LORONG KATA

Lorong Kata --- Berapa harga sebuah nyawa? Begitupula kamu akan memperlakukannya. Menonton edisi pembunuhan belakangan ini, rasanya harga sebuah nyawa terasa ringan dan tak berharga.

Baru-baru ini, seorang Ayah membunuh lima anaknya. Anak yang berumur mulai dari satu tahun hingga delapan tahun. Ia habisi dengan cara tragis. Satu anak ia hukum hingga pingsan, kemudian meninggal. Sementara 4 lainnya dicekik hingga tewas. Setelahnya dibawa lah mayat itu berkeliling tanpa tujuan selama empat hari di dalam mobil, sampai ketika tiba di pinggiran Alabama, Jones membuangnya.

Di negeri kita, bulan juni juga basah dengan linang air mata keluarga korban-korban pembunuhan. Di Sumatera Utara, hanya karena persoalan asmara, lelaki membunuh wanita dengan sadisnya. Prada Deri Pramana, yang tega memutilasi Fera Oktaria umur 20 tahun di Sungai Lilin Sumatera Selatan. Prada adalah Prajurit TNI ditangkap oleh Kodam II Sriwijaya setelah buron Mei lalu (Detiknews.com 13/06/2019)

Di sumber yang sama, kamis 13 Juni jasad bernama Yuni juga ditemukan dengan kondisi penuh luka dan membusuk di kamar kosnya di Kotabaru Jambi, korban diduga dibunuh oleh seseorang. Di hari yang sama, Nurdin (33) pun membunuh istrinya yang berprofesi sebagai guru SMK di Polman hanya karena cemburu. Kemudian mayat tanpa kepala dan tangan pun hasil pembunuhan juga ditemukan di tepian sungai Aisan Bopeng Ogan Ilir, Sumatera Selatan pekan lalu.

Sungguh, manusia kehilangan rasa. Dan kehilangan arah dalam bertindak. Mengemudikan seluruh anggota tubuhnya berbuat keji. Sejatinya mereka benar-benar alpa dalam mengetahui berharganya nyawa manusia, apalagi mukmin. Atau, jikalaupun mereka tahu bahwa membunuh itu tidak benar, kurangnya keyakinan kokoh akan hari pembalasan mungkin menjadi alasannya.

Tidakkah merintih hati kita melihat manusia saling membunuh layaknya binatang menerkam binatang lainnya? Padahal ada akal yang membedakan dan menuntun pada kemuliaan. Inikah yang dinamakan hilangnya keberkahan sebab tak ada syariat yang dibumikan? Bila agama menjadi panduan, yang ajarannya menurunkan berkah, sudah tentu celaka seperti ini tidak ditemukan.

Mari berpikir sejenak, Islam adalah satu-satunya agama yang memberikan penghargaan amat tinggi pada darah dan jiwa manusia. Allah SWT menetapkan pembunuhan satu nyawa tak berdosa sama dengan menghilangkan nyawa seluruh umat manusia. Keyakinan yang kokoh akan perkataan Sang Khaliq tentu menuntun manusia mematuhi aturan hidup yang diturunkan, termasuk larangan membunuh orang tak bersalah.

Kemudian, Betapa Islam hadir dengan seperangkat aturan yang adil. untuk kasus ini, Qishas pun menjadi solusi yang Allah hadirkan untuk menjaga sebuah mekanisme kehidupan. Allah berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 179 yang artinya, “Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.”

Qishas yakni hukuman mati, mengapa bisa disebut terdapat kehidupan? Hal ini ditinjau dari efeknya, yaitu apabila hukum qishas ditegakkan, manusia terhalangi dari melakukan pembunuhan terhadap manusia lain. dengan demikian kelangsungan hidup manusia akan tetap terjaga, atau menimbulkan efek jera.

Imam Qatadah rahimallah berkata yang artinya, “Allah menetapkan hukum qishash (hukuman mati) itu pada hakekatnya adalah kehidupan, peringatan dan nasihat. Karena, ketika orang dzhalim yang memiliki niat jahat meningat qishas (Sebagai hukumannya nanti) ia akan menahan diri untuk membunuh.” (Fathul Qadir, 1/228)

Namun saat ini, hukum seperti apa yang justru kita hadirkan. Memenjarakan, sayangnya efek jera tak terlihat banyak, justru semakin menjadi-jadi. Tak percayakah pada hukum yang ditawarkan sang Pencipta? Bukankah mayoritas penduduk negeri ini muslim? Sejatinya kita sedang tidak berusaha menjadi orang-orang yang seperti mengadakan perbaikan namun sejatinya merusak bukan?

Sebenarnya, kepercayaan akan hukum Allah yang adil mungkin telah terkikis dengan debu-debu Islamophobia yang berkembang. Memandang ajaran Islam sebelah mata. Hanya cocok untuk beribadah dengan Pencipta, namun tidak untuk mengatur ruang sosial, Semoga kita tidak lupa pada fakta sejarah yang mengabarkan penerapan Islam oleh sebuah Institusi Negara. Dimana hukum-hukum Allah yang adil digunakan untuk mengatur manusia yang serba lemah. Dalam bingkai Khilafah, seorang Khalifah terlalu peduli urusan ummatnya, apalagi persoalan nyawa.

Satu perempuan saja yang berteriak karena bajunya disingkap tentara romawi, Khalifah mengirim pasukan yang mengejutkan, apalagi ketika muslimah itu dilecehkan hingga dibunuh. Pemimpin seperti Khalifahlah yang akan maju terdepan menumpasnya. Kita tentu tidak ingin bermimpi bukan pada pemimpin yang justru mesra pada petinggi-petinggi yang di belakangnya telah banyak menganiaya kaum muslim?

Bukankah Rasulullah bersabda: Seorang muslim adalah saudara Muslim yang lain. Janganlah menganiaya dan jangan menyerahkan dia kepada musuh. (HR al-Bukhari).

Harga nyawa akan sangat terasa berarti bila pemimpin memberikan gambaran utuh bagaimana seharusnya menegakkan keadilan, bagaimana menegakkan hukum, dan hukum tertinggi adalah milik Allah yang sempurna. Sebab manusia tempatnya lemah dan salah. Penuh kubangan ego dan nafsu yang sewaktu-waktu ingin dipenuhi meski melayangkan nyawa-nyawa tak bersalah. Di dalam bingkai Khilafah dan seluruh elemen yang kokoh bertakwa, takut pada pencipta dan mengenal esensi kehidupan, pastilah akan menemui keberkahan, bukan kesempitan seperti hari ini.

Penulis: Arinda Nurul Widyaningrum (Sekretaris Umum FLP Ranting UIN Alauddin Makassar dan Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris)

Cinta Bukan Batasan
Sutra Tenri Awaru

Cinta itu bukan batasan, sebab cinta adalah hak semua orang.
Cinta itu tidak memiliki aturan, sebab cinta telah diatur sebagai keadilan.
Cinta adalah satu kata yang memiliki banyak arti, sebab cinta adalah kehidupan dan hidup orang berbeda.

Cinta tak memandang cacat atau sempurnamu, karna cinta bukanlah dia yang terlihat.
Cinta tak memandang kulit hitam atau putihmu, karna cinta bukanlah dia yang tersentuh.
Cinta tidak memandang gemuk atau kurusmu, sebab cinta bukanlah bagian dari tubuh.

Cinta adalah rasa yang mampu membuat kita tersenyum yang hadirkan bahagia di setiap sorot mata pasangan,
Cinta begitu khidmat mampu merangsang jiwa untuk melakukan kebahagiaan.

Cinta itu sakral
Tidak pantas diucapkan bagi mereka yang tidak tahu makna dari cinta yang sesungguhnya, dan cinta bukanlah kata melainkan perasaan yang diungkapkan dengan kebaikan dan kebahagiaan

Senandung Masa Lajang
Arya Sarimata

Teruntuk kekasih di masa depan
Yang selalu ku damba dalam ingatan
Yang selalu ku bawa dalam bait doa
Pun selalu ku kenang dalam rindu yang dalam

Hari-hari ku lalui tanpamu di sekitar
Tanya pun semakin banyak menyerang
Seringkali ia meninggalkan luka
Dimana dirimu berada?

Kita memang belum bersama dalam kenyataan
Hadirmu selalu saja dalam angan
Cintaku pun hanya sebatas diam
Ku simpan kalau kita berjumpa

Mungkin belum waktunya kita dipertemukan sekarang
Bahkan esok, lusa atau tahun-tahun mendatang
Tapi tak 'kan pernah ku kehilangan harapan
Bahwa kita 'kan bersatu di waktu yang tepat

Bersabarlah diri
Bersabarlah kekasih
Tuhan sedang sedang membuat kita tahan banting
Agar nanti cinta kita tak berakhir sementara
Tapi, selamanya

Sepakat Uang Khianat
Sutra Tenri Awaru

Gulita malam menawarkan keheningan
Mendorongku menuju pintu kerinduan
Mencoba mengulas beberapa kenangan

Meneguk selautan harapan
Yang dulu pernah jadi ketetapan
Walau perih menjadi santapan

Ku tak bisa lari dari kenyataan
Karena ini adalah titipan
Jadi semua ini harus kujalankan

Tak ada yang bisa ku lakukan
Karena Tuhan telah menentukan
Dengan atau tanpamu aku harus ke masa depan

Takkan bisa ku menentukan
Pada sesuatu yang ku jadikan pilihan
Karena semua ini sudah di takdirkan

Pada skenario terbaik perihal ketetapan
Sebelum anganku menjadi angin
Maka berlarilah aku kedalam rencana dari sebuah pilihan

Lorong Kata --- Di zaman ini, trend game meningkat. Mulai dari anak kecil, remaja tanggung hingga orang dewasa ketagihan. Mulai dari profesi yang sibuk seperti orang kantoran, hingga pengangguran, memiliki kesempatan yang sama bermain game di handponenya. Kemudahan akses memfasilitasi semua untuk bisa mencoba.

Tak heran apabila jumlah penikmat membludak di setiap tahun. Decision Lab dan Mobile Marketing Association (MMA) yang melakukan studi terkait gim di Indonesia menyebutkan, jumlah gamer mobile di Tanah Air mencapai 60 juta. Jumlah Tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 100 juta pada 2020 (tek.id 17/10/18)

Namun peningkatan akan jumlah penikmat game ini membawa dua dampak yang berbeda. Di satu sisi menghembuskan angin segar pada kaum kapital, namun menjadi badai topan untuk beberapa kalangan seperti para orang tua yang merasa khawatir akan gelombang kecanduan.

Terkhusus untuk para pemilik modal, tentu ini peluang besar. Disampaikan oleh Joddy Hernady selaku EVP Digital & Next Business Telkom Industri game memiliki tingkat pendapatan yang paling tinggi dibandingkan jenis hiburan lainnya.

Tentu ini membuat perusahaan game berbondong-bondong terus bersaing dan melejitkan potensi bisnis di sector ini, tak terkecuali menyasar Negara penikmat yang besar seperti Indonesia.

Mengapa Indonesia juga termasuk sasaran? Sebab Indonesia benar-benar memiliki minat tinggi dalam hal presentase bermain game online seperti Mobile Legend. Buktinya, Kompetisi Mobile Legends South East Asia Cup (MSC) 2017 digelar di Indonesia pada pertengahan tahun 2017 lalu. menurut Mobile Legend saat itu Indonesia dipilih lantaran memiliki 3,5 juta pemain aktif harian. Ini angka tertinggi dibandingkan Negara lain seperti Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

Di samping itu, populasi penduduk Indonesia yang hampir mencapai 260 juta, menjadi nilai surplus bagi siapapun yang berbisnis di sini. Secara Industri, potensi bisnis game di Indonesia jauh lebih hijau dibandingkan Negara lain di kawasan Asia Tenggara karena pertumbuhannya yang cepat. (dailysocial.id 18/12/2017)

Hal ini semakin diperkuat dengan dukungan pemerintah. Saat tahun 2015 lalu, Badan Kreatif bentukan Presiden Joko Widodo pernah menyinggung soal indutsri game Indonesia. Kini Badan Ekonomi Kreatif memasukkan produksi game dalam rencana kerja. Sebagai Asosiasi yang mewadahi para developer game, tentu Asosiasi Game Indonesia (AGI) membutuhkan peran pemerintah untuk memajukan industry game.

Namun sayang, semua angin segar itu rupanya tidak memberikan efek positif secara keseluruhan pada masyarakat. Justru tersebar banyak petaka di setiap tahunnya. kita tidak pernah bisa lupa pada kejadian-kejadian mengerikan lantaran kehadiran permainan game online. Saat 10 Anak Banyumas yang alami gangguan mental akibat kecanduan game online, empat remaja Grogol yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa, Mhary wanita di Manado yang terkena stroke lantaran keranjingan game online, sampai kasus bunuh diri lainnya.

Betapa berbahaya, sampai WHO resmi menetapkan kecanduan game sebagai gangguan mental. sebenarnya, apa motif urgensi dibalik penetapan status kecanduan game yang dilakukan WHO ini? tentu karena pengindraan mereka terhadap gejala gamer yang semakin parah, bukan? Anak-anak keranjingan bermain game hingga berani mencuri uang orang tua, mirip seperti kecanduan narkoba. Berani meregang nyawa, bahkan menghabisi nyawa orang.

Lalu,tak kalah hebohnya, baru-baru ini seorang gadis asal Pontianak, berinisial YS (26) Diamankan aparat kepolisian dari Polda Metro Jaya karena membobol Bank hingga Rp 1,85 miliar. Dana sebanyak itu, digunakannya untuk bermain game online, Mobile Legends (Viva.co.id)

Rusak sudah tataran sendi kehidupan sosial, pribadi kita. Sistem pemerintahan yang memberi ruang kebebasan untuk berekspresi tak mengindahkan efek-efek negatif nya.

Bagaimana bisa sesuatu yang membahayakan generasi masih terus dikembangkan keberadaannya. Perkembangan game memang memberi dampak ekonomi yang baik bagi sebagian kalangan, namun jangan lupakan berderet kasus mengerikan menimpa anak negeri.

Beginilah jika paradigma berpikir yang terinstal hanyalah materi belaka. Memandang segalanya berdasarkan untung rugi. Meski game online sudah terbukti lebih dari sekedar permainan biasa, namun menyelipkan efek adiktif, tetap saja proses penanganan dari pemerintah terkesan lamban untuk meraih keputusan.

Di Nepal, permainan game PUBG resmi dilarang. Karena memberikan dampak buruk bagi anak-anak dan remaja, bisa membuat kecanduan dan efek buruk pada pemikiran. (Kompas.com 12/04/2019)

China juga telah mengumumkan aturan baru yang membatasi jumlah game yang dapat dimainkan, dan membatasi penerbitan game baru, serta membatasi umur warga Negara yang boleh bermain game online. Selain itu, Negara bagian Gujarat India dimana tempat puluhan orang ditangkap karena bermain permainan tersebut, PUBG atau game online juga sudah dilarang.

Dari sana kita belajar bahwa institusi pemerintahan memegang peranan besar untuk meredam kejahatan, yaitu dengan menetapkan Kebijakan-kebijakan yang mengandung maslahat.

Tetapi, Semua itu hanya bisa dijalankan ketika pemerintah memiliki pandangan hidup yang berorientasi pada kemaslahatan ummat, termasuk dalam memilah sarana hiburan yang tepat. Apakah semakin mendekatkan pada pencipta? Atau malah mengundang bahaya? Jika pemerintahan tidak berupaya menghadirkan ruh ibadah dalam ruang sosial, maka sulit menemukan kebaikan.

Islam datang dengan pemikiran yang beda dan kokoh. Yang menjelaskan bahwa segala diupayakan dalam hidup untuk mendekat pada pencipta semata. Termasuk sarana hiburan. Bukan malah menjauhkan dari naluri beragamanya dan melupakan esensi dan tujuan hidupnya. Karena semua hanya akan bermuara pada kehancuran. Inilah yang mengundang kebaikan terus tercurahkan di tengah tengah masyarakat.

Wallahualam.

Penulis: Arinda Nurul Widyaningrum (Sekretaris Umum FLP Ranting UIN Alauddin Makassar dan Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris)

Lorong Kata --- Diskursus pilpres 2019 saat sekarang kian memuncak. Bagaimana tidak, perhelatan pilpres baik sebelum dan sesudah pemilihan sama-sama membuat jidat mengkerut. Pemberitaan kecurangan pun muntah dimana-mana. Seperti kasus kematian Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang menelan banyak korban pun membuat salah satu dokter syaraf Ani Hasibuan geram. Tapi, dengan geramnya beliau, ia diterpa kasus hukum dugaan ‘ujaran kebencian’. Berkaitan dengan ucapan Mba Ani beberapa waktu lalu mengenai tudingan senyawa kimia pemusna massal penyebab meninggalnya petugas KPPS.

Pendapat lain seperti kelelahan pun membuat jagat maya bertanya-tanya. Benarkah faktor kelelahan membuat seseorang bisa meninggal dunia? Penulis yang sekarang sudah semester delapan dengan Jurusan Biologi, Jurusan yang terkenal kesebukannya (praktikum, asistensi, laporan, hafal nama latin dan lain-lain) dan sekarang sudah bimbingan skripsi tidak membuat orang mengalami, maaf ya ‘kematian’. Kalaupun ada, mungkin hanya beberapa. Tapi, jikalau jumlahnya ratusan, ada apa? Jawab sendiri ya. (Takutnya dikriminalisasi hehehe… jadi penulis itu serba tanggung. Tanggungnya apa, jika ada permasalahan dan ditanggapi di cap menyebarkan ujaran kebencian (melanggar ITE), tidak ditanggapi dibilangnya apatis! Serba salah kan, kenapa jadi curhat yah).

Baru-baru ini masyarakat Indonesia mengalami musibah massal yaitu pembatasan akses media sosial yang berlangsung selama tiga hari. Hal ini karena mencegah penyebaran hoax lewat media sosial pasca penetapan pasangan peresiden dan wakil peresiden. Aksi 21-22 Mei yang kerap disebut dengan ‘people power’ berakhir rusuh sampai menelan korban. Aksi ini setidaknya menjadi alarm pengingat ekspresi politik tersumbat. Perlu ada perombakan lembaga hukum membaca situasi ini, jika terus berlanjut jangan sampai hal buruk menimpa Negeri Pertiwi ini.

Kita kembali ke fokus utama mengenai giringan isu khilafah yang akhir-akhir ini santer jadi perbincangan publik. Seperti yang dilansir dari media nasional viva.co.id 16/5/2019 Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyebutkan sejumlah ancaman yang menggangu kesatuan dan persatuan bangsa. Salah satunya kelompok khilafah yang disebut sebagai pembonceng dalam perhelatan pemilu 2019 pungkasnya di Grand Paragon, Jakarta (16/5).

Ada yang menarik dari frasa atau pernyataan di atas yaitu kata ‘pembonceng’ berarti dia yang menunggangi dan dia yang mengontrol jalannya motor. Jadi, yang dibonceng ikut-ikut saja. Jika si pembonceng ini mengarahkan motornya ke jurang maka si yang dibonceng juka akan ikut ke jurang kalau begitu. Maka, jika khilafah menjadi pembonceng dalam perhelatan pemilu, artinya khilafah punya kedaulatan untuk mengontrol jalannya pemerintahan?

Penulis sebenarnya bertanya-tanya? kenapa setiap ada permasalahan yang menimpa negeri ini seolah-olah ‘khilafah’ yang jadi dalang (sutradara) yang mengatur jalannya sebuah film drama kehidupan. Apa-apa khilafah, dikit-dikit khilafah, ditunggangilah, jadi pemboncenglah dan lain-lain. Kalah dan menang gara-gara ‘khilafah’. Hebat yah si khilafah itu, padahal kan ia hanya ide.

Ada apa dengan ide ‘khilafah’ seakan-akan ide ini bagai ‘momok mematikan’ bagi kalangan tertentu. Sampai-sampai dibuatkan delik berbagai masalah untuk menghadangnya agar ide ini tidak menyebar kemana-mana. Banyak yang beranggapan kemungkinan khilafah berdiri relatif lebih kecil. Sebab, kelompok Muslim tradisional, modernis, dan sekularis masih mendominasi kelompok Islam sekarang. Ini benar, relatif kecil berarti ada kemungkinan tegak artinya ada ruang untuk tegak.

Magedah . E.Shabo dalam bukunya yang berjudul ‘Techniques of Propaganda and Persuasion’ menjelaskan bahwa propaganda bisa dilakukan dengan cara mentransfer citra suatu simbol, kelompok, individu atau benda terhadap lawan. Teknik propaganda transfer biasa digunakan dalam strategi pemasaran dan iklan. Jika diamati dengan Teori identitas sosial dari Hendri Tajfel dan John C. Turner, konotasi negatif ini bisa saja melebarkan batasan sosial antar kelompok. Jadi, seakan ada penggiringan opini negatif mengenai khilafah seperti yang dijelaskan di atas mensusupi simbol negatif menjatuhkan lawan.

Kalau ide khilafah itu utopis, kenapa ditakuti? Seharusnya orang-orang tidak perlu takut, kan hanya utopis iya kan. Tapi mengapa, masih saja ada segerombolan orang yang terlalu sibuk mengkambinghitamkan para pejuang khilafah.

Saat ini orang sudah terbiasa menggunakan kata khilafah. Meskipun ada yang memaknai sebagai ancaman yang menakutkan. Tapi, penulis melihat ada juga yang paham bahwa khilafah adalah satu-satunya institusi negara yang mampu menegakkan syariat Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Jika kita membaca sejarah Islam sebenarnya apa yang salah dengan ide (sistem) ini. Faktanya sistem khilafah mampu menjadi mercusuar peradaban dunia dikala peradaban Eropa yang saat itu sedang dalam kondisi gelap gulita (terbelakang). Seluruh umat manusia saat itu sejahtera, aman, dan mampu bersatu. Padahal disitu terdapat berbagai macam agama, bahasa, suku hingga perbedaan warna kulit. Berarti, teriakan Islam anti-kebihnekaan ini terbantahkan, sebab fakta telah membuktikannya (jangan sampai, hanya full teori tapi nol (setengah) aplikasi (kan jadi pincang)). Mari sama-sama mengkaji khilafah dengan pemikiran jernih.

Penulis: Ika Rini Puspita, Mahasiswi Jurusan Biologi Fakultas Sains Dan Teknologi UIN Alauddin Makassar. Bergabung di organisasi FLP (Forum Lingkar Pena)
Diberdayakan oleh Blogger.