LORONG KATA


Lorong Kata - Aneh tapi nyata, bagaikan berada di negeri dongeng. Beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia kembali digegerkan dengan fenomena munculnya Kerajaan Keraton Agung Sejagat yang mendulang ratusan pengikut di Purworejo. Fenomena mitos “kerajaan” ini terus bermunculan ditengah frustasi sosial dan ekonomi masyarakat. Fenomena ini pun bukanlah baru kali ini terjadi, tetapi sudah berulang kali bahkan ada gerakan millenarianism yang mucul setiap waktu tertentu.

Sebagaimana dilansir (kompas.com 19/1/2020), kemunculan Keraton Agung Sejagat beberapa waktu silam menghebohkan masyarakat. Dua orang mengklaim diri mereka sebagai pimpinan kerajaan. Mereka adalah Toto Santoso yang menyebut dirinya Sinuhun dan Fanni Aminadia sebagai ratunya. .

Adapun beberapa kelompok kerajaan dan organisasi yang pernah muncul di Indonesia dan menggegerkan masyarakat yaitu kerajaan Ubur-ubur muncul di kota Serang Banten pada 2018 lalu. Menurut kerajaan ubur-ubur ini untuk membuka pintu kekayaan, mereka harus melakukan ritual ala kerajaan ubur-ubur. Ada juga Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), organisasi ini dibubarkan pada 13 agustus 2015 melalui kongres luar biasa. Saat dibubarkan anggota gafatar mencapai 50.000 orang. Kemudian warga bandung juga sempat digegerkan dengan keberadaan Sunda Empire. Kelompok tersebut viral setelah salah satu akun facebook membagiakan foto-foto kegiatan Sunda Empire yang tampak mengenakan seragam militer.

Buah Busuk Gagalnya Sistem Sekuler-Kapitalis

Kemunculan fenomena “kerajaan” aneh dimasyarakat ini merupakan bukti kegagalan sistem sekuler-kapitalistik dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat. Pasalnya kemuculan mitos-mitos kerajaan ini datang memberi tawaran solusi bagi masyarakat dalam menghadapi himpitan problem hidup yang tak berkesudahan. Kegagalan kapitalisme dalam menciptakan kesejahteraan dan keadilan masyarakat sebenarnya wajar-wajar saja karena kesalahan bukan hanya terkait dengan problem cabangnya tetapi dari keberangkatan akidahnya yaitu kapitais-sekuler yang menolak peran agama dalam kehidupan. Sistem sekulerism sedikitpun tidak memberi celah aturan Allah masuk dalam ranah kehudapan masyarakat.

Akibatnya masyarakat tak lagi memiliki solusi lain dalam menghadapi himpitan ekonomi ditengah minimnya keimanan. Kondisi masyarakat dalam kebuntuan ini dimanfaatkan oleh kalangan tertentu untuk mencari keuntungan materi. Tentu tidak heran apabila muncul ditengah masyarakat mitos-mitos kerajaan yang memberikan iming-iming kekayaan, menjadikan masyarakat pun tergiur untuk tergabung didalamnya meskipun itu hal yang tidaklah rasional.

Pemerintah Tidak Mengambil Tindakan Tegas Dan Antisipatif

Sayangnya, meskipun kasus-kasus munnculnya fenomena kerajaan berulang kali bermuculan dan telah memakan korban berupa kerugian materi, nampaknya kasus ini tak ditangani secara tegas dan serius oleh pemerintah. Buktinya kasus-kasus serupa terus bermunculan menandakan pemberian hukuman atas kasus ini tidak memberikan efek jera bagi pelaku dan masyarakat. Dan yang lebih penting lagi pemerintah tak mengambil langkah antisipatif menyelesaikan akar permasalahan yang menjadi factor penyebab munculnya penipuan berkedok kerajaan tersebut yaitu sistem ekonomi kapitali-sekuler.

Sistem ekonomi kapitalis-sekuler yaitu pada hakikatnya merupakan segala aturan kehidupan masyarakat, termasuk bidang ekonomi tidaklah diambil dari aturan agama tetapi sepenuhya diserahkan kepada manusia, apa yang dipandang memberikan manfaat. Dalam masyarakat kapitalis, ada sekelompok orang-orang super kaya ibaratnya mereka menempati puncak pyramid dan ada kelompok masyarakat miskin bahkan miskin absolute yakni tidak memiliki akses terhadap kebutuhan mereka. Kelompok masyarakat miskin inilah yang banyak terjerat dalam penipuan iming-iming kekayaan.

Akibatnya fenomena kemunculan “kerajaan” begitu mudah mempengaruhi umat yang belum matang akidahnya ditengah guncangan paham sekuler. Umat islam yang sekuler meski rajin sholat jika diiming-imingi kekayaan maka ia akan mudah terpengaruh sebab ia menganggap sholat tak ada hubunganya dengan bagaimana cara menghasilkan uang. Meskipun dengan menggadaikan akidah dan terjatuh dalam lubang kesyirikan. Padahal Allah SWT telah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa:48) Wallah `alam bish shawwab.

Penulis: Nurlina, S.Pd (Ibu Rumah Tangga)

Lorong Kata - “Apakah semua orang Islam itu harus memakai hijab ? Memakai jilbab ? Tidak juga kalau kita mengartikan ayat dalam alqur’an ini secara benar,” begitulah statement istri mantan presiden ke-4 Abdurrahman Wahid atau GusDur dalam sebuah program di channel youtube Deddy Corbuzier. Pernyataan tersebut sontak menuai kontrovesi dari berbagai kalangan, mulai dari para ulama, aktivis muslimah, hingga masyarakat biasa.

Dilansir dari laman TEMPO.CO, Jakarta - Sinta Nuriyah, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib untuk memakai jilbab. Ia pun menyadari bahwa masih banyak orang yang keliru mengenai kata jilbab dan hijab.

Menurut dia, hijab tidak sama pengertiannya dengan jilbab. "Hijab itu pembatas dari bahan-bahan yang keras seperti kayu, kalau jilbab bahan-bahan yang tipis seperti kain untuk menutup," kata Sinta di YouTube channel Deddy Corbuzier pada Rabu, 15 Januari 2020.

Ia mengakui bahwa setiap muslimah tidak wajib untuk mengenakan jilbab karena memang begitu adanya yang tertulis di Al Quran jika memaknainya dengan tepat. "Enggak juga (semua muslimah harus memakai jilbab), kalau kita mengartikan ayat dalam Al Quran itu secara benar," kata Sinta.

Selama ini ia berusaha mengartikan ayat-ayat Alquran secara kontekstual bukan tekstual. Sinta juga mengakui bahwa kaum muslim banyak yang keliru mengartikan ayat-ayat Alquran karena sudah melewati banyak terjemahan dari berbagai pihak yang mungkin saja memiliki kepentingan pribadi.

Anaknya, Inayah Wahid yang berada di sebelahnya pun setuju dengan pendapat Sinta. Menurut dia, penafsir memang harus memiliki berbagai persyaratan untuk mengartikan ayat-ayat Al Quran. "Enggak boleh orang menafsirkan dengan sembarangan," kata Inayah.

"Bukan karena itu (belum dapat hidayah). Tapi, saya tidak akan menjelaskan karena sudah antipati duluan, mencap pokoknya kalau tidak pakai hijab, lu tidak ngikutin syariat agama, lu dosa, masuk neraka," ujarnya. Padahal, Inayah punya alasan juga kenapa memilih tidak memakai hijab. Menurut dia, itu karena ada dalil-dalil lain juga yang diikutinya. Menurut dia, soal itu juga masih terjadi perdebatan antara para imam besar.

Mendengar pernyataan tersebut, sungguh membuat siapapun merasa miris, pasalnya Allah telah jelas memerintahkan didalam alqur’an bahwa memakai jilbab bagi seorang muslimah adalah wajib. Selain itu tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama 4 madzhab mengenai kewajiban tersebut.

Ayat Alquran yang menyebut kata “jalaabiib” adalah firman Allah Swt. (artinya),”Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin,’Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Arab : yudniina ‘alaihinna min jalaabibihinna). Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Ahzab [33] : 59).⁣

Imam Al Qurthubi mengatakan, “Kata jalaabiib adalah bentuk jamak dari jilbab, yaitu baju yang lebih besar ukurannya daripada kerudung (akbar min al khimar). Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud berpendapat bahwa jilbab artinya adalah ar ridaa` (pakaian sejenis jubah/gamis). Ada yang berpendapat jilbab adalah al qinaa’ (kudung kepala wanita atau cadar). Pendapat yang sahih, jilbab itu adalah baju yang menutupi seluruh tubuh (al tsaub alladzy yasturu jamii’ al badan).” (Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, 14/107).⁣

Sedangkan Imam Ibnu Katsir menyebutkan, “Jilbab adalah rida‘ (selendang untuk menutupi bagian atas) yang dipakai di atas khimar. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, Al Hasan Al Bashri, Sa’id bin Jubair, Ibrahim An Nakha’i, Atha’ Al Khurasani, dan selain mereka.” (Tafsir Ibni Katsir, 6/481).

Dari makna jilbab yang disampaikan kedua ulama tersebut dapat dikatakan bahwa dalam Alquran ada perintah kepada perempuan muslimah untuk memakai jilbab, yakni mengenakan kain untuk menutup seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan.

Rasul Saw pernah berkata kepada Asma, " Wahai Asma, wanita bila sudah dewasa tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini". Beliau Saw memberikan isyarat pada wajah dan kedua telapak tangannya.

Adapun terkait makna jilbab. Perbedaan dalam jilbab hanya dalam pendefinisian, bukan dalam hal status hukumnya wajib atau tidak. Sudah maklum di kalangan ulama bahwa jilbab itu wajib. Apapun itu pendefinisian jilbab, semuanya menunjuk kepada pengertian sebuah baju yang longgar digunakan untuk menutupi keseluruhan tubuh wanita. Jilbab dipakai di atas baju keseharian.

Pengertian demikian bisa diambil dari riwayat Ummu Athiyah yang bercerita bahwa Nabi saw menganjurkan para wanita yang haidh juga ikut keluar saat hari Raya guna mendengarkan nasehat. ia berkata, “Pada dua hari raya, kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum muslimin dan doa mereka. Tetapi wanita-wanita haid harus menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya:, “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Beliau menjawab, “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.” (HR. Bukhari no. 351 dan Muslim no. 890).
Berdasarkan hal ini, maka para ulama sepakat (berijma’) bahwa berjilbab itu wajib.

Oleh karenanya, menganggap bahwa muslimah tidak wajib memakai jilbab adalah paham yang sesat dan menyesatkan. Apalagi sampai menafsirkan dalil- dalil alqur'an seenaknya. Untuk menafsirkan ayat-ayat Alquran tidak boleh sembarangan, dan diperlukan kemampuan khusus yang hanya dimiliki oleh ulama yang berkompeten di bidang tafsir.

Di antara syarat yang harus dimiliki adalah seperti disampaikan Imam al-Zarkasyi ketika beliau memaknai istilah tafsir, yakni: “Pengetahuan yang digunakan untuk memahami Kitab Allah yang diturunkan kepada Muhammad, pengetahuan tentang makna-maknanya, tentang bagaimana mengeluarkan hukum dan hikmah di dalamnya. Caranya dengan memahami ilmu bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Bayan, Ushul Fiqh, Ilmu Qiraat, Ilmu Asbabun Nuzul, dan Nasikh dan Mansukh.”
Mengkritisi rezim hari ini yang tidak mendorong pelaksanaan syariat tapi malah membiarkan  banyak opini nyeleneh yang diangkat melalui publik figur untuk menyesatkan pemahaman umat. Janganlah kita terpedaya dengan segala aktifitas dan perkataan orang yang menjadikan seseorang cenderung merasa tidak mungkin untuk menggunakan jilbab yang sesuai syari’at atau mengikuti perkataan sesat mereka yang mengatakan bahwa menutup aurat itu tidak wajib. Allahu a’lam bishawab

Penulis: Ayu Khawlah

Kala Jilbab di Gugat
Oleh : Didi Diah, S.Kom

Ibu
Kami tak pernah bermimpi dengan ujaranmu
Namun saat kami mendengar bicaramu, luluh lantak gemeretak jantungku
Kau hujamkan benih kebencian saudari dan anak-anak perempuan di negeri ini

Ibu
Lupakah engkau dengan ayat suci sang pemilik jagat raya ini
Bahwa pakaian takwa muslimah jelas terbaca dalam kitab suci
Dimana hati nuranimu saat kau membacanya dengan sungguh-sungguh
Apakah Allah telah menutup hatimu

Ibu
Entah kemana khimarmu
Tak pernah kumelihat engkau memakainya
Apakah karena kau merasa khimar tidak sesuai dengan adat negeri ini
Tahukah kau Ibu, Al Quran datang untuk seluruh penduduk bumi tak terkecuali negeri ini

Ibu
Usiamu telah senja
Tak khawatirkah kau ibu saat kau nanti dijemput sang malaikat kau masih asyik bercengkrama dengan para pembenci Islam berkonde di negeri ini?
Jujurlah bu kami yang takut dengan kondisimu
Kami berharap kau amnesia lalu tak lama kau sadar dan menyesali semua ucapanmu

Jangan kau gugat jilbab dan khimar Ibu
Itu sama saja kau menggugat sang pembuat hukum
Sadarlah bu surga masih menanti orang yang bertaubat
Sesekali tundukkanlah hati saat kau membaca kitab suci
Karena nasibmu juga ada disana.

Lorong Kata - Salah satu ciri kelompok liberal adalah pernyataan mereka bahwa dalam syariat Islam kebenaran sebuah pandangan adalah relatif karena semuanya adalah ijtihad. Maka, menurut mereka, setiap orang berhak untuk memilih mana yang menurutnya benar. Astaghfirullah!

Dilansir dari TEMPO.CO, Jakarta - Sinta Nuriyah, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib untuk memakai jilbab. Ia pun menyadari bahwa masih banyak orang yang keliru mengenai kata jilbab dan hijab.

Menurut dia, hijab tidak sama pengertiannya dengan jilbab. "Hijab itu pembatas dari bahan-bahan yang keras seperti kayu, kalau jilbab bahan-bahan yang tipis seperti kain untuk menutup," kata Sinta di YouTube channel Deddy Corbuzier pada Rabu, 15 Januari 2020.
Ia mengakui bahwa setiap muslimah tidak wajib untuk mengenakan jilbab karena memang begitu adanya yang tertulis di Al Quran jika memaknainya dengan tepat. "Enggak juga (semua muslimah harus memakai jilbab), kalau kita mengartikan ayat dalam Al Quran itu secara benar," kata Sinta.

Selama ini ia berusaha mengartikan ayat-ayat Al Quran secara kontekstual bukan tekstual. Sinta juga mengakui bahwa kaum muslim banyak yang keliru mengartikan ayat-ayat Al Quran karena sudah melewati banyak terjemahan dari berbagai pihak yang mungkin saja memiliki kepentingan pribadi.

"Dipengaruhi oleh adat budaya setempat, cara berpikir dia juga itu mempengaruhi pemahaman terhadap ayat-ayat agama yang bukan menjadi bahasanya, yang sama bahasanya pun bisa salah juga mengartikannya," kata Sinta.

Anaknya, Inayah Wahid yang berada di sebelahnya pun setuju dengan pendapat Sinta. Menurut dia, penafsir memang harus memiliki berbagai persyaratan untuk mengartikan ayat-ayat Al Quran. "Enggak boleh orang menafsirkan dengan sembarangan," kata Inayah.
Keduanya pun menyadari setelah berkata demikian akan banyak yang tidak setuju dengan pandangannya hingga mendapatkan perisakan oleh netizen. Namun mereka juga tidak ingin memaksakan orang di luar sana untuk setuju dengan mereka.

Jilbab Adalah Kewajiban, Bukan Pilihan

Allah memerintahkan sesuatu pasti ada manfaatnya untuk kebaikan manusia. Dan setiap yang benar-benar manfaat dan dibutuhkan manusia dalam kehidupannya, pasti disyariatkan atau diperintahkan oleh-Nya. Di antara perintah Allah itu adalah berjilbab bagi wanita muslimah.

Karena itu, pakaian syari untuk muslimah mempunyai dalil-dalil syariah yang jelas dan nyata. Pakaian wanita itu bukan berdasarkan adat kebiasaan. Maknanya, jika masyarakat sudah terbiasa dengan pakaian tersebut maka pakaian itu yang dipakai; jika masyarakat tidak terbiasa dengannya maka pakaian tersebut tidak akan dipakai oleh kaum wanita. Pakaian wanita itu adalah kewajiban yang diwajibkan oleh Allah SWT terhadap wanita.

Sesungguhnya Allah memerintahkan wanita untuk berjilbab dan berkerudung  untuk menjaga wanita dan untuk memuliakan mereka serta menjaga kehormatan wanita. Dan ingatlah jilbab bukan kerudung. Jilbab adalah baju longgar tanpa potongan. Hal  ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Ahzab : 59.  Sedang kerudung atau khimar fungsinya untuk menutup kepala sampai juyub ( dada ) wanita. Hal itu sesuai dengan  firman Allah dalam surat An Nur : 31.

Syariah telah mewajibkan pakaian tertentu kepada wanita ketika keluar dari rumahnya dan beraktivitas dalam kehidupan umum. Syariah telah mewajibkan wanita muslimah agar memiliki pakaian yang dikenakan di atas pakaiannya ketika dia keluar ke pasar atau berjalan di jalan umum, yaitu jilbab, dengan maknanya yang syari. Jilbab itu dikenakan di atas pakaiannya dan dia labuhkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya. Jika dia tidak memiliki jilbab, hendaklah dia meminjam jilbab daripada jirannya atau kawannya atau saudaranya. Jika dia tidak dapat meminjam atau tidak seorang pun boleh meminjamkan kepada dirinya, maka dia tidak boleh keluar rumah tanpa mengenakan jilbab. Jika dia keluar tanpa memakai jilbab yang dikenakan di atas pakaiannya (baju basahan yang dipakai di dalam rumah) maka dia berdosa, sebab dia meninggalkan kewajiban yang telah difardhukan oleh Allah SWT ke atas dirinya.

Wajib diingat bahwa berjilbab dan berkerudung adalah kewajiban bagi setiap muslimah yang sudah baliq tanpa kecuali. Dan kewajiban itu sama seperti kewajiban sholat, puasa, menuntut ilmu dan lain - lain. Jadi tak boleh menolak menutup aurat dengan jilbab dan kerudung. Sehingga semua yang sudah baliq tidak boleh menawar seruanNya. Setiap muslim harusnya ketika ada seruan dari syari' ( pembuat hukum/ Allah) harusnya samina wa athona (saya mendengar dan saya taat).  Tak boleh ada alasan dan tawar- menawar.

Syariat Islam merupakan penjaga yang sempurna bagi kaum wanita. Dengannya Allah tetapkan aturan, bagaimana menutup aurat supaya terjaga dari pandangan lelaki khianat. Melindungi dari perkara ikhtilat, yang menjadi sekat pembatas pergaulan pria dan wanita. Wanita muslimah hanya boleh menampakkan perhiasan dihadapan suami dan mahramnya. Sedangkan lelaki diperintahkan menundukkan pandangan, dari wanita yang tak halal baginya. Suami berfungsi sebagai pemimpin yang bertanggungjawab atas wanita. Namun dalam hal amal dan pahala tidaklah berbeda. Sebab Allah hanya menilai berdasarkan ketakwaan hamba.

Alhasil, jika wanita meninggalkan syariat Allah. Dan memilih mengikuti ide kebebasan ala barat. Dan menghilangkan sekat-sekat pembatas pergaulan dengan kaum pria. Maka yang akan terjadi adalah, mewabahnya perzinahan, pelecehan seksual, eksploitasi wanita untuk mendorong laju ekonomi. Semakin lelah mengejar kebahagiaan semu duniawi dan semakin jauh dari ridho Ilahi. Maka, sesungguhnya yang harus diingat seorang muslimah adalah bahwa surga tidak menerima wanita yang tak menutup auratnya dengan sempurna dengan jilbab dan kerudung ketika keluar rumahnya. Jadi jangan tunda lagi untuk menggapai ridho Allah dan surga-Nya. Wallahu a'lam bishawab.

Penulis: Risnawati (Penulis Buku Jurus Jitu Marketing Dakwah)

Lorong Kata - Natuna, kau bagaikan bunga yang sangat mempesona bagi para kumbang hingga tak mampu menahan kedua sayapnya untuk singgah menghampirimu. Kau pun ibarat kembang desa yang sangat menggoda mata kapitalis tampan dan mapan yang melihatnya.

Natuna, perairan kaya yang sedang menjadi perbincangan hangat masyarajat Indonesia. Bagaimana tidak, pesonanya yang sangat menggoda mampu memancing keberanian para negara kapitalis untuk singgah dan mengobok-obok lautnya yang kaya akan sumber daya alam. Siapa yang tahan melihat periran Natuna dengan sumber daya alam yang cukup melimpah, terutama energi. Total produksi minyak dari blok-blok yang berada di Natuna adalah 25.447 barel per hari. Sementara produksi gas bumi tercatat sebesar 489,21 MMSCFD. Natuna bisa jadi lokasi blok gas raksasa terbesar di Indonesia, dengan terdapatnya blok East Natuna yang sudah ditemukan sejak 1973. Berdasar data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), volume gas di blok East Natuna bisa mencapai 222 TCF (triliun kaki kubik). Tapi cadangan terbuktinya hanya 46 TCF, jauh lebih besar dibanding cadangan blok Masela yang 10, 7 TCF. Tapi perlu dicatat, bahwa kandungan karbondioksida di blok tersebut sangat tinggi, bisa mencapai 72%. Sehingga perlu teknologi yang canggih untuk mengurai karbon tersebut. Sementara, untuk cadangan minyak diperkirakan mencapai 36 juta barel. (cnbcindonesia 03/01/2020)

Tak hanya menyimpan potensi migas yang besar, kawasan Laut Natuna juga menyimpan kekayaan perikanan yang berlimpah yaitu ikan pelagis kecil (621,5 ribu ton/tahun), demersal (334,8 ribu ton/tahun), pelagis besar (66,1 ribu ton/tahun), ikan karang (21,7 ribu ton/tahun), udang (11,9 ribu ton/tahun), cumi-cumi (2,7 ribu ton/tahun), hingga lobster (500 ton/tahun). (cnbcindonesia 03/01/2020)

Perairan natuna yang kaya akan sumber daya alam nya membuat China tak mampu menahat hasrat untuk memilikinya. China, negara yang sedang mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan masyarakat Indonesia, akibat penemuan puluhan kapal penangkap ikan milik china yang juga dikawal oleh kapal penjaga dan kapal perang China jenis fregat di Natuna. Direktur Operasi Laut Bakamla, Laksamana Pertama Nursyawal Embun dalam artikel CNNIndonesia 02/01/2020, menuturkan telah berupaya melakukan pengusiran terhadap kapal-kapal china tersebut dari sekitar zona ekslusif ekonomi (ZEE) Indonesia di Natuna sejak 10 desember lalu. Ia menuturkan kapal-kapal China itu sempat menjauh dari perairan Indonesia. Namun, beberapa hari setelahnya kembali memasuki dan mengambil ikan di landas kontinen Indonesia disekitar Natuna. Nursyawal menuturkan pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk mengusir kapal-kapal China itu lantaran mereka dinilai lebih kuat.

Sungguh, ancaman yang sangat serius dilakukan oleh China terhadap wilayah perairan Natuna yang masih termasuk wilayah Indonesia. Bagaimana tidak, sikap China yang sudah sangat keterlaluan bukan hanya mencuri namun juga mengklaim wilayah Natuna sebagai milik China, justru masih dapat membuat pemerintah Indonesia dan China terihat begitu mesra, bahkan respon pemerintah yang santai dalam menanggapi persoalan ini menjadi alasan tak jera nya China dalam mengambil sumber daya alam Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari tanggapan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dianggap yang lembek dalam menyikapi masuknya kapal-kapal China ke wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di perairan Natuna. Menurut Prabowo, pemerintah tak perlu memakai kekerasan menghadapi persoalan klaim China atas Natuna. Ia mengedepankan perundingan yang baik agar tak memecah persahabatan kedua negara. "Kita selesaikan dengan baik ya, bagaimanapun China negara sahabat," ucap dia. (Suara.com 10/01/2020)

Yah, kita semua tahu bahwa China adalah salah satu negara yang memiliki investasi besar dalam pembangunan Indonesia. Tak hanya itu, China merupakan salah satu negara pemberi utang terbesar kepada Indonesia setelah Singapura dan Jepang. China juga merupakan negara pemberi utang terbesar kepada BUMN Indonesia dilansir dalam Bisnis.com (29/03/2019). Sehingga bisa dibayangkan, Jika terjadi konflik antara China dan Indonesia maka sangat jelas pihak China akan memaksa Indonesia untuk melunasi utangnya. Hal ini akan sangat berpengaruh buruk pada stabilitas ekonomi Indonesia. Alhasil, segala cara pun akan dilakukan Indonesia entah menjual aset negara atau malah berutang ke IMF dan berutang lag kepaada negara lain demi membayar utang ke China. Jelas, kesulitan yang dialami Indonesia jika berselisih dengan China. Hal ini membuat Indonesia tak bergeming dalam melindungi kedaulatan NKRI serta menjaga Sumber daya alamnya. Terlebih ketika China sebagai investor dan pemberi utang yang menjadi pemangsa utama sumber daya alam Indonesia.

Investasi dan utang yang berasal dari sistem kapitalisme mampu melumpuhkaan pertahanan militer dalam melindingi wilayah NKRI. Bahkan dengan dalih menjaga agar hubungan kerjasama dapat berjalan dengan baik. Namun, apalah gunanya kerjasama dua negara, jika keuntungan hanya dimiliki oleh salah satu pihak saja. Inikah yang dinamakan NKRI harga mati?, namun tak bernyali ketika investor mengklaim wilayah NKRI, inikah yang dinamakan Pancasila harga mati?, jika telah nyata hingga saat ini tak satupun sila yang terealisasi dan tercapai.

Tak ada perisai terbaik negeri ini selain Islam. Islam telah mengajarkan kesatuan dan persatuan di tengah-tengah kaum Muslim. Karena itu, menjaga kesatuan dan persatuan ini pun hukumnya wajib bagi mereka. Hukum ini pun termasuk perkara yang sudah ma’lûmun min ad-dîn bi ad-dharûrah (diketahui urgensinya dalam ajaran Islam). Inilah mengapa kaum muslimin, khususnya di Indonesia, memerlukan perisai politik yang sejati. Ini demi menjaga jengkal demi jengkal tanah negeri muslim terbesar di dunia ini. Agar negara-negara penjajah kapitalis itu tak seenaknya menciptakan alasan ideologis demi melanggar batas teritorial politik negeri-negeri muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda:
”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll).

Dalam pandangan Islam, pemenuhan kebutuhan rakyat oleh negara dibiayai dari berbagai jenis sumber. Sumber yang utama tentu saja didapatkan dari pengolahan kekayaan sumber daya alam yang terkandung didalam negeri. Kemudian dari pengumpulan zakat, jizyah, ghanimah, kharaj, dan sebagainya. Sumber-sumber tersebut sudah memiliki saluran tersendiri dalam penggunaannya.

Jika kas negara mengalami defisit, bukan hutang pada negara asing yang diambil sebagai jalan keluar, akan tetapi negara berhak memungut pajak hanya kepada warga negara yang memiliki harta kekayaan berlimpah. Dengan demikian, negara tidak harus berhutang pada luar negeri dengan menggadaikan kedaulatan wilayahnya sendiri. Lebih dari itu, marwah negara juga akan lebih tinggi dimata negara asing, sehingga mereka tidak dengan seenaknya meremehkan kekuatan negara kaum muslim.

Hanya syariat islam yang mampu memberikan penjagaan yang baik bagi negara dan memberikan pelayanan terbaik bagi rakyatnya. Wallahu’alam.

Penulis: Wina Amirah

Pergi
Akbar G

Aku harus turun ke sungai
Sebab di jalan raya
Pohon berbaris pikun
Dedaunan lunglai
Dahan punah
Rerumputan tak tumbuh,
Tak berpucuk,
Tak bertunas lagi
Terganti beton pencakar langit
Tak ada wangi semerbak bunga
Hanya aroma kotoran dan sampah menari-nari

Aku harus turun ke sungai
Mensucikan tubuh nanar ini
Menenggelamkan kemarahan
Memuntahkan kebencian
Menikmati angin bersendawa bersama ranting
Mendengarkan anak burung merengek-rengek meminta makan pada induknya

Di sini pula
Aku mendengar sungai bersenandung menyuburkan sawah
Batu menjilati lumut dengan lidahnya
Bunga Vanda Hookerina berteriak mesra ke langit luas

Sinjai, 20/11/2019
Diberdayakan oleh Blogger.