Serpihan Kecil ILC Yang Menghentak Jagad Raya

OPINI --- Sebagaimana biasanya ILC yg di pimpin oleh bang Karni Ilyas selalu mengusung tema yang lagi hot sedikit kontroversial dan menjadi trending topik, bang Karni dengan gaya khasnya membawakan acara dengan santai tapi tegas serta memiliki kharisma tersendiri mengantarkan ILC ini menjadi salahsatu acara televisi yang paling diminati di seantero Republik ini.

Tema diskusi semalam membahas tentang pemilihan cawapres yg diwarnai dg aroma mahar politik & PHP menjadi magnet yang begitu luarbiasa apa lagi dihadiri langsung dengan sosok yang di persepsikan sebagai pihak pelaku pada tema diatas yakni Sandiaga Uno dan prof Mahfud MD, dari diskusi panjang semalam penulis menyimpulkan beberapa catatan kecil yang menjadi intisari penjelasan Prof Mahfud, antara lain sebagai berikut:

Pertama, bahwa benar Presiden tersandra permainan politik yang didalangi aktor-aktor partai koalisi yang mengusungnya. Presiden Jokowi tak cukup berani keluar dan melawan tekanan-tekanan itu. Pemilihan cawapres kemarin, misalnya, terbukti hanya merupakan hasil negosiasi politik dan kompromi saham elektoral belaka—tidak berpijak pada prinsip yang lebih punya visi kebangsaan dan mengedepankan kepentingan rakyat.

Kedua, rumor yang mengatakan bahwa ada ‘super-mentor’ di belakang presiden yang begitu kuat bisa menentukan dan mem-plot banyak hal rupanya benar. Aneka jabatan stretegis yang ditawarkan kepada banyak orang, termasuk jabatan menteri dan komisaris, bisa diatur-atur dan dirancang-rancang sedemikian rupa oleh sang ‘supervisor’ presiden ini. Ini sama sekali tidak bagus untuk bangunan negara dan pemerintahan kita, di mana presiden seharusnya merupakan orang dengan kekuasaan tertinggi—bukan petugas belaka.

Ketiga, kita harus bersedih mengetahui fakta bahwa ‘orang-orang politik’ dan ‘orang-orang partai’ di sekeliling presiden adalah orang-orang yang diragukan integritasnya—yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, partai atau golongannya belaka. Apalagi jika orang-orang ini kerap menunjukkan standar ganda bahkan hipokrisi dalam hal-hal yang paling prinsip sekalipun, termasuk kejujuran dan kesalehan.

Keempat, kesaksian Prof Mahfud memberi tahu kita bahwa yang sering menuduh orang lain melakukan politisasi agama sejatinya adalah mereka yang benar-benar melakukan politik agama. Pak Mahfud menampar secara keras orang-orang itu, membuka tirai penutup aibnya menjadi terang benderang di hadapan publik. Kita malu dan sakit mendengarnya.

Kelima, Pak Mahfud selalu menolak ketika dikatakan bahwa ia sakit hati, kecewa, bahkan sedih karena telah menjadi korban PHP. Persis seperti ketika ia memotong pernyataan Effendi Gazali sambil tersenyum dan mengatakan, “Saya tidak merasa di-PHP, Pak. Saya legowo aja, biasa.” Katanya. Benar, Pak Mahfud, Bapak memang tidak di-PHP, Bapak hanya kena prank Youtuber Istana!

Keenam, penunjukan kiyai ma'ruf sebagai cawapres membangun politik persepsi seolah-olah murni pilihan pak Jokowi yang nir intervensi dengan skenario pak Ma'ruf Amin tidak hadir pada acara deklarasi dan beberapa saat kemudian pak kiyai ma'ruf amin di wawancarai oleh wartawan di tempat lain dengan mimik yang kaget dan mengatakan sungguh saya tidak menyangka akan di pilih pak Jokowi sebagai calon wakilnya, namun seluruh skenario drama ini terbantahkan oleh penjelasan Prof Mahfud yang di urai secara sistematis dan terang benderang.

Mari kita nantikan drama panjang perhelatan Akbar demokrasi yg masih menyisakan berepisode episode akting yang akan tersaji dihadapan kita yang bakal di pertontonkan kedua pasang calon kontestan dan pada akhirnya kita belum tau siapa yang bakal tereliminasi dan siapa yang keluar sebagai jawara, tentu siapapun pemenangnya adalah presiden kita semua olehnya itu masyarakat harus cerdas menilai siapa diantara keduanya yang layak mengantarkan Republik ini menjadi bangsa yang bermartabat di hormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Author: Muh.ikbal majid
Forum masyarakat hukum pidana& kriminal Indonesia (MAHUPIKI)