LORONG KATA

Kita lupa bahwa satu-satunya fase usia yang akan ditanya di hari akhir kelak adalah kita habiskan untuk apa masa muda kita?

Menurut Wikipedia, identitas pribadi merupakan karakteristik unik yang membedakannya dengan orang lain. Artinya identitas menjadi penanda pada diri seseorang sehingga ia mudah dikenali. Identitas seorang muslim seharusnyalah sesuai dengan tuntunan dari qur’an dan sunnah, baik dari segi penampilan maupun akhlak. Dan semua hal tersebut tidak akan terjadi tanpa adanya pemikiran seseorang yang sesuai dengan Islam hingga menghasilkan kepribadian yang khas.

Dalam keseharian, tulis Ustad Salim A. Fillah dalam buku Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim, seorang muslim harus memiliki karakter dan identitas. Bahkan juga penampilan yang berbeda dengan kaum-kaum yang terhukumi jahiliyah. Bukan karena Islam bersifat eksklusif dan elitis. Tetapi Islam adalah sistem menyeluruh yang ingin menjadikan revolusi diri para pemeluknya kaffah.

Lalu bagaimana kita bisa melihat bahwa pemuda muslim saat ini telah kehilangan identitasnya?

Generasi kaum muslimin saat ini jauh lebih mengidolakan artis dan memimpikan dunia hiburan dibanding ilmu dan ulama. Kita bisa melihat perbandingan antusiasme anak muda menghadiri konser dibanding kajian islam atau seminar keilmuan lainnya misalnya. Mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk sesuatu yang melalaikan dan tidak mengedukasi. Sibuk berkutat dengan game online dan demam K-pop di luar batas kewajaran.

Berdasarkan hasil riset, Indonesia diperkirakan memiliki lebih dari 60 juta pemain game mobile (gamer) dan dipercaya akan terus bertumbuh mencapai 100 juta pemain pada 2019-2020 (autotekno.sindonews.com, 04/11/18). Penggemar hiburan Korea, bisa menghabiskan waktu rata-rata 18,8 jam dalam sebulan untuk mendengarkan musik, termasuk menonton konser. mereka juga mampu menonton drama Korea hingga 20,6 jam setiap bulan dan 17,9 jam untuk menonton film. Serta rela menghabiskan Rp 8,1 juta untuk membeli album, kartu pos, banner, light stick, poster dan menonton konser (Beritagar.id, 16/03/19).

Kita tidak sadar bahwa ternyata layar sekecil itu bisa mengubah pemikiran dan perilaku perlahan hingga menjadi candu. Bagaimana jika yang mengalami hal tersebut adalah sebagian besar usia produktif di Indonesia? Yang terjadi adalah lahirnya generasi yang lalai terhadap agama dan terbentuklah peradaban yang jauh dari berkah. “Kalau masyarakat ini lebih menghormati dan menghargai hiburan dibandingkan ilmu dan ahli ilmu maka itu bukti bahwa masyarakat jatuh”, begitu kalimat Ustad Budi Ashari dalam seminar Kebangkitan Islam.

Hari ini, pemuda dianggap cenderung kepada keburukan dan tidak memiliki kemampuan mengendalikan diri. Memandang masa muda adalah usia main-main dan sekadar bersenang-senang. Sehingga yang terjadi adalah pembiaran dengan alasan fitrahnya pemuda memang demikian. Tetapi jika kita melihat jauh ke belakang, maka akan kita dapati bahwa orang-orang yang berdiri tegak menentang kezaliman dan penyimpangan di tengah-tengah masyarakat adalah anak muda. Bukankah juga kebanyakan orang-orang yang pertama menerima kebenaran Islam di tengah-tengah kaum jahiliyah masyarakat Makkah adalah pemuda?

Deretan pemuda yang mencapai prestasi gemilang tanpa menanggalkan iman di dada bisa kita lihat pada diri Usamah bin Zaid yang telah berhasil memimpin pasukan di usianya 18 tahun, Zaid bin Tsabit menguasai bahasa Ibrani hanya dalam waktu 17 hari, Sultan Muhammad Al-Fatih membebaskan Konstantinopel pada usianya ke 21 tahun dan tidakkah kita mengambil pelajaran dari pemuda Ashabul Kahfi yang rela pergi demi mempertahankan keimanan? Mari bercermin pada mereka sebab Islam butuh pemuda muslim yang siap mewujudkan bisyarah Rasulullah SAW selanjutnya; Roma. Kota yang tentunya tidak akan ditaklukkan melalui generasi yang hanya peduli dengan game online dan cinta picisannya. Sebab pembebasan wilayah ke tangan muslimin tidak semudah menggerakkan jempol dan menaklukkan hati seorang gadis.

Harapan Selalu Ada

Kata Anis Matta, masih dalam buku Ustad Salim A. Fillah tersebut, bahwa akan ada waktu kiranya dimana ummat manusia akan sulit membedakan antara pesona kebenaran Islam dan pesona kepribadian Muslim.

Harapan itu akan terus menyala. Hingga pesona Islam dan muslim bersatu menghiasi langit peradaban dunia. Hingga berbondong-bondonglah pemuda muslim memasuki dan memuji Allah di dalam rumahNya. Tidak akan ada yang bisa berjuang untuk Islam dan mengemban syariah dengan percaya diri selain kita, pemuda yang mengaku umat baginda Nabi Muhammad SAW. sampai kemenangan itu datang dalam naungan Institusi yang bernama Khilafah. Hingga segala penjuru dunia yang diliputi oleh Islam rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam bishshawwab.

Penulis: Fitri Ayu F. (Pecinta literasi di Makassar)

Menjadi anak perempuan satu-satunya didalam keluarga adalah hal yang begitu sulit, terlebih kita yang jauh dari orang tua.

Harus pandai-pandai menjaga diri dan hawa nafsu, hawa nafsu dalam bergaulakah atau hawa nafsu yang ditawarkan megahnya kota.

Saat melangkahkan kaki ada banyak beban yang harus kupikul terlebih pesan dan janji yang harus kuingat dan kujalani.

Saya terlahir dari keluarga sederhana, tapi ibu dan ayahku selalu menyajikanku kemewahan dalam berfikir, yah kemewahan dalam berfikir bukan kemewahan dalam materi.

Ibu dan ayahku adalah manusia yang begitu luar biasa membimbing dan mendidikku dengan sebaik mungkin.

Ayahku, yang tegas tapi tidak menakutkan, ayah yang luar biasa, bisa dijadikan teman curhat, ayahku adalah ayah yang serba bisa, dari dulu sampai sekarang belum pernah kudengar ayahku memarahiku, ayahku begitu humoris tapi tetap tegas, hebatkan ayahku?

Ibuku, wanita yang berhati malaikat, merawatku, membesarkanku sampai sekarang ini, kalau watak ibu terbilang cukup keras dan didikannya didikan militer hehehe, tapi sekeras-kerasnya ibu, dia tetap penyayang dimatanya berisikan kehidupan, tutur katanya menyejukkan sukma.

Pesan dari ayah dan ibu yang tidak akan pernah saya lupa, "nak, tetap berbuat baik, meskipun bukan orang baik, hinaanya orang, caciannya orang, jangan jadikan alasan untuk patah semangat, tetap berkeyakinan kalau kau bisa, jangan mudah menyerah dan kalah"

Menjadi anak perempuan satu-satunya bukan hal mudah, terlebih aku yang dari dulunya dimanja dan dikasihi oleh kedua orang tuaku.

Lelaki dan perempuan mempunyai tanggung jawab dan beban yang sama. Sama-sama memiliki tujuan untuk membahagiakan keluarga.

Oleh: Sutra tenri awaru

PUISI, ---  Aku kembali teringat tentangmu
Tentang rasa yang sampai sekarang masih setia menemani
Aku tak tahu apa yang kau pikirkan
Hingga kau tega meninggalkan
Aku tak tahu, apa yang membelenggu pikiranmu
Hingga kau tega membunuhku

Sejak kau pergi, aku merasa mati
Sebelumnya kupikir ini hanya mimpi
Namun nyatanya, kau benar-benar sudah tiada

Meninggalkanku bersama harapan yang telah hancur berkeping-keping
Satu-satunya lentera penerang jalanku
Kau bawa bersamamu

Sesekali aku berharap agar Tuhan mengasihaniku
Dan mengirimkan malaikatnya untuk menjemputku

Aku lelah, lelah terus melangkah seperti mayat hidup
Lelah dengan kisah yang terang redup

Aku salah, aku salah karena terlalu takut
Aku salah karena terlalu cemburu
Aku menyesal, aku menyesal hanya memberi secuil percaya
Aku menyesal membiarkan amarah meraja lela

Aku harap, kau bersedia memberikan maafmu
Dan sebagai gantinya, aku akan membunuh
Iya, membunuh
Membunuh rasa yang mengakar kuat dalam dada
Meski harus tenggelam dalam tangis

Sebagai permintaan terakhir, jaga dirimu baik-baik
Dan jangan lupa beritahu aku saat telah tiba hari bahagiamu
Agar aku tahu, siapa laki-laki beruntung yang bisa bersanding denganmu.

Penulis: Boa

Lorong Kata --- Berapa harga sebuah nyawa? Begitupula kamu akan memperlakukannya. Menonton edisi pembunuhan belakangan ini, rasanya harga sebuah nyawa terasa ringan dan tak berharga.

Baru-baru ini, seorang Ayah membunuh lima anaknya. Anak yang berumur mulai dari satu tahun hingga delapan tahun. Ia habisi dengan cara tragis. Satu anak ia hukum hingga pingsan, kemudian meninggal. Sementara 4 lainnya dicekik hingga tewas. Setelahnya dibawa lah mayat itu berkeliling tanpa tujuan selama empat hari di dalam mobil, sampai ketika tiba di pinggiran Alabama, Jones membuangnya.

Di negeri kita, bulan juni juga basah dengan linang air mata keluarga korban-korban pembunuhan. Di Sumatera Utara, hanya karena persoalan asmara, lelaki membunuh wanita dengan sadisnya. Prada Deri Pramana, yang tega memutilasi Fera Oktaria umur 20 tahun di Sungai Lilin Sumatera Selatan. Prada adalah Prajurit TNI ditangkap oleh Kodam II Sriwijaya setelah buron Mei lalu (Detiknews.com 13/06/2019)

Di sumber yang sama, kamis 13 Juni jasad bernama Yuni juga ditemukan dengan kondisi penuh luka dan membusuk di kamar kosnya di Kotabaru Jambi, korban diduga dibunuh oleh seseorang. Di hari yang sama, Nurdin (33) pun membunuh istrinya yang berprofesi sebagai guru SMK di Polman hanya karena cemburu. Kemudian mayat tanpa kepala dan tangan pun hasil pembunuhan juga ditemukan di tepian sungai Aisan Bopeng Ogan Ilir, Sumatera Selatan pekan lalu.

Sungguh, manusia kehilangan rasa. Dan kehilangan arah dalam bertindak. Mengemudikan seluruh anggota tubuhnya berbuat keji. Sejatinya mereka benar-benar alpa dalam mengetahui berharganya nyawa manusia, apalagi mukmin. Atau, jikalaupun mereka tahu bahwa membunuh itu tidak benar, kurangnya keyakinan kokoh akan hari pembalasan mungkin menjadi alasannya.

Tidakkah merintih hati kita melihat manusia saling membunuh layaknya binatang menerkam binatang lainnya? Padahal ada akal yang membedakan dan menuntun pada kemuliaan. Inikah yang dinamakan hilangnya keberkahan sebab tak ada syariat yang dibumikan? Bila agama menjadi panduan, yang ajarannya menurunkan berkah, sudah tentu celaka seperti ini tidak ditemukan.

Mari berpikir sejenak, Islam adalah satu-satunya agama yang memberikan penghargaan amat tinggi pada darah dan jiwa manusia. Allah SWT menetapkan pembunuhan satu nyawa tak berdosa sama dengan menghilangkan nyawa seluruh umat manusia. Keyakinan yang kokoh akan perkataan Sang Khaliq tentu menuntun manusia mematuhi aturan hidup yang diturunkan, termasuk larangan membunuh orang tak bersalah.

Kemudian, Betapa Islam hadir dengan seperangkat aturan yang adil. untuk kasus ini, Qishas pun menjadi solusi yang Allah hadirkan untuk menjaga sebuah mekanisme kehidupan. Allah berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 179 yang artinya, “Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.”

Qishas yakni hukuman mati, mengapa bisa disebut terdapat kehidupan? Hal ini ditinjau dari efeknya, yaitu apabila hukum qishas ditegakkan, manusia terhalangi dari melakukan pembunuhan terhadap manusia lain. dengan demikian kelangsungan hidup manusia akan tetap terjaga, atau menimbulkan efek jera.

Imam Qatadah rahimallah berkata yang artinya, “Allah menetapkan hukum qishash (hukuman mati) itu pada hakekatnya adalah kehidupan, peringatan dan nasihat. Karena, ketika orang dzhalim yang memiliki niat jahat meningat qishas (Sebagai hukumannya nanti) ia akan menahan diri untuk membunuh.” (Fathul Qadir, 1/228)

Namun saat ini, hukum seperti apa yang justru kita hadirkan. Memenjarakan, sayangnya efek jera tak terlihat banyak, justru semakin menjadi-jadi. Tak percayakah pada hukum yang ditawarkan sang Pencipta? Bukankah mayoritas penduduk negeri ini muslim? Sejatinya kita sedang tidak berusaha menjadi orang-orang yang seperti mengadakan perbaikan namun sejatinya merusak bukan?

Sebenarnya, kepercayaan akan hukum Allah yang adil mungkin telah terkikis dengan debu-debu Islamophobia yang berkembang. Memandang ajaran Islam sebelah mata. Hanya cocok untuk beribadah dengan Pencipta, namun tidak untuk mengatur ruang sosial, Semoga kita tidak lupa pada fakta sejarah yang mengabarkan penerapan Islam oleh sebuah Institusi Negara. Dimana hukum-hukum Allah yang adil digunakan untuk mengatur manusia yang serba lemah. Dalam bingkai Khilafah, seorang Khalifah terlalu peduli urusan ummatnya, apalagi persoalan nyawa.

Satu perempuan saja yang berteriak karena bajunya disingkap tentara romawi, Khalifah mengirim pasukan yang mengejutkan, apalagi ketika muslimah itu dilecehkan hingga dibunuh. Pemimpin seperti Khalifahlah yang akan maju terdepan menumpasnya. Kita tentu tidak ingin bermimpi bukan pada pemimpin yang justru mesra pada petinggi-petinggi yang di belakangnya telah banyak menganiaya kaum muslim?

Bukankah Rasulullah bersabda: Seorang muslim adalah saudara Muslim yang lain. Janganlah menganiaya dan jangan menyerahkan dia kepada musuh. (HR al-Bukhari).

Harga nyawa akan sangat terasa berarti bila pemimpin memberikan gambaran utuh bagaimana seharusnya menegakkan keadilan, bagaimana menegakkan hukum, dan hukum tertinggi adalah milik Allah yang sempurna. Sebab manusia tempatnya lemah dan salah. Penuh kubangan ego dan nafsu yang sewaktu-waktu ingin dipenuhi meski melayangkan nyawa-nyawa tak bersalah. Di dalam bingkai Khilafah dan seluruh elemen yang kokoh bertakwa, takut pada pencipta dan mengenal esensi kehidupan, pastilah akan menemui keberkahan, bukan kesempitan seperti hari ini.

Penulis: Arinda Nurul Widyaningrum (Sekretaris Umum FLP Ranting UIN Alauddin Makassar dan Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris)

Cinta Bukan Batasan
Sutra Tenri Awaru

Cinta itu bukan batasan, sebab cinta adalah hak semua orang.
Cinta itu tidak memiliki aturan, sebab cinta telah diatur sebagai keadilan.
Cinta adalah satu kata yang memiliki banyak arti, sebab cinta adalah kehidupan dan hidup orang berbeda.

Cinta tak memandang cacat atau sempurnamu, karna cinta bukanlah dia yang terlihat.
Cinta tak memandang kulit hitam atau putihmu, karna cinta bukanlah dia yang tersentuh.
Cinta tidak memandang gemuk atau kurusmu, sebab cinta bukanlah bagian dari tubuh.

Cinta adalah rasa yang mampu membuat kita tersenyum yang hadirkan bahagia di setiap sorot mata pasangan,
Cinta begitu khidmat mampu merangsang jiwa untuk melakukan kebahagiaan.

Cinta itu sakral
Tidak pantas diucapkan bagi mereka yang tidak tahu makna dari cinta yang sesungguhnya, dan cinta bukanlah kata melainkan perasaan yang diungkapkan dengan kebaikan dan kebahagiaan

Senandung Masa Lajang
Arya Sarimata

Teruntuk kekasih di masa depan
Yang selalu ku damba dalam ingatan
Yang selalu ku bawa dalam bait doa
Pun selalu ku kenang dalam rindu yang dalam

Hari-hari ku lalui tanpamu di sekitar
Tanya pun semakin banyak menyerang
Seringkali ia meninggalkan luka
Dimana dirimu berada?

Kita memang belum bersama dalam kenyataan
Hadirmu selalu saja dalam angan
Cintaku pun hanya sebatas diam
Ku simpan kalau kita berjumpa

Mungkin belum waktunya kita dipertemukan sekarang
Bahkan esok, lusa atau tahun-tahun mendatang
Tapi tak 'kan pernah ku kehilangan harapan
Bahwa kita 'kan bersatu di waktu yang tepat

Bersabarlah diri
Bersabarlah kekasih
Tuhan sedang sedang membuat kita tahan banting
Agar nanti cinta kita tak berakhir sementara
Tapi, selamanya
Diberdayakan oleh Blogger.