-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kembalinya Sang Urbanisasi

Jumat, 05 Juni 2020 | 16:28 WIB Last Updated 2020-06-05T08:28:01Z
Irsad Syamsul Ainun
LorongKa.com - Urbanisasi adalah salah satu kata yang berarti perpindahan penduduk dari desa ke kota. Dengan alasan di kota ada lapangan pekerjaan yang lebih menjajikan dibandingkan dengan di desa asal seseorang berada. Dan ini berlangsung dari zaman dahulu hingga sekarang.

Di era melinial ini begitu banyak orang yang berurbanisasi yang lebih dikenal dengan perantauan. Kita tak dapat memungkiri memang begitu banyak orang ketika melakukan urbanisasi kehidupan ekonomi mereka perlahan-lahan membaik. Biasa yang datang ke tempat tujuan hanya bermodalkan niat, keberanian dan sedikit uang, namun ada juga yang membawa uang banyak.

Sesampainya di kota tujuan, ada yang membuka usaha, mendulang, kerja bangunan, jadi tukang ojek, kerja di toko dan masih banyak lagi pekerjaan yang dianggap bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk kehidupan yang lebih baik. Alhasil dengan kerja keras mereka tak sedikit orang yang berhasil. Tak jarag kita jumpai seseorang yang tadinya kehidupannya di kampung sudah melarat ketika berurbanisa mereka bisa berkecukupan.

Jika dalam ilmu umum perpindahan seseorang dari desa ke kota di sebut sebagai urbanisasi maka dalam Islam di sebut Hijrah. Hijrah disini bukan hanya berarti insyafnya seorang pendosa menjadi lebih baik. Namun juga berarti perpindahan dari kehidupan yang kurang baik menjadi baik.

Nah, bagaimanakah nasib sang urbanisasi di tengah pendemi saat ini? Sejak diluncurkannya aturan oleh pemerintah tentang larangan mudik alias pulang kampung ada banyak orang yang gegana (gelisah, galau dan merana) bukan hanya orang-orang berpenghasilan tinggi tapi juga orang-orang yang berurbanisasi tadi. Bagaimana tidak seorang urbanisasi beranggapan bahwa di kampung halaman mereka jauh lebih aman dibandingkan dengan tempat mereka bekerja saat ini, sehingga mereka pun ngotot untuk pulag meski biaya yang dikeluarkan tak sedikit alias menguras dompet. Alasannya cukup singkat di kampung mereka bisa menghabiskan waktu bersama keluarga, baik itu mertua, oranng tua kandung, saudara dan para anteknya.

Tapi sayang sungguh sayang, kepulangan mereka tak lagi berharga, sebab saat ini untuk bisa berkumpul dengan sanak saudara dalam satu lingkup kota saja sudah tak bisa apalagi berkumpul melalui perjalanan misalnya penerbangan.

Pasalanya, seseorang yang akan pulang kampung baik dengan jasa transportasi udara dan laut harus melakukan tes kesehatan dengan biaya yang cukup mahal dan masa berlakunya tiga hari pula.

Ada banyak kabar yang beredar bahwa masyarakat yang akan melakukan perjalalanan ini harus membayar minimal 350 ribu untuk mahasiswa, dan 2 juta rupiah untuk umum untuk tes kesehatan apakah bebas covid-19 atau dalam hal ini tidak rentan untuk terinfeksi virus. Inilah negeriku, negeri yang katanya menyejahterakan rakyat nyatanya masih banyak kebijakan bukannya membawa manfaat namun semakin mencekik rakyat. Belumlah lagi ketika sampai di tempat tujuan mereka akan dikarantina, biaya hidup mahal dan semakin mahal.

Penulis: Irsad Syamsul Ainun.
×
Berita Terbaru Update