Pendidikan Bukan Tempat Berduka

Lorong Kata --- Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini
dan kita pelihara ternak sebagai pengganti
Bagaimana kalau sampai waktunya
kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.
Taufik Ismail (1966).

Begitulah bunyi bait terakhir dari puisi yang berjudul Bagaimana Kalau (1966) yang ditulis oleh Taufiq Ismail yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935;. Hal tersebut mengisyaratkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang lahir dari kegelisahan atas kekacauan yang Ia rasakan berbeda dari kenyataan. Pada akhirnya kalimat terakhir puisi tersebut “Bagaimana kalau sampai waktunya, kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi“. Kalimat tersebut dapat dimaknai sebagai jawaban dari semua pertanyaan yang diungkapkan Taufiq Ismail. Walaupun bentuk dari jawaban tersebut adalah pertanyaan. Hal ini dimungkinkan juga jawaban tersebut bermakna kematian, atau akhir dari semua pertanyaan di dunia.

Kalaupun hadirnya kegelisahan seorang Taufik Ismail pada masanya adalah tentang kenyataan yang kurang baik bagi kehidupan sosial. Tak pelak lagi jika membahas masa sekarang yang dijalani oleh generasi millenial yang juga bersentuhan langsung dengan realitas maya, pun anehnya lagi selain terjerumus dalam budaya konsumtif juga selalu digandrungi dengan berita-berita hoax. Hoax yang berasal dari bahasa inggris yang artinya Hoaks, menurut KBBI mengandung makna berita bohong atau berita palsu tidak bersumber. Menurut Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun “dijual” sebagai kebenaran. Kesimpulannya adalah generasi millenial adalah generasi konsumtif yang saling berinteraksi dalam tradisi hoax.

Jika setuju dengan pernyataan di atas, Anda mungkin termasuk orang yang tidak senang dihantui perasaan ambigu (keraguan). Keraguan menimbulkan ketidakpastian yang akan menjalar seperti racun bagi pikiran manusia. Jika tidak tahan dengan ketidakpastian maka hasilnya akan mudah percaya dan ikut-ikutan (Konsumerisme). Entahlah, mungkin kita sedang kelebihan pikiran ataukah hanya sedang malas berpikir.

Konsumerisme meneror halus manusia. Yasraf Amir Piliang dunia konsumerisme adalah dunia yang dibentuk oleh nilai-nilai keterpesonaan dan ekstasi. Pikiran manusia modern telah kehilangan kualitas sehingga pikiran manusia hanya menjadi mesin untuk menghasilkan kalkulasi dan klasifikasi yang bisa saja dimanfaatkan untuk sebuah kejahatan. Setiap peristiwa, kerusakan terjadi karena hasil pikiran manusia. Mungkin pikiran manusia terbentuk dengan arus perkembangan zaman pun tidak lepas dari efek lingkungan.

Lah? Bagaimana manusia dalam lingkup pendidikan? Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia 1888-1959) menjelaskan tentang pendidikan yaitu daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran yang selaras dengan alam dan masyarakat (membebaskan manusia dari kebodohan). Lantas jika terjadi sebuah kerusakan, ketakutan, kegagalan ataupun kebodohan, apakah yang menyebabkan terjadinya kerancuan berpikir manusia? Apakah sistem pendidikannya? Infrastruktur pendidikan? Kepentingan? Ataukah manusianya gagal terdidik? Hingga manusia Apatis, Pragmatis, Vandalis, Anarkis dan yang lainnya. Belum lagi kaum terdidik ini dininabobokan dengan fun, food and fashion hingga lupa peran dan tanggung jawabnya, fokus; mahasiswa (middle class) .

Sepanjang sejarah yang terjadi dalam dunia pendidikan kadang terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak terdidik, baik sifatnya ketidakwajaran, ketidaksesuaian hak dan kewajiban hingga berujung konflik antar sesama kaum terdidik. Entahlah siapa yang benar siapa yang salah. Mungkin saja kalimat ini yang salah.

Tak terlepas dari sebuah kesalahan, suatu perubahan tidak selamanya tentang pikiran. Mengutip syair Jalaluddin Rumi yang penuh makna "Tanpa cinta, segala perbuatan tak akan dihitung pada masanya" mungkin saja manusia perlu cinta untuk membebaskan dirinya dari kebodohan agar pendidikan tidak mengalami duka.

Duka dalam KBBI adalah susah hati atau sedih hati. Agar tidak terjadi duka, maka penting yang namanya Pendidikan Hati. Bambang Sugiharto dalam bukunya Untuk Apa Itu Seni mengungkapkan "Manusia kadang lupa, bahwa pendidikan yang mampu menumbuhkan kualitas kemanusiaan adalah pendidikan hati (seni)". Selain meningkatkan kualitas pikiran dan budi pekerti, manusia butuh meluangkan waktu rekreasi imajinasi untuk menjalani realitas kehidupan. Roem Topatimasang mengatakan "Sekolah (pendidikan) secara harfiah adalah waktu luang" . Penting kiranya memanfaatkan waktu luang agar tidak panik, kaku, stres dan akhirnya tidak sadar diri.

Siti Zainon Ismail juga menyiratkan hal itu, sebagaimana tampak dalam bait syairnya ; "ketika seniman tua itu mengumpul batu-batu, mengatur kemboja di halaman, keinginan yang hangat, apakah kita yang muda hanya terpukau kagum lalu melupakan?". Sebagai generasi sekiranya kita pandai bersyukur dan tidak untuk melupa.

Indonesia diperjuangkan, diproklamasikan, dan dibangun oleh para pendiri yang memiliki visi seni-budaya yang istimewa. Selera pribadi Bung Karno terhadap kesenian, memiliki andil besar dalam menandai sejarah peradaban bangsa ini. Melalui karya seni, siapa pun bisa belajar berdemokrasi, yang berarti melatih diri bersikap dewasa untuk menerima keberagaman, perbedaan dan kedamaian. Karena itu, tidak pernah ada makna seni yang absolut, dan tak pantas pula merasa memiliki pendapat paling benar. Apatah lagi kita sebagai manusia yang berlumur ego dan beragam kepentingan.

Kita hanya perlu banyak membaca dan lihai memahami kutipan "Seni Pun Jalan Kebenaran", Pendidikan bukan tempat berduka, pendidikan adalah peradaban. Tanpa Seni Peradaban Pincang.

Penulis: Iwan Mazkrib