Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Menjumput Berkah Ramadhan di Tengah Wabah

Rabu, 22 April 2020 | 17:58 WIB Last Updated 2020-04-22T15:06:39Z
Marhaban Yaa Ramadhan

Ramadhan tinggal hitungan hari.  Bulan yang hadirnya selalu dirindukan. Umat Islam di penjuru dunia tetap bersiap menyambutnya meski pandemi menghampiri.

Abaikan seruan absurd yang dilontarkan seorang penulis buku, A Man Called Ahok yang meminta MUI (Majelis Ulama Indonesia) berfatwa. Agar umat meninggalkan ibadah puasa. Sebagai gantinya, ia mengusulkan fidyah dibayarkan demi membantu yang kurang berada.  Mengutip dari laman berita daring Republika, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Prof Hasanudin AF menolak mentah-mentah usulan tersebut.  Tidak ada dasar hukum syariat adalah alasan utama yang diberikan. (republika.co.id, 20/4/2020)

Memang di luar nalar manusia.  Utamanya mukmin yang mengimani kebenaran syariat Allah dan Rasul-Nya.  Berbicara, di ruang terbuka idealnya  dengan ilmu.  Apalagi soal agama, tentu dalil mutlak jadi rujukan.  Alquran dan Sunnah Nabi yang jadi panduan.  Bukan sembarang mengobral kata tanpa landasan.

Ramadhan Bulan  Mulia

Adakah yang bisa mengingkari keagungan bulan Ramadhan?  Bahkan Al-Quran  yang mulia diturunkan di bulan ini, untaian napas menjadi tasbih, tidur bernilai ibadah, pahala dilipatgandakan, serta doa- doa diijabah. Bulan yang disebut lebih baik dari seribu bulan. Gelar yang tidak diperoleh bulan selain Ramadhan.

Ramadhan sungguh bulan suci dan mulia.
Rasulullah SAW berwasiat pada kaum Muslimin agar tidak melewatkan setiap jengkal momentumnya. Dalam khotbah menjelang Ramadhan, beliau menyebutkan berbagai keutamaan Ramadhan.

“Jika memasuki bulan Ramadhan, maka semua pintu langit dibuka, dan pintu-pintu neraka Jahanam ditutup, sementara setan dibelenggu,” (HR Bukhari, Muslim, Nasai dan Ibn Hibban)

Lagi-lagi hal ini tidak terjadi di bulan lain sepanjang tahun Hijriyah.  Dengan segala Fadhilah Ramadhan ini, bisakah terbersit keinginan untuk melalaikan puasa, meski sekedar niat? Alangkah meruginya.

Raih Berkah Ramadhan dengan Sempurnakan Ketaatan

Semua orang sepakat bila tak makan dan minum saat berpuasa  membuat badan lemas. Pandemi Corona, langsung maupun tidak riskan jadi dalih membuat ghirah menurun. Wajar, namun tak berarti  bisa jadi alasan untuk malas.  Kinerja menurun, amalan ibadah ditinggalkan.  Hanya  berubah  semangat bila waktu berbuka sudah dekat.

Sayang sungguh disayang.  Sebab bukan seperti itu yang dicontohkan para sahabat Nabi Saw.  Berkaca pada sirah, puasa ibarat energi penggerak perjuangan yang tak ada matinya.  Mereka tak segan maju pantang mundur demi mendakwahkan Islam.  Tak lain agar Islam dan kaum muslimin meraih kemuliaan sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT.

Tinta emas sejarah sukses mencatatkan sejumlah momen penting di bulan Ramadan.  Yang terbesar di antaranya Perang Badar Kubra yang disebut dalam Alquran sebagai Yaum al-Furqan (Hari Pembeda).  Perang tersebut meletus pada hari Jum’at, 17 Ramadhan 2 H. Jumlah pasukan kaum Muslim saat itu hanya 313, terdiri dari 1 yang menunggang kuda, sisanya jalan kaki. 14 sahabat Rasul saw. gugur sebagai Syuhada' Badr. Sementara lawannya, kaum Kafir Quraisy berjumlah 1000 orang; 80 orang pasukan berkuda, sisanya jalan kaki; 70 orang gugur, 70 lainnya menjadi tawanan perang.

Apa yang diperbuat Rasul Saw dan para sahabat beliau yang mulia sejatinya memberi kita pelajaran.  Ramadhan juga bulan meraih ketaatan tanpa tapi, tanpa tahan. Semaksimal mungkin menyambut perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.  Benar saja, jika untuk yang halal bisa kita hindari selama berpuasa, apatah lagi harusnya yang haram?  Baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

Sebagaimana firman Allah SWT,  "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS: Al-A'raf: 96)

Satu hal lagi, termasuk ketaatan adalah menempatkan syariat pada tempatnya.  Fidyah jelas diperuntukkan bagi yang mendapat keringanan untuk meninggalkan puasa. Yaitu bagi orang tua lansia yang tak mampu lagi secara fisik mengganti puasa di bulan lainnya. Juga untuk ibu hamil dan menyusui.

Dalilnya jelas dalam penggalan ayat berikut: "....Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS Al Baqarah:184)

Maka menganjurkan fidyah saja ketimbang puasa secara pukul rata untuk dibagikan pada yang kurang mampu sungguh out of the track alias keluar jalur.

Terlebih fidyah disyariatkan bagi individu sementara menyantuni warga miskin merupakan amanah Allah bagi pemimpin yang berkuasa.

Sabda Rasulullah Saw, "Tidak seorang pun pemimpin yang menutup pintunya untuk orang yang membutuhkan, orang yang kekurangan dan orang miskin, kecuali Allah akan menutup pintu langit dari kekurangan, kebutuhan dan kemiskinannya." (HR Tirmidzi, AlHakim dan Ahmad)

Alhasil, mari bersama  jadikan bulan Ramadhan momen Taubat untuk menyongsong ketaatan yang sempurna terhadap syariat. Dengannya semoga  Rahmat tercurah, berkah berlimpah dan virus Covid19 yang juga makhluk Allah tak lagi jadi wabah. Aamiin. Wallahu a'lam.

Penulis: Ummu Zhafran (Pegiat Opini, Komunitas AMK)
×
Berita Terbaru Update