-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gonjang Ganjing Lockdown

Kamis, 02 April 2020 | 09:05 WIB Last Updated 2020-04-02T01:05:03Z
Lorong Kata - Virus Corona atau Covid-19 yang mewabah di Indonesia belum juga berakhir. Bahkan, jumlah pasien positif terjangkit virus tersebut kian melonjak.

Sebagaimana dilansir dari Detiknews.com, bahwa penyebaran virus Corona atau Covid-19 di Indonesia sangat cepat. Total kasus positif Corona melonjak jadi 1.155 dengan pasien meninggal dunia 102 orang per 28 Maret 2020.

Hal itu memancing berbagai reaksi dari rakyat negeri ini, bahkan menimbulkan gonjang-ganjing tentang langkah apa yang harusnya diambil oleh pemerintah.

Gonjang-ganjing terkait seruan untuk melakukan lockdown (karantina wilayah) pun terjadi. Langkah itu dianggap efektif untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19 yang diketahui sangat cepat.

Namun, banyak juga pihak yang kontra terhadap seruan lockdown. Pihak ini beranggapan bahwa negara tidak akan mampu melakukan lockdown. Hal itu disebabkan oleh banyak faktor, seperti faktor ekonomi yang pasti akan terhambat, faktor lemahnya kedisiplinan masyarakat dan yang lain.

Senada dengan hal itu, pemerintah ternyata menolak lockdown total. Namun hanya menerapkan imbauan lockdown mandiri dengan cara menerapkan social distancing dan physical distancing.

Keputusan tersebut, faktanya justru menimbulkan berbagai masalah baru seperti berikut:

Penyebaran virus yang sangat cepat dan luas semakin parah dengan tidak adanya lockdown. Sebab setiap orang memiliki akses yang bebas, keluar masuk wilayah atau daerah terjangkit. Sehingga makin sulit mengontrol penyebaran penyakit.

Alat pelindung diri (APD) yang kurang memadai. Disebabkan perilaku panic buying yang membuat APD menjadi sulit ditemui di pasaran. Jika pun ada, harganya sangat mahal.

Hal ini mengakibatkan banyak tenaga medis yang turut terinfeksi virus tersebut. Padahal, tenaga medis adalah pasukan di garda terdepan dalam melawan pandemi ini. Jika tenaga medis lemah, maka penyebaran wabah ini bisa semakin parah.

Informasi yang tersebar tidak terkontrol, sehingga menimbulkan kepanikan dan kebingungan di tengah masyarakat. Hal ini akibat minimnya edukasi dan pemahaman masyarakat terhadap seluk beluk Virus Covid-19.

Penerapan sosial distancing justru diperpanjang karena penyebaran virus Covid-19 belum berhenti.

Hal ini menunjukkan bahwa tanpa lockdown total justru dapat menyebabkan pembengkakan pengeluaran masyarakat dan juga negara. Akibat semakin banyaknya yang terjangkit Covid-19 ini.

Itulah permasalahan yang timbul ketika lockdown diabaikan. Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terberar di dunia, harusnya menoleh kepada Islam tentang bagaimana Rasululullah dan para sahabat dahulu menghadapi sebuah wabah. Sebab, Islam sudah punya aturan terhadap cara penanganan pandemi semacam Covid-19 ini.

Dalam Islam, ketika terjadi wabah di sebuah wilayah. Maka harus dipastikan betul daerah mana yang perlu ditutup, daerah mana yang perlu diwaspadai, dan daerah mana yang masih dapat aktif seperti biasa.

Dengan begitu, akan lebih mudah dipetakan wilayah yang terkena wabah dan tidak. Sehingga penanganan dapat lebih efektif dilakukan di tempat yang tepat.

Setelah ada pemetaan wilayah secara akurat, maka negara dapat menerapkan langkah-langkah berikut:

Negara menelusuri wilayah sumber kemunculan virus ini. Kemudian menutup segala akses yang bisa membuat penyebaran penyakit meluas (lockdown). Sehingga orang yang sakit dan sehat tidak akan bertemu agar tidak menularkan penyakit.

Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasululullah Shallallahu alaihi wasallam: " Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR. Bukhari)

Negara menjalankan kewajiban untuk melayani rakyat dengan cara:

Menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobaan dan obat secara gratis untuk seluruh rakyat.

Mendirikan rumah sakit beserta laboratorium pengecekan dan pengobatan.

Menjamin ketersediaan alat pelindung diri (APD) yang memenuhi standar kesehatan untuk para tenaga medis di seluruh wilayah. Hal ini penting, agar tenaga medis yang berinteraksi langsung dengan pasien dapat melindungi diri dari infeksi virus ini.

Negara memberikan edukasi dan informasi yang benar terkait virus ini pada masyarakat agar tak dianggap remeh. Juga terkait apa saja yang perlu dibeli dan tidak, agar masyarakat tak melakukan pembelian berlebihan yang justru akan melangkakan stok yang diperlukan oleh negara nantinya untuk penanganan.

Negara menjamin pemenuhan kebutuhan pokok bagi warga yang terisolir agar tak terjadi panic buying (pembelian berlebihan akibat panik).

Negara menjaga akidah umat agar keimanan dan ketakwaan masyarakat tetap terwujud. Sehingga paham bahwa ketika berdiam di wilayahnya, akan mendapat pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dengan begitu, warga akan taat pada instruksi pemimpin dan akan dengan ikhlas menerapkan lockdown.

Negara menjamin tidak ada warga terjangkit yang masuk ke daerah yang tidak terjangkit. Hal ini agar warga yang sehat di daerah tidak terjangkit dapat tetap bekerja dan aman dari tertularnya virus ini. Dengan begitu, perekonomian tetap berjalan dan tidak akan lumpuh.

Begitulah, langkah-langkah lockdown yang shahih yaitu memisahkan/mengisolasi warga terjangkit dan menutup total seluruh akses bagi bertemunya warga terjangkit dengan warga yang sehat. Maka, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Juga tak ada yang perlu ditakuti ketika lockdown Islami menjadi solusi.

Karena warga yang sehat di wilayah tidak terjangkit tetap dapat bekerja sehingga perekonomian tidak lumpuh. Daerah terjangkit juga dapat segera normal tanpa berkepanjangan. Kehidupan sosial dan ekonomi dapat segera pulih dan berjalan normal. Wallahu a'lam!

Penulis: Nusaibah Al Khanza (Admin Komunitas Aktif Menulis dan member Revowriter)
×
Berita Terbaru Update