2019 | LORONG KATA

Lorong Kata --- Berapa harga sebuah nyawa? Begitupula kamu akan memperlakukannya. Menonton edisi pembunuhan belakangan ini, rasanya harga sebuah nyawa terasa ringan dan tak berharga.

Baru-baru ini, seorang Ayah membunuh lima anaknya. Anak yang berumur mulai dari satu tahun hingga delapan tahun. Ia habisi dengan cara tragis. Satu anak ia hukum hingga pingsan, kemudian meninggal. Sementara 4 lainnya dicekik hingga tewas. Setelahnya dibawa lah mayat itu berkeliling tanpa tujuan selama empat hari di dalam mobil, sampai ketika tiba di pinggiran Alabama, Jones membuangnya.

Di negeri kita, bulan juni juga basah dengan linang air mata keluarga korban-korban pembunuhan. Di Sumatera Utara, hanya karena persoalan asmara, lelaki membunuh wanita dengan sadisnya. Prada Deri Pramana, yang tega memutilasi Fera Oktaria umur 20 tahun di Sungai Lilin Sumatera Selatan. Prada adalah Prajurit TNI ditangkap oleh Kodam II Sriwijaya setelah buron Mei lalu (Detiknews.com 13/06/2019)

Di sumber yang sama, kamis 13 Juni jasad bernama Yuni juga ditemukan dengan kondisi penuh luka dan membusuk di kamar kosnya di Kotabaru Jambi, korban diduga dibunuh oleh seseorang. Di hari yang sama, Nurdin (33) pun membunuh istrinya yang berprofesi sebagai guru SMK di Polman hanya karena cemburu. Kemudian mayat tanpa kepala dan tangan pun hasil pembunuhan juga ditemukan di tepian sungai Aisan Bopeng Ogan Ilir, Sumatera Selatan pekan lalu.

Sungguh, manusia kehilangan rasa. Dan kehilangan arah dalam bertindak. Mengemudikan seluruh anggota tubuhnya berbuat keji. Sejatinya mereka benar-benar alpa dalam mengetahui berharganya nyawa manusia, apalagi mukmin. Atau, jikalaupun mereka tahu bahwa membunuh itu tidak benar, kurangnya keyakinan kokoh akan hari pembalasan mungkin menjadi alasannya.

Tidakkah merintih hati kita melihat manusia saling membunuh layaknya binatang menerkam binatang lainnya? Padahal ada akal yang membedakan dan menuntun pada kemuliaan. Inikah yang dinamakan hilangnya keberkahan sebab tak ada syariat yang dibumikan? Bila agama menjadi panduan, yang ajarannya menurunkan berkah, sudah tentu celaka seperti ini tidak ditemukan.

Mari berpikir sejenak, Islam adalah satu-satunya agama yang memberikan penghargaan amat tinggi pada darah dan jiwa manusia. Allah SWT menetapkan pembunuhan satu nyawa tak berdosa sama dengan menghilangkan nyawa seluruh umat manusia. Keyakinan yang kokoh akan perkataan Sang Khaliq tentu menuntun manusia mematuhi aturan hidup yang diturunkan, termasuk larangan membunuh orang tak bersalah.

Kemudian, Betapa Islam hadir dengan seperangkat aturan yang adil. untuk kasus ini, Qishas pun menjadi solusi yang Allah hadirkan untuk menjaga sebuah mekanisme kehidupan. Allah berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 179 yang artinya, “Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.”

Qishas yakni hukuman mati, mengapa bisa disebut terdapat kehidupan? Hal ini ditinjau dari efeknya, yaitu apabila hukum qishas ditegakkan, manusia terhalangi dari melakukan pembunuhan terhadap manusia lain. dengan demikian kelangsungan hidup manusia akan tetap terjaga, atau menimbulkan efek jera.

Imam Qatadah rahimallah berkata yang artinya, “Allah menetapkan hukum qishash (hukuman mati) itu pada hakekatnya adalah kehidupan, peringatan dan nasihat. Karena, ketika orang dzhalim yang memiliki niat jahat meningat qishas (Sebagai hukumannya nanti) ia akan menahan diri untuk membunuh.” (Fathul Qadir, 1/228)

Namun saat ini, hukum seperti apa yang justru kita hadirkan. Memenjarakan, sayangnya efek jera tak terlihat banyak, justru semakin menjadi-jadi. Tak percayakah pada hukum yang ditawarkan sang Pencipta? Bukankah mayoritas penduduk negeri ini muslim? Sejatinya kita sedang tidak berusaha menjadi orang-orang yang seperti mengadakan perbaikan namun sejatinya merusak bukan?

Sebenarnya, kepercayaan akan hukum Allah yang adil mungkin telah terkikis dengan debu-debu Islamophobia yang berkembang. Memandang ajaran Islam sebelah mata. Hanya cocok untuk beribadah dengan Pencipta, namun tidak untuk mengatur ruang sosial, Semoga kita tidak lupa pada fakta sejarah yang mengabarkan penerapan Islam oleh sebuah Institusi Negara. Dimana hukum-hukum Allah yang adil digunakan untuk mengatur manusia yang serba lemah. Dalam bingkai Khilafah, seorang Khalifah terlalu peduli urusan ummatnya, apalagi persoalan nyawa.

Satu perempuan saja yang berteriak karena bajunya disingkap tentara romawi, Khalifah mengirim pasukan yang mengejutkan, apalagi ketika muslimah itu dilecehkan hingga dibunuh. Pemimpin seperti Khalifahlah yang akan maju terdepan menumpasnya. Kita tentu tidak ingin bermimpi bukan pada pemimpin yang justru mesra pada petinggi-petinggi yang di belakangnya telah banyak menganiaya kaum muslim?

Bukankah Rasulullah bersabda: Seorang muslim adalah saudara Muslim yang lain. Janganlah menganiaya dan jangan menyerahkan dia kepada musuh. (HR al-Bukhari).

Harga nyawa akan sangat terasa berarti bila pemimpin memberikan gambaran utuh bagaimana seharusnya menegakkan keadilan, bagaimana menegakkan hukum, dan hukum tertinggi adalah milik Allah yang sempurna. Sebab manusia tempatnya lemah dan salah. Penuh kubangan ego dan nafsu yang sewaktu-waktu ingin dipenuhi meski melayangkan nyawa-nyawa tak bersalah. Di dalam bingkai Khilafah dan seluruh elemen yang kokoh bertakwa, takut pada pencipta dan mengenal esensi kehidupan, pastilah akan menemui keberkahan, bukan kesempitan seperti hari ini.

Penulis: Arinda Nurul Widyaningrum (Sekretaris Umum FLP Ranting UIN Alauddin Makassar dan Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris)

Cinta Bukan Batasan
Sutra Tenri Awaru

Cinta itu bukan batasan, sebab cinta adalah hak semua orang.
Cinta itu tidak memiliki aturan, sebab cinta telah diatur sebagai keadilan.
Cinta adalah satu kata yang memiliki banyak arti, sebab cinta adalah kehidupan dan hidup orang berbeda.

Cinta tak memandang cacat atau sempurnamu, karna cinta bukanlah dia yang terlihat.
Cinta tak memandang kulit hitam atau putihmu, karna cinta bukanlah dia yang tersentuh.
Cinta tidak memandang gemuk atau kurusmu, sebab cinta bukanlah bagian dari tubuh.

Cinta adalah rasa yang mampu membuat kita tersenyum yang hadirkan bahagia di setiap sorot mata pasangan,
Cinta begitu khidmat mampu merangsang jiwa untuk melakukan kebahagiaan.

Cinta itu sakral
Tidak pantas diucapkan bagi mereka yang tidak tahu makna dari cinta yang sesungguhnya, dan cinta bukanlah kata melainkan perasaan yang diungkapkan dengan kebaikan dan kebahagiaan

Senandung Masa Lajang
Arya Sarimata

Teruntuk kekasih di masa depan
Yang selalu ku damba dalam ingatan
Yang selalu ku bawa dalam bait doa
Pun selalu ku kenang dalam rindu yang dalam

Hari-hari ku lalui tanpamu di sekitar
Tanya pun semakin banyak menyerang
Seringkali ia meninggalkan luka
Dimana dirimu berada?

Kita memang belum bersama dalam kenyataan
Hadirmu selalu saja dalam angan
Cintaku pun hanya sebatas diam
Ku simpan kalau kita berjumpa

Mungkin belum waktunya kita dipertemukan sekarang
Bahkan esok, lusa atau tahun-tahun mendatang
Tapi tak 'kan pernah ku kehilangan harapan
Bahwa kita 'kan bersatu di waktu yang tepat

Bersabarlah diri
Bersabarlah kekasih
Tuhan sedang sedang membuat kita tahan banting
Agar nanti cinta kita tak berakhir sementara
Tapi, selamanya

Sepakat Uang Khianat
Sutra Tenri Awaru

Gulita malam menawarkan keheningan
Mendorongku menuju pintu kerinduan
Mencoba mengulas beberapa kenangan

Meneguk selautan harapan
Yang dulu pernah jadi ketetapan
Walau perih menjadi santapan

Ku tak bisa lari dari kenyataan
Karena ini adalah titipan
Jadi semua ini harus kujalankan

Tak ada yang bisa ku lakukan
Karena Tuhan telah menentukan
Dengan atau tanpamu aku harus ke masa depan

Takkan bisa ku menentukan
Pada sesuatu yang ku jadikan pilihan
Karena semua ini sudah di takdirkan

Pada skenario terbaik perihal ketetapan
Sebelum anganku menjadi angin
Maka berlarilah aku kedalam rencana dari sebuah pilihan

Lorong Kata --- Di zaman ini, trend game meningkat. Mulai dari anak kecil, remaja tanggung hingga orang dewasa ketagihan. Mulai dari profesi yang sibuk seperti orang kantoran, hingga pengangguran, memiliki kesempatan yang sama bermain game di handponenya. Kemudahan akses memfasilitasi semua untuk bisa mencoba.

Tak heran apabila jumlah penikmat membludak di setiap tahun. Decision Lab dan Mobile Marketing Association (MMA) yang melakukan studi terkait gim di Indonesia menyebutkan, jumlah gamer mobile di Tanah Air mencapai 60 juta. Jumlah Tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 100 juta pada 2020 (tek.id 17/10/18)

Namun peningkatan akan jumlah penikmat game ini membawa dua dampak yang berbeda. Di satu sisi menghembuskan angin segar pada kaum kapital, namun menjadi badai topan untuk beberapa kalangan seperti para orang tua yang merasa khawatir akan gelombang kecanduan.

Terkhusus untuk para pemilik modal, tentu ini peluang besar. Disampaikan oleh Joddy Hernady selaku EVP Digital & Next Business Telkom Industri game memiliki tingkat pendapatan yang paling tinggi dibandingkan jenis hiburan lainnya.

Tentu ini membuat perusahaan game berbondong-bondong terus bersaing dan melejitkan potensi bisnis di sector ini, tak terkecuali menyasar Negara penikmat yang besar seperti Indonesia.

Mengapa Indonesia juga termasuk sasaran? Sebab Indonesia benar-benar memiliki minat tinggi dalam hal presentase bermain game online seperti Mobile Legend. Buktinya, Kompetisi Mobile Legends South East Asia Cup (MSC) 2017 digelar di Indonesia pada pertengahan tahun 2017 lalu. menurut Mobile Legend saat itu Indonesia dipilih lantaran memiliki 3,5 juta pemain aktif harian. Ini angka tertinggi dibandingkan Negara lain seperti Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

Di samping itu, populasi penduduk Indonesia yang hampir mencapai 260 juta, menjadi nilai surplus bagi siapapun yang berbisnis di sini. Secara Industri, potensi bisnis game di Indonesia jauh lebih hijau dibandingkan Negara lain di kawasan Asia Tenggara karena pertumbuhannya yang cepat. (dailysocial.id 18/12/2017)

Hal ini semakin diperkuat dengan dukungan pemerintah. Saat tahun 2015 lalu, Badan Kreatif bentukan Presiden Joko Widodo pernah menyinggung soal indutsri game Indonesia. Kini Badan Ekonomi Kreatif memasukkan produksi game dalam rencana kerja. Sebagai Asosiasi yang mewadahi para developer game, tentu Asosiasi Game Indonesia (AGI) membutuhkan peran pemerintah untuk memajukan industry game.

Namun sayang, semua angin segar itu rupanya tidak memberikan efek positif secara keseluruhan pada masyarakat. Justru tersebar banyak petaka di setiap tahunnya. kita tidak pernah bisa lupa pada kejadian-kejadian mengerikan lantaran kehadiran permainan game online. Saat 10 Anak Banyumas yang alami gangguan mental akibat kecanduan game online, empat remaja Grogol yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa, Mhary wanita di Manado yang terkena stroke lantaran keranjingan game online, sampai kasus bunuh diri lainnya.

Betapa berbahaya, sampai WHO resmi menetapkan kecanduan game sebagai gangguan mental. sebenarnya, apa motif urgensi dibalik penetapan status kecanduan game yang dilakukan WHO ini? tentu karena pengindraan mereka terhadap gejala gamer yang semakin parah, bukan? Anak-anak keranjingan bermain game hingga berani mencuri uang orang tua, mirip seperti kecanduan narkoba. Berani meregang nyawa, bahkan menghabisi nyawa orang.

Lalu,tak kalah hebohnya, baru-baru ini seorang gadis asal Pontianak, berinisial YS (26) Diamankan aparat kepolisian dari Polda Metro Jaya karena membobol Bank hingga Rp 1,85 miliar. Dana sebanyak itu, digunakannya untuk bermain game online, Mobile Legends (Viva.co.id)

Rusak sudah tataran sendi kehidupan sosial, pribadi kita. Sistem pemerintahan yang memberi ruang kebebasan untuk berekspresi tak mengindahkan efek-efek negatif nya.

Bagaimana bisa sesuatu yang membahayakan generasi masih terus dikembangkan keberadaannya. Perkembangan game memang memberi dampak ekonomi yang baik bagi sebagian kalangan, namun jangan lupakan berderet kasus mengerikan menimpa anak negeri.

Beginilah jika paradigma berpikir yang terinstal hanyalah materi belaka. Memandang segalanya berdasarkan untung rugi. Meski game online sudah terbukti lebih dari sekedar permainan biasa, namun menyelipkan efek adiktif, tetap saja proses penanganan dari pemerintah terkesan lamban untuk meraih keputusan.

Di Nepal, permainan game PUBG resmi dilarang. Karena memberikan dampak buruk bagi anak-anak dan remaja, bisa membuat kecanduan dan efek buruk pada pemikiran. (Kompas.com 12/04/2019)

China juga telah mengumumkan aturan baru yang membatasi jumlah game yang dapat dimainkan, dan membatasi penerbitan game baru, serta membatasi umur warga Negara yang boleh bermain game online. Selain itu, Negara bagian Gujarat India dimana tempat puluhan orang ditangkap karena bermain permainan tersebut, PUBG atau game online juga sudah dilarang.

Dari sana kita belajar bahwa institusi pemerintahan memegang peranan besar untuk meredam kejahatan, yaitu dengan menetapkan Kebijakan-kebijakan yang mengandung maslahat.

Tetapi, Semua itu hanya bisa dijalankan ketika pemerintah memiliki pandangan hidup yang berorientasi pada kemaslahatan ummat, termasuk dalam memilah sarana hiburan yang tepat. Apakah semakin mendekatkan pada pencipta? Atau malah mengundang bahaya? Jika pemerintahan tidak berupaya menghadirkan ruh ibadah dalam ruang sosial, maka sulit menemukan kebaikan.

Islam datang dengan pemikiran yang beda dan kokoh. Yang menjelaskan bahwa segala diupayakan dalam hidup untuk mendekat pada pencipta semata. Termasuk sarana hiburan. Bukan malah menjauhkan dari naluri beragamanya dan melupakan esensi dan tujuan hidupnya. Karena semua hanya akan bermuara pada kehancuran. Inilah yang mengundang kebaikan terus tercurahkan di tengah tengah masyarakat.

Wallahualam.

Penulis: Arinda Nurul Widyaningrum (Sekretaris Umum FLP Ranting UIN Alauddin Makassar dan Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris)

Lorong Kata --- Diskursus pilpres 2019 saat sekarang kian memuncak. Bagaimana tidak, perhelatan pilpres baik sebelum dan sesudah pemilihan sama-sama membuat jidat mengkerut. Pemberitaan kecurangan pun muntah dimana-mana. Seperti kasus kematian Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang menelan banyak korban pun membuat salah satu dokter syaraf Ani Hasibuan geram. Tapi, dengan geramnya beliau, ia diterpa kasus hukum dugaan ‘ujaran kebencian’. Berkaitan dengan ucapan Mba Ani beberapa waktu lalu mengenai tudingan senyawa kimia pemusna massal penyebab meninggalnya petugas KPPS.

Pendapat lain seperti kelelahan pun membuat jagat maya bertanya-tanya. Benarkah faktor kelelahan membuat seseorang bisa meninggal dunia? Penulis yang sekarang sudah semester delapan dengan Jurusan Biologi, Jurusan yang terkenal kesebukannya (praktikum, asistensi, laporan, hafal nama latin dan lain-lain) dan sekarang sudah bimbingan skripsi tidak membuat orang mengalami, maaf ya ‘kematian’. Kalaupun ada, mungkin hanya beberapa. Tapi, jikalau jumlahnya ratusan, ada apa? Jawab sendiri ya. (Takutnya dikriminalisasi hehehe… jadi penulis itu serba tanggung. Tanggungnya apa, jika ada permasalahan dan ditanggapi di cap menyebarkan ujaran kebencian (melanggar ITE), tidak ditanggapi dibilangnya apatis! Serba salah kan, kenapa jadi curhat yah).

Baru-baru ini masyarakat Indonesia mengalami musibah massal yaitu pembatasan akses media sosial yang berlangsung selama tiga hari. Hal ini karena mencegah penyebaran hoax lewat media sosial pasca penetapan pasangan peresiden dan wakil peresiden. Aksi 21-22 Mei yang kerap disebut dengan ‘people power’ berakhir rusuh sampai menelan korban. Aksi ini setidaknya menjadi alarm pengingat ekspresi politik tersumbat. Perlu ada perombakan lembaga hukum membaca situasi ini, jika terus berlanjut jangan sampai hal buruk menimpa Negeri Pertiwi ini.

Kita kembali ke fokus utama mengenai giringan isu khilafah yang akhir-akhir ini santer jadi perbincangan publik. Seperti yang dilansir dari media nasional viva.co.id 16/5/2019 Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyebutkan sejumlah ancaman yang menggangu kesatuan dan persatuan bangsa. Salah satunya kelompok khilafah yang disebut sebagai pembonceng dalam perhelatan pemilu 2019 pungkasnya di Grand Paragon, Jakarta (16/5).

Ada yang menarik dari frasa atau pernyataan di atas yaitu kata ‘pembonceng’ berarti dia yang menunggangi dan dia yang mengontrol jalannya motor. Jadi, yang dibonceng ikut-ikut saja. Jika si pembonceng ini mengarahkan motornya ke jurang maka si yang dibonceng juka akan ikut ke jurang kalau begitu. Maka, jika khilafah menjadi pembonceng dalam perhelatan pemilu, artinya khilafah punya kedaulatan untuk mengontrol jalannya pemerintahan?

Penulis sebenarnya bertanya-tanya? kenapa setiap ada permasalahan yang menimpa negeri ini seolah-olah ‘khilafah’ yang jadi dalang (sutradara) yang mengatur jalannya sebuah film drama kehidupan. Apa-apa khilafah, dikit-dikit khilafah, ditunggangilah, jadi pemboncenglah dan lain-lain. Kalah dan menang gara-gara ‘khilafah’. Hebat yah si khilafah itu, padahal kan ia hanya ide.

Ada apa dengan ide ‘khilafah’ seakan-akan ide ini bagai ‘momok mematikan’ bagi kalangan tertentu. Sampai-sampai dibuatkan delik berbagai masalah untuk menghadangnya agar ide ini tidak menyebar kemana-mana. Banyak yang beranggapan kemungkinan khilafah berdiri relatif lebih kecil. Sebab, kelompok Muslim tradisional, modernis, dan sekularis masih mendominasi kelompok Islam sekarang. Ini benar, relatif kecil berarti ada kemungkinan tegak artinya ada ruang untuk tegak.

Magedah . E.Shabo dalam bukunya yang berjudul ‘Techniques of Propaganda and Persuasion’ menjelaskan bahwa propaganda bisa dilakukan dengan cara mentransfer citra suatu simbol, kelompok, individu atau benda terhadap lawan. Teknik propaganda transfer biasa digunakan dalam strategi pemasaran dan iklan. Jika diamati dengan Teori identitas sosial dari Hendri Tajfel dan John C. Turner, konotasi negatif ini bisa saja melebarkan batasan sosial antar kelompok. Jadi, seakan ada penggiringan opini negatif mengenai khilafah seperti yang dijelaskan di atas mensusupi simbol negatif menjatuhkan lawan.

Kalau ide khilafah itu utopis, kenapa ditakuti? Seharusnya orang-orang tidak perlu takut, kan hanya utopis iya kan. Tapi mengapa, masih saja ada segerombolan orang yang terlalu sibuk mengkambinghitamkan para pejuang khilafah.

Saat ini orang sudah terbiasa menggunakan kata khilafah. Meskipun ada yang memaknai sebagai ancaman yang menakutkan. Tapi, penulis melihat ada juga yang paham bahwa khilafah adalah satu-satunya institusi negara yang mampu menegakkan syariat Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Jika kita membaca sejarah Islam sebenarnya apa yang salah dengan ide (sistem) ini. Faktanya sistem khilafah mampu menjadi mercusuar peradaban dunia dikala peradaban Eropa yang saat itu sedang dalam kondisi gelap gulita (terbelakang). Seluruh umat manusia saat itu sejahtera, aman, dan mampu bersatu. Padahal disitu terdapat berbagai macam agama, bahasa, suku hingga perbedaan warna kulit. Berarti, teriakan Islam anti-kebihnekaan ini terbantahkan, sebab fakta telah membuktikannya (jangan sampai, hanya full teori tapi nol (setengah) aplikasi (kan jadi pincang)). Mari sama-sama mengkaji khilafah dengan pemikiran jernih.

Penulis: Ika Rini Puspita, Mahasiswi Jurusan Biologi Fakultas Sains Dan Teknologi UIN Alauddin Makassar. Bergabung di organisasi FLP (Forum Lingkar Pena)


Lorong Kata --- Hal yang paling membuat saya sesak ialah ketika para teman teman pada ngajak “Ke Perpus yok, mumpung dosen belum datang, mumpung dosen tidak masuk, mumpung cepat pulang, mumpung, mumpung, dan mumpung”. Mau nolak? Nggak enak, nanti dibilang malas untuk kesekian kalinya, tapi kalau saya ngikut bagai hewan kembala ya malah jadi risau, masalahnya nggak tahu mau ngapain disana? Buku buku pada jadi hantu di mataku, belum lagi kalau para pembaca tidak menata buku dengan baik, “achhh” Ingin rasanya saya mendorong rak buku itu sampe roboh.

Entah mengapa Perpustakaan adalah tempat yang sangat menyeramkan menurutku, belum lagi kalau teman-teman pada ngajak ke rak buku yang bukunya setebal kardus indomie, sumpah! Serasa ingin pingsang ditempat itu juga.

Namun, kebiasaan buruk ini tentu tidak kudiamkan begitu saja. Saya kadang merenung dan merasa bingung dengan apa yang terjadi dengan diri saya sebenarnya? Apa karena saya tidak suka membaca? atau saya malah terkena bibliophobia, yakni orang yang takut dengan buku? Kalau dikatakan takut, tidak juga.

Hingga suatu ketika saya pun mengadukan kebiasaan burukku ini pada salah satu senior yang sekaligus satu organisasi denganku. Karena merasa kasihan dan tak ingin melihat saya terus berada dalam kegundahan akan ketiadaan minat membaca akhirnya diapun membawaku ke Perpustakaan. Sumpah! Aku tidak ingin ikut. Namun katanya, ajakan dia kali ini bakal menghipnotis diriku yang keesokannya bakal mencintai perpustakaan seutuhnya, layaknya mencintai seorang kekasih bahkan lebih.

Baik, saya mengikutinya dari belakang sambil melewati rak demi rak buku begitu pula dengan berpindah dari lantai satu ke lantai dua sampai pada akhirnya di lantai empat perpustakaan. Namun mengapa, di dalam hatiku malah bertiup bisikan halus.

“Ngapain coba saya ngikut, tetap saja saya bosan berada di tempat yang seperti ini, belum lagi kalau lihat mahasiswa mahasiswi lainnya yang pada nunduk baca. Serius banget hidup mereka, kayak memikul beban beberapa ton saja, coba kek sekali kali senyum sama tuh buku, ehh itu malah pada cemberut dan tegang semua”.

Tiba-tiba senior saya pun datang sambil memperlihatkanku satu buku dengan sampul orangeNih, kamu sangat suka mendengar kisah bunda Khadijah kan? Dengan buku ini, kau akan jauh lebih tahu lagi tentang tokoh idolamu itu. coba saja baca”

Senyumnya seketika melabrak pandanganku yang dari tadi ngeyel. “Setebal ini?” Tanyaku sambil memandangi buku yang berada di tangannya tersebut yang tebalnya sekitaran 6 cm. Dia hanya mengangguk kemudian mengajakku ke tempat peminjaman buku, pikiranku serasa loyo, Lagian kalau saya mau tahu kisah Bunda Khadijah, saya bisa dengar ceritanya di Youtube kali, nggak usah pinjam buku dan baca tuh sederet kata kata yang ada di dalam buku situ. Belum lagi kertasnya yang udah kusam bahkan sampul belakangnya udah sobek, “achh” kayak bisa disimpan tuh buku di museum saking tuanya.

Hingga suatu ketika, karena nggak ada tugas dan nggak ada percakapan menarik di media sosial, yaa buku yang senior pinjamkan di Perpus kayaknya memberi saya kode untuk bersahabat dengannya. Awalnya saya merasa gengsi untuk buka dan baca, tapi kayaknya bisalah ngisi waktu daripada tidur mulu. Saya nggak perlu baca mulai dari halaman awalnya, langsung aja dihalaman tengahnya yang pas ketika Bunda Khadijah dan Nabi Muhammad bertemu, yaa setelah ngikuti sederet kata demi kata dan kalimat demi kalimat hmm.. Menarik juga nih buku. Ternyata kekusaman kertas dan sedikit sobek pada sampul bekalangnya sempat menipu diriku.

Dua minggu pun berlalu, seniorku yang rupanya sedang ada di kampung mengirimkanku pesan lewat Whats’app agar mengembalikan buku tersebut karena sudah jatuh tempo katanya. “What, jatuh tempo? Kayak minjam uang koperasi aja”.

Akhirnya pas pulang kuliah langsung singgah ke Perpustakaan tanpa harus membawa apa-apa selain buku. Lagian bukunya sudah selesai saya baca, jadi langsung simpan saja di Rak buku dan cuss pulang. Namun sesampainya di Kost, seniorku malah nelfon “Ingat, ambil kartu perpustakaanku kalau bukunya dikembalikan”.

Pikiranku kosong seketika, kenapa ada kartu perpustakaan coba? Setelah kujelaskan kalau bukunya kusimpan begitu saja, suaranya malah nyingir bagai kuda dalam telfon. “Kenapa kau simpan begitu saja? memangnya kamu nggak biasa minjam atau lihat temanmu kek, kamu harusnya ke tempat pengembalian, kemudian bilang ini buku adalah pinjaman atas nama nurwalidah, bla bla bla bla bla... Pokoknya kamu harus ke Perpustakaan dan cari tuh buku kemudian ke tempat pengembalian”

Busyet, mana coba saya perhatikan teman teman kalau lagi minjam dan kembalikan buku? kayak saya suka aja ke tempat itu, tapi harus bagaimana lagi? Dari pada kena marah dan punya masalah? Dasar tuh perpus betul betul membuat Kyubi saya pengen keluar.

Kembali ke tempat yang selama ini saya nggak suka, saya memandanginya baik baik dari luar dan melihat mahasiswa satu persatu keluar masuk. “Bagaimana kalau bukunya sudah nggak ada disana? Mampus nih. Hmmm, kayak serasa pengen beli minyak tanah 1 drum lalu saya bakar tempat ini, sumpah menyusahkan”.

Saya pun masuk, melewati rak demi rak dan mencoba mengingat ingat kalau bukunya saya simpan dimana, dan rupanya? Alhamdulillah, buku tuh masih keadaan utuh ditempat yang semula, lagian siapa coba yang minat baca buku setua ini selain saya? Tak perlu berlama-lama, saya pun ketempat pengembalian sambil nyebut nama senior. Namun rupanya, diluar dugaan.

“Denda 20ribu dek”

Dahiku mengkerut, dimana saya nggak bawa uang lagi dan mana saya tahu coba kalau ada sistem denda dendaan. Lagian nih orang ikhlas nggak sih minjamin buku?

“Uangnya mana?”

Mana nggak sabaran lagi, kayak kepengen nabok aja nih pegawai perpus!

“Tunggu kak, saya pulang ambil uang dulu soalnya saya nggak tahu kalau ada sistem denda dendaan-nya”

Pegawainya cuman senyum dimana senyum nya agak kecut dikit dan sedikit pahit. Kulihat tangan si pegawai perpus itu yang halusnya kayak buku kucing simpan tuh buku dekat monitor. Sumpah, hari ini adalah terakhir saya ke tempat ini dan sampai wisuda saya nggak bakalan ke tempat ini lagi bahkan sampai Pak Rektor bersujud di kaki saya, yakin saya nggak akan nolak siapa coba mau nolak permintaan pak Rektor? Memangnya nggak mau diwisuda? Lagian saya siapa sampe sampe tuh Pak Rektor mau sujud di kaki Saya cuman mohon agar saya mau ke Perpus? Kayak anaknya Albert Enstein aja yang hilang pas masih kecil.

Dan dari pengalaman ini, saya berkesimpulan bahwa ternyata! Untuk mencintai apapun itu rupanya kita tak pernah lepas dari sebuah ujian. Baru juga mulai suka membaca, eh malah diuji dengan sistem denda. Namun apakah hal ini akan membuatku kembali membenci buku dan tidak bakalan suka dengan membaca? Jelas tidak, saya akan menabung agar bisa membeli perpustakaan yang besarnya mengalahkan perpustakaan Kampus, dan buku bukunya bakalahan ngalahin tuh banyaknya buku-buku perpustakaan. Kenapa? Supaya kalau pegawai perpus yang pernah mendenda saya datang untuk minjam di perpus milik saya, sumpah deh bakalah saya kasih buku sekarung dan bilang sama dia

“Ambil aja nih buku, nggak usah dikembalikan karena perpus saya nggak pake sistem denda dendaan”

#Sakit hati

Penulis: Nonna, Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Alauddin Makassar yang saat ini bergabung di organisasi FLP (Forum Lingkar Pena).

Lorong Kata --- Nasionalisme sejatinya adalah sebuah komitmen sikap untuk mencintai tanah air yang lahir dari proses penggalihan sejarah nyata sebuah negeri dengan penuh kesadaran. Sebuah kecintaan yang lahir hanya karena reproduksi rasa dari generasi sebelumnya tanpa melakukan pembuktian secara sadar maka kecintaan itu akan condong mengarah kepada apa yang dibahasakan beberapa orang sebagai bentuk fanatisme palsu, sebuah bentuk kepercayaan yang terlalu kuat terhadap suatu perkara namun tidak disertai dengan pengetahuan lebih akan hal tersebut. Bukankah sebuah bentuk kekeliruan jika melakukan sesuatu tapi tidak terdapat pengetahuan di dalamnya? Mari kita sama-sama mempertanyakan hal demikian pada diri sendiri. Efek domino dari paham tersebut adalah melahirkan generasi yang ‘udik sejarah’ yang tentunya dibarengi dengan bentuk kecintaan berdasarkan kesadaran palsu (August Hans den Boef & Kees Snoek, 2008).

Pada paruh pertama abad ke-20, salah satu peristiwa penting terjadi yakni berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Organisasi Boedi Oetomo yang artinya ‘Usaha Mulia’ tidak serta merta lahir begitu saja tapi melalui proses yang terbilang panjang, pada tahun 1906 Mas Ngabehi Wahidin Sudirohusodo melakukan perjalanan spiritual dari daerah ke daerah melakukan kampanye untuk menghimpun dana untuk pelajar di kalangan priyayi di pulau Jawa dengan tujuan untuk meningkatkan martabat rakyat dan membantu para pelajar yang kekurangan dana untuk bersekolah. Ada beberapa tujuan didirikannya organisasi Boedi Uetomo yakni Memajukan pendidikan, pengajaran; Memajukan pertanian, peternakan dan perdagangan; Memajukan teknik industri; dan Menghidupkan kembali kebudayaan.

Organisasi ini merupakan tonggak pergerakan nasional seperti yang disampaikan oleh Soekarno pada pidatonya saat peringatan pertama organisasi Boedi Oetomo atau kita dengan peringatan hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), 20 Mei 1948 di Yogyakarta. Beberapa tokoh pendiri Boedi Oetomo harus mendekam di penjara pemerintah Hindia Belanda akibat artikel yang ditulis oleh Ki Hajar Dewantara “Seandainya Saya Seorang Belanda” yang berisi tentang sindiran yang sangat pedas terhadap Belanda. Artikel itu sebagai bentuk kemarahannya ketika pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui pejabat pangreh praja pribumi sehingga Ki Hajar Dewantara diseret masuk penjara beserta dua temannya yang lain yakni Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo. Ki Hajar Dewantara dan Dr. Tjipto Mangunkusumo dihukum dan diasingkan ke negeri Belanda, di sana Ki Hajar Dewantara justru belajar imu pendidikan sementara Tjipto dipulangkan ke Hindia Belanda karena sakit.

Para pemuda sebagai pewaris peradaban di negeri ini dituntut memiliki kecerdasan emosional, intelektual dan spiritual untuk tetap menjaga keutuhan bangsa dan negeri ini. Kecerdasan emosional, intelektual dan spiritual tentunya mampu diasah dan diolah di institusi yang berjargon “Sarana pencerdasan kehidupan bangsa” yakni pendidikan, seperti salah satu tujuan dari berdirinya organisasi Boedi Oetomo yaitu memajukan pendidikan dan atau pengajaran dan seperti filosofi pendidikan, Memanusiakan Manusia, yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara yang dijuluki Bapak Pendidikan Indonesia sekaligus salah satu tokoh yang mempelopori kebangkitan nasional.

Pendidikan di Indonesia dewasa ini banyak kalangan yang mengabarkan bahwa sedang berada dalam ‘kondisi tidak baik-baik saja’. Lantas apakah hal demikian benar? Hal tersebut sekiranya bisa terjawab jika kita mencoba menemukan ideologi pendidikan Indonesia. Apakah ideologi pendidikan di Indonesia adalah ideologi kapitalisme atau ideologi pancasila?

Dalam pembukaan UUD 1945, “...negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, “. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa merupakan tujuan pendidikan nasional, dan jika itu diterapkan sebagaimana mestinya di realitas pendidikan hari ini maka pendidikan akan menjadi dasar untuk “...melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Maka sampai di sini, ideologi pendidikan kita di Indonesia sudah sangat jelas dan tentunya bukanlah Kapitalisme yang menjadi ideologi pendidikan kita. Dan jika hal demikian tidak tergambar pada wajah pendidikan hari ini maka wajar saja jika banyak kalangan yang beranggapan bahwa ‘kondisi pendidikan sedang tidak baik-baik saja’.

Pramoedya Ananta Toer pernah mengutarakan “Seperti menulis di pasir”, sebuah kalimat yang mengawakili kekesalannya kala buku-bukunya disita oleh rezim yang berkuasa saat itu sehingga jumlah peredaran buku-bukunya di Indonesia sangat sedikit (Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir, Hal.102). “Seperti menulis di pasir” layaknya gambaran pendidikan hari ini yang jauh hari memiliki konsep ideal yang termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945 namun kini konsep tersebut tidak terlalu diindahkan baik dari segi aturan maupun implementasinya. Harapan terbesar, hakikat pendidikan mampu dikembalikan ke arah sebagaimana mestinya karena salah satu semangat Kebangkitan Nasional adalah memajukan pendidikan dan pendidikan merupakan bentuk terkecil daripada jiwa nasionalisme untuk memperbaiki negeri ini ke depannya.

Selamat Memperingati Hari Kebangkitan Nasional!

Penulis: Askar Nur (Mahasiswa jurusan Bahasa & Sastra Inggris Fakultas Adab & Humaniora UIN Alauddin Makassar. Merupakan Presiden Mahasiswa DEMA UIN Alauddin Makassar Periode 2018)

Lorong Kata --- Silahkan melangkahkan kaki jika itu kebaikan, silahkan tak menepati janji demi sebuah panggilan kemanusian, silahkan kau berkhianat dengan rasa. Tak mengapa, aku tidak masalah.

Biarpun orang-orang mengatakan bahwa kau bukan sosok yang romanti. Tapi, bagiku kau romantis hal yang romantis dari dirimu saat kau memegang toa dan meneriakkan keadilan.

Itu lebih cukup dari romantis, sayang kata mereka kau adalah tipe lelaki yang anarkis tapi, aku membantahnya karena anarkis bukan kejahatan dan kau pun bukan penjahat.

Kata mereka, kita tak cukup waktu untuk bertemu tapi itu tak masalah asal kau selalu turun kejalanan dan menyampaikan aspirasimu itu sudah lebih dari cukup untuk perjumpaan kita

Sayang! Jika mereka membencimu karena mereka menganggap anarkis adalah kejahatan, maka jangan bersedih, karena aku masih ada untukmu dan selalu ada.

Sayang! Jika mereka menjauhimu karena teori dan logikamu jangan marah karena aku orang pertama yang akan selalu menghargai tiap pokok pemikiranmu tentang rumusan keadilan.

Sayang! Tetaplah menjadi demonstran jikapun kau mati karena tertembak, tak apa, peluru mereka tak sakit yang sakit itu ketika kau biarkan ketidakadilan tidak ditegakkan.

Sayang! Aku bangga padamu, aku bangga meskipun mereka mengatakan bahwa demonstran adalah kejahatan tapi bagiku kau adalah pejuang.

Tapi, aku terkadang takut jika kau pulang hanya nama saja. Jika kau pulang sudah tidak bersama rohmu lagi, aku takut akan hal itu sayang.

Tapi, dengan ketulusan yang terpancar di matamu, aku meyakini bahwa kau kuat, kau mampu menahan gas air mata, kau mampu menghadang peluru karena kau kuat.

Sayang! Gas air mata itu tak ada apa-apanya dengan tangisan saudara-saudaramu yang masih kelaparan, yang masih belum mendapatkan haknya.

Sayang! Aku berpesan kepadamu jika nanti kau ditakdirkan sebagai pemerintah aku mohon adillah, aku mohon dengarlah keluhan mereka, dengarkan isakan tangis mereka, peka akan bau tengil anak jalanan yang butuh ruang untuk bersekolah.

Sayang! Jika nantinya kau menjadi seorang pemimpin, jangan sekali-kali kau menyakiti aktivis kampus, karena dulunya kau pernah diposisi itu. Tetaplah menjadi teman untuk mereka berikan solusi yang pas untuk mereka dan jangan malah memusuhi mereka.

Anggap mereka yang merengek adalah dirimu yang dulu. Lihat dirimu di dalam para aktivis itu, sungguh pecundangnya dirimu jika kau menjadi pemimpin lalu cuek dan seakan tak peduli dengan rakyatmu.

Sayang! Jadilah pemimpin yang bijak, jadilah pemimpin yang peka akan keadilan, cacian masyarakat jadikan motivasimu untuk terus berkarya. Kukira pemimpin tak ada yang sempurna.

Sayang! Kau tau mengapa aku berpesan seperti itu kepadamu? Karena aku melihat jiwa-jiwa pemimpin di dalam dirimu tegaskan suaramu sayang, lantangkan kakimu dan tetaplah berjuang.

Penulis: Sutra Tenri Awaru

Mantan Dalam Kopi Kenangan
(Syamsul Risal)

Terlalu indah untuk dilupakan,
Terlalu buruk untuk di rujuk,
Tapi untuk rasa benar-benar nikmat,
“kopinya”.

Mungkin
Terlalu asyik dalam ingatan masa lalu
Hingga kopi pun berubah nama, ini lucu bukan?

Harusnya
Kusebut dia guru bukan mantan, karna aku banyak belajar darinya, di antaranya belajar “merawat luka”,
Tapi biarlah kali ini kusebut dia mantan,
Agar dia tahu aku mengakuinya bahkan namanya
Masih melekat jelas dalam hati.

“aku akan setia”
Kata-kata itu masih menggemai kepalaku
hingga saat ini, membekas jadi luka yang mungkin abadi.

Semoga, dia barisan terakhir dari mereka yang telah jadi masa lalu, aku juga ingin merasa bahagia seperti mereka.

Jika yang “hilang akan berganti”
Maka hilqnglah, biar kucari sepotong hati yang baru, tulisan ini sebagai coretan bahwa pernah ada kisah diantara kita.

Kopi Kenangan
Kuseruput engkau hingga tuntas, dan melebur dalam tubuh yang penuh luka hingga usai jadi kotoran.

SINJAI, — Ikatan Alumni (IKA) SMP Negeri 3 Sinjai Tengah bersama Pemuda Tani Pecinta Alam (PATAPA) Desa Saotanre melakukan diskusi santai dengan membahas potensi pemuda. Sabtu, (18/5/2019) malam.

Menurut Rabiul Awaluddin, ketua umum IKA SMPN 3 Sinjai Tengah kareba mendengar kata pemuda identik dengan intelektual, dan semangat berapi-api.

"Pemuda harus tampil dengan intelektual, kerja keras, dan semangat, tapi nyatanya pemuda dimanjakan dengan gedget, dulu kita disibukkan dengan membaca Al-Qur'an dan cangkul," kata Awal sapaannya.

Awal berharap agar pemuda yang merantau dan menempuh pendidikan di kota harus kembali membangun desanya.

"Pemuda yang merantau dan selesai kuliah di kota harusnya mereka kembali membangun Desa dan tidak berlarut-larut dan tenggelam dengan kehidupan kota," imbuhnya.

Diskusi tersebut semakin meriah dengan cerita pengalaman pemuda menempuh dunia pendidikan dan pengalaman selama perantauannya masing-masing.

AL/REDAKSI

Lorong Kata --- Andai jatuh cinta boleh dipilih, maka aku tak akan pernah mencintaimu, dan andai waktu bisa diputar, aku tak ingin bertemu denganmu, karena pada akhirnya perpisahan menghampiri kita.

Ketahuilah bahwa kita adalah dua manusia yang menjadi korban atas perasaan yang seharusnya tidak seperti ini.

Ketahuilah, kita tak pernah berfikir untuk pertemuan yang singkat, ketahuilah aku sama sekali tidak ingin mengenalmu. Namun takdir mengatakan kita harus berkenalan dan berakhir dengan kesengsaraan.

Tapi, jangan menyalahkan takdir yang telah mempertemukan kita, salahkan manusia Yang mencintai terlalu terburu-buru, salahkan aku yang begitu jatuh ke senyumanmu.

Ketahuilah, bahkan detik ini setelah kepergianmu aku masih terlalu mencintaimu, bahkan aku mendo'akan agar kebaikan selalu menghampirimu disetiap saat.

Hal utama yang perlu kau ketahui ialah, aku tak selamanya begini, akan ada masa aku perlahan membuka jalan, memungut kembali puing-puing kesakitanku, dan aku membuka tangan untuk mereka yang ingin menggenggamku dan tak menyianyiakanku.

Ketahuilah, menunggu itu bukan kegiatan yang menyenangkan. Pesanku padamu, hargai mereka yang selalu ingin membuatmu tersenyum, karena karma akan tetap menimpahmu kapanpun dan dimana pun.

Asal kau tau, aku masih mengingat warna bajumu, bau parfummu, jam tangan yang kau gunakan, aku masih ingat senyummu yang menggemparkan pelupuk sukmaku, aku masih ingat masih sangat ingat!

Aku mengakui pada awalnya aku tak memiliki sama sekali rasa terhadapmu, jantungku biasa-biasa saja saat mendapat pesan singkat darimu, bahkan pernah terlintas di kepalaku, bahwa kau bukan tipe dan kesukaanku.

Tapi dipersimpangan jalan, aku mulai memperhatikanmu, diam-diam mengintip tiap slide fotomu di akun instagram pribadimu, merasa aneh jika tak mendapat kabarmu.

Ketahuilah, rasaku hadir sesaat, aku mencoba menggambar matamu di imajinasi puisiku, karena matamu yang membuatku jatuh, matamu yang membuatku tak bisa melupakanmu, entah mengapa rasanya mata itu menghadirkan euforia baru untukku.

Namun, sayangnya kau tak lebih dari pecundang, yang menghadirkan rasa lalu pergi tanpa permisi, kukira kau lelaki baik-baik namun nyatanya kau tak lebih dari perampas kebahagian seorang wanita.

Ketahuilah, jika ada objek yang mampu membuatku melupakanmu, maka aku akan melakukannya, karena apa? Aku kasihan terhadap diriku sendiri, yang mencintai sosok lelaki yang tak memiliki prinsip hidup.

Iya, kau tak memiliki prinsip, karena apa? Kau biarkan komitmen yang kau buat sendiri hancur dengan sendirinya, aku sama sekali tidak pernah meminta untuk berkomitmen denganmu, tapi yang memulai lebih dulu itu kamu, dasar.

Hal yang paling bernilai dari diri seorang lelaki ialah, apabila berjanji mampu membuktikan, apabila membuat komitmen dia mampu bertanggungjawab.

Ketahuilah, alam akan mengutuk perbuatanmu, karma akan menghampirimu, karena agama begitu memuliakan wanita, bahkan malaikat akan mengutuk tiap langkahmu jika kau membuat wanita menangis dan membuatnya tersakiti.

Kau menyebutku kejam? Lebih kejam mana denganmu? Yang memberiku harapan yang begitu tinggi, berjanji untuk selalu ada, tapi kenyataannya sekarang kau hilang tanpa kabar.

Kau termasuk golongan munafik atau golongan apa? ketika berjanji dia mengingkari dan ketika diberi amanah dia ingkar. Sungguh tak bisa dipercaya!

Aku tidak pernah mengutukmu, bahkan membencimu tidak, itu bukan aku, bahkan aku sudah memaafkanmu, tapi rencana tuhan siapa yang tahu? Ada baiknya kau pandai-pandai dalam menyakiti perempuan, asa terus kemampuanmu dalam menyakiti perempuan.

Kalau perlu kau buat komunitas yang bertemakan "korban perasaan", dan setelah itu bersenang-senanglah dengan karmamu.

Penulis: Sutra Tenri Awaru

Aksaraku Yang Malang
Oleh: Sutra Tenri Awaru

Entah, ada apa denganku ini
Entah, mengapa aksaraku seperti ini
Entahlah...
mengapa setiap paragrafku
Tak begitu lengkap
Ada apa ini?

Atau mungkin aksaraku tak lagi bermakna
meski kugubah dengan jutaan metamorfosa yang kupaksa.

Mengapa seperti ini?
Akankah aksaraku akan semalang ini?
Akankah setiap metarmofosa yang kupaksakan akan menjadi baik?

Andai tulisanku mampu bercerita, maka akan ku paksa mereka untuk menjawabnya, entah ada apa dengan aksaraku, seakan menuju puncak lalu jatuh, menghilang, dan tak ditemukan

Seakan setiap makna, tak lagi menunjukkan estetikanya, ada apa? Bahkan aku bergelut dengan otak dan lidahku, namun tak pernah ku temui makna dan alur di dalam aksaraku, ada apa ini?

Mengapa bisa aksaraku semalang ini?
Sangat sangat dan sangat tak memiliki tujuan
Huuuu, aksaraku yang malang.

Tuhan Sayang Ibu
Oleh: Gita Puspita Yoga

Senja telah pergi
Kini giliran ku, menyambut malam sendiri
Namun malam tak mau menyapa
Tak lupa kurangkai kata indah dalam do’a
Tuk ibu yang telah tiada

Gubuk tua itu pun tak lagi berseri
Sepi, sunyi, sendiri
Yaa… Kini aku lalui
Adik-adik yang selalu menemani
Kan ku jaga sepenuh hati

Tapi, jiwa pun terombang-ambing
Bak derasnya ombak di pantai
Tak tau arah tuk melangkah
Potret indah tanda senyumnya
Kian mampu mendamaikan hati yang gundah

Ibu
Kau ajarkan kami arti hidup
Tak pernah lelah dalam membimbing
Menjadi insan pemberani
Kau hidupkan asa kami tuk menang
Hadapi kerasnya dunia
Beribu nasihat menjadi bekal kami
Qona’ah, ikhlas, sabar dan tangguh
Jadi prinsip dalam pribadimu ajarkan kami

Trimakasih ibu
Tuhan sangat menyayangimu
Walau jauh ragamu
Tak surutkan kasih kami padamu
Semoga sang Khalik selalu menjaga mu
Dan menempatkanmu di Jannah nan indah
Do’a ku selalu menyertaimu
Ibu.

BONE, PKM merupakan Program Kreativitas Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti dan dikembangkan untuk mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang tinggi.

Pada tahun 2019, Proposal yang lolos sebanyak 6 proposal dari 20 proposal Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Bone yang diajukan ke Kemenristekdikti.

Ini lebih banyak dibandingkan Tahun lalu yaitu hanya 2 proposal PKMPSH.

Ke-6 Proposal tersebut terdiri dari 2 bidang yakni 4 proposal dari bidang PKMPSH dan 2 Proposal PKMM.

Pencapaian dari ke enam Proposal penelitian mahasiswa yang lolos membawa nama baik bagi Institusi STKIP Muhammadiyah Bone menjadi:

Top 20 Perguruan Tinggi di bawah naungan Muhammadiyah se-Indonesia dan satu-satunya Perguruan Tinggi Non-Universitas

Ke-2 Terbanyak yang meloloskan mahasiswa PKM 5 Bidang Untuk Wilayah Indonesia Timur untuk PT Muhammadiyah.

Proposal terbanyak yang lolos PKM 5 Bidang Perguruan Tinggi Muhammadiyah Se-Sulawesi Selatan.

Ke-3 terbanyak Lolos PKM 5 Bidang Perguruan Tinggi Swasta Se-LLDIKTI-IX.

Salah satu Proposal Penelitian bidang PKMPSH yang lolos di Kemenristekdikti dengan Judul "Peningkatan Konsep Diri Akademik Siswa Melalui Model Pembelajaran BBLC yang Terintegrasi Permainan Tradisional Hompimpa Berbasis Filosofi Bugis".

Dilaksanakan di SMAN 11 Bone Kelas XI IPS pada mata pelajaran ekonomi dan diketuai oleh Lena Khusaema Jurusan Pendidikan Ekonomi Angkatan 2015 dengan Anggota penelitian sebanyak 2 orang yakni Andi Fauziah dan Nurlia.

Keduanya merupakan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika Angkatan 2017.

Proposal Penelitian tersebut merupakan satu-satunya Proposal penelitian dari Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Bone Berbasis Kearifan Lokal yang diajukan ke kemenristekdikti.

Lena Khusaema menyatakan bahwa sebagai salah satu ketua peneliti dalam proposal PKMPSH merasa bangga penelitiannya bisa lolos dikemenristekdikti karena hal ini merupakan ajang bergengsi dikalangan Mahasiswa dan tidak mudah untuk sampai ke Tahap ini.

"Sebenarnya saya sudah 3 Kali mengajukan Proposal PKM di Kemenristekdikti yakni PKM 2017, PKM 2018, terakhir PKM 2019 dan Alhamdulillah Pada PKM 2019 saya bisa lolos, itulah mengapa saya sangat berbangga, "katanya.

Dia berterima Kasih kepada A. Muh. Irfan Taufan Asfar, M.T., M.Pd yang merupakan dosen Pendampingnya yang tidak henti-hentinya memberikan bimbingan secara online/daring maupun secara offline(tatap muka) selama 4 bulan.

Selain bimbingan dari Dosen Pendamping, Dosen lain yang tak henti-hentinya memberikan motivasi untuk terus bekerja keras dan pantang menyerah untuk mengerjakan Proposal PKM ini adalah A.Muh. Iqbal Akbar Asfar, M.T, M.Pd.

Penelitian ini akan diseminarkan dalam seminar nasional sebagai luaran dari Proposal PKM Olehnya itu.

Para Dosen STKIP Muhammadiyah Bone menaruh harapan besar kepada Mahasiswa(i) yang lolos tersebut agar dapat melaksanakan penelitiannya dengan baik dan benar sehingga Bisa Lolos PIMNAS yang merupakan ajang Top bagi mahasiswa Top.

REDAKSI

Sepi selalu mengoyak-ngoyakku
Sepi selalu membayang-bayangiku
Sepi selalu terangan-angan di fikiranku
Sepi selalu mengejarku
Sepi selalu membunuhku disetiap saat

Sepi, sepi, sepi,
Sunyi, sunyi, sunyi
Boleh ku berpesan?
Tolong, hadirkan kembali ramai
Sepi sungguh menakutkan

Aku ingin bebas
Aku ingin lepas
Aku manusia yang butuh kebebasan
Aku manusia yang butuh akan keadilan perasaan
Apakah kau tau, aku belum meresa bebas, belum merasakan keadilan karna apa sepi masih saja menjadi penguasa, tak ada yang mampu menentangnya, tak ada yang mampu!

Berkali-kali kucoba bertindak seanarkis mungkin terhadap sepi namun hasilnya masih sama, masih sulit dikalahkan, ayolah bantu aku demolah sepiku agar aku mampu menjadi orang yang bebas dan merdeka, tolong bantu aku, tolong!


Lorong Kata --- Jelang ramadan 1440 Hijriah atau 2019 Masehi. Berbagai argumentasi di sosial media dan di forum-forum rewsmi, tiba-tiba nampak terlihat seolah hijrah menjadi lebih baik. Merupakan perubahan yang positif bila itu benar-benar terjadi secara berkelanjutan.

Tetapi saya tidak begitu yakin ramadan merubah perilaku manusia, dari kebiasaan curang, hingga korupsi, terlebih ambisi kerakusan untuk tetap mengeksploitasi alam, menindas dan mengelabui sesama.

Kekuasaan politik tidak betul-betul berubah hanya karena ramadan, mungkin bulan suci yang menjelang ini hanya spasi bagi kalimat aktif, atau jeda pada visual dan istirahat sejenak untuk mereka para penjahat kemanusiaan. Demikian juga dengan orang-orang yang jatuh cinta, dimana cinta tak kenal tanggal merah apalagi bulan suci. Sebab cinta adalah bagian dari suci itu sendiri.

Lalu bagaimana pecandu kopi? Tentunya nyaris semua hasrat terpaksa istirahat di bulan nan indah dan suci, yang penuh kedamaian serta ketenangan, semoga. Selain itu, saya hanya khawatir jangan sampai kata 'Maaf' jenuh dan bosan lantaran jadi pembuka kalimat, keseringan dipakai, mengamuk, meminta untuk mengundurkan diri dari peribahasa Indonesia, saya takutnya begitu.

Tetapi memaafkan memang lebih baik ketimbang selalu merasa benar, memaafkan juga melatih mental dan psikologi untuk hadir rendah hati. Walau disadari bahwa, tak ada kata yang tak bisa terucap oleh pemain kata-kata. Kemampuan retorika membuat semuanya nampak lebih benar.

Memasuki bulan ramadan, bukan hanya kau yang kesepian, kekasih. Kopi juga pasti merasa sangat sepi, sebab penikmatanya banyak menyibukkan diri untuk melupa. Sebagai alternatif melupa, memang kita harus mencari atau menciptakan kesibukan.

Lingkungan religius akan tiba, kita akan memilih banyak diam, tapi banyak memberi. Diam-diam memberi bunga misalnya. Atau diam-diam suka sama dia. Namun, untuk idustri karbon terbesar di negara-negara tetangga, apakah juga akan diam? Mesinnya yang bising, polusinya mencakar langit, limbahnya membunuh ikan yang lupa bangun sahur, dan kita semua mungkin memaafkan karena ini bulan suci.

Kerusakan-kerusakan besar di bumi, kecurangan elit dan sederet persoalan penguasa akan terbungkus isu religius yang akan diterima publik dengan damai. Demikianlah segala peristiwa terjadi begitu saja, bahkan untuk menyesal pun kita tak punya waktu.

Sebagai pembual, saya hanya bisa mengamati, menilai lalu menghasilkan bualan. Menurut hemat saya, solusi yang rasional tak lagi dibutuhkan, selain kerja nyata dan bualan untuk mengenyangkan telinga penguasa yang tuli sejak ia memiliki kewenangan tinggi dan kekuasaan lebih banyak.

Pesan saya juga khususnya pemuda republik Indonesia untuk terus berkarya dan bertindak nyata melawan segala bentuk kerusakan pada lingkungan dan tatanan masyarakat. Minimal melawan dalam hati, walau itu adalah perlawanan yang paling lemah.

Teruslah minum kopi bila malam hari, agar inspirasi muncul tanpa henti, pertahankan kekasih barumu yang kau dapatkan dari hasil mengelabui teman sendiri, sebab itu juga hasil perjuangan yang kadang memakan korban. Dimana korbannya adalah teman sendiri misalnya.

Semoga puasa kita semua lancar, silaturahmi terus berlanjut dan rindu biarkan saja tumbuh hingga berbuah di kepala. Biarkan buahnya dinikmati anak cucu, sebagai penghargaan rasa dari generasi ke-genewrasi selanjutnya. Semoga kita masih dapat keindahan di hari depan, dengan kereusakan lingkungan yang luar biasa saya yakin hijaunya hutan, indahnya sawah dan jingganya senja akan jadi dongeng yang tak bisa dipercayai generasi bahwa itu benar-benar pernah ada di bumi.

Jangan putus asa, jangan putus cinta, dan jangan melakukan segala hal yang kebanyakan putusnya. Bekerjalah terus-menerus demi hasil yang berkelanjutan.

By: Kopitani Merdeka

Hari ini
Tak ada kerling dan rasi
Hanya mega yg berjarak
Mega yg kelam kelabu

Kau yang kuharap menyinari bintangku, ternyata kau sendirilah yang memulai mematikan cahaya itu secara perlahan
Sungguh tega kau
Kau selalu saja membuatku terasingkan diantara purnama

Mengapa ada janji jika harus teringkari
Aku sudah terlanjur dilampaui angan oleh janjimu
Mengapa harus sepedih ini menanggung ingkarmu

Tapi kupikir lagi
Angankulah yang tak sampai untuk memilikimu, mungkin perasaan ini
Dapat dikatakan rasa sepihak
Karena kutak begitu yakin rasi bintang itu akan bersinar terus tanpa jeda

Oleh: Sutra tenri awaru

Lorong Kata --- Teruntuk kalian para wanita tangguh yang masih memperjuangkan hak-hak atas harga dirinya.

Haruskah kita tetap tunduk dan takut ketika harga diri kita direnggut hanya karena birahi lebih diutamakan dari pada cinta?

Haruskah kita tetap patuh dan pasrah ketika cinta diperjual-belikan dengan paksa?

Atau haruskah kita tetap diam dan di bawah ketika jiwa dan raga telah disiksa?

TIDAK! Kita bisa melewati semuanya! Ingatlah, bahwa kita para wanita mempunyai derajat sendiri. Mampu mempertahankan harga diri dan jangan salah wanita mampu bertindak anarkis.

Katakan, kita adalah pejuang. Wanita bukan makhluk yang lemah, wanita adalah makhluk yang harus di hormati, wanita tidak lemah tidak sama sekali, dan wanita bukan pemuas nafsu, karena wanita memiliki derajatnya sendiri.

Sesekali wanita dilecehkan karena pakaian mereka dilecehkan karena berpakaian sexy, dan sesekali juga wanita dihujat karena pakaiannya, karena mereka memakai cadar. Ada apa sebenarnya dengan wanita, ada apa kesalahan kami?

Sesekali juga kami dihina karena tak mampu memimpin, sesekali juga kami dilecehkan karena kami lemah. Ada apa dengan kami? Ada apa? Apa kami selemah itu?

Sesekali jika kami berbuat anarkis, kami dikira menyalahi koadrat. Sesekali jika kami ingin turun di jalan kami dikira menyalahi aturan sebagai wanita.

Ataukah kami memasuki suatu organisasi, lalu banyak pasang mulut yang mengatakan kau tak pantas masuk karena itu. Karena kau seorang perempuan. Tempatmu hanya diranjang dan di dapur.

Paling parahnya, terkadang dari kaum wanita yang paling suka menjatuhkan harga diri sesama kaumnya, contoh kecilnya ibu-ibu di kampung, mereka suka menghujat wanita yang berteman dengan lelaki, menghujat wanita yang menutup aurat.

Paling parahnya, jika wanita tak bekerja padahal sudah memiliki gelar tetapi malah memilih mengasuh anak dan suami, menurut pandangan mereka wanita harus bekerja, wanita harus memiliki gaji tersendiri, padahal kita tau mengasuh anak dan suami adalah hak dari semua wanita.

Mengapa jika kami tinggal dirumah? Mengapa? Apakah kita harus menandingi gaji suami? Apa salah wanita jika memilih tinggal dirumah dan mengasuh anak? Bukankah wanita memiliki hak dan kemerdekaannya sendiri.

Wanita wajib merdeka dari tekanan-tekanan. Wanita adalah makhluk yang bebas melakukan apapun yang ingin ia lakukan, wanita bukan makhluk yang lemah. Tolong jangan hina wanita yang berpakaian terbuka, karena mereka tau apa yang terbaik buat dirinya sendiri, dan tolong jangan menghina wanita yang mengenakan cadar karena ia berusaha menutup dirinya, mereka berusaha mengistiqomahkan diri.

Jangan menganggap wanita yang berpakaian terbuka adalah wanita murahan dan jangan pula menganggap wanita yang menutup aurat adalah radikalisme, karena wanita memiliki deratnya sendiri

Oleh: Sutra tenri awaru

Mengapa masih saja ada yang menghujat wanita yang berdandan? Mengapa wanita yang berdandan disebut dengan kaum kapitalis?

Mengapa? Apa salah mereka? Pada dasarnya, wanita adalah makhluk Tuhan yang paling cantik, mengapa jika dipoles-poles sedikit dengan bedak? Dengan gincu yang merah? Dengan pensil alis yang meratakan?

Wanita mempunyai hak mempercantik dirinya. Jika para kaum lelaki tak menyukai wanita yang berdandan dengan alasan yang tak logis, maka lelaki itu belum memahami konsep dari kebahagian wanita.

Lelaki itu aneh, tak menyukai wanita yang berdandan akan tetapi, jika melihat wanita yang sexy, make up tebal, rambutnya diurai kebelakang. Eh, matanya masih melirik. Aneh bukan?

Katanya menyukai yang alami, namun jika di tawarkan dengan keindahan, ia malah menikmatinya.

Wanita tak mempunyai masalah jika berdandan sedikit untuk menyenangkan diri, yang salah dari wanita ialah ketika menganggap anarkis adalah sebuah kejahatan. Perempuan yang cerdas akan menanggapi setiap masalah dengan logika dan tindakan.

Terkadang aku risih dengan perilaku lelaki yang selalu saja menganggap remeh perempuan. Menganggap perempuan adalah kaum yang lemah, tak mampu melakukan apa apa. Seenaknya saja menyakiti hati seorang wanita karna ia tau perempuan adalah makhluk lemah yang taunya hanya menangis, meraung.

Terkadang juga saya risih dengan lelaki yang membully wanita yang berdandan. Dikatakan, mereka seperti badut, sudah tidak alami, tidak percaya diri, tetapi jika tak berdandan pun masih dibully dengan alasan tak bisa memperbaiki diri. Haha dasar.

Tolong! terima kami apa adanya, maklumi kami jika kami berdandan karena pada hakikatnya wanita adalah makhluk yang cantik dan lucu

Oleh: Sutra tenri awaru

SINJAI, — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar sebagai penasehat hukum 4 mahasiswa korban drop out (DO) dan skorsing menggugat Rektor Institut Agama Islam Muhammadiya (IAIM) Sinjai. Senin, (29/4/2019).

Kata Haerul Karim, SH, selaku Kordinator Divisi Anti Korupsi dan Reformasi Birokrasi LBH Makassar bahwa objek gugatan adalah SK DO dan skorsing yang dikeluarkan oleh Rektor IAIM Sinjai.

Gugatan tersebut telah didaftarkan di Pegadialan Tata Usaha Negara (PTUN) Makassar dengan nomor registrasi, 22/G/2019/PTUN.Mks.

"Pengajuan gugatan ini dilakukan sebagai langkah hukum untuk penyelesaian dan kepastian hukum," katanya.

Berbagai upaya mediasi yang telah dilakukan, yakni mendatangi Kopertais, PW Muhammadiyah sampai bersurat ke Kementerian Agama, PP Muhammadiyah dan Komnas HAM sampai pelaporan terhadap oknum dosen IAIM Sinjai yang melakukan kekerasan terhadap 4 mahasiswanya.

LBH Makassar menilai, tindakan IAIM Sinjai merupakan bentuk pelanggaran HAM khususnya hak atas pendidikan dan hukum.

"Namun sampai saat ini kami tetap mengupayakan jalur penyelesaian secara kekelurgaan dan upaya mediasi dengan pihak IAIM Sinjai," ungkapnya.

LBH Makassar menyeruhkan agar pihak IAIM Sinjai mencabut SK DO dan skorsing serta memulihkan hak pendidikan 4 mahasiswanya

"Kami meminta pihak IAIM Sinjai untuk menjalankan asas transpransi sebagai badan public sebagaimana diatur dalam UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik," imbuhnya.

LBH juga menegaskan kepada IAIM Sinjai untuk memproses pelanggaran kode etik pihak Dosen dan Staf IAIM Sinjai.

"Kami meminta semua lembaga Pemerintah dan Non Pemerintah untuk mengevaluasi dan menindak lanjuti laporan terkait tindakan IAIM Sinjai kepada empat mahaisiswanya," tegasnya.

Redaksi

OPINI, --- Dari 12 hari yang lalu sejak pelaksaan pemilihan umum 2019, deretan peristiwa terjadi dan banyak menyita perhatian publik terkait banyaknya "Pahlawan demokrasi" dalam perayaan Pemilu lima tahunan tersebut.

Betapa tidak, di Pemilu serentak ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan di Indonesia sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 dan putusan Mahkamah Kontitusi (MK) .

Beragam persoalan terjadi di lapangan, seperti halnya di tingkat Kelompok Pelenggara Pemilihan Suara (KPPS) yang memiliki beban kerja lebih, hingga banyak korban berjatuhan dan meninggal dunia.

Kejadian itu bukan tanpa alasan, karena akibat dari jam kerja berlebih, korban mulai berdatangan dan hingga saat ini jumlah anggota KPPS yang meninggal capai 272, dan sakit 1.878 sebagaimana pernyataan komisioner KPU, Evi Novida Ginting Manik kepada (detikNews).

Dari panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) sendiri, yang meninggal dunia saat bertugas mengawasi Pemilu serentak tahun 2019 berjumlah 55 orang. Jumlah korban itu didasarkan pada data yang masuk ke Bawaslu per Sabtu (27/4/2019).

Dari ratusan korban yang akhirnya meninggal dunia, kebanyakan mengalami kelelahan fisik setelah menjalankan tugas.

Dalam sejarah demokrasi kita, dengan melihat akibat pasca Pemilu serentak 2019, kali ini adalah  yang paling pertama juga eksperimen mematikan dalam sejarah pemilihan umum Indonesia.

Seharusnya pihak yang memiliki  wewenang atas kebijakan ini dapat  mengantisipasi potensi masalah yang dapat  mengintai  keselamatan para petugas di lapangan .

Dengan melihat masa depan terlebih pada pesta demokrasi serentak, maka berkaca pada kejadian ini di harapakan mampu  menjadi catatan atas regulasi dan teknis demi pelenggaraan pemilihan umum tahun 2024 mendatang.

Penulis: Muh. Agus

Sejak hari ini, kau pergi tiba tiba, aku seperti lupa bagaimana rasanya menjadi baik baik saja. Segala komitmen yang pernah kau ucap saat bersamaku ternyata semu.

Pada akhirnya kamu meninggalkan tanpa memberi kesempatan untuk bertemu, dan karena hal sepeleh kau beranjak pergi meninggalkanku yang menurutku tak menjadi masalah, tapi pada akhirnya kau menjadikan masalah, bilang saja padaku jika kau ingin pergi, bilang saja !

Dari semula aku selalu berhati-hati membuka diri, menyadari jika diriku ini susah di mengerti. Hingga ada kamu datang, dengan bahasan yang seimbang. Membuatku merasa akhirnya menemukan seseorang yang sepadan.

Mungkin memang salahku yang terlalu terburu-buru mengartikan sikapmu, komitmenmu yang dulu pernah kau ucap, mungkin hanya aku yang kasmaran, sedangkan kamu datang hanya karna kesepian saja.

Seharusnya aku tidak pernah menggantungkan harapan terlalu tinggi, semakin aku sadari jika ternyata bukan cinta yang menyakitkan, melainkan ekspektasi.

Hingga aku tersadar bahwa aku hanya pelampiasanmu saja, dan hanya menjadi penghiburmu disaat kau sedang sepi!

Oleh: Sutra tenri awaru

Lorong Kata --- Dear mahasiswa sold out (fresh graduate) setelah kalian menyandang gelar sarjana, kalian pengen ngapain? Jadi pengusaha atau jadi Pegawai? Kalau nggak jadi dua-duanya, jadi petani juga nggak apa-apa. Petani juga pekerjaan mulia loh.

Kegalauan kerap melanda mahasiswa sold out. Jika skripsi adalah pekerjaan yang tidak mudah dilewati setiap mahasiswa, maka tantangan yang sebenarnya muncul setelah mahasiswa tersebut berhasil menyandang gelar sarjana.

Setelah berhasil melewati tahap yang panjang untuk mendapatkan gelar sarjana. Kini saatnya memasuki babak baru yang lebih sulit. Pasalnya, banyak mahasiswa sold out yang berhasil menyandang dua gelar sekaligus. Pertama, gelar sarjana dan yang kedua, gelar pengangguran.

Tidak heran jika kita (hah,kita?) sering mendengar orang mengatakan “pengangguran terdidik” karenanya, tugas maha berat mahasiswa setelah sold out adalah menepis gelar yang terakhir (pengangguran).

Tidak dapat dipungkiri bahwa gelar sarjana masih menjadi prestige dikalangan masyarakat. Sebagian masyarakat awam bahkan menganggap sarjana sebagai manusia multi talented (Wow...) tetapi, apa kabar yang masih menganggur?

Bagi Fresh graduate yang memiliki banyak modal akan memilih menjadi pengusaha dan anak pejabat akan menjadi pegawai dikantor ayahnya. Secara bersamaan mereka akan menuai pujian.

Sementara yang bukan berasal dari keduanya akan menyandang dua gelar sekaligus (sarjana dan pengangguran). Jika yang berhasil menjadi pegawai atau pengusaha akan menuai pujian. Lain halnya dengan yang masih menganggur akan menuai ocehan. (Ow... Sedih).

jika mahasiswa abadi sibuk hunting foto di gunung, lain halnya dengan mahasiswa sold out yang sibuk hunting di internet. Berburu lapangan pekerjaan yang ditawarkan lewat internet.

Fenomena ini memang sangat berseberangan dengan doktrin kampus bahwa sarjana sebaiknya menciptakan lapangan pekerjaan bukan pencari lapangan pekerjaan. Jika sudah begini, apakah mahasiswa tersebut memang layak mendapat gelar sarjana dengan kualifikasi keilmuannya menciptakan lapangan pekerjaan? Hem, jadi bingung.

Apakah kampus telah berhasil membekali mahasiswanya dengan ilmu yang cukup untuk mencetak sarjana yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan sesuai dengan keilmuannya?

Seperti contoh. Apakah sarjana hukum semuanya berhasil menjadi lawyer? Apakah sarjana akuntansi semuanya berhasil menjadi akuntan? Faktanya tidak seperti itu Nona-nona.

Gelar sarjana tidak akan cukup mampu membawa seseorang mendapatkan lapangan pekerjaan sesuai yang kita harapkan. Di daerah sana, bahkan ada sarjana olahraga yang berhasil bekerja di bank. Hem, gimana caranya yah.

Bahkan beberapa sarjana sastra gagal menjadi sastrawan dan sarjana akuntansi yang gagal menjadi akuntan.

Untuk mendapatkan pekerjaan, bahkan beberapa perusahaan lebih memprioritaskan pengalaman yang beragam untuk menjadi bagian dari perusahaan mereka.

Pengalaman bahkan lebih dan sangat dihargai di dunia kerja ketimbang gelar yang didapatkan. Itulah alasan megapa sarjana olahraga bisa bekerja di bank dibandingkan seorang sarjana akuntansi atau perbankan.

Akhir kata, tidak semua di dunia ini bisa dimaknai lembar ijazah. Beberapa diantaranya lebih berharga pengalaman, uang dan keluarga pejabat. Hahaha bercanda yah. Jadi, setiap fresh graduate tidak perlu merasa kecil hati lantaran susah mendapat pekerjaan yang sesuai dengan gelar yang kita dapatkan. Perkaya pengalaman, dengan begitu kelak akan mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan.

Kamu jangan paksa aku untuk melupakanmu atau mengurangi rasa untukmu. Tapi bantulah aku untuk menjadi seseorang yang mampu membuatmu tersenyum dan mengobati lukamu.

Kamu jangan buat aku dibayangi oleh rasa gelisah, tapi bayangi aku dengan keindahanmu. Kamu jangan paksa aku untuk membencimu, karena aku tak 'kan mampu.

Dan kamu, jangan terus-terusan menengok masalalu. Karena aku disini, dipenuhi oleh sejuta belati dengan menggenggam cinta hanya untukmu.

Jangan kamu berubah, hanya karena aku tak mampu mengubah rasa. Tetaplah seperti biasanya, karena kau tak pernah tau bahwa kesibukkan ini untuk menunjang kebahagiaanku bersamamu nanti

Dan, secara perlahan akan ku hapuskan masa lalumu, percayakan kepadaku, percayakan aku dapat menghapus masa lalumu

Oleh: Sutra tenri awaru

Jujur, saat ini aku merindukan kamu yang dahulu, kau yang selalu memberikan kabar, selalu menanyakan keadaan. Tapi sekarang kau bukan orang yang sama.

Jujur aku rindu kamu yang dulu, kamu yang sering menelfonku berjam jam, selalu menjadi tempat curhat terbaikku, dan saat ini kau seakan menutup telinga akan semuanya.

Jujur aku rindu kamu yang dulu, kamu yang selalu menyampatkan waktu untuk bertemu denganku selama berjam jam, duduk hingga gigimu terasa kering saat menertawaiku, dan saat ini semuanya berubah sekejap.

Jujur, kukira kau pengecut, menghilang tanpa kabar, menuai teka teki, apakah salahku? Apakah dosaku? Apakah sebegitu menjijikannya diriku dimatamu? Jika kau merasa risih karna aku tidak cantik, katakan, katakan kepadaku bahwa kau bosan bergaul dengan orang jelek.

Jika kau risih karna cerita orang, katakan kepadaku, agar aku tak mencari cari kesalahanku, jika kau risih karna memiliki wanita baru katakan padaku, agar aku stop sampai disini menaruh hati padamu, katakan apa salahku, katakan jika kau lelaki, katakan kepadaku, kau bukan pengecutkan? Kau bukan penjahat wanita kan?

Kau tau, saat ini aku masih bertanya tanya ada apa? Ada apa semua ini? Katakan jika kau mulai bosan, agar aku tau kapan aku harus berhenti mencintaimu.

Satu yang ingin aku tanyakan kepadamu, ibu perempuan kan ? Adikmu perempuankan? Bagaimana perasaanmu jika ayahmu menyakiti ibumu? Meninggalkan ibu secara tiba tiba tanpa sebab dan alasan ? Atau saudara perempuanmu yang di sakiti pria yang dicintainya? Atau jika kau tak memiliki saudara perempuan, sepupu wanitamu, keponakanmu, sahabatmu? Atauka dirimu yang telah mencintai wanita sedalam dalamnya lalu ditinggalkan tanpa sebab dan akibat?

Aku tak pernah meminta tuhan untuk menyapamu dengan karma, karna aku tau jika kau sakit sedikit saja, aku akan merasakan imbasnya.

Karma itu akan menyapa bagi orang orang yang mempermainkan perasaan seseorang, menghidupkan cinta didalam diri seseorang, menghidupkan semangat dalam diri seseorang, lalu tanpa sati alasan kau meninggalkan? Kau bisa saja disebut dengan pendusta!

Berani berkata tapi tak mampu membuktikan!

Kuharap kau bukan dari golongan itu, dan saat ini kukirimkan salamku kepadamu melalui puisiku, katakan jika karma sudah menyapamu!

Oleh: sutratenriawaru

PUISI ---  Waktu itu mendengar namamu awalnya aku cuek saja, tak ada yang istimewa terlalu banyak nama yang pernah ku dengar serupa, juga ku temuai dengan biasa. 

Waktu dan waktu terus mengalir di pergelangan tangan juga jam dinding kerap menjadi pengiring dalam jejak , terlalu biasa aku bergumul dengan waktu, dengan kopi berbarengan hingga pekat malam dan juga derasnya hujan saat berjalan mengitari bumi bersama dengan kawan sejuang.

Berawal kisah, kita bertemu entah awalnya kapan, ku paksa diriku mengingatnya namun gagal ku tarik kembali kemasa lalu saat pertama kali kutatap senyummu juga perhatianku kalau itu. 
Entahlah.... Hal yang menurutku sangat berarti namun tak dapat ku Selami dengan ingatan. 

Huh.. Hanya saja, ada hal masih tersisa, tersisa sebagai bingkisan kenangan saat kau temuai aku di pojokan perempatan jalan, itupun, harus ku kuras segala memori di kepalaku dengan bantuan serbuk kopi yang di siram dengan air dengan temperatur tinggi, agar masa itu ku ingat dengan jelas agar, tak perlu ku diskusi denganmu tentang pertemuan yang paling berkesan.

aku tidak terlalu mengerti latar belakangmu juga intuisimu dengan pasti, namun kesimpulanku terlanjur memihak, bahwa kau adalah satu yang pernah ku temui dalam perjalananku dengan rasa.

Di atas gunung yang dingin tempat bersama langkahku mulai menarik secarik kertas juga balpoin yang ku sisipkan di daypack sebagai bekal selain tenda dan keperluan lain, agar aku bisa merias wajahmu di sudut cakrawala.

Aku seperti  terjuntai di bait pertama, tanganku kaku, jemariku di ganggu hembus angin yang datang dari segala arah, begitu sakralnya namamu mengapa saat ku genggam pena cuaca meradang tiba-tiba.

Akhirnya, tak berselang lama aku berhasil menjatuh tinda di atas kertas yang ujungnya basah dan lembab juga di situlah awal mulanya huruf pertamamu ku sematkan dalam tulisan.

dingin dalam angan menepi dalam bayangan, rentetan kisah mulai ku selaraskan sebagai bekal saat engkau datang  terendap dalam ingatan. 

Kucoba membingkai dengan rapi saat-saat waktu ku lahap bersama mu, menyusuri kota, bermain dengan senja, mencuri jam istirahat agar dentingan irama waktu adalah segudang jejak rindu yang terdomentasi dengan camera juga perasaan.

Semua itu indah bukan..!? Ujarku, sembari memperbaiki kemiringan  gelas kopi yang nyaris tertindih reruntuhan  kenangan yang berlomba-lamba ingin ku sisipkan dalam bait pertengahan.

Aku mengela nafas sesekali, menghabiskan malam, menyalin lembaran-lembaran ingatan sembari memungut  serpihan kerlip cahaya pada malam yang menuai tua.

Nampaknya, kita bukan bait  panjang  dalam  narasi tuhan sesuai harapan, kiranya dengan dingin nya tatapanmu juga sentuhan tanganmu mulai melemah atau mungkin dalam langkah kita seseorang mengintip dalam bayangan bahwa kelak engkau datang setelah membuat jiwa mati sungguhan.

Segenap masa lalu mulai ku salahkan mengapa kita berpapasan dengan tak membawa rasa yang sama, rasa ku nikmati dengan ringkas seperti kilatan cahaya.

Oleh: Agus

Lorong Kata --- Hay, Mba-mba yang cantik dan baik hati. Ada pertanyaan nih dari Mbah. “apa sih yang terintas pertama kali dibenakmu ketika bercermin dipagi hari?”

Jika pikiranmu terfokus pada kerutan di wajah, atau bahkan berat badan yang sudah tidak ideal lagi dan juga jerawat baru yang tersembunyi dibalik rambut keriting yang acak-acakan. Maka kamu termasuk salah satu yang tidak percaya diri.

It’s okay, bahkan semua orang selalu menginginkan penampilan yang sempurna disetiap harinya. Tampil cantik dan menarik adalah impian setiap orang. Lagi pula siapa sih yang pengen tampil berantakan?

Tetapi, perlu diketahui bahwa fanatisme terhadap kecantikan terkadang membuat seseorang merasa minder atau kurang percaya diri. Bahkan satu serawat di wajah saja membuat kekhawatiran semakin menjadi-jadi.

Mbah pernah dengar seorang pepatah mengatakan bahwa “cantik itu relatif, yang menurut kita cantik belum tentu cantik buat orang lain” sementara menurut mbah, secantik-cantik seseorang adalah tidak meniru orang lain (natural).

Jika hari ini kita bangga dengan wajah yang cantik dan mulus maka bagaimana hari esok jika usiamu telah menua? Kau akan keriput juga.

Lagi pula, cantik saja tidak cukup mampu menjaminkan apa-apa Tuan. Bahkan, beberapa orang yang fanatisme terhadap penampilan fisik semata berakhir dengan kesendirian. Loh kenapa begitu?

Jawabannya; dalam pergaulan, beberapa wanita hanya ingin berteman dengan wanita yang mereka anggap memiliki kelas yang sama sementara yang jauh dari standar lebih baik menjauh.

Kecantikan semestinya tidak dipandang sesempit itu Nona. Bahkan wanita yang lahir kembar pun tidak selamanya memiliki wajah yang sama. Setiap orang lahir dengan kecantikannya masing-masing.

Menurut Mbah, cantik itu bukan perihal penampilan fisik semata tetapi juga perihal hati. Setiap orang memiliki kelebihan masing-masing dan dari kelebihan yang mereka miliki itulah membuatnya tampil cantik.

Menurut Mbah, penampilan fisik jangan anda jadikan sebagai alasan untuk mendiskreditkan seseorang. Sebab, bisa jadi yang mereka miliki belum tentu anda pada diri kita.

Sementara kamu yang tdak percaya diri dengan penampilan fisik. Jangan merasa rendah dengan fisik yang kamu miliki sebab setiap orang memiliki cara tersendiri untuk tampil cantik tanpa perlu berdandan menyerupai orang lain.

Ingat, bahwa cantik tidak sesempit itu Nona. Cantik itu tidak tergantung seberapa mahal harga make up yang kamu pakai atau setebal apa make up yang kamu pakai

Fina, fina, fina kekasihku yang teramat cantik, bibirnya semerah mawar merah, pipinya yang mengemaskan, rambutnya yang begitu lembut, sikapnya yang keibu ibuan yang membuatku tertarik kepada finaku, tapi kisah cintaku dengan finaku begitu banyak rintangan, aku yang keluar kota menjalankan tugas sedangkan finaku dikampung..

Setelah beberapa tahun kami berpacaran akhirnya aku memiliki tekad untuk mempersunting finaku agar dapat kubawa kemana mana dan aku tak takut untuk kehilangan dia, kubulatkan tekadku untuk memperkenalkan finaku kepada orang tuaku.

Alhamdulillah atta dan ammaku menyetujuiku dnegan finaku, ahh tak tenanglah daku ingin mempersuntingnya, tibalah hari dimana hari yang kutunggu tunggu.

Atta dan ammaku kerumah finaku untuk melamarnya, namun siapa sangka atta dan ammaku berubah haluang, mereka hanya mengatakan sampai kapanpun atta dan amma tidak akan menyetujui kau menikah dengan gadis atah.

Hancurlah hatiku sehancur hancurnya, apakah hanya perbedaan kasta aku tak dapat mempersunting finaku? Ada apa dengan kasta? Ada apa dengan puang dan atah? Yang kutau fina gadis yang kucintai gadis yang kudambakan, apa salah finaku?

Finaku wanita baik baik bukan wanita kekota kotaan, akhirnya kuberanikan diri kerumah puangku ku tanyakan kepada dia kenapa aku tak dapat mempersunting finaku?

Ternyata dahulu kakek dari finaku adalah pembantu dari puangku, nenek dari fina adalah pelayan atta nenekku, lalu kutanyakan kenapa?

Mengapa perbedaan kasta masih menjadi penghalang? Puangku menjawabnya"akan sangat rendah jika puang menikah dengan atah, atah dimata keluarga kita adalah babuh yang tidak mempunyai hak sama sekali, hidupnya tergantung dengan puangnya, atah tidak memiliki harga diri, kasta atah begitu rendah dimata keluargamu nak" hancur hatiku fina hancur, mengapa kasta masih saja bertindak dengan semenah menah? Mengapa fina?

Finaku..
Jika budaya memisahkan kita maka akan kulawan budaya itu, fina jika takdir tidak memihak kita maka akan kulawan takdir itu..

Mengapa fina, mengapa harus kau? Mengapa harus kau yang menjadi atah ?
Finaku sayang, budaya terlalu mengekang kita, budaya terlalu sulit untuk kita lawan, mengapa harus membeda bedakan manusia satu dengan manusia lainnya? Dimata tuhan atah dan puang sama sama saja..

Fina apakah aku harus melanggar budayaku untuk membukitkan ketulusan cintaku kepadamu? Haruska aku melawannya untukmu ?

Haruska aku terkena kutukan agar dapat bersamamu? Haruska aku menghilangkan status ke puanganku untuk menikahimu?

Fina demi cintaku padamu maka cinta atah dan puang akan terjadi, meskipun aku harus meniduri atahku sendiri, meskipun aku harus memiliki anak dari atahku sendiri, itu tidak apa apa fina, akan kubawa kau keluar dari budayaku, akan kubuat kau bahagia dengan kisah cinta kita yang terhalang oleh kasta, akan ku buat kau bahagia seumur hidupku meskipun kau adalah ATAHKU!

Penulis: Sutra Tenri Awaru
Diberdayakan oleh Blogger.