Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Sampah APD Selayang Pandang

Selasa, 23 Juni 2020 | 13:00 WIB Last Updated 2020-06-23T05:00:53Z
Lulu Nugroho, Cirebon
LorongKa.com - Ada fenomena yang unik bisa kita saksikan melalui sampah. Dari situ tergambar bagaimana kondisi suatu masyarakat. Di tengah pandemi wabah Covid-19, maka sampah yang banyak dijumpai pun terdiri dari alat pelindung diri (APD), berupa pelindung wajah dan masker, baik itu terbuat dari kain maupun plastik

Jenis sampah yang baru ini, tadinya 0 jadi 16 persen di tengah pandemi. Tim teliti sampah LIPI melakukan studi di 2 muara sungai di Jakarta, yaitu Cilincing dan Marunda. Sebelumnya, tim LIPI telah melakukan penelitian di 9 muara sungai di daerah Jakarta, Tangerang dan Bekasi pada 2016, termasuk di Cilincing dan Marunda.

Penelitian pada 2016, plastik adalah jenis sampah yang paling banyak masuk ke Teluk Jakarta, sebanyak 59 persen dari total sampah. Dalam perbandingan komposisi sampah di dua area tersebut selama periode Maret-April 2016 dan 2020, terlihat plastik masih mendominasi jenis sampah yang ditemukan. Tapi, pada 2020, sampah jenis APD mulai ditemukan.

Sumber sampah diduga berasal dari warga Jakarta sendiri. Terbiasa membuang sampah sembarangan hingga tidak sadar akan bahaya limbah. Di samping itu, tentu bukanlah pemandangan indah, melihat tumpukan sampah APD di Teluk Jakarta. Berbahaya bagi ikan, yang menelan mikroplastik dan mikroba patogen dari sampah masker. Ekosistem lingkungan laut pun akan tercemar.

Masker medis yang memiliki lapisan kapas akan cepat hancur di alam. Tetapi jika menggunakan polimer berbahan plastik maka penguraian secara alami akan relatif lebih lama. Bahkan, kata dia, bukan tidak mungkin bisa menjadi sumber mikroplastik yang baru," kata Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Muhammad Reza Cordova. (Republika.co.id, 23/6/2020).

Masker yang digunakan orang sehat, katanya, setelah digunakan harus dipotong-potong jika akan dibuang. Selanjutnya dikemas dengan rapat sebelum dimasukkan ke tempat sampah. Namun untuk sampah APD, seperti masker kain dan bedah yang dipakai orang sakit, dikelola secara khusus dan tidak dibuang langsung

Padahal, sarana kesehatan seperti APD, masker, face shield, alat dan sampel laboratorium yang telah digunakan merupakan B3 yang berupa limbah infeksius. Penanganannya pun tidak bisa sembarang. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan surat edaran soal pengelolaan limbah infeksius (B3) dan sampah rumah tangga dari penanganan Virus Corona.

Untuk limbah infeksius dari fasilitas layanan kesehatan, arahannya adalah lama menyimpan limbah infeksius tersebut dalam kemasan tertutup maksimal dua hari sejak dihasilkan. Kemudian pengangkutan dan atau pemusnahan dalam pengelolaan limbah B3 dengan penggunaan fasilitas incinerator dengan suhu pembakaran minimal 800 derajat Celcius atau autoclave yang dilengkapi pencacah (shredder).

Selain itu, residu hasil pembakaran atau cacahan hasil autoclave dikemas dengan simbol ‘beracun’ dan label limbah B3 lalu disimpan di tempat penyimpanan sementara untuk diserahkan kepada pengelola limbah B3.

Sedangkan untuk Orang Dalam Pengawasan (ODP), surat edaran ini memberikan pedoman dengan mengumpulkan limbah APD berupa masker, sarung tangan dan baju pelindung diri serta mengemas tersendiri dengan wadah tertutup. Kemudian, limbah diangkut dan dimusnahkan pada pengelolaan limbah B3.

Persoalan sampah, adalah pekerjaan rumah (PR) yang tidak ada habis-habisnya. Perlu upaya maksimal terkait aturan dan persanksian agar pola hidup sehat menjadi kebiasaan baik, serta melekat pada kepribadian bangsa ini. Apalagi mayoritas muslim, sejatinya telah memiliki akar yang baik dalam menjaga kebersihan.

Jauh di masa-masa dahulu, perilaku menjaga kebersihan sudah sangat maju hingga ke dalam tatanan hidup bernegara. Di saat Eropa mengalami masa kegelapan, Islam telah sampai pada masa keemasan. Kewajiban salat lima waktu, berwudu dan istinja dengan benar, menjadikan muslim tampil beda dibandingkan bangsa lain. Alkisah di masa itu, keringat petani muslim jauh lebih wangi ketimbang raja-raja Eropa.

Disebabkan kewajiban salat tersebut, maka dibuatlah jalur pengaliran air dari sumber mata air di gunung ke rumah-rumah penduduk. Tempat pembuangan sampah dan saluran air kotor menjadi pelengkap detil kota-kota di negeri muslim.

Sampai-sampai, seorang pengelana barat melaporkan, bahwa Baghdad dan Cordova adalah kota yang tertata rapi dengan saluran sanitasi dan pembuangan najis di bawah tanah. Berbanding terbalik dengan kota di Eropa yang gelap, bau dan kotor, serta rawan tindak kejahatan.

Kembali pada kemuliaan Islam, kembali pada jati diri muslim yang menjaga kebersihan atas dasar iman kepada Allah. Maka membuang sampah pada tempatnya, dan perlakuan yang tepat terhadap sampah, akan menjadikan bangsa ini dikenal karena keindahannya. Tidak hanya dalam diri pribadi, tapi juga kebersihan lingkungan.

Masyarakat perlu mendapat edukasi dan sosialisasi terkait hal ini, karena tidak hanya diperlukan memutus rantai penyebaran Covid-19, akan tetapi juga untuk mencegah datangnya penyakit lain akibat ketidakmampuan mengelola sampah. Wallahu 'alam bishshawab.

Penulis: Lulu Nugroho, Cirebon.
×
Berita Terbaru Update