-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Renungan Hidup

Senin, 20 April 2020 | 08:56 WIB Last Updated 2020-04-20T00:56:47Z
Lorong Kata - Mengapa kita selalu cenderung membangun istana duniawi sedangkan istana akhirat kita abaikan?

Ada perkataan seorang bijak yang sangat baik untuk kita renungkan.

“Aku tidak menyesali sesuatu seperti penyesalanku terhadap tenggelamnya matahari, yang berarti umurku berkurang, akan tetapi amal salehku tidak bertambah”

Mengapa kita biarkan umur kita berlalu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang berarti?
Apakah sudah demikian parahnya kebodohan kita. Sehingga rela menghabiskan modal yang paling bernilai untuk sesuatu yang tidak bernilai?
Bukankah kita harus mempertanggung jawabkan setiap menit yang berlalu?

Allah Subhanahu wata'ala berfirman,
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (Qs. Al-Qiyamah :36)

Jangan terlalu mengejar dunia, jangan pula meninggalkan akhirat. Dunia akhirat sama sama dikejar, namun demikian yang harus dimenangkan dan dilebihkan adalah kehidupan akhirat. Sebab itulah tujuan manusia yang terakhir. Dunia yang dikejar kelak akan ditinggalkan, sedang akhirat dikejar, sudah pasti kita akan menemuinya. Akhirat adalah tempat yang kekal bagi orang orang yang beriman. Disana ia akan mendapatkan jerih payahnya selama hidupnya di dunia.

Perlu diingat juga, bahwasannya kebahagiaan manusia di akhirat kelak bergantung pula dengan cara hidupnya di dunia. Bagusnya kehidupan dunia seseorang secara islami menentukan pula hidupnya di akhirat.

Allah Subhanahu wata'ala berfirman: “Akan tetapi kamu lebih banyak memilih kehidupan duniawi, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal”.

Semoga renungan ini dapat menggugah hati nurani kita, sehingga kita tidak mau lagi membuang-buang umur dengan sia-sia, apalagi bersuka cita pada saat umur kita berkurang. Sebuah pepatah mengatakan, “Kuburan akan datang kepada setiap orang dengan kecepatan 60 menit per jam, tidak peduli sekaya atau sesehat apapun ia sekarang”

Penulis: Nurul durotul Jannah
×
Berita Terbaru Update