Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Akal lumpuh, Hoax Bergentayangan

Minggu, 29 Maret 2020 | 07:32 WIB Last Updated 2020-03-31T03:28:25Z
Lorong Kata - Di jagat maya hoax bergentayangan. Menggambarkan budaya analisa informasi telah mati didalam tubuh masyarakat.

Kecepatan like dan share berita melampaui kecepatan otak untuk menyaring informasi, mungkin, inilah budaya baru masyarakat kita di zaman teknologi.

Peristiwa ini menggambarkan pengingkaran kita terhadap diri sendiri, karena tidak menggunakan akal pikiran, juga merupakan tidak bersyukurnya kita kepada ilahi pencipta akal, sebab, berpikir atau menggunakan akal adalah cara lain bersyukur kepada Tuhan.

Beberapa saat yang lalu, mulai dari kota ambon, ternate, makassar hingga kabupaten sinjai di gemparkan dengan informasi dari bayi ajaib yang berkata, makanlah telur rebus sebagai penangkal virus corona. Orang-orang pada saat itu langsung bersegera mencari telur. Setelah diketahui informasinya adalah hoax, tak sedikit warga yang mencaci peredaran informasi itu.

Masyarakat kita belum sepenuhnya bebas dari kepercaayan buta, akibat dari meyakini berita atau informasi tanpa di verifikasi

Padahal sudah bertahun-tahun lamanya kita telah diajarkan untuk menanggapi sebuah informasi melalui ayat suci. Bisa kita lihat dalam Quran surat al-hujarat ayat ke 6.

Allah SWT berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Periksalah dengan teliti merupakan poin yang paling penting dari firaman Allah dalam mengajarkan kita menyikapi suatu informasi.

Ketelitian butuh ketenangan dan melibatkan kerja akal. maka dari itu, tak berlebih bila dikata, hoax merupakan informasi yang disebarkan oleh mereka yang akalnya tidak bekerja ( tidak berakal ) dan hatinya penuh kepanikan.

Akal diberikan Tuhan kepada kita agar di fungsikan, bukan didustakan. Dimana akal disitu manusia, sebab manusia dan akal adalah satu kesuatuan, dan manusia adalah binatang yang berakal, oleh karena itu, kalau hilang akalnya, maka yang tinggal adalah binatangnya. Binatang tak mampu memeriksa informasi.

Salah seorang filsuf Prancis, Rene Descartes, perna berkata, de omnibus dubitandum, yaitu hendaklah kita meragukan sesuatu, meragukan sesuatu bukanlah kesalahan. Dari sini kita diajarkan agar tidak terjebak pada kepercayaan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Meragukan sesuatu agar ada upaya untuk menguji kesahihan atau kebenaran dari sesuatu itu.

Eksistensi manusia akan menuju pada kekacauan bila semua yang beradar adalah kebohongan.karena sifat dari kebohongan adalah mengacaukan

Sebab itulah mari kita melacak kebohongan dengan akal pikiran, agar mata rantai penyebarannya dengan muda diputuskan, sehingg eksistensi manusi sebagai makhluk sosial tidak menjadi kacau akibat terlalu banyak menyantap kebohongan.

Penulis: Ikbal Tehuayo
×
Berita Terbaru Update