Puisi: Ini Rindu Tuan Putri, Bukan Kopi

Ini Rindu Tuan Putri, Bukan Kopi
(BSJ)

Apa yang salah pada kemarau, layaknya rundu yang menjerit, merongrong belenggu malam.

Sesekali menikam dada, merasuk jantung hingga mendekap jadi kata, doa dan dosa.

Siapa aku ini, kekasihmu? Tak mungkin. Atau sahabatmu? Bisa jadi. Sebab teman baik, luka atau duka hanya soal rasa.

Semntara kau bukan hanya rasa, melainkan jiwa yang menggait jadi ganas mencipta rindu.

Aku ingin bersemayam di pelukmu, menjadi satu dibelaian dada, hati dan ragamu.

Aku mengimpikan kasih sayang dalam mendiami insan, juga menciummu lebih lama.

Dekaplah aku. Dan benar, akan kucium keningmu. Biar di telaga bening matamu kulepas dahaga yang semula terjebak kekeringan.

Ini rindu Tuan Putri, bukan kopi. Soal sajak dan jarak bukan alasan melepas kata.

"Ya, Kan kusongsong malam, demi maraih senyummu. Lalu mecubit pipimu yang imut" pikirku.

Aku lancang malam ini. Pengaruh cuaca melumat habis sadarku, hingga hilang pedih nan perih yang semula kurawat di tepi sunyi.

Terakhir, bunuh aku, silahkan. Sialan aku ini, terlalu nekat mengupas rindu.

Sangat kasar aku padamu, yang terkasihku sang pujaan mulia. Maaf, izinkan pangkuanmu jadi pembaringan pertamaku.