Untuk Tuan Berwajah Sepi. Dari, Penyayang Tak Menyukai Hampa
(Sutra Tenri Awaru)

Kembalilah kepadaku jika hujan tak lagi mendinginkanmu

Pulanglah kepangkuanku jika matahari tak lagi menyinari tiap gelapmu

Mendekaplah jika pelangi tak lagi mampu mewarnai hidupmu

Jangan membuat sunyi menjadi tuhanmu, jangan menjadi hamba kepada hampamu, bangkitlah!...

Paling tidak kembali kepadaku untuk mendekapku lagi

Rebahkan semua keluhmu kepadaku, aku tidak menyukai kau mengtuhankan sepi, sebab terang lebih baik daripada sepi!...

Usap air matamu jangan melakukan penghambaan lagi kepada hampa.

Aku ada satu, sebab aku manusia yang akan ditakdirkan bersamamu!...

OPINI, Lorong Kata --- Rangkulan harapan dan masa depan menjadi pembuka hentakan kaki dalam membuka gerbang ideal yang bernama Perguruan Tinggi (kampus). Di tempat inilah banyak harapan yang digantungkan oleh para aset-aset bangsa di masa depan, dan para aset-aset itu biasa dikenal dengan sebutan Mahasiswa. Sosok terpelajar yang menyandang gelar Maha yang mengemban tanggung jawab besar di pundaknya untuk kemajuan negeri ini. Mahasiswa merupakan kumpulan-kumpulan orang terpelajar yang telah melewati beberapa fase kehidupan dalam dunia pendidikan yang diidentikkan dengan wadah pengembangan intelektualitas dan pengolahan diri untuk menjadi sosok pembaharu bagi bangsa dan negara. Itu merupakan sebuah tujuan dasar dari pada mahasiswa atau pendidikan itu sendiri. Negara ini bisa berdiri dengan gagah perkasa tidak terlepas daripada peran para mahasiswa di masa lalu, sebut saja Bung Karno, Hatta, Syahrir dll. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa gemilang di jamannya, Bung Karno merupakan seorang mahasiswa Teknik yang terkenal dengan jiwa oratornya sedangkan Bung Hatta adalah mahasiswa Ekonomi yang identik dengan Administratornya yang mampu membuat gagasan ideal dalam dunia pendidikan. Mereka kemudian dengan gagasan-gagasan yang sangat luar biasa mampu menggagas kemerdekaan Indonesia, bersatu dan berpadu demi kemerdekaan Indonesia. Indonesia bisa dikatakan lahir dari buah perjuangan mahasiswa di masa lalu. Segala hal yang menghalangi kehendak mereka untuk membangun negeri ini mereka selesaikan dengan daya intelektualitasnya.

Nampaknya kondisi mahasiswa di masa lalu di jamannya Bung Karno dan Hatta agak berbeda atau bahkan sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Mahasiswa hari ini layaknya jiwa-jiwa yang dilanda ketakutan, takut akan sebuah resiko menjadi mahasiswa seperti yang dilakukan oleh para Founding Fathers negeri ini yang dulunya seorang mahasiswa. Mahasiswa hari ini lebih mengarahkan identitasnya yang Maha ke arah kepatuhan dan ketundukan karena mereka berpikir bahwa mahasiswa yang sebenarnya adalah mereka yang mengaktualisasikan intelektualitasnya dalam bentuk mematuhi aturan yang ditetapkan oleh kampus. Aturan pada dasarnya bukan sesuatu yang paten yang harus diikuti melainkan harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana mekanisme penetapan aturan tersebut. Aturan yang berlaku di kampus hari ini justru merupakan aturan yang menciutkan harapan dan mimpi-mimpi mahasiswa untuk perubahan atas negerinya, aturan yang menciderai esensi atau hakikat dari gelar Maha itu sendiri. Mahasiswa lebih dihadapkan dengan aturan yang mendukungnya untuk menjadi calon tenaga kerja di masa depan bukan sebagai aktor perubahan dan penggerak kehidupan bangsa dan negara ini demi memperoleh kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Sebagai calon tenaga kerja di masa depan, mahasiswa diasah kemampuannya untuk menjadi buruh. Taat pada jadwal, patuh terhadap aturan dan sanksi tegas bagi mereka yang melanggar sehingga kerapkali korban DO berjatuhan dengan berbagai alasan, ada yang karena menentang aturan kampus yang tidak masuk akal dan menyalahi falsafah pendidikan, ada yang karena nilai yang buruk sehingga jalan satu-satunya adalah dikeluarkan, dan adapula yang terlalu lama tinggal di kampus. Hari ini iklim kampus tidak terlalu bersahabat dengan mahasiswa yang terlalu lama tinggal di kampus. Satu hal yang menyebabkan semua itu terjadi adalah sistem yang dinamai Akreditasi. Akreditasi merupakan senjata ampuh untuk menjaring mahasiswa sebagai bahan promosi dan juga akreditasi sebagai syarat pemenuhan pundi-pundi bantuan dari pemerintah yang sampai hari ini jumlah bantuan dari pemerintah yang masuk ke kampus setiap tahunnya tidak terdeteksi oleh siapapun kecuali yang berada digaris mereka.

Kondisi mahasiswa hari ini mirip dengan kawanan domba yang digiring sesuai keinginan aparat kampus. Kerapkali mereka terdiri dari kawanan massa yang digiring untuk memeriahkan acara yang dibuat oleh pihak kampus, seperti seminar di jurusan yang menjadikan mahasiswa sebagai peserta bayaran dengan metode pengabsenan di tempat seminar sebagai bayarannya, yang tidak hadir berarti alfa di mata kuliah yang dialihkan ke seminar meskipun mahasiswa pada umumnya tidak mengetahui jenis seminar apa yang mereka hadiri tapi mereka lebih memilih diam demi 1 absen karena katanya itu akan mempengaruhi nilai mereka, yang jelasnya seminar yang dilakukan baik oleh pihak jurusan, fakultas maupun kampus adalah merupakan ceremony pelepasan program kerja mereka demi tuntutan LPJ sesuai dana yang cair entah berapa!

Melirik lagi apa yang pernah dialami oleh para mahasiswa di masa lalu seperti Bung Karno, Hatta dan Eko yang sudah menganggap ruangan kampus seperti kamar pribadi mereka, kelas jadi tempat uji gagasan. Tiap dosen ceramah mereka sela dengan pertanyaan. Parkiran fakultas menjadi tempat romantis, bercumbu mesra dengan ketidak-adilan yang menjadi landasan protes, perkara kemanusiaan dihidangkan dan gugatan atas ketimpangan disuarakan. Namun berbeda dengan aroma kampus hari ini, ruang kelas sebagai tempat memproduksi robot-robot industry, menceritakan dongeng yang meninabobokan mahasiswa, menyajikan mata kuliah yang pasti dan tidak bisa lagi dipertanyakan oleh mahasiswa dan secara tidak langsung menganggap bahwa bumi ini diciptakan dalam kondisi jadi tak ada lagi manusia yang menghuninya, siapa yang bertanya ataupun mengkritik dicap pembangkang semuanya terlewati hingga sampai pada tahap pemberian tugas sebagai bekal yang harus dibawa pulang oleh robot-robotnya dan dikumpulkan keesokan harinya, anehnya si robot-robot itu memanfaatkan robot pula untuk menjawab setiap pertanyaan yang berupa tugas itu tanpa harus mempergunakan akalnya untuk berpikir, hampir lupa mereka kan robot jadi otomatis tidak punya akal. Selanjutnya, parkiran fakultas hari ini hanya dipenuhi kendaraan-kendaraan mewah karyawan, dosen dan mahasiswa tak ada ruang kosong membuat lingkaran untuk saling mengadu argument hingga berakhir pemberontakan terhadap kezaliman kampus, itupun kalau ada tapi melihat kondisi mahasiswa yang tak lagi mengedepankan budaya diskusi seputaran kampus dan problematika yang tengah dihadapi rakyat melainkan lebih asyik berkumpul dengan teman-temannya sambil memperbincangkan persoalan fashion ataupun bisnis online yang tengah mewabahi kampus hari ini dan ada juga mahasiswa yang tak mau lagi berinteraksi ataupun ngobrol dengan temannya dengan alasan bukan muhrim dan kebanyakan mahasiswa yang seperti itu memilih-milih teman, mereka hanya ingin bergaul dengan mahasiswa yang memakai busana yang sama dan tempat diskusi mereka hanya di sekitar pelataran masjid. Tak ada lagi ruang kelas yang padat dengan debat, kuliah dilalui dengan cara sederhana: datang, dengarkan lalu pulang. Melalui bisnis online, mahasiswa sudah pintar cari uang sendiri yang didukung dengan training wirausaha yang membuat banyak mahasiswa menjadi pebisnis dan pengusaha. Muda lalu kaya terus berkeluarga, sungguh potret hidup normal dan wajar padahal kondisi sekelilingmu sedang berjalan tidak normal jika diperhatikan secara mendalam banyak kejadian-kejadian yang membuat rakyat harus bermandikan air mata seperti perampasan tanah, sawah yang hendak disulap menjadi bandara ataupun bangunan-bangunan lainnya, PHK di mana-mana, harga bahan pokok melambung tinggi, tarif listrik naik dll. Wajarkah hal itu terjadi? Siapakah yang harus membela rakyat yang menderita? Jawabannya adalah mahasiswa, perlu diketahui bahwa dari 100% biaya kuliah mahasiswa, 90% dibiayai oleh pemerintah yang notabenenya berasal dari uang rakyat dan 10% dari orang tua, apakah orang tua mahasiswa rakyat atau bukan? Yah rakyat, jadi mahasiswa 100% biaya kuliahnya dijamin oleh rakyat. Mahasiswa adalah orang yang dimandatir oleh rakyat untuk mengubah nasib mereka, lantas ketika rakyat menderita, apakah mahasiswa harus diam melihat orang yang membiayai kuliah mereka menderita? Rakyat adalah orang tua mahasiswa.

Kampus hari ini telah menjelma menjadi pusat pelatihan calon tenaga kerja di masa depan. Mendapatkan IPK tinggi, sarjana dan bekerja telah menjadi tujuan utama hadirnya kampus hari ini. Pada dasarnya, hal demikian boleh saja namun harus juga ditunaikan ‘Tujuan Regang’ dalam diri setiap manusia dalam hal ini Mahasiswa seperti yang dibahasakan Bung Eko dalam bukunya Bergeraklah Mahasiswa, ‘Tujuan Regang’ merupakan suatu peristiwa yang menyentak dan mengganggu rasa puas diri dan mendorong cara-cara berpikir baru. Rasa puas diri dengan capaian IPK tinggi dan menjadi sarjana adalah pemikiran yang statis, jikalau pun demikian, apa yang akan dilakukan ketika telah sarjana dengan nilai yang memuaskan? Apakah keseharianmu nantinya akan diwarnai dengan pemujaan dan kepuasan terhadap gelar yang telah diperoleh? Tentu tidak pasti kamu mau bekerja, lantas mau kerja di mana dengan hanya membawa selembar kertas capaianmu selama kuliah? Pastinya pihak perusahaan yang kamu tempati melamar pekerjaan membutuhkan pertanggung jawaban atas capaianmu dalam selembar kertas itu. Sementara dunia kampus yang pernah kamu huni selama beberapa tahun dalam memperoleh IPK tinggi kamu hanya cukup rajin masuk kuliah, mendengarkan cerita dosen, jangan membuat keributan dengan mempertanyakan mata kuliah cukup diam saja, jangan membuat dosen tersinggung dengan kritikanmu, rajin kumpul tugas, ikut Mid dan Final Test dan pada akhirnya kamu akan mendapatkan nilai yang tinggi. Kesimpulannya patuh dan tunduk terhadap dosen adalah kunci memperoleh nilai tinggi. Patuh dan tunduk terhadap dosen merupakan hal yang seharusnya dilakukan seperti yang selalu orang tua dulu katakan bahwa mengejek atap rumah gurumu saja, kamu tidak akan memperoleh keberhasilan namun hal demikian perlu direnungkan, tunduk dan patuh terhadap dosen boleh saja asal bukan karena takut melainkan karena memang mereka mengajarkan sesuatu yang berguna bagi dirimu dan orang lain tapi yang terjadi hari ini hanya mendorong mahasiswa menjadi pemuda-pemudi industri yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa mengajarkan wujud kepedulian terhadap sesama dan anehnya lagi banyak mahasiswa yang pergi kuliah hanya karena tuntutan kewajiban bukan karena keinginan dalam diri untuk menerima pengetahuan yang diberikan oleh dosen. Menyoal persoalan tentang ketundukan dan kepatuhan dalam kacamata Islam, secara generik Islam adalah sikap tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Ketundukan dan kepatuhan hanya kepada Sang Pencipta bukan kepada selain dari-Nya.

Sebenarnya asumsi dasar dalam filsafat pendidikan atau dengan kata lain asumsi diadakannya pendidikan dalam diri manusia dalam hal ini Mahasiswa dalam buku Bung Agus Nuryatno yang berjudul Mazhab Pendidikan Kritis, antara lain: (a) manusia diyakini punya kapasitas untuk berkembang dan berubah karna punya potensi dalam belajar, dan dibekali dengan kapasitas berpikir dan self-reflection; (b) manusia, sebagai makhluk yang tidak sempurna, punya panggilan ontologis dan historis untuk menjadi manusia yang lebih sempurna; (c) manusia, dalam Bahasa Colin Lankshear (1993) adalah “makhluk praksis yang hidup secara otentik hanya ketika terlibat dalam transformasi dunia”. Rasa puas diri terhadap nilai tinggi merupakan langkah yang telah keluar daripada falsafah pendidikan. Manusia selalu memiliki potensi untuk berkembang begitupula Mahasiswa, hal demikian yang seharusnya diindahkan oleh para tenaga pendidik. Menjadikan atau menganggap mahasiswa sebagai makhluk yang statis berarti secara tidak langsung menyamakan mereka dengan pola hidup hewan yang setiap harinya mencari makan, tidur dll. Mahasiswa setiap harinya harus rajin masuk kuliah, mendapatkan nilai tinggi, sarjana dan bekerja tanpa memahami potensi yang dimiliki oleh setiap mahasiswa. Mendidik mahasiswa dengan metode seperti itu sama halnya menggiring kumpulan domba-domba ke arah sesuai kehendak si penggiring tanpa menyadari bahwa mahasiswa adalah manusia yang tidak sempurna yang memiliki potensi untuk menuju ke kesempurnaan melalui panggilan ontologisnya. Panggilan ontologis yang dimaksud adalah panggilan alamiah dari dalam diri manusia untuk merealisasikan potensinya sebagai manusia secara penuh. Dalam proses “menjadi”, manusia diajak untuk secara terus-menerus memanusiakan diri mereka lewat menamakan dunia dalam aksi-refleksi dengan manusia yang lain. Hal-hal tersebutlah yang harus dilakukan oleh dosen terhadap mahasiswanya bukan hanya memenjarakan pikiran mereka. Mahasiswa juga harus menumbuhkan kesadaran kritis dalam dirinya yakni bentuk pemikiran yang mencoba menyingkap fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya dan mengubahnya bukan hanya menyaksikan semuanya terjadi seolah-olah semuanya berjalan normal. Mahasiswa harus senantiasa berpihak kepada rakyat, harus memberdayakan kaum tertindas dan mentransformasikan ketidak-adilan sosial yang terjadi di masyarakat. Kuliah memiliki tugas yang mulai bukan hanya sekedar rajin kuliah untuk nilai tinggi dan bekerja melainkan membudayakan tradisi berpikir kritis dan melatih diri untuk berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan seperti yang tertera di Tri Darma Perguruan Tinggi.

Selanjutnya, Mahasiswa hari ini seharusnya menganggap setiap aturan dalam bentuk larangan yang dikeluarkan oleh pihak kampus menjadi ajakan bagi mereka untuk bergerak dan ketidakpatuhan terhadap aturan merupakan kreativitas bagi Mahasiswa. Alangkah indahnya jika hal demikian terjadi di dunia kampus hari ini, setiap harinya akan ada pameran gagasan penolakan yang dilakukan oleh Mahasiswa, setiap sudut dipenuhi mahasiswa yang tengah mendiskusikan kondisi rakyat di berbagai penjuru dan setiap ruangan menjadi panggung argument bagi mahasiswa terkait mata kuliah. Jika hal-hal tersebut diterapkan dalam dunia kampus maka yakin dan percaya, kampus akan berubah menjadi tempat lahirnya ide-ide segar dan mahasiswa akan tampil sebagai Pemuda-pemudi Pembaharu bukan Penguasa yang terus-terusan mengebiri kehidupan rakyat kecil.

“Kepriyayian bukan duniaku. Peduli apa iblis diangkat jadi mantra cacar atau diberhentikan tanpa hormat karena kecurangan? Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya”. Pramoedya Ananta Toer (Minke, Tetralogi Buruh)

Penulis: Askar Nur (Mahasiswa UIN Alauddin Makassar Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris)

DABI
Aruki N.

Malam itu aku lantas bertanya:
Sayang, mengapa pula setiap dosa mesti ditimpakan pada jiwa-jiwa yang lain?

Perihal Dabi ini, mungkinkah semua mampu menerima?

Iya, dengan bisu yang dibuat-buat dan tangisan yang perlahan berubah munafik.

Sayang, mengapa Dabi berlagak sebagai pengungkit masa lalu yang sejati tak perlu diangkat di masaku?

Apakah perihal kesalahan dan dosa ini tak pernah dibukakan pemaafan?

Padahal kita dulunya pernah sepakat, bahwa setiap jiwa tak semua darinya sempurna.

Tetapi sebagiannya selalu dibukakan pemaafan atas luka, lantas menutup lubangnya.
Pun, dosa, dihapuskan dengan banyak penyesalan, serta permohonan ampun.

Sedangkan bagiannya yang lain, kutemukan tersudut, bertekuk lutut oleh rayuan setan, pun tepukan tangan penghuni neraka.

Sayang, perihal Dabi ini, sungguh aku tak mampu menebak.
Selain ia yang berkoar soal teori perbandingan, hingga berani menentang hukum Tuhan.

Tidak, sayang. Bukan kepada jiwa resah dilampiaskan.

PENA
Aruki N

Kala itu purnama ditampakkan sebagai bulatan yang berdarah-darah

Selaksa cermin, di rupanya derita dan tangis lantas dilukis.

Maka sejak itu, bukit, pepohonan dan lautan saling berteriak: "Dunia telah hancur!"

Air mata tumpah sebagai sungai berdarah, bersama racun yang ditelan ikan di dalamnya.

Ketika itu, dari sebuah pena, cahaya berpendar bebas.

Melewati kisi jendela, dan sudut kota paling gelap hingga mengikis darah dari permukaan rembulan.

Begitupun air mata, dihapuskannya lewat goresan tinta paling emas.

Maka sejak itu, daun-daun, jangkrik dan apapun yang datang di malam hari, mulai bersorak: "Kita selamat! Tuhan masih sayang!"

Dari tinta emas, goresan lain dihadirkan.

Dunia telah kembali di masanya ditata.

Oleh cendekia, Sajak-sajak ditulis. Lalu beranjak memuisikan perubahan.

Di akhir cerita, pena itu dijelmakan sebagai pelajar dan karyanya.

OPINI, Lorong Kata --- Isu radikalisme dan terorisme menjadi topik utama dalam dalam setiap pengkajian keilmuan. Bukan tanpa alasan isu ini berkembang pesat tapi landasan peristiwa-peristiwa menggelitik yang mewarnai dunia keberagaman dinegara ini. Pengkajian yang berkembang mengalami multitafsir, sehingga kekokohan pendirian sangat dibutuhkan dalam memahami isu yang berkembang.

Perang kepercayaan menjadi sasaran utama perkembangan isu. banyak pihak yang menyayangkan justifikasi islam sebagai dalang dari pengeboman disurabaya, mungkin terkesan diskriminatif tapi itulah yang terjadi. Ketika kepentingan berjalan diatas kekuasaan maka tidak ada lagi pertimbangan dalam mewujudkan keegoan.

Skenario coba dijalankan dengan tujuan adu domba kepercayaan sehingga membuat kaum awam leluasa membuat kesimpulan. Bagi orang yang dalam proses menghadirkan kesadaran akan menilai ini adalah sebuah jebakan.

Sangat tidak adil ketika kita langsung membuat kesimpulan dengan menyatakan dan mengikutsertakan islam sebagai dalang. Namun, hanya akan menimpulkan perpecahan diantara 1 kepercayaan. Pada dasarnya semua agama tidak ada yang menghendaki terjadinya pembunuhan bahkan manusia tidak beragama pun (atheis) memiliki pandangan demikian.

Yang lebih ironis lagi ketika pakaian (syar’i) disangkut pautkan dengan terorisme. Sungguh suatu pembatasan yang tidak masuk akal. Menutup aurat adalah sebuah kewajiban dan pakaian syar’I adalah pilihan.

Sebagai kaum intelektual sungguh sangat lucu ketika kita mudah terjebak tanpa mempelajari terlebih dahulu. Mereka menyusun skenario bukan tanpa alasan dan tujuan, bisa jadi peristiwa-peristiwa terjadi hanya untuk menjatuhkan pihak yang tidak sepaham.

Penulis: Faisal

Di Luar Nalar
(SastraRwa)

Rasa yang kau berikan di awal munculnya mentari,
rasa hampar meninggalkan bekas dibibir senyum manismu,

kau kokoh bagaikan air yang tak pernah tergoda degan api,
kau sekeras batu tak mau berucap, sayang,,,,,
Kau cuman tanah yang jinak

tetesan air hujan yang terus menggodamu untuk menumbuhkan benih" pada dirimu,,,

kau begitu pasrah tak berkutik atas kehendak perintah yang memegang kelembutan dirimu.

Suara merdumu terasa nikmat saat angin mengusik kemesraan lemah lembutku,,,

sesaat setelah senja menghampiri kuputuskan untuk menghentikan sesuatu indah yang tak direstui keberadaanya


Cilallang,19-05-2018
Powered by Blogger.