Balada Sistem Pendidikan di Negeriku

Lorong Kata --- Menjadi mahasiswa semester-semester akhir bukanlah sebuah perjuangan yang mudah. Apalagi ngampus dikampus yang tidak dibiayai negara. Belum pembayaran seminar proposal, PKL, KKN ,pembayaran skripsi dan iuran-iuran lainnya. Nasib jadi mahasiswa mandiri. Pernah coba ngurus beasiswa, malah tak pernah cair-cair. Jadi kapok ngurusnya.

Menjadi mahasiswa semester akhir seharusnya yang jadi pikiran adalah bagaimana nyelesain proposal, skripsi dan bagaimana bisa lulus pas ujian meja nanti. Namun tidak untuk mahasiswa yang satu ini (baca: penulis). Menjelang semester-semester akhir yang dipikir bagaimana bisa ngelunasin iuran-iuran nanti. Berhubung berasal dari keluarga yang bisa dibilang dari keluarga ekonomi menengah. Ditambah penghasilan orang tua -karena berhubung masih dibiayai orang tua- semakin hari semakin memprihatinkan. Sekolah-sekolah tempat dagang orang tua semakin tak karuan staf-staf pengajarnya. Melarang sana-sini masyarakat luar untuk dagang disekitar pekarangan sekolah. Boleh dagang tapi bayar iuran pula. Dengan dalih sekolah punya kantin. Pokoknya kalau ketemu tuh staf guru, jadi pengen bilang aja pak, bu cukup sudah siswa yang bayar iuran ! jangan bapak gua juga.

Sedikit prihatin saja dengan kondisi dunia pendidikan hari ini. Sebagai mahasiswa, penulis miris dengan kondisi dunia pendidikan sekarang. Belum sistem administrasi sekolahnya, kinerja-kinerja staf pengajarnya pun juga memprihatinkan. Bagaimana tidak, dinegara kita dengan sistem kapitalis yang diadopsi sekarang membuat dunia pendidikan (salah satunya) tak karuan.

Baru-baru ini ada kebijakan baru dari pihak pemerintah yang dikenal dengan istilah sistem zonasi. Dimana penerimaan peserta didik baru (PPDB) ditinjau dari jarak/radius. Diterimanya calon peserta didik disekolah tergantung pada lokasi tempat tinggal calon peserta didik. Namun ironinya, banyak yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Misalnya saja banyak calon peserta didik yang tempat tinggalnya nyata-nyata dekat dengan sekolah tapi setelah daftar tidak lulus. (BBC Indonesia). Ada apa? itu baru sistem penerimaan peserta didik, belum lagi kinerja staf pengajarnya. Bukan tanpa fakta, penulis beberkan. Tapi selama penulis menempuh pendidikan mulai dari SD sampai sekarang tak sedikit guru yang mengajar seadanya. Guru biasa absensi/ tak hadir tanpa alasan, kalaupun masuk hanya sekedar suruh baca buku, kerja soal lalu keluar. Ada pula guru yang tipenya datang telat, keluar cepat. Sekedar numpang nongol. Ditambah lagi sikap yang tidak memberi contoh. Pokok’e miris ngeliatnya.

Nah baru-baru ini, juga terbeber kabar pihak pemerintah akan mendatangkan guru dari luar negeri untuk mengajar. Apa tak salah ? gaji guru honorer saja belum kelar, pemerintah malah ingin mendatangkan guru dari luar. Yang terlintas dibenak penulis, adalah bagaimana nasib penulis dan kawan-kawan yang lain pas selesai ngampus nanti? apakah kami tetap kepake nantinya jadi staf pengajar? wong pemerintah saja tidak percaya dengan staf pengajar yang sudah mengabdi sekian tahun dalam negeri hingga mendatangkan guru dari luar. Itu bahasa kasarnya sih. Tapi memang itu alasannya. Pemerintah mendatangkan guru dari luar dengan dalih untuk melatih guru-guru maupun instruktur yang ada di Tanah Air. (AKURAT.CO) Mereka saja para guru yang sudah berpengalaman akan dilatih kembali, bagaimana dengan kami yang belum punya pengalaman mengajar sama sekali?

Tapi tak perlu khawatir untuk para kawan-kawan, terkhusus bagi penulis sendiri. Tak perlu panjang pikir bagaimana nasib kita kedepan sebab negara kita akan menjamin dalam artian akan menggaji para pengangguran, (kumparan.com). Sebagaimana janji presiden kita pada masa kampanye. Beliau akan menggaji para pengangguran. kalau pun tidak, maka bersabarlah.

Namun, itu semua mungkin hanya khayalan. Di sistem yang carut-marut hari ini, tak perlu berharap banyak dengan pemerintah. Kalau beasiswa-beasiswa saja tak kunjung cair-cair apakah yakin, gaji pengangguran akan cair? dalam mimpi mungkin iya.

Terkecuali pada periode kali ini pemerintah beralih kepada sistem pemerintahan islam. Sebab hanya sistem pemerintahan Islam lah satu-satunya sistem yang akan menyelesaikan semua persoalan negera. Mulai dari masalah ekonomi, sosial, pendidikan sampai masalah ketatanegaraan. Sebab Islam punya solusi dan Islam adalah solusi.

Dalam sistem ekonomi dalam pemerintahan islam, negara menjamin seluruh hajat hidup rakyat yang dinaunginya. Segala kekayaan alam akan dikelola negara dengan sebaik mungkin dan mengembalikan hasilnya demi kemaslahatan ummat atau rakyat.

Dalam sistem pendidikan, negara menfasilitasi ummat untuk menuntut ilmu. Sekolah-sekolah digratiskan, negara menyediakan sarana-sarana belajar seperti perpustakaaan, laboratorium, dan sarana-sarana lainnya. Kurikulum pendidikan pun didasarkan pada aqidah islam yang akan membentuk peserta didik bukan hanya menguasai iptek tetapi juga berkepribadian islam serta menguasai tsaqofah islam. Dengan begitu akan membentuk kader-kader pendidik masa depan yang berkualitas. Untuk para staf pengajar atau guru, negara memuliakan mereka dengan memberi imbalan atau jasa yang setimpal. Kesejahteraan para guru akan dijamin, sehingga minim ada guru yang memungut iuran-iuran lagi kepada para siswa apalagi kepada para pedagang yang berjualan di sekitar pekarangan sekolah.

Itu baru sebagian kecil dari kebijakan-kebiajakan dalam sistem pemerintahan Islam. Sebab islam bukan hanya sebagai agama tetapi islam adalah ideologi yang mengatur segala aspek kehidupan. Allah swt berfirman:

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al Maidah :50).

Dan di ayat lain Allah swt berfirman:

Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran: 85).

Penulis: Nurhalimah, Mahasiswa UMMA.