-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menyoal Stigma "Good Looking" Pada Anak Masjid

Jumat, 18 September 2020 | 10:29 WIB Last Updated 2020-09-18T02:29:47Z
Sri Yulia Sulistyorini, S. Si
LorongKa.com - Menteri Agama, Fachrul Razi mengungkapkan tentang masuknya faham radikal ke masjid-masjid. Caranya adalah dengan mengirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Al-Quran). Hal ini disampaikan dalam webinar bertajuk: "Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparatur Sipil Negara", di kanal YouTube KemenpanRB, (Rabu, 2 September 2020).

Sebutan good looking, sekilas memang bagus, dilihat dari arti bahasa Inggris nya, good adalah baik, looking adalah melihat/kelihatan, jika digabung menjadi good looking (kelihatan baik). Tapi apa sebenarnya maksud dari stigma tersebut?

Masjid adalah sarana beribadah bagi setiap muslim, baik ibadah mahdlah yaitu sholat, maupun aktifitas lain untuk belajar memahami Islam, guna meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Maka wajar jika seorang muslim akan memaksimalkan upayanya agar bisa memakmurkan masjid. Namun, ketika orang-orang yang memakmurkan masjid cuma orang-orang tertentu saja yang rajin dan penuh semangat mengadakan kegiatan di masjid, maka muncullah istilah aktivis masjid.

Nah, dari sinilah masyarakat bisa melihat komitmen dan kualitas para aktivis ini. Seringkali mereka diberi kewenangan untuk menjadi pengelola masjid. Kapabilitas yang dimiliki para aktifis ini diantaranya penguasaan bahasa Arabnya bagus dan hafal Al-Qur'an. Tentu masyarakat akan percaya dan memberi apresiasi bagus pada mereka, misalkan dipercaya untuk menjadi imam masjid dan juga penceramah.

Saat ini geliat para pemuda muslim terlihat cukup bagus untuk mempelajari Islam, dengan maraknya fenomena hijrah. Mereka melakukan fashtabiqul khairat untuk mengkaji Al-Qur'an lebih mendalam. Mereka memahami bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk hidup bagi umat Islam. Membacanya adalah suatu keniscayaan, selain bernilai ibadah, Al Qur'an harus difahami maknanya dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka menghafalnya adalah suatu kemuliaan. Sebagaimana hadist berikut:

"Sesungguhnya perumpamaan orang yang mempelajari Al-Qur'an dan membacanya adalah seperti tempat air penuh dengan minyak wangi misik, harumnya menyebar ke mana-mana. Dan barangsiapa mempelajarinya kemudian dia tidur dan di dalam hatinya terdapat hafalan Al-Qur'an adalah seperti tempat air yang tertutup dan berisi minyak wangi misik" ( HR. Tirmidzi)

Lantas ketika predikat good looking disematkan pada mereka(para aktivis masjid), apa salah mereka?. Istilah good looking ini seolah menjadi peringatan(warning) kepada masyarakat untuk menjauhinya karena istilah ini dilekatkan pada pembawa faham radikal. Lagi-lagi isu radikalisme ini dimunculkan terus menerus ke tengah-tengah masyarakat. Padahal definisi radikal itu sendiri juga belum jelas, definisi menurut siapa? Apakah menyampaikan ajaran Islam apa adanya, bisa dianggap radikal?

Sebutan radikal itu sendiri sudah difahami sebagai stigma negatif, tapi sungguh tidak layak disematkan pada aktivis masjid. Jika radikal itu diidentikkan dengan kekerasan maka berbagai tindak sporadis, melakukan penyerangan fisik dan merusak itu mungkin bisa masuk. Sementara aktifitas anak masjid ini hanya mempelajari Islam dengan mengadakan kajian-kajian keislaman. Justru seharusnya kita bangga jika memiliki para pemuda, generasi masa depan yang berkualitas, pintar bahasa Arab, hafal Al-Qur'an, dan rajin ke masjid.Karena kemajuan peradaban kelak sangat bergantung pada kualitas para pemuda ini. Wallahu A'lam bil Asshowwab

Penulis: Sri Yulia Sulistyorini, S. Si
×
Berita Terbaru Update