Pena - Puisi Aruki N

PENA
Aruki N

Kala itu purnama ditampakkan sebagai bulatan yang berdarah-darah

Selaksa cermin, di rupanya derita dan tangis lantas dilukis.

Maka sejak itu, bukit, pepohonan dan lautan saling berteriak: "Dunia telah hancur!"

Air mata tumpah sebagai sungai berdarah, bersama racun yang ditelan ikan di dalamnya.

Ketika itu, dari sebuah pena, cahaya berpendar bebas.

Melewati kisi jendela, dan sudut kota paling gelap hingga mengikis darah dari permukaan rembulan.

Begitupun air mata, dihapuskannya lewat goresan tinta paling emas.

Maka sejak itu, daun-daun, jangkrik dan apapun yang datang di malam hari, mulai bersorak: "Kita selamat! Tuhan masih sayang!"

Dari tinta emas, goresan lain dihadirkan.

Dunia telah kembali di masanya ditata.

Oleh cendekia, Sajak-sajak ditulis. Lalu beranjak memuisikan perubahan.

Di akhir cerita, pena itu dijelmakan sebagai pelajar dan karyanya.