IAIM Sinjai Itu Kampus Atau Kerajaan?

OPINI --- Kami Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslimin Indonesia (KAMMI) Komisariat Universitas Islam Negeri Alaudin Makassar (UINAM) menyayangkan kebobrokan Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Sinjai.

Otoriter dan disorientasi adalah kata yang paling tepat, ketika kedudukan kampus berfungsi sebagai wadah akan tanggung jawab moral dan intektualitas memilih berbalik diri dan menjilat ludah sendiri.

Kritik ibarat gambar mata uang logam yang tidak bisa dipisahkan dari jati diri seorang mahasiswa.

Sebab niat awal mahasiswa adalah membuat tuntutan untuk penurunan pembayaran kartu ujian akhir semester (UAS) tapi pada akhirnya berbuntut dengan dikeluarkannya surat keputusan (SK) pemberhentian dan skorsing kepada 4 mahasiswa IAIM.

Hal ini agak sedikit tabuh, karena SK dikeluarkan tanpa memberikan kesempatan kepada korban untuk melakukan tuntutan dan pembelaan diri, itu ialah hal yang sama sekali tidak demokratis.

Sekali lagi saya katakan dengan tegas kampus bukanlah kerajaan yang sesuka hati mengambil kebijakan secara sepihak.

Tapi kampus pada sejatinya adalah rumah toleransi logis, artinya ketika ada suatu permasalah yang masih bisa diselesaikan dengan jalan mediasi dengan alasan dan pertimbangan yang logis, kenapa tidak.

Sebab dengan kejadian ini secara tidak langsung membuat aib kampus tersingkap dan mencoreng nama baiknya sendiri karena ulahnya yang secara otoriter berbuat dan mengeluarkan argumen yang semena-mena, seakan tak menghargai posisi mahasiswa.

Kampus yang kita anggap dapat membawa perubahan besar terhadap generasi muda kedepannya dengan jiwa kritis yang ada malah mencetak generasi yang membeo terhadap penguasa.

Jadi kesimpulan yang perlu dicatat oleh kampus IAIM Sinjai terhormat yaitu, jangan jadikan kami mahasiswa sebagai ladang bisnis karena kami orang-orang idealis bukan kapitalis.

Penulis: ketua KAMMI Komisariat UINAM