November 2017 | LORONG KATA
Tweet Share Share Share Share Share

Andika Putra
Korupsi Kebiasaan Masa Kini
(Andika Putra)

Ingin rasanya kutebas binatang jalang,
Yang pulas tidur terlentang,
Diantara tumpukan-tumpukan uang,
Dari harta rakyat yang kurus kerontang.

Rakyat jelata hidup terkapar,
Menangis merintih di atas trotoar,
Kadang perut selalu lapar,
Karena harta telah dijarah para koruptor,

Rakyat jelata hidup dalam kelaparan,
Para koruptor hidup dalam kemewahan,
Rakyat jelata hidup di jalanan,
Para koruptor hidup di tempat nyaman.

Penampilan selalu menawan,
Wajahnya pun terlihat tampan,
Lengkap dengan perhiasan berlian,
Namun sayang prilaku tak lebih dari hewan,

Pesonanya begitu manis,
Janjinya selalu menghipnotis,
Ujung-ujungnya membuat tangis,
Karena mereka berwatak bengis.

Hidupnya selalu berduit,
Karena korupsi caranya yang elit,
Di depan hakim selalu berkelit,
Meski kondisinya sudah terjepit.

Mereka adalah kelompok para pendusta,
Yang bangga dengan harta dunia,
Tak mau tau derita rakyat jelata,
Asal hidup mereka selalu sejahtera.

Rasanya....
Ingin kukuras darahmu hingga mengering,
Agar kau tau rakyat hidupnya kurus kering,
Karena ulahmu yang membuat pening.

Rasanya....
Ingin ku lumat seluruh tubuhmu,
Untuk membalas derita saudaraku,
Yang sudah lama tak pernah minum susu,
Walau Indonesianya memiliki kolam susu,

Korupsi ulah yang berdasi,
Dan itu kebiasaan masa kini,
Oleh pemimpin yang tidak tepati janji,
Lagi pula mereka tidak takut jeruji,
Mungkin itulah korupsi zaman now.
Tweet Share Share Share Share Share

Seseorang Menggali Luka Lama

Malam kian getas,
Dinginnya menusuk hingga ketulang,
Namun air mata tak juga surut,
Tentang luka setahun yang lalu.

Rindu kini telah menggali luka lama,
Luka yang sempat ku sembunyikan,
Lewat getirnya senyum yang kupaksa,
Karena cinta tak menuai asa.

Ini memang luka yang mengerikan,
Luka menganga tak mudah beranjak pergi,
Cinta kini terlanjur mati,
Meninggalkan luka yang susah kuobati.

Inikan yang ingin kau pahami ?,
Tentang hatiku yang menjadi mati,
Lewat tanyamu yang menyakiti,
Karena mengulik luka lama.

Sudahlah.
Usah kau bertanya lagi.
Siapa yang membidik hati ?,
Mengapa dan kenapa hatiku mati ?.

Sudah banyak orang mencoba mengobati,
Menyapu luka yang hinggap di dalam hati,
Tapi,
Hati ini sudah terlanjur mati.

Ini luka Tuan,
Luka yang ditinggal pergi,
Luka yang bentuknya menganga,
Luka yang membuatku menderita.

Usahlah kau bertanya lagi,
Karena tanyamu telah mencabik luka lama,
Luka yang sempat ku sembunyi,
Meski rasanya tak mampu ku bohongi.

Hey Tuan.
Kini rindu telah termenung di ujung senja,
Menanti pelangi datang menghampiri,
Merubah luka menjadi bahagia,
Hadirkan tawa yang dulu sempat pergi,
Dari cinta yang kini dibawa pergi,
Oleh mereka yang tak paham kasih.
Tweet Share Share Share Share Share

Kids Zaman Now
(andi)

Kids zaman now,
Tingkahmu membuat kami melongo,
Bukan karena hebatmu,
Hanya saja karena sikapmu yang aneh.

Kids zaman now,
Usiamu memang belia,
Tapi tingkahmu melampaui dewasa.

Kids zaman now,
Lipstik dan bedak tak pernah tipis,
Coretan melengkung menutupi alis,
Untuk menarik hati yang berkumis.

Kids zaman now,
Selalu eksis di hadapan kamera,
Gaya yang tak ada dua,
Namun prestasi yang masih tanda tanya.

Kids zaman now,
Peka teknologi masa kini,
Bukan untuk mengembangkan potensi,
Sayang untuk menutupi gengsi.

Kids Zaman now,
Gaya boleh numero uno,
Kelakuan yang masih kuno,
karena labil tingkahnya jadi sembrono.

Kids zaman now,
Usahlah kau meniru yang disana,
Yang pantaslah dalam berbusana,
karena aurat bukan untuk pemuas dahaga.

Kids zaman now,
Tak ada salah jika ingin tampil beda,
Itu hak setiap bangsa,
Yang sopan dalam bergaya,
Agar tak ada buaya yang membuat noda.
Tweet Share Share Share Share Share

 Negeri PHP
(Riani)

Anak-anak menangis
meronta-ronta
Kelaparan melanda
merongrong asa
Sedang orang tua menatap kosong
Menggantungkan makna menyisir ruang hampa

Bual janji para penguasa
Seonggok harapan menuai pedih
Jikalau saya jadi pemimpin
Kesejahteraan ekonomi tujuan utama, katanya!

Kesejahteraan yang mana?
Ketika dirumah-rumah itu
Orang tua masih menanak batu

Bersendu.......
Berharap hening tangis sang anak
Menjerit pilu perut kosong
haru
Sesampai benar benar mati
se umbar aksaramu yang dulu harum laksana bunga mawar

Nyanyian kelaparan tak kunjung berlalu
Menunggu di sebalik pintu pengandaian yang palsu
Powered by Blogger.