Luka Yang Hampir Melumpuhkan Rasa

LORONG KATA --- aku adalah si patah kalian boleh memanggilku begitu, seorang gadis dungu yang dulu percaya bahwa cinta adalah keajaiban dunia yang mampu membuatmu bahagia sampai semingguan hanya karna sapaan merdu tiap pagi dari dia, yang langsung merasa jadi wanita terspesial didunia hanya karna diucapkan selamat malam oleh dia, iya dia mengucapkan selamat malam pada semua gadis, namun sejak terluka, aku tak lagi mengerti cinta, rasanyaa menyesakkan jika harus berbicara tentang cinta.

Cinta yang dulu membuatku rela begadang hanya untuk memikirkan dia kini membuat ku harus memaksa diriku tidur agar rindu dan luka tak mengoyak jantung lebih ganas lagi, aku tidak tau seluka apa aku pada malam-malam kelam itu, malamnya aku harus berjuang melawan rindu paginya aku harus pura-pura bahagia didepaan sahabatku tertawa seakan-akan aku adalah si bahagia, memang saat ada sahabatku aku lupa kalo aku terluka, namun saat sendiri kesepian, kekecewaan dan rindu kembali mengusik memaksa air mata untuk jatuh memaksa hati untuk tidak lebih hancur dari ini, aku benci!

Mereka dengan mudah mematahkan hatiku yang sudah patah, mereka dengan mudah meminta cintaku lalu pergi meninggalkan luka seakan semuanya akan baik-baik saja dan aku dibiarkan sekarat penuh luka, rasanya hari-hariku selalu menyedihkan saat dikeramaian aku harus tertawa bahagia dan saat sendiri semuanya berantakan, aku hancur, kacau, aku seakaan tak ingat jika aku pernah bahagia, aku merasa tak adil, aku mulai menyalahkan sang pencipta, mulai egois, mulai meminta lebih ''tolong, biarkan aku mati rasa" itu pintaku setelah hari-hari penuh sesak itu aku mulai menyusun patah-patahan hatiku walaupun sedikit patahannya tertinggal di hati yang membuatku paling luka namun aku tetap berusaha.

Aku mulai mensyukuri apa yang kupunya dan menjaganya walaupun rindu dan luka perlahan hilang namun kesepian masih sering mengetuk hati memaksa untuk jatuh cinta lagi, aku sempat tergoda untuk membuka hati namun mengingat malam-malam kelam itu aku lebih baik menguncinya rapat rapat, lebih baik kesepian bukan!?

dan akhirnya kamu datang, kamu adalah orang yang menyenangkan yang membantuku menata hatiku, kamu sahabatku yang paling baik (jail) kamu rela mengantarku pulang balik kesana kesini, kamu rela membagi minumanmu meski aku tau kamu pelit, kamu rela pergi jauh-jauh cuman buat dengerin aku curhat.

Kamu sering ngusap kepala aku meski agak kasar, kamu rela ngiketin tali sepatu aku walau udah lepas , kamu rela jauhin semua wanita cuma buat aku, kamu rela kekelas aku tiap pagi cuman buat ngobrol bareng aku , yang perbaikin make up aku walaupun tambah ngerusak, yang rela kasih aku jaketnya biar aku gak kehujanan, yang cemburu kalo aku dekat dengan yang lain walaupun itu sahabatku sendiri, yang takut aku lupain, yang suka ngomongin masa depan, yang ngelakuin apa aja biar aku senyum, dan takut sampe sakit kalo aku marah, yang ninggalin kebiasaan buruknya demi aku.

Hanya sesederhana itu namun disetiap tindakanmu aku tau ada rasa sayang lebih dari seorang sahabat disana awalnya aku tidak siap mempercayai perasaanmu namun rasa nyaman lebih menyenangkan dari rasa suka bukan!? aku pun memberanikan diri jatuh cinta lagi! namun kali ini porsi yang berbeda dulu luar biasa, sekarang sederhana bukan karna aku tidak mencintaimu namun kesederhanaan ini tak akan membuat kita terluka bahkan kuharap bisa membuat bahagia, karna cinta yang sederhana lebih luar biasa dari cinta yang benar-benar jatuh!

Aku bukannya tak ada rasa tapi aku telah mati rasa jadi sulit bagiku jatuh cinta lagi namun kamu patut berbangga karna aku mau membuka hatiku untukmu setelah sempat menolak cinta baik yang lain! kamu tau kenapa aku seyakin ini? setelah semua peristiwa patah hati itu, karna bersamamu membuatku merasa menjadi perempuan paling dicintai, merasa perempuan paling cantik meski tidak dandan, membuatku nyaman tanpa merasa malu melakukan segala hal! dan yang aku tau aku suka saat matamu bertemu dengan mataku, sudahlah akan kusudahi lukaku dan kumulai kebahagiaan denganmu!

Penulis: Yasin Muhammad Anshari