LORONG KATA

Lorong Kata --- Badan Usaha Milik Negara yang disingkat BUMN menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Apalagi sejak munculnya wacana holding dan superholding BUMN mengakibatkan Kementrian BUMN akan dihapuskan dari jajaran kementrian di pemerintahan ini.

Sebenarnya konsep holding untuk perampingan jumlah BUMN di Indonesia sudah digelontorkan sejak tahun 1998. Konsep ini melalui jalan pengelompokan BUMN ke setiap industri dimunculkan pada era Menteri BUMN pertama yakni era Tanri Abeng.

Dalam debat terakhir Pilpres 2019 yang digelar tanggal 13 April 2019, Capres Petahana Joko Widodo dan Prabowo Subianto memperdebatkan soal pembentukan holding dan super holding BUMN. Jokowi mengatakan holding dan super holding BUMN dilakukan agar perusahaan pelat merah besar. Sementara itu Prabowo mengatakan holding dan super holding BUMN yang dilakukan pemerintah tak rasional lantaran pengelolaan perusahaan negara tersebut saat ini buruk. (CNN Indonesia).

Sementara itu Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, kementeriannya akan hilang jika rencana pembentukan super holding BUMN terbentuk. Super holding akan bertanggung jawab langsung kepada presiden RI. Pemerintah tetap akan menjadi pemegang saham dari super holding maupun perusahaan holding di bawahnya. Dengan demikian katanya, pemerintah masih memiliki kontrol pengawasan kepada super holding dan perusahaan holding di bawahnya. Ia hanya mengatakan birokrasi super holding akan berbeda dengan kementerian.

Adalah wajar terjadi polemik seputar BUMN saat ini, karena yang menjadi tujuan adalah semata-mata mendapatkan manfaat. Kalau merujuk kepada UU No. 19 Tahun 2003, definisi BUMN adalah suatu badan usaha dimana modalnya dimiliki oleh pemerintah yang berasal dari kekayaan negara. BUMN adalah termasuk pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian secara nasional. BUMN didirikan dengan tujuan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai sektor.

Dari definisi BUMN tersebut sangat jelas bahwa keberadaannya sebagai badan usaha atau perusahaan bertujuan untuk meraih keuntungan, walaupun perusahaan itu modalnya dimiliki oleh pemerintah. Sedangkan tujuan didirikannya BUMN mustahil terwujud dengan bentuk perusahaan. Padahal semua sektor BUMN adalah sektor strategis atau pelayanan publik. Seharusnya semua itu diperoleh oleh masyarakat dengan murah atau bahkan gratis. Menjadi hal yang bertolak belakang dengan tujuan dari perusahaan untuk meraih keuntungan.

Sehingga jelas keberadaan BUMN merupakan bentuk liberalisasi ekonomi. Yaitu sebagai badan bisnis untuk meraih keuntungan. Tanpa memperhatikan lagi bagaimana pelayanan yang seharusnya diperoleh oleh rakyat. Negara sebagai penjual sedangkan rakyat sebagai pembeli. Sebagaimana tabiatnya sebagai penjual, tentu ingin mendapatkan keuntungan yang besar. Jadi tidak ada pelayanan yang diberikan. Kesejahteraan masyarakat yang menjadi tujuan BUMN hanya sebatas jargon.

Bukti liberalisasi ekonomi itu semakin nampak dengan adanya privatisasi BUMN sejak tahun 1987. Sebagian perusahaan yang termasuk diprivatisasikan pada akhir 1999 dan hasilnya baru bisa didapat pada tahun 2001. BUMN itu tergolong strategis, beraset besar dan mengelola hajat hidup orang banyak. Yang termasuk perusahaan yang diprivatisasikan oleh negara seperti PT Indosat, PT Semen Gresik, PT Aneka Tambang, PT Tambang Timah, PT Angkasa Pura II , PT Telkom, PT Pelindo II dan III, PT Jasa Marga, PT Perkebunan Nusantara IV, PT Tambang Batu Bara Bukit Asam dan PT Krakatau Stell.

Inilah watak dari sistem kapitalisme, yang mengutamakan kepentingan pengusaha. Negara yang seharusnya menjadi pelayan bagi rakyat tidak berjalan. Hubungan negara dengan rakyat adalah hubungan bisnis untung rugi.

BUMN yang disebut sebagai perusahaan pelat merah itupun tetap menjadi persoalan bagi pemerintah. Seperti yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Dia menilai dominasi BUMN membuat investasi tersendat. Oleh karena itu dia meminta perusahaan berpelat merah mengalah dengan swasta. Sri Mulyani menerangkan dalam sebuah perekonomian negara peranan semua sektor menjadi sangat penting. Ketika ekonomi global sedang bergejolak maka penting untuk menggerakkan dunia usaha dalam negeri. Disampaikannya di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (2/8/2019). (m.detik.com).

Sudahlah BUMN itu liberalisasi dalam ekonomi, ditambah lagi diserahkan kepada swasta atau diprivatisasi. Semakin memperparah kesengsaraan bagi rakyat. Perusahaan pelat merah saja sudah membuat sektor pelayanan publik menjadi mahal apalagi diserahkan kepada swasta. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga.

Dengan menyerahkan kepada swasta, maka keran investasi akan semakin terbuka lebar. Semakin nyata peran swasta dalam mengendalikan perusahaan yang menguasai sektor publik. Jauh panggang dari api untuk meningkatkan kesejahteraan kepada masyarakat. Malah yang terjadi sebaliknya, menyebabkan kesengsaraan bagi rakyat.

Islam sebagai aturan kehidupan menyeluruh termasuk di dalamnya tentang ekonomi. Menjadi kewajiban negara dalam mengelola pelayanan publik atau sektor strategis. Tidak diserahkan kepada swasta lokal apalagi asing.

Misalnya dalam pertambangan yang merupakan sektor strategis yang menjadi kepemilikan umum, Rasulullah SAW bersabda:

Kaum Muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api (HR Ibnu Majah).

Terkait kepemilikan umum ini, Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan hadis dari penuturan Abyadh bin Hammal. Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa Abyad pernah meminta kepada Rasul SAW untuk dapat mengelola sebuah tambang garam. Rasul SAW lalu meluluskan permintaan itu. Namun, beliau segera diingatkan oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, tahukah Anda, apa yang telah Anda berikan kepada dia? Sungguh Anda telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (mâu al-iddu).” Rasul saw. kemudian bersabda, “Ambil kembali tambang tersebut dari dia.” (HR at-Tirmidzi).

Inilah gambaran sekelumit penerapan aturan Islam dalam kehidupan. Yang bisa mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Oleh karena itu tidak ada pilihan bagi kita selain menerapkan aturan Islam, karena terbukti sistem kapitalisme menyebabkan kesengsaraan bagi rakyat. Wallahu a'lam bi ash shawab.

Penulis: Haryati (Aktivis Muslimah)

Lorong Kata --- Menjadi seorang perempuan bukan perkara mudah, berpakaian tertutup ataupun terbuka tetap saja akan ada yang mengkritiknya. Berpakaian minim akan dihujat dengan alasan moralitas. Sementara yang berpakaian tertutup pun akan dihujat dengan alasan tidak mengikuti perkembangan.

Di kampung tempat saya dilahirkan, saya masih bisa menikmati kopi di teras rumah tanpa harus menduakan candunya. Sementara di perkotaan yang pernah saya singgahi, saya tidak lagi mampu menikmati kopi dengan khusyuk. Di kampung, pakaian terbaik adalah yang menutup area selangkang sementara sebagian wanita di perkotaan dengan sengaja memamerkan area selangkang. Sehingga menikmati kopi di kedai kopi di perkotaan membuat candu tidak lagi setia pada kopi, sebab selangkang pun ikut membuat candu.

Sayangnya, tidak semua wanita merasa senang jika selangkangnya dinikmati. Sebagai contoh, waktu itu, saya sedang berjalan di bibir pantai kuta yang mayoritas pengunjungnya mengenakan bikini (pakaian renang yang hanya dua potong super mini). Pria setengah paru dengan sengaja berdiri tepat di belakang wanita berbikini tampak memandanginya cukup lama, setelah wanita itu sadar, ia lantas pergi dengan ekspresi yang tidak menyenangkan, seperti sedang terganggu.

Sementara di warung kopi, beberapa wanita yang melintas dengan pakaian terbuka memperlihatkan bagian paha dan selangkangan tidak merasa risih dengan tindakan para pria yang menikmatinya lewat pandanga yang cukup lama. Bahkan sebagiannya hanya tersenyum.

Dulu bahkan sekarang, saya sering mendengar frasa "Cewek Murahan" dari sahabat-sahabat saya di kampung. Frasa itu tertuju pada perempuan yang suka memperlihatkan bagian terpenting di tubuhnya secara bebas seperti paha dan bentuk buah dada yang ditonjolkan.

Bagi saya, sebagai manusia yang beradab maka sudah sepantasnya menjaga moralitas itu penting agar tidak menimbulkan stigma sosial di masyarakat karena menganggap hal tersebut melanggar moralitas.

Sebagian orang beranggapan bahwa hak dan kebebasan seseorang tidak boleh dibatasi. Setiap manusia berhak berhak berekspresi lewat gaya hidup. Namun, harus disadari pula bahwa lewat gaya hidup yang melanggar moralitas mampu menimbulkan hukuman sosial lantaran menyalahi peradaban di masyarakat.

Menurut saya, bergaya, bahkan meniru peradaban barat adalah sah-sah saja, tetapi jika sudah menyangkut pelanggaran moralitas maka sebaiknya mempertahankan peradaban kita adalah tidakan yang sudah sangat benar. Bukankah dalil agama bahkan sudah sangat jelas mengatur hal tersebut?

Mohon maaf, tulisan ini bukan bermaksud mendiskreditkan budaya orang barat, tapi perlu diketahui bahwa mereka tidak begitu mempersoalkan penampilan dan sebaliknya budaya ketimuran kita tidak begitu cocok dengan penerapan gaya hidup yang kebarat-baratan.

Tulisan ini juga tidak bermaksud mendiskreditkan wanita yang berpakaian seksi. Saya hanya ingin mengajak agar paha hingga selangkang dapat tertutupi dengan baik sebab saya dan beberapa yang lainnya tidak bisa khusuk menikmati kopi lantaran candu telah berselingkuh di bagian paha dan selangkang.

Jika masih ngotot pengen pamer paha dan selangkang maka jangan salahkan si pria berotak bejat jika pandangannya tidak ingin bergeser dari bagian yang enggan kalian tutupi karena pria tidak akan mungkin berjalan dengan mata tertutup atau wajah menengadah kelangit.

Yah, tidak salah memang jika semua orang menuntut kebebasan. Termasuk para wanita yang ingin bebas mengenakan apapun. Namun, pada akhirnya tindakan moralitas yang betentangan di masyarakat kita akan mendapat konsekuensi tentang hukuman sosial.

Tidak hanya soal hukuman sosial, pakaian terbuka setidaknya mampu mengundang kejahatan seksual. Meskipun telah banyak yang melakukan survei yang telah berusaha membuktikan bahwa pakaian terbukan bukan penyebab utama lahirnya kejahatan seksual, tetapi perlu diketahui bahwa kejahatan seksual lahir, juga karena adanya godaan dari para korban lewat cara berpakaian yang terbuka.

Apabila kejahatan dinilai dari bentuk eksploitasi, maka wanita yang memperlihatkan bentuk tubuhnya secara terbuka adalah kesalahan dan pria yang mengeksploitasinya secara bebas lewat tatapan adalah kejahatan seksual. Lagipula, apa susanya sih, jika mengenakan pakaian tertutup?

Dalam ajaran agama, sudah sangat jelas mengatur kebebasan setiap orang. Bagaimana seseorang berpakaian hingga tidak menimbulkan kejahatan. Lagipula, bukan suatu kemunduran jika seseorang menutup bagian tubuh yang seharusnya tertutup.

Kejahatan tidak pernah lahir dengan sendirinya, selalu ada penyebab yang menjadi penggerak lahirnya tindakan kejahatan. Salah satu cara menghindari kejahatan adalah dengan tidak menciptakan penggeraknya.

Saya tidak bermaksud mendiskreditkan kaum perempuan yang berpakaian terbuka lewat tulisan ini. Saya hanya ingin mengajak agar perempuan lebih memperhatikan moralitas dalam berpakaian. Sebab, penilaian utama lahir dari pandangan dan kejahatan lahir karena adanya kesempatan dan godaan dari para korban. Perlu diketahui bahwa pelecehan seksual bukan hanya lewat sentuhan melainkan juga lewat tatapan yang disengaja terhadap objek vital yang seharusnya tertutupi.

Paha dan selangkangan adalah aurat bagi kaum muslim yang harus ditutupi karena menjadi dosa jika dipertontonkan dan dosa pula bagi kaum lelaki yang bukan mahram jika menikmatinya dengan segaja sebagai objek seksual.

Sebagai tambahan, pengalaman saya di warung-warung kopi, pakaian terbuka selalu menjadi topik yang lebih menarik untuk dibicarakan sebagai objek seksual semata yang menimbulkan candu. Ingat, bahwa kejahatan seksual lahir tidak hanya karena ada kesempatan, tetapi karena ada godaan dari cara berpakaian korbannya.

Sekali lagi, pesan saya adalah jaga paha dan selangkanganmu agar tidak membuatku candu, cukup kopi saja yang membuatku candu. Sembunyikan bentuk paha dan selangkanganmu untuk mereka yang berani menikahimu. Jangan menumpuk dosa lantaran selangkangan terlalu banyak yang menikmatinya.

Banyangan Semu
Lasmi Dewi

Andai semuanya dapat ku abadikan
Kutakkan begini

Semua bayanganmu
Selalu menari nari di pelupuk mataku

Diantara hempasan nafasku
Diantara derap langkahku
Banyanganmu selalu menggelitik hatiku
Senyum dan candamu
Selalu menghiasi hidupku

Walau ku coba
Menghapus bayanganmu

Namun bayang bayang semumu
Tak bisa menghapus ingatanku
Begitu kuat hadir di lubuk hatiku

Ku tau
Karna kau tak bersamaku lagi
Jauh sudah kau berjalan
Meninggalkanku
Hanya nafas dan bayanganmu
Selalu bergelayut di hatiku

Lorong Kata --- Tanggal, 17 Agustus merupakan momentum bersejarah sepanjang rentetan peristiwa, yang turut menghiasi dalam konsep ke–Indonesiaan. 

Euforia kemerdekaan menggema dari berbagai penjuru mendengar teks proklamasi diucapkan secara khidmat, membakar semangat nasionalisme.

Pertanda alarm terbebas dari belenggu kolonial yang telah lama mencengkram kejayaan bangsa. Rekaman panjang atas jejak sejarah menjadi bukti nyata bahwa Indonesia telah melewati ambang suka dan duka menuju negara dengan masyarakat adil makmur. 

Para founding father atau bapak pendiri bangsa kita banyak mengorbankan segala aspek atas pencapaian ini. Ada banyak distorsi sejarah yang masih belum terekspos perihal menuju kemerdekaan karna saratnya akan kepentingan politis. 

Seperti dinamika menuju perumusan proklamasi, prosesi menuju pembacaannya, dsb. Tentu saja ini menjadi bahan refleksi nasionalis serta penting untuk disadari bersama.

Apalagi di usia yang sudah hampir menyentuh 1 Abad. 74 tahun bukan usia yang mudah lagi. Ada banyak pelajaran, serta cerminan proyeksi pendahulu yang bisa kita petik dan rekonstruksi kembali hari ini. 

Jika konteks perayaan kemerdekaan tahun ini hanya dimaknai sebatas acara seremonial (simbolik), maka kita masih belum bisa sepenuhnya dikatakan berjiwa nasionalisme yang kompleks.

Pengejawantahan atas semangat para pahlawan tidak berhenti pada hari ini (tahunan) akan tetapi, nilai kemerdekaan dalam implementasi kehidupan sehari-hari yang berkembang sesuai dengan denyut nadi peradaban.

Menuju perubahan yang dinamis itulah yang sebenarnya merdeka sehemat analisa saya. 

Lebih peka terhadap keadaan sosial, kondisi rakyat dan negara hari ini yang carut-marut serta perlahan bergeser atas nilai moralitas. 

Dapat melihat beberapa lapis elemen dari masyarakat merasakan bentuk keadilan, maka itulah makna kemerdekaan yang hakiki. Mari merdeka secara kolektif bukan individualistik.

Merdeka!

Penulis: Fian Anawagis

Islam adalah agama Rahmatan Lil'Alamin yang mana memberikan Rahmat atas seluruh alam tak hanya manusia, hewan, tumbuhan dan seluruh yang ada di bumi ini akan merasakan Rahmat Islam. Agama yang diturunkan Allah kepada kita melalui utusan-Nya Muhammad SAW telah memberikan petunjuk kepada manusia untuk menjalani kehidupan di dunia yang fana. Seperti firman Allah SWT dalam surah Al-Qashash ayat 28 :"Dan tidaklah engkau mengharapakan Al-Qur'an diturunkan kepadamu, melainkan sebagai Rahmat dari Rabb-mu".

Begitu pula yang disampaikan oleh ulama Nusantara yang mendunia, Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H): "Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) wahai sebaik-baik makhluk dengan membawa ajaran-ajaran Syariat-Nya, kecuali sebagai Rahmat bagi semesta alam, yakni untuk menjadi Rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya bagi agama ini dan kehidupan dunia."

Islam tak hanya sebagai aqidah bagi Kaum Muslim, akan tetapi juga sebuah ideologi yang memancarkan seperangkat aturan yang lengkap, selain mengatur hubungan pribadi terhadap Tuhan Maha Pencipta. Islam pun mengatur urusan diri sendiri seperti dalam hal akhlak, makanan,minuman dan pakaian. Begitu pula Islam mengatur berbagai aspek kehidupan yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia seperti politik, pemerintahan, pendidikan, sosial, hukum ekonomi serta militer.

Penerapan Islam secara menyeluruh dalam sebuah negara bernama Khilafah terbukti telah mampu menorehkan tinta emas dalam sejarah. Khilafah mampu menaungi 2/3 dunia dengan Rahmat Islam selama 13 abad lebih. Banyak keberhasilan yang dicapai pada masa kejayaan Islam saat itu dari teknologi yang unggul, para ilmuan yanh hebat, pengaturan ekonomi yang maju, politik yang yang cerdas, pemerintahan yang amanah, hukum yang adil serta militer yang menggetarkan musuh-musuh.

Kekhilafahan yang menerapkan Islam didalamnya dengan sempurna selain mendapatkan berkah dari Allah SWT bagi para penduduk negeri namun juga mampu mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan yang selalu rakyat harapkan. Dengan keberhasilan tersebut menjadikan rakyat mencintai pemimpin dan negara Islam yang menaungi mereka. Sehingga mereka rela berkorban apapun untuk menjaga keutuhan Daulah Khilafah.

Pada kenyataannya sejarah telah berlalu, masa kejayaan Islam telah padam. Justru yang terjadi saat ini ketika negeri-negeei kaum muslimin dijajah dan dikuasai oleh orang-orang kafir yang menganut paham sekuler Kapitalis seolah mendungnya kehidupan begitu pekat menyelimuti. Tak terkecuali negeri ini, yang menjadi negara pengekor negara adidaya yang mengemban Sistem sekuler Kapitalis maka sistem inilah yang telah lama bercokol di negeri ini.

Sehingga yang terjadi saat ini seperti hutang yang terus meningkat, Defisit Neraca perdagangan yang terus melebar, biaya kebutuhan hidup semakin besar, kemiskinan belum dapat teratasi ditambah pengangguran yang terus membayangi generasi negeri, pergaulan bebas semakin tahun semakin menambah catatan hitam negeri ini, keadilan yang terus memudar dan sebagainya merupakan buah dari penerapan sistem sekuler Kapitalis di negeri ini.

Dalang dari permasalah di negeri ini kian dilindungi, justru ajaran Islam yang semakin di kriminalisasi. Kata Khilafah terus diopinikan oleh pejabat negeri bahwa ajaran Islam satu ini akan menganjurkan NKRI, para ulama dan aktivis yang menyuarakannya ikut dipersekusi untuk menahan arus opini khilafah merambah keseluruh negeri.

Rezim saat ini telah memposisikan diri sebagai antek penjajah negeri ini, represif terhadap ajaran Islam yang diakui dalam Undang-undang namun bersikap manis terhadap para penjajah bahkan memuluskan langkah mereka menjarah kekayaan alam negeri. Seperti dilansir dalam Detik.com, Pemerintah tidak menganggap Ijtimak Ulama IV yang salah satu rekomendasinya mewujudkan NKRI syariah sesuai Pancasila. Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengatakan yang berlawanan dengan Pancasila harus dilawan.

"Begini, negara kita kan bukan negara Islam. Negara kita ini negara sudah jelas ideologinya, ideologi lain ngga bisa dikembangkan disini. Sepanjang itu berlawanan dengan ideologi Pancasila, ya harus dilawan," ucap Moeldoko.

Seolah syariat Islam terlarang untuk diterapkan di negeri ini padahal telah terbukti bertahan dengan sistem yang ada saat ini telah membuat masyarakat hidup dalam kesengsaraan yang tiada henti. Hanya saja, bagaimanapun kerasnya rezim ini beserta sekutunya menghalangi kebangkitan Islam yang kedua dalam naungan Khilafah hanyak akan menjadi kesia-siaan yang akan disesali dikemudian hari. Bangkitnya Khilafah kedua yang sesuai dengan manhaj kenabian merupakan keniscayaan karena itu adalah janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah SAW.

Penulis: Dina Evalina (Aktivis Dakwah)

Kasihku
Lasmi Dewi

Kasih
Diufuk Timur
Senja yang menyinari
Langit senjapun kian meredup
Mengantarkanmu kasihku

Gerimis perlahan jatuh
Membasahi jiwaku yang rapuh

Kasih
Kaulah hidupku
Kau lah jiwaku

Kau meninggalkanku
Berjuta kenangan indah
Mengisi lembar demi lembar di hatiku

Kasih
Kepergianmu
Membuat hatiku layu
Namun aku mengerti
Apa arti semua ini
Kau adalah belahan hatiku

Dalam setiap tetes kehidupanku
Kenanganmu
Takkan hilang
Dalam sanubariku
Kulantunkan sebait doa
Untukmu kasihku
Tenanglah kau di sana
Dipangkuan Yang Maha Pencipta
Diberdayakan oleh Blogger.