LORONG KATA
Tweet Share Share Share Share Share

Pagi itu diteras rumah ditemani secangir kopi hasil seduhan Ibu ku sejam yang lalu.

Aku hanya memandang kearah mentari yang baru saja keluar dari persembunyiannya perlahan merangkak menjauh semakin tinggi. Embun yang awalnya menggumpal di ranting dan dedaunan mulai mencair menetes membasahi bumi.

Aku hanya merasa itu bukan wujud embun melainkan wujud kesedihan karena cerita yang berakhir kesedihan.

Tidak hanya itu, kopiku yang nikmat seketika berubah jauh lebih pekat dari sebelumnya. Entah kopiku sedang ngambek karena terlalu lama kudiamkan atau kopiku pun sedang larut dalam kisahku yang usai dengan kesedihan.

Bukan aku sengaja membiarkan kenangan itu tinggal dan merajai pikiranku. Aku selalu berusaha mengusirnya, beberapa cara telah aku lakukan agar menjauh. Aku pernah berpikir mengakhiri hidup tapi aku tidak segila itu. Akalku masih sehat untuk melanjutkan hidup dengan harapan-harapan yang mungkin saja tidak lagi mampu terjamah.

Anehnya, pagi ini tidak seperti biasanya, secangkir kopi pagi ditemani sang mentari yang baru keluar dari persembunyiannya mampu melahirkan puluhan puisi pagi.

Pagi ini hanya beberapa bait yang mampu aku tulis, itupun tidak seindah harapan banyak orang hanya gambaran kesedihan yang merajai pikiranku pagi ini.

Ada cerita disetiap seduhan kopi, kenangannya melekat di bibir cangkir
Perihnya pun mengendap di dasar tak mau pergi.

Masalahnya,
Akankah kopi dapat mengulang cerita itu lagi menjadi satu dalam cangkir yang sama ?

Akankah kopi kembali dapat menyatukan warna dan rasa agar candu dapat kita nikmati bersama ?
Tweet Share Share Share Share Share

Hari Demonstrasi Literasi

Sekitar beberapa jam yang lalu sebut saja di pagi hari, saya lagi sibuk memandangi wajah teman-teman yang masih terkapar dirayu mimpi dalam tidurnya. Saya sempat bertanya tanya,

"Ah.. ini mungkin saja kebetulan, biasanya matahari saya sambut dengan memulai tidur dengan pagi"

Yah.. kata pepatah mereka yang gemar begadang
"kami tertidur saat matahari terbit"

Haha.. tapi biasalah bagi anak muda yang senang di dunia begadang.

Roma juga pernah bilang "begadang jangan begadang, begadang boleh saja... kalau ada perlunya".

Tapi pemuda sih perlu gak perlu, begadang itu banginya perlu.

Huh.. terserah itu kata siapa, yang jelas pagi saya penuh dengan tanya, bertanya itu baik, karena tidak bertanya kadang tersesat dan tidak tau harus bagimana. Kemudian pertanyaanku berhenti akibat waktu semakin mendekati siang. Ternyata hari ini hari literasi, saya sedikit panik. Kenapa? Karena hari ini ada kegiatan di warkop 52, saya harus ke sana sekarang juga. Saya baru ingat ternyata saya punya tugas terkait kegiatan hari literasi tersebut.

Dan bagiku "ini adalah tugas yang menyenagkan".

Al Qadri terbangun dari tidurnya tiba-tiba sontak bertanya

"Mazkrib, mau kemana?"

Saya jawab dengan senang hati "ayo ke warkop ngopi literasi, di sana ada kegiatan literasi, mentas puis nge-rocki dan lain-lain"

"Oh iya kah? Boleh saya ikut" sedikit menunjukkan ekspresi muka gembira

"Bolehlah,saya duluan yah, saya tunggu dilokasi", jawabku dengan semangat.

Sehabis menikmati bakwan bersama teman-teman di sekret. Junior saya Brazak pun siap mengantar saya menuju lokasi.

Tiba-tiba Brazak berkata "senior saya mau turun aksi demonstrasi memperingati hari anti korupsi, setelah itu saya menyusul".

"Okelah.. selamat berdemonstrasi dengan senang hati" jawab manisku kepada sang demonstran.

Tak lama tiba di lokasi diskusi pun dimulai dengan rasa senang dan resah heran berbaur, rasanya ibarat mencicipi kopi susu, ada pahit dan ada pula manisnya. Wajarlah mungkin kegiatan literasi menarik bagi mereka yang menikmati dan kurang menarik bagi mereka yang sedikit menikmati atau mungkin saja ada yang lupa betapa pentingnya literasi.

Cukup saja jawaban sederhana lewat puisi, 

"Berdemonstrasi atau Berliterasi."

Satu persatu kepala beramai ramai tak tahu mau kemana
Ada adalah yang resah tanpa cercah tanpa pecah
Kalau saja besok tulisan mulai pergi
Apakah manusia akan manuai kasih lagi
Ahh...
Panas rasanya kepala tak menumpahkan kata-kata
Yang tumpah hanya sesal
Jatuh dan rintik di atap hati
Sesal membanjiri kenyataan
Jadi?
Saya harus berdemonstrasi atau harus berliterasi?
Keduanya baik baik saja.
Hah..
Sudahlah.. literasi juga punya cara
Kita pergi dan pulang lewat jembatan kata-kata
Iya..

Kata saya lewat puisi

Iwan Mazkrib
Gowa, Desember 2018
Tweet Share Share Share Share Share

Rindu Dan Sebait Kata
sutratenriawaru

Aku selalu merindukan akan kehadiranmu..
Aku selalu merindukan tiap bait puisi puisi indahmu..

Kau pergi tinggalkan dunia fana..
Kau pergi tinggalkan seorang puan yang menaruh harap padamu..
Kau meninggalkan rindu yang berkecamuk di dadaku..

Rindu terus menyiksaku tuan kelana,rindu terus merasuk kedalam tubuhku,aku mengingkanmu kembali..


Hanya ada euforia yang menemaniku saat ini..

Tuan kelanaku...
Kembalilah..
Tuan pemahat rinduku kembalilah lagi kehati yang dulu mencintaimu..

Rindu itu ada tuan,rindu memang benar benar ada jika cinta tak didasari rindu maka bukan cinta namanya,namun hanya kekaguman semata,tapi tidak denganku aku merindukanmu dan cintamu

TuanKu..
Kembalilah,ayoo kembalilah....
Aku rindu kau dan sebait katamu..

Pulanglahh..aku selalu menantimu..
Tweet Share Share Share Share Share

Ada Apa Dengan Negeriku
Sutratenriawaru

Negeriku sudah tak seindah dulu lagi, negeriku tak seasri dulu lagi, ada banyak problema yang memecahkan bangsa ini..

Negeriku dulu cinta akan kedamaian,saling toleransi dalam hal apapun, namun kini berubah negeriku porak poranda akibat perselisihan..

Mengapa negeriku seperti ini? Dulunya negeriku baik baik saja, ada apa sebenarnya?

Seakan akan damai dalam negeriku telah hilang, ada apa?

Ada apa dengan negeriku ini?

Ada apa? Apa yang terjadi? Mengapa sikap toleransi dalam beragama seakan musnah?


Ada apa dengan negeriku ini,sesama ummat muslim,saling berselisih paham,sebenarnya ada apa dengan negeriku?

Ada apa?
Tweet Share Share Share Share Share

Lorong Kata --- Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini
dan kita pelihara ternak sebagai pengganti
Bagaimana kalau sampai waktunya
kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.
Taufik Ismail (1966).

Begitulah bunyi bait terakhir dari puisi yang berjudul Bagaimana Kalau (1966) yang ditulis oleh Taufiq Ismail yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935;. Hal tersebut mengisyaratkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang lahir dari kegelisahan atas kekacauan yang Ia rasakan berbeda dari kenyataan. Pada akhirnya kalimat terakhir puisi tersebut “Bagaimana kalau sampai waktunya, kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi“. Kalimat tersebut dapat dimaknai sebagai jawaban dari semua pertanyaan yang diungkapkan Taufiq Ismail. Walaupun bentuk dari jawaban tersebut adalah pertanyaan. Hal ini dimungkinkan juga jawaban tersebut bermakna kematian, atau akhir dari semua pertanyaan di dunia.

Kalaupun hadirnya kegelisahan seorang Taufik Ismail pada masanya adalah tentang kenyataan yang kurang baik bagi kehidupan sosial. Tak pelak lagi jika membahas masa sekarang yang dijalani oleh generasi millenial yang juga bersentuhan langsung dengan realitas maya, pun anehnya lagi selain terjerumus dalam budaya konsumtif juga selalu digandrungi dengan berita-berita hoax. Hoax yang berasal dari bahasa inggris yang artinya Hoaks, menurut KBBI mengandung makna berita bohong atau berita palsu tidak bersumber. Menurut Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun “dijual” sebagai kebenaran. Kesimpulannya adalah generasi millenial adalah generasi konsumtif yang saling berinteraksi dalam tradisi hoax.

Jika setuju dengan pernyataan di atas, Anda mungkin termasuk orang yang tidak senang dihantui perasaan ambigu (keraguan). Keraguan menimbulkan ketidakpastian yang akan menjalar seperti racun bagi pikiran manusia. Jika tidak tahan dengan ketidakpastian maka hasilnya akan mudah percaya dan ikut-ikutan (Konsumerisme). Entahlah, mungkin kita sedang kelebihan pikiran ataukah hanya sedang malas berpikir.

Konsumerisme meneror halus manusia. Yasraf Amir Piliang dunia konsumerisme adalah dunia yang dibentuk oleh nilai-nilai keterpesonaan dan ekstasi. Pikiran manusia modern telah kehilangan kualitas sehingga pikiran manusia hanya menjadi mesin untuk menghasilkan kalkulasi dan klasifikasi yang bisa saja dimanfaatkan untuk sebuah kejahatan. Setiap peristiwa, kerusakan terjadi karena hasil pikiran manusia. Mungkin pikiran manusia terbentuk dengan arus perkembangan zaman pun tidak lepas dari efek lingkungan.

Lah? Bagaimana manusia dalam lingkup pendidikan? Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia 1888-1959) menjelaskan tentang pendidikan yaitu daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran yang selaras dengan alam dan masyarakat (membebaskan manusia dari kebodohan). Lantas jika terjadi sebuah kerusakan, ketakutan, kegagalan ataupun kebodohan, apakah yang menyebabkan terjadinya kerancuan berpikir manusia? Apakah sistem pendidikannya? Infrastruktur pendidikan? Kepentingan? Ataukah manusianya gagal terdidik? Hingga manusia Apatis, Pragmatis, Vandalis, Anarkis dan yang lainnya. Belum lagi kaum terdidik ini dininabobokan dengan fun, food and fashion hingga lupa peran dan tanggung jawabnya, fokus; mahasiswa (middle class) .

Sepanjang sejarah yang terjadi dalam dunia pendidikan kadang terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak terdidik, baik sifatnya ketidakwajaran, ketidaksesuaian hak dan kewajiban hingga berujung konflik antar sesama kaum terdidik. Entahlah siapa yang benar siapa yang salah. Mungkin saja kalimat ini yang salah.

Tak terlepas dari sebuah kesalahan, suatu perubahan tidak selamanya tentang pikiran. Mengutip syair Jalaluddin Rumi yang penuh makna "Tanpa cinta, segala perbuatan tak akan dihitung pada masanya" mungkin saja manusia perlu cinta untuk membebaskan dirinya dari kebodohan agar pendidikan tidak mengalami duka.

Duka dalam KBBI adalah susah hati atau sedih hati. Agar tidak terjadi duka, maka penting yang namanya Pendidikan Hati. Bambang Sugiharto dalam bukunya Untuk Apa Itu Seni mengungkapkan "Manusia kadang lupa, bahwa pendidikan yang mampu menumbuhkan kualitas kemanusiaan adalah pendidikan hati (seni)". Selain meningkatkan kualitas pikiran dan budi pekerti, manusia butuh meluangkan waktu rekreasi imajinasi untuk menjalani realitas kehidupan. Roem Topatimasang mengatakan "Sekolah (pendidikan) secara harfiah adalah waktu luang" . Penting kiranya memanfaatkan waktu luang agar tidak panik, kaku, stres dan akhirnya tidak sadar diri.

Siti Zainon Ismail juga menyiratkan hal itu, sebagaimana tampak dalam bait syairnya ; "ketika seniman tua itu mengumpul batu-batu, mengatur kemboja di halaman, keinginan yang hangat, apakah kita yang muda hanya terpukau kagum lalu melupakan?". Sebagai generasi sekiranya kita pandai bersyukur dan tidak untuk melupa.

Indonesia diperjuangkan, diproklamasikan, dan dibangun oleh para pendiri yang memiliki visi seni-budaya yang istimewa. Selera pribadi Bung Karno terhadap kesenian, memiliki andil besar dalam menandai sejarah peradaban bangsa ini. Melalui karya seni, siapa pun bisa belajar berdemokrasi, yang berarti melatih diri bersikap dewasa untuk menerima keberagaman, perbedaan dan kedamaian. Karena itu, tidak pernah ada makna seni yang absolut, dan tak pantas pula merasa memiliki pendapat paling benar. Apatah lagi kita sebagai manusia yang berlumur ego dan beragam kepentingan.

Kita hanya perlu banyak membaca dan lihai memahami kutipan "Seni Pun Jalan Kebenaran", Pendidikan bukan tempat berduka, pendidikan adalah peradaban. Tanpa Seni Peradaban Pincang.

Penulis: Iwan Mazkrib
Tweet Share Share Share Share Share

Terhitung hari ini aku membencimu, terhitung hari ini aku akan melupakan semua kenanganmu, semua kebaikanmu. Akan aku lupa semuanya akan aku lupa tenang saja..

Tapi......
Tapi.....
Tapi......
Aku tidak bisa tanpa memikirkanmu dalam semalam, tak bisa tanpa ocehan lucumu, tak bisa tanpa suara falesmu yang menganggu telingaku, tak bisa tanpa bullyanmu, aku tidak bisa..

Wee.. pergilah dari hidupku enyahlah dari setiap pandang kamarku...

Tolongla pergilah, jangan membuatku semakin mencintaimu, jangan mwmbuatku takut kehilanganmu, ayolah pergilah dariku...

Tapi
Tapi
Tapi
Tapi
Aku baru sadar aku tak bisa tanpamu..
Hati ku mohon jangan membuatku semakin munafik, aku mencintainya dan takut kehilangannya, tapi mulutku masih saja pandai berbohong dalam hal memainkan rasa!

sutratenriawaru
Powered by Blogger.