LORONG KATA

UNTUKMU INDONESIAKU
(Arsyi Wahab)

Indonesiaku...
Kini umurmu genap 73 tahun
Aku harap diumurmu yang kesekian kalinya, Membawa berita gembira tentang perubahan yang baik,
tentang apa yang dititipkan pada pundak cita" bangsa, kepada diriku, dirimu dan dia

Aku bersyukur terlahir didunia ini
Terlahir dirahim seorang ibu yag lahir di bangsa yang besar
Bangsa yang subur, bangsa yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.
Begitu pula degan para leluhurku yang ditakdirkan memperjuangkan bangsa, Yang kini dititpkan kepadaku dan mereka,
melanjutkan cita-cita yang dititipkan ditanah surgaku INDONESIA

Aku sadar... hadirku masih jadi beban di tanah surga,
DiUmurku yang beranjak 19 tahun Hadirku hanya menumpang nyawa,
Sampai detik ini tak ada perjuangan yang berarti yang kuperjuagkan untukmu indonesiaku
Cuman tagihan lagu Indonesia raya yang akan kuperjuangkan, akan kunyanyikan di hari lahirmu
yang ke 73 tahun

Jayalah Indonesiaku
Kepakkan sayap garudamu setinggi mungkin
Agar kau dapat melihat betapa indah Indonesia
ahaha kuharap gunung bawa karaeng tersyum kepada mu dan butta panrita lopi selalu menantimu.

OPINI --- Kemerdekaan bukanlah sebuah mantera yang berkekuatan magis untuk mewujudkan sebuah cita-cita, tanpa gelimang darah, tanpa denyutan jantung yang terhenti tanpa menelan korban.

Kemerdekaan adalah keteguhan komitmen, cita-cita dan harapan serta perjuangan bagi hadirnya suatu tatanan masyarakat baru.

Tahun ini Indonesia menapaki moment 73 tahun kemerdekaan. Ditinjau dari umur seorang manusia sudah memasuki fase matang, namun dari realita yang ada sekarang benarkah Indonesia telah matang baik secara sosial, ekonomi, dan politik?
Atau istilah Founding Fathers negeri ini sudah bisa disebut negeri yang berdaulat?

Sebelum menuntaskan sebuah persoalan negeri, mari meninjau romantisme masa lalu Indonesia..

Refleks sejarah Indonesia, katanya "Bangsa yang besar, adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah negerinya" mendayu indah ditelinga, tercatat jelas dilembaran sejarah.

Tepat jam 10 Pagi di Jl. Penggagasan Timur (Sekarang Jl. Proklamasi) Presiden pertama Ir. Soekarno dengan lantang meneriakkan kemerdekaan dengan sound yang terdengar seantereo nusantara yang merupakan sebuah kebahagiaan, kebebasan bangsa yang muak terjajah lebih dari 3 abad lamanya.

Jauh, sangat jauh dari kemerdekaan, tahun 1928 sejarah Indonesia hanya sebagian yang mencatat dan mengabadikan tulisan-tulisan yang muak akan penjajahan, yang mencintai negerinya hingga hanya mencicipi sedikit saja tentang indahnya romansa asmara.

Siapa yang tidak mengenal pemuda Minangkabau yang tulisannya sangat berpengaruh dizamannya, yang rela melepas gelar kebangaannya hanya untuk menimbah ilmu di negeri yang dibenci para tetuah adatnya yang dengan liarnya menjajah Indonesia taitu Nederland, tekad dan alasan yang sederhana namun tersirat makna yaitu hanya untuk pergerakan dan perubahan bangsa, sebut saja namanya Ibrahim biasa dipanggil Tan Malaka.

Dikutip dalam bukunya, Tan Malaka, "Merdeka 100 Persen" karya Robertus Robert, kelima tokoh kiasan itu membahas seputar tentang kondisi politik, rencana perekonomian berjuang, hingga soal muslihat.

Dalam pembicaraan politik dibahas tentang makna dan kemerdekaan dan sebagainya. Inti dari bagian itu adalah, kemerdekaan harus 100% tanpa harus ditawar-tawar, sebuah negara harus mandiri menguasai kekayaan alamnya, dan mengelola negerinya tanpa ada intervensi asing.

Sedangkan dalam putaran bahasan ekonomi, yang dibahas rencana perekonomian negara kapitalis terhadap negara lainnya termaksud Indonesia, diatur merasa bahwa yang paling mengetahui perencanaan ekonomi yang tepat bagi Indonesia.

Dalam bahasan muslihat dibahas soal iklim perjuangan, diplomasi hingga syarat serta taktik dalam berjuang.

Pemikiran buku "Merdeka 100%" puncaknya disampaikannya untuk menyinggung kesepakatan antara Bung Karno dan Pihak Jepang yang hanya sebagian orang yang memahami.

Terekam indah dalam sejarah memorial Perdebatan antara Tan Malaka dan Ir.Soekarno di bayah. Tempat bersejarah bagi ia yang merupakan tempat pertemuan pertamanya dengan Ir.Soekarno. Dalam Biografinya "Dari Penjara Ke Penjara"  membuat Tan Malaka mengagumi Ir.Soekarno.

Suatu kehormatan baginya saat itu ia ditugasi, untuk melayani Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Namun sayangnya Ir. Soekarno tak mengenal bahwa ia adalah Tan Malaka Seorang pemuda yang penuh inspiratif. Sebab saat itu Tan Malaka menyamar dengan nama Ilyas Hussein.

Setelah sampai diruang pertemuan, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta memulai pidatonya yang ternyata tak memuaskan hati Tan Malaka.

"Pidato itu tak beda dengan berlusin-lusin yang diucapkan dalam rapat raksasa, atau penyampaian di radio-radio. Sari isinya adalah cocok dengan kehendak Penjajah Jepang.

"Kita harus berbakti dulu pada Jepang saudara tua yang mati-matian melawan sekutu jahanam itu. Setelah sekutu itu kalah, maka kita dan saudara tua akan merdeka" pidato Bung Karno.

Dari posisi paling belakang Tan mengajukan sebuah pertanyaaan.

"Kalau saya tidak salah, bahwa kemenangan terakhir akan menjamin kemerdekaan kita, itu artinya kita harus mendahulukan kemenangan mereka dulu baru kita akan merdeka. Apakah tiada lebih cepat kalau kemerdekaan lalu akan diberi kemenangan, mengapa kemerdekaan tergantung kemenangan mereka?" Tanya Tan Malaka.

Namun tak ditanggapi secara serius oleh Ir. Soekarno. Melihat ini, Tan Malaka begitu jengkel hingga beberapa kali mengejek.

"Bukankah jasa kita terlebih dahulu? Setelah melihat jasa kita maka Dai Nippon akan memberi kita kemerdekaan" demikian jawaban Ir.Soekarno.

Merasa tak sehaluan dengan Ir. Soekarno tentang kemerdekaan membuat Tan Malaka kembali angkat bicara. Tan sadar perlunya perjuangan meski misalnya pada saat itu Indonesia sudah merdeka.

Semangat kemerdekaan akan lebih bermakna apabila kemerdekaan itu didapat atas usaha sendiri, bukan atas kesepakatan pihak lain," Tegas Tan Malaka saat Itu.

Setelah mendengar pertanyaan Tan, Ir. Soekarno berdiri merapikan pakaiannya seakan menegaskan siapa dirinya.

"Kalaupun Dai Nippon memberikan kemerdekaan kepada saya saat ini, maka saya tidak akan menerima," Kata Ir. Soekarno

Mendengar jawaban itu, Tan Malaka kembali bereaksi tak terima, tapi tidak diperkenankan oleh pengawas untuk berbicara lagi.

Perbedaan pemikiran antara Ir. Soekarno dan Tan Malaka bergelut hingga pada saat Proklamasi.

Pada saat itu, Tan Malaka sudah membuka identitasnya pada Ir. Soekarno, namun Bung Karno tetap pada pendiriannya untuk melakukan perundingan pada Belanda, namun Tan Malaka tetap tidak setuju. Tan Malaka berpendapat bahwa kemerdekaan harus diraih 100% tanpa kesepakatan dari beberapa pihak.

Dari sedikit penggalan sejarah tentang perjuangan RI, membuat kita sadar bahwasanya berbagai polemik yang terjadi sekarang karena ketidaksiapan dan ketergantungan kemerdekaan.

Perjalanan sejarah yang begitu rumit, tragis serta dramatis.

Kembali pada realita sekarang, dilematika melahirkan banyaknya problematika yang menjadi tantangan besar para politisi elit kotor yang mengatasnamakan rakyat. Semua di negeri ini mendadak mahal, yang murah adalah nyawa manusia!

HAM dan rasa Nasionalisme hanyalah kiasan indah surga telinga.

Lantas siapa yang tersalahkan dalam hal ini? Para pendahulu yang meninggalkan serumit persoalan? Atau para generasi yang tak mampu berbuat apa-apa.

Tetapi, tetap saja ada pelipur lara, setidaknya ada sebagian mereka yang mencoba mengharumkan nama bangsa, dan segelintir keindahan alam yang masih menyembunyikan keperawanan indahnya.
Bersyukurlah, sebab kita masih punya harapan.

Kalaupun bisa jujur, sangat dirindukan untuk merdeka sekali lagi, agar dirasakannya kemerdekaan yang benar-benar merdeka.

Jangan tanyakan apa yang Indonesia berikan padamu, tapi tanyakan apa yang kau berikan untuk Indonesia.

Selamat Ulang Tahun Ibu Pertiwi

Penulis : Hariani Arifuddin

OPINI --- Kebaikan memang hal yang harus di miliki setiap manusia. tetapi, seorang caleg kecerdasan yang harus ia miliki..

Bagaimana tidak, para anggota rakyat saat ini bungkam terhadap pembangunan daerah!

Tetapi mengapa dan mengapa tautan yang dibagikan seakan menegaskan bahwa caleg tersebut orang yang begitu pandai, orang yang begitu arif. Namun kenyataanya seperti apa?

Ketika rapat, ada saja alasan yang begitu tidak masuk di akal. Mengapa mereka seperti itu? Karna mereka tidak tau menau berbicara dihadapan orang banyak, lalu apa penyebabnya?

Penyebabnya ialah mereka berpolitik instan tanpa tau menau politik itu seperti apa.

Rakyat saat ini sudah cerdas, sudah mampu memilih pemimpin yang bijak

Author: Sutra Tenri Awaru


OPINI --- Hujan senantiasa membasahi bumi, rerumputan mulai tumbuh kembali, secara perlahan hukum alam tetap pada tupoksinya, perlahan tanaman menghijaukan tanah yang mulai gersang. Hal itu terjadi di bumi Sulawesi, khususnya. Kakek dan nenek manusia mati, di waktu yang sama kelahiran bayi terus-menerus membentuk kalimat 'regenerasi' tetap bertahan.

Perubahan iklim dan peningkatan suhu panas bumi, seperti data yang dilansir oleh Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) Amerika Serikat (AS), tahun 2017 adalah tahun terpanas ketiga setelah 2016 dan 2015. Semua itu, tak lepas dari ekonomi, politik dan sosial manusia. Dinamika kehidupan adalah kemutlakan yang tak terbantahkan oleh teknologi.

Lingkungan berubah, hidup manusia semakin instan akibat kemajuan teknologi canggih buatan negera-negara tetangga. Entah mengapa, kondisi sosial ekonomi Indonesia masih sama seperti yang disisakan Eropa. Yang berubah hanyalah utang, semakin hari kian melonjak, hingga sudah mencapai kurang lebih 4.000 trilyun.

Semua berubah, namun ada yang aneh beberapa minggu terakhir. Kadang tiba-tiba banyak orang-orang yang mengaku tokoh dan petinggi pilitik berdatangan ke kampung-kampung. Kampung saya yang paling jauh juga jadi sasaran kunjungan mereka. "mereka mau mencalonkan diri maju di DPRD" ujar tetangga rumah saya yang gagah itu. Saya hanya tersenyum pulas menanggapi.

Berbicara mengenai pemilihan, tentu akan ada banyak objek yang dituju. Namun, satu dua orang lainnya adalah perempuan, guna memenuhi quota 30 persen perempuan di parlemen. Soal memenuhi quota, mutlak. Tentang memenuhi kapasitas intelektua? Mungkin jawabnya ada di atas sana.

Bila dibayangkan, apakah orang memilih betul-betul sesuai nurani atas dirinya, atau hanya buat orang lain, atau justru memilih karena terpaksa harus memilih?. Dan soal pilih-memilih ini sudah seperti hal yang lumrah untuk kepemimpinan bangsa dan negara, tak terkecuali yang latar belakang tokohnya dipertanyakan.

Jelang Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 mendatang. Beragam foto, tegline dengan gaya paling memikat pun telah dipromosikan terlebih dahulu di berbagai media. Berbagai kutipan yang datangnya entah darimana dan oleh siapa, dipajang dengan sangat rapi serta sistematis di ruang-ruang yang mudah diakses publik.

Gaya dan penampilan para politisi yang mengaku bijak atau mengklaim dirinya suci, nampak paling megah sesekali menonjolkan rekayasa estetik bila kita mengakses internet untuk baca arikel terlebih mengikuti berita.

Padahal kalau menurut saya, seharusnya orang berpikir tiga kali lipat untuk maju. Sebab Legislatif atau Wakil Rakyat itu bukan hanya sekedar nama, tapi ia adalah tanggung jawab besar yang mesti diemban dan dijalankan dengan baik sesuai harapan rakyat.

Tapi faktanya tetap saja sama, tidak ada bedanya. Dari zaman batu para calon pemimpin sudah pandai bersilat lidah, hingga era Millenial yang mengerikan saat ini kondisi itu masih ada dan justru merajalela.

Seorang politikus yang pernah memimpin Uni Soviet pada masa-masa awal Perang Dingin,

Nikita Krushchev, perah berkata "Politisi itu semuanya sama. Mereka berjanji membangun jembatan meskipun sebenarnya tidak ada sungainya di sana". Seharusnya telah menjadi renungan bagi siapapu yang ingin maju atau terlibat dalam politisi, sebab sejak dulu politisi sudah dianggap pandai memikat lewat janji.

Faktanya sekarang justru mereka berlomba-lomba ingin maju, membusungkan dada dan menganggap dirinya paling bijak, mencari empati, entah untuk upeti. Tapi kursi empuk tujuannya, itu sudah pasti.

Sebagai pemuda biasa dari pelosok negeri, saya hanya bingung dan khawatir. Bingung akan meilih siapa atau tidak memilih siapa, serta khawatir mereka yang mau maju itu hanya untuk kepentingan pribadi dan golongannya saja.

Kebingungan dan kekhawatiran itu terus tumbuh dievaluasi waktu, hingga saya menyadari. Kalau para Calon Legislatif (Caleg) mau membangun, pelosok-pelisok pasti sudah tentram. Saat ditanya alasannya, "berikan saya kesempatan sekali saja, maka saya akan berbuat baik" pun kalimat ini lahir dan tumbuh sejak Indonesia merdeka, kalimat itu sudah akut, sayangnya masih bertahan.

Sekalipun demikian, anggota DPRD dari tingkat paling bawah hingga tingkat DPR-RI saat menjabat hanya nol koma sekian persen visi-misinya yang terealisasi, namun kini tampil lagi dengan gaya retorika yang sama dengan harapan sama juga ditularka pada rakyat.

Bahkan tak jarang dari aktivis yang dulunya teriak lantang anti korupsi, anti pelanggar HAM, juga ternyata terjebak dalam kekangan politik praktis, mereka pun kini terlibat dalam sistem yang semula ditolaknya secara tegas. Sialnya akademis pun sudah banyak dijumpai terjun dalam politik elit yang mengenaskan. Padahal akademislah salah satunya landasan kemurnian ilmu pengetahuan. Akibatnya adalah, pelopor yang kita andalkan, sudah banyak yang bungkam oleh berbagai kepentingan.

Miris melihat fenomena nyaleg ini. Rakyat kecil jadi korban janji manis, serta sebagian dari mereka juga tentu hanya korban kelengkapan administrasi partai. Tentu bukan salah rakyat, sebab ia tak tahu akan sistematika perpolitikan, rakyat hanya berharap hidup aman, tenang dan damai.

Seyogianya para Caleg paham, tapi tak mungkin juga memberikan pemahaman kepada rakyat, sebab bila rakyat paham akan kondisi menyedihkan dari sistem pilotik praktis, maka rakyat akan minder untuk memilih.

Sebagai pemuda biasa yang tak bisa berbuat apa-apa, saya hanya berharap para politisi terutama yang maju menuju DPRD 2019 mendatang, agar betul-betul maju bukan hanya karena fiansial tapi intelektual yang memadai. Dan rakyat hanya butuh bantuan kompleks, bukan janji apalagi hanya sekedar pidato.

Author: Burhan SJ

Aku Adalah Alam Kubur
(Andika Putra)

Aku adalah tempat yang paling gelap, diantara yang gelap, maka terangilah aku dengan cahaya shalatmu.

Aku adalah tempat yang paling mengerikan, diantara tempat mengerikan, maka hiasilah aku dengan zakatmu.

Aku adalah tempat yang paling sepi, diantara tempat yang sepi, maka ramaikanlah aku dengan bacaan Al-Qur'anmu.

Aku adalah tempat yang paling sempit, diatara tempat yang sempit, maka luaskanlah aku dengan puasamu.

Aku adalah tempat yang paling menakutkan, diantara tempat menakutkan maka sinarilah aku dengan cahaya syahadatmu.

Aku adalah tempat berkumpulnya para binatang menjijikkan, dari yang paling menjijikkan, maka singkirkan lah ia dengan dzikirmu.

Doa Sang Rindu
(Andi)

Wahai kau wujud sang rindu, yang tinggal dalam benakku, rasanya aku ingin menggenggam tanganmu, hingga semua rasa menyatu, bersama cinta yang kau semai sejak dulu.

Yah.... aku tau siapa kamu, kita sering bertemu, rindu pun tak pernah hilang dalam benakku, hingga membangun cinta hanya denganmu.

Untuk kau yang dirindukan, ku ingin kau menjelma kasih Tuhan, menyatu dalam lingkar iman, agar aku kau menjadi kita dalam kisah keabadian.

Dalam ratap diatas doa, ku mohon pada yang kuasa, pada yang maha cinta, agar Engkau mempercantik akhlaknya, adalah dia yang kucinta, agar menjadi yang terakhir di hidupnya.
Powered by Blogger.