-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sakit Yang Membawa Hikmah

Senin, 26 Oktober 2020 | 15:53 WIB Last Updated 2020-10-26T07:53:14Z

Dasih Widowati, SPd

"Maaf ya Mi,  ga bisa ambil hp, karena seminggu ini ada dua hari yang bolong setoran". Mengapa? "Ya, karena Allah lagi ga kasih rizki buat setoran, Mi."


"Dibuat santai saja ya Mi, karena kalau ngafal gampang terus, nanti ga da rasanya waktu khatam.  Susahnya ngafal itu sudah nikmat tersendiri bagi Aini, Mi".


"Minta doanya selalu, hafal 30 juz itu pasti, tanggalnya yang misteri...hehe


"Sampai sini aja dulu Mı, ini dah mau habis kertasnya. Sekali lagi minta maaf, Aini sudah belajar kok, Allah saja yang belum kasih, syukran !"


Kubaca surat pendek itu melalui foto yang dikirim dari hp Abla pondok, tak tega aku mengulangi untuk membacanya. "Oh iya,  Abla artinya kakak, yang berperan sebagai Ustadzah Pengajar di Pondok yang bernaung  di Yayasan Turki".


Aini bukan tipe pemalas, hal itu sudah kuhafal dari dulu. Sejak SD semangatnya tak mau tersaingi. Dia bilang, sederet nama- nama yang pintar di kelasnya, adalah tantangan tersendiri. Pun aku masih ingat betul, menjelang ujian Bahasa Arab di kelas enam, Pak Guru terkadang meminjam buku tulisnya untuk dibawa pulang. Barangkali buat nyocokin materi- materi yang sudah dan terlewat diajarkan. 


Tulisannya rapi dan detail, mewakili Empunya buku, memang cinta ilmu pengetahuan.


Meski ditulis dengan canda, tapi aku tahu dia menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Sakit eksim pada  kedua kakinya, cukup berasa nyeri sehingga membuat jalannya sedikit terpincang. Nanah dan darah  sering keluar dari lobang daging  yang  terluka. Sebelum pandemi sudah dua kali ke dokter umum, namun tak terlalu membawa arti. Apa boleh buat sementara hanya bisa disolusi dengan kompres cukak apel, anggur dan salep. Tahu tempe menu pokok yang tidak bisa ditawar- tawar lagi. Sedikit makan ikan asin, telor, ayam  hampir dipastkan makin parah lukanya. 


Masih ditambah pula beberapa minggu terakir frame kaca- mata nya pecah, tidak bisa dipakei lagi. Pandangannya kabur,  tidak memungkinkan untuk belajar maximal.


Apa boleh buat, aku sudah tidak tahan juga merasakan penderitaanya.  Keinginanku sejak kemarin- kemarin mengobatkan ke spesialis kulit, akhirnya tidak bisa dicegah lagi. Termasuk harus ke kota, untuk membeli kacamata yang baru, meski masih pandemi.


"Mi, tidak usah ke dokter kulit, jauh dan mahal. Kata teman- teman yang pernah ke sana tarifnya delapan ratus ribu, sekali datang. Itupun juga belum tentu sembuh."

Sudah biar saja, tidak apa-apa nanti juga enakan sendiri!".


Tertegun aku, anak seumuranmu biasanya saat sakit mendera, berkeluh- kesah tidak karuan. Ternyata itu tidak berlaku bagimu. Kau menerima dengan sabar, dan yang membuatku berbesar hati tekadmu untuk belajar tetap berapi-api.


Suatu hari, Abla mengirim wa padaku, "Ibu, tolong jangan mengirimkan kopi kapal api lagi ya Bu, Aini menjadi kurang tidur. Saya pernah mendapati semalaman hanya tidur dua jam. Tidak baik untuk stamina dan  terlebih siangnya malah mengantuk!"


Ibu mana yang tidak iba, meski di satu sisi aku makin bersyukur kepada Allah Swt. Hidup berjauhan dengan keluarga ternyata menempa seseorang menjadi lebih mandiri dan dewasa, tetap berkompetisi walau sulit medan yang harus dihadapi. Barangkali seperti itulah gemblengan yang diperoleh dari Abla-Ablanya selama ini, di Pondok. Rasanya, ini sesuai sekali dengan mutiara hikmah yang keluar dari lisan sahabat Rasulullah Saw, 


"Barangsiapa bersabar dengan kesusahan yang sebentar saja maka ia akan menikmati kesenangan yang panjang" (Thariq bin Ziyad).


Pun banyak pula kita harus menggali pelajaran dari generasi hebat terdahulu, bagaimana ghirah beliau- beliau rakhimakumullah dalam menuntut ilmu. Semangat yang luar biasa untuk tetap belajar. Rela berjalan bermil- mil hanya untuk menempuh satu bab ilmu. Bahkan hanya untuk mendapatkan pemahaman satu hadist, beliau rela menempuh panasnya  sengatan matahari dan dinginnya malam. Melewati gurun tandus yang gersang dengan bekal seadanya. 


Pernah suatu saat, Imam Ahmad bin Hambal ditanya oleh sahabatnya, karena terlihat beliau sangat besemangat dalam ilmu. Kapan engkau akan beristirahat? MaasyaaAllah, beliau menjawab," nanti saat aku telah menjejakkan kakiku di surga."


Ya, seorang alim, memang tidak akan pernah diam semasa hidupnya. Surga, menjadi impian, yang harus ditebus dengan amalan luar biasa. Keutamaan yang didapatkan bagi pencari ilmu, seluruh penduduk langit dan bumi bahkan sampai ikan-ikan pun turut memanjatkan doa. Para malaikat mengepakkan sayap, tanda ridla padanya. Bahkan sesungguhnya keutamaan orang alim berada di atas ahli ibadah, seperti bintang- bintang yang menyinari cahaya purnama.


Wahai, ayah bunda mari kita berikan semangat belajar yang tinggi untuk putra- putri kita. Mereka calon generasi penerus, khairu ummah yang akan menentukan kualitas masa depan bangsa.


Belajar dari Shalafus Shaleh pendahulu kita, diantaranya adalah keteladanan yang dilakukan oleh ibunda İmam Syafii, Fathimah binti Ubaidilah yang mengasuh İmam Syafii sendirian semenjak kecil. İbunya dengan ikhlas melepas beliau  di usia 10 tahun untuk menuntut ilmu ke Mekkah. 


"Ya Allah, Rabb yang menguasai seluruh alam. Anakkku ini akan meninggalkanku untuk perjalanan jauh demi mencari ridhaMu. Aku rela melepasnya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Maka hamba memohon kepadaMu ya Allah… mudahkanlah urusannya. Lindungilah ia, panjangkanlah umurnya agar aku bisa melihatnya nanti ketika ia pulang dengan dada yang penuh dengan ilmu-Mu."


"Pergilah anakku," ujarnya dengan mata berkaca-kaca,"Allah bersamamu. Insya Allah engkau akan menjadi bintang paling gemerlap di kemudian hari. Pergilah… ibu telah ridha melepasmu. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong"


Sungguh, Ibunda Imam Syafii sosok yang cerdas, meletakkan kepentingan umat diatas kecintaan untuk senantiasa berdekatan dengan putranya sendiri. Harapan, doa beliau terwujud sudah. Imam Syafii kemudian menjadi  İmam Besar, sosok ulama yang banyak melahirkan banyak karya. Dari tangan beliaulah  dilahirkan kitab ilmu Ushul Fiqh pertama, yang menjadi sandaran hukum dari generasi ke generasi.


Wahai Ayah Bunda, sebaik- baik pengasuhan yang kita berikan, dalam ilmu dan cucuran keringat, suatu saat akan menjelma menjadi  pahala jariyah yang tiada putusnya. Atas izin Allah Swt pula, kedua tangannya akan menyematkan mahkota surga kepada kita. Tidak perlu ragu lagi, mari kita persembahkan perjuangan yang terbaik,  menjalankan amanah dari Allah Swt. Amiin


Penulis :  Dasih Widowati, SPd

×
Berita Terbaru Update