April 2018 | LORONG KATA
Tweet Share Share Share Share Share

Nurani Bukan Money
(Fajar CT)

Mendebat sana - sini
Membela nama baik masing-masing para jagoannya
Ada-ada saja
Provokasi sana sini
Hingga terpecah
Sungguh parah

Sana - sini teriak "Pilih ini"
Tau - tau kantong penuh
Pikiran jadi jernih
Kotak suara utuh

Saudara pecah
Saling mencercah
Gotong royong tak lagi penting
Yang penting tak pecah piring

Setelah terpilih kalian gerah
Mereka cerah
Mau ini mau itu
Tau - tau jagoannya sudah jual satu - satu

Kan wajar
Isi kantongnya dulu
Sudah kalian hajar
Tanpa pandang bulu

Mari merapat mempererat persaudaraan yang utuh
Memilih pemimpin bukan karena kantong yang utuh
Sebab kita semua bisa runtuh
Jadi haruslah nurani
Bukan money.

Sinjai 27/04/18
Tweet Share Share Share Share Share

Cinta Monyet
(Falesul Akbar)

Aku suka wacananya
Tak ku tahu kau suka
Senyummu kau sembunyikan
Apa karena sebuah rasa
Cinta karena kau mau
Aku mau tapi ku malu
Bicaralah sebagaiama kau cerita
Jangan lelah karenanya
Yakin saja kalau aku mau
Tidakku ingkar apa saja lisanku
Apaku buktikan mauku
Atau kau juga ingin membuktikan maumu
Kalau seperti ini aku dan kau harus bagaimana?
Melangkah lemah tak menyapa
Menatap lelah lalu berbalik
Itu kamu dan aku
Sampai kapan kita menyembunyikan keindahan yang menghampiri dengan sendirinya.
Tweet Share Share Share Share Share

Kembali Kuliah
(Iwan Mazkrib)

Dulu...
Aku pernah berdiri di atas mimpi
Jeritan orang-orang malang
Orasi dalam kabulan asap kebenaran
Bernyanyi di depan barisan aparat

Lagi-lagi...
Bagiku itu adalah kemurnian ibadah
Membersihkan diri dengan kajian kesadaran
Wudhu dengan konsolidasi, bukan fitnah
Memunjak dengan takbir perlawanan

Sebenarnya...
Aku hampir melupakan jalanan
Bahkan lebih senang berjalan di kesunyian
Berlari perlahan memikul kata-kata
Dan menghempaskan kebencian di antara remang-remang cahaya panggung sandiwara

Ini bukan kebetulan
Jeratan masa lalu memaksaku melantunkan syair-syair kejam tapi manja
Meninggalkan penyesalan yang belum pernah kujumpai

Ah...
Dunia memanggilku kembali kuliah
Kuliah dalam gerakan
Kuliah pengorbanan
Kuliah Kemanusiaan

Huh...
Kuliah tiga sks

Tapi bagaimana jika esok aku wisuda?

UINAM, 23 April 2018
Tweet Share Share Share Share Share

"Teman Sebatas KATA"
(sastrarwa)

Ketidak sadaran menjadikan
sadar Hitam begitu pekat menemani sepi yang
bersanding dengan cahaya

Kawan...
Diantara hitam putih
Jalan hidup ini...
Kuharap dirimu menilai ku
Di gelapnya hitamku

Kawan...
Ada setitik putih kucari
Ditengah hiruk pikuk hidup ini...

Salah Dimata kepala
Aku terima kawan...
Kuharap mata hatimu
Tidak abu-abu atas diriku

Samata, 22-04-2018
Tweet Share Share Share Share Share

"RUH Dititik Nol"
(sastrarwa)

Dalam sepi ku mendengar
Dalam hati ku merasakan
Ada dirimu didalam sukmaku

Jika dirimu mengantarku
Aku akan menjalaninya
Sebab kaulah satu-satunya
Membuatku percaya atas tuntunan

Bawalah diriku menemukan mu
Perintahkan lah, akan kuturiti
Sebab jalanku adalah arahanmu

Jika mereka menganggap ku bodoh
Atas tindakan ku, biarlah...

Asal aku baik, tak berkhianat Atas tuntunan jiwaku,jiwamu dan diriku

Samata,22-04-2018
Tweet Share Share Share Share Share

"Setitik Cahaya Gelap"
(sastrarwa)

Kau termakan oleh waktu
Walau indahmu tak pernah pudar
Dikehampaan dilema hidupku

Gelapmu tak lagi jernih
Terhapuskan dikala angin mengusik
Teringat saat asap-asap
Romantis bercumbu deganmu

Terlalu banyak gelap, Setitik cahaya pun Sulit menemani manisnya gelap, bahkan mata tumpul
mencari setitik cahaya

Kata HATI,
Dalami sampai dalamnya gelap agar menemukan setitik cahaya dalam sukmamu

Samata,22-04-2018
Tweet Share Share Share Share Share

Dok, Pribadi @sastrarwa
DIAM

Ku ingin kau menjadi cerita indah
Yang mendampingiku di indahnya
Cerita klasik hidupku

Ku tak ingin menjadi penyempurna dalam kekurangan mu
Tapi ku ingin menjadi kekurangan
Yang dapat menyempurnakan mu

Senja indah jika angin mengusik
Dia setia menemani keindahan diwaktu yang indah

Angin tak pernah menuntut senja
Untuk menemaninya setiap waktu

Tapi angin menunggu satu hal yang pasti, saat matahari duduk manis
di ufuk barat berteman dengan secangkir kopi yang diam...
Tweet Share Share Share Share Share

Dok Pribadi, Sutra Tenri Awaru
Aku Belum Bisa Menyamai Kartini, Aku Belum Bisa Se-feminisme Kartini
(Sutra Tenri Awaru)

Aku wanita masa kini, yang hanya bisa diam ketika kesetaraan gender tak lagi menjadi tolak ukur.

Aku wanita masa kini, yang hanya tau berdandan, bersolek ayu di depan kaca.

Aku wanita masa kini, yang tiap harinya memperbincangkan fashion dan segala sesuatunya yang berbau modernisasi.

Sekali lagi aku wanita masa kini dan mempunyai cita cita untuk melakukan perubahan,Aku ingin seperti kartini yang mampu menjadi inspirasi untuk sejuta wanita di seluruh dunia!

Sekali lagi selamat hari kartini.
Tweet Share Share Share Share Share

Guruku
(falesul akbar)

Pagi,
Dengan semangat fajarnya menyapa
Seakan suaranya menyelimuti dinginnya

pagi
Runtuhan jawabanpun menyapa dengan penuh antusias
Gagahmu, tegasmu, dan amanahmu selalu terpancarkan dalam dirimu
Tapi mengapa kau berjalan selalu berjalan melihat kebawah,

Apa kau malu, apa kau menghormati, apa kau tak lagi mau mengenal
Rasanya tak mungkin, dirimu kukenal kau bukan begitu
Sekarang tak kulihat kau lagi seperti seharusnya
Tugasmu diganti, mejamu ditempati, dan namamu dihapus

Aku tak tahu apa yang terjadi
Diamku menyimpan kerinduan
Dan setalah ada tanya
Tak ada lagi tawa
Irisan kecil hadir bagai mimpi

Teriakku tak bersuara
Aku hanya bisa terdiam mengenang kau menghilang
Orang terhebatku,
Semoga jasadmu dilindungi oleh jasamu.

Tweet Share Share Share Share Share

Senyum Dalam Pelukan
(Iwan Mazkrib)

Wahai kekasihku yang manis
Dengarlah jarak yang berdendang di beranda kisah
Aku menemukanmu berdiri penuh bahasa dalam kelana
Kita saling mendekap terbuai hayal romansa
Dengan syahdu perlahan kita mulai jatuh

Bisa jadi itu adalah harapan
Di kala rindu dalam balutan hangatnya do'a
Sebenarnya aku selalu ada di sisimu
Pada pelukan binar matamu bersinar anggun
Menatap mesra dengan cumbu kasih sayang

Kau mungkin tahu bahwa dahulu
Ketika takdir mulai meramu pertemuan kita
Ingatan kita pun telah sama,
Mengalir tanpa ragu dan mekar di antara peristiwa-peristiwa 
Yang belum pernah kita temui dalam perjalanan waktu 

Kita memang adalah kenyataan
Di saat mimpi mulai menyandarkan jiwa di dinding sunyi
Kau menyuguhkan kata-kata di ujung senyum manismu
Hingga aku tahu bahwa pada akhirnya menjelma sebuah puisi 
Puisi yang mengalir penuh cinta dan membasahi hatimu

Kekasihku,
Aku ingin mengucap aksara bisu ini
Agar kau tahu,
Bahwa diam-diam aku membutuhkan kehadiranmu

Senyum Manis Selembut Sutra

Gowa, 8 Maret 2018
Tweet Share Share Share Share Share

SABAR TIDAK ADA BATASAN
(Risal)

Kau terlalu indah untuk di tinggal terlalu manis untuk di lupa.

Banyak kesan yang tercipta, hilang tanpa arti jadi kenangan.

Kenangan pahit jadi manis  begitupun yang manis jadi pahit, memang membingungkan maka cobalah patah hati jika kau pemberani.

Aku tak begitu yakin nyalimu mengalahkanku, jatuh berkali-kali tapi tetap bangkit apa kau bisa, buktikan sendiri.

Karna yakin dengan apa yang aku lakukan, maka kau hempas pun aku tak melawan.

Tersenyum adalah caraku bersabar, Walau menusuk hingga gelisa merasuk, berkali-kali kau tancapkan luka aku tetap sabar menunggu kapan kau sadar.

Mencintai, aku tidak lelah. menyayangi, aku tidak ingin di batasi.
Patah hati, akupun tidak takut
Karena aku tau yang kulakukan bukan hal yang salah.
Tweet Share Share Share Share Share

Sutra Tenri Awaru. Dok Pribadi
Tanpamu kasih
(sutra tenri awaru)

Tanpamu kasih,
kesepian merenggut hariku.
Kerinduan datang menyelimuti malamku.
Keresahan terus mengoyak hatiku.
Kegelisahan memainkan otakku.

Tanpamu kasih,
Semangatku redup, jiwaku hampa, hati dan fikiranku begitu kosong.
Perasaan jenuhpun mulai terasa jika tak berada didekatmu.
Karena aku sudah biasa berada dalam lingkup kasihmu.

Tanpamu kasih,
Senyumku tak lagi sama seperti mawar yang bermekaran.
Mataku tak lagi bersinar bak rembulan.
Tubuhku dingin seperti salju.

Tanpamu kasih,
Aku tiada guna,seperti orang kehilangan arah.
Bagiku setiap tentangmu adalah istimewa, tentangmu yang selalu terpatri didalam jiwa yang takut kehilangan akan cinta dan kasihmu.

Tanpamu kasih,
Masih adakah cerita-cerita indah untuk dirangkai bersama kedalam sebuah kehidupan?

Tweet Share Share Share Share Share

RINDU
(RISAL)

Lagi lagi rindu yang kau tebar disaat yang tak kuduga di tempat yang tidak menentu.

Aduh Rindu
kini misimu lain bukan sekedar senyum yang aku ingin tapi juga pelukannya

Hey rindu
Salam dari pipiku, sampaikan pada bibir mungil itu.

Apa ini sekedar rindu kenapa rasanya lain seperti candu yang menagih.
Tubuh yang kaku kepala merunduk seakan tak mau tegak, bagaimana tidak aku sudah tak kuat dengan rindu ini.

Hey rindu
Tanyakan padanya jangan malas melihatku, aku tak mau merasakanmu seorang diri aku mau dia juga tau rasanya rindu.

Malam ini aku bosah kupandang potretnya yang terdengar suaranya kudengar suaranya malah yang muncul bayangnya.

Woeh rindu
Aku mau wujudnya bukan suara bukan bayangan, kau tau itu hanya semakin membuatku terserap olehmu.
Tweet Share Share Share Share Share

Andika Putra, Founder Lorong Kata

TEDUH DALAM SATU DOA
(Dikha)

Lihatlah mentari di ujung sana.
Dia masih murung seperti kemarin.
Karena awan yang menghiasinya.
Tertunduk rapuh.
Bersimbah air mata.
Hanya petir yang menggelegar.
Setia tuk menanti.
Kapan, air mata akan tumpah lagi.

Apakah mungkin,
Seperti ini jejak yang kutapai.
hidup hanya berteman sepi.
Walau hanya teduh dalam satu doa.
Tuhan..... hindarkan sepi yang kujalani.
Tweet Share Share Share Share Share

Andika Putra
Di senja ini, hujan turun lagi.
Membangkitkan kisah yang telah mati.
Dunia serasa penuh mimpi.
Sebab harapan berselimut sunyi.

Dadamu berdarah lagi kawan.
Maaf, aku tak mampu menolongmu.
Sebab yang luka tak mampu kusembuhkan.
Pergilah, lalu rawat lukamu.

Meski langit berubah menjadi gelap.
Mawar berubah menjadi layu.
Tapi tak mengapa.
Mawar itu akan tumbuh.
Karena, kepergianmu sebuah anugrah.
Yang kelak mempertemukanku dengan surga.

Wahai rasa.
Yang dulu sempat kucicipi.
Datanglah dilain kali.
Bukan dihari ini.
Dan bukan dengan dia lagi.
Tweet Share Share Share Share Share

Ajmal, Dokumentasi Pribadi
Lorong Kata, www.LorongKa.com --- Berbicara tentang persoalan rambut, tentu akan muncul berbagai argumen dan tanggapan, apalagi persepsi. Terutama rambut gondrong yang tidak pernah lepas dari pandangan negatif.

Hal itu tidak serta merta muncul, namun ada 3 faktor yang sangat mempengaruhi, yaitu sosial, agama dan budaya. Dimana ketiga faktor tersebut merupakan sebuah dinamika penilaian seseorang terhadap mereka yang berambut gondrong.

Namun dalam tulisan ini saya akan sedikit menyinggung salah satu Kampus atau Perguruan Tinggi yang berbasis Keislaman disalah satu daerah yang dianggap beradat ini. Dimana Kampus tersebut melarang keras mahasiswanya untuk gondrong.

Perguruan Tinggi merupakan lanjutan pendidikan menengah untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota atau bagian dari masyarakat dengan berbagai ilmu yang telah didapatkan dalam sebuah Perguruan Tinggi dan itu telah dijelaskan dalam UU Tahun 1989.

Lalu apa hubungannya dengan larangan berambut gondrong bagi mahasiswa, padahal sejatinya kampus ialah wadah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan siap untuk berbaur dalam lingkup masyarakat. Tapi ketika mahasiswa yang ingin berekspresi melalui rambut, lalu dilarang oleh pihak kampus.

Saya rasa itu adalah sebuah penindasan yang terjadi terhadap mahasiswa di dalam kampus. Karena seperti yang dijelaskan diatas bahwa sejatinya kampus itu ialah tempat menimba ilmu dan bertarung dengan gagasan yang mereka miliki, bukan sebuah tempat untuk pamer penampilan.

Saya kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Islam Negeri di Bone. Di kampus ini pula saya bertanya tanya akan hal yang dianggap tidak mencerminkan diri sebagai seorang mahasiswa yang santun saat berambut gondrong, dan penilaian itu sangatlah keliru bagi saya pribadi

Di kampus yang menjunjung tinggi yang namanya adat, membuat saya jadi teringat dengan seorang pahlawan Bone yang dikenal dengan sebutan Raja Arung Palakka Petta Malampe Gemmena.

Dimana, Raja Arung Palakka ini adalah raja pembebas pada saat masyarakat bone mengalami penindasan pada waktu itu. Jadi Arung Palakka yang terlihat gagah dengan rambut panjang tersebut memiliki sebuah karakteristik tersendiri diantara para raja Bone yang lain.

Lalu berbicara kembali mengenai rambut gondrong, saya teringat seorang Ustadz yang pernah membawakan ceramah, beliau mengatakan bahwa Rasul saja memiliki rambut yang diatas rata-rata rambut jaman sekarang.

Apalagi saya kuliahnya di kampus yang berdasarkan sebuah ajaran Rasul, pertanyaannya kemudian apakah alasannya ketika mahasiswa yang ingin gondrong itu dilarang, sedangkan kita sudah tahu bahwa gondrong itu bukanlah hal yang dilarang oleh agama khususnya. Tuhan mengizinkan aku gondrong, namun dosenku menolak.

Gonrong adalah simbol kebebasan berekspresi. Dengan adanya aturan yang melarang rambut gondrong secara tidak langsung membuat mereka merasa didiskriminasi oleh aturan tersebut. Di negeri ini pun perampok terbesar adalah mereka yang berambut rapi, bukan yg berambut gondrong. Seharus bukan rambutnya yang seharusnya kalian paksa untuk dipangkas tapi yang harus dipangkas adalah kebodohan yg menggerogoti kepalanya

Ada banyak orang yang beranggapan bahwa memiliki rambut gondrong adalah tipikal orang yang tidak mau di atur, dan sering kali disebut tidak punya sopan santun.

Tapi anggapan itu semua bisa dibantahkan. Memiliki rambut gondrong adalah salah satu cara yang bisa membuka mata bahwa jangan pernah melihat sesuatu dari penampilannya.

Masuk ke dunia perkuliahan seolah memberikan kebebasan kepada pribadi masing-masing untuk menentukan gayanya. Bukankah dunia perkuliahan memuat nilai kerapian yang sederhana, "Boleh berpenampilan bebas asal sopan".

Lalu untuk apa kampus mempermasalahkan rambut gondrong, melarang mahasiswa untuk gondrong dengan cara mendiskriminasikan fasilitas kampus kepada orang gondrong.

"Rambut gondrong dilarang kuliah !" padahal sejatinya kuliah adalah sarana pendidikan untuk memperoleh pengetahuan. Memiliki rambut gondrong juga tidak menghalangi proses belajar mengajar dalam dunia perkuliahan.

Apakah maksudnya orang gondrong tidak boleh pintar, bagaimana pun orang berambut pendek bukan menjadi sebuah jaminan bahwa dia akan lebih pintar daripada orang yang berambut gondrong.

Jadi, sudah jelas bahwa rambut bukanlah cerminan dari hati, bukan parameter intelektual, tapi lebih kepada seni (fashion) kesederhanaan. Sebab itulah inti dari beragam jawaban teman tentang rambut gondrong yang saat ini mengalami keresahan.

Terakhir saya tekankan, bahwa rambut tidak ada sangkut pautnya dengan kemampuan berpikir secara akal sehat.

Mari berambut panjang bagi yang mau, asal rapi. Toh, kita tidak menindas, terlebih merampas hak orang lain dan saya sangat tidak setuju dengan diberlakukan aturan yang seperti itu, dengan alasan yang sudah saya jelaskan diatas.


Penulis : Ajmal
Tweet Share Share Share Share Share

"Janji manis"
(Fajar CT)

Manis juga laris...
Asik tapi berisik...
Esst jangan berpandai kalau cuma berandai....
Katamu elok tapi kau tak menengok...

Gerak bibir tak mengarah aku jerah...
Matamu cerah tapi tak mengarah...
Sungguh parah aku hanya berserah...
Katamu beradarah tapi tak berserah....

Kau sungguh mempesona seperti nona...
Kau bagai primadona bagai kue donat...
Janjimu sungguh sesat dan tersiasat...
Janjimu sungguh manis juga ironis...

Tak beralas tak juga jelas...
Kasihmu sungguh tak terhitung bagai detak jantung...
Mana ada seperti jagung juga tak menghitung...
Kau seperti kangkung juga jelangkung...
Tweet Share Share Share Share Share

"NADAMU HANYA SYAHDU"
(Fajar CT)

Suaramu merdu nan elok...
Rajutan rambutmu sangatlah indah...
Segala syairmu sungguh mencolok...
Rasa, sungguh tenggelam dalam lamunan tak terbantah...

Kasihmu selalu saja membesar...
Buai tak ada kasar...
Aku sungguh menyebutmu tak kesasar...
Tak lagi wajahmu, sungguh sangat
Menawan tak berkisar...

Setiap warna dalam Rumah Kita sungguh sangat membuat rindu...
Setiap alunan nada tak lagi mampu di usut...
Kau sungguh sangat menawan membuat nafas sungguh syahdu..
Yakin saja, membuat wajah tak kusut...

Tapi Aku selalu saja memikir, apa syairmu tak banyak orang terbunuh?....
Lalu Rumah Kita menjadi rusuh...
Tak lagi menjadi utuh...
Pada hal Kita Satu semestinya bertumbuh...

Sungguh Aku tersadar atas segala syairmu, ternyata menjadi mimpi buruk banyak orang termasuk Aku...
Tak sedikitpun membuat kagum...
Kau kira dengan rambutmu dan suaramu semua orang terpaku...
Hanya menjadi tusukan jarum...

Tapi tengoklah lantunan suara disetiap Lima waktu tetap menjadi perindu....
Dan juga Masih sangat indah nan elok bungkusan kain Sudariku...
Nadamu hanya syahdu...
Aku dan suadara-saudariku tak sama sekali hanya diam dan terpaku...
Tweet Share Share Share Share Share

Sutramanis Penyair
Hianat 
(Sutramanis)

Ketika awal mengenalmu adalah sebuah harapan, merindukanmu adalah awal dari hidup bersamamu.

Ketika cinta yang kuharap akan berujung dijanji suci, seketika sirna ditelan ironi.

Aku menyesal telah menumbuhkan harap, untuk hidup bersamamu di rumah yang penuh cinta.

Aku menyesal karna pernah memimpikan cinta seperti Habibi dan Ainun, kau brengsek sayang, brengsek sekali, kau pernah berkata "puan, hiduplah bersamaku, jika kelak waktu telah berada ditengah tengah kita maka aku akan segera meminangmu".

Oh, tuan sungguh brengsek kau, kata kata sakral itu kau jadikan mainan?

Ketika kepergianmu menuntut ilmu kutunggu dengan setia, nyatanya kau kembali dengan undangan resmi, yang menikam sukma dan rasaku.

Kuharap, hanya kau yang menjadi lelaki brengsek itu, sifat brengsekmu jangan kau manifestasikan kepada DIA.

Powered by Blogger.