Secangkir Kopi Dan Kenangan Yang Masih Terawat

Pagi itu diteras rumah ditemani secangir kopi hasil seduhan Ibu ku sejam yang lalu.

Aku hanya memandang kearah mentari yang baru saja keluar dari persembunyiannya perlahan merangkak menjauh semakin tinggi. Embun yang awalnya menggumpal di ranting dan dedaunan mulai mencair menetes membasahi bumi.

Aku hanya merasa itu bukan wujud embun melainkan wujud kesedihan karena cerita yang berakhir kesedihan.

Tidak hanya itu, kopiku yang nikmat seketika berubah jauh lebih pekat dari sebelumnya. Entah kopiku sedang ngambek karena terlalu lama kudiamkan atau kopiku pun sedang larut dalam kisahku yang usai dengan kesedihan.

Bukan aku sengaja membiarkan kenangan itu tinggal dan merajai pikiranku. Aku selalu berusaha mengusirnya, beberapa cara telah aku lakukan agar menjauh. Aku pernah berpikir mengakhiri hidup tapi aku tidak segila itu. Akalku masih sehat untuk melanjutkan hidup dengan harapan-harapan yang mungkin saja tidak lagi mampu terjamah.

Anehnya, pagi ini tidak seperti biasanya, secangkir kopi pagi ditemani sang mentari yang baru keluar dari persembunyiannya mampu melahirkan puluhan puisi pagi.

Pagi ini hanya beberapa bait yang mampu aku tulis, itupun tidak seindah harapan banyak orang hanya gambaran kesedihan yang merajai pikiranku pagi ini.

Ada cerita disetiap seduhan kopi, kenangannya melekat di bibir cangkir
Perihnya pun mengendap di dasar tak mau pergi.

Masalahnya,
Akankah kopi dapat mengulang cerita itu lagi menjadi satu dalam cangkir yang sama ?

Akankah kopi kembali dapat menyatukan warna dan rasa agar candu dapat kita nikmati bersama ?