Rindu Yang Tak Berkesudahan
(Dikha)

Saat ini, malam merangkak tanpa bintang
Hanya mendung bersenandung sunyi
Ketika angin berhembus berbisik perihal hati
Yang terkoyak oleh rindu dan sepi.

Kemana kamu selama ini
Aku terperangkap diruang khayalan
Membayangkan sosok yang kurindukan
Jangan biarkan aku larut dalam penantian.

Malam semakin sunyi
Sosokmu terus membayangi
Kuterka rindu yang terus menghantui
Kau, si pemilik senyum polos bak bidadari.

Si pencuri rindu
Membuat lidahku semakin kaku
Apa yang terjadi padaku ?
Hingga kuberani berucap, Aku mengagumimu.

Pada hening malam
Meski tanpa bintang
Kutatap rembulan
Sembari kulangitkan harapan.

Kupasrahkan pada pemilik kehidupan
Tentang kerinduan yang tak berkesudahan
Walau berkali-kali kusemogakan
Bersamamu hingga maut memisahkan.

Tidak Perlu Menjadi Pendosa
(Andika Putra)

Untukmu para wanita
Calon bidadari surga
Berparas indah di pandang mata

Kau begitu cantik jika menutup aurat
Tak sesak karena kaus ketat
Atau celana ketat perlihatkan pantat

Tak perlu mengundang lelaki tuk maksiat
Agar digoda lelaki berotak bejat
Karena tak kunjung menutup aurat

Kau lebih indah jika berhijab
Berpenampilan lebih beradab
Agar kau tak kena azab

Bersoleklah untuk suami
Bukan untuk semua lelaki
Agar lebih dicinta Ilahi

Wahai kaum Hawa
Mulia lah karena takwa
Agar kelak jadi bidadari surga

Tak perlu mengumpulkan dosa
Hanya karena gaya
Aurat dibiarkan terbuka
Lalu kelak masuk neraka.

Demokrasi Dan Sebuah Ambisi
(Dikha)

Semarak demokrasi negeri ini
Dinanti para petinggi
Susun sebuah strategi
Demi sebuah kursi
Kawan jadi lawan demi sebuah ambisi

Janji perubahan
Janji kemasyarakatan
Membela kemaslahatan
Lalu berakhir kekecewaan
Karena itu hanya sebuah ucapan
Tanpa perbuatan.

Yang kaya di dewakan
Yang miskin dilupakan
Semua demi jabatan
Bukan untuk perubahan
Tapi hanya untuk kekuasaan.

Serangan fajar jadi senjata
Janji-janji diumbar tiada tara
Memikat semua pasang mata
Agar menang menjadi penguasa.

Itu semua demi pribadimu
Demi golonganmu
Demi warna benderamu
Dan demi partaimu.

Rakyat kini dicampakkan
Yang hidup dipinggir jalan
Perut selalu keroncongan
Karena harapan tak pernah terwujudkan.

Lupakah kau dengan dosa
Sebab keserakahan akan membawa petaka
Dunia hanya sementara
Lalu kenapa kau senang memetik dosa.

Kau Milik Dia Dan Aku Masih Sendiri
(Dikha)

Tahukah kamu hal yang paling menyiksa ?
Adalah rindu yang tak kunjung kesampaian
Rasanya ingin mencari beribu cara
Untuk tetap bisa melarungkan rindu.

Rindu membuatku menjadi bangsat
Membunuh ketidakpastian
Agar rindu tak hanya sekedar ilusi.

Rindu pun membuatku menjadi pecundang
Yang tak berdaya dikala sepi
Meronta menantang kesunyian
Meski terbunuh ketidakwarasan jiwa.

Yah... itu adalah rindu
Yang senang menyerang
Merasuk, merobek dan menusuk kejiwaku

Aku takut pada wujud rindu
Sebab pertemuan
Tak mampu kuwujudkan lagi
Kau milik dia sementara aku masih sendiri.

Demokrasi Tanpa Intimidasi
(Dikha)

Besok adalah hari berpesta demokrasi
Semua rakyat ikut berpartisipasi
Menjadi pemilih cerdas tanpa intimidasi
Memberi suara sesuai hati nurani.

Karena golput bukan hal yang istimewa
Coblos saja dengan saksama
Dibagian dada
Dengan paku runcing yang menyala

Besok adalah hari berpilkada
Damai tanpa perselisihan karena suara
Dengan pasangan kita
Walau berbeda
Kau memilih dia
Dan aku memilih yang lainnya
Karena tujuan yang sama
Tersenyumlah dan saling sapa.

Jangan dengarkan janji-janji
Gunakan gelombang hati nurani
Jangan jual harga diri
Dengan uang robek yang sudah basi
Karena yang diinginkan negeri ini
Bukan janji tapi bukti.

Pilkada Milik Siapa ?
(Andika Putra)

Kampanye sudah mulai panas
Bahkan sebelum calon itu didaftarkan
Menuju kursi penguasa
Lewat pesta demokrasi pilkada.

Membuat rakyat terperangah
Lewat janji-janji pilkada
Walau itu hanya guyonan
Lalu kelak mereka dilupakan.

Katanya, kepentingan rakyat yang utama
Faktanya, mereka dibutuhkan saat pemilihan saja
Karena suara adalah hal yang utama
Untuk bisa menjadi penguasa.

Mereka mengumbar kerja dan kerja
Walau hanya omongan saja
Lalu mereka dilupakan nantinya
Karena rakyat bukan lagi yang utama.

Pilkada milik siapa ?
Untuk rakyat atau pejabat ?
Ataukah untuk partainya saja ?

Dimana kepentingan rakyat ?
Apa masih ada yang membela ?
Ataukah sudah lupa siapa yang memilihnya ?

Jujur saja,
Kami bosan dengan janji-janji belaka
Yang diumbar lewat kampanye pilkada
Hanya untuk mendulang suara
Agar dapat kursi penguasa.
Powered by Blogger.