LORONG KATA

Lorong Kata - Dunia saat ini tengah dirundung duka, hampir semua wilayah yang berpenghuni (manusia) mengalami ketakutan yang sama, ketakutan yang disebabkan oleh sebuah mahluk kecil tak kasat mata yang diberi nama virus.

COVID-19 (Coronavirus disease 2019), mulai ditemukan pada awal tahun lalu di daerah Wuhan Provinsi Hubei, China. Hingga saat ini 28 Maret 2019 jumlah negara terkonfirmasi terjangkit virus ini mencapai 201 Negara, dengan jumlah positif virus ini mencapai 512.701 orang, dan 23.495 orang jumlah kematian. Di Indonesia sendiri per 28 Maret 2020 kasus positif terinfeksi virus ini mencapai 1.155 Kasus, dengan kematian 102 orang dan sembuh 59 orang Berdasarkan data dari COVID-19.GO.ID KOMINFO via WhatsApp dan https://covid-19.go.id/situasi-virus-korona/

Kalau kita melihat sejarah perjalanan manusia, wabah penyakit seakan tak pernah hilang tiap masanya, dalam kurung waktu 20 tahun belakangan, tercatat 2 kasus wabah terbesar, SARS (Severe Acute Respirator Syndrome) tahun 2002 yang pertama muncul di China dan menyebar ke 25 negara, MERS (Midde East Respirator Syndrome) 2012 yang mulai terdeteksi di Arab Saudi. Sumber https://www.nu.or.id (sejarah wabah mematikan di dunia dan Indonesia) dan kini Covid-19 yang seakan tak ingin kalah dari pendahulunya dan terus melebarkan jajakan-nya.

Ditengah pesatnya pernyebaran wabah ini, ikut pula berkembang informasi terkait, yang yang tak terbendung jumlahnya, tiap saat munghiasi platform media sosial kita. ragam media, baik individu maupun organisasi berlomba membuat informasi dan kemudian menyerbarkannya dalam ragam bentuk, ada yang dalam bentuk konvensional (koran, tabloid) dan yang mengikuti zaman dalam bentuk situs online. Pesatnya penyebaran informasi ini meningkatkan kemungkinan besar adanya berita bohong (hoax) yang ikut tersebar yang dibuat oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab dengan beragam motifnya, mulai dari mencari sensasi semata, sampai pada ujaran kebencian.

Terbaru, masyarakat indonesia terkhusus masyarakat sulawesi-selatan dihebohkan dengan sebuah informasi yang viral sekitar 3 hari yang lalu (25 Maret 2019) yang termuat dalam media Youtube, memperlihatkan seorang bayi yang mampu berbicara dan memberikan perintah untuk merebus telur ayam pada malam hari sebagai penangkal virus Covid-19. Dan mirisnya banyak masyarakat yang percaya, terbukti dari beberapa postingan status (tulisan) yang menceritakan kisah keluarganya dan atau tetangganya, foto yang menggambarkan bahwa ia sedang mengaktualisasikan informasi hoax yang didapat tersebut.

Kejadian ini memberikan fakta tentang rendahnya literasi informasi masyarakat kita, padahal apabila kita menganalisis baik-baik kita akan menemukan keganjalan, mulai dari kualitas video yang sangat kotor, saya sebagai generasi milenial melihat video tersebut sudah bisa memastikan bahwa video tersebut merupakan hasil editan seseorang yang kurang kreatif yang entah apa motif mereka membuat video tersebut, belum lagi riwayat waktu video tersebut di upload yang menunjukkan waktu sekitar 3 tahun yang lalu. Dalam ilmu jurnalistik, sebuah informasi dan berita harus memuat unsur 5w + 1h (What, Who, why, when, where, + How). apa bila unsur ini tidak terpenuhi maka informasi tersebut bisa diragukan dan bisa jadi hoax. Dan sampai saya buat tulisan ini, masih banyak hoax lainnya yang tersebar, seakan menghiasi hari-hari kami ditengah masa Sosial Distancing.

Paradigma kebenaran informasi di Masyarakat hari ini tidak lagi dilihat dari objek atau siapa yang menyampaikan, media apa yang memberitakan, dan data akurat yang disajikan. Tetapi telah bergeser menjadi seberapa viral informasi tersebut muncul diberanda media, seberapa banyak dibagikan, dan seberapa banyak like yang di dapatkan.

Paradigma ini yang harus segera diubah dalam Masyarakat dan peningkatan pendidikan literasi informasi masyarakat mesti semakin digiatkan, karena hoax sudah menjadi ancaman besar terhadap kesatuan bangsa ini, oknum-oknum yang ingin bangsa ini bertikai, akan selalu gencar membuat berita untuk mengadu domba masyarakat, yang dibungkus dengan isu agama, etnis, dan lainnya. Seyogyanya apa bila kita menerima berita atau informasi, dahulukan saring sebelum sharing, hoax cukup sampai pada diri kita, tidak untuk disampaikan pada orang lain.

Dari kehebohan informasi bohong (hoax) yang mengisi media sosial saya FB & WA, saya kemudian teringat tentang jatidiri saya beberapa tahun yang akan datang, yaitu menjadi seorang pustakawan, kebetulan sekarang saya sedang menempuh pendidikan ilmu perpustakaan di salah satu universitas negeri keislaman di kabupaten Gowa. Dimana lulusan dari jurusan saya ini hampir semua pasti akan berkecimpung di dunia perpustakaan dan mendapat gelar pustakawan.

Hampir 3 tahun saya menempuh pendidikan ilmu perpustakaan, hal yang paling saya ingat dan mungkin sudah tertanam dalam ingatan adalah ucapan beberapa dosen dan beberapa kawan mahasiswa di jurusan tentang peran, fungsi dan tujuan perpustakaan, yang secara umum dapat disimpulkan bahwa perpustakaan sebagai pengumpul, pengelola, penyedia, dan penyalur informasi kepada semua khalayak (Untuk lebih jelasnya silahkan dibuka Undang-undang RI No. 43 tahun 2007 Tentang Perpustakaan).

Disini tergambarkan betapa besar sejatinya peran sebuah perpustakaan terhadap penyebaran informasi kepada masyarakat. Seyogyanya perpustakaan menjadi garda terdepan dalam memberikan informasi kepada masyarakat dengan data yang lengkap, faktual sehingga mampu meminimalisir informasi-informasi bohong (hoax).

Dalam undang-undang tersebut diatasi, termaktub sebuah tugas yang diemban perpustakaan, didalam pasal 4 menjelaskan tujuan sebuah perpustakaan, dimana perpustakaan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Apabila seyogyanya perpustakaan sebagai tempat atau wadah untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia, lantas viralnya hoax kemarin dan dianggap sebagai sebuah kebenaran dimasyarakat, memberikan kontradiksi antara tujuan perpustakaan dengan realitas masyarakat, perpustakaan nyatanya masih sangat minim peran dalam Masyarakat dan bahkan dibeberapa daerah perpustakaan perannya sudah mati.

Ini bukan lagi menjadi rahasia pribadi, tapi sudah menjadi rahasia publik, betapa banyak perpustakaan desa yang menghabiskan anggaran desa dalam pembangunan gedung, pengadaan sarana dan prasarana penunjang, nyatanya tak lebih dari sebuah gudang buku, tak ada aktifitas pencerdasan yang dilakukan, tak ada pengunjung yang datang. Begitupun perpustakaan daerah kota / kabupaten, dan juga Provinsi berapa banyak pengunjung yang datang tiap harinya dibanding jumlah penduduk di daerah tersebut ?

Kemungkinan besarnya mengapa perpustakaan sepi peminat, karena masyarakat tidak tahu apa sebenarnya perpustakaan, masyarakat tidak tau dimana lokasi perpustakaan, dan yang lebih miris, peran perpustakaan sebagai penyedia informasi sudah tergantikan dengan hadirnya beragam media informasi online, yang praktis, dan sangat ekonomis.

Melihat kehebohan Hoax kemarin, saya berusaha mencari diberanda media sosial saya tentang apakah ada respon atau informasi tandingan dari perpustakaan maupun pustakawan yang kebetulan beberapa sudah menjadi teman (follow) diakun media saya.

Melihat perpustakaan sekarang juga sudah mengikuti perkembangan zaman dengan hadirnya akun-akun atas nama perpustakaan dimedia sosial, maupun perpustakaan online (digital). Dah hasil dari pencarian saya tersebut, saya tidak menemukan perpustakaan ataupun pustakawan yang membuat steatmen atau apalah yang mengklarifikasi informasi tersebut, entah apakah dimedia sosial teman-teman menemukan atau teman-teman pustakawan dan calon pustakawan ada yang memberikan klarifikasi atau informasi bahwa berita tersebut hoax.

Saya justru salut dan bangga kepada akun-akun yang memang secara mandiri memberikan informasi setiap saat tentang peristiwa dan atau fenomena di sebuah daerah, berhasil mengklarifikasi dan menemukan fakta dibalik berita hoax yang tersebar tersebut lewat media sosial dan media online lainnya. Entah kemana perpustakaan dan pustakawan, seyogyanya apabila kita melihat peran, fungsi, dan tujuan perpustakaan sejatinya yang menjadi garda terdepan dalam menangkal dan memberikan klarifikasi harusnya perpustakaan dan orang-orang yang bergelut di dunia perpustakaan.

Perpustakaan hari ini sejatinya tidak lagi menjadi sebuah tempat, ruang yang statis, tetap tidak bergerak dan menjadi penunggu orang-orang datang mencari informasi didalamnya. Tetapi perpustakaan harus punya terobosan dan kreativitas baru, mengikuti pesatnya perkembangan teknologi yang ada, karena kalau perpustakaan tetap pada dirinya yang apa adanya seperti sekarang yakinlah beberapa tahun kedepan perpustakaan akan mati, mati karena tergeser oleh kelompok-kelompok baru yang juga bergerak dalam penyediaan informasi yang selalu memutakhirkan perkembangan teknologi.

Seseorang yang membutuhkan informasi, tidak lagi harus ke perpustakaan menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya yang lebih besar hanya untuk mencari informasi yang dibutuhkan. kini informasi tersebut ada dalam genggaman, setiap saat dimanapun kita bisa mencari informasi yang dibutuhkan dengan biaya yang sedikit berkurang. Merebaknya penyedia informasi dan orang-orang baik yang ingin membagikan sebuah informasi menjadi ancaman serius bagi kelangsungan eksistensi perpustakaan.

Sudah saatnya perpustakaan melakukan transformasi, merubah paradigma kolot yang tidak sesuai lagi dengan zaman, dan mengadopsi paradigma baru orang-orang maupun organisasi lain dalam pelayan informasi.

Pustakawan sebagai jiwa perpustakaan harusnya bisa lebih aktif lagi, bergerak, membuat inovasi dan terobosan baru. Sekarang program Perpustakaan berbasis inklusi sosial yang sedang gencar di kampanye-kan, harusnya lebih digiatkan lagi, lebih dimaksimalkan lagi, menepis segala keraguan dan prakiraan lainnya tentang keberlangsungan perpustakaan, ditengah perkembangan teknologi informasi.

Dan yang paling urgent, perpustakaan memperlihatkan jatidirinya menjadi garda terdepan yang akan menjadi lawan bagi mereka yang suka membuat informasi bohong, bagi oknum-oknum yang selalu ingin mencapai ambisius dirinya dan kelompok-nya, dengan membuat informasi bohong, demi untuk memecah belah dan menimbulkan kegaduhan dalam kehidupan masyarakat

Terakhir, dunia dan Indonesia secara khusus sekarang sedang dirundung duka, kekhawatiran akan kelangsungan hidup terjadi dimana-mana. Saatnya kita menyatukan persepsi, menghilangkan segala ego kepentingan pribadi dan kelompok, kita saling menguatkan bukan malah saling memisahkan.

Cepat sembuh Bumi Pertiwi, Indonesia-ku.

Penulis: Nr Rahmat.

Lorong Kata - Indonesia adalah negara kepulauan yang akrab disebut ngeri seribu pulau. Dari Sabang sampai Merauke berjajar dengan indah pulau pulau itu. Dari banyaknya Suku, Ras , dan agama sehingga budaya di Indonesia berbeda-beda. Kita sebut Indonesia adalah negeri ragam budaya dan banyak pula corak pemikiran.

Indonesia juga adalah negara yang cukup toleransi dengan negara lainnya. Buktinya akan keterbukaan itu. Ada banyak budaya, agama , dan bahkan kita bisa menerima kedatangan tamu dan bisa menetap di Indonesia ini adalah bukti bahwa kita adalah negara toleran.

Yah, disaat kita mendengar atau bahkan melihat pandemi Corona virus atau covid-19 di koran-koran, televisi dan bahkan di media sosial. Kita sangat toleran dengan umat manusia di Wuhan di negeri Cina itu.

Menurut Menteri Kesehatan Indonesia Terawan Agus Putranto, menyebut selain imunitas yang baik, doa turut membantu menjaga warga Indonesia dari serangan virus yang muncul dari Wuhan tersebut.

Yah, mungkin karena rakyat Indonesia kurang tertib dan kurang berdoa atau bahkan pemerintah kita yang lambat melakukan gerakan waspada terhadap pandemi Corona ini jadinya Indonesia telah diserang virus yang berbahaya dan mematikan ini.

Bahkan pemimpin kampus pun masih ragu untuk lockdown dan memulangkan mahasiswa secepatnya. Karena keterlambatan pemerintah itu sehingga rasa panik yang tinggi menghantui masyarakat Indonesia.

Dari kasus yang awalnya negara melaporkan hanya 450 kasus dan lebih dari 38 kematian, sebagian besar di Jakarta. Bahkan sekarang jumlahnya semakin meningkat karena tanpa imbauan dari pemerintah pusat rakyat mana tau tentang boleh menjenguk dan tidaknya.

Penyeberan virus sulit terdeteksi, bahkan menurut saya jika memang covid-19 ini adalah virus yang menular begitu cepat pada manusia maka data gagal menjawab berapa banyaknya orang yang sudah terserang virus tanpa disadari.

Maka dengan rasa panik dan ketakutan itu sehingga pemerintah segerakan lockdown di semua ibu kota. Yang menjadi masalah adalah apakah dengan masker saja kita sudah bisa terhindar dari virus ini?

Upaya pemerintah untuk mencegah Indonesia semakin mencekam kedepan menurut saya sudah baik. Tapi, dari peralatan medis dan bahan bahan pokok penyambung hidup di Indonesia masih sangat terbatas. Mungkinkah pemerintah mengandalkan impor? Jika mungkin maka upaya pencegahan akan semakin sia-sia.

Perbincangan yang hangat adalah ketika Indonesia mengedepankan ekonomi maka manusianya yang akan habis. Tapi jika pemerintah dan rakyat mengutamakan pencegahan dan mengikuti pemerintah dengan dirumah saja maka akan memberikan sedikit solusi dan mengurangi penularan virus ini tapi ekonomi akan anjlok.

Tapi apalah boleh buat sebelum Indonesia terjangkit virus Corona sudah banyak rakyat yang lapar dan bertahan hidup. Karena di Indonesia cukup banyak pertentangan kelas kelas sosial. Logikanya ketika masyarakat miskin kota tidak bekerja dan tidak mencari nafkah maka mereka akan mati kelaparan bukan karena virus. Yang menjadi bahaya adalah sudah kelaparan terjangkit virus pula.

Lockdown dan isolasi itu mungkin tidak menjadi problem bagi masyarakat kelas menengah keatas karena masih mampu menyimpan persediaan makanan. Buktinya masker saja sudah di tampung entah kemana hari ini. Maka solusi untuk masyarakat kebawah bagaimana? Ini adalah tantangannya. Untuk menjawab tantangan itu pastilah kita harapkan dari pemerintah untuk mengatasi masalah kelaparan selain dari penularan virus ini.

Disisi lain dari niat baik pemerintah untuk menutup tempat beribadah kaum beragama dan tetap berhubungan dengan Tuhan di rumah saja tapi masih banyak pertentangan oleh pecandu agama yang tidak seimbang lagi antara fikiran kecanduan akan kasih sayang Tuhan dengan problematika yang terjadi. Makanya masih sulit untuk penyadaran.

Selama tempat ibadah adalah ruang terbuka maupun tertutup virus tidak memandang tempat apapun. Maka wajar saja himbauan untuk berkumpul dan berkerumunan ditiadakan. Ini hanyalah larangan berkumpul bukan melarang untuk berhubungan dengan tuhan kita masing-masing.

Kita hidup bernegara dan hidup berkelompok. Sedangkan virus berpeluang untuk menular adalah pada tempat berkerumun. Maka untuk saat ini demi ummat dan bangsa maka sepatutnya kita mengedepankan keselamatan bersama sama dan bersatu melawan peluasan wilayah terjangkitnya virus berbahaya ini.

Tapi lagi-lagi bicara persoalan rakyat yang masih saja ngotot untuk keluar rumah. Kita berfikir positif dan jangan egois karena bagi mereka yang menggantungkan hidupnya pada pekerjaan dengan penghasilan tidak menetap itu ada diluar rumah. Maka, akan semakin bahaya saja virus ini.

Jika rakyat masih bergantung pada pemerintah dan peduli diri sendiri itu percuma karena kita hidup pada satu wilayah. Disisi lain ada yang kelaparan dan yang tinggal dirumah dengan persiapan makanan yang cukup apakah ini berpotensi mengalami kematian tidak ada? Yah, jelas ada karena sekali lagi virus ini dapat menular tanpa terdeteksi.

Maka solusinya, mari kita sama sama berfikir bagaimana langkah untuk melawan virus ini. Jika semakin terlambat maka Indonesia akan menjadi negara yang akan dkuasai oleh covid-19 ini dengan waktu yang sulit ditentukan.

Inilah saatnya kita menggunakan jiwa sosial kita. Peduli dengan sesama, rakyat yang kebingungan mencari makan, anak-anak jalanan kita peduli bersama. Jangan menunggu pemerintah yang mengatasi itu. Karena hanya dengan persatuanlah kita bisa terhindar dari ancaman virus berbahaya ini.

Virus ini tidak memandang kelas sosial. Maka hilangkanlah fikiran pertentangan antar kelas. Saling peduli hanyalah salah satu jalan untuk mengatasi dari banyaknya cara.

Kita harus sadar bahwa alat medis dan bantuan kesehatan sangatlah terbatas di Indonesia. Jika semakin lambat kita bergerak maka Indonesia akan merasakan pedihnya dihantui oleh virus Corona. Solusi kita bersama adalah melakukan social distancing tapi dengan catatan kepedulian terhadap sosial yang membutuhkan tidak dilupakan.

Penulis: A. Ikhsan, Kader Himpunan Mahasiswa Islam Kom. Syariah & Hukum UINAM

Tuhan Anggap Aku Ada
Sutra Tenri Awaru

Entah dari mana aku menjelaskannya
Entah dari mana aku memulainya
Entah apa yang harus aku katakan
Entah apa.

Aku baru memulainya Tuhan
Aku baru merasakannya
Aku baru saja berbahagia akan itu

Tapi Tuhan mengapa kebahagian itu secepat itu kau rebut,
Tuhan dadaku bergumpal penuh sesak
Kakiku hampir tak bisa bergerak karena sesal

Tuhan apa aku ditakdirkan untuk seperti ini
Tak ada niatku untuk menggila
Tak ada niatku untuk membuat malu
Tak ada.

Tapi Tuhan kau merebut kebahagianku secepat itu?

Tuhan anggap aku ada layaknya manusia lain yang berlimpahkan kebahagian dan penghargaan diri
Tuhan anggap aku ada,
Tuhan anggap aku ada dan tak dinilai murahan

Tolong aku Tuhan
Berikan kebahagian
Tolong aku tuhan berikan aku penghargaan
Tuhan
Tuhan
Tolong aku
Jangan membuat aku menjadi manusia hina

Tolong, sekali lagi tuhan tolong anggap aku ada
Anggap aku manusia yang menghamba kepada Tuhannya, anggap aku pengemis kebahagian

Tolong aku Tuhan, tolong..
Tuhan..
Aku ingin bahagia
Tolong takdirkan aku untuk bahagia
Tolong.

Tuhan jika memang kebahagiaan tidak merestuiku
Maka cabutlah rasa itu
Bawa aku pergi
Bawa aku jauh

Aku menyerah akan rasa sakit dan sesal ini
Aku terpuruk Tuhan
Aku merana
Tuhan izinkan aku bahagia
Tuhan izinkan aku dicintai
Tuhan izinkan aku dikasihi
Tuhan izinkan aku dihargai

Tuhan tolong anggap keberadaanku

Tolong tuhan
Tolong
Buat aku bahagia
Tolong.

Lorong Kata - Saat ini, dunia disibukkan bagaimana mengatasi mahluk kecil yang bersama COVID -19. Betapa tidak, virus ini nyaris melanda diseluruh negara dan proses penularannya pun sangat cepat dan berbahaya. Bahkan Kepala Tim Dokter (COVID -19) Cina, Prof. Zhong Nanshan mengatakan covid-19 ini Jauh lebih ganas dan parah daripada wabah Flu Burung (H1N1) yang terjadi pada 17 tahun yang lalu.

Wabah corona bermula muncul pada 31 Desember 2019 di Wuhan, Cina. Wabah itu begitu cepat menyebar keberbagai penjuru dunia. Ada negara yang begitu cepat merespon dan mengantisipasi wabah ini, namun ada pula yang begitu lambat melakukan antisipasi. Diindonesia hingga hari ini, 25/03/2020 tercatat 790 positif COVID -19, 31 dinyatakan sembuh Dan 58 meninggal dunia. (health.detik.com)

Beberapa propinsi sudah digolongkan jadi transmisi lokal, yaitu DKI Jakarta, Banteng (Tangerang), Jawa Barat (Bekasi) dan Jawa Tengah (Solo). Hal yang paling mengerikan dari covid -19 ini adalah penularannya yang sangat masif dan ketika tertular membutuhkan penanganan medis yang lumayan maksimal, jika tidak nyawa yang akan hilang.

Pemerintah Indonesia, melalui juru bicara kepresidenan Fadjroel Rachman dalam pernyataan Pers diJakarta, Minggu (22/3/2020) menyatakan bahwa pemerintah telah menggariskan 3 program prioritas dalam mengahadapi pandemi Covid-19. Yaitu pertama, memfokuskan dan menggerakkan semua sumberdaya negara untuk mengendalikan, mencegah dan mengobati masyarakat yang terpapar COVID -19.

Kedua, memfokuskan dan menggerakkan semua sumberdaya negara untuk menyelamatkan kehidupan sosial ekonomi seluruh rakyat. Dan, yang terakhir adalah memfokuskan seluruh sumber daya negara agar dunia usaha, baik UMKM, koperasi baik swasta dan BUMN agar terus berputar. (Media Indonesia, 22/03/2020)

Sepintas terlihat bahwa kebijakan pemerintah dalam mengatasi pandemi COVID -19 ini terkesan mengedepankan persoalan ekonomi ketimbang segera memutuskan mata rantai penyebaran virus COVID -19 dengan melakukan lockdown sebagaimana yang disarankan oleh beberapa ahli, termasuk IDI(Ikatan Dokter Indonesia). Akibatnya, korban wabah Corona ini bukannya menurunkan. Justru sebaliknya meningkat drastis dari hari ke hari.

Lain halnya dalam sistem pemerintahan Islam. Ketika terjadi wabah dalam suatu wilayah, maka pemerintah saat itu akan melakukan pemutusan mata rantai yang bisa menyebabkan meningkatnya penularan wabah tersebut. Salah satu lnya dengan melakukan lockdown, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Al-khaththab dalam menangani wabah Tha'un yang menular di zamannya.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah Sarah, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf Kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

"Jika kalian mendengar wabah sesuatu wilayah, Janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya jika wabah terjadi di tempat kalian, jangan kalian meninggalkan tempat itu." (HR. Bukhari).

Kala itu Khalifah Umar selanjutnya meminta masukan Amru bin Ash, saran yang diberikan adalah memisahkan interaksi masyarakat agar wabah tak meluas ke masyarakat yang masih sehat. Khalifah Umar Kemudian dengan cepat mengambil keputusan untuk tidak memasuki Syam. Juga melarang masyarakat untuk memasuki daerah yang sedang terkena wabah penyakit menular. Khalifah Umar mengambil kebijakan lockdown dengan cepat. Segera mengisolasi daerah sehingga wabah tidak menyebar. Beliau juga membangun dengan cepat pusat pengobatan di luar daerah itu. Ini tidak lain dimaksudkan sebagai ikhtiar untuk melayani rakyat yang sakit.

Walhasil sistem kapitalis dalam menghadapi pandemi lebih memprioritaskan pertimbangan ekonomi dan ketundukan hegemoni kepentingan negara besar. Dengan mengutamakan pencegahan wabah penyakit melalui vaksin/obat ketimbang melakukan lockdown sebagai salah satu upaya pemutusan penyebaran virus COVID -19 yang sangat berbahaya ini. Sebab tanpa lockdown sulit untuk memutuskan mata rantai transmisi penyebaran COVID-19.

Padahal didalam UU No. 6 Tahun 2018 tentang karantina kesehatan, telah diatur secara rinci apa yang harus dilakukan negara untuk menghadapi musibah penyakit yang mewabah. Saatnya kita kembali merujuk apa yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar ataukah kita akan menunggu semakin banyaknya korban yang berjatuhan akibat virus COVID-19 ini. Wallahu a'lam

Penulis: Rahmawati, S. Pdi.

Lorong Kata Diansir dalam Kumparan.Com Nilai tukar rupiah kembali terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah hari ini berada diatas level RP 16.000, bahkan mendekati posisi terburuk krisis 1998. Pada Juni 1998, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada titik terendahnya di level RP 16.950. mengutip data Financial Times, Jumat (20/3), nilai tukar rupiah hari ini pada pukul 9.13 WIB bergerak tertekan di RP 15.950,00 terhadap dolar AS atau melemah 50,00 poin (0,31%). Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR) berada di posisi RP 16.273. sementara itu, dalam transaksi konvensional di perbankan tanah air, sudah ada yang menjual dolar AS di posisi RP 16.550.

Di tengah maraknya wabah virus corona yang mengguncang masyarakat, ternyata terjadi pula guncangan yang sangat dahsyat bagi ekonomi bangsa ini. Yakni nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang naik di level RP 16.000. Sungguh sangat menegangkan karena kondisi demikian jika dibiarkan akan mengguncang pertahanan ekonomi bangsa ini. Memang, kondisi demikian memiliki sisi positif dan negatifnya. Jika kita melihat melemahnya rupiah ini mampu menaikkan ekspor dalam negeri, ini akan membuat keuntungan yang bagus bagi sektor ekonomi dalam memenuhi pasar ekspor. Selain itu, membuat masyarakat untuk lebih mencintai produk dalam negeri dibandingkan milik luar negeri.

Hanya saja kondisi demikian memerlukan peran pemerintah dan Bank Indonesia untuk mengatur peredaran rupiah serta sosialisasi kepada masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri sehingga kondisi krisis seperti ini dapat ditangani. Tapi, sayangnya pemerintah tidak sepenuhnya mengambil jalan demikian, sosialisasi sekedar wacana dan juga semakin membuka kran impor yang luas karena banyaknya permintaan masyarakat atas minatnya yang lebih mencintai produk luar. Sehingga kondisi krisis ini semakin membuat bangsa ini semakin terpuruk, harga barang yang tidak stabil ditengah arus permintaan yang semakin deras.

Masyarakat indonesia yang sangat konsumtif menjadikan ini sebagai peluang besar bagi pengusaha-pengusaha baik dalam maupun luar negeri melirik pasar indonesia untuk menawarkan berbagai macam produk unggulan yang berkualitas baik. Berbagai investor besar pun berbondong-bondong masuk untuk berinvestasi apalagi masyarakat hari ini sangat mencintai pariwasata. Sehingga bermacam infrastruktur pun dibangun dan berbagai wilayah yang ada menonjolkan potensi yang dimiliki.

Sektor pariwisata juga memiliki peran penting dalam membantu perekonomian indonesia dengah naiknya nilai tukar rupiah dengan membuka kran wisata mampu menaikkan APBN kita, karena turis akan berbondong-bondong datang. Namun, ditengah merebaknya virus corona ini solusi terbaik mengatasi krisis ekonomi ini adalah dengan menutup impor, memperbanyak ekpor setelah terpenuhi kebutuhan masyarakat, sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mencintai produk dalam negeri, serta menahan laju rupiah sampai keadaan stabil. Jika tidak demikian, maka akan berpeluang besar krisis moneter tahun 1998 akan berulang yakni pemerintah gagal menanggulangi kriris moneter tersebut yang membuat rakyat semakin meledak dan melakukan aksi diberbagai daerah.

Benarlah jika memang demikian terjadi, sebab sistem pemerintahan hari ini lebih menguntungkan rakyat dibandingkan rakyat yang biasa. Kebijakan-kebijakan yang dibuat lebih memberatkan rakyat dalam arti prmilik modal, dibandingkan rakyat biasa. Kondisi yang terjadi justru di manfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan mereka, misalnya dengan keadaan ini bisa saja mereka melakukan penumpukan bahan atau dolar untuk ditukarkan saat rupiah melemah. Atau semakin membuka peluang investasi untuk membantu menopang ekonomi yang tengah berada di tepi jurang.

Inilah sistem kapitalisme yang menjadi induk sistem-sistem yang ada di seluruh Negara. Mengguncang bermacam kondisi baik ekonomi ataukah militer untuk semakin memperkokoh hegemoni mereka atas Negara-negara pengekor salah satunya indonesia, agar semakin tidak bisa berlepas diri dari sistem ini. Dan pemerintah tidak mampu untuk mengatasi masalah negaranya sendiri karena pendiktean oleh para kapitalisme. Wajar saja jika kondisi demikian orang-orang capital yang lebih di untungkan terutama AS itu sendiri yang mana mata uangnya menjadi poros standar perekonomian dunia.

Sudah sewajarnya kita mencampakkan kapitalisme dan mengganti dengan yang lebih baik lagi yakni islam. Yang mampu mengatasi berbagai persoalan kehidupan baik keluarga bahkan Negara. Dan menjadikan dinar dan dirham sebagai alat tukar terbaik yang tetap menstabilkan pertahanan ekonomi suatu bangsa, karena nilai tukarnya yang sangat tinggi.

Bukan itu saja sistem islam mampu mengelola perekonomian dengan baik yakni mengelola hasil yang ada diwilayah untuk kepentingan masyarakatnya dengan pengelolaan yang baik semata-mata untuk kesejahteraan rakyat. Baru melakukan impor tatkala kebutuhan masyarakat terpenuhi. Menutup kran-kran impor yang dianggap berlebihan serta menarik investasi dengan lebih memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk dikelola sendiri berdasarkan asas kepemilikan yang di aturnya, yaitu Kepemilikan (Milikiyyah), Pengelolaan Kepemilikan (At-Tasharuf Al-Milikiyyah), dan Distribusi Kekayaan (Tauzi Ats-Tsarwah). Sehingga tidak akan terjadi penimbunan, serta melarang pejabat Negara untuk memiliki harta kekayaan yang lebih karena berpeluang untuk memanfaatkan posisinya layaknya yang terjadi di sistem hari ini.

Walhasil, Islam mendorong adanya kemandirian ekonomi melalui pengaturan sistem kepemilikan. Liberalisasi ekonomi yang menyerahkan pengelolaan sumber daya alam milik umum dan negara kepada asing haram dilakukan. Negara wajib mengelola secara optimal sumber daya alam yang ada untuk kepentingan rakyat, sehingga terhindar dari ketergantungan dengan negara lain. Pun akhirnya, melalui kebijakan ini, penarikan pajak tak menjadi sumber pendapatan utama sebagaimana terjadi saat ini.

Ingatlah pula firman Allah: Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS. Thaha: 124). Wallahu alam.

Penulis: Masita (Pengiat Opini Media Muslimah Kolaka)

"Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.”
(Al-Ahzab: 21)

Lorong Kata - Ada momen yang luar biasa di bulan Rajab, bulan yang selalu dinanti umat Islam dan banyak peristiwa sejarah di dalamnya. Bulan penghantar pada Ramadhan, maka tak heran sering dijumpai doa-doa agar umat Islam sampai pada bulan Rajab dan Sya'ban, dua bulan sebelum Ramadhan.

Peristiwa sejarah yang unforgatable di bulan Rajab salah satunya ialah Isra Mi'raj, hasilnya ialah kewajiban sholat lima waktu. Namun, yang utama ialah bagaimana umat Islam dapat meneladani apa saja yang pernah dicontohkan Rasul selama hidup baik sebagai utusan Allah, kepala negara, kepala keluarga, dan sebagainya.

Umat Islam merasa senang merayakan peringatan Isra Mi'raj, perayaan kali ini bertepatan dengan musibah yang melanda negeri ini yaitu wabah atau virus Corona. Virus yang potensi mematikannya tidak terlalu besar tapi penyebarannya luar biasa pesat. Maka refleksi umat Islam pada peringatan Isra Mi'raj kali ini hendaknya meneladani bagaimana cara Rasul dahulu dalam menangani wabah yang menular dan belum ditemukan obatnya.

Sabda Baginda Nabi Saw: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari)

Di zaman Rasululullah SAW pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra. "Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta." (HR Bukhari).

Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Di zaman Rasulullah SAW jikalau ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha'un, Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk.

Tha'un sebagaimana disabdakan Rasulullah saw adalah wabah penyakit menular yang mematikan, penyebabnya berasal dari bakteri Pasterella Pestis yang menyerang tubuh manusia. Jika umat muslim menghadapi hal ini, dalam sebuah hadits disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit. "Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)." (HR Bukhari).

Konsep yang dilakuakan oleh Nabi Saw adalah isolasi (lockdown), hanya dengan isolasi wabah tidak menyebar ke tempat lain. Nabi Saw kekasih Allah Swt, sangat yakin Allah Swt akan menghilangkan wabah ini, dan keyakinan ini dibarengi dengan sikap menjaga kaidah kausalitas. Berdoa tetap dilakukan sebagai sebuah pengharapan dan penghambaan hanya padaNya.

Di sisi lain, Islam tetap harus mengajarkan kaidah kausalitas, bahwa ketika di sebuah daerah terdapat wabah maka jangan keluar dari daerah tersebut agar wabah tidak menyebar. Begitupun sebaliknya, daerah yang tidak ada wabah jangan masuk ke daerah yang ada wabah agar tidak terjangkit. Jadi kurang tepat jika ada ungkapan, manusia hanya takut kepada Allah bukan wabah. Takut pada Allah benar ini hal yang sangat utama berkaitan dengan keimanan.. Namun, takut kepada wabah bukan dimaksudkan pada keimanan tapi pencegahan agar tidak terjangkit wabah.

Betapa Islam sangat detil, aturan preventif dan pencegahan sudah dicontohkam Baginda Nabi Saw ketika wabah nyata terjadi di suatu tempat. Bahkan, Islam mengajarkan konsep kebersihan seperti mencuci tangan, berwudhu, menutup aurat, mandi besar dan kecil, ketika bepergian hendaknya memiliki wudhu begitupun tidur sebelumnya berwudhu, sebagai bagian preventif agar tidak mudah kena penyakit apapun.

Semoga umat Islam di negeri ini bisa meneladani Baginda Nabi Saw dalam menangani wabah, terutama pemerintah yang memegang otoritas dan kebijakan. Karena pemimpin dalam Islam ibarat penggembala yang mengurusi gembalaannya, dan amanahnya akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah Swt. Allahu A'lam bi Ash Shawab

Penulis: Sherly Agustina, M.Ag (Revowriter Waringin Kurung)
Diberdayakan oleh Blogger.