LORONG KATA

Lorong Kata --- Setelah melewati panasnya pertarungan pilpres 2019, akhirnya, Joko widodo dan Prabowo Subianto bertemu pertama kalinya. Keduanya bertemu di stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (13/07/2019). (Kompas.com). Pertemuan itu seakan telah menghapus perseteruan dalam pilpres 2019. Setelah melewati pemilu yang tidak hanya berhenti pada putusan KPU saja, namun pemilu kian memanas dengan pengajuan kepada MK sampai menginginkan bala bantuan dari peradilan Internasional. Tak hanya itu, berbagai kejadian pasca pemilu seperti meninggalnya ratusan petugas KPPS, kerusuhan 22 Mei hingga putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak seluruh gugatan Prabowo-Sandi terkait dugaan kecurangan dalam pemilu.

Pertemuan tersebut telah menuai kekecewaan berbagai pihak. Terutama bagi para pendukung kubu Prabowo-Sandi. “ Saya sangat kecewa dengan pak Prabowo bertemu dengan presiden yang dimenangkan dengan kecurangan, anggap bapak sebagai lambang perjuangan yang kuat, eh ternyata mengecewakan pendukungnya” kata Ecie Djoewito, salah satu pendukung prabowo-Sandi.

Pakar Media Sosial dan juga pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi menemukan sebanyak 97.900 orang atau 36 persen yang memberikan sentimen negatif ketika Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi), Sabtu (13/7/2019) kemarin. Bahkan, banyak dari mereka yang kecewa melihat sikap Ketua Umum Partai Gerindra itu yang memilih bertemu Jokowi. Salah satu bentuk kekecewaan mereka terhadap Prabowo, sekitar 2.450 warganet membuat gerakan tagar #Kecewa, #Kamioposisi 1525 twit, dan #BoikotPrabowo sebanyak 1184 twit.

Kekecewaan juga dilontarkan oleh pelaksana tugas ketua PA 212, Asep Syarifudin yang menilai pertemuan tersebut merupakan bentuk pengkhianatan Prabowo, Ia menjelaskan, PA 212 dan sejumlah ulama pada Pilpres 2019 mendukung Prabowo – Sandiaga Uno karena dinilai bisa membela dan mengakomodasi kepentingan mereka. Sementara Jokowi, diidentifikasi oleh PA 212 dan kelompok semacamnya sebagai sosok yang anti-Ulama.

"Jadi, kalau Prabowo berkomunikasi (dengan Jokowi), menurut saya ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap aspirasi umat dan rakyat," ungkap Asep. (Suara.com)

Sejak dahulu praktek politik demokrasi-kapitalistik menggunakan pakem : “Tak ada lawan dan kawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi”. Begitulah persoalan Negeri ini yang begitu kompleks tapi tidak ada satupun yang benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat, malainkan hanya memperkuat kepentingannya.

Memang, hal ini akan terus terjadi di sistem demokrasi saat ini. Dimana kekuasaan tak lagi bertujuan demi kepentingan dan kemaslahatan umat, tapi sekedar  bertujuan untuk meraih kepentingan kelompok, partai dan tentu saja sponsor. Seperti yang kita ketahui ketika suatu partai politik  menduduki kursi kekuasaan tentu didukung oleh para sponsor yakni pengusaha dibelakannya, maka tak heran ketika mereka memegang dan mengatur kekuasaan maka kebijakan yang dibuat hanya demi kepentingan pribadi, partai dan sponsor.

Maka sudah saatnya umat berhenti berharap pada demokrasi karena demokrasi hanya menjadikan umat Islam dan isu-isu Islam sebagai kuda tunggangan para pemburu kekuasaan. Lantas apa agenda umat selanjutnya? Apakah perjuangan umat harus kandas di tengah jalan? Atau menunggu datang pemilu mendatang? Atau mencampakkan demokrasi? Dan memperjuangkan tegaknya Islam sesuai metode Rasulullah saw?

Yakinlah kaum Muslimin, Demokrasi memang tak didesain untuk perubahan. Masuk ke dalam demokrasi seperti menjebur ke dalam kolam. Sebagaimana kata Mahfud MD: Malaikat pun jika masuk ke dalam sistem demokrasi bisa menjadi iblis. Jika umat tak ingin kecewa untuk kesekian kalinya, maka jadikanlah Rasulullah saw sebagai teladan dalam berjuang. Menjadikan Islam sebagai ideologi dan menggalang dukungan tokoh umat khususnya para pemilik kekuatan untuk menerapkan Islam secara totalitas.

Marilah berkaca pada kisah pembesar Quraisy menawarkan Rekonsiliasi pada Rasulullah SAW. Melalui Abu Thalib, Mereka menawarkan Wanita, Harta, dan Tahta pada Rasulullah. Sebagai imbalan agar berhenti memperjuangkan Islam. Tak perlu waktu lama bagi Rasul untuk menimbang. Beliau langsung menjawab;

"Andai mereka bisa meletakkan Matahari di Tangan kananku dan Bulan di Tangan kiriku, demi Allah aku tidak akan berhenti dari urusan ini, sampai Allah memenangkanku, atau aku Binasa karenanya"

Itulah yang disampaikan oleh Rasulullah saw ketika kafir Quraisy mengajak untuk rekonsiliasi melalui Abu Thalib. Agar berhenti memperjuangkan Islam dengan menawarkan harta, tahta dan wanita. Dalam hal ini penting untuk bersabar dan konsisten dalam perjuangan menegakkan Islam. Umat Islam lanjutkan perjuangan. Allahu Akbar.

Penulis: St. Nurwahyu

Lorong Kata --- Angka kemiskinan di Indonesia semakin sulit diturunkan. Kesulitan ini diakui oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution. Dikutip dari laman viva.co.id(15/7/2019), "Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, menjelaskan tingkat kemiskinan saat ini yang telah menyentuh angka 9,41 persen atau tersisa 25,41 juta jiwa akan semakin sulit diturunkan karena kemiskinan yang tersisa merupakan penduduk dengan penghasilan terendah

Sistem Kapitalisme Penyebab Kemiskinan

Di tahun 2018, pemerintahan Jokowi mengklaim telah terjadi penurunan angka kemiskinan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) saat itu menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia turun dari 10,12 persen pada Maret 2017 menjadi 9,82 persen pada Maret 2018. Klaim Penurunan tersebut dengan perhitungan bahwa orang miskin adalah mereka yang memiliki pendapatan Rp11.000 per hari per orang. Padahal menurut bank dunia, seseorang terkategori miskin jika pendapatannya 2 dolar/hri atau setara Rp26.000/hari (dengan perhitungan 1 dolar=Rp13.000). Tentu klaim penurunan ini menjadi terlalu dipaksakan. Karena jika standar perhitungan kemiskinan itu yang tadinya Rp26.000/hari menjadi Rp11.000/hari maka tentu secara otomatis angka kemiskinan menurun. Pada realitasnya, tentu tidak seperti hitung-hitungan tersebut. Di tengah makin naiknya harga-harga kebutuhan pokok masyarakat, dipastikan angka kemiskinan pun akan semakin naik

Dalam sistem ekonomi kapitalisme, penentuan kategori miskin memang menyalahi realitas. Syekh Taqiyuddin An Nabhani dalam nidzomul iqtishody fi Islam menyatakan bahwa "ekonomi dalam pandangan kapitalis bukan dibentuk dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan secara individual dan mencukupi kebutuhan masing-masing orang secara menyeluruh. Ekonomi mereka terfokus pada barang-barang yang dapat mencukupi kebutuhan mereka secara umum, yakni memenuhi kebutuhan mereka secara kolektif". Dengan pandangan seperti ini, maka mudah saja bagi pemerintah untuk melakukan perubahan angka naik turunnya kemiskinan.

Menyelesaikan Problem Kemiskinan

Untuk bisa menyelesaikan problem kemiskinan, tentu harus ada definisi yang jelas, dan benar sesuai realitas tentang apa itu kemiskinan. Dengan definisi yang jelas, maka langkah-langkah yang akan diambil untuk mengentaskan kemiskinan pun akan bisa dilakukan dengan benar dan tidak menyalahi realitas sesungguhnya. Islam sebagai salah satu sistem hidup, mempunyai definisi yang jelas sekaligus mekanisme yang benar dalam mennyelesaikan problem kemiskinan. Dalam Islam, kemiskinan tidak dinilai dari besar pengeluaran atau pendapatan, tetapi dari pemenuhan kebutuhan asasiyah (pokok) secara perorangan. Dengan begitu, maka politik ekonomi dalam Islam adalah bagaimana negara bisa memberikan jaminan kepada setiap warga negaranya agar dapat memenuhi kebutuhan pokoknya individu per individu.

Adapun mekanisme pengentasan kemiskinan adalah sebagai berikut;

Pertama: Secara individual, Allah SWT memerintahkan setiap Muslim yang mampu untuk bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 233). Rasulullah saw. juga bersabda:

Mencari rezeki yang halal adalah salah satu kewajiban di antara kewajiban yang lain (HR ath-Thabarani).

Kedua: Secara jama’i (kolektif) Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk saling memperhatikan saudaranya yang kekurangan dan membutuhkan pertolongan. Rasulullah saw. bersabda:"Tidaklah beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal ia tahu"(HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).

Ketiga: Allah SWT memerintahkan penguasa untuk bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya, termasuk tentu menjamin kebutuhan pokok mereka. Rasulullah saw. bersabda: 'Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Penulis: Ummu Salman

Lorong Kata --- Tabir kemenangan islam akan segera tersingkap. Cahaya islam akan menerangi seluruh penjuru dunia dengan cahaya kemuliaannya. Sampai tiada satu rumah pun tanpa cahaya islam didalamnya, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw:

“Agama islam ini akan menjangkau semua lokasi yang terjangkau oleh siang dan malam, dan tidaklah Allah membiarkan satu rumah pun di kota maupun desa atau pelosok, kecuali Allah memasukkan agama ini dengan kemuliaan yang menjadikan mulia atau dengan kehinaan yang menjadikan hina. Dengan kemuliaan Allah memuliakan islam dan dengan kehinaan Allah menghinakan kekufuran.”

Janji Allah akan kemenangan islam adalah pasti. Bahkan jauh sebelum islam menguasai 2/3 belahan bumi, Allah sudah menjajikan akan datangnya kemenangan islam. Ini bisa dilihat dari banyaknya dalil Al-Quran serta hadist nabi yang menggambarkan akan datangnya kemenangan islam di muka bumi.

Allah swt berfirman :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka telah menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”.(QS. An-Nur: 54: 55)

Akan datangnya kemenangan islam juga digambarkan dari hadist nabi berikut:

Rasulullah saw bersabda “ Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku...” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi)

Walaupun musuh islam berusaha memadamkan cahaya islam namun Allah tidak akan pernah membiarkan cahaya islam itu padam dan janji kemenangan islam akan terangkul oleh umat muslim.

Allah swt berfirman :

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaff: 61: 8)

Dalam ayat lain, Allah swt menegaskan pula :

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya”. (QS. At-Taubah: 9: 32)

Maka tiadalah orang-orang yang meragukan janji Allah kecuali orang-orang yang fasik. Dan bagi umat islam yang meyakini janji Allah, tidaklah betah kedua kakinya untuk segera menjemput kemenangan islam yang telah dijanjikan.

Janji kemenangan islam akan segera tiba. Bagi umat islam saatnya berlomba untuk meraihnya dan bersiap menjadi generasi penakluk selanjutnya. Menjadi generasi terdepan yang menyingkap tabir kemenangan islam. Menjadi generasi mulia dalam mengusung kemenangan islam. Menorehkan tinta emas selanjutnya sebagai generasi Al Fatih, sang penakluk kota Konstatinopel. Menjadi generasi mulia, generasi the next Al Fatih.

Siapa generasi the next Al Fatih itu?

Generasi the next Al Fatih adalah KITA para generasi muda. Generasi as-syabb (pemuda) yang darahnya telah mengalir darah para syuhadah, yang rela mati demi kemenangan islam. Generasi the next Al Fatih adalah singa-singa Allah yang siap menerkam musuh yang menghadang datangnya kemenangan islam. Pemuda yang akan rela menggenggam matahari sekalipun sampai kemenangan islam telah tergenggam ditangannya. Pemuda yang dibenaknya hanya ada kemenangan islam. Pemuda itu adalah kita, generasi the next Al Fatih.

Generasi Al Fatih bukan pemuda yang hanya duduk manis dengan popcorn sambil engkang-engkang kaki menikmati film action. Generasi Al Fatih adalah mereka yang langsung action dalam laga, bukan sekedar menjadi penonton. Namun bukan action dilayar lebar. Tapi generasi the next Al Fatih adalah generasi yang siap action dan berlaga didunia nyata untuk meraih kemenangan islam.

Generasi Al Fatih bukan pula generasi yang sibuk memikirkan bagaimana menggandeng kekasihnya ke acara reunian, bukan juga generasi yang sibuk dengan galaunya karena kekasihnya tak mau diajak. Tapi generasi the next Al Fatih adalah mereka yang sibuk memikirkan bagaimana menggandeng sahabatnya untuk meraih kemenangan islam. Mereka sibuk mencari kontakan, yang akan diajak ke majelis-majelis ilmu sebagai langkah awal menuju kemenangan islam.

Generasi the next Al Fatih bukan pula generasi yang hanya sibuk dengan aktivitas perkuliahannya dikampus, atau sibuk dengan tugas-tugas kampusnya tapi mereka juga sibuk dengan aktivitas dakwahnya dikampus. Sibuk memikirkan bagaimana menjadikan kampusnya sebagai pusat dakwah untuk menyebarluaskan pemikiran islam.

Namun, generasi the next Al Fatih hanya khayal untuk kondisi pemuda hari ini. Pemuda yang hanya sibuk menunggu jadwal pemutaran film action yang disukainya tayang. Pemuda yang hanya sibuk memikirkan kekasihnya agar mau diajak, sibuk dengan tugas-tugas kampus yang banyak menumpuk. Pemuda yang hanya sibuk memikirkan pribadinya, tanpa pernah memikirkan bagaimana meraih kemenangan islam.

Ada apa dengan generasi the next Al Fatih?

Generasi pemuda yang seharusnya menjadi generasi the next Al Fatih dilenakan oleh dunia. Mereka bahkan takut menjadikan islam sebagai bahan pembicaraan mereka. Cinta dunia bahkan takut mati. Hal inilah yang Rasulullah saw takutkan, sebagaimana hadist nabi saw:

“Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya:” Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” “Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahn.” Seseorang bertanya: “Ya Rasulullah, apakah Al-Wahn itu? ”Nabi saw bersabda: “Cinta dunia dan takut kematian.” (HR. Abu Dawud: 3745)

Generasi pemuda saat ini tak mampu tampil layaknya para generasi-generasi islam masa kekhilafahan yang selalu berada digarda terdepan membela islam, apalagi mengusung kemenangan islam. Lagi-lagi mengapa? Kesalahannya terletak pada tiga hal.

Pertama, kekeliruan proses mendapatkan keimanan, dimana rata-rata kaum muslim hari ini beriman karena faktor keberuntungan yakni secara kebetulan lahir dari seorang muslimah. Begitu pula dengan para generasi muda islam hari ini. Mereka berislam hanya karena faktor keberuntungan, mereka dilahirkan dalam keluarga muslim. Berislam bukan karena ia mantap memilih islam. berislam bukan sebab yakin akan islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi Allah, sebagai agama yang sempurna. Sehingga pemuda hari ini banyak yang mengabaikan islam apalagi meyakini dan ingin menjadi generasi the next Al Fatih yang akan mengusung kemenangan islam.

Kedua, runtuhnya Khilafah Islamiyah. Dimasa pemerintahan islam dalam naungan khilafah islamiyah, para pemuda hadir sebagai generasi terdepan dalam memperjuangkan islam agar tetap menjadi peradaban yang diagungkan. Lihat saja bagaimana Muhammad Al Fatih pada masa kekhilafahan Turki Utsmani dengan karya besarnya sebagai penakluk kota Konstatinopel. Sebab dalam pemuda pada masa khilafah banyak dibekali ilmu dan mental yang bersih. Mereka jauh dari kehidupan hura-hura apalagi hedonis. Namun setelah khilafah runtuh, pemuda seakan kehilangan jati dirinya sebagai the next generasi Al Fatih yang seharusnya mereka emban.

Ketiga, sekularisme. Setelah runtuhnya masa kekhilafahan Turki Utsmani oleh Kemal At Tatur laknatullah, umat muslim bagai anak ayam kehilangan induknya. Tiada lagi pelindung yang mampu melindungi umat khususnya para pemuda sebagai generasi penerus. Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan semakin membabi buta dikalangan umat muslim, terlebih dikalangan pemuda. Karena itulah generasi pemuda saat ini tak mampu tampil layaknya para generasi-generasi islam masa kekhilafahan.

Namun, bagi kita generasi pemuda yang masih punya mimpi untuk menjadi generasi the next Al Fatih masih ada harapan. Langkah kita ditunggu oleh para pemuda diluar sana untuk merangkul dan menggandeng mereka untuk meraih kemenangan islam yang dijanjikan. Maka tetaplah menjadi pengusung kemenangan islam, jadilah pemuda yang menggandeng mereka meraih kemenangan itu. Sebab kita adalah generasi the next Al Fatih.

Penulis: As Sa'diyah

Lorong Kata --- Penolakan Mahkamah Agung (MA) atas peninjauan kembali (PK)yang di ajukan Baiq Nuril Makmun, Nusa Tenggara Barat(NTB), Indonesia menjadi sorotan media-media internasional, penolakan PK itu membuat Baiq tetap menjalani hukuman penjara.

Baiq adalah terpidana kasus pelanggaran undang-undang informasi dan transaksi elektronik (ITE). Ditolaknya PK oleh MA, membuat mantan guru honorer di SMAN 7 Mataram itu tetap menjalani hukuman 6 bulan penjara dan denda 500 juta rupiah subsider 3 bulan kurungan sesuai putusan kasasi MA. Kasusnya menjadi ironi hukum di Indonesia. Kasus ini bermula ketika dia merekam percakapan telepon dengan kepala sekolah yang jadi atasannya saat dia menjadi guru. Rekaman itu untuk membuktikan bahwa bosnya melecehkannya secara seksual. Namun, Baiq justru dilaporkan ke polisi pada 2015 atas tuduhan pelanggaran UU ITE.

Rekaman telepon itu kemudian menyebar di antara staf di sekolah dan akhirnya diserahkan kepada Kepala Dinas Pendidikan setempat. Rekaman juga viral di media sosial. Sedih rasanya kita melihat fenomena hukum yang ada di negara kita ini. Hukum yang seharusnya dijadikan sebagai penegak keadilan bagi siapa saja yang tidak bersalah tapi malah sebaliknya hukum malah berpihak kepada yang bersalah. Yang seharusnya mereka dibela dan dilindungi malah di hukum untuk sesuatu yang tidak dia lakukan.

Bukankah negara kita ini adalah negara demokrasi, negara hukum yang berpihak pada rakyat? memikirkan kepentingan mereka, tapi pada faktanya semua itu hanyalah slogan belaka. Sudah menjadi rahasia umum, di negara kita ini uang dan jabatan seseorang bisa menentukan hasil akhir dari suatu perkara. Siapa yang mampu membayar dan punya kuasa merekalah yang akan diuntungkan. Seolah-olah uang dan jabatan adalah segala-galanya.

Bagaimana tidak, kejadian yang dialami mantan guru honorer di SMAN 7 Mataram adalah salah satu contoh ketidakadilan yang ada di negeri ini. Hanya karena jabatan dia adalah guru honorer yang gajinya tidaklah banyak untuk membantu perekonomian keluarganya. Maka kelakuan hukum yang diberikan kepadanya pun tidak sesuai. Seharusnya sebagai negara yang memiliki rasa keadilan. Hukum tidaklah berat sebelah bukankah keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia yang salah seharusnya diputus salah dan yang benar seharusnya diputus benar.

Baiq hanyalah seorang korban yang meminta keadilan untuk kejahatan yang dilakukan padanya, seharusnya diberikan pembelaan. Tapi malah sebaliknya bukan keadilan maupun perlindungan yang diberikan tapi malah dipenjarakan. Meskipun sudah ada bukti rekaman tetapi tetap saja tidak bisa memberikan pembelaan kepadanya, malah memberatkannya. Sehingga harus dipenjara dan dikenakan denda dengan kasus kejahatan pelanggaran yang seharusnya bukti itulah sudah cukup untuk menjerat pelaku kejahatan yang notabene adalah atasannya untuk masuk penjara bukan malah sebaliknya.

Kondisi ini tidak terjadi begitu saja adanya sistem demokrasi di negeri ini yang menempatkan manusia berada dalam posisi yang setara dengan Tuhan. Dalam sistem ini manusia memiliki hak untuk membuat hukum dan menentukan halal haram. Suara mayoritas itulah yang diambil. Tidak memperdulikan keputusan itu bertentangan dengan hukum Allah ataukah tidak. Yang salah bisa divonis benar dan benar bisa di vonis salah.

Tidak ketinggalan pula sekularisme yang menempatkan agama hanya berada di masjid-masjid, gereja,dsb. Agama hanya berlaku di wilayah tertentu, sementara di luar itu, seperti di bidang ekonom, politik, sosial, budaya termasuk hukum dan persanksian agama di campakkan. Ketika berada di wilayah publik, ketakwaan pun lenyap. Maka sudah sewajarnyalah jika sering kita jumpai aparat penegak hukumnya memiliki mental kurang terpuji.

Maka tidak heran jika hukum di negeri ini cenderung tumpul ke atas dan tajam kebawah. Untuk kejahatan yang kecil cenderung di hukum berat dan untuk hukuman besar cenderung ringan. Sehingga rakyat kecillah yang di rugikan. Islam memiliki keistimewaan hukum yang patut dibanggakan. Karena dalam Islam yang berhak membuat hukum bukankah manusia tetapi hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bagaimana mungkin manusia yang sifatnya lemah dan memiliki keterbatasan diberikan hak untuk membuat hukum. Pasti hasilnya akan sesuai dengan keinginan mereka. Di dalam Islam hukum jauh dari subyektivitas manusia baik, buruk, terpuji, tercela halal-haram tidak bisa di kuasai oleh kepentingan manusia, dengan demikian hukum Islam berada di atas semua pihak yaitu keadilan sejati.

Standar hukum dalam Islampun jelas yakni Alquran dan Assunah. Hal ini meniscayakan hukum Islam bersifat tetap, konsisten, dan tidak berubah-ubah, sebab Alquran dan Assunah adalah tetap, tidak akan berubah hingga hari kiamat. Hukum Islampun diturunkan Allah untuk kebaikan manusia, menyelesaikan persoalan manusia. Allah juga menegaskan bahwa risalah Islam di peruntukkan bagi seluruh manusia dan agar menjadi rahmat serta kebaikan bagi mereka, baik mualim maupun non muslim. (Qs21.107). Hukum Islampun berlaku bagi pejabat atau rakyat dan semua lapisan masyarakat dengan begitu keadilanpun akan tercipta di dalam negara, jadi hanya hukum Islamlah satu satunya solusi bagi setiap permasalahan umat manusia. Hukum Islam yang datangnya dari allah swt, Tuhan pencipta alam semesta. Wallahualam bisshawab.

Penulis: Siti Mundayanah (Pemerhati Umat)

Lorong Kata --- Pemilihan Presiden serta Wakil Presiden telah usai, Indonesia pun telah memiliki Presiden dan Wakil Presiden untuk 5 tahun ke depan dengan memberi mandat kepada pasangan Jokowi-Ma'ruf menjalankan roda pemerintahan. Namun publik kembali dikejutkan dengan adanya pertemuan Prabowo dan Jokowi yang dilakukan Di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta pada hari Sabtu (13/7).

Seperti dilansir dalam cnnindonesia.com, pertemuan tersebut mendapat komentar dari pakar hukum tata negara, menurut Refly Harun memaknai pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Prabowo bahwa tak ada makan siang gratis. Ia menyebut pertemuan yang dilihat publik itu hanya 'panggung depan'. Dari panggung depan itu orang bisa memaknai pertemuan Jokowi dan Prabowo untuk menyelesaikan 'pertarungan' dua kubu berikut pendukung nya. Sedangkan panggung belakangnya, menurut Refly, bisa digambarkan dengan istilah 'no free lunch' atau 'tidak ada makan siang gratis'.

Refly menambahkan bahwa negosiasi diantara Jokowi dan Prabowo mungkin sudah terjadi sebelum pertemuan itu. Lalu setelah pertemuan, akan dilakukan negosiasi-negosiasi lanjutan. Ada banyak hal yang bisa dinegosiasikan. Dari hal-hal paling mendasar terkait kepentingan nasional, hingga mungkin hal-hal yang tak terkait dengan itu. Bahkan menurut Refly menjelaskan negosiasi itu mungkin bisa dimaknai sebagai hal yang normal dalam proses rekonsiliasi kali ini. Terlebih, setelah bertarung cukup keras di Pilpres 2019 baik kontestan dan pendukungnya membutuhkan pemulihan secara moril maupun materil.

Pertemuan Jokowi dan Prabowo mengejutkan masyarakat lantaran sebelumnya dua orang putra bangsa ini bertarung dalam kancah pemilu, atmosfer pertarungan dua kubu tersebut dalam pemilu 2019 dinilai tidak biasa dimulai dari sebelum pemilu, saat pemilu berlangsung bahkan setelah pemilu. Gelora suara masyarakat ikut mengaum dalam Pilpres tahun ini ditambah suara ulama yang dengan lantang menginginkan adanya perubahan serta menginginkan rezim berganti untuk periode selanjutnya.

Hanya saja walaupun perjuangan tengah dikobarkan hingga menelan korban pada tragedi 21-22 Mei kemarin, nyatanya perubahan yang mereka harapkan tak kunjung mereka dapatkan. Yang semakin menyakitkan ketika harapan mereka letakkan di pundak seorang Prabowo sebagai lawan dari rezim petahana justru tersenyum manis sambil mengucapkan selamat atas kemenangan rezim petahana.

Perjuangan rakyat yang menginginkan sebuah perubahan hingga di meja Mahkamah Konstitusi seolah pupus dalam kekecewaan melihat tokoh yang diharapkan dapat melakukan perubahan mulai merubah arah perjuangan hingga tak lagi menghiraukan kecurangan yang selama ini menghiasi Pilpres 2019. Bukan tidak menginginkan persatuan antar sesama warga Indonesia, namun bagaimana suara rakyat yang tidak lagi menginginkan rezim petahana berkuasa kembali? Apa mereka harus bersabar untuk 5 tahun lagi?

Benar, Ketika perjuangan tidak didasarkan aqidah dan tidak berpedoman kepada syariah, maka amat mudah berubah arah, menjilat ludah, membenarkan yang salah, bahkan mengingkari dan mengkhianati janjinya sendiri.

Inilah tabiat dari sistem rusak yang diterapkan negeri ini, sistem sekuler yang lahir dari akal manusia yang lemah serta memperturutkan hawa nafsu dalam membuat berbagai kebijakan sehingga bukan keinginan rakyat yang akan dimenangkan namun kepentingan para kapitalis yang bermain dibelakang sistem ini yang lebih diutamakan. Demokrasi merupakan anak kandung dari sistem sekuler. Demokrasi merupakan ideologi transnasional yang mengajarkan nilai antroposentrisme, dimana manusia dianggap sebagi 'Tuhan' yang berhak membuat hukum. Sementara Tuhan dan Agama disingkirkan ikut campur dalam membuat hukum. Demokrasi sekuler memisahkan antara nilai agama dengan kehidupan.

Sistem yang terus dipasarkan oleh orang-orang kafir ditengah kaum muslim melalui upaya penyesatan (tadhlil), bahwa demokrasi merupakan alat untuk memilih penguasa. Tujuan dari upaya tersebut yakni memberikan gambaran kepada kaum Muslim, yakni seakan-akan perkara yang paling mendasar dalam demokrasi adalah pemilihan penguasa. Karena kaum Muslim saat ini sedang ditimpa penindasan, kedzoliman, pembungkaman, ketidaksejahteraan, ketidakadilan serta tindakan represif penguasa. Sehingga orang-orang kafir dapat dengan mudah memasarkan demokrasi sebagai aktivitas memilih penguasa. Sejatinya hal yang paling dasar dalam demokrasi yakni menjadikan kewenangan membuat hukum ada ditangan manusia, bukan di tangan Tuhan manusia.

Kaum Muslim berhasil mereka sibukkan dengan aktivitas pemilihan penguasa sehingga melupakan bahkan tidak menyadari akar permasalahan yang membuat hidup mereka jauh dari sejahtera.

Sehingga, dalam sistem sekuler demokrasi mengharapkan sebuah perubahan menjadi negeri yang lebih baik, maju,berdaulat, unggul serta mampu bersaing dengan negara-negara lainnya ialah hal yang sulit bahkan mustahil diwujudkan. Takkan lahir kesejahteraan, keadilan, kemakmuran, keberkahan bagi seluruh umat manusia dalam negara yang menerapkan sistem rusak yang jauh dari aturan pencipta manusia. Takkan didengar solusi-solusi yang diberikan oleh rakyat jika bernafaskan pada hukum-hukum Islam. Sekalipun mayoritas masyarakat dalam negeri ini beragama Islam.

Seharusnya kaum muslim belajar dari peristiwa politik yang menimpa saudara-saudara yang lain seperti Presiden Muhammad Mursi di Mesir, FIS di Aljazair, Hamas di Palestina. Bahwa perjuangan untuk Islam dengan jalan masuk dalam sistem sekuler demokrasi tak dapat melakukan sebuah perubahan.

Kaum Muslim seharusnya dapat mengambil jalan yang telah di contohkan oleh Rasulullah SAW dalam mewujudkan sebuah perubahan menuju negara yang maju, berdaulat, diberkahi serta mampu bersaing dengan negara lainya. Sistem Islam yang memiliki solusi-solusi lengkap terhadap permasalahan hidup manusia terbukti dapat memberikan kesejahteraan, kemakmuran, keadilan, keamanan dan sebagainya. Mampu bertahan hingga lebih dari 13 abad menaungi 2/3 dunia dengan Rahmat Islam. Dalam Sistem Islam pemilihan pemimpin diserahkan kepada rakyat karena rakyat sangat diberikan haknya untuk memilih pemimpin yang ia inginkan selama memenuhi syarat-syarat pemimpin dalam Islam.

Tentu untuk menerapkan kembali sistem yang paripurna ini tidak dapat dengan jalan atau metode buah pikir akal manusia. Tak ada cara lain saat ini yang harus dilakukan para perindu perubahan selain berdakwah dengan hikmah, dengan hujjah yang jelas serta argumentasi yang kuat. Menyadarkan kepada masyarakat akan bobroknya sistem saat ini dan menyampaikan bahwa kita dapat bangkit dari keterpurukan kondisi sekarang dengan mengambil Sistem Islam dalam menjalani kehidupan.

Penulis: Dina Evalina (Aktivis Dakwah).

Lorong Kata --- Lagi, para orang tua siswa/siswi penerimaan peserta didik baru (PPDB), pada tahun ajaran 2019/2020 dikagetkan dengan sistem zonasi sekolah.

Pasalnya, Sistem zonasi yang diterapkan pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Bertujuan untuk menciptakan pemerataan dan meniadakan konsep sekolah favorit. Sehingga, tidak ada lagi sekat antara sekolah biasa dan sekolah favorit.

Penerimaan siswa baru yang mengacu pada sistem zonasi, menjadi perbincangan masyarakat luas. Sistem ini pun banyak menuai pro dan kontra. Karena, dinilai membatasi siswa berprestasi untuk mendapatkan sekolah favorit yang diinginkannya.

Kekecewaan pun muncul dari berbagai pihak, termasuk yang dirasakan oleh murid yang satu ini. Kecewa karena tidak diterima di sekolah SMP N 1 Kajen, Yumna (12) siswa berprestasi dari lulusan SDN Pekeringanalit 02 membakar belasan piagam penghargaannya pada Minggu (23/06/2019) lalu dan aksi ini viral di sosial media (Tribunsolo.com, 27/06/2019).

Senada dengan ungkapan Ronny (Dosen PTS) "sekarang ini SMAN di Surabaya hanya memiliki daya tampung 1505 siswa untuk kuota nilai UN 20% dan 3611 siswa untuk kuota zonasi. Artinya, ada 1131 calon siswa bernilai tinggi yang tidak diterima di SMA Negeri. Berdasarkan data yang dikumpulkan diseluruh Surabaya ada 2369 siswa lulusan SMP yang hasil UN mereka tinggi dengan rata-rata di atas 86(Radar Surabaya jawapos.com,18/06/2019).

Disamping itu, ada juga kalangan yang pro dengan sistem zonasi ini. seperti yang diungkapkan oleh Rachmat Hidayat dalam Forum Grup Discussion (FGD) yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Jember di gedung FKIP, Senin (24/6/2019), "Pasti mereka (sekolah favorit) menjadi sekolah terbaik karena yang daftar dan masuk di sana adalah siswa-siswa terbaik dari sekolah sebelumnya," (detiknews.com).

Namun, sangat disayangkan. Ada segelintir orang tua calon siswa PPDB yang berani berlaku curang. Hanya karena ingin memasukkan anaknya disekolah yang diinginkannya.

Dilansir Republika.co.id, Penjabat Gubernur Jabar M Iriawan menyatakan pihaknya akan menindak tegas pelaku yang terlibat dalam kecurangan penerimaan peserta didik baru (PPDB) Tahun Ajaran 2018 di wilayah Jabar. Seperti memperjualbelikan kursi kepada orang tua calon murid baru. "Pasti lah (akan menindak tegas pelaku kecurangan PPDB), kita akan memberikan sanksi karena disitulah kita memberikan pemahaman bahwa kita harus melakukan sesuai prosedur yang ada, kalau menyimpang akan ditindak tegas," kata M Iriawan usai meninjau pelaksanaan PPDB 2018 di SMAN 5 Kota Bandung, Selasa (3/7).

Permasalahan dunia pendidikan di negeri ini, merupakan buah hasil dari sistem sekularisme. Acapkali membuat aturan yang tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat. Bukan tidak mungkin, sistem zonasi dinilai merupakan pesanan bagi segelintir orang yang ingin mengambil keuntungan?

Permasalahan sistem pendidikan saat ini, bukan ada atau tidak adanya sekolah favorit. Tetapi, tidak meratanya tenaga pengajar yang kompeten. Serta kemampuan pengajar yang berbeda-beda dalam menjabarkan maksud dari kurikulum yang diterapkan.

Seharusnya, ada langkah untuk mengevaluasi faktor-faktor penyebab terjadinya kesalahan dalam sistem pendidikan saat ini. Seperti, kurangnya perhatian pemerintah dalam kesejahteraan tenaga pengajar. Kondisi sarana prasarana sekolah-sekolah, juga turut andil dalam keterpurukan dunia pendidikan di negeri ini.

Lalu, bagaimana islam memandang sistem pendidikan yang paripurna?

Di masa lalu, Islam mampu menguasai dan memimpin dunia selama berabad-abad dengan peradabannya yang sangat gemilang. Ini tentu berkat kualitas pendidikan islam yang gemilang pada saat itu, yang dicontohkan sendiri oleh guru pertama dan paling utama umat ini, yaitu Rasulullah SAW. Beliau tidak hanya meletakkan dasar-dasar pendidikan anak secara lengkap, tapi juga langsung mendidik para sahabat beliau dari semua tingkatan usia, sosial, dan ekonomi, baik laki-laki dan wanita, serta dari berbagai latar belakang suku. Dan hasil didikan beliau itu terwujud dalam keberhasilan para sahabatnya. Memimpin umat untuk menaklukkan dua super power dunia saat itu : Romawi dan persia, hingga mampu menguasai wilayah luas di Asia bagian Barat sampai Asia Tengah dan Afrika bagian utara. Dan generasi berikutnya, hasil dari didikan para sahabat dan tabi'in, mampu mencapai eropa dan wilayah Asia lainnya. Alhasil, tidak hanya menjadikan peserta didik dimasa itu memiliki iman dan takwah yang kokoh, juga mampu menguasai berbagai ilmu dibidangnya masing-masing. (Kitab Tarbiyatul Aulad Oleh Dr. Abdullah Nashih Ulwan)

Oleh karena itu, seharusnya sistem pendidikan harus mengacu pada sistem pendidikan paripurna, yang telah dicontohkan oleh rasulullah saw. Sehinggga, tujuan pendidikan dapat tercapai sebagaimana mestinya. Wallahu 'Alam Bis-Showab

Penulis: Indrayanti Indah (Pemerhati Sosial Andoolo, Sulawesi Tenggara)
Diberdayakan oleh Blogger.