Puisi: Kepada Pemilik Nama Yang Selalu Kusebut

Nur Wahyuni A
 Cuaca Yang Lancang Mengusik
(Al-Mu'minun)

Senja di pelupuk bumi telah menghantarkan cerita, lantaran bintang tak lagi berpihak padaku...

Aku bukan apa apa. Sementara kau adalah kesempurnaan dari keagungan Tuhan...

Uni...
Abjad dalam huruf ketiga, aku tersentak dengan tanda baca. Kau mimpiku yang malang...

Nama singkat telah melekat, merekat dan mendekap jauh dalam rasa melampaui akal sehat...

Uni...
Kau selalu kusebut, lantarana bening mataku meleleh, mulutku bahkan kehabisan liur memujimu...

Fajar tiba tiba menyembul, mengusik imajinasi. Pagi pun berlalu, waktu terlalu cepat berubah. Dan masih saja kau abadi di hati...

Hina insan ini, dan lancang mengusikmu. Perihal rasa, siapa mampu menahannya?

Seumpama kopi menaung menggantung, memohon seduhan  kasih sayang agar gula tak menyingkir sia sia...

Aku rindu, bukan pada siapa. Secuwil senyummu pun kugenggam erat. Sampai akhirnya jadi penyamun tiba tiba nyinyir...

Uni...
Aku merindukanmu di setiap kata, walau aku buka apa dan siapa, hanya pengembara sajak tak beraturan...