LORONG KATA

Tanpa kabar
Antho

Yang pernah datang menemani dengan canda tawa.
Yang pernah memberi motivasi dalam menggapai impian.

Untukmu.
Aku tidak tahu kenapa sikapmu berubah?
Dari teman yang hampir akrab menjadi menghilang tanpa kabar.

Untukmu.
Aku bingung, entah apa yang membuat berubah?
Meski aku rasa,
Tidak ada masalah diantara kita, baik perselisihan maupun hal kecil lainnya.

Sejak malam itu,
kau berubah tanpa aku ketahui sebabnya.

Untukmu
Aku belajar banyak hal darimu, olehnya itu hidupku menjadi terasa bermakna.

Terimakasih
telah menemani hari hariku sebelumnya.

Lorong Kata - Kata pemuda merujuk pada seseorang yang masih muda serta memiliki semangat yang tinggi. Jika kita melihat berbagai sumber, dikatakan bahwa pemuda menduduki peran penting dalam melakukan perubahan. Mengenai hal tersebut, banyak kisah yang membuktikannya.

Misalnya, bercermin pada sejarah bangsa kita, Indonesia. Tentu kita mengetahui pemuda-pemuda yang terkenal karena kiprah mereka dalam membebaskan Indonesia dari cengkeraman penjajah, hingga berujung pada perubahan yang ditandai dengan proklamasi kemerdekaan. Ada Bung Tomo, dengan ciri khas pidatonya yang membakar semangat rakyat Surabaya, atau sang Panglima dan Jenderal pertama Republik Indonesia (RI), Raden Soedirman. Dikatakan, beliau merupakan Jenderal RI yang termuda.

Selain itu, peradaban Islam juga menulis dengan tinta emas sederet nama pemuda Muslim terbaik. Ada Imam Syafi’i yang berhasil menghapal isi alqur’an saat masih berumur belia, ataupun sejarah heroik Sultan Muhammad Al-Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel pada saat usianya masih 21 tahun.

Karena posisi pemuda yang urgen dalam proses perubahan, tak heran, julukan “The agent of change” disematkan kepadanya. Namun, yang perlu kita ketahui, tidak semua pemuda bisa menempati posisi tersebut. Tentu saja ada syarat yang harus dipenuhinya. Salah satunya adalah dia harus cerdas dan berilmu. Bayangkan, bagaimana bisa ada seorang pemuda yang membuat target untuk bisa memberikan sumbangsih terbaiknya untuk perubahan tapi dia tidak memiliki keduanya (cerdas dan berilmu)? Bisa diprediksi, targetnya akan sulit tercapai.

Sebagai contoh, salah satu ciri orang memiliki ilmu yakni dia bisa membaca, menulis, dan berhitung. Hal tersebut tersebut adalah perihal yang paling mendasar untuk mendapat pengetahuan yang lain.
Penjabarannya, walaupun ada seorang pemuda yang memiliki tubuh sehat namun tidak mampu membaca, menulis ataupun berhitung, bagaimana bisa dia akan menjalani hidupnya dengan mudah atau menentukan target secara tepat? Bagaimanapun, hidup tidak bisa dijalani hanya bermodal tenaga saja. Tentu akan lebih mudah menjalani kerasnya kehidupan jika pemuda tersebut memiliki pengetahuan lain, seperti masalah ekonomi misalnya. Tentu aneh jika ada pedagang di pasar tapi tidak bisa berhitung, peluang untuk mengalami kerugian tentu lebih besar.

Selain berilmu, seorang pemuda juga harus bisa menjadi sosok yang cerdas. Dengan kecerdasan tersebut dia bisa lebih mudah memetakan apa yang diinginkan sembari memperhitungkan segala risiko yang kemungkinan ada. Hal ini akan membuatnya lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan agar terhindar dari kerugian dimasa mendatang.

Mengingat bahwa cerdas dan berilmu menentukan kualitas dari seorang pemuda, maka ada beberapa langkah yang mesti ditempuh agar kita memilikinya;

Yang pertama, menuntut ilmu. Menurut penulis, di dunia ini tidak ada yang bisa langsung diketahui oleh seseorang tanpa melalui proses mencari tahu. Untuk bisa membaca misalnya, tentu dibutuhkan proses panjang yang dimulai dari belajar mengenal huruf, merangkainya, hingga bisa membaca serta mengerti makna tiap kata dan kalimat. Maka menuntut ilmu merupakan bagian dari proses belajar tersebut. Dilihat dari besarnya manfaat yang akan didapat, kedudukan menuntut ilmu menjadi wajib bagi setiap pemuda, terlebih bagi seorang Muslim. Hal itu bisa dilihat dari sederet dalil wajibnya menuntut ilmu dalam agama Islam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

Yang kedua, meningkatkan intensitas membaca. Membaca merupakan cara yang ampuh untuk menambah pengetahuan. Sumber-sumber bacaan bisa berupa buku, koran, atau selebaran. Di zaman modern seperti saat ini, kita lebih mudah mengakses sumber bacaan dengan bantuan internet. Namun, perlu diingat untuk selalu memfilter sumber bacaan kita, agar pengetahuan yang didapat juga berbobot.

Yang ketiga, menulis. Saat menulis, ada serangkaian aktivitas yang bisa meningkatkan kecerdasan seseorang. Sebab ada proses mencari tahu fakta yang akan diulas, kemudian sang penulis harus banyak membaca buku terkait tema yang sedang ditulis, kemudian adanya proses analisis untuk menentukan solusi mengenai persoalan itu. Tatkala dilakukan berulang akan meningkatkan kinerja proses berpikir serta bertambahnya pengetahuan yang berujung pada peningkatan kecerdasan.

Ketiga langkah tersebut saat diaplikasikan dengan sungguh-sungguh In Syaa Allah bisa menjadikan kita sebagai seorang pemuda muslim yang cerdas dan berilmu. Saya yakin setiap muslim pasti menginginkan dirinya seperti Imam Syafi’i atau Sultan Muhammad Al-Fatih, yakni para pemuda yang bisa membawa perubahan. Oleh karena itu, mari segera bergegas untuk memperbaiki diri agar kita bisa menorehkan nama dengan tinta emas di peradaban selanjutnya sebagai pelopor perubahan.

Penulis: Devita Nanda Fitriani, S.Pd (Pemerhati Pendidikan)

Ketetapan Tuhan
Sudir Badai


Aku tidak tahu yang mana dulu menghampiri ku.
Apakah ia jodoh yang aku tunggu ?
Ataukah ia kematian yang telah menungguku.

Diantara Takdir jodoh dan kematian
Persiapkanlah dengan jiwa terbuka.

Aku yakin
Mungkin kau bersemangat 
Menunggu jodohmu datang, 
Tapi ketahuilah mungkin ajal segera menyemputmu terlebih dahulu.

Ketahuilah,
bahwa kematian lebih dekat 
bahkan lebih dekat 
dari urat nadi lehermu

Istiqomahlah, 
berada dalam jalannya, meskipun terkadang dunia menggoda dalam kemaksiatan.

Bersyukurlah 
atas anugerah yang diberikan tuhan dengan kesendirianmu ini
dalam ketaatan.

Lorong Kata - Keputusan Kementrian Agama (Kemenag) yang didukung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tentang perombakan 155 buku pelajaran agama, benar-benar memprihatinkan. Pasca gaduh wacana larangan cadar dan celana cingkrang bagi Aparatur asipil Negara (ASN), kini menyasar ke arah pendidikan.

Semula Kemenag menyatakan, tidak ada lagi materi tentang perang dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di madrasah. Hal itu akan diimplementasikan pada tahun ajaran baru 2020. Akan tetapi kemudian terjadi perubahan. Sejarah perang tetap ada, namun dimodifikasi sesuai keinginan penguasa, yaitu menampilkan sisi humanisnya saja.

Hal ini menunjukkan masih adanya persepsi buruk terhadap Islam. Sebagian umat yang tidak mempelajari sirah nabawiyah, tidak akan mengerti bahwasanya Rasulullah menuntun berjihad, bukan karena keinginannya semata. Namun sebagai tuntutan dakwah, sebab Islam memang harus disebarkan ke seluruh muka bumi.

Futuhat yang dilakukan Rasulullah, berbeda dengan penjajahan atau isti'mar. Penjajahan akan menghabisi fisik, psikis dan kekayaan alam di negeri yang diperangi. Sedangkan futuhat semata-mata untuk dakwah. Negeri yang dimerdekakan oleh Islam, akan dibebaskan dari penerapan hukum kufur.

Adapun perang atau qital yang menyertai jihad, sebab futuhat ada kalanya harus berhadapan dengan tentara musuh-musuh Islam. Maka diperlukan kekuatan yang setara untuk melenyapkan kezaliman, yaitu dengan kekuatan pasukan. Inilah yang tampak hingga sekarang.

Opini Barat menggelincirkan pemikiran umat, bahwasanya Islam disebarkan dengan darah dan pedang. Barat membuat framing buruk terhadap Islam, seolah Islam adalah pelaku kejahatan. Padahal yang terjadi, malah sebaliknya. Di seluruh penjuru dunia, ketika umat menjadi minoritas, justru dihabisi oleh musuh Islam.

Penderitaan muslim Palestina, Rohingya, Kashmir, Suriah dan lainnya tidak lagi terlihat, dan tidak dicarikan jalan ke luar. Lebih dari itu, Islam dijadikan 'musuh bersama'. Sehingga berbagai upaya kebangkitan umat selalu ditekan. Barat tahu, jika kebangkitan terjadi maka Islam kembali menjadi negara adi daya.

Maka kini, alih-alih membela sesama muslim, para penguasa negeri muslim malah melakukan upaya membuat umat menjadi lebih moderat. Padahal Islam jika dijadikan sebagai asas bertingkah laku, maka akan menghasilkan pribadi yang berkualitas. Melahirkan calon pemimpin yang kokoh dan tangguh menghadapi tantangan zaman.

Jika kini kita dapati umat terpuruk, disebabkan tidak lagi menjadikan Islam sebagai asas perbuatannya. Moderasi membuat umat jauh dari jati dirinya sebagai seorang muslim. Opini buruk telah berhasil merusak kepribadian umat. Bahkan umatpun asing terhadap agamanya sendiri.

Perombakan buku pelajaran agama SD hingga SMA, menurut penguasa adalah sebagai usaha untuk membentuk toleransi, nasionalis, respek, demokratis, kepedulian terhadap kondisi Indonesia. Dari sinilah peluang masuknya pemikiran kufur, sebab nilai yang akan dibentuk bukan berasal dari Islam.

Oleh karenanya, jika revisi diarahkan pada penguatan akidah demi terbentuknya kepribadian Islam, tentu akan menghasilkan kebaikan. Namun jika nilai sekularisme yang ditanamkan, maka akan semakin jauh umat dari kemampuannya berpikir cemerlang. Yaitu berpikir secara menyeluruh dan mendasar, menyelesaikan persoalan umat hanya berlandaskan iman kepada Allah.

Akhirnya demi menjaga pemikiran dan perasaan generasi agar tetap bersih berlandaskan Islam, dibutuhkan dakwah yang masif di tengah umat. Sebab jika tidak, bergesernya arah pandang anak-anak bangsa akibat pendidikan yang tidak tepat, serta mengarah pada ide-ide Barat, akan membawa umat pada kehancuran. Wallahu 'alam.

Penulis: Lulu Nugroho, Muslimah, Penulis dari Cirebon.

Lorong Kata - Jokowi telah mengumumkan nama-nama menteri yang tergabung dalam kabinet Indonesia maju. Di dalamnya, terdapat 34 menteri dan 4 pejabat setara dengan menteri. Hasil pengumuman ini mengejutkan banyak pihak karena bayak yang tidak sesuai bidang keahliannya, terutama posisi yang dianggap strategis dan membawahi departemen yang diharapkan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, menjaga stabilitas keberagaman agar damai dan sejahtera.

Ibarat sebuah pesta telah berakhir. Hiruk pikuk pelantikan kabinet Indonesia maju juga usai. Saatnya cuci piring dan merapikan dapur untuk menyajikan menu pembuktian kinerja. Kabinet kali ini kerap juga disebut kabinet akomodatif rekonsiliatif karena membagi secara proporsional jatah menteri ke parpol pendukung, profesional, relawan, serta merangkul Gerindra dalam kolam koalisi. Sebuah postur kabinet kompromistis karena memenuhi hasrat kekuasaan bersama. Hanya sedikit saja yang merasa ditinggal karena tak kebagian kue kekuasaan sekalipun sudah berkeringat memenangkan Jokowi dan Maruf Amin.

Sesaat setelah dilantik, publik menangkap narasi besar yang dianggap strategis sebagai agenda prioritas kabinet Indonesia maju ke depan yaitu, melawan radikalisme. Ini diskursus politik yang memicu adrenalin perdebatan serius karena masalah utama rakyat bukan hanya itu. Survei Parameter Politik yang dirilis 17 Oktober lalu mengungkap fakta persoalan utama bangsa adalah lapangan pekerjaan baru, mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran, praktik hukum yang adil tak tebang pilih, serta prospek pemberantasan korupsi yang mengkhawatirkan.

Tentang Radikalisme dan Deradikalisasi

Secara definitif, radikalisme merupakan suatu paham atau gagasan yang menginginkan adanya perubahan sosial-politik dengan menggunakan cara – cara ekstrem. Termasuk cara – cara kekerasan bahkan juga teror. Kelompok – kelompok yang berpaham radikal ini menginginkan adanya perubahan yang dilakukan secara drastis dan cepat, walaupun harus melawan tatanan sosial yang berlaku di masyarakat.

Menurut survei BIN, 7 PTN dan 39% mahasiswa di 15 provinsi terpapar oleh paham radikal. Sementara, menurut Setara Institut, 10 PTN yakni UI, ITB, UGM, UNY, UNJ, UNB, UNIBRAW, UNIRAM, dan UNAIR terpapar radikalisme. Pun, menurut Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacadu anggota TNI 19,4%, PNS 9,1%, Pelajar 23,4% terpapar radikalisme seperti menyetujui jihad dan menggantikan pancasila dengan Khilafah.

Embusan isu radikalisme kian kencang meski oposisi sudah menyatu dalam koalisi bersama penguasa. Seakan bangsa ini darurat dalam kepungan kelompok radikal. Ada klaim semua lini kehidupan dikuasai kelompok radikal. Aparatus Sipil Negara (ASN) dan masjid di lingkungan BUMN terpapar paham radikal akut. Konon, tiga pos strategis yakni Kementerian Agama, Kemendikbud, dan Menkopolhukam ditempati menteri 'tak sesuai pakem' karena disengaja sebagai ujung tombak perang melawan kelompok radikal.

Narasi yang sama- sama muncul dari beberapa kementerian yaitu proyek deradikalisasi dan pembersihan aparatur negara dari paparan radikalisme. Menkopolhukam, misalnya, biasanya dari kalangan militer, tapi kini sipil. Termasuk menteri agama yang menjadi jatah NU, kini dijabat purnawirawan tentara sebagai upaya serius melawan radikalisme. Begitupun Mendikbud dipasrahkan pada sosok muda pendatang baru yang relatif belum berpengalaman dalam dunia birokrasi pendidikan. Tentu saja presiden punya privilege mengangkat menteri yang 'tak biasa' itu. Terutama soal menambah daya gedor melakukan perubahan cepat nan mendasar sebagai wujud implementasi Nawacita jilid kedua.

Sedangkan, deradikalisasi mengacu pada tindakan preventif kontraterorisme atau strategi untuk menetralisir paham – paham yang dianggap radikal dan membahayakan dengan cara pendekatan tanpa kekerasan.

Deradikalisasi adalah bagian dari strategi kontra terorisme. Pendekatan secara keras dianggap belum bisa mereduksi dan menghabisi seluruh potensi yang mengarah ke tindakan terorisme bahkan dianggap belum efektif menyentuh akar persoalan secara komprehensif. Rezim hari ini telah nyata menyudutkan Islam. Terbukti, dari ditangkapnya sejumlah ulama yang lantang mengoreksi penguasa dan mengkriminalisasi ajaran Islam yang bertentangan dengan kepentingan mereka.

Tidak hanya itu, seluruh peristiwa yang terjadi dengan membawa atribut muslim dituduh sebagai bibit radikalisme seperti penusukan wiranto sedangkan kasus kerusuhan yang terjadi di Wamena Papua yang memakan banyak korban tidak disebut sebagai aksi terorisme yang berujung pada radikalisme.

Miris apa yang diucapkan menko Polhukam di awal masa jabatannya. Mahfud MD menjamin tidak ada Sistem Negara khilafah dalam Islam. “Yang ada hanyalah prinsip Khilafah dan itu tertuang dalam Alquran,” kata mahfud saat memberikan sambutan dalam acara Dialog Kebangsaan Korps Alumni HMI (KAHMI) di Kalimantan Barat (Tempo.co, 27/10/19).

Lain lagi dengan Menteri Agama yang menyasar soal cadar dan celana cingkang. Penegasan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menjadi topik utama dalam rapat perdana bersama Komisi VIII DPR (7/11). Meski demikian, Menag meminta maaf atas kondisi ini setelah menimbulkan amarah dan kritik yang kian tajam dari masyarakat.

Merespon Deradikalisasi

Sebagai manusia yang telah diberi akal untuk bisa menimbang yang baik dan buruk, hendaknya tidak terpengaruh dengan isu negatif yang menyudutkan Islam, sekalipun terlontar dari tokoh atau pejabat pemerintah atau bahkan penguasa sekalipun. Terlebih, saat ini akses informasi terpajang lebar menyaksikan fakta yang terjadi betapa berbagai prolematika yang terjadi di negri ini membutukan solusi yang revolusioner mengatasi masalah tanpa masalah, bukan malah menyalahkan Islam dan umatnya, beserta simbol dan para penyerunya.

Deradikalisasi ajaran Islam adalah agenda jahat yang merupakan agenda global negara adidaya beserta sekutunya dan menggandeng para penguasa negeri muslim yang menjadi antek-anteknya yang tidak hanya akan mengubah pemahaman lurus tentang Islam, maka harus direspon sebagai berikut: meningkatkan kesadaran politik, memberikan penjelasan yang benar kepada umat tentang makna jihad, taghut, dan Khilafah, membangun sebuah kesadaran bahwa menerapkan syariah, menegakan Khilafah dan berjihad di jalan Allah adalah kewajiban agama. Selain itu, harus meneladani metode Rasulullah Saw.

Akhirnya proyek deradikalisasi akan menuai kegagalan atas izin Allah. Mengapa demikian? Sebab, proyek ini justru akan mempertebal keyakinan umat Islam atas kebenaran agamanya dan semakin memperbesar ketidakpercayaan umat terhadap para penguasa sekuler. Jika ini yang terjadi, maka insyaallah pertolongan Allah Swt akan diturunkan kepada kaum muslim. Wallahu a’lam bisshowab.

Penulis: Niu Ummu Mubayyin (Pena Muslimah Konawe)

Lorong Kata - Pemerintah tengah mencanangkan program sertifikat layak nikah.Wacana ini menimbulkan pro dan kontra. Menteri agama Facrul Razi mengatakan akan mengerahkan tenaga kantor urusan agama (KUA) dan penyuluh agama dalam program sertifikat layak kawin.

“Iya, termasuk penyuluh-penyuluh kita yang yang dilapangan,” kata Fachrul di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis 14 November 2019. Terkait pengetahuan tentang kesehatan, Fachrul mengatakan bahwa hal itu penting untuk mencegah stunting pada anak,” Jadi betul-betul dia melahirkan bayi-bayi yang sehat. Bayi sehat kan bukan hanya saat lahir saja, mulai dari kandungan. (Tempo.co 14/11/2019)

Komisioner Komnas perempuan, Imam Nakha’i, mengatakan setuju dengan rencana pemerintah mewajibkan sertifikat layak kawin bagi calon pengantin. Beliau menilai wacana mewajibkan sertifikat perkawinan merupakan upaya negara dalam membangun keluarga yang kokoh, kesetaraan, dan berkeadilan. Sehingga, pasangan yang sudah menikah diharapkan mampu membangun keluarga sejahtera. (Tempo.co, 14/11/2019).

Perwujudan Pernikahan Yang Sejahtera

Pernikahan memiliki tujuan yang sangat mulia yaitu membentuk suatu keluarga yang bahagia, kekal abadi berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini sesuai dengan rumusan yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 pasal 1 bahwa: “Perkawinan merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang wanita dengan seorang pria sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”

Pegiat gender mendukung program ini selama perspektif kesetaraan dan keadilan dalam perkawinan tetap dipakai sebagai landasan pelatihan. Menag PPA menganggap bisa mengatasi nikah dini. Namun, dengan menganggap kesetaraan gender sebenarnya tidak memberikan arah yang solutif malah akan menyamakan kedudukan itu sehingga hak dan kewajiban wanita dan pria sama, yang nantinya ini mewujudkan keluarga yang semakin bebas tanpa ada pemahman landasan yang kokoh.

Di era kapitalistik saat ini ketahanan keluarga tak cukup disiapkan oleh individu dengan tambahan pengetahuan dan ketrampilan tapi membutuhkan daya dukung negara dan sistem nya yang terintegrasi untuk menanamkan takwa kolektif, iklim ekonomi yang konsdusif bagi pencari nafkah keluarga, jaminan kesehatan berkualitas dan gratis serta peran media nyang steril dari nilai liberal.

Yang nantinya ketika tidak lulus dari pra-nikah dan tak mendapat sertifikasi, dikhawatirkan akan melakukan perzinaan dan tidak ada pula jaminan bahwa pasangan yang telah menikah terhindar dari perceraian. Terlebih era perekonomian saat ini begitu banyak bentuk pembiyaan perekonomian masyarakat kecil yang membelenggu dan menyulitkan.

Pandangan Islam terkait Pernikahan

Pernikahan merupakan wujud fitrah dari setiap insan dan merupakan wujud ibadah bagi seorang muslim untuk dapat menyempurnakan iman dan agamanya. Dengan wujud pernikahan seseorang telah memikul amanah tanggung jawabnya yang paling besar dalam dirinya terhadap keluarga yang akan dibangun.

Mewujudkan keluarga yang sehat, sejahtera dan samara tidak tiba-tiba akan terbentuk dengan adanya sertifikasi pernikahan yang dicanangkan oleh pemerintah. Tetapi butuh adanya penguatan yang kokoh terkait keyakinan dan keimanan, terkhusus untuk keluarga muslim. Penguatan akidah tidak terbentuk secara instan tanpa proses yang panjang yang dilandasi kesadaran setiap individu atas dorongan keimanan.

Hal ini dibutuhkan pembentukan dan proses berfikir dan mengenali hukum syara dari Al-Quran dan Al-Hadis sejak dini, ini telah diajarkan dari lingkunagn keluarga, ruang pendidikan di sekolah. Pendidikan dilandaskan atas kesadaran dan dorongan iman yang akan mampu mewujudkan keberhasilan generasi.

Dengan dorongan keimanan, individu yang bertakwa akan mampu terhindar dari pergaulan bebas, LGBT, dan penyakit seksual lainnya hal ini karena rasa takut akan melanggar apa yang telah dilarang Allah SWT yang akan mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera. Selain keluarga yang memiliki landasan takwa yang baik memandang bahwa anak adalah amanah yang senantiasa akan diberikan asupan yang halal dan thayib.

Seorang wanita ataupun laki-laki telah memahami tugas dan fungsi mereka. Tugas utama seorang wanita dalam keluarga yaitu sebagai ibu dan pendidik utama yang tidak melalaikan sedikitpun perannya dalam keluarga, begitu pula halnya laki-laki adalah ssebagai seorang ayah yang senantiasa menjalankan kewajibannya memberikan nafkah untuk keluarga dan menjalankan sebaik-baiknya akan tugas yang diemban sehingga akan terjalin keluarga yang samara dan terhindar dari keretakan.

Namun, hal ini mesti ada upaya yang ditempuh terlebih disistem kapitalis-sekuler saat ini yang semakin sempitnya lapangan pekerjaan bagi seorang laki-laki dan sulit didapat. Pangsa pasar juga malah memberikan keluwesan terhadap perempuan di dunia kerja, yang efeknya malah berdampak tidak terurusnya rumah dan keluarga sehingga banyak berujung pada perceraian yang berdampak besar kepada anak –anak mengalami stunting inilah yang menjadi sumber ketimpangan ekonomi akibat sistem kapitalisme yang memperuntukan penguasaan faktor-faktor produksi pada kelompok tertentu saja.

Sehingga diharapkan sebagai seorang muslim harus memperhatikan setiap kebijakan yang akan diputuskan pemerintah jangan sampai program yang diambil melanggengkan kerusakan dan sehingga akan memberikan solusi yang terbaik dari setiap problematika saat ini. Sehingga solusi yang layak adalah kembali kepada hukum Allah SWT yang bersumber jelas dan menjadi pedoman hidup ummat, yang tidak berlandaskan dari aturan manusia yang memiliki sifat lemah, kekurangan dan serba terbatas. Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis: Mega, Mahasiswi FEB UHO.
Diberdayakan oleh Blogger.