Kelucuan seorang penyidik dengan seorang tersangka pembunuhan

www.lorongka.com - Menjadi orng baik adalah keinginan semua orang. Ada nga sih di dunia ini yang tidak pernah berniat baik meski hanya sekali saja, dan saya rasa tidak ada satupun yang pernah bercita-cita sejak dia masih kecil untuk menjadi pribadi yang jahat.

Namun menjadi orang yang baik tidak lah semudah yang kita pikirkan karena terkadang ketika kita melakukan suatu kebaikan malah kita akan mendapat cemoohan dan itu sering terjadi. Namun sebaliknya ketika kita melakukan suatu kejahatan yang tanpa di sengaja maka puluhan bahkan ratusan kebaikanpun tidak akan mampu menutupi kesalahan yang pernah dilakukan.

Meninggalkan pembicaraan tersebut diatas disini saya punya cerita unik, menarik dan menggelitik yaitu seorang tersangka dengan seorang penyidik. Kelucuan itu berawal saat sipenyidik mulai bertanya kepada tersangka untuk mengetahui motif kejahatan yang mereka lakukan.

Saat itu, pagi hari seorang penyidik sedang melaksanakan tugasnya untuk mengungkap apa yang menjadi motif si tersangka melakukan aksi kejahatannya. Didepan seorang narapidana sipenyidik mulai melayangkan sejumlah pertanyaan kepada si tersangka.

Penyidik: sejak kapan kamu mulai bermusuhan dengan korban.?

Tersangka: (sambil nyengir-nyengir) pak yang bilang saya bermusuhan dengan korban siapa pak ?

Penyidik: ok saya ganti pertanyaan, apakah kamu mengenal si korban ?

Tersangka: pak, bukan lagi kenal tapi sudah seperti saudara sendiri saya dengan dia.

Penyidik itupun semakin bingung dengan pernyataan yang di ungkapkan oleh si tersangka padanya. Dalam hatinya ini orang ditanya apa kamu bermusuhan, jwabanya nga, ditanya kenal blangnya sudah seperti saudara tapi dia membunuhnya.

Penyidik: kalau kamu tidak bermusuhan dengannya dan menganggapnya seperti saudara kamu sendiri lantas kenapa kamu melakukan tidak kejahatan padanya ?

Tersangka: begini ceritanya pak. Saya sering nonton berita di tv dan katanya salahsatu penyebab banyaknya tindakan kejahatan adalah akibat kondisi pikiran mereka yang sedang kacau.

Penyidik: apa hubungannya kacau dengan kamu membunuhnya. Apa kamu yang pikirannya lagi kacau jadi kamu membunuhnya ?

Tersangka: oh bukan pak, pikiran saya saat itu lagi baik-baik saja.

Pengidik itupun semakin bingung dan pusinh dibuatnya dan akhirnya diapun emosi karena tidak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan yang bayankannya. Dan diapun mulai bertanya lagi "lalu kenapa kamu membunuhnya"

Tersangka: begini ceritanya pak dia itu baru beberapa hari diputuskan oleh pacarnya dan akhirnya pikirannya jadi kacau, galau, dan menjadi pemarah. Yang saya takutkan apa yang saya nonton di televisi juga terjadi pada teman saya ini yaitu dia menjadi jahat dan akhirnya melakukan tindak kejahatan dan sebagai teman yang baik dan sebagai warga negara yang baik saya tentu tidak ingin hal itu terjadi pada teman saya. Sebelum dia melakukan tindakan kejahatan maka saya harus menghentikannya dengan cara membunuhnya. Jadi begitu pak ceritanya.

Akhirnya sontak penyidik itu langsung berdiri dan meninggalkan tempatnya bukan karena dia heran atau pusing tetapi dia takut karena amarahnya akan memicu si tersangka itu untuk membunuhnya karena takut dikira adalah orang yang jahat.