LORONG KATA

Penikmat Kopi Ketiga
Jaboel

Setiap hentakan nafas ku hanya bertasbih
mengingat jiwa juga rupa mu
menghirup setiap nafas kopi terseduh dari jemari lentikmu
duduk menatap bintang berserakan
menyeruput kopi dalam ingatan
Jiwa ku kurajut kembali
sambil mendangar curahan isi kepala juga hatimu

Inginku bersamamu di setiap hari-hari
Membuat kenangan lalu menertawai

Tapi...!

Semua angan itu bercerai lalu pergi seketika
Bagai angin membawa luka
Mungkin sebab orang ketiga
yang tak tau kasih cinta

Ikhlasku Menjadi Doa Tulus Untukmu
Sabrina Bachtiar

Diriku kembali duduk bersimpuh di hadapanmu, Mengingat sakit yang pernah ku alami, Mengingat luka yang masih perih akibat goresan darimu, Diriku lemah ketika mengingatnya. Rapuh ketika terbayang. Seakan hanya dirimu orang yang terbaik.

Hari hari dirimu selalu bersamaku Namun tidak dengan sekarang. Semuanya terasa berbeda. Tawamu yang masih hangat terdengar menjadi sepi terbawa oleh angin. Teguranmu yang amat santun masih teringat ketika diriku salah.

Jujur, perpisahan ini sudah dua tahun silam, Namun bayangan dan senyuman manismu masih tersave rapi di benak dan khayalku, Semuanya masih sama. Diriku masih menyayangimu. Diriku masih gadis mungil yang sering kamu tegur dengan sentuhan kata yang lembut. Diriku rindu akan hal kecil itu

Yahh. Dia bukan kekasihku melaikan saudara ayah yang ku anggap seperti kakak kandung sendiri. Seorang pria titipan tuhan yang sangat ku rindukan.

Namun, tak bisa ku pungkiri. Semuanya sudah hilang. Jiwa yang perih ketika mengingatnya sangatlah rumit untuk beranjak pada langkah yang berbeda. Tak ingin mundurr melainkan kembali bersama.

Hanya kata ikhlas yang bisa mengubahnya. Hanya kata ikhlas yang mampu menggerakkan hidupku untuk melangkah..

Perlu kau ketahui.
Aku sangat menyayangimu

Sebuah Titipan Rindu Dan Ucapan Maaf
Nur Wahidah

Aku mencoba untuk selalu menaikkan senyumku.
Terkadang tawa kecilmu selalu terbayang di fikiranku.
Kadang kala aku berfikir aku rindu.
Kadang kala aku ingin beranjak dari tempatku.

Caraku merindu berbeda.
Tidak seperti mereka yg mempamerkan rindunya.
Rinduku kusimpan hingga tak ku tau sudah seberapa besar.

Aku tau kau lebih rindu.
Egoku tak kau pedulikan.
Nakalku tak menjadi alasanmu untuk marah.
Tangisku menjadi hal yang kau ingin dengar setiap malam,sama seperti masa kecilku.

Maafkan aku yang selalu mengucap rindu namun tak mampu untuk bertemu.
Aku sangat sadar bahwa senyummu takkan selamanya kulihat.
Bahwa tatapanmu takkan selamanya menatapku.

Waktu akan memisahkan kita .
Aku yakin itu.
Tapi, untuk saat ini ,biarkan aku menabung rinduku dulu.
Tapi yakinlah aku akan pulang memelukmu dan menciummu.

maafkan aku ibuku sayang.
Dan terima kasih untuk semua yang rela kau berikan.
Apa yang kau berikan.
Selalu ku ambil semuanya. tapi,kau tak pernah marah.

Apa yang kuminta engkau selalu berikan .
Inilah alasanku merasa bersalah padamu ibuku.
Terkadang kau hanya menyuruhku pulang untuk sekedar tidur di kamar kecil kita.
Tapi alasan kesibukan selalu menjadi boom andalanku untuk tak pulang.

Tapi lagi-lagi kau hanya tersenyum dan mengucapkan doa.
Ibuku sayang.
Satu hal yang harus kau tau.
Aku masih tetap sama.
Aku masih putri kecilmu yang selalu rindu kau elus rambutnya.

ini janjiku ibu.
Aku akan pulang. Baik itu kau minta atau tidak,aku pasti akan pulang.
Dan besar harapanku kau akan selalu sehat hingga nanti masa tuamu akan hidup bersamaku.

Love You Mom

OPINI --- Sebagaimana biasanya ILC yg di pimpin oleh bang Karni Ilyas selalu mengusung tema yang lagi hot sedikit kontroversial dan menjadi trending topik, bang Karni dengan gaya khasnya membawakan acara dengan santai tapi tegas serta memiliki kharisma tersendiri mengantarkan ILC ini menjadi salahsatu acara televisi yang paling diminati di seantero Republik ini.

Tema diskusi semalam membahas tentang pemilihan cawapres yg diwarnai dg aroma mahar politik & PHP menjadi magnet yang begitu luarbiasa apa lagi dihadiri langsung dengan sosok yang di persepsikan sebagai pihak pelaku pada tema diatas yakni Sandiaga Uno dan prof Mahfud MD, dari diskusi panjang semalam penulis menyimpulkan beberapa catatan kecil yang menjadi intisari penjelasan Prof Mahfud, antara lain sebagai berikut:

Pertama, bahwa benar Presiden tersandra permainan politik yang didalangi aktor-aktor partai koalisi yang mengusungnya. Presiden Jokowi tak cukup berani keluar dan melawan tekanan-tekanan itu. Pemilihan cawapres kemarin, misalnya, terbukti hanya merupakan hasil negosiasi politik dan kompromi saham elektoral belaka—tidak berpijak pada prinsip yang lebih punya visi kebangsaan dan mengedepankan kepentingan rakyat.

Kedua, rumor yang mengatakan bahwa ada ‘super-mentor’ di belakang presiden yang begitu kuat bisa menentukan dan mem-plot banyak hal rupanya benar. Aneka jabatan stretegis yang ditawarkan kepada banyak orang, termasuk jabatan menteri dan komisaris, bisa diatur-atur dan dirancang-rancang sedemikian rupa oleh sang ‘supervisor’ presiden ini. Ini sama sekali tidak bagus untuk bangunan negara dan pemerintahan kita, di mana presiden seharusnya merupakan orang dengan kekuasaan tertinggi—bukan petugas belaka.

Ketiga, kita harus bersedih mengetahui fakta bahwa ‘orang-orang politik’ dan ‘orang-orang partai’ di sekeliling presiden adalah orang-orang yang diragukan integritasnya—yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, partai atau golongannya belaka. Apalagi jika orang-orang ini kerap menunjukkan standar ganda bahkan hipokrisi dalam hal-hal yang paling prinsip sekalipun, termasuk kejujuran dan kesalehan.

Keempat, kesaksian Prof Mahfud memberi tahu kita bahwa yang sering menuduh orang lain melakukan politisasi agama sejatinya adalah mereka yang benar-benar melakukan politik agama. Pak Mahfud menampar secara keras orang-orang itu, membuka tirai penutup aibnya menjadi terang benderang di hadapan publik. Kita malu dan sakit mendengarnya.

Kelima, Pak Mahfud selalu menolak ketika dikatakan bahwa ia sakit hati, kecewa, bahkan sedih karena telah menjadi korban PHP. Persis seperti ketika ia memotong pernyataan Effendi Gazali sambil tersenyum dan mengatakan, “Saya tidak merasa di-PHP, Pak. Saya legowo aja, biasa.” Katanya. Benar, Pak Mahfud, Bapak memang tidak di-PHP, Bapak hanya kena prank Youtuber Istana!

Keenam, penunjukan kiyai ma'ruf sebagai cawapres membangun politik persepsi seolah-olah murni pilihan pak Jokowi yang nir intervensi dengan skenario pak Ma'ruf Amin tidak hadir pada acara deklarasi dan beberapa saat kemudian pak kiyai ma'ruf amin di wawancarai oleh wartawan di tempat lain dengan mimik yang kaget dan mengatakan sungguh saya tidak menyangka akan di pilih pak Jokowi sebagai calon wakilnya, namun seluruh skenario drama ini terbantahkan oleh penjelasan Prof Mahfud yang di urai secara sistematis dan terang benderang.

Mari kita nantikan drama panjang perhelatan Akbar demokrasi yg masih menyisakan berepisode episode akting yang akan tersaji dihadapan kita yang bakal di pertontonkan kedua pasang calon kontestan dan pada akhirnya kita belum tau siapa yang bakal tereliminasi dan siapa yang keluar sebagai jawara, tentu siapapun pemenangnya adalah presiden kita semua olehnya itu masyarakat harus cerdas menilai siapa diantara keduanya yang layak mengantarkan Republik ini menjadi bangsa yang bermartabat di hormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Author: Muh.ikbal majid
Forum masyarakat hukum pidana& kriminal Indonesia (MAHUPIKI)

UNTUKMU INDONESIAKU
(Arsyi Wahab)

Indonesiaku...
Kini umurmu genap 73 tahun
Aku harap diumurmu yang kesekian kalinya, Membawa berita gembira tentang perubahan yang baik,
tentang apa yang dititipkan pada pundak cita" bangsa, kepada diriku, dirimu dan dia

Aku bersyukur terlahir didunia ini
Terlahir dirahim seorang ibu yag lahir di bangsa yang besar
Bangsa yang subur, bangsa yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.
Begitu pula degan para leluhurku yang ditakdirkan memperjuangkan bangsa, Yang kini dititpkan kepadaku dan mereka,
melanjutkan cita-cita yang dititipkan ditanah surgaku INDONESIA

Aku sadar... hadirku masih jadi beban di tanah surga,
DiUmurku yang beranjak 19 tahun Hadirku hanya menumpang nyawa,
Sampai detik ini tak ada perjuangan yang berarti yang kuperjuagkan untukmu indonesiaku
Cuman tagihan lagu Indonesia raya yang akan kuperjuangkan, akan kunyanyikan di hari lahirmu
yang ke 73 tahun

Jayalah Indonesiaku
Kepakkan sayap garudamu setinggi mungkin
Agar kau dapat melihat betapa indah Indonesia
ahaha kuharap gunung bawa karaeng tersyum kepada mu dan butta panrita lopi selalu menantimu.

OPINI --- Kemerdekaan bukanlah sebuah mantera yang berkekuatan magis untuk mewujudkan sebuah cita-cita, tanpa gelimang darah, tanpa denyutan jantung yang terhenti tanpa menelan korban.

Kemerdekaan adalah keteguhan komitmen, cita-cita dan harapan serta perjuangan bagi hadirnya suatu tatanan masyarakat baru.

Tahun ini Indonesia menapaki moment 73 tahun kemerdekaan. Ditinjau dari umur seorang manusia sudah memasuki fase matang, namun dari realita yang ada sekarang benarkah Indonesia telah matang baik secara sosial, ekonomi, dan politik?
Atau istilah Founding Fathers negeri ini sudah bisa disebut negeri yang berdaulat?

Sebelum menuntaskan sebuah persoalan negeri, mari meninjau romantisme masa lalu Indonesia..

Refleks sejarah Indonesia, katanya "Bangsa yang besar, adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah negerinya" mendayu indah ditelinga, tercatat jelas dilembaran sejarah.

Tepat jam 10 Pagi di Jl. Penggagasan Timur (Sekarang Jl. Proklamasi) Presiden pertama Ir. Soekarno dengan lantang meneriakkan kemerdekaan dengan sound yang terdengar seantereo nusantara yang merupakan sebuah kebahagiaan, kebebasan bangsa yang muak terjajah lebih dari 3 abad lamanya.

Jauh, sangat jauh dari kemerdekaan, tahun 1928 sejarah Indonesia hanya sebagian yang mencatat dan mengabadikan tulisan-tulisan yang muak akan penjajahan, yang mencintai negerinya hingga hanya mencicipi sedikit saja tentang indahnya romansa asmara.

Siapa yang tidak mengenal pemuda Minangkabau yang tulisannya sangat berpengaruh dizamannya, yang rela melepas gelar kebangaannya hanya untuk menimbah ilmu di negeri yang dibenci para tetuah adatnya yang dengan liarnya menjajah Indonesia taitu Nederland, tekad dan alasan yang sederhana namun tersirat makna yaitu hanya untuk pergerakan dan perubahan bangsa, sebut saja namanya Ibrahim biasa dipanggil Tan Malaka.

Dikutip dalam bukunya, Tan Malaka, "Merdeka 100 Persen" karya Robertus Robert, kelima tokoh kiasan itu membahas seputar tentang kondisi politik, rencana perekonomian berjuang, hingga soal muslihat.

Dalam pembicaraan politik dibahas tentang makna dan kemerdekaan dan sebagainya. Inti dari bagian itu adalah, kemerdekaan harus 100% tanpa harus ditawar-tawar, sebuah negara harus mandiri menguasai kekayaan alamnya, dan mengelola negerinya tanpa ada intervensi asing.

Sedangkan dalam putaran bahasan ekonomi, yang dibahas rencana perekonomian negara kapitalis terhadap negara lainnya termaksud Indonesia, diatur merasa bahwa yang paling mengetahui perencanaan ekonomi yang tepat bagi Indonesia.

Dalam bahasan muslihat dibahas soal iklim perjuangan, diplomasi hingga syarat serta taktik dalam berjuang.

Pemikiran buku "Merdeka 100%" puncaknya disampaikannya untuk menyinggung kesepakatan antara Bung Karno dan Pihak Jepang yang hanya sebagian orang yang memahami.

Terekam indah dalam sejarah memorial Perdebatan antara Tan Malaka dan Ir.Soekarno di bayah. Tempat bersejarah bagi ia yang merupakan tempat pertemuan pertamanya dengan Ir.Soekarno. Dalam Biografinya "Dari Penjara Ke Penjara"  membuat Tan Malaka mengagumi Ir.Soekarno.

Suatu kehormatan baginya saat itu ia ditugasi, untuk melayani Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Namun sayangnya Ir. Soekarno tak mengenal bahwa ia adalah Tan Malaka Seorang pemuda yang penuh inspiratif. Sebab saat itu Tan Malaka menyamar dengan nama Ilyas Hussein.

Setelah sampai diruang pertemuan, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta memulai pidatonya yang ternyata tak memuaskan hati Tan Malaka.

"Pidato itu tak beda dengan berlusin-lusin yang diucapkan dalam rapat raksasa, atau penyampaian di radio-radio. Sari isinya adalah cocok dengan kehendak Penjajah Jepang.

"Kita harus berbakti dulu pada Jepang saudara tua yang mati-matian melawan sekutu jahanam itu. Setelah sekutu itu kalah, maka kita dan saudara tua akan merdeka" pidato Bung Karno.

Dari posisi paling belakang Tan mengajukan sebuah pertanyaaan.

"Kalau saya tidak salah, bahwa kemenangan terakhir akan menjamin kemerdekaan kita, itu artinya kita harus mendahulukan kemenangan mereka dulu baru kita akan merdeka. Apakah tiada lebih cepat kalau kemerdekaan lalu akan diberi kemenangan, mengapa kemerdekaan tergantung kemenangan mereka?" Tanya Tan Malaka.

Namun tak ditanggapi secara serius oleh Ir. Soekarno. Melihat ini, Tan Malaka begitu jengkel hingga beberapa kali mengejek.

"Bukankah jasa kita terlebih dahulu? Setelah melihat jasa kita maka Dai Nippon akan memberi kita kemerdekaan" demikian jawaban Ir.Soekarno.

Merasa tak sehaluan dengan Ir. Soekarno tentang kemerdekaan membuat Tan Malaka kembali angkat bicara. Tan sadar perlunya perjuangan meski misalnya pada saat itu Indonesia sudah merdeka.

Semangat kemerdekaan akan lebih bermakna apabila kemerdekaan itu didapat atas usaha sendiri, bukan atas kesepakatan pihak lain," Tegas Tan Malaka saat Itu.

Setelah mendengar pertanyaan Tan, Ir. Soekarno berdiri merapikan pakaiannya seakan menegaskan siapa dirinya.

"Kalaupun Dai Nippon memberikan kemerdekaan kepada saya saat ini, maka saya tidak akan menerima," Kata Ir. Soekarno

Mendengar jawaban itu, Tan Malaka kembali bereaksi tak terima, tapi tidak diperkenankan oleh pengawas untuk berbicara lagi.

Perbedaan pemikiran antara Ir. Soekarno dan Tan Malaka bergelut hingga pada saat Proklamasi.

Pada saat itu, Tan Malaka sudah membuka identitasnya pada Ir. Soekarno, namun Bung Karno tetap pada pendiriannya untuk melakukan perundingan pada Belanda, namun Tan Malaka tetap tidak setuju. Tan Malaka berpendapat bahwa kemerdekaan harus diraih 100% tanpa kesepakatan dari beberapa pihak.

Dari sedikit penggalan sejarah tentang perjuangan RI, membuat kita sadar bahwasanya berbagai polemik yang terjadi sekarang karena ketidaksiapan dan ketergantungan kemerdekaan.

Perjalanan sejarah yang begitu rumit, tragis serta dramatis.

Kembali pada realita sekarang, dilematika melahirkan banyaknya problematika yang menjadi tantangan besar para politisi elit kotor yang mengatasnamakan rakyat. Semua di negeri ini mendadak mahal, yang murah adalah nyawa manusia!

HAM dan rasa Nasionalisme hanyalah kiasan indah surga telinga.

Lantas siapa yang tersalahkan dalam hal ini? Para pendahulu yang meninggalkan serumit persoalan? Atau para generasi yang tak mampu berbuat apa-apa.

Tetapi, tetap saja ada pelipur lara, setidaknya ada sebagian mereka yang mencoba mengharumkan nama bangsa, dan segelintir keindahan alam yang masih menyembunyikan keperawanan indahnya.
Bersyukurlah, sebab kita masih punya harapan.

Kalaupun bisa jujur, sangat dirindukan untuk merdeka sekali lagi, agar dirasakannya kemerdekaan yang benar-benar merdeka.

Jangan tanyakan apa yang Indonesia berikan padamu, tapi tanyakan apa yang kau berikan untuk Indonesia.

Selamat Ulang Tahun Ibu Pertiwi

Penulis : Hariani Arifuddin
Powered by Blogger.