Kimi Hime, Kebebasan Yang Kebablasan

Lorong Kata --- “Seseorang tidak akan mungkin melawan fitrah bergejolak tatkala melihat sesuatu yang membangkitkannya. Tiba-tiba sebahagian laki-laki diminta berlaku wajar di tengah pemandangan, serba terbuka dan telanjang. Maka sangat keliru jika mengatakan penyebab pelecehan berkutat pada pelaku (pria) tanpa mempertimbangkan penyebab bangkitnya rangsangan seks tersebut” (Negeri ½, 2018. Hal: 36) Ini justrus tidak adil.

Istilah generasi millennial memang sedang akrab terdengar ditelinga kita. Dalam laporan tersebut Ericsson mencatat, produk teknologi akan mengikuti gaya hidup masyarakat millennial. Sebab, pergeseran perilaku turut berubah beriringan dengan teknologi. "Produk teknologi baru akan muncul sebagai akomodasi perubahan teknologi," ujar Presiden Director Ericsson Indonesia Thomas Jul.

Kejadian ini pun semakin mempopulerkan paham kebebasan di tengah-tengah kaulah mudah. Berlomba-lomba untuk terjun langsung menjadi pelaku atau penikmat. Sebut saja hasil penelitian Ericsson, rata-rata penikmat youtube menghabiskan waktu di depan layar perangkat mobile sekitar tiga jam sehari. Angka tersebut melambung empat tahun kemudian menjadi 20 persen.

Waktu yang dialokasikan untuk menonton streaming juga meningkat tiga kali lipat. Fakta tersebut membuktikan, perilaku generasi millennial sudah tak bisa dilepaskan dari menonton video secara daring. Animo penikmat Youtube ini, pun dimanfaatkan kaulah mudah untuk meraup keuntungan. Di-era digital seperti sekarang ini ternyata mulai banyak di gandrungi oleh generasi milenial. Selain karena popularitas, penghasilan yang cukup menggiurkan yang didapat membuat pola pikir generasi milenial berubah dalam memilih profesi.

Kemudian baru-baru ini, jagat maya kembali dihebohkan oleh Kimberly Khoe atau yang akrab disapa Kimi Hime sang Youtuber gim asal Indonesia. Saat ini kanal youtube  miliknya telah memiliki 2,2 juta pelanggan. Akibat ia selalu tampil seksi dengan mengenakan  tank top, sebagaimana dikutip di Wikipedia.

Sebenarnya penulis baru mengenal sosok Kimi Hime, saat membaca sebuah berita. Menarik sampai kepo untuk mencari tahu, faktanya seperti apa. Dan ternyata, Mbaknya begitu aduhai sexy. Mba Kiminya pun keberatan atas tiga video di channel Youtube miliknya, disuspend oleh Kemkominfo. Sebab, dianggap melanggar aturan kesusilaan. Aksi keberatannya pun ia adukan ke Persiden Jokowi dalam sebuah vidio sebagaimana yang dikutip dalam berita Merdeka.com, (26/7).

Sebenarnya, aksi Kimi ini bukan kali pertama ada, sebelumnya atau mungkin setelahnya masi ada Kimi-Kimi yang lain. Karena kita tahu bersama Indonesia menganut sistem demokrasi-liberalisme yang menganut paham kebebasan berekspresi yang tidak mengenal batasan. Ya. Terserah gue mau ngapain, hidup-hidup gue. Kenapa lo yang repot. Urus aja pakaian lo yang serba tertutup itu.

Banyak para perempuan menjajakan tubuhnya untuk kemudian diumbar ke khalayak umum dengan bangga. Rok mini dengan baju ketat yang memperlihatkan sebagian besar tubuh perempuan dianggap modern dan keren. Sedangkan mereka yang menutup aurat dalam rangka mentaati aturan Allah malah dicap teroris dan radikal.

Sex edukasi yang digenjarkan pun hanya sebatas itu, berbaur ekonomi tuk mengisi kantong-kantong serakah yang hanya mementingkan ketenaran bukan kebaikan. Tetap, dan tidak memutus terjadinya dorongan sex bebas tersebut (dalam hal ini pencegahan).

Media massa semestinya menguatkan suasana keimanan dan ketaatan masyarakat terhadap Islam dan hukum-hukumnya. Namun dalam sistem kapitalis saat ini, edukasi publik justru menjadi sarana menjajakan gaya hidup materialis dan hedonis. Gaya hidup yang mengedepankan kesenangan dan kenikmatan materi.

Munculnya paham seperti ini, tidak lain karena tidak adanya pembinaan nilai agama oleh pemerintah terhadap masyarakatnya. Masyarakat boleh berekspresi sekehendak dirinya. Katanya, asal tidak mengganggu orang lain. Dalam demokrasi pun, pengakuan hanya pada porsi persamaan derajat. Akibatnya, Allah swt. dipahami sebatas gagasan kebaikan sebagaimana pandangan Barat terhadap konsep ketuhanan. Aspek kemashlahatan tetap menduduki posisi lebih tinggi daripada konsep halal haram dalam menstandarisasi aktivitas.

Di samping itu, Islam hanya dipahami sebagai agama yang mengatur urusan akhirat, bukan sebagai sistem kehidupan yang mengatur dan memberikan solusi atas setiap persoalan kehidupan manusia.

Inilah buah dari sistem demokrasi yang menghasilkan kebebasan-kebebasan yang tidak sesuai dengan syariat (aturan) Allah. Di dalam sistem ini, aturan Allah dicampakkan begitu saja, dengan digunakannya aturan buatan manusia. Padahal sudah nampak kerusakan dimana-mana akibat dicampakkannya aturan Allah. Sudah waktunya kita mencicipi menu Islam, karena terbukti menu yang lain begitu pahit, asin, masam dan tidak enak pokoknya. Dengan beralih dari sistem kapitalis-sekuler, dan kembali pada Islam yang telah Allah jadikan sebagai solusi bagi setiap permasalahan kaum muslimin...(*).

Penulis: Ika Rini Puspita