahkan hal-hal yang begitu aku sukai darimu kini telah sirna

Ahh, kurasa aku salah telah mencintaimu
Kesalahanku adalah menyayangimu hingga tanpa sadar aku terjatuh begitu dalam.

Tapi, kini tidak lagi
Semua tentangmu sudah basi bagiku
Aku menyukai diriku yang saat ini
Diriku yang tak lagi mengenalmu
Diriku yang sudah biasa denganmu.

Kasihku yang dulu
Berbahagialah dengan wanitamu saat ini
Terimah kasih telah hadir menyapa pelupuk jiwaku
Dariku yang dulu mencintaimu.

Lorong Kata --- Kisah jomblo jaman now "loe yang dipacarin, gue yang dinikahin" ini adalah senjata paling ampuh untuk kaum jomblowers yang punya niat nikung.

"Ngapain sih pacaran lama-lama? Loe itu cuma jagain jodoh orang"

"Pacaran kok kayak nyicil rumah, lama amat. Emang loe DP berapa?"

"Dari pada pacaran, mending fokus kerja cari duit banyak, kalau duit sudah banyak cewek loe gue lamar"

Gimana??? Familiar nggak dengan kata-kata di atas. Ya, begitulah kira-kira ungkapan kegalauan dari para jomblowers.

"kenapa sih harus bahas-bahas masalah pacaran. Kenapa sih, Darsono? Gue lagi jomblo nih. Jangan memancing emosi dong"

Memang, hubungan seseorang belum tentu akan bertahan lama dengan pasangan yang saat ini dianggap sebagai pacar. Namun, hal itu tidak bisa dijadikan landasan bahwa percuma pacaran, toh nantinya nikah juga dengan yang lain.

Bagi orang-orang yang berpacaran, mungkin saja mereka telah membangun komitmen untuk menjalin hubungan jangka panjang sebelum mereka melangkah ke pelaminan. Toh terbukti masih banyak juga yang berpacaran lama dan berakhir di pelaminan.

Setiap orang memiliki alasan mengapa ia memilih menikah tanpa pacaran dan begitu juga dengan mereka yang berpacaran. Mereka memiliki alasan untuk saling mengenal lebih jauh sebelum melangkah ke pelaminan.

Ingat yah, pernikahan itu sesuatu yang sakral dan sebaiknya sekali seumur hidup. Jangan menikah hanya karena desakan orang lain, tapi, menikah lantaran ada dorongan dalam hati yang sudah siap secara lahir maupun batin.

Sebab, bukan tidak mungkin, banyak pernikahan yang kandas lantaran mereka tidak mampu menyatukan paham akibat pernikahan tanpa perkenalan. Kalau sudah begini, akhirnya banyak hati yang patah oleh mereka yang saat ini berstatus mantan.

Iya kan, iya kan.... jadi, please deh. Nikah itu nggak mesti harus buru-buru, butuh perkenalan sebelum ke pelaminan. Buat yang masih jomblo, hati-hati loh, ntar kamu ketuaan.

Perlu digaris bawahi yah, bawa penulis bukan bermaksud mengkampanyekan pacaran negatif tapi pengenalan lebih jauh sebelum melangkah ke jenjang pernikahan agar kelak tidak lagi ada status mantan diantara kita. Kamu kira putus itu menyenangkan? Menyedihkan!!!

Jadi, tidak perlu lagi skeptis dengan pasangan kamu yang sudah lama menjalin hubungan sebab di luar sana banyak juga yang hubungannya berakhir di kursi pelaminan meski telah menjalin hubungan yang sudah cukup lama. Kecuali kamu, iya kamu... kamu yang masih jomblo.

Toh, kan, pada dasarnya, banyak hal yang bisa dipelajari dari proses pengenalan sebelum ke jenjang pernikahan. Belajar menyelesaikan masalah agar lebih memahami pasangan, belajar mengalah agar hubungan kelak lebih dewasa.

"Nikah aja dulu, kenalannya ntar setelah kamu nikah" logikanya, kenalan setelah nikah, jadi kalau dalam perjalanan perkenalan kalian ternyata tidak mampu menyatukan pendapat. Apa kalian mau dijadikan status 'mantan'.

Kisah setiap orang beragam, Ferguso!!! Setiap orang berhak menjalin kisah sebelum melangkah ke pelaminan. Meskipun jika akhirnya harus bubar karena tidak sepaham. Sebab, lebih baik bubar sekarang daripada bubar setelah nikahan.

Yang terpenting, kenalilah buah sebelum kamu membelinya agar sesampai di rumah kamu tidak lagi menangis dan menyesal sebab rasanya tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan sebelumnya. Dan, Tidak perlu ada yang berperan sebagai antagonis, karena mereka memiliki hak untuk saling mengenal.

Tetapi, teruntuk kalian yang masih berstatus pacaran. Sebaiknya segerakan ke pelaminan karena my lope bisa basi kalau kamu pacarin lama-lama. Dan, kamu yang masih jomblo dan suka nyinyir, berhenti aja deh nyinyir-nya karena mereka yang berpacaran setelah putus belum tentu maunya sama kamu. Putus itu menyakitkan, makanya rasain. (*)

Sumber Gambar: news.detik.com
Sumber Gambar: news.detik.com
Lorong Kata --- Menjelang hari H pemilu pada 17 april 2019. Tensi politik kedua kubu semakin memanas. Mulai dari adu program di forum debat hingga adu hoax di media sosial.

Pada Pilpres 2014 lalu misalnya. Kontestasi politik kala itu dibumbui dengan isu-isu agama dan juga latar belakang pribadi para kandidat yang ternyata mampu mengguncang emosi para milenial.

Lalu bagaimana dengan Pilpres 2019 ini?

Kontestasi politik tahun ini merupakan penyempurnaan dari era 2014 lalu; mulai dari isu-isu agama yang masih terus dimainkan hingga serangan-serangan pribadi ke-para kandidat yang masih saja terus dimainkan.

Beberapa hal yang sangat menggelitik di kontestasi politik tahun ini yang bahkan tidak pantas untuk dipertontonkan yakni munculnya julukan cebong dan kampret, poltik genderuwo dan sontoloyo.

Kedengarannya memang sangat aneh, jika pada umumnya orang Indonesia tidak ingin dipanggil dengan nama hewan. Lain lagi halnya dikontestasi politik tahun ini yang rela menggunakan segala cara demi melancarkan tujuan.

Namun ada yang aneh di Pilpres tahun ini. Kedua kandidat pasangan calon saling memuji dan saling merangkul. Sementara ditempat yang berbeda, lovers kedua kandidat capres/cawapres saling olok.

Tidah hanya saling menghujat, mereka bahkan saling mengusir beramai-ramai. Apakah ini wujud kepanikan atau bagian dari cara mengamankan kantong-kantong suara? hanya mereka yang tau.

Padahal, mereka yang sering saling olok di media sosial belum tentu capresnya nanti jika terpilih masih mengenalinya. Bisa jadi kemesraan sementara ini hanya untuk mengendorse junjungan untuk menaikkan elektabilitas kandidat masing-masing.

Tragisnya lagi, kedua kandidat pasangan capres suka bikin terkecewa. Yang satu suka dengan retorika dengan data ngawur sementara satunya lagi suka bikin kebijakan yang ajaib.

Uniknya lagi, tingkah ajaib mereka ini membuat paskam (pasukan kampanye) pontang panting mencari kata yang tepat untuk ngeles sebab mungkin mengakui kesalahan junjungan adalah dosa.

Sehingga, tidak heran jika kontestasi politik tahun ini dimonopoli oleh penyebaran hoax dan ujaran kebencian. Maka tidak heran jika kemudian muncul jargon saring sebelum sharing.

Namun, ditengah kesibukan berkampanye mengumpulkan sebanyak mungkin kantong-kantong suara, apakah mereka telah mempersiapkan mental legowo menerima kekalahan?

Tetapi bahwa siapapun Presidennya kelak Indonesia harus tetap lebih baik dan semua simpatisan yang hari ini masih saling olok agar berhenti dan bersaudara-lah sebab siapapun Presiden, maka cicilanmu tetap kau yang harus bayar dan siapapun Presiden, kita harus tetap bersatu dan bingkai ke-bhinekaan.

Cinta Berubah Luka
Kasmirullah

Kau dan aku pernah menjadi kita
Namun cinta berubah jadi luka
Janji setia telah kau lupa

Air mata kau jadikan pemuas dahaga
Harapan kau gubah menjadi rongsokan tak berguna
Mimpi tidak akan lagi menjadi nyata

Kini aku benar-benar harus melupa
Meski kau selalu terbayang di pelupuk mata
Meski rindu semakin menggila

Hasrat tidak pernah berhenti mendera
Memaksaku terus berlari mengejar asa
Tapi aku memilih diam dan tak berbuat apa-apa

Aku sudah lelah mengembara
Aku ingin tetap di sini selamanya
Menjalani hidup yang biasa-biasa saja

Meneguk duka yang kau sajikan dalam cangkir penuh warana
Menikmati setiap siang yang tak bercahaya
Mengenang semua cerita tentang kita

Dengan hati yang hampa
Aku menikmati indah bintang kejora
Untuk menenangkan jiwa yang sedang lara.

"Kalau belum bekerja akan diberi honor atau gaji lewat kartu ini (kartu pra-kerja)"

Sungguh menyenangkan hidup di zaman jokowi. Lulusan SMA, D1, D2, D3, Dan Sarjana yang belum bekerja bisa mendapatkan kartu pra-kerja.

"Tinggal di rumah ngerokok sambil ngopi tau-tau akhir bulan dapat gaji"

Hal itulah yang terlintas di pikiran saya sore kemarin ketika sedang menyeruput kopi sambil nonton TV "apa iya seperti itu?" Tanyaku dalam hati.

Sehabis nonton berita itu. Menjelang magrib, saya menghampiri beberapa pemuda yang berkumpul di sudut lapangan sepak bola di sebuah kampung yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Mereka tidak sedang menikmati pertandingan sepak bola yang dimainkan oleh anak-anak di kampung itu atau sedang menunggu giliran untuk masuk ke dalam lapangan. Melainkan mereka sedang hangat membicarakan program calon presiden nomor urut 01 yakni kartu pra-kerja.

Topik kartu sakti Pak Jokowi (kartu pra kerja) memang sangat santer diperbincangkan akhir-akhir ini. Dengan kartu itu (Kartu Pra-Kerja), lulusan, SMK maupun yang selesai kuliah, konon katanya akan mendapatkan honor atau gaji sehingga mampu membantu biaya hidup sebelum bekerja.

Seorang pemuda yang berperawakan tinggi tegap dan sedikit tampan memberi komentar terhadap kartu yang di luncurkan calon Presiden 01 di injury time masa kampanyenya. Menurutnya, hal ini tidak lain hanya sebuah strategi politik untuk mendongkrak elektabilitas yang mulai mangkrak.

"Masa iya, pengangguran dapat gaji!!! Utang Indonesia aja terus bertambah tiap tahunnya, belum lagi mereka yang sudah kerja di sektor formal hanya dapat gaji Rp 220.000 per bulan" sahut pria berkumis di sampinya, tenaga honorer yang tak kunjung diangkat jadi PNS.

Saya bahkan setuju dengan ucapan Fahri Hamzah bahwa, hal itu hanya omong kosong. Honorer yang katanya mau diselesaikan tapi tidak terbukti, subsidi dicabut. Belum lagi janji sepuluh ribu lapangan pekerjaan yang menurut para pencari kerja hanya untuk warga asing.

Masih hangat di media terkait pro kontra ucapan calon Presiden 01 didebat kedua yang diadakan KPU. Capres 01 mengatakan tidak terjadi konflik dalam proses pembebasan lahan karena menurutnya tidak ada ganti rugi yang ada ganti untung.

Berbeda lagi dengan yang bertebaran di media sosial. Konflik akibat penggusuran pembangunan Tol yang dinilai tidak adil. Lagi pula jalan tol hanya mampu dinikmati mereka yang berduit tapi bagi saya yang naik sepeda akan dihadang oleh penjaga tol lantaran roda sepeda saya tidak cukup empat.

Kembali pada topik utama, kartu sakti Jokowi. Sebagai seorang petahana, mengumbar janji yang baru (kartu pra-kerja) adalah cara mendongkrak elektabilitas namun menjadi masalah lantaran janji politik periode sebelumnya belum terealisasi sepenuhnya.

Dugaan saya, dengan adanya kartu ini (kartu pra-kerja) akan mendorong lebih banyak lagi pengangguran di negeri ini lantaran mereka berpendapat bahwa dengan tidak bekerja (status pengangguran) bisa dapat gaji.

Tetapi, Jika memang betul program itu terealisasi. Enak betul hidup di zaman Pak Jokowi. Ngerokok sambil ngopi, akhir bulan bisa dapat gaji. Ini sih namanya pengangguran berduit.

Tapi kalau ini hanya sekedar janji tanpa realisasi maka benar kata Rocky Gerung bahwa pembuat hoax terbaik adalah penguasa.

Ingat bahwa tugas seorang pemimpin adalah menyelesaikan persoalan pengangguran dengan lapangan pekerjaan bukan dengan janji menggaji pengangguran.

Jika berniat memberi gaji maka berilah mereka yang pantas dapat gaji, mereka yang telah bekerja disektor formal (honorer yang bergaji pas-pasan).

Akhir kata. Kartu pra-kerja adalah kartu elektabilitas. Ketika popularitas mulai mangkrak maka kartu adalah senjata pendongkrak elektabilitas. (*)

Luka Demokrasi
(Burhan BSJ)

Ini luka sialan, dari demokrasi yang kau telan. Di antara deretan hukum, kau sedomi lewat angka.

Mata rantai sosial yang semula kau agungkan, telah cerai berai, bak air mata duka yang menganga.

Dalam genang air mata petani, menjadi kenangan remaja kota, hingga lebur menjadi sajak penenang penguasa.

Negerinya para penyamun. Menebar janji, berbagi dusta, beriklan proyek, busuk di jeruji.

Pendidikan kau bisniskan, anak miskin kau manfaatkan. Lalu memaksaku percaya?

Arggg...!

Aku muak, mual dan muntah-muntah oleh sederet kalimat itu, usai kumakan dengan kuping tuli.

Maafkan aku yang dulu, katamu, demi berulah lagi. Selanjutnya, segalanya kau halalkan lagi. Membuat kami kehilangan rasa.

Menyukaimu, merupakan secuil harapan. Sementara membencimu adalah perihal setumpuk langit.

Senja beranjak, tiba-tiba menuruni bukit lalu menghilang. Dan kau masih begitu, merusak tatanan surga leluhur.

Waktu berlalu, aku masih duduk diam di tepi rindu, sembari membiarkan mata bisu melototi bibirmu yang ranum kehilangan mimpi.

Di negeri ini keadilan hanya simbol. Tak ada yang perlu dibicarakan. Bagi rakyat kecil, semua ubah menjadi luka.

Berupaya menapaki pelangi, menemui kesejahteraan abadi walau hanya di ingatan.

Dan kau penguasa! Yang kejam dan gila. Matilah dalam ketenangan nan sia sia.

Aku ingin merdeka, merdeka dan merdeka, dari demokrasi yang sesungguhnya. Oleh adil yang sewajarnya dan rindu yang semestinya.

Biarkan roh-roh halus dan tangan tangan jail bersemayam, bersamaku dengan bebas, seumpama mawar mekar dihinggapi ranum.

Muh Syakir
Opini --- Negara merupakan organisasi tertinggi pemerintahan yang memiliki tanggung jawab besar dalam menjalankan tugas kepada lembaga paling bawah demi sebuah keadilan. Mengupayakan terjadinya sebuah proses perdamaian dan keamanan dalam wilayah kekuasaannya

Lagi pula terbentuknya sebuah negara tidak terlepas dari pada rakyat sebagai salah satu syarat utamanya, yaitu sebagai pemilik kekuasaan tertinggi maupun kedaulatan tertinggi

Dari segi sejarah, asal muasal terbentuknya sebuah organisasi besar yang kita kenal dengan sebutan negara, adalah rakyat sebagai individu dengan cinta dan kasih sayang untuk hidup secara berkelompok dengan prinsip kebebasan

Berinisiatif membentuk organisasi untuk mengatur kehidupan bersama tanpa adanya deskriminasi

Terlepas dari itu, Negara Indonesia dengan berbagai pengalaman masa lalu, sewajarnya melakukan penataan kehidupan bersama dengan mengedepankan demokrasi kerakyatan sebagai landasan untuk memperbaiki keadaan yang tengah melanda akibat kekuasaan

Sejarah telah mencatat keruntuhan sebuah bangsa di dalam lingkaran nusantara kala itu, menghancurkan demokrasi asli yang tengah berkembang adalah kerakusan nafsu untuk menguasai

Organisasi besar yang sah dan diakui oleh rakyat dengan berbagai kebijakan dan peraturan di dalamnya, tidak cukup kuat menetralisir masalah sampai ke akar-akarnya

Terlalu besar mimpi organisasi besar itu untuk mencipta peradaban.

Bukanya untuk melindungi serta menghormati hak semua rakyat, melainkan menjadi musuh nyata yang setiap saat datang secara tak terduga dan menghantui kehidupan rakyatnya

Mengapa tidak, masalah dalam sebuah negara bukanya berkurang, tetapi malah bertambah jumlahnya serta beragam kasus terus menerus terjadi

Penulis: Muh Syakir
Note: Tulisan Ini Merupakan Tanggung Jawab Penulis

OPINI --- Kami Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslimin Indonesia (KAMMI) Komisariat Universitas Islam Negeri Alaudin Makassar (UINAM) menyayangkan kebobrokan Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Sinjai.

Otoriter dan disorientasi adalah kata yang paling tepat, ketika kedudukan kampus berfungsi sebagai wadah akan tanggung jawab moral dan intektualitas memilih berbalik diri dan menjilat ludah sendiri.

Kritik ibarat gambar mata uang logam yang tidak bisa dipisahkan dari jati diri seorang mahasiswa.

Sebab niat awal mahasiswa adalah membuat tuntutan untuk penurunan pembayaran kartu ujian akhir semester (UAS) tapi pada akhirnya berbuntut dengan dikeluarkannya surat keputusan (SK) pemberhentian dan skorsing kepada 4 mahasiswa IAIM.

Hal ini agak sedikit tabuh, karena SK dikeluarkan tanpa memberikan kesempatan kepada korban untuk melakukan tuntutan dan pembelaan diri, itu ialah hal yang sama sekali tidak demokratis.

Sekali lagi saya katakan dengan tegas kampus bukanlah kerajaan yang sesuka hati mengambil kebijakan secara sepihak.

Tapi kampus pada sejatinya adalah rumah toleransi logis, artinya ketika ada suatu permasalah yang masih bisa diselesaikan dengan jalan mediasi dengan alasan dan pertimbangan yang logis, kenapa tidak.

Sebab dengan kejadian ini secara tidak langsung membuat aib kampus tersingkap dan mencoreng nama baiknya sendiri karena ulahnya yang secara otoriter berbuat dan mengeluarkan argumen yang semena-mena, seakan tak menghargai posisi mahasiswa.

Kampus yang kita anggap dapat membawa perubahan besar terhadap generasi muda kedepannya dengan jiwa kritis yang ada malah mencetak generasi yang membeo terhadap penguasa.

Jadi kesimpulan yang perlu dicatat oleh kampus IAIM Sinjai terhormat yaitu, jangan jadikan kami mahasiswa sebagai ladang bisnis karena kami orang-orang idealis bukan kapitalis.

Penulis: ketua KAMMI Komisariat UINAM

Opini --- Romantisme demokrasi tidak berlaku di kampus Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Sinjai, harmoni dalam berdemokrasi tidak lahir.

Pembungkaman sikap kritis mahasiswa yang dilakukan oleh kampus IAIM Sinjai di mana mahasiswanya yang hanya melakukan demonstrasi dan meminta kejelasan tentang uang pembayaran ujian akhir semester (UAS), dasar persoalan adalah hal tersebut.

Lalu kemudian kampus mengeluarkan surat keputusan (SK) drop out (DO) dan skorsing secara sepihak kepada mahasaiwa tersebut.

Jika kasus pembungkaman demokrasi terus terjadi maka normalisasi kehidupan kampus (NKK) yang ada pada rezim orde baru akan kembali terjadi, di mana mahasiswa dilarang berpolitik dan berdemonstrasi dan hanya dipaksa untuk mengejar akademik.

Yang bisa saya gambarkan dalam kasus ini bahwa yang dilakukan oleh kampus IAIM Sinjai tidak mempunyai romantisme dalam berdemokrasi, ini mengakibatkan terangkatnya nama yang tidak baik bagi kampus yang seharusnya menjadi tempat sumber ilmu, lalu lintas pendiskusian.

Pergolakan pemikiran kritis itu terbatasi bagi para mahasiwa karena sistem kampus yang berlaku sifatnya tidak demokratis dan mengekang kebebasan berdialektika bagi para mahasiswa.

Di mana semestinya mahasiswa bebas berekspresi dan mengaktualisasikan segala macam bentuk kreatifitas berpikirnyanya.

Serta kampus yang seharusnya mengajarkan tentang demokrasi yang baik akan tetapi kampus ini pula yang mengajarkan demokrasi yang rancu tanpa pertimbangan atau mediasi dengan baik dan diselesaikan secara logis.

Tapi kenyataannya pihak kampus IAIM Sinjai sendiri menampakkan sikap arogan dan tidak peduli terhadap mahasiswanya, hanya memanggil mahasiswa untuk menghadap tapi tidak ada persuaratan.


Maka dari itu kampus IAIM sinjai gagal membangun kriteria disiplin ilmu yang sesuai dengan apa yang menjadi bakat mahasiswa.

Sebab seorang murid sama sekali tak bisa dibatasi, karena tujuan pendidikan sejatinya adalah bukan menjadikan peserta didik menjadi seragam dalam berpikir.

Apalagi kampus tak boleh memandang enteng mahasiswa dengan cara mengucilkan, sebab posisi dosen dan mahasiswa itu sama di hadapan hukum dan negara, jadi seorang tenaga pendidik sama sekali tak bisa semena-mena dalam berbuat dan berbicara.

Maka hal itu pula yang membuat IAIM Sinjai tidak mampu mewujudkan romantisme dalam berdemokrasi.

Penulis : Zulkarnain, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik Sinjai

OPINI --- Terbaru, 31 Januari 2019, Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Republik Indonesia (DKPP) memberhentikan Muhammad Irfan selaku Anggota KPU Kabupaten Sinjai periode 2018-2023. Muhammad Irfan yang belum lama dilantik sebagai anggota KPU Sinjai, harus menelan pahitnya putusan lembaga pengadil etik penyelenggara pemilu.

Pemberhentian Muhammad Irfan aquo terekam dalam putusan perkara nomor: 264/DKPP-PKE-VII/2018, yang amarnya berbunyi: (1) Mengabulkan pengaduan pengadu untuk seluruhnya, (2) Menjatuhkan sanksi berupa Pemberhentian Tetap kepada Teradu Muhammad Irfan selaku Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sinjai, dan (3) memerintahkan Komisi Pemilihan Umum Provinsi Sulawesi Selatan untuk melaksanakan Putusan ini paling lama 7 (tujuh) hari sejak Putusan ini dibacakan.

Jika merujuk pada putusan-putusan DKPP terdahulu, secara predictiable dipastikan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Selatan meng-eksekusi putusan aquo.

Sebagaimana sebelumnya KPU Sulsel telah memberhentikan anggota KPU Palopo periode 2013-2018, karena disanksi pemberhentian Tetap oleh DKPP.

Kepastian tereksekusinya putusan DKPP termuat dalam ketentuan Pasal 458 ayat (14) UU 7/2017 (UU Pemilu), yang menegaskan Penyelenggara Pemilu wajib melaksanakan putusan DKPP. Norma inilah yang mengikat penyelenggara pemilu untuk melaksanakannya, kendati acapkali penyelenggara pemilu secara substansi perkara tidak bersetuju dengan isi putusan DKPP aquo.

Sedangkan, bagi pihak tersanksi yang tidak menerima putusan DKPP, tertutup upaya hukum untuk mempersoalkan/menggugat putusan aquo. Upaya hukum yang tersedia bagi pihak tersanksi oleh DKPP adalah menggugat via Pengadilan tata Usaha Negara (PTUN), dengan syarat putusan DKPP tersebut telah ditindaklanjuti oleh Penyelenggara Pemilu, dalam bentuk keputusan.

Hal ini sebagaimana kaidah hukum putusan Mahkamah Konstitusi Nomor:31/PUU-XI/2013. Tindak lanjut atas putusan DKPP dalam bentuk Keputusan KPU/Bawaslu tersebut yang menjadi objectum litis di Pengadilan Tata Usaha Negara.
Namun, jika menilik isi amar putusan DKPP berkait pemberhentian Muhammad Irfan, maka akan menimbulkan problem hukum jika KPU Sulawesi Selatan eksekusi putusan aquo.

Problemnya terletak pada tehnis eksekusinya, notabene KPU Provinsi berdasar UU Pemilu tidak memiliki kewenangan memberhentikan anggota KPU Kabupaten. Secara atributif berdasar UU Pemilu, kewenangan pengangkatan dan pemberhentian anggota KPU Provinsi dan Kabupaten absolut milik KPU RI.

Sekiranya KPU Sulawesi Selatan eksekusi putusan aquo, menerbitkan keputusan Pemberhentian Muhammad Irfan selaku anggota KPU Sinjai, maka tindakan tersebut mangandung cacat wewenang. Konsekuensinya, keputusan tersebut batal demi hukum/tidak sah. Produk ikutannya yakni keputusan penggantian antar waktu (PAW) terhadap Muhammad Irfan pun potensial menjadi tidak sah jika digugat ke PTUN.

Tak ada pilihan lain, agar validitas putusan DKPP bernilai executable, maka koreksi atas putusan aquo menjadi keharusan. Amar putusan DKPP yang memerintahkan kepada KPU Sulawesi Selatan harus di perbaiki dengan amar memerintahkan kepada KPU RI untuk melaksanakan putusan aquo.
Wewenang

Sebagai penyelenggara pemilu, segala tindakan KPU harus tuntuk pada UU Pemilu. Tindakannya harus berdasar kewenangan yang sah, yang diperoleh, baik secara artibusi maupun delegatif. Begitupula halnya dalam melaksanakan putusan lembaga penyelenggara pemilu lainnya, baik Bawaslu atau DKPP. Putusan tersebut dilaksanakan dengan mendasarkan diri kepada regulasi yang berlaku.

Dalam konteks kasus yang menimpa Muhammad Irfan, notabene KPU Sulawesi Selatan diperintahkan oleh DKPP melalui putusannya untuk memberhentikan Muhammad Irfan sebagai anggota KPU Sinjai.

Di sini letak kekeliruan DKPP.
Putusan DKPP tidaklah berdiri sendiri. Pelaksanaan putusan aquo secara hukum terikat pula dengan norma lain UU Pemilu, yakni norma berkait kewenangan pemberhentian anggota KPU Kabupaten/Kota.

Oleh karena amar putusan aquo adalah pemberhentian tetap kepada anggota KPU Kabupaten, maka amar putusannya seharusnya ditujukan kepada KPU RI, bukan kepada KPU Sulawesi Selatan. Rasio legisnya adalah berkaitan dengan kewenangan masing-masing kelembagaan.

Kewenangan rekruitmen (pengangkatan) dan pemberhentian anggota KPU Provinsi dan Kabupaten merupakan kewenangan KPU RI. Perihal ini terkunci dalam ketentuan norma pasal 13 ayat 1 huruf i UU Pemilu yang menegaskan wewenang KPU RI mengangkat, membina dan memberhentikan anggota KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota dan anggota PPLN.

Memang, sebelum UU Pemilu, kewenangan pengangkatan dan pemberhentian anggota KPU Kabupaten menjadi ranah wewenang KPU Provinsi sebagaimana UU 15/2011 (UU Penyelenggara Pemilu). Namun kewenangan tersebut hapus dengan keberlakuan UU Pemilu.
Praktek kekeliruan DKPP yang memerintahkan KPU Provinsi berhentikan Anggota KPU Kabupaten bukan kali pertama. Kekeliruan ini misalnya pada putusan DKPP RI berkait pemberhentian anggota KPU Palopo periode 2013-2018 sebagaimana putusan DKPP RI perkara nomor: 103/DKPP-PKE/VII/2018. Dalam putusan DKPP aquo, juga memberi perintah yang sama kepada KPU Sulawesi Selatan, meski UU Pemilu telah berlaku.

Khusus kasus pemberhentian anggota KPU Palopo aquo menimbulkan perdebatan hukum karena mereka diangkat oleh KPU Provinsi berdasarkan UU Penyelenggara pemilu, sehingga ada pandangan yang menyatakan pemberhentiannya pun menggunakan UU tersebut. Prinsip non retroaktif menjadi sandaran argumentasi hukumnya. Meski penulis berbeda pendapat, bahwa setelah berlakunya UU Pemilu, maka yang harus memberhentikan anggota KPU Palopo adalah KPU RI sebagaimana konsekuensi berlakunya Pasal 13 huruf i UU Pemilu (prinsip legalitas).

Tidak terdapat satu pun norma dalam UU Pemilu yang memberikan eksepsional bahwa pemberhentian anggota KPU Kabupaten/Kota yang merupakan wewenang KPU RI dapat diambil alih seketika menjadi kewenangan KPU Provinsi karena alasan adanya perintah dari DKPP ataupun lembaga peradilan lainnya.
Koreksi

Ada implikasi jika suatu tindakan pejabat tata usaha negara jika tanpa kewenangan yang sah, yakni tindakan aquo terkualifikasi sebagai cacat wewenang. Pasal 70 UU 30/2014 (UU AP) memberikan 3 (tiga) klasifikasi cacat wewenang yakni: tidak berwenang, melampaui wewenang dan sewenang-wenang.
Notabene jika KPU Sulawesi Selatan melaksanakan putusan DKPP aquo memberhentikan Muhammad Ifran, maka tindakannya tergategorisasi melampaui wewenang.

Boleh saja KPU Sulawesi Selatan berdalih bahwa melaksanakan putusan DKPP adalah final dan mengikat sebagaimana ketentuan norma Pasal 458 ayat (13) dan (14) UU Pemilu.

Namun jika di uji keputusan KPU Sulawesi Selatan aquo pada Pengadilan Tata Usaha Negara, dapat dipastikan keputusan tersebut dinyatakan tidak sah sehingga segala akibat hukum yang timbul akibat keputusan tersebut tidak mengikat sejak ditetapkan dan segala akibat hukum yang ditimbulkannya diaggap tidak pernah ada (vide:Pasal 70 ayat UU AP).

Ruang pembatalan atas keputusan KPU Sulawesi Selatan sebagai wujud pemberhentian Muhammad Irfan terbuka lebar. Bahkan pergantian antar waktu terhadap Muhammad Irfan nantinya potensial menjadi objek gugatan diPTUN. Dalam kondisi demikian, maka tak ada pilihan lain DKPP harus koreksi putusannya. KPU Sulawesi Selatan harus menunda eksekusi putusan DKPP, sembari menunggu koreksi dari DKPP.

Koreksi isi putusan DKPP secara terbatas berkaitan dengan amar memerintahkan kepada KPU Sulawesi Selatan untuk melaksanakan putusan aquo diganti dengan perintah kepada KPU RI. Hal ini untuk menjaga wibawa putusan DKPP tetap terlaksana berbasis regulasi yang sah, dan menututp ruang pembatalan keputusan KPU Sulawesi Selatan oleh PTUN.

Meski tidak lazim bagi DKPP mengkoreksi putusannya, namun sebagai lembaga penyelenggara pemilu, wajib berpegang pada azas penyelenggara pemilu, yakni azas kecermatan. Prinsip kecermatan menjadi payung hukum pengkoreksian putusan aquo.

Setidaknya hal ini pun berguna untuk menghindari bertambahnya deretan kasus pembatalan keputusan KPU oleh Pengadilan Tata Usaha Negara, akibat KPU keliru dalam melakukan tindakan hukum.

Bukankah segala tindakan KPU haruslah berdasar hukum agar memberi kepastian. Prinsip Kepastian hukum melulu bukan hanya berkait eksekusi atau tidak tereksekusinya suatu putusan, namun acapkali putusan itu sendiri membutuhkan kepastian, agar memenuhi prinsip legitimeid dan reliable. KPU Sulawesi Selatan tidak boleh diperintahkan melaksanakan tindakan hukum yang berujung pada tindakan melawan hukum, melampaui wewenang yang sah.

Penulis: Baron Harahap (Mantan Pengurus KIPP Kota Kendari/Author Negarahukum.com).

OPINI --- Di pagi yang cerah ini kucoba merangkai kata di tengah rintik hujan sesekali angin berhembus manja di pundak, kali ini aku di teras rumah dan tiba-tiba terasa ada sesuatu yang mengganjal di kantong celana jeansku saat duduk di kursi bambu rakitan bapakku.

Kuraba dan perlahan kutarik keluar rupanya tembakau dibungkus daun pisang, lalu gerakku Berhenti sejenak dan mengingat, rupanya tembakau ini pemberian dari salah seorang sahabat putra petani di kampungku, kemarin saat aku duduk bersama di pematang sawah seusai tanam padi.

Kring-kring, bunyi nada Whatsapp di handphoneku ternyata sebuah kabar buruk tentang matinya nalar demokrasi birokrasi Institut Agama Islam Sinjai (IAIM) yang sedang hangat di media. Sebuah berita yang hingga belakangan dilirik oleh media lokal bahkan nasional.

Akibat empat mahasiswa IAIM Sinjai memprotes kebijakan kampus terkait pembayaran kartu ujian Rp.80.000,- yang menurutnya terlalu mahal serta mereka juga meminta pihak kampus untuk transparan dalam pengelolaan anggaran tersebut, yang pada akhirnya berujung drop out (DO) dan skorsing.

Melihat hal ini, saya menilai bahwa kampus tidak lagi demokratis, kampus anti kritik lalu sejenak aku teringat kekejaman sejarah orde baru.

Sebab kematian kampus dapat ditandai dengan adanya kematian tradisi kritik dan kematian kritik ini ada pada zaman orde baru.

Tapi kematian kritik ini hanya gejala permukaan yang dilahirkan oleh Orba, kemungkinan besar kampus menyembunyikan gejala yang sesungguhnya dan yang lebih mendasar, yakni soal ketimpangan.

Maka kematian kampus tiada lain adalah soal adanya ketimpangan yang bisa saja menggurita di kehidupan mahasiswa di kampus IAIM Sinjai.

Dilain sisi berbagai propaganda dilahirkan di kampus oleh beberapa Mahasiswa/i IAIM Sinjai yang bisa saja disebut namanya pencitraan mereka bersuara dalam videonya dengan ungkapan seolah mereka sepakat dengan keputusan SK DO dan Skorsing, dengan alasan karena telah mencemarkan nama baik kampus.

Maka saya selaku petani mengingatkan bahwa mahasiswa harus dilandasi semangat moral dan ilmiah jangan hanya mengatas namakan hal itu untuk menjadi penggonggong, sebab hari ini justru hal itu yang digunakan oleh rezim birokrat kampus untuk mengamankan posisinya yang koruptif dan pro neoliberalisme.

Akibatnya kampus menjadi semacam ruang meditasi orba modern yang berjarak dengan kenyataan kongkrit yang dihadapi oleh masyarakat dimana ia berada.

Oleh karena itu sebagai kesimpulan bahwa negara kita adalah negara demokrasi yang telah diatur dalam konstitusi.

Jika kampus IAIM Sinjai tidak membuka ruang demokrasi mahasiswa maka hilangkan IAIM Sinjai dari negara ini, sebab itu adalah pelanggaran konstitusi.

Di ujung kalimat kukatakan dengan tegas, cabut Surat Keputusan (SK) Pemberhentian dan Skorsing empat mahasiswa yang telah berdemonstrasi pada tanggal,15 Januari 2018.

Penulis: Pacul (Petani Sinjai)

“Sinar matahari mengandung UV A dan UV B penyebab berbagai masalah pada kulit”

Kalimat itu sering kali diucapkan di televisi. Karena keseringan, saya terkadang jengkel dengan kalimat itu. Pengen lempar TV tapi takut rusak, untung-untung ndak kena marah. Lagi pula, menurut saya matahari mustahil untuk dihindari. Saya kasi saran yah, kalimatnya dirubah aja kayak gini “pengen kulit yang sehat dan lebut? Makanya, gunakan produk kecantikan Velvy”.

Ini pasti promosi lagi kan?

Pertanyaan itu pasti akan muncul dibenak orang-orang yang belum mengenal atau belum menggunakan produk Velvy. Tapi, bagi mereka yang sudah menggunakan produk Velvy pasti akan mengatakan hal yang sama dengan yang saya katakan.

Kenapa harus Velvy, kenapa ndak yang lain?

Ya ela... masih aja ada nanya kayak gitu. Gini yah, saya jelaskan. Bahan dasar produk Velvy didatangkan langsung dari luar negeri yang diolah menjadi berbagai bentuk varian seperti, Shower Cream, Body Lotion, dan Body Scrub, yang berbahan dasar susu kambing terbaik dari Netherlands.

Tidak hanya itu, produk Shower gel Velvy berbahan dasar Australian Tea Tree Oil dan terakhir baru-baru ini adalah Velvy Fine Fragrance Mist (Perfume). Yang pasti semua produk Velvy dijamin halal dan aman.

Kenapa Velvy memilih menggunakan susu kambing terbaik dari Netherlands? Banyak orang yang ndak suka kambing loh, termasuk saya.

Saya jelaskan yah. Ternyata, susu kambing kaya dengan kandungan anti-oksidan yang bisa digunakan untuk melawan radikal bebas penyebab penuaan pada kulit.

Tidak hanya itu, susu kambing juga membantu proses regenerasi kulit, menghilangkan sel kulit mati, serta mengandung protein, vitamin A, C, D, E, dan Mineral Selenium lebih banyak yang berperan aktif untuk menghaluskan kulit.

Selain dapat menghaluskan kulit, susu kambing juga memiliki kandungan yang berperan sebagai eksfoliator yang ampuh serta dapat membantu menghilangkan noda dan jerawat.

Kandungan ini bernama Alpha-hydroxy Acid (AHA) merupakan senyawa asam yang termasuk efektif untuk membuat kulit kering dan kusam menjadi lebih lembap. Ituah sebabnya susu kambing terbaik dari Netherlands yang menjadi pilihan.

Tau ndak kalian, siapa perempuan tercantik di Mesir? Bener banget, Cleopatra. Untuk menjaga kecantikan dan kelembutan kulitnya, ia bahkan rutin berendam di kolam susu, bahkan susu yang sering digunakan adalah susu kambing. karena tekstur susu kambing lebih mudah diserap kulit dibandingkan varian susu lainnya.

Lalu, ada apa dengan Austraian Tea Tree Oil sehingga bahan ini juga menjadi bahan dasar produk Velvy?

Karena Tea Tree Oil merupakan antiseptik alami yang sudah terbukti sejak ribuan tahun lalu untuk membunuh kuman, bakteri dan jamur. Maka dari itu,Velvy menggunakan Susu Kambing Terbaik dari Netherlands dan Tea Tree Oil. Gimana Sist? masih ndak percaya dengan produk Velvy?

Sist... gima nih kalau kulit saya berminyak, kering dan juga sensitif. Apakah boleh saya menggunakan produk Velvy?

Sist, dicatat baik-baik yah. Produk Velvy yang produknya berbahan dasar susu kambing dan Australian Tea Tree Oil telah memenuhi kriteria dan aman untuk semua jenis kulit. Sehingga boleh digunakan untuk semua jenis kulit.

Masih penasaran dengan Velvy Beauty?

Masih Sist. Apa saja sih produk Velvy? Produk Velvy banyak sekali Sist. Ada sabun dan lotion yang berbahan dasar susu kambing terbaik dari Netherlands hingga parfum yang terbuat dari bahan-bahan berkualitas yang bersertifikasi Halal dan Vegan tidak mengandung unsur hewani dalam proses pembuatannya.
Sist, saya juga punya pengalaman nih. Awalnya, produk Velvy diperkenalkan oleh teman. Saat itu kami baru kembali dari pantai. Mungkin dia melihat kulit saya yang kering dan kusam karena seharian bersentuhan dengan matahari di bibir pantai.

Maklum, saat itu saya termasuk orang yang tidak pandai merawat kulit. Awalnya sih saya tidak percaya dengan produk Velvy, hingga akhirnya saya harus menggunakannya karena keseringan bermain di pantai membuat kulit saya semakin kusam dan kronis.

Hanya sekedar mencoba. Awalnya saya hanya menggunakan dua produknya saja, Lotion Susu Kambing dan Sabun Susu Kambing. Tapi, karena aromanya yang wangi membuat saya semakin suka menggunakannya.

Tidak sampai disitu saja, setelah sering menggunakannya, kulit saya yang awalnya kusam sudah mulai halus dan tidak kering lagi.

Saya masih ingat betul dengan kata-kata teman. Saat itu saya menggunakan lotion susu kambing “ketagihan kan akhirnya menggunakan lotionnya!!!” iya sih, saya ketagihan. Selain kulit saya semakin lebut pastinya semakin sehat.

Sist, saya juga kepengen dengan produk kecantikan Velvy. Gimana sih Sist cara membeli produknya?

Mudah kok, produk Velvy sekarang dengan mudah ditemui di berbagai toko online. Nggak mau repot dan salah alamat, nih saya kasi alamatnya tinggal klik aja Official Store di sana kalian akan menemukan sepuluh official store Velvy.

Masih ada yang penasaran nggak nih? Dari pada masih penasaran dan susah tidur karena penasaran, mending langsung aja beli Lotion Susu Kambing atau Sabun Kusu Kambingnya biar ndak penasaran lagi.

"Artis aja make produknya loh Sist, masa kamu nggak!!!". Rasakan manfaatnya “Rahasia Kulit Putih, Lembut, dan Sehat Dengan Velvy”

Pemilu serentak 2019 akan berlangsung kurang lebih 3 (tiga) bulan lagi.jika kita lihat di dunia maya khususnya facebook,perang opini terkait pemilu serentak 2019 kini kelihatan makin menghangat.antara lain adalah mempromosikan para calon kandidatnya masing masing .

Kadang kita bertanya mengapa teman teman ini begitu semangatnya mempromosikan narasi jagoannya masing masing di dunia maya baik secara langsung ataupun tidak langsung? Jawabannya sederhana saja karena mereka berkepentingan agar jagoannya menang dalam pemilu serentak 2019.

Tapi apakah ini akan berpengaruh terhadap perolehan suara calon yang kita dukung khususnya untuk masyarakat biasa non influencer media sosial.kegaduhan di media sosial ini tidak ada efek elektabilatasnya terhadap jagoan yg kita usung.padahal kita sudah mengorbankan hubungan pertemanan di dunia maya gara2 urusan pemilu ini.

Saya merasa teman2 saya khususnya di facebook (baik yang aktif atau yang tidak aktif) sudah memiliki kecenderungan untuk memilih salah satu pasangan calon pemilu serentak 2019 ini bahkan sebelum penetapan kandidat.

Jadi menurut saya kegaduhan postingan politik di facebook tidak akan atau hanya sedikit saja berpengaruh terhadap pilihan teman teman kita yang lain terhadap pemilu serentak nantinya.kalau aktifitas politik anda di media sosial tidak berdampak positif terhadap jumlah suara jagoan yang anda usung,artinya anda hanya ingin memuaskan diri anda sendiri.

Penulis: Saifullah

Tuhan, Tuntun Aku Ke SurgaMu

Tuhan,
Dalam doa aku mengadu
Pada sujud aku memohon
Akan nasib yang sengsara

Tuhan,
Aku menyembah penuh keyakinan
Demi sebuah harapan
Bertemu denganMu di surga keabadian

Tuhan,
Banyak waktu telah berlalu
Aku semakin malu
Lantaran hidup semakin pilu

Tuhan,
Hindarkan aku dari dosa
Tuntun aku dalam doa
Agar hidup lebih berguna

Tuhan,
Sebelum aku binasa
Ijinkan aku mencari pahala
Agar kelak mendapatkan surga

Tuhan,
Satu pintaku
Tuntun aku ke surgaMu

IBU
(AP)

Ibu,
Malam ketika itu
Saat adikku lelap dipangkuanmu
Aku dengar cerita tentang perjuanganmu
Tentang pengorbanan merawat dan melahirkanku

Sembilan bulan menjagaku dalam kandunganmu
Membesarkanku dalam pangkuanmu
Mengorbankan waktu hanya untuk merawatku

Ibu,
Terima kasihku untukmu
Untuk semua doa-doamu
Untuk semua pengorbananmu

Ibu,
Maafkan aku,
Aku masih belum bisa membalas semua kebaikanmu
Mewujudkan semua harapanmu
Tapi ibu, percayalah padaku
Aku sangat menyayangimu

Ibu,
Esok ketika Tuhan menjemputku
Aku akan meminta pada Tuhanku
Agar di Jannahnya aku dapat memelukmu ibu

Tuhan, Ajak Aku Pulang Ke rumahMu
(Andika Putra)

Tuhan,
Padamu, aku ingin mengadu
Bercerita tentangku yang rapuh tanpaMu
Di tempat ini aku mulai merasa gagu

Tuhan,
Jiwaku ini milikMu
Bahkan ragaku ini tercipta karenaMu
Bukan hanya aku, semua atas namaMu

Tuhan,
Ajak aku ke rumahMu
Aku ingin bersandar di bahuMu
Aku lelah dengan ulah ciptaanMu
Mereka merusak, menghancurkan, bahkan bumiku

Tuhan,
Aku ingin mengadu
Jagakan bumiku
Jagalah keteduhan hati para saudaraku
Buat mereka saling merindu dan tidak saling menganggu

Tuhan,
Aku takut dengan murkaMu
Karena ulah para pengganggu
Sadarkan mereka dari belenggu nafsu
Negeriku bosan di hancurkan melulu

Tuhan,
Ajak aku pulang ke rumahMu
Ingin kuceritakan ulah-ulah para pengganggu

Tuhan, Selamat Bermalam Minggu
(Andika Putra)

Tuhan,
Malam ini malam minggu
Masihkah kau membiarkanku menunggu
Aku lelah sepiku menyembilu

Tuhan,
Malam ini malam minggu
Haruskah aku sendiri dulu
Nikmati malam dengan gagu
Karena rindu tak juga ketemu

Tuhan,
Malam ini malam minggu
Izinkan aku bermalam minggu tanpa ragu
Bernyanyi dengan sebuah lagu
Agar esok, berjumpa cinta yang baru

Tuhan,
Berjanjilah padaku
Esok pertemukan aku dengan bidadariku
Ingin kuajak ke pasar bermalam minggu
Agar malam mingguku tidak sepi melulu

Tuhan,
Ingat yah pintaku
Esok aku pasti datang pada-Mu
Menagih semua janjimu

Tuhan,
Janji yah, jangan marah padaku
Karena terlalu banyak yang aku minta dari-Mu

Tuhan,
Selamat Bermalam Minggu

Ayah
(Andika Putra)

Fajar telah datang kembali
Sebelum lelahmu kembali pulih
Kau berangkat lagi
Bahkan sebelum kami bangun pagi

Ayah!!!
Kemarin kau bercerita pada kami
Katamu, kau tak pernah merasa lelah
Tapi, Aku tau kemarin kau sedang berbohong

Ayah!!!
Kapan kau akan jujur pada kami?
Bahkan peluhmu tak pernah kering
Dahimu mengisahkan banyak derita

Ayah!!!
Tubuhmu kini terlihat ringkih
Rambutmu memutih berguguran
Dan kau tetap tersenyum dan tegar

Ayah!!!
Bersabarlah
Aku pasti dewasa
Tidak akan kubiarkan kau lebih lelah lagi
Sudah cukup peluhmu yang tertumpah
Beristrahatlah dimasa tuamu
Beri aku kesempatan tuk menggantimu

Sebuah Usaha Melupakan

Tak pernah kusesali setiap akhir dari perjalan kita yang berakhir dengan tragis, hanya saya aku merencanakan sebuah usaha melupakan

Luka masih perlahan ku sembuhkan, tak pernah aku merasakan bahwa luka ini begitu sakit, malah luka ini kujadikan motivasi untuk melupakan.

Aku tak pernah membencimu,sama sekali tidak,meski luka berkali kali kau torehkan didalam hatiku tapi aku masih saja menganggapmu teman terbaik. Hanya saja, aku berusaha melupakan

Ketika kau beranjak pergi dari hidupku aku menerimanya dengan kebaikan,tak pernah sama sekali kuteteskan air mata ketika kau pergi. Hanya saya, aku berusaha untuk melupakan.

Hanya saja aku berusaha tabah,seorang perempuan juga harus kuat meski di jatuhkan berkali kali di caci berkali kali tapi pantang bagiku menangis hanya karna sebuah penghianatan. Hanya saja, aku berusaha melupakan.

Ketika langkah kakimu semakin jauh, aku meyakinkan diriku bahwa jika kelak kau kembali dan ingin memulainya lagi, maka aku akan mengatakan kepadamu setelah kepergianmu aku mencoba memahami kata "sebuah usaha melupakanmu" bukannya tak ingin lagi berteman baik denganmu,namun perempuan juga harus memegang prinsip.

Aku tak pernah dendam sama sekali tidak, karna aku tau dendam hanya membuatku menjadi wanita yang egois, wanita yang tak pandai menahan amarah, hanya saja aku yang dulu bukan lagi yang sekarang karna aku saat ini telah berhasil mengupayakan kata "sebuah usaha melupakan"

Penulis: Sutratenriawaru

Seorang teman pernah bertanya padaku "aku tidak pernah lagi melihat kamu di sosial media. Akunmu sudah dinonaktifkan".

Supri adalah nama sapaannya. Setiap hari waktunya habis terbuang percuma berselancar di media sosial. Selalu saja ada berita yang dia sebar di media sosial. Katanya sih, dia hanya membagikan tautan dari teman-temannya.

Anehnya, berita itu selalu ia sebar tanpa memperhatikan sumber dan kebenaran isinya. Hanya melihat judul dan foto hasil editan sudah cukup membuatnya terpengaruh.

Pernah suatu sore, ia datang padaku dengan raut wajah ketakutan.
"Tadi saya buka media sosial katanya sekarang ada UU ITE!!!" ucapnya
"Iya benar. UU itu menjerat orang-orang yang suka menyebarkan berita bohong" jawabku menakutinya
"Contohnya!!!" tanyanya lagi
"Kamu, seperti kamu yang suka menyebar berita hoax" jawabku lagi
"Hoax itu apa sih?"
"Hoax adalah berita palsu atau berita bohong"
"Aku nggak pernah menyebar berita bohong" jawabnya membela diri
"Berita yang kamu sebar sudah pasti kebenarannya belum? Sudah dibaca baik-baik belum?"
"Hehehe nggak sih"
"Makanya harus tau kebenarannya dulu baru share"
"Hehehe"
"Kalau nggak, kamu bakalan masuk bui. Nih, kamu baca biar ngerti" menjulurkan selembar kertas berisi puisi beberapa bait yang aku tulis semalam suntuk.

Puisi Anti Hoax
(Andika Putra)

Di zaman hoax
Banyak orang mudah percaya
Share sana sini
Menimbulkan huru hara

Sebenarnya siapa kalian sasar?
Fitnah bertebaran tidak karuan
Jangan memancing emosi menjadi buas

Jangan merekayasa kebenaran
Sudah banyak yang menjadi buas
Lalu kau hanya diam
Berhentilah, sudah banyak yang menjadi korban

Tiga tahun silam, saat kau memilih pergi dengannya
Aku mengatai pasanganmu
"Sialan, kau lelaki murahan"
Dia tak menghiraukan lalu beranjak pergi
Batinku lalu menyambut
"Aduh, kasihku dirampok dari genggamanku"
Dia tetap pergi dengan raut wajah yang gembira

Di waktu yang sama, kau tertawa
Telunjukmu mengarah tepat di wajahku
"Kau tidak benar-benar mencintaiku" ucapku
"Jika iya kenapa" jawabmu
"Pergilah sebelum tubuhmu tinggal nama" ucapku yang tidak begitu serius

Satu bulan kemudian, kau datang meminta balikan
"Kenapa? Apa kau ingin mengejekku lagi?" Tanyaku
"Aku menyesal, ternyata dia hanya memanfaatkanku" jawabnya
"Pergilah, kau tidak sesuci namamu lagi"
"Aku belum disentuhnya" jawabnya
"Cintamu yang tak suci dan aku tidak ingin mengotori pelukku" jawabku

Dia tetap merengek
Aku tidak menghiraukannya
Dia kesal lalu pergi
Matanya berkaca-kaca
"Pergilah, tubuhmu tidak lagi kubutuhkan" suara batinku

Malam Minggu Dengan Puisi

Pernah suatu malam
Malam sabtu aku bertanya pada kekasihku
Apakah kamu masih mencintaiku?
Hanya untuk memastikan perasaannya baik-baik saja
Jika iya, katakan masih. Jika tidak, katakan Tidak

Pertanyaan yang sama sebulan setelah kita jadian
Saat kami sedang marahan gara-gara mantan
Pertanyaan yang menimbulkan tanya yang lain
Lalu kenapa kamu jarang memanggilku sayang?

Sontak matanya melotot dan mulutnya menggelembung
Kamu tidak percaya lagi dengan saya? Tanyanya padaku
"Aku masih percaya" jawabku
"Aku ingin kita putus" pintanya
"Kenapa harus malam ini? Ini malam sabtu" jawabku
"Lalu"
"Besok aku malam mingguan dengan siapa?"
"Malam minggu dengan puisimu"
"Kenapa dengan puisi?"
"Karena kau tak pernah punya waktu untuk aku memanggilmu sayang"
"Maafkan aku!"
"Minta maaf dengan puisimu"

Satu minggu setelahnya
Dia datang merengek minta balikan
"Kita balikan yah" katanya
"Pergilah, aku sudah candu dengan puisiku dan aku tidak membutuhkanmu lagi"

Pantaskah untuk tetap merindu
Sutratenriawaru

Aroma sendu kian menyegat hatiku, pikirku terbang melayang, aku berada dialam bawa sadar ketika memikirkan khayal tentangmu.

Entahlah, mungkinkah aku yang terlalu bodoh, dimana sadarku lebih memilih larut sedalam ini. Tolong.. jangan membuatku terlalu lama menunggu, kau tahu betul menunggu itu amat melelahkan.

Kerinduan semakin membuatku tak berdaya. Sunyi selalu saja bertanya kepadaku" kapan kau bisa meramaikan hatimu?"
Aku tak tau, bahkan jejakmu masih saja menjadi luka yang begitu tak terkendalikan.

Yang paling ku sayangkan adalah mengapa rindu ini selalu saja berpihak kepadaku. Setelah semua serpihan luka merambat di sela-sela luka terkecil yang kau gores, menyembukannyapun bukanlah perkara mudah. Bahkan untuk menyembunyikannya saja aku tak mampu.

Kucoba untuk tetap bangkit,mencoba mengarungi dunia tanpa sapaan hangatmu. Kucoba menjelajahi cakrawala rindu namun sulit, karna bayangmu selalu terlintas dalam tiap bait puisiku, aku ingin mematikanmu di dalam tulisanku, namun kau selalu hidup dalam angan angan indah diksiku,bagaimana coba aku bisa melupamu? Sedangkan khayalmu masih saja jadi pemanis baitku.

Saat itu pun ku mulai sadar, dimana waktu membuatku terpojok di sudut bait, bait rintih yang penuh akan kebimbangan, bukan lagi tentang rindu yang tak berujung. Kini tentang aku yang harus bersitegang dengan perasaanku sendiri, haruskah ku bertahan? Jawabnya tidak, setelah rindu ini ada dan merenggut semuanya. Kini ku tak sekuat aku yang dulu, lalu pantaskah aku untuk tetap merindumu?

"Ku sebut kau NM"
(Sastrarwa)

sore di bulan Oktober kumulai belajar mengeja namamu,
Belajar mengenal sayang, belajar mengenal cinta,
belajar mengenal tentang rasa yang sebelumnya tidak pernah kumiliki

Sore itu juga...
kutitipkan satu harapan pada dirimu, saat senja tersenyum pada dirimu,
Angin pun perlahan menghampirimu, dikala mendegar suara merdu mu,
alam pun menjadi saksi tentang hadirmu di setiap nafas hidupku....

Malam itu juga...
Kau mengajarkanku tentang arti sabar
Sabar saat pikir mu masih abu-abu tentang ku,
Sabar pula mengajarkan ku saat ku yakinkan dirimu tentang hadirku

Hadirmu...
Mengajarkan diriku untuk setia
Setia yang diselimuti rasa cinta
Cinta yang sebenarnyaTDK pernah kupercayai adanya

Kini saat kumengenal dirimu
kepercayaanku tentang cinta semakin ada
Semakin dalam semakin tak bisa ku jelaskan saat kau berada disampingku

Harapku cerita TAKDIR hidup mu sejalan dengan cerita TAKDIR hidupku

Sajak Ini Untukmu, Ku
Sastrarwa

Masih ingatkah engkau tentang candaku kepadamu,
tentang seriusku kepadamu,
sayang yang diselimuti kata CINTA,

Cinta yang tak dapat ku jelaskan sendiri,
Hanya senyum mu yang dapat menjelaskan,
tentang cinta yang ku miliki
saat kau berada disisi ku

Kini kau tak lagi disisi ku
Mata tak lagi dapat melihat mu
Telinga tak lagi mendengar suara merdumu
Bahkan kata di bibirmu tak lagi dapat kurasakan

Kau mengajariku arti setia
Kau mengajariku tentang hal yang lebih penting dari diriku sendiri
Kau sendiri pula menyuruh ku untuk memanjat hujan
agar aku dapat memiliki mu,

Aku sadar, kesadaran ku Tumbuh menjadi dewasa,
Ku terima semua keputusan yang kau berikan,
Sebab aku bercermin dari mu,dari mu yang selalu ada...

Image from google
Kita Sebangsa Tapi Tak Pernah Sejalan

Aku tau kita adalah bangsa Indonesia
Yang kita lakukan adalah sama
Sama-sama membela
Katanya demi keadilan
Memang betul

Bedanya,
Kalian membela penindas
Sementara kami membela yang tertindas.
Kalian hanya membela yang kaya meski salah
Sementara kami membela yang miskin tak bersalah.

Entah siapa yang benar-benar peduli, kalian atau kami
Yang jelas kita adalah bangsa Indonesia
Hanya saja kalian untuk satu golongan
Sementara kami bersama rakyat untuk Indonesia
Kami tidak ingin dipecah apalagi terpecah
Biarkan kami tetap satu, utuh dalam kebersamaan.
Powered by Blogger.