Pemilu 2019: Menelanjangi Kebusukan Demokrasi

Lorong Kata --- Ketua Majelis Hakim Konstitusi, Anwar Usman, membacakan kesimpulan putusan majelis hakim konstitusi pada pukul 21.15 WIB, Kamis (27/06) malam.

"Menyatakan dalam eksepsi, menolak eksepsi termohon dan pihak terkait untuk seluruhnya. Dalam pokok permohonan, menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya," kata Anwar Usman.

"Demikian diputuskan dalam rapat permusyawaratan Hakim, oleh sembilan hakim konstitusi," tambahnya. (BBC News, 27/06)

Hasil Sidang MK telah dibacakan, seluruh gugatan BPN ditolak. Sengketa Pilpres 2019 dianggap usai, kubu TKN mengatakan bahwa semua pihak harus menerima dan melupakan segala konflik yang terjadi. Sebagaimana yg diucapkan ketua tim kuasa hukum TKN, Prof. Yusril Ihza Mahendra.

"Mari kita bersama-sama sebagai sebuah bangsa ya kita kembali bersaudara, melupakan segala konflik kemarahan mungkin kebencian, mungkin dendam," ujar Yusril.

Betulkah dengan mudahnya kita harus melupakan segala bentuk kecurangan yang terjadi dalam pemilu tahun ini? Rasanya akan sangat sulit rakyat terkhusus umat Islam melupakan hal itu. Sebab di hadapan mata mereka kecurangan terjadi, dan mereka menjadi korban dari kecurangan itu, bukan Prabowo atau Sandiaga Uno yang paling kecewa terkait keputusan MK ini. Namun umatlah yang teramat kecewa.

Prabowo dan Sandi beserta para elit politik mungkin mengalami kerugian, baik fisik, mental maupun materi. Namun mereka dapat pulih dengan mudah, berbeda dengan apa yang akan dialami oleh rakyat terkhusus umat Islam. Harapan mereka yang telah dipupuk, untuk melengserkan kekuasaan dzalim, rezim Jokowi di pemilu tahun ini sirna, dengan dibacakannya hasil putusan MK.

Setelah hampir lima tahun umat merasakan ketidakadilan serta kesenjangan hidup semakin lebar antara si kaya dan si miskin. Dengan putusan ini, umat diminta untuk menerima dan kembali merasakan kesengsaraan lima tahun yang akan datang.

Padahal pada pemilu tahun ini seluruh lapisan masyarakat telah terjun, mengerahkan seluruh daya dan upaya mereka untuk menumbangkan rezim dzalim Jokowi. Dilihat dari tingkat partisipasi pemilu tahun ini mencapai angka 81% sebagaimana yang disampaikan KPU, angka itu jauh diatas pemilu 2014 yang hanya 70%.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Viryan Azis menyebutkan, partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 meningkat dibandingkan pemilu sebelumnya. Jika dibandingkan 2014, peningkatan angka partisipasi hampir 10 persen. "Ada peningkatan, partisipasi masyarakat di (Pemilu) 2019 ini 81 persen, meningkat dari Pilpres 2014 yang 70 persen, pileg 2014 yang 75 persen," kata Viryan di Kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/5/2019 Kompas.com).

Hal tersebut tidak lepas dari peran para Ulama yang mengarahkan dan membimbing Umat untuk memilih salah satu paslon. Harapan umat memuncak, ketika para panutan mereka sekelas Ust. Abdul Somad, Ust. Adi Hidayat, Ust. Aa Gym, dan sekelas Syaikh Ali Jaber dan yang lainnya secara terang-terangan berpihak dan mendukung paslon 02. Bagaimana tidak, ulama yang selama ini berada di luar arus kepentingan politik, pas diujung akhir masa kampanye memberikan kepercayaan mereka kepada kubu 02. Sungguh aroma kemenangan semakin terasa di depan mata.

Harapan itu musnah, kemenangan yang dirindukan tak kunjung datang. Arogansi kekuasaan yang telah memanipulasi seluruh proses pemilu untuk melegitimasi kemenangan sukses dilakukan. Berharap kepada MK untuk dimenangkan memang sebuah harapan utopis, kecurangan telah dilakukan dari awal proses pemilu, apakah kita berfikir bahwa proses akhir yakni gugatan di MK luput dari perhatian mereka? Sungguh bodoh jika kita berfikir demikian.

Demokrasi sebuah sistem busuk, yang mengakomodir segala jenis kecurangan dan menjadikannya halal di mata hukum. Standar perbuatan dalam sistem demokrasi bukanlah Halal dan Haram, melainkan manfaat subjektif sesuai kepentingan nafsu manusia.

Pemilu 2019 seharusnya membawa pelajaran penting bagi rakyat, terkhusus umat Islam, bahwa pemilu dalam sistem demokrasi tidak memberikan peluang untuk meraih kemenangan yang diharapkan. Demokrasi sedari awal lahir hanya untuk memberikan harapan yang tak akan pernah terwujud nyata. Inilah Ilusi kemenangan yang senantiasa mengalihkan umat dari perjuangan yang hakiki. Sebuah perangkap mematikan yang didesain sedemikian rupa, menggiring umat kedalamnya dan menghabisinya tanpa ampun.

Kita butuh pelajaran seperti apalagi untuk menyadari kebusukan Demokrasi dan Ilusi kemenangan yang dihadirkan untuk kita? Coba kita tengok sejarah pembubaran partai Masyumi yang berhasil mendudukkan anggota terbanyak di parlemen pada pemilu pertama di negeri ini tahun 1955, kita tengok sejarah kelam lengsernya Mursi di Mesir setelah berhasil memenangkan pemilu demokrasi. Kita tengok partai Islam FIS di Aljazair yang berhasil menang pemilu dua kali yang akhirnya dianulir oleh militer piaraan barat.

Kita tidak akan pernah meraih kemenangan yang sejati, jika kita masih menggunakan Demokrasi sebagai jalan untuk meraihnya. Tidak akan mungkin kita bisa berharap kebaikan dari sesuatu yang telah membunuh Ibu kandung kita, yakni Daulah Khilafah Islamiyah. Berhenti berharap pada Demokrasi, mari kita campakkan sebab memang Demokrasi telah usang dan tak layak lagi diterapkan.

Jalan kemenangan telah diwariskan oleh Rasulullah Muhammad SAW, selain jalan beliau, yakinlah pasti akan gagal. Sudah saatnya umat bahu membahu memperjuangkan kembalinya kejayaan Islam, dengan bersama-sama ikut dalam barisan dakwah perjuangan Syariah dan Khilafah. Khilafah janji Allah dan Bisyarah Rasul, musuh-musuh Islam pun telah memprediksi kembalinya Khilafah, yang akan mengkhiri kejayaan mereka dan mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Wallahualam Bi Showab.

Penulis: Abd. Rifai S.Hum, Analis Politik Sekolah Peradaban.