LORONG KATA

Lorong Kata --- "Kuliah yang bener ngger, biar kelak dapat kerjaan yang bener." Begitulah kira-kira ungkapan nenek saya dulu semasa hidupnya menaruh harapan besar pada status sarjana yang mampu membawa pada dunia kerja.

Tapi, apakah yakin setelah gelar sarjana didapatkan bisa langsung kerja?

Belum tentu Ferguso. Gelar sarjana bukan menjadi penentu seseorang mendapatkan pekerjaan. Buktinya, masih banyak tuh yang sarjana tapi statusnya masih pengangguran. Makan Tidur Nonton (MTN).

Loh? Loh? Kok bisa gitu!!! Nggak pernah nonton tv yah... makanya nonton. Setiap tahun berjubel orang yang menyandang gelar sarjana yang pada akhirnya kembali ke kampung halaman stay at home alias nganggur.

Apakah itu artinya pendidikan tidak lagi berguna?

Pendidikan sangat berguna dan sudah seharusnya setiap orang mengenyam pendidikan. Sederhananya, tujuan dari pendidikan adalah mengubah pola pikir menjadi lebih baik tapi, jangan dibalik bahwa pendidikan mengubah status pengangguran menjadi pekerja.

Setiap universitas baik swasta maupun negeri memberikan gelar sarjana kepada setiap alumninya dan setiap tahun universitas melakukan hal ini, dan bahkan ada beberapa universitas yang melakukan acara wisuda tiga kali dalam setahun.

Bisa dibayangkan betapa banyak calon generasi pengangguran yang dilepaskan oleh universitas setiap tahunnya. Menenteng map mondar-mandir di sudut jalan dengan pakaian yang sudah mulai lusuh karena keringat akibat terik matahari.

Apakah ini salah kampus yang tidak mampu menjamin alumninya mendapatkan pekerjaan? #Krikrik, bukan salah kampus. Kampus tidak salah sebab tugas utama kampus adalah mencerdaskan mahasiswanya dan bukan agen pencari kerja apalagi pencetak lapangan pekerjaan. Kampus adalah pencetak 'Akal Sehat' (kata Rocky Gerung).

Jadi, sudah seharusnya dengan gelar sarjana itulah menjadi bukti bahwa dia adalah seorang pemikir yang berpikir menciptakan lapangan pekerjaan untuk dirinya dan untuk orang lain. Ah, sok pintar nih penulisnya. Nyatanya anda juga nganggur.

Tidak bisa dipungkiri saat ini ada orang berkuliah hanya sekedar ingin terlihat keren dengan status sebagai mahasiswa sehingga hanya larut dalam urusan penampilan. Pun dalam urusan menggunakan toga di hari akhir statusnya sebagai mahasiswa hanya untuk selfie semata namun lupa bahwa sebentar lagi dia akan berstatus pengangguran.

Datang ke kampus dengan gaya sosialita dan pulang setelah ber-selfie dengan berbagai bentuk gaya bibir yang sengaja dibuat monyong dan kepala dimiringkan. Setelah pulang pun dilanjut dengan live di media sosial. Belum lagi saat ujian dilalui hanya dengan modal pendekatan persuasif.

Namun, saat ditanya tetang ilmu jurusan yang digelutinya hanya mengetahui nama-nama youtuber terkenal. Setelah lulus baru merasakan sulitnya dunia yang sesungguhnya sebab tantangan yang sebenarnya telah menanti di luar kampus.

Jadi ngger, kuliah itu bukan untuk mencari pekerjaan tapi untuk mengasah pola pikir biar lebih tajam sebab, jika kuliah hanya untuk mengikuti tren maka jangan salahkan jika saya mengatakan bahwa ijazah anda sebagai tanda anda pernah berkuliah dan saatnya anda berstatus pengangguran.

Lorong Kata --- Ada empat perkara yang menyebalkan di dunia ini: ditolak gebetan, ditikung teman, diselingkuhi pacar, dan didatangi teman untuk minjem uang alias ngutang.

Perkara yang terakhir ini lah yang paling sering terjadi dalam kehidupan kita (kita???, kehidupan penulis sendiri maksudnya), sekaligus paling menyebalkan. Ayo sini, mana tuh orang yang suka ngutang, ta ulek ulek jidatmu.

Biasanya, mereka yang datang meminjam uang, jauh hari sebelumnya seminggu mereka telah mempersiapkan segala macam alasan yang paling sensitif dan urgen agar si-pemilik uang berkenan meminjamkannya.

Namun, jika alasan itu ternyata belum cukup ampuh untuk membuat si-empunya uang merelakan uangnya dipinjam, maka si calon peminjam biasanya tidak akan segan-segan bertransformasi menjadi tokoh melankolis, akhirnya sejumlah airmata bercucuran membasahi bumi (eh, pipi atau bumi yah?).

Berbekal alasan yang sudah dipersiapkan dan setetes air mata buaya serta ekspresi memelas itulah membuat pertahanan kita menjadi layu yang berujung pada sejumlah uang yang berpindah tuan.

Awalnya, hati senang karena membantu teman dalam menyelesaikan masalah finansial. Bukankah kita selalu diajarkan untuk saling tolong menolong, terlebih teman telah berjanji mengembalikan dalam waktu yang dijanjikan.

Pertanyaannya, apakah benar seperti itu kisanak?

Nyatanya, tidak semua orang mampu tepat janji. Bagaimana jika ternyata belum memiliki uang? Jika itu masalahnya, maka si-peminjam akan berusaha memahaminya. Tetapi bagaimana kalau ternyata teman hanya berpura-pura pikun atau bahkan berusaha melupakan? Menagih utang tidak seindah meminjamkan segepok uang Ferguso.

Perkara utang adalah perkara yang teramat sensitif. Terlebih lagi jika yang meminjam adalah teman sendiri. Kaki terasa dipasung dan mulut terasa dijahit. Begitu berat melangkahkan kaki dan menagihnya.

Menagih utang ke teman setelah melampaui batas waktu yang telah dijanjikan, nyatanya memang sangat berat. Harus berpikir bagaimana cara menagih yang baik agar tidak menyakiti hati teman dan tetap berteman meskipun telah menagihnya.

Bukankah dalam agama islam diajarkan bahwa, setiap orang yang telah mengutang maka wajib baginya melunasi hutang-hutangnya itu. Jadi, nggak perlu lagi kan harus saya yang menagih.
Nggak malu!!! apa kalian jika harus ditagih juga.

Ustadz saya pernah berpesan bahwa, utang merupakan kewajiban yang harus dibayar, bahkan Allah SWT tidak mengampuni dosa seseorang yang masih memiliki tanggungan utang yang belum dibayarkan atau diikhlaskan oleh yang memberi utang.

Lagipula, apakah kalian mau ta tagih nanti di akhirat? nggak mau kan? makanya bayar utang kamu kisanak. Malu tau kalau harus tagih sendiri. Bayar yah, yah, yah...

Aku Tak Lagi Sama
(Sutratenriawaru)

Aku tak lagi sama kasih
Dulu mungkin aku mendambakanmu
Mungkin dulu aku mencintaimu
Mungkin dulu setiap detiknya hanya namamu yang teriang di kepalaku.

Aku tak lagi sama kasih
Mungkin dulu hariku tak lengkap tanpa sapaan hangatmu
Mungkin dulu hariku tak lengkap tanpa satu lagu darimu
Mungkin dulu hariku tak lengkap tanpa merindukanmu.

Aku tak lagi sama kasih.
Dulu disetiap diksiku aku menulis namamu
Aku mengambarkan sosok laki-laki luar biasa dan pejuang sepertimu..

Aku tak lagi sama kasih.
Dulu tak lengkap rasanya jika tak melihat senyum manis dari bibirmu
Yang dihiasi dengan sedikit kumis tipis
Terlihat gagah dengan lesung pipi yang kau miliki.

Aku tak lagi sama kasih.
Kini setiap kenangan perlahan ku-kubur
Aku memulai semuanya
Bahkan hal-hal yang begitu aku sukai darimu kini telah sirna

Ahh, kurasa aku salah telah mencintaimu
Kesalahanku adalah menyayangimu hingga tanpa sadar aku terjatuh begitu dalam.

Tapi, kini tidak lagi
Semua tentangmu sudah basi bagiku
Aku menyukai diriku yang saat ini
Diriku yang tak lagi mengenalmu
Diriku yang sudah biasa denganmu.

Kasihku yang dulu
Berbahagialah dengan wanitamu saat ini
Terimah kasih telah hadir menyapa pelupuk jiwaku
Dariku yang dulu mencintaimu.

Lorong Kata --- Kisah jomblo jaman now "loe yang dipacarin, gue yang dinikahin" ini adalah senjata paling ampuh untuk kaum jomblowers yang punya niat nikung.

"Ngapain sih pacaran lama-lama? Loe itu cuma jagain jodoh orang"

"Pacaran kok kayak nyicil rumah, lama amat. Emang loe DP berapa?"

"Dari pada pacaran, mending fokus kerja cari duit banyak, kalau duit sudah banyak cewek loe gue lamar"

Gimana??? Familiar nggak dengan kata-kata di atas. Ya, begitulah kira-kira ungkapan kegalauan dari para jomblowers.

"kenapa sih harus bahas-bahas masalah pacaran. Kenapa sih, Darsono? Gue lagi jomblo nih. Jangan memancing emosi dong"

Memang, hubungan seseorang belum tentu akan bertahan lama dengan pasangan yang saat ini dianggap sebagai pacar. Namun, hal itu tidak bisa dijadikan landasan bahwa percuma pacaran, toh nantinya nikah juga dengan yang lain.

Bagi orang-orang yang berpacaran, mungkin saja mereka telah membangun komitmen untuk menjalin hubungan jangka panjang sebelum mereka melangkah ke pelaminan. Toh terbukti masih banyak juga yang berpacaran lama dan berakhir di pelaminan.

Setiap orang memiliki alasan mengapa ia memilih menikah tanpa pacaran dan begitu juga dengan mereka yang berpacaran. Mereka memiliki alasan untuk saling mengenal lebih jauh sebelum melangkah ke pelaminan.

Ingat yah, pernikahan itu sesuatu yang sakral dan sebaiknya sekali seumur hidup. Jangan menikah hanya karena desakan orang lain, tapi, menikah lantaran ada dorongan dalam hati yang sudah siap secara lahir maupun batin.

Sebab, bukan tidak mungkin, banyak pernikahan yang kandas lantaran mereka tidak mampu menyatukan paham akibat pernikahan tanpa perkenalan. Kalau sudah begini, akhirnya banyak hati yang patah oleh mereka yang saat ini berstatus mantan.

Iya kan, iya kan.... jadi, please deh. Nikah itu nggak mesti harus buru-buru, butuh perkenalan sebelum ke pelaminan. Buat yang masih jomblo, hati-hati loh, ntar kamu ketuaan.

Perlu digaris bawahi yah, bawa penulis bukan bermaksud mengkampanyekan pacaran negatif tapi pengenalan lebih jauh sebelum melangkah ke jenjang pernikahan agar kelak tidak lagi ada status mantan diantara kita. Kamu kira putus itu menyenangkan? Menyedihkan!!!

Jadi, tidak perlu lagi skeptis dengan pasangan kamu yang sudah lama menjalin hubungan sebab di luar sana banyak juga yang hubungannya berakhir di kursi pelaminan meski telah menjalin hubungan yang sudah cukup lama. Kecuali kamu, iya kamu... kamu yang masih jomblo.

Toh, kan, pada dasarnya, banyak hal yang bisa dipelajari dari proses pengenalan sebelum ke jenjang pernikahan. Belajar menyelesaikan masalah agar lebih memahami pasangan, belajar mengalah agar hubungan kelak lebih dewasa.

"Nikah aja dulu, kenalannya ntar setelah kamu nikah" logikanya, kenalan setelah nikah, jadi kalau dalam perjalanan perkenalan kalian ternyata tidak mampu menyatukan pendapat. Apa kalian mau dijadikan status 'mantan'.

Kisah setiap orang beragam, Ferguso!!! Setiap orang berhak menjalin kisah sebelum melangkah ke pelaminan. Meskipun jika akhirnya harus bubar karena tidak sepaham. Sebab, lebih baik bubar sekarang daripada bubar setelah nikahan.

Yang terpenting, kenalilah buah sebelum kamu membelinya agar sesampai di rumah kamu tidak lagi menangis dan menyesal sebab rasanya tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan sebelumnya. Dan, Tidak perlu ada yang berperan sebagai antagonis, karena mereka memiliki hak untuk saling mengenal.

Tetapi, teruntuk kalian yang masih berstatus pacaran. Sebaiknya segerakan ke pelaminan karena my lope bisa basi kalau kamu pacarin lama-lama. Dan, kamu yang masih jomblo dan suka nyinyir, berhenti aja deh nyinyir-nya karena mereka yang berpacaran setelah putus belum tentu maunya sama kamu. Putus itu menyakitkan, makanya rasain. (*)

Sumber Gambar: news.detik.com
Sumber Gambar: news.detik.com
Lorong Kata --- Menjelang hari H pemilu pada 17 april 2019. Tensi politik kedua kubu semakin memanas. Mulai dari adu program di forum debat hingga adu hoax di media sosial.

Pada Pilpres 2014 lalu misalnya. Kontestasi politik kala itu dibumbui dengan isu-isu agama dan juga latar belakang pribadi para kandidat yang ternyata mampu mengguncang emosi para milenial.

Lalu bagaimana dengan Pilpres 2019 ini?

Kontestasi politik tahun ini merupakan penyempurnaan dari era 2014 lalu; mulai dari isu-isu agama yang masih terus dimainkan hingga serangan-serangan pribadi ke-para kandidat yang masih saja terus dimainkan.

Beberapa hal yang sangat menggelitik di kontestasi politik tahun ini yang bahkan tidak pantas untuk dipertontonkan yakni munculnya julukan cebong dan kampret, poltik genderuwo dan sontoloyo.

Kedengarannya memang sangat aneh, jika pada umumnya orang Indonesia tidak ingin dipanggil dengan nama hewan. Lain lagi halnya dikontestasi politik tahun ini yang rela menggunakan segala cara demi melancarkan tujuan.

Namun ada yang aneh di Pilpres tahun ini. Kedua kandidat pasangan calon saling memuji dan saling merangkul. Sementara ditempat yang berbeda, lovers kedua kandidat capres/cawapres saling olok.

Tidah hanya saling menghujat, mereka bahkan saling mengusir beramai-ramai. Apakah ini wujud kepanikan atau bagian dari cara mengamankan kantong-kantong suara? hanya mereka yang tau.

Padahal, mereka yang sering saling olok di media sosial belum tentu capresnya nanti jika terpilih masih mengenalinya. Bisa jadi kemesraan sementara ini hanya untuk mengendorse junjungan untuk menaikkan elektabilitas kandidat masing-masing.

Tragisnya lagi, kedua kandidat pasangan capres suka bikin terkecewa. Yang satu suka dengan retorika dengan data ngawur sementara satunya lagi suka bikin kebijakan yang ajaib.

Uniknya lagi, tingkah ajaib mereka ini membuat paskam (pasukan kampanye) pontang panting mencari kata yang tepat untuk ngeles sebab mungkin mengakui kesalahan junjungan adalah dosa.

Sehingga, tidak heran jika kontestasi politik tahun ini dimonopoli oleh penyebaran hoax dan ujaran kebencian. Maka tidak heran jika kemudian muncul jargon saring sebelum sharing.

Namun, ditengah kesibukan berkampanye mengumpulkan sebanyak mungkin kantong-kantong suara, apakah mereka telah mempersiapkan mental legowo menerima kekalahan?

Tetapi bahwa siapapun Presidennya kelak Indonesia harus tetap lebih baik dan semua simpatisan yang hari ini masih saling olok agar berhenti dan bersaudara-lah sebab siapapun Presiden, maka cicilanmu tetap kau yang harus bayar dan siapapun Presiden, kita harus tetap bersatu dan bingkai ke-bhinekaan.

Cinta Berubah Luka
Kasmirullah

Kau dan aku pernah menjadi kita
Namun cinta berubah jadi luka
Janji setia telah kau lupa

Air mata kau jadikan pemuas dahaga
Harapan kau gubah menjadi rongsokan tak berguna
Mimpi tidak akan lagi menjadi nyata

Kini aku benar-benar harus melupa
Meski kau selalu terbayang di pelupuk mata
Meski rindu semakin menggila

Hasrat tidak pernah berhenti mendera
Memaksaku terus berlari mengejar asa
Tapi aku memilih diam dan tak berbuat apa-apa

Aku sudah lelah mengembara
Aku ingin tetap di sini selamanya
Menjalani hidup yang biasa-biasa saja

Meneguk duka yang kau sajikan dalam cangkir penuh warana
Menikmati setiap siang yang tak bercahaya
Mengenang semua cerita tentang kita

Dengan hati yang hampa
Aku menikmati indah bintang kejora
Untuk menenangkan jiwa yang sedang lara.
Powered by Blogger.