Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Tolong Jangan Jadi Mahasiswa, Berat!

Kamis, 09 Juli 2020 | 20:33 WIB Last Updated 2020-07-09T12:33:43Z
A. Wahyu Pratama Hasbi (Mahasiswa Hukum Tata Negara, UINAM)
LorongKa.com - Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggan tersendiri sekaligus tantangan bagi kawan-kawan semua terkhusus saya pribadi, bagaimana tidak? gelar maha (tertinggi) disematkan pada pundak seorang yang kesehariannya hanya tidur, makan dan keluyuran hingga larut malam. Lantas gelar tertinggi itu untuk apa kemudian disematkan? Apakah untuk menobatkan saya dengan segala aktifitas yang tidak produktif itu?. Hahaha ini sebuah lelucon menurut saya.

"Mahasiswa merupakan mitra kritis pemerintah". Yah, jargon ini adalah jargon yang pertama kali terlontar tatkala saya menginjakkan kaki di dunia kampus. Mahasiswa itu agen perubahan, katanya. Mahasiswa itu generasi intelektual yang masih idealis sehingga diharapkan saat terjun ke masyarakat, mereka dapat membawa angin segar untuk memperbaiki yang bobrok.

Lucu juga dengan argumen padra senior itu, yang menganggap mahasiswa agen perubahan, yang menganggap mahasiswa mitra kritis, bagaimana tidak kita ini adalah seorang pelajar terdidik yang kemudian lulus di bangku akademik bernama SMA untuk melanjutkan prestasi akademik di bangku perkuliahan bukan untuk menjadi seorang ataupun kelompok yang terus mengurusi urusan pemerintah, yang terus mengurusi kebijakan yang dikeluarkan, yang terus mengurusi dan menuntut keadilan. Yah, mengapa demikian sebab pemahaman saya bermahasiswa adalah belajar di bangku kelas, mendapat prestasi kemudian lulus dengan predikat yang membanggakan.

Seiring waktu yang kemudian bergulir, masa pengenalan mahasiswa baru selesai dan kemudian berbaur dengan beberapa senior (katanya hebat) dengan coba ikut berdiskusi dengannya ternyata kemudian mengubah cara berpikir saya, bagaimana tidak? Yang dahulunya saya cuek saja persoalan agama tapi kemudian jadi tertarik karena diskusi itu. Tatkala senior (katanya hebat), llmengeluarkan pendapat dari Feubach "Tuhan adalah produk kesadaran manusia", saya sempat bersepakat dengan itu sebab para mahasiswa dan senior di kampus mengatakan orang itu adalah orang yang berintelektual selain itu penjelasannya juga rasional sehingga kemudian tertarik mendalami tentang agama.

Olehnya itu memutuskan mengikuti jenjang pendidikan (Basic Training) di organisasi tertua yang ada di Indonesia yakni "Himpunan Mahasiswa Islam" yang diikuti oleh senior-senior hebat pendahulu di kampus UINAM dan mendapat beberapa pengetahuan tentang bagaimana sebenarnya Islam, apatalagi tentang kemahasiswaan itu sendiri, dan ternyata pemikiran saya diawal dengan mengikuti dogma lingkungan saat itu adalah salah sebab tugas mahasiswa sangatlah berat, kata senior saya "jangan bermahasiswa kalau tidak sanggup berdinamika adik".

Kembali dengan masalah dari mahasiswa, ada ungkapan yang kemudian tidak lazim didengar tatkala mahasiswa baru seperti saya dulu menginjakkan kakinya di kampus "jangan jadi mahasiswa kupu-kupu". Sempat kemudian bertanya apa sebenarnya esensi dari pendapat ini, ternyata ini ada kaitannya kemudian dengan tugas pun itu tanggung jawab mahasiswa yang tak hanya sekedar memikirkan persoalan akademik saja.

Mencoba mengambil pemikiran sosiolog, Max Weber yang mengatakan bahwa perubahan adalah ideas atau pandangan. Weber kemudian memberikan pengakuan terhadap peranan besar ideologi sebagai variabel indepen bagi perkembangan suatu komunitas, mahasiswa misalnya. Dengan kekuatan massa dan starting up dari disiplin ilmu yang beragam serta penyamaan frame dalam sebuah ideologi mampu melahirkan energi sebagai penunjang gerakan kolektif dari mahasiswa untuk menjaga stabilitas bangsa. Lalu apa saja tugas mahasiswa?.

"Jika kaum muda yang bersekolah tinggi namun enggan untuk bergaul dengan masyarakat yang hanya bekerja sebagai petani, setiap harinya memegang cakul, lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali", kata Tan Malaka (Pahlawan yang dilupakan oleh anak negeri saat ini). Hal inilah yang kemudian memotivasi saya untuk mengubah pola pikir saya terkait dunia mahasiswa yang dulunya dengan enteng saja tapi realitasnya berat.

Kawan-kawan mahasiswa baru saat itu termasuk saya yang belum mengetahui perihal kampus yang kami injakkan, yang kami hirup udaranya, yang kami nikmati fasilitasnya, yang kami lihat kemegahannya ternyata setelah kami masuk lebih jauh pada ranah kemahasiswaan itu sendiri jadi fantasi belaka, mengapa demikian?. Luas tanahnya, segar udaranya, megah bangunannya, percayalah, semua itu terlihat nyata di depan kalian dari keringat rakyat, darah proletar yang tertindas. Lalu cukupkah kita berbicara mahasiswa sekedar tempat pelatihan dan sekrup mesin industri. Tempat pendidikan atau doktrin untuk bergabung menjadi partner kapitalis?.

Pekerjaan mahasiswa sederhana, masuk kelas mendengarkan dosen bicara, mengisi absensi kehadiran, lalu pulang dengan membawa tugas. Kemudian di akhir semester mengikuti ujian untuk mendapatkan “nilai” yang menjadi akhir dari tujuan di kampus. Apa hanya sampai di situ? Hahahaha, inilah pola pikir saya tatkala diawal Maba itu.

Seiring itu kemudian, saya paham bahwa mahasiswa adalah agen of change (agen perubahan), social of control (sosial dan kontrol) iron of stock (generasi masa depan), moral is force (moral adalah kekuatan) ada pekerjaan yang menanti kita mahasiswa, masih banyak petani yang sawahnya disulap menjadi pabrik-pabrik, orang-orang miskin yang rumahnya digusur, masyarakat penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) dan masih banyak lagi.

“Mereka adalah orang-orang yang harus dipikirkan mahasiswa. Apalah arti empat tahun waktu kuliah, sementara masyarakat sekitar ditinggalkan. Bila kalian hanya ingin menjadi mahasiswa kuliah pulang-kuliah pulang, tanyakan lagi kepada hari nurani”. Yah ucapan selamat datang di dunia mahasiswa yang dulunya saya anggap mudah itu tapi ternyata tidak demikian itu, dunia yang sesungguhnya untuk generasi pembelajar. Baiknya sebuah nilai, kemantapan dalam beretika adalah tugas mahasiswa, kecacatan logika para pengajar, bobroknya sistem kampus, lemahnya manajemen pengelola kampus juga merupakan pekerjaan mahasiswa.

Laparnya masyarakat, banyaknya pengangguran, melambungnya harga makanan pokok, korupsi yang dilakukan oknum pejabat, anggaran pemerintah yang tidak merata, kebijakan yang tidak pro rakyat juga masih menjadi pekerjaan mahasiswa. Generasi pembelajar bukan generasi tunduk, karena mahasiswa bukan budak, bukan juga robot, kedaulatan ada di tangan rakyat dan mahasiswa menjadi representatif dari rakyat dari apa yang termaktub dalam ciri mahasiswa yang substansial yang sempat saya dapatkan pada saat perkaderan juga apatalagi saat mengikuti jenjang pendidikan di HmI sebagai calon kader HmI saat itu.

Dari apa yang saya pahami bahwa guru terbaik untuk mencari kebenaran adalah semesta saya kemudian berpendapat bahwa generasi pembelajar harus dididik bersama mimpi dan imajinasi, generasi pembelajar harus ditempa bersama pengetahuan dan keberanian, generasi pembelajar mampu menjawab tantangan laju gerak jaman, karena hidup merupakan rangkaian tanya demi tanya dan generasi pembelajar selalu berusaha untuk mencari jawabannya.

Tolong Jangan Bermahasiswa, Berat!, kecuali ketika sanggup berjuang dan menjadi oposisi permanen dari ketidakadilan.

Penulis: A. Wahyu Pratama Hasbi (Mahasiswa Hukum Tata Negara, UINAM)
×
Berita Terbaru Update