Mengkambing Hitamkan Khilafah

Lorong Kata --- Diskursus pilpres 2019 saat sekarang kian memuncak. Bagaimana tidak, perhelatan pilpres baik sebelum dan sesudah pemilihan sama-sama membuat jidat mengkerut. Pemberitaan kecurangan pun muntah dimana-mana. Seperti kasus kematian Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang menelan banyak korban pun membuat salah satu dokter syaraf Ani Hasibuan geram. Tapi, dengan geramnya beliau, ia diterpa kasus hukum dugaan ‘ujaran kebencian’. Berkaitan dengan ucapan Mba Ani beberapa waktu lalu mengenai tudingan senyawa kimia pemusna massal penyebab meninggalnya petugas KPPS.

Pendapat lain seperti kelelahan pun membuat jagat maya bertanya-tanya. Benarkah faktor kelelahan membuat seseorang bisa meninggal dunia? Penulis yang sekarang sudah semester delapan dengan Jurusan Biologi, Jurusan yang terkenal kesebukannya (praktikum, asistensi, laporan, hafal nama latin dan lain-lain) dan sekarang sudah bimbingan skripsi tidak membuat orang mengalami, maaf ya ‘kematian’. Kalaupun ada, mungkin hanya beberapa. Tapi, jikalau jumlahnya ratusan, ada apa? Jawab sendiri ya. (Takutnya dikriminalisasi hehehe… jadi penulis itu serba tanggung. Tanggungnya apa, jika ada permasalahan dan ditanggapi di cap menyebarkan ujaran kebencian (melanggar ITE), tidak ditanggapi dibilangnya apatis! Serba salah kan, kenapa jadi curhat yah).

Baru-baru ini masyarakat Indonesia mengalami musibah massal yaitu pembatasan akses media sosial yang berlangsung selama tiga hari. Hal ini karena mencegah penyebaran hoax lewat media sosial pasca penetapan pasangan peresiden dan wakil peresiden. Aksi 21-22 Mei yang kerap disebut dengan ‘people power’ berakhir rusuh sampai menelan korban. Aksi ini setidaknya menjadi alarm pengingat ekspresi politik tersumbat. Perlu ada perombakan lembaga hukum membaca situasi ini, jika terus berlanjut jangan sampai hal buruk menimpa Negeri Pertiwi ini.

Kita kembali ke fokus utama mengenai giringan isu khilafah yang akhir-akhir ini santer jadi perbincangan publik. Seperti yang dilansir dari media nasional viva.co.id 16/5/2019 Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyebutkan sejumlah ancaman yang menggangu kesatuan dan persatuan bangsa. Salah satunya kelompok khilafah yang disebut sebagai pembonceng dalam perhelatan pemilu 2019 pungkasnya di Grand Paragon, Jakarta (16/5).

Ada yang menarik dari frasa atau pernyataan di atas yaitu kata ‘pembonceng’ berarti dia yang menunggangi dan dia yang mengontrol jalannya motor. Jadi, yang dibonceng ikut-ikut saja. Jika si pembonceng ini mengarahkan motornya ke jurang maka si yang dibonceng juka akan ikut ke jurang kalau begitu. Maka, jika khilafah menjadi pembonceng dalam perhelatan pemilu, artinya khilafah punya kedaulatan untuk mengontrol jalannya pemerintahan?

Penulis sebenarnya bertanya-tanya? kenapa setiap ada permasalahan yang menimpa negeri ini seolah-olah ‘khilafah’ yang jadi dalang (sutradara) yang mengatur jalannya sebuah film drama kehidupan. Apa-apa khilafah, dikit-dikit khilafah, ditunggangilah, jadi pemboncenglah dan lain-lain. Kalah dan menang gara-gara ‘khilafah’. Hebat yah si khilafah itu, padahal kan ia hanya ide.

Ada apa dengan ide ‘khilafah’ seakan-akan ide ini bagai ‘momok mematikan’ bagi kalangan tertentu. Sampai-sampai dibuatkan delik berbagai masalah untuk menghadangnya agar ide ini tidak menyebar kemana-mana. Banyak yang beranggapan kemungkinan khilafah berdiri relatif lebih kecil. Sebab, kelompok Muslim tradisional, modernis, dan sekularis masih mendominasi kelompok Islam sekarang. Ini benar, relatif kecil berarti ada kemungkinan tegak artinya ada ruang untuk tegak.

Magedah . E.Shabo dalam bukunya yang berjudul ‘Techniques of Propaganda and Persuasion’ menjelaskan bahwa propaganda bisa dilakukan dengan cara mentransfer citra suatu simbol, kelompok, individu atau benda terhadap lawan. Teknik propaganda transfer biasa digunakan dalam strategi pemasaran dan iklan. Jika diamati dengan Teori identitas sosial dari Hendri Tajfel dan John C. Turner, konotasi negatif ini bisa saja melebarkan batasan sosial antar kelompok. Jadi, seakan ada penggiringan opini negatif mengenai khilafah seperti yang dijelaskan di atas mensusupi simbol negatif menjatuhkan lawan.

Kalau ide khilafah itu utopis, kenapa ditakuti? Seharusnya orang-orang tidak perlu takut, kan hanya utopis iya kan. Tapi mengapa, masih saja ada segerombolan orang yang terlalu sibuk mengkambinghitamkan para pejuang khilafah.

Saat ini orang sudah terbiasa menggunakan kata khilafah. Meskipun ada yang memaknai sebagai ancaman yang menakutkan. Tapi, penulis melihat ada juga yang paham bahwa khilafah adalah satu-satunya institusi negara yang mampu menegakkan syariat Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Jika kita membaca sejarah Islam sebenarnya apa yang salah dengan ide (sistem) ini. Faktanya sistem khilafah mampu menjadi mercusuar peradaban dunia dikala peradaban Eropa yang saat itu sedang dalam kondisi gelap gulita (terbelakang). Seluruh umat manusia saat itu sejahtera, aman, dan mampu bersatu. Padahal disitu terdapat berbagai macam agama, bahasa, suku hingga perbedaan warna kulit. Berarti, teriakan Islam anti-kebihnekaan ini terbantahkan, sebab fakta telah membuktikannya (jangan sampai, hanya full teori tapi nol (setengah) aplikasi (kan jadi pincang)). Mari sama-sama mengkaji khilafah dengan pemikiran jernih.

Penulis: Ika Rini Puspita, Mahasiswi Jurusan Biologi Fakultas Sains Dan Teknologi UIN Alauddin Makassar. Bergabung di organisasi FLP (Forum Lingkar Pena)