Petani Sayangkan Matinya Demokrasi di IAIM Sinjai

OPINI --- Di pagi yang cerah ini kucoba merangkai kata di tengah rintik hujan sesekali angin berhembus manja di pundak, kali ini aku di teras rumah dan tiba-tiba terasa ada sesuatu yang mengganjal di kantong celana jeansku saat duduk di kursi bambu rakitan bapakku.

Kuraba dan perlahan kutarik keluar rupanya tembakau dibungkus daun pisang, lalu gerakku Berhenti sejenak dan mengingat, rupanya tembakau ini pemberian dari salah seorang sahabat putra petani di kampungku, kemarin saat aku duduk bersama di pematang sawah seusai tanam padi.

Kring-kring, bunyi nada Whatsapp di handphoneku ternyata sebuah kabar buruk tentang matinya nalar demokrasi birokrasi Institut Agama Islam Sinjai (IAIM) yang sedang hangat di media. Sebuah berita yang hingga belakangan dilirik oleh media lokal bahkan nasional.

Akibat empat mahasiswa IAIM Sinjai memprotes kebijakan kampus terkait pembayaran kartu ujian Rp.80.000,- yang menurutnya terlalu mahal serta mereka juga meminta pihak kampus untuk transparan dalam pengelolaan anggaran tersebut, yang pada akhirnya berujung drop out (DO) dan skorsing.

Melihat hal ini, saya menilai bahwa kampus tidak lagi demokratis, kampus anti kritik lalu sejenak aku teringat kekejaman sejarah orde baru.

Sebab kematian kampus dapat ditandai dengan adanya kematian tradisi kritik dan kematian kritik ini ada pada zaman orde baru.

Tapi kematian kritik ini hanya gejala permukaan yang dilahirkan oleh Orba, kemungkinan besar kampus menyembunyikan gejala yang sesungguhnya dan yang lebih mendasar, yakni soal ketimpangan.

Maka kematian kampus tiada lain adalah soal adanya ketimpangan yang bisa saja menggurita di kehidupan mahasiswa di kampus IAIM Sinjai.

Dilain sisi berbagai propaganda dilahirkan di kampus oleh beberapa Mahasiswa/i IAIM Sinjai yang bisa saja disebut namanya pencitraan mereka bersuara dalam videonya dengan ungkapan seolah mereka sepakat dengan keputusan SK DO dan Skorsing, dengan alasan karena telah mencemarkan nama baik kampus.

Maka saya selaku petani mengingatkan bahwa mahasiswa harus dilandasi semangat moral dan ilmiah jangan hanya mengatas namakan hal itu untuk menjadi penggonggong, sebab hari ini justru hal itu yang digunakan oleh rezim birokrat kampus untuk mengamankan posisinya yang koruptif dan pro neoliberalisme.

Akibatnya kampus menjadi semacam ruang meditasi orba modern yang berjarak dengan kenyataan kongkrit yang dihadapi oleh masyarakat dimana ia berada.

Oleh karena itu sebagai kesimpulan bahwa negara kita adalah negara demokrasi yang telah diatur dalam konstitusi.

Jika kampus IAIM Sinjai tidak membuka ruang demokrasi mahasiswa maka hilangkan IAIM Sinjai dari negara ini, sebab itu adalah pelanggaran konstitusi.

Di ujung kalimat kukatakan dengan tegas, cabut Surat Keputusan (SK) Pemberhentian dan Skorsing empat mahasiswa yang telah berdemonstrasi pada tanggal,15 Januari 2018.

Penulis: Pacul (Petani Sinjai)