Efek Permainan Dalam Sistem Liberal

Lorong Kata --- Di zaman ini, trend game meningkat. Mulai dari anak kecil, remaja tanggung hingga orang dewasa ketagihan. Mulai dari profesi yang sibuk seperti orang kantoran, hingga pengangguran, memiliki kesempatan yang sama bermain game di handponenya. Kemudahan akses memfasilitasi semua untuk bisa mencoba.

Tak heran apabila jumlah penikmat membludak di setiap tahun. Decision Lab dan Mobile Marketing Association (MMA) yang melakukan studi terkait gim di Indonesia menyebutkan, jumlah gamer mobile di Tanah Air mencapai 60 juta. Jumlah Tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 100 juta pada 2020 (tek.id 17/10/18)

Namun peningkatan akan jumlah penikmat game ini membawa dua dampak yang berbeda. Di satu sisi menghembuskan angin segar pada kaum kapital, namun menjadi badai topan untuk beberapa kalangan seperti para orang tua yang merasa khawatir akan gelombang kecanduan.

Terkhusus untuk para pemilik modal, tentu ini peluang besar. Disampaikan oleh Joddy Hernady selaku EVP Digital & Next Business Telkom Industri game memiliki tingkat pendapatan yang paling tinggi dibandingkan jenis hiburan lainnya.

Tentu ini membuat perusahaan game berbondong-bondong terus bersaing dan melejitkan potensi bisnis di sector ini, tak terkecuali menyasar Negara penikmat yang besar seperti Indonesia.

Mengapa Indonesia juga termasuk sasaran? Sebab Indonesia benar-benar memiliki minat tinggi dalam hal presentase bermain game online seperti Mobile Legend. Buktinya, Kompetisi Mobile Legends South East Asia Cup (MSC) 2017 digelar di Indonesia pada pertengahan tahun 2017 lalu. menurut Mobile Legend saat itu Indonesia dipilih lantaran memiliki 3,5 juta pemain aktif harian. Ini angka tertinggi dibandingkan Negara lain seperti Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

Di samping itu, populasi penduduk Indonesia yang hampir mencapai 260 juta, menjadi nilai surplus bagi siapapun yang berbisnis di sini. Secara Industri, potensi bisnis game di Indonesia jauh lebih hijau dibandingkan Negara lain di kawasan Asia Tenggara karena pertumbuhannya yang cepat. (dailysocial.id 18/12/2017)

Hal ini semakin diperkuat dengan dukungan pemerintah. Saat tahun 2015 lalu, Badan Kreatif bentukan Presiden Joko Widodo pernah menyinggung soal indutsri game Indonesia. Kini Badan Ekonomi Kreatif memasukkan produksi game dalam rencana kerja. Sebagai Asosiasi yang mewadahi para developer game, tentu Asosiasi Game Indonesia (AGI) membutuhkan peran pemerintah untuk memajukan industry game.

Namun sayang, semua angin segar itu rupanya tidak memberikan efek positif secara keseluruhan pada masyarakat. Justru tersebar banyak petaka di setiap tahunnya. kita tidak pernah bisa lupa pada kejadian-kejadian mengerikan lantaran kehadiran permainan game online. Saat 10 Anak Banyumas yang alami gangguan mental akibat kecanduan game online, empat remaja Grogol yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa, Mhary wanita di Manado yang terkena stroke lantaran keranjingan game online, sampai kasus bunuh diri lainnya.

Betapa berbahaya, sampai WHO resmi menetapkan kecanduan game sebagai gangguan mental. sebenarnya, apa motif urgensi dibalik penetapan status kecanduan game yang dilakukan WHO ini? tentu karena pengindraan mereka terhadap gejala gamer yang semakin parah, bukan? Anak-anak keranjingan bermain game hingga berani mencuri uang orang tua, mirip seperti kecanduan narkoba. Berani meregang nyawa, bahkan menghabisi nyawa orang.

Lalu,tak kalah hebohnya, baru-baru ini seorang gadis asal Pontianak, berinisial YS (26) Diamankan aparat kepolisian dari Polda Metro Jaya karena membobol Bank hingga Rp 1,85 miliar. Dana sebanyak itu, digunakannya untuk bermain game online, Mobile Legends (Viva.co.id)

Rusak sudah tataran sendi kehidupan sosial, pribadi kita. Sistem pemerintahan yang memberi ruang kebebasan untuk berekspresi tak mengindahkan efek-efek negatif nya.

Bagaimana bisa sesuatu yang membahayakan generasi masih terus dikembangkan keberadaannya. Perkembangan game memang memberi dampak ekonomi yang baik bagi sebagian kalangan, namun jangan lupakan berderet kasus mengerikan menimpa anak negeri.

Beginilah jika paradigma berpikir yang terinstal hanyalah materi belaka. Memandang segalanya berdasarkan untung rugi. Meski game online sudah terbukti lebih dari sekedar permainan biasa, namun menyelipkan efek adiktif, tetap saja proses penanganan dari pemerintah terkesan lamban untuk meraih keputusan.

Di Nepal, permainan game PUBG resmi dilarang. Karena memberikan dampak buruk bagi anak-anak dan remaja, bisa membuat kecanduan dan efek buruk pada pemikiran. (Kompas.com 12/04/2019)

China juga telah mengumumkan aturan baru yang membatasi jumlah game yang dapat dimainkan, dan membatasi penerbitan game baru, serta membatasi umur warga Negara yang boleh bermain game online. Selain itu, Negara bagian Gujarat India dimana tempat puluhan orang ditangkap karena bermain permainan tersebut, PUBG atau game online juga sudah dilarang.

Dari sana kita belajar bahwa institusi pemerintahan memegang peranan besar untuk meredam kejahatan, yaitu dengan menetapkan Kebijakan-kebijakan yang mengandung maslahat.

Tetapi, Semua itu hanya bisa dijalankan ketika pemerintah memiliki pandangan hidup yang berorientasi pada kemaslahatan ummat, termasuk dalam memilah sarana hiburan yang tepat. Apakah semakin mendekatkan pada pencipta? Atau malah mengundang bahaya? Jika pemerintahan tidak berupaya menghadirkan ruh ibadah dalam ruang sosial, maka sulit menemukan kebaikan.

Islam datang dengan pemikiran yang beda dan kokoh. Yang menjelaskan bahwa segala diupayakan dalam hidup untuk mendekat pada pencipta semata. Termasuk sarana hiburan. Bukan malah menjauhkan dari naluri beragamanya dan melupakan esensi dan tujuan hidupnya. Karena semua hanya akan bermuara pada kehancuran. Inilah yang mengundang kebaikan terus tercurahkan di tengah tengah masyarakat.

Wallahualam.

Penulis: Arinda Nurul Widyaningrum (Sekretaris Umum FLP Ranting UIN Alauddin Makassar dan Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris)