2019 | LORONG KATA
Tweet Share Share Share Share Share

Tuhan, Tuntun Aku Ke SurgaMu

Tuhan,
Dalam doa aku mengadu
Pada sujud aku memohon
Akan nasib yang sengsara

Tuhan,
Aku menyembah penuh keyakinan
Demi sebuah harapan
Bertemu denganMu di surga keabadian

Tuhan,
Banyak waktu telah berlalu
Aku semakin malu
Lantaran hidup semakin pilu

Tuhan,
Hindarkan aku dari dosa
Tuntun aku dalam doa
Agar hidup lebih berguna

Tuhan,
Sebelum aku binasa
Ijinkan aku mencari pahala
Agar kelak mendapatkan surga

Tuhan,
Satu pintaku
Tuntun aku ke surgaMu
Tweet Share Share Share Share Share

IBU
(AP)

Ibu,
Malam ketika itu
Saat adikku lelap dipangkuanmu
Aku dengar cerita tentang perjuanganmu
Tentang pengorbanan merawat dan melahirkanku

Sembilan bulan menjagaku dalam kandunganmu
Membesarkanku dalam pangkuanmu
Mengorbankan waktu hanya untuk merawatku

Ibu,
Terima kasihku untukmu
Untuk semua doa-doamu
Untuk semua pengorbananmu

Ibu,
Maafkan aku,
Aku masih belum bisa membalas semua kebaikanmu
Mewujudkan semua harapanmu
Tapi ibu, percayalah padaku
Aku sangat menyayangimu

Ibu,
Esok ketika Tuhan menjemputku
Aku akan meminta pada Tuhanku
Agar di Jannahnya aku dapat memelukmu ibu
Tweet Share Share Share Share Share

Tuhan, Ajak Aku Pulang Ke rumahMu
(Andika Putra)

Tuhan,
Padamu, aku ingin mengadu
Bercerita tentangku yang rapuh tanpaMu
Di tempat ini aku mulai merasa gagu

Tuhan,
Jiwaku ini milikMu
Bahkan ragaku ini tercipta karenaMu
Bukan hanya aku, semua atas namaMu

Tuhan,
Ajak aku ke rumahMu
Aku ingin bersandar di bahuMu
Aku lelah dengan ulah ciptaanMu
Mereka merusak, menghancurkan, bahkan bumiku

Tuhan,
Aku ingin mengadu
Jagakan bumiku
Jagalah keteduhan hati para saudaraku
Buat mereka saling merindu dan tidak saling menganggu

Tuhan,
Aku takut dengan murkaMu
Karena ulah para pengganggu
Sadarkan mereka dari belenggu nafsu
Negeriku bosan di hancurkan melulu

Tuhan,
Ajak aku pulang ke rumahMu
Ingin kuceritakan ulah-ulah para pengganggu
Tweet Share Share Share Share Share

Tuhan, Selamat Bermalam Minggu
(Andika Putra)

Tuhan,
Malam ini malam minggu
Masihkah kau membiarkanku menunggu
Aku lelah sepiku menyembilu

Tuhan,
Malam ini malam minggu
Haruskah aku sendiri dulu
Nikmati malam dengan gagu
Karena rindu tak juga ketemu

Tuhan,
Malam ini malam minggu
Izinkan aku bermalam minggu tanpa ragu
Bernyanyi dengan sebuah lagu
Agar esok, berjumpa cinta yang baru

Tuhan,
Berjanjilah padaku
Esok pertemukan aku dengan bidadariku
Ingin kuajak ke pasar bermalam minggu
Agar malam mingguku tidak sepi melulu

Tuhan,
Ingat yah pintaku
Esok aku pasti datang pada-Mu
Menagih semua janjimu

Tuhan,
Janji yah, jangan marah padaku
Karena terlalu banyak yang aku minta dari-Mu

Tuhan,
Selamat Bermalam Minggu
Tweet Share Share Share Share Share

Ayah
(Andika Putra)

Fajar telah datang kembali
Sebelum lelahmu kembali pulih
Kau berangkat lagi
Bahkan sebelum kami bangun pagi

Ayah!!!
Kemarin kau bercerita pada kami
Katamu, kau tak pernah merasa lelah
Tapi, Aku tau kemarin kau sedang berbohong

Ayah!!!
Kapan kau akan jujur pada kami?
Bahkan peluhmu tak pernah kering
Dahimu mengisahkan banyak derita

Ayah!!!
Tubuhmu kini terlihat ringkih
Rambutmu memutih berguguran
Dan kau tetap tersenyum dan tegar

Ayah!!!
Bersabarlah
Aku pasti dewasa
Tidak akan kubiarkan kau lebih lelah lagi
Sudah cukup peluhmu yang tertumpah
Beristrahatlah dimasa tuamu
Beri aku kesempatan tuk menggantimu
Tweet Share Share Share Share Share

Sebuah Usaha Melupakan

Tak pernah kusesali setiap akhir dari perjalan kita yang berakhir dengan tragis, hanya saya aku merencanakan sebuah usaha melupakan

Luka masih perlahan ku sembuhkan, tak pernah aku merasakan bahwa luka ini begitu sakit, malah luka ini kujadikan motivasi untuk melupakan.

Aku tak pernah membencimu,sama sekali tidak,meski luka berkali kali kau torehkan didalam hatiku tapi aku masih saja menganggapmu teman terbaik. Hanya saja, aku berusaha melupakan

Ketika kau beranjak pergi dari hidupku aku menerimanya dengan kebaikan,tak pernah sama sekali kuteteskan air mata ketika kau pergi. Hanya saya, aku berusaha untuk melupakan.

Hanya saja aku berusaha tabah,seorang perempuan juga harus kuat meski di jatuhkan berkali kali di caci berkali kali tapi pantang bagiku menangis hanya karna sebuah penghianatan. Hanya saja, aku berusaha melupakan.

Ketika langkah kakimu semakin jauh, aku meyakinkan diriku bahwa jika kelak kau kembali dan ingin memulainya lagi, maka aku akan mengatakan kepadamu setelah kepergianmu aku mencoba memahami kata "sebuah usaha melupakanmu" bukannya tak ingin lagi berteman baik denganmu,namun perempuan juga harus memegang prinsip.

Aku tak pernah dendam sama sekali tidak, karna aku tau dendam hanya membuatku menjadi wanita yang egois, wanita yang tak pandai menahan amarah, hanya saja aku yang dulu bukan lagi yang sekarang karna aku saat ini telah berhasil mengupayakan kata "sebuah usaha melupakan"

Penulis: Sutratenriawaru
Tweet Share Share Share Share Share

Seorang teman pernah bertanya padaku "aku tidak pernah lagi melihat kamu di sosial media. Akunmu sudah dinonaktifkan".

Supri adalah nama sapaannya. Setiap hari waktunya habis terbuang percuma berselancar di media sosial. Selalu saja ada berita yang dia sebar di media sosial. Katanya sih, dia hanya membagikan tautan dari teman-temannya.

Anehnya, berita itu selalu ia sebar tanpa memperhatikan sumber dan kebenaran isinya. Hanya melihat judul dan foto hasil editan sudah cukup membuatnya terpengaruh.

Pernah suatu sore, ia datang padaku dengan raut wajah ketakutan.
"Tadi saya buka media sosial katanya sekarang ada UU ITE!!!" ucapnya
"Iya benar. UU itu menjerat orang-orang yang suka menyebarkan berita bohong" jawabku menakutinya
"Contohnya!!!" tanyanya lagi
"Kamu, seperti kamu yang suka menyebar berita hoax" jawabku lagi
"Hoax itu apa sih?"
"Hoax adalah berita palsu atau berita bohong"
"Aku nggak pernah menyebar berita bohong" jawabnya membela diri
"Berita yang kamu sebar sudah pasti kebenarannya belum? Sudah dibaca baik-baik belum?"
"Hehehe nggak sih"
"Makanya harus tau kebenarannya dulu baru share"
"Hehehe"
"Kalau nggak, kamu bakalan masuk bui. Nih, kamu baca biar ngerti" menjulurkan selembar kertas berisi puisi beberapa bait yang aku tulis semalam suntuk.

Puisi Anti Hoax
(Andika Putra)

Di zaman hoax
Banyak orang mudah percaya
Share sana sini
Menimbulkan huru hara

Sebenarnya siapa kalian sasar?
Fitnah bertebaran tidak karuan
Jangan memancing emosi menjadi buas

Jangan merekayasa kebenaran
Sudah banyak yang menjadi buas
Lalu kau hanya diam
Berhentilah, sudah banyak yang menjadi korban
Tweet Share Share Share Share Share

Tiga tahun silam, saat kau memilih pergi dengannya
Aku mengatai pasanganmu
"Sialan, kau lelaki murahan"
Dia tak menghiraukan lalu beranjak pergi
Batinku lalu menyambut
"Aduh, kasihku dirampok dari genggamanku"
Dia tetap pergi dengan raut wajah yang gembira

Di waktu yang sama, kau tertawa
Telunjukmu mengarah tepat di wajahku
"Kau tidak benar-benar mencintaiku" ucapku
"Jika iya kenapa" jawabmu
"Pergilah sebelum tubuhmu tinggal nama" ucapku yang tidak begitu serius

Satu bulan kemudian, kau datang meminta balikan
"Kenapa? Apa kau ingin mengejekku lagi?" Tanyaku
"Aku menyesal, ternyata dia hanya memanfaatkanku" jawabnya
"Pergilah, kau tidak sesuci namamu lagi"
"Aku belum disentuhnya" jawabnya
"Cintamu yang tak suci dan aku tidak ingin mengotori pelukku" jawabku

Dia tetap merengek
Aku tidak menghiraukannya
Dia kesal lalu pergi
Matanya berkaca-kaca
"Pergilah, tubuhmu tidak lagi kubutuhkan" suara batinku
Tweet Share Share Share Share Share

Malam Minggu Dengan Puisi

Pernah suatu malam
Malam sabtu aku bertanya pada kekasihku
Apakah kamu masih mencintaiku?
Hanya untuk memastikan perasaannya baik-baik saja
Jika iya, katakan masih. Jika tidak, katakan Tidak

Pertanyaan yang sama sebulan setelah kita jadian
Saat kami sedang marahan gara-gara mantan
Pertanyaan yang menimbulkan tanya yang lain
Lalu kenapa kamu jarang memanggilku sayang?

Sontak matanya melotot dan mulutnya menggelembung
Kamu tidak percaya lagi dengan saya? Tanyanya padaku
"Aku masih percaya" jawabku
"Aku ingin kita putus" pintanya
"Kenapa harus malam ini? Ini malam sabtu" jawabku
"Lalu"
"Besok aku malam mingguan dengan siapa?"
"Malam minggu dengan puisimu"
"Kenapa dengan puisi?"
"Karena kau tak pernah punya waktu untuk aku memanggilmu sayang"
"Maafkan aku!"
"Minta maaf dengan puisimu"

Satu minggu setelahnya
Dia datang merengek minta balikan
"Kita balikan yah" katanya
"Pergilah, aku sudah candu dengan puisiku dan aku tidak membutuhkanmu lagi"
Tweet Share Share Share Share Share

Pantaskah untuk tetap merindu
Sutratenriawaru

Aroma sendu kian menyegat hatiku, pikirku terbang melayang, aku berada dialam bawa sadar ketika memikirkan khayal tentangmu.

Entahlah, mungkinkah aku yang terlalu bodoh, dimana sadarku lebih memilih larut sedalam ini. Tolong.. jangan membuatku terlalu lama menunggu, kau tahu betul menunggu itu amat melelahkan.

Kerinduan semakin membuatku tak berdaya. Sunyi selalu saja bertanya kepadaku" kapan kau bisa meramaikan hatimu?"
Aku tak tau, bahkan jejakmu masih saja menjadi luka yang begitu tak terkendalikan.

Yang paling ku sayangkan adalah mengapa rindu ini selalu saja berpihak kepadaku. Setelah semua serpihan luka merambat di sela-sela luka terkecil yang kau gores, menyembukannyapun bukanlah perkara mudah. Bahkan untuk menyembunyikannya saja aku tak mampu.

Kucoba untuk tetap bangkit,mencoba mengarungi dunia tanpa sapaan hangatmu. Kucoba menjelajahi cakrawala rindu namun sulit, karna bayangmu selalu terlintas dalam tiap bait puisiku, aku ingin mematikanmu di dalam tulisanku, namun kau selalu hidup dalam angan angan indah diksiku,bagaimana coba aku bisa melupamu? Sedangkan khayalmu masih saja jadi pemanis baitku.

Saat itu pun ku mulai sadar, dimana waktu membuatku terpojok di sudut bait, bait rintih yang penuh akan kebimbangan, bukan lagi tentang rindu yang tak berujung. Kini tentang aku yang harus bersitegang dengan perasaanku sendiri, haruskah ku bertahan? Jawabnya tidak, setelah rindu ini ada dan merenggut semuanya. Kini ku tak sekuat aku yang dulu, lalu pantaskah aku untuk tetap merindumu?
Tweet Share Share Share Share Share

"Ku sebut kau NM"
(Sastrarwa)

sore di bulan Oktober kumulai belajar mengeja namamu,
Belajar mengenal sayang, belajar mengenal cinta,
belajar mengenal tentang rasa yang sebelumnya tidak pernah kumiliki

Sore itu juga...
kutitipkan satu harapan pada dirimu, saat senja tersenyum pada dirimu,
Angin pun perlahan menghampirimu, dikala mendegar suara merdu mu,
alam pun menjadi saksi tentang hadirmu di setiap nafas hidupku....

Malam itu juga...
Kau mengajarkanku tentang arti sabar
Sabar saat pikir mu masih abu-abu tentang ku,
Sabar pula mengajarkan ku saat ku yakinkan dirimu tentang hadirku

Hadirmu...
Mengajarkan diriku untuk setia
Setia yang diselimuti rasa cinta
Cinta yang sebenarnyaTDK pernah kupercayai adanya

Kini saat kumengenal dirimu
kepercayaanku tentang cinta semakin ada
Semakin dalam semakin tak bisa ku jelaskan saat kau berada disampingku

Harapku cerita TAKDIR hidup mu sejalan dengan cerita TAKDIR hidupku
Tweet Share Share Share Share Share

Sajak Ini Untukmu, Ku
Sastrarwa

Masih ingatkah engkau tentang candaku kepadamu,
tentang seriusku kepadamu,
sayang yang diselimuti kata CINTA,

Cinta yang tak dapat ku jelaskan sendiri,
Hanya senyum mu yang dapat menjelaskan,
tentang cinta yang ku miliki
saat kau berada disisi ku

Kini kau tak lagi disisi ku
Mata tak lagi dapat melihat mu
Telinga tak lagi mendengar suara merdumu
Bahkan kata di bibirmu tak lagi dapat kurasakan

Kau mengajariku arti setia
Kau mengajariku tentang hal yang lebih penting dari diriku sendiri
Kau sendiri pula menyuruh ku untuk memanjat hujan
agar aku dapat memiliki mu,

Aku sadar, kesadaran ku Tumbuh menjadi dewasa,
Ku terima semua keputusan yang kau berikan,
Sebab aku bercermin dari mu,dari mu yang selalu ada...
Tweet Share Share Share Share Share

Image from google
Kita Sebangsa Tapi Tak Pernah Sejalan

Aku tau kita adalah bangsa Indonesia
Yang kita lakukan adalah sama
Sama-sama membela
Katanya demi keadilan
Memang betul

Bedanya,
Kalian membela penindas
Sementara kami membela yang tertindas.
Kalian hanya membela yang kaya meski salah
Sementara kami membela yang miskin tak bersalah.

Entah siapa yang benar-benar peduli, kalian atau kami
Yang jelas kita adalah bangsa Indonesia
Hanya saja kalian untuk satu golongan
Sementara kami bersama rakyat untuk Indonesia
Kami tidak ingin dipecah apalagi terpecah
Biarkan kami tetap satu, utuh dalam kebersamaan.
Powered by Blogger.