-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hoax Sebagai Karitas Sosial

Sabtu, 09 Mei 2020 | 11:06 WIB Last Updated 2020-05-09T03:06:01Z
Hoax Sebagai Karitas Sosial
Muh.Nurhidayat.S (Kader Gerakan Rakyat Dan Mahasiswa Indonesia atau Disingkat Gerak Misi)
"Retorika Penguasa Seindah Lekukan tubuh seorang Wanita Yang Membuat Pandangan Tertuju Padanya"
(Muh.Nurhidayat.S)

LorongKa.com - Setiap individu mempunyai corak berfikir yang berbeda-beda atau mempunyai analisis tersendiri untuk menggambarkan suatu keadaan yang terjadi. Dari gambaran tersebut mereka menuangkan hasilnya ke tengah-tengah masyarakat agar dapat diuji dengan corak berfikir yang lain. Seperti halnya dengan tulisan ini.

Saya akan menyoal tentang bahasan HOAX yang seringkali di perbincangkan oleh berbagai macam kalangan karena paradigma sosial sampai saat ini sangat beragam dalam memandang HOAX tersebut misalnya ada yang mengatakan bahwa itu adalah hal baik dan ada pula yang mengatakan bahwa HOAX tidak buruk bahkan sangat menyesatkan.

Namun dengan sedikit pengetahuan yang saya miliki, saya akan mencoba memaparkan bagaimana HOAX itu sendiri. Hoax berasal dari kata hocus pocus dan kemudian disingkat menjadi hocus yang berarti fokus mengelabui. Makanya di abad ke XVII para magician sering melekatkan bahasan hocus pocus di namanya. Bukan hanya itu, hoax juga dikonotasikan sebagai kata kerja yang berarti untuk menipu, memaksakan kehendak dan sebagainya.

Pada tahun 1745, terdapat kasus yang cukup menggemparkan Amerika Serikat. Benjamin Franklin yang lahir di Milk Street Boston pada tanggal 17 Januari 1706 tercatat sebagai orang yang membuat hoax tentang adanya sebuah benda bernama batu cina yang di anggap mampu mengobati berbagai macam jenis penyakit misalnya kanker, rabies, dan lain sebagainya.

Namun lain hal, ada salah seorang mengetahui dan membuktikan bahwa batu cina yang dianggap memiliki efek terhadap penyakit, itu hanya berita palsu yang terlontarkan. Batu tersebut sebenarnya hanya terbuat dari tanduk rusa biasa yang tidak memiliki efek atau fungsi medis. Itu hanya contoh kasus agar supaya memunculkan sebuah gambaran dalam cakrawala berfikir kita untuk melihat posisi hoax saat ini.

Pada era hari ini, informasi tentang isu-isu nasional bahkan internasional sudah sangat mudah kita akses karena perkembangan teknologi cukup pesat. Semisal di media online yang menyajikan berita-berita hangat dan begitu pula dengan media cetak walaupun yang mendominasi digunakan seseorang adalah media online.

Alasannya karena di media online penyebaran atau penayangan suatu berita bisa di lakukan dengan secepat mungkin. Nah, disinilah seseorang di perhadapkan dengan berbagai macam jenis berita yang kadang kala membuat dirinya bingung untuk mempercayai bahwa hal itu benar adanya atau hanya sekedar HOAX atau gerak tipu belaka. Tetapi secara esensial benar tidaknya berita tersebut, itu mampu menjadi stimulasi untuk mengaktifkan imajinasi berfikir kita.

Kalaupun semisal berita yang dituangkan oleh seseorang dalam bentuk Hoax, hal itu saya anggap bukan menjadi persoalan. Alasan saya mengatakan demikian karena saya memilah Hoax menjadi dua bagian yaitu positif dan negatif atau istilah lainnya humanisme dan dehumanism. Tergantung mau pilih yang mana, misalnya seseorang memilih positif "humanism" maka bentuk hoax itu hal yang sangat baik. Agar lebih jelasnya lagi, saya akan menggambarkan simulasinya.

"Semisal negara Indonesia memiliki pemimpin yang hanya mengakumulasi kapital sebanyak mungkin tanpa mampu melihat kondisi sosial yang terjadi dan memiliki pengikut yang cukup banyak, apa yang akan terjadi pada Indonesia? Yah, pastinya negara bobrok dan functional state akan tidak berjalan lagi.

Nah, sebagian rakyat yang ingin negaranya baik-baik saja, harus mencari cari cara agar supaya dapat menghilangkan kepercayaan para pengikut karena para pengikut itu salah satu benteng pertahanan yang dimiliki oleh Kekuasaan. Cara yang kemudian mampu digunakan yaitu melemparkan berita-berita hoax kepada orang yang pro kekuasaan. Ketika kepercayaannya sudah hilang, maka power perjuangan akan semakin besar karena oposisi semakin banyak"

Simulasi itu menggambarkan bahwa hoax akan baik ketika diperuntukkan untuk tujuan kemanusiaan. Namun, yang menjadi soal besar saat ini, stigma masyarakat yang dikonstruksi oleh kekuasaan, menjadikan hoax sebagai hal yang amat sangat buruk, mengerikan, menyesatkan, bersifat dehumanism dan tidak memiliki sifat positif atau baik.

Sekali lagi saya menekankan bahwa Hoax akan berstatus buruk ketika orientasinya menjurus pada dehumanism dan Hoax dalam dalam bentuk karitas, statusnya baik karena berorientasi pada humanism.

Ketika presiden membuat sebuah HOAX yang bersifat dehumanism, Siapa yang jamin serta berani untuk menghukumnya? Jawab sendiri!

Penulis: Muh.Nurhidayat.S (Kader Gerakan Rakyat Dan Mahasiswa Indonesia atau Disingkat Gerak Misi)
×
Berita Terbaru Update