LORONG KATA

Lorong Kata --- Nasionalisme sejatinya adalah sebuah komitmen sikap untuk mencintai tanah air yang lahir dari proses penggalihan sejarah nyata sebuah negeri dengan penuh kesadaran. Sebuah kecintaan yang lahir hanya karena reproduksi rasa dari generasi sebelumnya tanpa melakukan pembuktian secara sadar maka kecintaan itu akan condong mengarah kepada apa yang dibahasakan beberapa orang sebagai bentuk fanatisme palsu, sebuah bentuk kepercayaan yang terlalu kuat terhadap suatu perkara namun tidak disertai dengan pengetahuan lebih akan hal tersebut. Bukankah sebuah bentuk kekeliruan jika melakukan sesuatu tapi tidak terdapat pengetahuan di dalamnya? Mari kita sama-sama mempertanyakan hal demikian pada diri sendiri. Efek domino dari paham tersebut adalah melahirkan generasi yang ‘udik sejarah’ yang tentunya dibarengi dengan bentuk kecintaan berdasarkan kesadaran palsu (August Hans den Boef & Kees Snoek, 2008).

Pada paruh pertama abad ke-20, salah satu peristiwa penting terjadi yakni berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Organisasi Boedi Oetomo yang artinya ‘Usaha Mulia’ tidak serta merta lahir begitu saja tapi melalui proses yang terbilang panjang, pada tahun 1906 Mas Ngabehi Wahidin Sudirohusodo melakukan perjalanan spiritual dari daerah ke daerah melakukan kampanye untuk menghimpun dana untuk pelajar di kalangan priyayi di pulau Jawa dengan tujuan untuk meningkatkan martabat rakyat dan membantu para pelajar yang kekurangan dana untuk bersekolah. Ada beberapa tujuan didirikannya organisasi Boedi Uetomo yakni Memajukan pendidikan, pengajaran; Memajukan pertanian, peternakan dan perdagangan; Memajukan teknik industri; dan Menghidupkan kembali kebudayaan.

Organisasi ini merupakan tonggak pergerakan nasional seperti yang disampaikan oleh Soekarno pada pidatonya saat peringatan pertama organisasi Boedi Oetomo atau kita dengan peringatan hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), 20 Mei 1948 di Yogyakarta. Beberapa tokoh pendiri Boedi Oetomo harus mendekam di penjara pemerintah Hindia Belanda akibat artikel yang ditulis oleh Ki Hajar Dewantara “Seandainya Saya Seorang Belanda” yang berisi tentang sindiran yang sangat pedas terhadap Belanda. Artikel itu sebagai bentuk kemarahannya ketika pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui pejabat pangreh praja pribumi sehingga Ki Hajar Dewantara diseret masuk penjara beserta dua temannya yang lain yakni Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo. Ki Hajar Dewantara dan Dr. Tjipto Mangunkusumo dihukum dan diasingkan ke negeri Belanda, di sana Ki Hajar Dewantara justru belajar imu pendidikan sementara Tjipto dipulangkan ke Hindia Belanda karena sakit.

Para pemuda sebagai pewaris peradaban di negeri ini dituntut memiliki kecerdasan emosional, intelektual dan spiritual untuk tetap menjaga keutuhan bangsa dan negeri ini. Kecerdasan emosional, intelektual dan spiritual tentunya mampu diasah dan diolah di institusi yang berjargon “Sarana pencerdasan kehidupan bangsa” yakni pendidikan, seperti salah satu tujuan dari berdirinya organisasi Boedi Oetomo yaitu memajukan pendidikan dan atau pengajaran dan seperti filosofi pendidikan, Memanusiakan Manusia, yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara yang dijuluki Bapak Pendidikan Indonesia sekaligus salah satu tokoh yang mempelopori kebangkitan nasional.

Pendidikan di Indonesia dewasa ini banyak kalangan yang mengabarkan bahwa sedang berada dalam ‘kondisi tidak baik-baik saja’. Lantas apakah hal demikian benar? Hal tersebut sekiranya bisa terjawab jika kita mencoba menemukan ideologi pendidikan Indonesia. Apakah ideologi pendidikan di Indonesia adalah ideologi kapitalisme atau ideologi pancasila?

Dalam pembukaan UUD 1945, “...negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, “. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa merupakan tujuan pendidikan nasional, dan jika itu diterapkan sebagaimana mestinya di realitas pendidikan hari ini maka pendidikan akan menjadi dasar untuk “...melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Maka sampai di sini, ideologi pendidikan kita di Indonesia sudah sangat jelas dan tentunya bukanlah Kapitalisme yang menjadi ideologi pendidikan kita. Dan jika hal demikian tidak tergambar pada wajah pendidikan hari ini maka wajar saja jika banyak kalangan yang beranggapan bahwa ‘kondisi pendidikan sedang tidak baik-baik saja’.

Pramoedya Ananta Toer pernah mengutarakan “Seperti menulis di pasir”, sebuah kalimat yang mengawakili kekesalannya kala buku-bukunya disita oleh rezim yang berkuasa saat itu sehingga jumlah peredaran buku-bukunya di Indonesia sangat sedikit (Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir, Hal.102). “Seperti menulis di pasir” layaknya gambaran pendidikan hari ini yang jauh hari memiliki konsep ideal yang termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945 namun kini konsep tersebut tidak terlalu diindahkan baik dari segi aturan maupun implementasinya. Harapan terbesar, hakikat pendidikan mampu dikembalikan ke arah sebagaimana mestinya karena salah satu semangat Kebangkitan Nasional adalah memajukan pendidikan dan pendidikan merupakan bentuk terkecil daripada jiwa nasionalisme untuk memperbaiki negeri ini ke depannya.

Selamat Memperingati Hari Kebangkitan Nasional!

Penulis: Askar Nur (Mahasiswa jurusan Bahasa & Sastra Inggris Fakultas Adab & Humaniora UIN Alauddin Makassar. Merupakan Presiden Mahasiswa DEMA UIN Alauddin Makassar Periode 2018)

Lorong Kata --- Silahkan melangkahkan kaki jika itu kebaikan, silahkan tak menepati janji demi sebuah panggilan kemanusian, silahkan kau berkhianat dengan rasa. Tak mengapa, aku tidak masalah.

Biarpun orang-orang mengatakan bahwa kau bukan sosok yang romanti. Tapi, bagiku kau romantis hal yang romantis dari dirimu saat kau memegang toa dan meneriakkan keadilan.

Itu lebih cukup dari romantis, sayang kata mereka kau adalah tipe lelaki yang anarkis tapi, aku membantahnya karena anarkis bukan kejahatan dan kau pun bukan penjahat.

Kata mereka, kita tak cukup waktu untuk bertemu tapi itu tak masalah asal kau selalu turun kejalanan dan menyampaikan aspirasimu itu sudah lebih dari cukup untuk perjumpaan kita

Sayang! Jika mereka membencimu karena mereka menganggap anarkis adalah kejahatan, maka jangan bersedih, karena aku masih ada untukmu dan selalu ada.

Sayang! Jika mereka menjauhimu karena teori dan logikamu jangan marah karena aku orang pertama yang akan selalu menghargai tiap pokok pemikiranmu tentang rumusan keadilan.

Sayang! Tetaplah menjadi demonstran jikapun kau mati karena tertembak, tak apa, peluru mereka tak sakit yang sakit itu ketika kau biarkan ketidakadilan tidak ditegakkan.

Sayang! Aku bangga padamu, aku bangga meskipun mereka mengatakan bahwa demonstran adalah kejahatan tapi bagiku kau adalah pejuang.

Tapi, aku terkadang takut jika kau pulang hanya nama saja. Jika kau pulang sudah tidak bersama rohmu lagi, aku takut akan hal itu sayang.

Tapi, dengan ketulusan yang terpancar di matamu, aku meyakini bahwa kau kuat, kau mampu menahan gas air mata, kau mampu menghadang peluru karena kau kuat.

Sayang! Gas air mata itu tak ada apa-apanya dengan tangisan saudara-saudaramu yang masih kelaparan, yang masih belum mendapatkan haknya.

Sayang! Aku berpesan kepadamu jika nanti kau ditakdirkan sebagai pemerintah aku mohon adillah, aku mohon dengarlah keluhan mereka, dengarkan isakan tangis mereka, peka akan bau tengil anak jalanan yang butuh ruang untuk bersekolah.

Sayang! Jika nantinya kau menjadi seorang pemimpin, jangan sekali-kali kau menyakiti aktivis kampus, karena dulunya kau pernah diposisi itu. Tetaplah menjadi teman untuk mereka berikan solusi yang pas untuk mereka dan jangan malah memusuhi mereka.

Anggap mereka yang merengek adalah dirimu yang dulu. Lihat dirimu di dalam para aktivis itu, sungguh pecundangnya dirimu jika kau menjadi pemimpin lalu cuek dan seakan tak peduli dengan rakyatmu.

Sayang! Jadilah pemimpin yang bijak, jadilah pemimpin yang peka akan keadilan, cacian masyarakat jadikan motivasimu untuk terus berkarya. Kukira pemimpin tak ada yang sempurna.

Sayang! Kau tau mengapa aku berpesan seperti itu kepadamu? Karena aku melihat jiwa-jiwa pemimpin di dalam dirimu tegaskan suaramu sayang, lantangkan kakimu dan tetaplah berjuang.

Penulis: Sutra Tenri Awaru

Mantan Dalam Kopi Kenangan
(Syamsul Risal)

Terlalu indah untuk dilupakan,
Terlalu buruk untuk di rujuk,
Tapi untuk rasa benar-benar nikmat,
“kopinya”.

Mungkin
Terlalu asyik dalam ingatan masa lalu
Hingga kopi pun berubah nama, ini lucu bukan?

Harusnya
Kusebut dia guru bukan mantan, karna aku banyak belajar darinya, di antaranya belajar “merawat luka”,
Tapi biarlah kali ini kusebut dia mantan,
Agar dia tahu aku mengakuinya bahkan namanya
Masih melekat jelas dalam hati.

“aku akan setia”
Kata-kata itu masih menggemai kepalaku
hingga saat ini, membekas jadi luka yang mungkin abadi.

Semoga, dia barisan terakhir dari mereka yang telah jadi masa lalu, aku juga ingin merasa bahagia seperti mereka.

Jika yang “hilang akan berganti”
Maka hilqnglah, biar kucari sepotong hati yang baru, tulisan ini sebagai coretan bahwa pernah ada kisah diantara kita.

Kopi Kenangan
Kuseruput engkau hingga tuntas, dan melebur dalam tubuh yang penuh luka hingga usai jadi kotoran.

SINJAI, — Ikatan Alumni (IKA) SMP Negeri 3 Sinjai Tengah bersama Pemuda Tani Pecinta Alam (PATAPA) Desa Saotanre melakukan diskusi santai dengan membahas potensi pemuda. Sabtu, (18/5/2019) malam.

Menurut Rabiul Awaluddin, ketua umum IKA SMPN 3 Sinjai Tengah kareba mendengar kata pemuda identik dengan intelektual, dan semangat berapi-api.

"Pemuda harus tampil dengan intelektual, kerja keras, dan semangat, tapi nyatanya pemuda dimanjakan dengan gedget, dulu kita disibukkan dengan membaca Al-Qur'an dan cangkul," kata Awal sapaannya.

Awal berharap agar pemuda yang merantau dan menempuh pendidikan di kota harus kembali membangun desanya.

"Pemuda yang merantau dan selesai kuliah di kota harusnya mereka kembali membangun Desa dan tidak berlarut-larut dan tenggelam dengan kehidupan kota," imbuhnya.

Diskusi tersebut semakin meriah dengan cerita pengalaman pemuda menempuh dunia pendidikan dan pengalaman selama perantauannya masing-masing.

AL/REDAKSI

Lorong Kata --- Andai jatuh cinta boleh dipilih, maka aku tak akan pernah mencintaimu, dan andai waktu bisa diputar, aku tak ingin bertemu denganmu, karena pada akhirnya perpisahan menghampiri kita.

Ketahuilah bahwa kita adalah dua manusia yang menjadi korban atas perasaan yang seharusnya tidak seperti ini.

Ketahuilah, kita tak pernah berfikir untuk pertemuan yang singkat, ketahuilah aku sama sekali tidak ingin mengenalmu. Namun takdir mengatakan kita harus berkenalan dan berakhir dengan kesengsaraan.

Tapi, jangan menyalahkan takdir yang telah mempertemukan kita, salahkan manusia Yang mencintai terlalu terburu-buru, salahkan aku yang begitu jatuh ke senyumanmu.

Ketahuilah, bahkan detik ini setelah kepergianmu aku masih terlalu mencintaimu, bahkan aku mendo'akan agar kebaikan selalu menghampirimu disetiap saat.

Hal utama yang perlu kau ketahui ialah, aku tak selamanya begini, akan ada masa aku perlahan membuka jalan, memungut kembali puing-puing kesakitanku, dan aku membuka tangan untuk mereka yang ingin menggenggamku dan tak menyianyiakanku.

Ketahuilah, menunggu itu bukan kegiatan yang menyenangkan. Pesanku padamu, hargai mereka yang selalu ingin membuatmu tersenyum, karena karma akan tetap menimpahmu kapanpun dan dimana pun.

Asal kau tau, aku masih mengingat warna bajumu, bau parfummu, jam tangan yang kau gunakan, aku masih ingat senyummu yang menggemparkan pelupuk sukmaku, aku masih ingat masih sangat ingat!

Aku mengakui pada awalnya aku tak memiliki sama sekali rasa terhadapmu, jantungku biasa-biasa saja saat mendapat pesan singkat darimu, bahkan pernah terlintas di kepalaku, bahwa kau bukan tipe dan kesukaanku.

Tapi dipersimpangan jalan, aku mulai memperhatikanmu, diam-diam mengintip tiap slide fotomu di akun instagram pribadimu, merasa aneh jika tak mendapat kabarmu.

Ketahuilah, rasaku hadir sesaat, aku mencoba menggambar matamu di imajinasi puisiku, karena matamu yang membuatku jatuh, matamu yang membuatku tak bisa melupakanmu, entah mengapa rasanya mata itu menghadirkan euforia baru untukku.

Namun, sayangnya kau tak lebih dari pecundang, yang menghadirkan rasa lalu pergi tanpa permisi, kukira kau lelaki baik-baik namun nyatanya kau tak lebih dari perampas kebahagian seorang wanita.

Ketahuilah, jika ada objek yang mampu membuatku melupakanmu, maka aku akan melakukannya, karena apa? Aku kasihan terhadap diriku sendiri, yang mencintai sosok lelaki yang tak memiliki prinsip hidup.

Iya, kau tak memiliki prinsip, karena apa? Kau biarkan komitmen yang kau buat sendiri hancur dengan sendirinya, aku sama sekali tidak pernah meminta untuk berkomitmen denganmu, tapi yang memulai lebih dulu itu kamu, dasar.

Hal yang paling bernilai dari diri seorang lelaki ialah, apabila berjanji mampu membuktikan, apabila membuat komitmen dia mampu bertanggungjawab.

Ketahuilah, alam akan mengutuk perbuatanmu, karma akan menghampirimu, karena agama begitu memuliakan wanita, bahkan malaikat akan mengutuk tiap langkahmu jika kau membuat wanita menangis dan membuatnya tersakiti.

Kau menyebutku kejam? Lebih kejam mana denganmu? Yang memberiku harapan yang begitu tinggi, berjanji untuk selalu ada, tapi kenyataannya sekarang kau hilang tanpa kabar.

Kau termasuk golongan munafik atau golongan apa? ketika berjanji dia mengingkari dan ketika diberi amanah dia ingkar. Sungguh tak bisa dipercaya!

Aku tidak pernah mengutukmu, bahkan membencimu tidak, itu bukan aku, bahkan aku sudah memaafkanmu, tapi rencana tuhan siapa yang tahu? Ada baiknya kau pandai-pandai dalam menyakiti perempuan, asa terus kemampuanmu dalam menyakiti perempuan.

Kalau perlu kau buat komunitas yang bertemakan "korban perasaan", dan setelah itu bersenang-senanglah dengan karmamu.

Penulis: Sutra Tenri Awaru

Aksaraku Yang Malang
Oleh: Sutra Tenri Awaru

Entah, ada apa denganku ini
Entah, mengapa aksaraku seperti ini
Entahlah...
mengapa setiap paragrafku
Tak begitu lengkap
Ada apa ini?

Atau mungkin aksaraku tak lagi bermakna
meski kugubah dengan jutaan metamorfosa yang kupaksa.

Mengapa seperti ini?
Akankah aksaraku akan semalang ini?
Akankah setiap metarmofosa yang kupaksakan akan menjadi baik?

Andai tulisanku mampu bercerita, maka akan ku paksa mereka untuk menjawabnya, entah ada apa dengan aksaraku, seakan menuju puncak lalu jatuh, menghilang, dan tak ditemukan

Seakan setiap makna, tak lagi menunjukkan estetikanya, ada apa? Bahkan aku bergelut dengan otak dan lidahku, namun tak pernah ku temui makna dan alur di dalam aksaraku, ada apa ini?

Mengapa bisa aksaraku semalang ini?
Sangat sangat dan sangat tak memiliki tujuan
Huuuu, aksaraku yang malang.
Diberdayakan oleh Blogger.