Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

New Normal Life, Welcome to The Jungle

Selasa, 02 Juni 2020 | 09:37 WIB Last Updated 2020-06-02T01:37:55Z
Atika Rahmah (Aktivis Muslimah Papua)
LorongKa.com - Ramadhan telah usai namun Corona belum juga usai. Nampaknya masih ada tugas dari Pencipta yang harus dituntaskan. Lima bulan sudah seluruh penduduk dunia berperang melawan Corona, di Indonesia sendiri sudah sekitar 3 bulan kita melakukan semua aktivitas di rumah aja.

Kebijakan demi kebijakan terus dikeluarkan oleh pemerintah, yang terkadang malah dilanggar sendiri oleh para pejabat negeri ini. Katanya disuruh social dan physical distancing tapi, nyatanya BPIP ngamen dengan tak mengindahkan aturan ini. Katanya dilarang mudik tapi semua moda transportasi dibuka kembali. Yang menyakitkan bagi kaum Muslim adalah masjid ketat ditutup namun mall-mall dibuka.

Kebijakan tak jelas yang membuat rakyat semakin bingung. Narasi yang dibangun, rakyat tidak disiplin dengan kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Namun rakyat akan kembali bertanya kebijakan yang mana?

Selain itu pemerintah selalu membangun wacana-wacana yang kontroversial yang cenderung berbahaya. Setelah disuruh "berdamai dengan corona", kemudian "menganggap corona sebagai istri" kini wacana yang dibangun adalah "a new normal life atau kehidupan normal baru". Berbagai wacana yang dibangun sebelumnya ternyata bermuara pada yang terakhir ini. Kita akan "dipaksa" memasuki era baru kehidupan yang normal dengan mematuhi berbagai protokol kesehatan.

Skenario new normal life terkesan sangat dipaksakan untuk diterapkan di Indonesia. Apalagi jumlah penambahan kasus postif terus meningkat setiap harinya bahkan telah mencapai 26.940 kasus, pada tanggal 1 Juni saja masih terdapat penambahan 467, jumlah ini memang mengalami penurunan dari hari sebelumnya tapi jumlah ini masih tinggi. Lalu bagaimana mungkin kita mau memasuki new normal life? Ini seperti melepas rakyat menuju ke hutam rimba, tanpa ada persiapan dan perbekalan apapun. Rakyat dibiarkan bertahan hidup sendiri mengikut prinsip seleksi alam. Yang kuat akan bertahan dan yang lemah akan mati.

Wacana new normal life pun menuai kritik dari para ahli. Sebagaimana dilansir merdeka.com, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr Hermawan Saputra mengatakan terlalu gegabah jika kita memutuskan segera new normal. Menurutnya ada 4 syarat yang harus dipenuhi. Pertama, sudah terjadi perlambatan kasus; kedua, sudah dilakukan optimalisasi PSBB; ketiga, masyarakatnya sudah lebih memawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing; dan keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk new normal.

Hal senada diungkapkan oleh Prof. Ridwan Amiruddun, S. KM., PhD, Pakar Epidemiolog FKM Unhas. Prof. Ridwan mengatakan yang akan diberlakukan adalah new normal yang prematur karena situasi kasus Covid-19 di Indonesia yang belum terkendali. Mengingat kurva pergerakan temuan kasus yang masih menanjak dan mendekati puncak kasus dan bahkan belum melandai. Konsekuensinya pasti akan terjadi keguguran yang bisa berdampak pada hancurnya banyak korban, jatuhnya banyak korban. (suara.com)

Namun pemerintah tak pantang mundur untuk mengkampanyekan "welcome to the jungle" eh, new normal life maksudnya. Mendagri Tito Karnavian pun menggelar lomba inovasi daerah untuk menyambut new normal life. Ada 7 sektor yang akan dibuatkan videonya dalam lomba inovasi tersebut seperti pasar tradisional, pasar modern baik mall yang besar atau yang tidak punya mall ada minimarket, restoran, hotel, kemudian PTSP yang ada pada semua daerah untuk memberikan pelayanan publik terpadu satu pintu, kemudian tempat wisata dan juga transportasi umum, entah itu bis atau angkot atau mungkin di daerah kepulauan ada yang menggunakan fery. Dana yang disiapkan untuk lomba ini mencapai 164 milyar rupiah (indonews.id). Pemerintah benar-benar serius untuk mengkampanyekan bahwa hidup di "jungle" akan baik-baik saja, anggaplah Corona seperti istri, berdamailah dengannya. Astagfirullah.

Mungkin belum sampai ke istana berita di mana Korea Selatan harus menyambut gelombang kedua Corona setelah mulai memberlakukan new normal life. Jelas Corona masih belum ingin berdamai. Corona masih hendak membongkar kebobrokan sistem Kapitalisme-Sekuler yang sedang merajai dunia saat ini. Hukum Allah dicampakkan dan keuntungan materi menjadi tujuan utama dan satu-satunya.

Jika kita melihat kenapa dunia, termasuk Indonesia terkesan memaksakan pemberlakukan new normal life, alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah karena masalah ekonomi. Corona sudah cukup membuat perekonomian mandek dan membuat perusahaan-perusahaan besar mengalami kerugian yang tak sedikit. Dunia terancam mengalami resesi ekonomi, maka new normal life harus segera diberlakukakn agar roda perekonomian bisa kembali berputar.

New normal life yang dipaksakan ini akan membuat pemerintah tak perlu menyiapkan kebutuhan pokok rakyat, tak perlu lagi memberikan subsidi, BLT atau apapun itu, menguntungkan bukan? Senada dengan prinsip kapitalisme, mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya.

Indonesia, Jangan Latah!

Sekalipun new normal life sedang menjadi trend global, seluruh dunia membicarakannya jangan lantas kita pun latah. Bahkan kita bukan hanya sekedar ikut nimbrung membicarakan tapi malah mengambil satu langkah lebih maju dengan ingin segera menerapkannya tanpa ada persiapan dan perhitungan yang matang. Jangan sampai muncul tagar #IndonesiaMenyerah jilid 2, saat kasus meningkat drastis dan tenaga medis benar-benar kewalahan.

Yang menjadi trend global tidak mesti harus diikuti apalagi jika berasal dari negera Kapitalisme yang asasnya bertentangan dengan Islam. Sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia kita harus tampil dengan membawa identitas keislaman kita. Bukankah pada ayat yang terakhir turun Allah katakan, "Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu" (QS. Al Maidah : 3). Kesempurnaan di sini tentu bukan hanya sekedar perkara ibadah saja tapi kesempurnaan total yang mengatur keseluruhan hidup manusia mulai dari bangun tidur sampai bangun negara. Penanganan wabah tentu include di dalamnya.

Metode dalam Islam sudah jelas karantina wilayah. Kunci dari penyelesaian wabah adalah memutus rantai transmisi dengan meminimalkan (jika tidak bisa menihilkan) perpindahan orang. Tes massif harus segera dilaksanakan agar dapat memetakan secara jelas daerah yang termasuk zona merah dan daerah yang nihil dari kasus positif. Daerah yang nihil tentu dipersilahkan melaksanakan aktivitasnya seperti biasa, sementara zona merah ditangani secara serius. Yang sakit dirawat dengan baik hingga sembuh dan dijaga secara ketat agar tidak menularkan pada yang sehat. Soal kebutuhan pokok tentu harus dijamin oleh negara agar rakyat benar-benar disiplin.

Rakyat dan Pemimpin Kompak

Setiap orang harus berjalan dengan menyadari posisinya sebagai hamba Allah SWT. Rakyat tunduk pada pemimpin untuk tetap dirumah saja dan tidak membandel dalam rangka memenuhi sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Mendengar dan taat (kepada pemimpin) adalah wajib bagi setiap muslim, baik (terhadap perkara) yang dia sukai maupun yang tidak dia sukai, selama dia tidak diperintahkan melakukan kemaksiatan. Adapun jika dia diperintahkan melakukan maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar dan taat" (HR. Bukhari dan Muslim)

Pemimpin yang ditaati tentulah bukan sembarang pemimpin tapi pemimpin yang tunduk dan taat pada Allah dan Rasul-Nya. Pemimpin yang mengatur rakyatnya dengan hukum-hukum yang berasal dari Allah, bukan hukum yang berstandar pada trend global buatan manusia. Pemimpin yang tidak akan mendzalimi rakyat dan tidak akan mengorbankan nyawa rakyat demi mengikuti trend global, new normal life.

Pemimpin yang tunduk dan taat pada Allah dan Rasulnya akan senantiasa takut saat ada hak-hak rakyat yang terabaikan. Salah satu hadits dari Nabi ini rasanya cukup untuk mengingatkan pemimpin yang tak amanah. "Tidaklah seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin bawahannya yang pada hari kematiannya ia masih berbuat curang atau menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga atasnya." (Muttafaq'alaih)

Sebagai penutup menarik untuk sedikit membahas pernyataan Prof. Ridwan, Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Sulawesi Selatan, setidaknya ada 3 tahap pengendalian wabah penyakit di satu wilayah atau negera. Fase pertama ialah menjamin keamanan publik dalam hal ini dari ancaman virus dan penyakit kesehatan. Fase kedua, memperbaiki sektor ekonomi, dan fase ketiga memperbaiki reputasi negara di mata dunia dalam pengendalian wabah penyakit.

Artinya bahwa nyawa rakyatlah yang perlu untuk diselamatkan lebih dahulu sebagaimana dalam pandangan Islam, nyawa 1 orang sangatlah berharga "Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak". (HR. Nasai, Tirmidzi, dan dishahihkan al-Albani).

Setelah itulah baru masuk pada fase kedua yakni memperbaiki sektor ekonomi. Selanjutnya dengan sendirinya reputasi negara dimata dunia akan pulih. Tunjukkan bahwa kita bukan negeri pembebek tapi kita punya prinsip sendiri yang khas, yang bersumber dari yang Maha Sempurna yakni Islam. Berani beda itu baik!

Semoga wabah ini segera berlalu. Wallahu’alam bishshawab

Penulis: Atika Rahmah (Aktivis Muslimah Papua)
×
Berita Terbaru Update