Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Pendidikan dan Kepribadian Kukuh

Senin, 15 Februari 2021 | 12:52 WIB Last Updated 2021-02-15T04:53:11Z

Niwatun, S.Pd.I. (Aktivis Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

LorongKa.com - 
Dunia pendidikan menarik  untuk selalu diperbincangkan. Perbincangan seputar prestasi dalam pendidikan atau problem yang dihadapi dunia pendidikan saat ini.


Pendidikan adalah hak dasar dari tiap individu. Indonesia pun mengatur pendidikan sebagai hak seluruh warga negaranya, yaitu tiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. 


Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses,  cara, perbuatan mendidik. 


Secara definisi tergambar apa yang ingin diraih dari pendidikan nasional, yaitu mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan. Pengajaran yang dilakukan tentulah harus mengarah pada apa yang ingin diraih.


Beberapa waktu yang lalu, arah pendidikan Indonesia menjadi sorotan publik atas apa yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Mendikbud  memiliki pandangan terkait sistem pembelajaran berbasis proyek mesti digalakkan karena menurutnya akan memicu kemandirian, kolaborasi, dan kreativitas (medcom.id, 16/01/2021).


Apa yang disampaikan Mendikbud tak lepas dari kondisi saat ini. Dengan pendidikan berbasis proyek Mendikbud menilai akan mampu mengimbangi kondisi yang ada, yaitu era revolusi industri 4.0 yang diharapkan dunia pendidikan pun menjawab tantangan di era yang serba digital ini.


Apa yang dilakukan Mendikbud mendapat tanggapan serius dari beberapa tokoh nasional,  Salah satunya dari tokoh PKB, Muhaimin Iskandar/Cak Imin. Cak Imin menyoroti kondisi pendidikan selama pandemi berlangsung. Hal tersebut disampaikan saat membuka musyawarah wilayah (Musywil) 15 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB secara virtual, Sabtu 16/01/2021. Beliau menyampaikan jika mengharapkan Mendikbud mengambil langkah-langkah alternatif bagi krisis darurat nasional pendidikan, tetapi apa yang diharapkan dari Mendikbud menurutnya belum ada tanda-tanda utuk direalisasikan (OkeNews, 16/01/2021).


Kurikulum yang diwacanakan Mendikbud pun masih menjadi sorotan, ada yang berpendapat kurang tepat diterapkan di tengah pandemi. Mengingat selama pandemi pendidikan berlangsung masih belum merata ke daerah yang belum bisa menerapkan belajar secara daring selama pandemi. 


Saat Indonesia masih memperdebatkan soal kurikulum, Islam sudah menerapkan kurikulum pendidikan yang paten ribuan tahun yang lalu. Kurikulum yang menjadi dasar terciptanya pendidikan untuk membentuk kepribadian Islam yang kukuh pada peserta didik. Karena kurikulum berisi mata pelajaran (ilmu pengetahuan) dan metode penyampaian pelajaran tersebut. 


Dasar kurikulum dalam sistem pendidikan Islam adalah akidah Islam. Apabila akidah Islam sudah menjadi asas yang mendasar bagi kehidupan seorang muslim, asas bagi negaranya, asas bagi hubungan antar sesama muslim, asas bagi aturan dan masyarakat umumnya, maka seluruh pengetahuan yang diterima seorang muslim harus berdasarkan akidah pula. 


Tujuan kurikulum dan pendidikan dalam Islam adalah membekali akal manusia dengan pemikiran dan ide-ide yang sehat, baik mengenai cabang akidah maupun hukum. 


Islam telah mendorong manusia untuk menuntut ilmu dan membekalinya dengan pengetahuan. Sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur'an surah Az-Zumar ayat 9:


"... Katakanlah (Hai Muhammad)! Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran." 


Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan ketidaksamaan orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang bodoh.


Di hadapan Allah dan di mata masyarakat, antara ilmu dan kebodohan masing-masing memiliki martabat dan kedudukan masing-masing. Sebagaimana yang Allah janjikan dalam surah Al-Mujadalah ayat 11:


"... niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."


Untuk menyambut dua ayat di atas diperlukan kurikulum yang jelas dan bisa dijalankan dengan baik oleh pihak-pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan. Islam telah mencontohkan itu. Terbukti, selama berabad-abad Islam menggunakan kurikulum yang sama dan mampu mencetak generasi yang memiliki kepribadian yang baik. Meski tak dipungkiri ada juga yang tidak berkepribadian baik, tetapi tidak mendominasi dalam masyarakat. 


Untuk itu, kaum muslim hendaklah bersungguh-sungguh dalam belajar. Tidak hanya menyambut janji Allah pada orang-orang berilmu yang akan ditinggalkan derajatnya, tetapi kewajiban menuntut ilmu yang melekat pada diri kaum muslim pun harus disambut. Di sinilah peran negara sangat diharapkan untuk menunjang sarana dan prasarana yang diperlukan dalam menuntut ilmu, juga seorang guru yang mumpuni keilmuannya untuk memberi pelajaran.


Islam telah mempertimbangkan persoalan menuntut ilmu dalam skala negara. Untuk itu, dalam sistem pendidikan Islam guna mencapai tujuan pendidikan, negara telah menjamin fasilitas dan  guru yang akan mendukung terciptanya pendidikan yang layak untuk seluruh warga negara. Dari jaminan tersebut terwujud individu-individu yang berkepribadian Islam yang kukuh.


Penulis: Niwatun, S.Pd.I. (Aktivis Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban).

×
Berita Terbaru Update